GNAGASASRA
DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
316
MAHESA JENAR... bisik Kebo Kanigara bersungguh-sungguh, Kau pasti
pernah mengenal anak itu. Bukankah sepeninggal Adi Kebo Kenanga kau masih
beberapa tahun lagi tinggal di Demak, sebelum keadaan memburuk?
Mahesa Jenar mengangguk.
Kalau demikian kau pasti mengenalnya, sambung Kebo Kanigara. Anak itu
adalah anak yang aneh. Sebenarnya ia tidak betah untuk tinggal terlalu lama di
sesuatu tempat. Ia datang berguru hanya apabila ia inginkan. Ia datang
sewaktu-waktu tanpa aturan. Meskipun demikian kecerdasannya sangat mengagumkan.
Ia dapat menguasai segala ilmu hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Sepersepuluh dari waktu yang diperlukan oleh anak-anak muda yang lain. Bahkan
kurang dari itu.
Ia datang kemari mencari aku, untuk minta diri. Ia mendapat nasehat dari seorang
Wali yang terkemuka untuk mengabdikan diri di Kraton Demak, ketika Wali itu
melihatnya menunggui padi gaga di ladang.
Seorang Wali? tanya Mahesa Jenar. Siapakah dia?
Seorang yang bertubuh tinggi besar, berikat kepala Wulung dan berbaju Wulung
pula, jawab Kebo Kanigara.
Sunan Kali Jaga...? gumam Mahesa Jenar.
Ya, Kebo Kanigara menegaskan. Ia baru saja datang dari Pamancingan di
Pantai Selatan menuju ke Demak. Pada saat itulah ia berkata kepada Putut itu,
Hai anak yang mendapat anugerah Allah. Pulanglah dan pergilah ke Demak. Jangan
asyik menunggui pagagan, sebab kelak kau akan menduduki tahta. Demikian nasehat
Sunan Kali. Dan agaknya anak itu akan mencoba memenuhinya. Ia datang untuk minta
diri kepadaku, dan sekedar menambah bekal bagi masa depannya.
Dada Mahesa Jenar berdebar-debar mendengar ceritera itu. Seorang yang diramalkan
untuk memegang tahta.
Adakah ia mempunyai hubungan dengan Kakang Kanigara? tanya Mahesa Jenar
pula.
Ada, jawab Kanigara. Dan barangkali aku belum menyebutkan hubungan itu.
Ia adalah putra Adi Kebo Kenanga.
He... Mahesa Jenar terkejut. Putra Kakang Kebo Kenanga. Adakah dia Si
Karebet yang nakal itu.
Kebo Kanigara mengangguk.
Karebet yang kemudian dikenal bernama Jaka Tingkir setelah ia dipelihara oleh
Nyai Ageng Tingkir, kakak perempuan Nyai Kebo Kenanga.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disangka-sangka sebelumnya ia
akan dapat bertemu dengan anak kakak seperguruannya. Yang bahkan oleh seorang
Wali yang terkenal diramalkan untuk menjadi raja.
Nah, Kakang... kata Mahesa Jenar kemudian, Marilah kita temui mereka.
Kebo Kanigara menggeleng.
Tidak mungkin... jawabnya. Muridmu akan menjadi heran melihat ada dua
orang yang menamakan diri Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar tertegun.
Lalu bagaimana? ia bertanya.
Dan ingat, kau harus membersihkan janggut dan kumismu di hadapan anak itu,
supaya ia mendapatkan wajah Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa curiga. Akupun
akan berbuat demikian. Tentu saja di tempat lain. Sehingga apabila aku kemudian
bertemu dengan anak itu, ia tidak akan mengenal aku lagi.
Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa tersenyum, meskipun ia sebenarnya ingin
segera dapat menemui kedua anak muda itu. Namun bagaimanapun ia terpaksa
menuruti nasehat Kebo Kanigara.
Sehari itu Mahesa Jenar menunggu saja. Matahari di langit rasanya berjalan
sangat lambatnya. Seolah-olah dengan segannya mengarungi langit menurut garis
edarnya. Lingkaran-lingkaran cahayanya yang menembus lubang-lubang di atas ruang
itu dengan lesunya berjalan ke arah yang berlawanan.
Ketika matahari telah condong, Putut Karang Tunggal meninggalkan Arya Salaka
seorang diri.
Anak itu oleh gurunya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, dilarang
meninggalkan ruangan itu, sebagai suatu cara berprihatin. Dan apa yang
dicapainya adalah sangat menggembirakan meskipun kadang-kadang terselip juga
beberapa pertanyaan mengenai gurunya.
Ketika Putut Karang Tunggal itu hilang ke balik lorong pintu ruangan itu
berbisiklah Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, kau dapat menemui Karebet. Itu saja
dahulu.
Sekarang? tanya Mahesa Jenar.
Ya. Ikutlah aku, jawab Kebo Kanigara. Muridmu itu tak akan hilang di
situ.
Kemudian Mahesa Jenar melangkah mengikuti Kebo Kanigara, melingkar sepanjang
lubang goa yang gelap, dan yang sebentar kemudian muncul di sebuah ruangan lain
yang agak lebar pula yang banyak terdapat di sepanjang saluran goa itu.
Di dalam ruangan itu pulalah mereka bertemu dengan Putut Karang Tunggal yang
sedang berjalan keluar. Ketika ia melihat kedua orang itu, ia terkejut. Tetapi
kemudian ia mengangguk hormat.
Selamat sore paman berdua.
Selamat sore Karang Tunggal. Permainanku sudah hampir selesai. Ini adalah
pamanmu yang sebenarnya, sahut Kanigara.
Karang Tunggal sekali lagi membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar sambil berkata,
Baktiku untuk Paman Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar tersenyum. Ia melangkah maju. Sambil menepuk bahu anak muda itu ia
berkata, Permainanmu sudah sempurna Karebet. Ketika aku datang mula-mula di
bukit ini, benar-benar aku tidak menduga bahwa kaulah yang menamakan diri Karang
Tunggal.
Paman Kebo Kanigara yang mengatur semuanya bersama Eyang Ismaya, jawab
Karang Tunggal.
317
MAHESA JENAR menoleh kepada Kebo Kanigara
sambil berkata, Untunglah bahwa kepalaku belum pecah memikirkan permainan
kalian yang aneh itu.
Kemudian kepada Karang Tunggal ia meneruskan, Nah Karebet, kau sudah banyak
mendengar tentang aku, tentang seorang Wali yang menasehatkan kepadamu untuk
mengabdi ke Demak.
Karebet menundukkan kepalanya. Katanya lirih, Mudah-mudahan paman
melimpahkan pangestu kepadaku. Meskipun semuanya itu hanyalah sebuah mimpi yang
cemerlang, namun setidak-tidaknya aku akan dapat mengabdikan diri pada tanah
kelahiran ini.
Bagus... sahut Mahesa Jenar, Kau harus mulai dengan semangat pengabdian.
Jangan kau mulai dengan suatu tekad yang berlebih-lebihan supaya kau tidak mudah
menjadi kecewa.
Akan aku junjung tinggi segala pesan paman Mahesa Jenar, jawab Putut Karang
Tunggal sambil membungkukkan tubuhnya sebagai suatu pernyataan janji. Tidak saja
kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, tetapi juga kepada diri sendiri.
Mahesa Jenar... sela Kebo Kanigara kemudian, Bawalah pisauku ini.
Sebentar lagi apabila ruangan-ruangan ini telah gelap, masuklah ke dalam ruang
muridmu. Kau dapat menyusur lubang itu, dan akan sampai ke dalamnya tanpa cabang
yang lain. Aku akan menunggumu di ruang sebelah ini. Kemudian kita keluar
bersama-sama supaya kau tidak usah mencari-cari jalan.
Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar.
Jangan banyak berkata tentang waktu lampau. Ajaklah ia keluar karena segala
sesuatu telah kau anggap cukup. Kanigara menyambung. Dan seterusnya kau
dapat menuntunnya dengan suatu cara yang lebih baik dari yang pernah kau
pergunakan.
Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar sekali lagi.
Aku menunggu kau di sebelah. Dari ruangan ini kau akan dapat melihat sinar
obor yang akan segera aku nyalakan kalau ruangan itu telah gelap benar. Berkata
kanigara pula, Aku juga selalu datang pada saat-saat semacam itu, meskipun hanya
karena aku harus menyembunyikan wajahku.
Setelah itu Kebo Kanigara segera melangkah pergi diikuti oleh Putut Karang
Tunggal. Untuk sesaat Mahesa Jenar mengagumi anak kakang seperguruannya itu,
sampai hilang ke dalam sebuah mulut lubang goa itu.
Kemudian Mahesa Jenar mempersiapkan dirinya untuk segera menemui muridnya,
supaya perasaannya tidak menggelora.
Sesaat kemudian, udara menjadi semakin sejuk.
Semburat merah telah memancar di langit, sebagai sisa-sisa cahaya matahari yang
telah membenamkan dirinya. Ia tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi, karena
itu segera iapun berjalan menyusur gang sempit menuju ke ruang dimana Arya
Salaka sedang membajakan dirinya.
Ketika ia sampai di mulut gang itu, ia mendengar langkah-langkah di dalamnya.
Agaknya Arya Salaka masih mempergunakan waktunya untuk berlatih. Sebab di dalam
ruangan yang sepi itu ia benar-benar tidak mau menyia-nyiakan waktu. Karena itu
ia mempergunakan setiap waktunya untuk melatih diri agar segera dapat dicapai
suatu tingkatan yang dikehendaki oleh gurunya.
Mula-mula ia bermaksud demikian agar dapat segera meninggalkan ruangan yang
menjemukan itu, tetapi lambat laun ia berpendapat lain. Ia semakin menjadi
tertarik dan bersemangat mendalami ilmunya karena ilmu itu sendiri, bukan karena
kejemuan dan kesunyian.
Dengan hati-hati Mahesa Jenar melangkah masuk, sehingga tidak menimbulkan
sesuatu suara yang menarik perhatian muridnya yang sedang tekun. Apalagi sesaat
kemudian, anak itu agaknya sedang memusatkan segenap perhatiannya, mengatur
jalan pernafasannya, dan disilangkannya satu tangannya di depan dada, satu lagi
diangkat tinggi-tinggi, dan satu kakinya ditekuknya ke depan.
Sesaat kemudian tubuhnya sebagai anak panah melontar maju, tangannya yang
diangkat tinggi-tinggi itu terayun deras mengarah kepada sebuah batu padas di
dinding goa itu. Maka kemudian terjadilah suatu benturan yang dahsyat, dan
disusul dengan lontaran pecahan batu padas itu berserak-serakan. Itulah pukulan
Sasra Birawa yang telah dimiliki pula oleh seorang anak sebesar Arya Salaka.
Melihat hasil yang dicapai oleh muridnya itu, hampir Mahesa Jenar tidak dapat
menahan diri. Apa yang dicapainya dengan cara penurunan ilmu Ki Ageng Pengging
Sepuh, sampai bertahun-tahun itu, dapat dipelajari Arya Salaka kurang lebih
hanya satu bulan saja, dengan cara penurunan ilmu adik seperguruan gurunya.
Karena itu ia sekarang percaya, bahwa Kebo Kanigara benar-benar melampaui Ki
Ageng Pengging Sepuh, yang kebetulan adalah gurunya, yang bergelar Pangeran
Handayaningrat.
Meskipun demikian, apa yang terlahir dari mulutnya adalah berbeda sekali dengan
perasaannya. Maka katanya lantang, Ulangi!
Arya Salaka terkejut. Segera ia menoleh dan membungkuk hormat kepada gurunya
yang dirasanya pada saat-saat terakhir mempunyai kebiasaan yang jauh berbeda
dengan waktu-waktu sebelumnya. Ketika ia mendengar gurunya mengucapkan kata-kata
itu wajahnya segera menjadi muram. Ia merasa bahwa apa yang baru saja dilakukan
sama sekali tidak memuaskan gurunya.
318
"JELEK sekali," gumam Mahesa Jenar, meskipun sebenarnya
hatinya memuji. Sebab apa yang dilakukan Arya pada waktu itu, sama sekali tidak
jauh berselisih dengan apa yang dapat dilakukannya sebelum ia melakukan samadi
dan menemukan hakekat dari watak setiap unsur gerak dari ilmunya, sehingga
menurut Kebo Kanigara, ia telah dapat menyamai gurunya sendiri.
Mendengar suara gurunya itu Arya Salaka menundukkan kepalanya. Ia sangat
bersedih bahwa ia mengecewakan.
Melihat sikap Arya, Mahesa Jenar menjadi sangat terharu. Hampir saja ia meloncat
dan membelai kepala muridnya. Untunglah bahwa ia dapat menahan diri. Sambil
mengatur perasaannya ia berkata, "Arya, lihat batu hitam itu."
Dengan mata yang suram, Arya memandang sebuah batu hitam sebesar kepalanya dalam
keremangan petang, yang terselip diantara batu-batu padas yang menjorok pada
dinding goa.
"Apa yang kau lihat itu? " bentak Mahesa Jenar."
"Sebuah batu hitam yang terjepit diantara batu-batu padas," jawab Arya
dengan suara yang dalam.
"Itulah sebabnya kau tidak dapat maju," bentak Mahesa Jenar pula. "Perhatianmu
terpecah-pecah pada semua masalah yang tak berarti. Aku bilang, lihat batu hitam
itu. Aku sama sekali tidak menanyakan apakah batu itu terjepit batu padas, atau
terletak di atas tanah. Seharusnya kaupun hanya melihat batu hitam itu. Batu
hitam itu saja yang menjadi pusat perhatianmu. Tidak perduli apakah batu itu
tergantung di langit atau apapun."
Sekali lagi Arya menundukkan kepalanya. Tetapi ia mendapat suatu petunjuk yang
sangat berarti dalam hidupnya. Bahwa ia tidak boleh memandang setiap masalah
tanpa pemusatan persoalan, sehingga masalah pokoknya dapat menjadi kabur karena
masalah tetek bengek yang dapat membelokkan perhatiannya.
"Arya..." kata Mahesa Jenar kemudian, "Ulangi, dan pecahkan batu hitam
itu."
Sekali ini Arya Salaka tidak mau mengecewakan gurunya lagi. Dengan penuh tekad,
ia membulatkan perhatiannya, mengatur pernafasannya. Satu kakinya diangkatnya
dan ditekuknya ke depan, satu tangan menyilang dada, dan satu lagi diangkatnya
tinggi-tinggi. Dengan satu loncatan yang dahsyat Arya Salaka mengayunkan
tangannya diikuti sebuah teriakan nyaring. Dan, batu hitam yang terjepit
diantara batu-batu padas itupun hancurlah berbongkah-bongkah.
Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang hatinya. Anak itu benar-benar telah
menguasai Sasra Birawa dengan baik dalam bentuk lahirnya. Tetapi baginya adalah
sudah terlalu cukup. Namun ia masih mencoba menahan perasaannya.
Seakan-akan ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas muridnya itu, tetapi ia
bahkan duduk di tengah dengan enaknya sambil mengeluarkan pisaunya. Dengan
tenangnya Mahesa Jenar mulai mencukur janggut dan kumisnya.
Arya mula-mula tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Tetapi sikap
acuh tak acuh itu telah mengecilkan hatinya pula, dan disamping itu ia semakin
tidak mengerti pada sifat gurunya yang menjadi aneh dan lain.
Dalam kebimbangan itu, kadang-kadang terselip di sudut hatinya suatu pertanyaan,
apakah orang yang menuntunnya selama ini benar-benar gurunya yang membawanya
mengembara dari satu tempat ke tempat lain, sejak melarikannya dari Banyubiru?
Alangkah jauh bedanya. Sejak ia terpisah di dalam salah sebuah saluran di dalam
goa ini, kemudian tersesat masuk ke dalam ruangan ini, ia merasakan bahwa
gurunya menjadi berubah sifat.
Beberapa hari ia tinggal sendiri didalam ruangan ini, sampai kemudian gurunya
menemukannya disini. Yang mula-mula di dengar dari mulut gurunya bukanlah
pernyataan gembira, tetapi bentakan-bentakan kasar dan marah. Apakah Mahesa
Jenar dapat berbuat demikian...? Dan apakah dalam beberapa hari itu, sudah cukup
waktu untuk menjadikan gurunya berwajah gelap oleh kumis dan janggut yang tumbuh
demikian lebatnya...?
Sekarang ia melihat orang yang meragukan itu mencukur janggut dan kumisnya.
Tetapi kemudian ia menjadi kecewa sekali. Sebab setelah orang yang diragukan itu
berwajah bersih, benarlah, ia adalah Mahesa Jenar. Gurunya yang membawanya pergi
dari Banyubiru. Yang menuntunnya dengan penuh kasih sayang. Tetapi yang
akhir-akhir ini selalu kecewa kepadanya. Kecewa kepada kelambatannya.
Sampai beberapa saat ia masih saja kaku berdiri memandangi Mahesa Jenar
membersihkan wajahnya. Sekarang Arya tidak ragu-ragu lagi. Memang orang itulah
Mahesa Jenar. Meskipun ruang itu sudah semakin suram, namun garis-garis wajah
itu sudah sangat dikenalnya.
"Arya... tiba-tiba ia mendengar gurunya berkata, Meskipun tingkat
ilmunya masih agak mengecewakan, tetapi pada saat ini aku sudah menganggap cukup.
Kau sudah dapat melayani Putut Karang Tunggal meskipun belum seimbang benar. Dan
barangkali jarak yang ada di antara kau berdua tidak semakin pendek, bahkan akan
menjadi semakin jauh, karena Putut itu bukanlah anak-anak sewajarnya. Apa yang
kau pertunjukkan pada saat terakhir tadi telah menunjukkan kemajuan yang besar
selama kau berada di dalam ruang ini. Karena itu, sebentar lagi kau boleh
mengikuti aku keluar dari ruang ini."
Mendengar kata-kata gurunya, Arya menjadi gembira sekali. Kegembiraan yang
hampir tak dapat ditahankan, sehingga hampir-hampir saja ia menjerit kegirangan.
Tetapi segera ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
Ia tidak tahu apakah halyang demikian itu akan dibenarkan oleh gurunya. Karena
itulah maka, yang terpancar kemudian hanyalah nyala di matanya. Bahkan mata itu
kemudian menjadi basah. Dan hampir saja Arya Salaka yang telah mampu memecahkan
batu sebesar kepalanya itu menangis.
Untunglah bahwa ruang itu telah menjadi semakin gelap sehingga Mahesa Jenar
tidak lagi melihat mata itu. Tidak lagi melihat air yang membayang di mata
muridnya. Sebab apabila mata yang sayu itu dilihatnya menjadi basah, mungkin
Mahesa Jenar tidak lagi dapat menahan perasaannya. Perasaan seorang guru, ia
bahkan hampir seperti perasaan seorang bapa terhadap anak tunggalnya yang selama
ini dibawanya merantau untuk menyelamatkan dari usaha-usaha untuk
membinasakannya.
319
SEKARANG Mahesa Jenar melihat kemungkinan menjadi lain. Anak itu sekarang
sudah dapat menjaga dirinya sendiri, serta mempunyai bekal yang cukup buat masa
depannya.
Demikianlah Mahesa Jenar menjadi berbangga atas muridnya itu. Kalau nanti pada
suatu ketika, ia bertemu dengan Gajah Sora, maka ia akan dapat menyerahkan Arya
Salaka tanpa mengecewakan sahabatnya itu.
Sesaat kemudian Mahesa Jenarpun berdiri dan melangkah keluar ruangan sambil
berkata acuh tak acuh, Arya, ikutilah.
Sekali lagi kegembiraan melonjak didalam dada Arya. Segera ia pun mengikuti
gurunya dekat-dekat supaya ia tidak lagi kehilangan jalan.
Kemudian sampailah mereka ke dalam ruangan dimana Mahesa Jenar bertemu dengan
Putut Karang Tunggal waktu ia berjalan bersama Kebo Kanigara. Benarlah dari
ruangan itu ia melihat bayangan cahaya api. Segera Mahesa Jenar berjalan
menyusur jalan-jalan goa yang sempit ke arah api itu.
Ketika mereka sampai, dilihatnya Putut Karang Tunggal seorang diri memegangi
sebuah obor.
Selamat sore Paman Mahesa Jenar, sapanya sambil membungkuk hormat.
Selamat sore Karang Tunggal, jawab Mahesa Jenar. Mula-mula ia ingin
menanyakan di mana Kebo Kanigara. Tetapi maksud itu diurungkan. Namun
bagaimanapun juga ia menjadi sangat berterima kasih di dalam hatinya, bahwa
untuk kepentingannya serta muridnya, Kebo Kanigara bekerja keras dan melakukan
hal-hal yang aneh. Tetapi lebih dari pada itu adalah untuk kesuburan persemaian
perguruan Pengging.
Sejenak kemudian Putut itu berkata pula, Paman, marilah kita tinggalkan goa
ini. Ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh Eyang Ismaya.
Mahesa Jenar menjadi beragu. Ia tidak tahu apakah Putut itu berkata sebenarnya,
ataukah hanya merupakan suatu alasan untuk membawanya keluar dari dalam goa itu.
Karena itu ia berdiam diri sampai Putut itu melanjutkan, Seseorang yang baru
saja datang kemari ingin bertemu dengan Paman.
Siapakah dia? tanya Mahesa Jenar sekenanya.
Paman Kebo Kanigara, jawab Putut Karang Tunggal.
Itukah yang penting? tanya Mahesa Jenar pula.
Bukan itu saja, jawab Putut Karang Tunggal. Ada dua tiga soal yang
lain.
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dipersilahkannya Putut yang membawa obor itu
berjalan dahulu, kemudian ia pun mengikutinya bersama Arya Salaka yang masih
berdiam diri saja.
Setelah mereka berjalan berliku-liku, akhirnya sampailah mereka ke ruang yang
sering dipergunakannya bermain para cantrik. Dari sana mereka menerobos sebuah
lubang yang diluarnya tertutup oleh dedaunan yang rimbun.
Demikian mereka tegak di luar goa itu, terasalah udara malam yang segar memercik
ke wajah mereka. Sedang di atas kepala mereka, bertaburan bintang-bintang yang
berpencaran memenuhi langit yang biru hitam. Seleret awan putih membujur dari
kutub ke kutub seolah-olah membagi langit menjadi dua bagian. Sedang dari
semak-semak di sekitar mereka, terdengarlah bunyi jangkrik bersautan di antara
nyanyi belalang. Bersamaan dengan itu terlonjak pula hati Arya Salaka, yang
merasa telah menyelesaikan suatu kewajiban yang berat. Kalau mula-mula ia
menjadi bingung atas kelakuan gurunya, maka akhirnya ia mengira bahwa hal itu
adalah merupakan suatu tahap yang memang harus dilalui. Tetapi sebenarnya bukan
saja Arya Salaka yang mempunyai perasaan demikian. Mahesa Jenar pun seolah-olah
merasa terlepas dari suatu daerah sepi yang penuh dengan pemerasan keringat dan
pikiran.
Mengingat hal itu Mahesa Jenar menjadi tersenyum sendiri. Apalagi kalau ia
dengan sepintas lalu memandang wajah Arya Salaka. Ia menjadi geli. Anak itu
merasa seolah-olah telah mendapat gemblengan yang berat dari padanya, padahal ia
sendiri sedang melakukan hal yang serupa. Menggembleng diri sendiri.
Beberapa lama kemudian sampailah mereka ke rumah dimana mereka selalu diterima
oleh Panembahan Ismaya.
Di dalam rumah itu tampak memancar cahaya pelita yang berkedip-kedip karena
permainan angin pegunungan. Cahayanya yang kuning kemerahan menembus
lubang-lubang dinding membuat garis-garis lurus yang berpencaran.
Ketika mereka memasuki rumah itu, tampaklah Panembahan Ismaya duduk di atas batu
hitamnya yang dialasi dengan kulit kayu. Demikian orang tua itu melihat
kehadirannya segera ia bangkit dan menyambut dengan hormatnya, sambil
mempersilahkannya duduk.
Agaknya Anakmas tidak begitu senang tinggal di dalam goa yang gelap itu,
kata Ismaya kemudian. Ternyata Anakmas dan Cucu Arya Salaka menjadi kurus.
Mahesa Jenar tersenyum. Ia menjadi agak sulit untuk menjawab, karena itu katanya,
Tidak Panembahan, kami senang tinggal di dalam goa itu.
Panembahan tua itu mengangguk-angguk. Lalu sambungnya, Tetapi aku girang
bahwa Anakmas dan Cucu Arya Salaka tetap segar. Bukankah tiada sesuatu selama
ini?
Tidak Panembahan, tidak, jawab Mahesa Jenar.
Demikianlah yang aku kehendaki, sahut Panembahan Ismaya pula. Tetapi
ketahuilah Anakmas, apa yang anakmas takutkan ternyata benar-benar terjadi.
Orang-orang yang mengepung bukit ini menyerbu naik.
Dada Mahesa Jenar tergetar mendengar keterangan itu. Maka iapun bertanya pula,
Adakah mereka memperlakukan Panembahan dengan kasar?
Tidak begitu kasar, jawab Panembahan Ismaya. Tetapi mereka mengaduk
hampir segala sudut bukit ini.
Dan Panembahan tidak memberitahukan itu kepadaku...? sahut Mahesa Jenar.
Aku hanya memberitahukan kepada Anakmas kalau mereka akan menyakiti kami,
jawab Panembahan itu pula. Tetapi ternyata mereka hanya mencari-cari saja.
320
MAHESA JENAR akan mendesak pula dengan berbagai pertanyaan, tetapi
diurungkannya ketika ia ingat bahwa di sini ada Kebo Kanigara dan Putut Karang
Tunggal. Sehingga seandainya Panembahan Ismaya ingin melawannya dengan kekerasan,
maka tidak pula ada perlunya untuk memanggilnya.
Karena itu kemudian ia tidak berkata-kata lagi. Ia bahkan merasa malu bahwa
seolah-olah di bukit kecil itu tak ada orang lain yang mampu menyelamatkannya
selain daripada dirinya.
Maka untuk beberapa saat suasana menjadi hening sepi. Desir angin di dedaunan
menimbulkan suara lirih seperti dendang seorang ibu yang menidurkan anaknya.
Maka kemudian kesepian itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya yang berkata,
Anakmas, agaknya malam telah larut. Karena itu beristirahat di pondok lain.
Baiklah Panembahan, jawab Mahesa Jenar.
Kalau Anakmas keluar dari ruangan ini, Anakmas akan melihat rumah di sebelah
barat. Di situlah Anakmas beristirahat, sambung Panembahan Ismaya pula.
Di sana Anakmas akan beristirahat bersama dengan Kebo Kanigara.
Setelah sekali lagi Mahesa Jenar mengiyakan, maka melangkahlah ia keluar ruangan
itu. Tidak beberapa jauh di sebelah barat tampak sebuah rumah yang lebih kecil
dari rumah itu. Dari dalamnya memancar pula cahaya api yang redup.
Di dalam rumah itu ditemuinya Kebo Kanigara telah membaringkan dirinya. Ketika
ia melihat Mahesa Jenar berkatalah ia, Mahesa Jenar, duduklah. Tutup pintu
itu supaya tidak terlalu dingin. Dan dengarlah aku berceritera.
Mahesa Jenar memandang wajah Kanigara yang tersenyum-senyum dan sudah bersih
pula seperti wajahnya. Ia menjadi curiga. Tetapi ia melangkah juga menutup pintu
dan kemudian duduk di sampingnya.
Kau ingat pada waktu aku pertama-tama kaulihat? tanya Kebo Kanigara.
Ya,jawab Mahesa Jenar singkat sambil mengangguk.
Di mana muridmu sekarang? tanya Kanigara tiba-tiba.
Di rumah sebelah bersama-sama dengan Karang Tunggal, jawabnya singkat.
Bagus, suatu kebetulan. Karang Tunggal itu suka sekali berceritera.
Pengetahuannya sangat luas, sebab ia sangat gemar menyepi dan merantau.
Jarang-jarang sekali ia tinggal di rumah. Sehingga ibu angkatnya, Nyai Tingkir
selalu marah kepadanya.
Kanigara berhenti sebentar lalu meneruskan, Arya akan senang bersama dia.
Lalu seterusnya mengenai urusanmu. Dengarlah. Kau lihat bahwa aku pada saat itu
atas nama Mahesa Jenar melarikan seorang gadis?
Mendengar pertanyaan itu hati Mahesa Jenar berdesir. Dengan kaku ia mengangguk
mengiyakan.
Gadis itu aku sembunyikan. Sejak malam itu aku belum pernah menemuinya. Aku
takut kalau ia mengenal aku yang ternyata bukan Mahesa Jenar. Dan aku juga takut
kalau tiba-tiba aku merasa bahwa akulah sebenarnya Mahesa Jenar itu.
Kanigara meneruskan sambil tersenyum. Mahesa Jenarpun tersenyum pula. Tersenyum
kaku.
Kau harus menemuinya, sambung Kanigara pula.
Mahesa Jenar mengangguk saja tanpa sesadarnya.
Biarlah anakku mengantarkanmu nanti, kata Kanigara pula. Mahesa Jenar
terperanjat. Sehingga ia pun bertanya, Siapakah Kakang Kanigara itu?
Seorang anak perempuan, jawab Kanigara, Namanya Widuri.
Widuri...? Endang Widuri? Jadi adakah anak itu putri Kakang Kanigara? tanya
Mahesa Jenar pula.
Ya, jawab Kanigara singkat.
Aku belum pernah mendengar sebelumnya, kata Mahesa Jenar. Adakah anak
itu dilahirkan di Demak?
Aku meninggalkan Demak sejauh umur anak itu, jawab Kanigara.
Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan untuk meninggalkan kota itu. Tetapi
keadaan memaksa aku berbuat demikian.
Mahesa Jenar mendengarkan dengan penuh perhatian. Agaknya karena itulah maka
Kebo Kanigara belasan tahun yang lalu lenyap dari pecaturan masyarakat Demak.
Sesaat kemudian Kanigara meneruskan, Kemudian aku bawa istriku meninggalkan
Demak. Anak itu lahir di perjalanan. Sedang beberapa tahun kemudian ibunya
meninggal dunia. Untunglah bahwa aku bertemu dengan seseorang yang kemudian
menerima kami tinggal bersama, Panembahan Ismaya.
Terbayanglah di mata Kebo Kanigara, suatu masa yang pahit di dalam hidupnya.
Kehilangan istri pada masa putrinya masih memerlukan kasih sayang seorang ibu.
Bahkan beberapa tahun kemudian... kata Kanigara pula, Aku sudah harus
mewakili menunggu bukit kecil ini kalau Panembahan Ismaya harus bepergian jauh
untuk mencari obat-obatan dan menambah kewaskitaannya di hampir seluruh sudut
negeri ini. Dan sejak itu pula tak pernah menampakkan diriku lagi di antara tata
masyarakat Demak.
Kanigara kemudian diam, Mahesa Jenar pun diam. Betapa hati mereka mengenyam
kembali masa-masa yang silam itu. Masa-masa yang penuh dengan kesedihan bagi
Kebo Kanigara.
Tetapi tiba-tiba Kebo Kanigara berkata nyaring, He, aku telah membelok dari
arah pembicaraan semula. Aku akan berceritera tentang seorang gadis yang aku
larikan, bukan tentang aku.
Mahesa Jenar terkejut juga mendengar arah percakapan yang tiba-tiba menikung
tegak. Sehingga duduknya tergeser maju. Namun kemudian iapun tersenyum kecut.
Tetapi bersamaan dengan itu denyut jantungnya bertambah cepat.
Nah Mahesa Jenar... sambung Kanigara tiba-tiba, Kau akan dapat
menemuinya bersama Widuri.
Mahesa Jenar tidak menjawab, namun hatinya bergetar hebat.
Tidak banyak yang harus aku pesankan kepadamu. Sebab aku tidak pernah berkata
satu patah katapun. Karena itu anggaplah bahwa memang sebelum ini kau belum
pernah bertemu dengannya. Kanigara meneruskan, Kecuali pada saat kau melarikan
malam itu.
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox