NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
026
MAHESA JENAR dan Mantingan tak habis-habisnya memandangi wajah
Nyi Wirasaba. Wajarlah kiranya kalau Watu Gunung tergila-gila
kepadanya. Betapa bahagianya orang itu, yang telah menerima anugerah
Tuhan berupa kecantikan wajah yang sempurna, dan keserasian tubuh
yang tanpa cela.
Mantingan yang pada masa kanak-kanaknya sering bermain dan bertengkar bersama, tidak pernah membayangkan bahwa pada usia dewasanya perempuan ini akan memiliki kelebihan dari kawan-kawannya sepermainan.
Tak seorang pun yang mengetahui bahwa Nyai Wirasaba sendiri selalu meratap di dalam hati, menyesali nasibnya yang jelek. Karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bulat, yang telah beberapa kali menjeratnya ke dalam kesulitan-kesulitan yang hampir tak dapat diatasi. Bahkan pada saat yang terakhir ini, ia telah mengambil keputusan bahwa apabila tak ada pertolongan yang datang, ia lebih baik mengakhiri hidupnya dengan sebilah patrem yang berhasil dibawanya di dalam sabuknya, daripada hidup di dalam lingkungan iblis-iblis itu.
Setelah perasaan Nyi Wirasabaa agak tenang, maka segera Ki Asem Gede mengajaknya meninggalkan rumah itu. Di luar masih banyak orang yang sejak tadi belum mau meninggalkan halaman itu. Meskipun mereka setiap hari melihat wajah Nyi Wirasaba, kalau Nyi Wirasaba kebetulan pergi ke pasar atau ke sawah, tetapi kali ini mereka ingin juga melihat wajah itu. Wajah yang menjadi sebab berakhirnya kelaliman Samparan dan kawan-kawannya.
Ketika Nyi Wirasaba tampak melangkah ke luar pintu rumah Samparan,
orang-orang berdesak-desakan mengerumuninya. Nyi Wirasaba menunduk
malu. Di belakangnya menyusul Ki Asem Gede, Mantingan, Mahesa
Jenar dan kemudian Samparan.
Suasana segera berubah menjadi tegang kembali ketika tiba-tiba
Mahesa Jenar membalikkan diri, dan secepat kilat menangkap tangan
Samparan dan diputarnya ke belakang. Samparan terkejut bukan
kepalang, sambil menyeringai kesakitan. Tangan Mahesa Jenar yang
menangkapnya itu begitu erat seperti tanggem besi yang menjepit
tangannya. Bahkan tidak hanya Samparan yang terkejut, tetapi
juga orang-orang yang menyaksikan, termasuk Ki Asem Gede dan
Mantingan.
Adakah aku berbuat salah?" rintih Samparan.
Kau tidak berbuat salah, tetapi aku ingin mendapat keterangan dari kau, jawab Mahesa Jenar.
Samparan dan orang-orang yang menyaksikan sibuk menduga-duga, keterangan apakah gerangan yang dikehendaki oleh Mahesa Jenar.
Samparan, kau dan Watu Gunung adalah termasuk dalam satu gerombolan yang mempunyai persamaan kesenangan. Yaitu berbuat kejahatan. Dalam dunia kejahatan, sahabat jauh lebih berharga dari saudara, bahkan orang tua. Rahasia rahasia yang tak pernah didengar oleh keluarga sendiri, kadang-kadang didengar oleh sahabat-sahabatnya. Nah, katakanlah, aku yakin kau mengetahuinya, apakah hubungan Watu Gunung dengan Lawa Ijo? lanjut Mahesa Jenar.
Mendengar pertanyaan ini Samparan terkejut seperti disambar petir meleset. Tidak pula kalah terkejutnya Ki Asem Gede, Mantingan dan mereka yang ikut mendengarnya. Nama Lawa Ijo adalah nama yang tabu diucapkan. Sebab dengan menyebut namanya saja, sudah cukup alasan bagi Lawa Ijo untuk membunuh. Meskipun pada saat-saat terakhir Lawa Ijo tidak pernah lagi muncul, tetapi apabila nama itu disebutkan, orang yang mendengarnya telah cukup menggigil ketakutan.
Samparan tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri pada suatu titik yang berbahaya sekali. Ia semakin takut kepada Mahesa Jenar, yang sama sekali tak diduganya akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Dari manakah gerangan ia mencium kabar tentang Watu Gunung dan hubungannya dengan Lawa Ijo? Teranglah bahwa ia bukan orang sejajarnya, bahkan tidak sejajar dengan Mantingan. Kalau tidak, ia tidak akan seenaknya saja menyebut nama Lawa Ijo.
Ki Asem Gede dan Mantingan pun tergetar juga hatinya. Mereka berdua pun maklum akan kehebatan Lawa Ijo.
Jawablah!- desak Mahesa Jenar. Sementara itu, pegangannya pun makin dikuatkan. Samparan berdesis menahan sakit.
Aku tak tahu, jawab Samparan mencoba berbohong. Tetapi belum lagi ia selesai mengucapkan jawabannya, tangannya yang terpuntir itu terasa semakin sakit, dan terangkat ke atas.
Kau tak mau menjawab? geram Mahesa Jenar. Keringat dingin memenuhi tubuh Samparan. Ia merasa serba salah, dan seakan-akan ia telah dihadapkan pada suatu keharusan memilih, mati di tangan Lawa Ijo atau Mahesa Jenar.
Aku tak mengetahui seluruhnya. Aku hanya pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Watu Gunung, jawab Watu Gunung.
Apa katanya? desak Mahesa Jenar pula. Kembali Samparan ragu-ragu.
Kau takut kepada Lawa Ijo? bentak Mahesa Jenar yang sudah mulai jengkel.
Bagus. Kau takut dibunuhnya. Tetapi bagaimana kalau yang melaksanakan pembunuhan itu aku? lanjut Mahesa Jenar.
Tubuh Samparan mulai menggigil. Ia sudah melihat kedua kawannya dipecahkan kepalanya oleh orang itu. Kalau ia tidak menuruti perintahnya, jangan-jangan kepalanya akan dipecahkan pula. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berkata, dengan harapan Lawa Ijo sudah tidak akan muncul kembali.
Yang aku ketahui, Watu Gunung adalah tidak saja anggota gerombolan itu, tetapi ia adalah saudara muda seperguruan Lawa Ijo.
Mendengar jawaban Samparan ini, orang-orang jadi gemetar dan ketakutan. Saudara muda Lawa Ijo binasa di desa mereka.
Katakan yang lain, aku jadi tanggungan kalau Lawa Ijo marah, sahut Mahesa Jenar.
Samparan merasa bahwa ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti perintah itu.
Watu Gunung pasti pernah berkata, di mana Lawa Ijo sekarang.
Samparan dengan sangat terpaksa akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi sebelum mulutnya bergerak, tiba-tiba ia merasa Mahesa Jenar mendorongnya sehingga ia terpelanting jatuh.
Dan sementara itu sebuah pisau belati melayang tepat lewat tempatnya berdiri tadi, langsung mengenai dinding dan tembus masuk ke dalam rumah. Dalam pada itu, berkelebatlah sesosok tubuh di antara penonton meloncat lari meninggalkan halaman.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
027
MANTINGAN tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Secepat kilat ia memburunya, yang kemudian disusul oleh Mahesa Jenar. Tetapi Mantingan belum berpengalaman menghadapi orang-orang gerombolan Lawa Ijo.
Maka ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang yang dikejarnya itu tiba-tiba berhenti membalikkan diri, dan sebuah sinar putih menyambar dadanya. Mantingan terkejut bukan main. Secepat kilat ia memukul sinar putih itu dengan trisulanya. Terdengarlah suara berdentang hebat.
Tangan Mantingan yang memegang trisula itu bergetar hebat, sedangkan pisau yang dilemparkan ke dadanya itu berubah arah. Tetapi meskipun demikian, lengannya tergores juga sedikit. Ia tertegun mengalami peristiwa itu. Dan Mahesa Jenar yang melihat darah di lengan Mantingan jadi terhenti pula.
Sementara itu orang yang telah melemparkan pisau itu sempat menyelinap di antara pepohonan dan menghilang. Dari kejauhan terdengarlah gema suara orang tertawa. Suara itu mengiris ulu hati seperti suara ringkikan hantu kubur.
Lawa Ijo telah datang, desis Mahesa Jenar.
Diakah Lawa Ijo? tanya Mantingan.
Mungkin, tetapi setidak-tidaknya salah seorang dari gerombolan itu, jawab Mahesa Jenar.
Aku ingin suatu kali dapat bertemu dengan Lawa Ijo. Nah lupakan dia Kakang Mantingan untuk sementara. Marilah kita kembali. Mungkin Samparan dapat menunjukkan tempatnya, lanjut Mahesa Jenar.
Maka segera mereka kembali ke rumah Samparan. Tampaklah orang-orang yang masih berdiri di halaman itu berwajah pucat-pucat ketakutan. Beberapa diantaranya menggigil, terduduk tak berdaya. Apalagi waktu terdengar suara tertawa di kejauhan.
Ketika Ki Asem Gede melihat tangan Matingan berdarah, cepat ia berlari menyongsongnya.
Kau terluka?" tanya Ki Asem Gede.
Mantingan mengangguk mengiakan.
Cepat-cepat Ki Asem Gede memeriksa luka itu. Dan sebentar kemudian tampak ia mengangguk-angguk. Tidak beracun, gumannya.
Karena itu marilah kita lekas meninggalkan tempat ini dan menyerahkan kembali anakku kepada suaminya. Sementara itu aku dapat mengobati luka Adi Mantingan, yang untung tak berbahaya, kata Ki Asem Gede.
Sementara itu Ki Asem Gede melihat Samparan seperti orang yang tidak sadar terduduk, di tanah. Tingkah Samparan tampaknya menggelikan. Sifat-sifat garangnya sama sekali tak berbekas. Apalagi setelah ia hampir saja disambar pisau. Yang ia tahu pasti, bahwa itulah pisau gerombolan Lawa Ijo.
Samparan, kau kenapa? tegur Mahesa Jenar.
Samparan memandang kepada Mahesa Jenar dengan mata yang layu dan mengandung suatu permohonan untuk mendapat perlindungan. Mahesa Jenar menangkap maksud itu.
Samparan, kau jangan berbuat demikian. Tidakkah kau
malu pada dirimu sendiri?
Bagaimanapun kau adalah laki-laki yang mengenal cara untuk membela
diri. Meskipun demikian, kalau kau memang merasa tak mampu berdiri
sendiri, kau dapat mengikuti Kakang Mantingan nanti ke Prambanan.
Aku memang masih memerlukan engkau. Tetapi pada saat ini kau
barangkali tidak lagi dapat mengucapkan sepatah kata pun. Kakang
Mantingan nanti kalau kembali ke Prambanan, akan mampir kemari
menjemputmu. Dan percayalah bahwa pada waktu ini Lawa Ijo tidak
akan berani menginjak rumah ini. Sebaliknya kau pun jangan meninggalkan
rumah ini. Sebab ada dua kemungkinan, ditangkap oleh Lawa Ijo
atau akulah yang akan memburumu, kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang meyakinkan itu, Samparan
menjadi agak
tenang sedikit. Perlahan-lahan ia berdiri dan membungkuk hormat
kepada Mahesa Jenar. Ia mempunyai suatu kesan yang aneh. Kehebatannya,
kegarangannya, tetapi juga keluhuran budinya. Sehingga tidak
langsung, ia telah memandang ke dirinya sendiri, yang beberapa
saat lalu masih merasa sebagai seorang yang tak terkalahkan.
Samparan termenung. Alangkah luasnya dunia ini. Entah berapa saja orang-orang yang sakti tinggal di dalamnya. Baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Yang satu memenangkan yang lain, dan yang lain lagi dapat mengatasinya pula. Dalam waktu yang sesingkat itu, Samparan telah menyaksikan orang-orang seperti Watu Gunung, Ki Asem Gede, Mantingan, Lawa Ijo, dan Mahesa Jenar. Belum lagi nama-nama yang pernah didengarnya dan yang belum dikenalnya.
Segera setelah itu, Ki Asem Gede beserta kawan-kawannya meninggalkan tempat itu untuk menghantar Nyi Wirasaba kepada suaminya yang rumahnya tak begitu jauh, hanya berantara dua bulak yang tak begitu lebar.
Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan.
Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi Wirasaba.
Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka.
Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa. Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?
Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki Asem Gede.
Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki Wirasaba tinggal.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
028
RUMAH Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatang-binatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya.
Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitarnya.
Waktu Mahesa Jenar dan Mantingan melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.
Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan.
Kakang ..., Kakang Wirasaba ..., aku kembali Kakang. Kembali kepadamu.... Sesudah itu, yang terdengar hanyalah tangis Nyi Wirasaba yang tak tertahan lagi.
Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu kembali.
Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung. Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam.
Nyai, masihkah aku berhak menerima kau kembali? Atau masih berhakkah kau kembali kepadaku ...?
Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki Wirasaba.
Apakah maksudmu, Kakang?
Nyai, kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak menerima kau kembali.
Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali meledaklah tangisnya.
Kakang, aku masih bersih seperti kemarin, Kakang. Bukankah dengan demikian aku masih berhak kembali kepadamu? Kalau aku tidak lagi merasa berhak kembali kepadamu, kau hanya akan tinggal dapat mengenang namaku, sebab aku telah bertekad untuk bunuh diri. Tetapi kalau orang lain yang membebaskan aku, kenapa kau merasa tidak berhak lagi menerima aku? kata Nyi Wirasaba diantara sedu-sedannya.
Nyai, laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri, jawab Wirasaba.
Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.
Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat
menduga, kalau orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi.
Tetapi yang masih merupakan pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri
tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?
Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya,
Wirasaba menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat
dengan tetap masih duduk bersila di atas pembaringannya.
Selamat datang Bapak Asem Gede.
Ki Asem Gede membalas hormat.
Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat ia diambil darimu.
Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.
Siapakah yang telah membebaskan istriku? tanya Wirasaba.
Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini dianggap merendahkan orang tua itu.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
029
MELIHAT gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi hatinya.
Bapak Asem Gede, aku mempunyai dugaan bahwa orang itu telah membebaskan istriku. Aku juga mempunyai dugaan bahwa orang itu telah berhasil membebaskan istriku dengan kekerasan. Sebab mustahil Samparan dan Watu Gunung akan melepaskan korbannya begitu saja sebelum nyawanya dapat dicabut. Adakah orang yang menyabung nyawa tanpa pamrih?
Mendengar sindiran itu, hati Mahesa Jenar tergoncang hebat. Tidak kalah pula terperanjatnya Mantingan dan Ki Asem Gede, sehingga wajah mereka menjadi semburat merah. Nyi Wirasaba melihat gelagat yang kurang baik itu. Dan kembali sebuah goresan tajam melukai hatinya yang sudah hampir sembuh. Cepat ia menjatuhkan diri di samping pembaringan suaminya, berlutut sambil menangis.
Kakang, aku telah kembali kepadamu. Jangan lepaskan aku lagi.
Mendengar ratap istrinya, sebenarnya hati Wirasaba terobek-robek karenanya. Ia pun sebenarnya sangat mencintai istrinya, sebagaimana istrinya mencintainya. Tetapi perasaan harga diri yang berlebih-lebihan telah melibat hati Wirasaba, sehingga sedikit pun ia tidak menunjukkan getaran perasaannya.
Mata Wirasaba yang sayu memandang keluar lewat jendela di samping pembaringannya. Memandang daun-daun yang bergoyang-goyang digerakkan angin, serta kilatan-kilatan matahari yang jatuh bertebaran di atas tanah pegunungan yang kemerah-merahan.
Suasana kemudian dikuasai oleh kesepian yang tegang. Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Kutuk apakah yang ditimpakan Tuhan atas dirinya, sehingga ia mengalami suatu kejadian yang demikian rumitnya? Haruskah pada suatu saat ia berhadapan dengan Wirasaba sebagai lawan? Kalau demikian, maka menang atau kalah ia akan tetap sama saja. Sama-sama mengalami penderitaan batin.
Kalau Mahesa Jenar kalah, maka kekalahan itu tak akan dapat dilupakannya seumur hidupnya. Sebaliknya kalau ia menang, bagaimanakah nasib Nyai Wirasaba? Sebab dengan demikian Ki Wirasaba pasti tidak akan mau menerimanya kembali. Bahkan mungkin ia akan membunuh dirinya.
Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jalan keluar, tiba-tiba
didengarnya Wirasaba berkata,
Nyai, aku akan menerima kau kembali sebagaimana kau
terlepas dari tangan Samparan.
Suara Wirasaba itu terdengar sebagai gemuruhnya seribu guntur yang menggelegar bersama-sama. Suasana menjadi bertambah tegang. Peluh dingin telah mengalir di seluruh tubuh Mahesa Jenar. Apa yang diduganya ternyata benar-benar terjadi.
Sampai saat itu pun ia masih belum dapat menemukan suatu pilihan. Bagaimanapun, sebagai seorang laki-laki ia tidak bisa menelan tantangan itu begitu saja. Sehingga dengan demikian tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya yang melonjak lonjak. Hampir saja ia melangkah maju dan menerima tantangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Nyai Wirasaba masih menangis, bahkan makin menjadi-jadi, ia kembali ragu-ragu.
Akhirnya setelah perasaannya berjuang beberapa lama, Mahesa Jenar mengambil suatu keputusan yang sangat berat. Sebagai seorang laki-laki, apalagi sebagai seorang yang berjiwa prajurit, ia belum pernah menghindari suatu tantangan. Tetapi kali ini bertekad, berkorban buat kedua kalinya, untuk ketentraman hidup putri Ki Asem Gede. Karena itu ia berdiam diri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ki Asem Gede menjadi kebingungan, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ia pun mempunyai pikiran yang sama dengan Mahesa Jenar. Kalau saja Mahesa Jenar menerima tantangan itu, Mahesa Jenar bukanlah tandingan Wirasaba. Bagaimanapun hebatnya menantunya, tetapi setinggi-tingginya yang dapat dicapainya adalah tingkat Dalang Mantingan. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini.
Belum lagi suasana yang tegang itu terpecahkan, mendadak mereka dikejutkan oleh suatu bayangan yang melayang, meloncat masuk lewat jendela yang terbuka di samping pembaringan Wirasaba. Geraknya cepat dan lincah sekali. Mereka menjadi semakin terperanjat ketika mereka melihat siapakah orang itu. Ternyata orang yang telah berdiri tegak diantara mereka adalah Samparan.
Pengecut tua, kau curi anakmu dengan laku seorang perempuan. Aku telah merampasnya dengan kejantanan. Aku telah melukai dua orang murid Wirasaba yang menghalangi maksudku. Seharusnya kau ambil perempuan itu dengan laku seorang jantan pula. Nah, sekarang aku datang untuk mengambilnya kembali, teriak Samparan sambil menuding wajah Ki Asem Gede.
Melihat tingkah laku, sikap dan kata-kata Samparan, Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Apalagi yang mau diperbuat oleh setan kecil ini?
Sedangkan Mantingan mempunyai tanggapan lain. Mungkin kawanan Lawa Ijo telah datang untuk menuntut balas atas kematian Watu Gunung dengan mempergunakan Samparan sebagai umpan.
Lain pula dengan Ki Wirasaba. Melihat kedatangan Samparan dan mendengar kata-katanya, matanya menjadi berkilat-kilat. Seakan-akan suatu cahaya terang memancar di dalam jiwanya.
Samparan, kau pun tidak berlaku jantan. Kau tidak mengambil istriku dari tanganku. Kau hanya berani melayani anak-anak yang baru dapat meloncat-loncat tak berarti. Kalau benar katamu, Bapak Ki Asem Gede mengambil istriku, Bapak Asem Gede ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Nah, sekarang, kalau kau inginkan istriku, ambillah ia dari tanganku dengan laku seorang jantan, sahut Wirasaba.
Samparan tertawa dingin.
Kau bermaksud demikian?
Ki Wirasaba tertawa nyaring. Wajahnya kini menjadi cerah seperti
cerahnya matahari.
Mahesa Jenar yang berotak cerdas segera menangkap arah persoalannya.
Diam-diam ia memuji kelincahan otak Samparan. Tetapi lebih dari
itu, ia kagum maksud baik Samparan, meskipun dengan tindakannya
itu ia menghadapi kemungkinan yang berat sekali.
Kau telah mengundang orang-orang ini untuk melindungi istrimu? tanya Samparan dengan nada menghina.
Wirasaba yang tinggi hati, segera merasa tersinggung. Dengan
marahnya ia menjawab.
Samparan, mulutmu terlalu lancang. Aku belum kenal mereka
keduanya. Mereka datang bersama-sama Bapak Asem Gede. Urusan
ini adalah urusanku dengan kau. Jadi kau dan akulah yang harus
menyelesaikan.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
030
KEMBALI Samparan tertawa dingin.Wirasaba, jangan kau mimpi akan masa lampau. Memang beberapa tahun yang lalu kau merupakan seorang tokoh yang mempunyai nama cemerlang. Sebutanmu cukup menggetarkan. Tetapi dengan kakimu yang lumpuh sekarang ini, kau menjadi sebatang seruling gading yang telah retak, kata Samparan.
Mahesa Jenar dan Mantingan terperanjat dua kali lipat. Ternyata Wirasaba adalah orang yang terkenal dengan sebutan Seruling Gading. Seorang tokoh penggembala yang tak ada tandingannya diantara mereka. Kekuatan tubuhnya dan kepandaiannya meniup seruling merupakan suatu paduan yang sudah ditemukan. Tetapi Seruling Gading itu kini sudah lumpuh.
Kata-kata Samparan itu juga merupakan jawaban atas teka-teki yang selama ini selalu membelit pikiran Mahesa Jenar dan Mantingan. Karena kelumpuhannya itu pulalah agaknya, maka Wirasaba tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya.
Mendengar ejekan Samparan itu, hati Wirasaba menjadi terbakar. Ia sudah hampir tak dapat menguasai kemarahannya. Cepat tangannya meraih senjatanya dari bawah bantalnya. Sebuah kapak bertangkai yang panjangnya kira-kira hampir sedepa.
Kalau kau tidak membawa senjata, Samparan ..., kau boleh meminjam senjata-senjata ku. Manakah yang kau sukai? kata Wirasaba sambil menunjuk ke sudut ruang. Pada dinding yang ditunjuk itu bergayutan bermacam-macam senjata. Kapak, tombak, pedang, keris dan sebagainya.
Perlahan-lahan Samparan berjalan ke sudut ruang tempat senjata itu tergantung. Dengan tenangnya ia mulai menimang-nimang senjata itu satu demi satu.
Wirasaba, alangkah banyaknya jenis senjatamu sebagai pertanda kebesaran namamu."
"Hanya saja tak satu pun sebenarnya yang cukup berharga kau pergunakan. Tetapi baiklah aku mencoba tombak pendekmu ini untuk melayani kapakmu yang terkenal itu.
Wirasaba menjadi bertambah marah mendengar celaan itu, sehingga kemudian ia tidak sabar lagi. Ia telah bersiap dan menggeser tubuhnya ke tepi pembaringan. Samparan yang telah mendapatkan pilihan senjata diantara sekian banyak macam senjata yang tergantung di sudut ruang itu pun segera mempersiapkan diri.
Ki Asem Gede dan Mantingan segera mengetahui pula maksud Samparan. Itulah sebabnya mereka berdiri termangu-mangu penuh kekhawatiran akan keselamatan Samparan. Tetapi Samparan berdiri tenang-tenang saja, meskipun ia tahu pasti tingkat ketinggian ilmu Wirasaba.
Samparan, mulailah! Wirasaba menggeram tidak sabar lagi.
Samparan memperdengarkan suara tertawa yang hambar dan dingin.
Sebentar ia memandang wajah Mahesa Jenar yang dikagumi. Sorot
matanya memancar aneh, sebagai sorot mata anak-anak yang dilepas
dari pelukan bapaknya yang akan pergi berperang.
Tetapi sekejap kemudian Samparan segera meloncat dengan lincahnya,
sambil memutar tombaknya menyerang Wirasaba.
Mahesa Jenar melihat segala gerak Samparan dengan terharu. Ia memandang Samparan sebagai seorang anak yang telah hilang, dan kini sedang berusaha untuk kembali ke pangkuan kebenaran. Samparan sedang berjuang untuk menebus segala dosa yang pernah dilakukan.
Samparan mulai dengan sebuah tusukan ke arah dada Wirasaba. Sebenarnya gerak Samparan cukup lincah dan mantap. Hanya sayang bahwa ia tidak dapat menyelaraskan gerakan-gerakan kaki dengan tangannya. Sedangkan Wirasaba ternyata memang seorang yang berilmu cukup tinggi. Meskipun ia tidak dapat mempergunakan kakinya, tetapi dengan gerak tangannya yang tampaknya tidak banyak membuang tenaga, ia dapat menangkis serangan-serangan Samparan, sehingga tusukannya meleset ke samping. Bahkan sekaligus ia siap menghantam lengan Samparan dengan tangkai kapaknya.
Cepat Samparan menarik serangannya, dan selangkah meloncat
ke kiri. Kembali mata tombak Samparan akan mematuk lambung lawannya.
Namun Wirasaba cukup cekatan. Dengan tenaganya, ia memutar kapaknya
untuk menangkis serangan tombak Samparan.
Demikianlah, pertarungan itu semakin lama semakin bertambah sengit.
Samparan telah mengeluarkan hampir segenap ilmunya untuk menundukkan
lawannya. Sedangkan Wirasaba, bagaimanapun hebatnya, namun karena
ia hanya mampu menangkis serangan lawannya dan hanya mampu menyerang
dalam jarak yang sangat terbatas, maka tampaklah ia mulai terdesak.
Untunglah bahwa ia memiliki sepasang tangan yang kuat dan cekatan,
sehingga pada saat-saat yang sangat berbahaya ia masih berhasil
membebaskan dirinya dari ujung tombak Samparan.
Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede, yang menyaksikan pertarungan itu, mengikuti dengan perasaan yang tegang. Berbagai macam gambaran membayang di kepala masing-masing. Kali ini pun mereka diliputi oleh kecemasan-kecemasan yang sangat tak menyenangkan.
Apalagi Nyai Wirasaba yang tak dapat mengerti persoalan yang dihadapi saat itu. Hatinya menjadi bergolak sedemikian hebatnya, sehingga ia tidak berani lagi menyaksikan pertempuran itu.
Maka, semakin lama semakin jelaslah bahwa Samparan akan berhasil menguasai keadaan. Ia mempergunakan suatu cara yang sangat menguntungkan. Sesaat ia meloncat maju sambil menyerang, tetapi sesaat apabila serangannya gagal, ia segera meloncat surut menjauhi Wirasaba untuk menghindari serangan-serangannya yang sangat berbahaya.
Melihat cara Samparan bertempur, Wirasaba menjadi semakin kalap, disamping rasa penyesalan yang meluap-luap atas cacat kaki yang dideritanya. Karena itulah maka cara bertempurnya pun semakin lama menjadi semakin kabur. Sehingga pada suatu saat, dengan gerak tipu yang cepat sekali, tombak Samparan mengarah ke leher Wirasaba. Wirasaba segera mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan itu. Tetapi selagi kapak Wirasaba bergerak, Samparan mengubah serangannya. Dengan satu putaran yang cepat tombaknya mengarah ke perut Wirasaba.
Melihat perubahan yang cepat sekali itu Wirasaba terkejut, secepat kilat ia mengayunkan kapaknya memukul tombak Samparan. Pada saat yang demikian, kedudukan Wirasaba menjadi lemah sekali. Kalau Samparan menghindari bentrokan itu, kemudian dengan perubahan sedikit ia memukul kapak Wirasaba dengan arah yang sama, maka mungkin sekali kapak itu akan terlempar jatuh. Tetapi pada saat ia akan melakukannya, tiba-tiba terlintaslah di dalam benaknya, suatu ingatan, bahwa ia tidak benar-benar berhasrat untuk mengalahkan Wirasaba.