NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
311
ORANG itu mengangguk. Kemudian katanya, “Kau telah berhasil mengingat kembali
orang-orang yang memiliki aji Sasra Birawa?”
“Sudah, Tuan,” jawab Mahesa Jenar,
“Pertama adalah guru. Kedua dan ketiga adalah murid-muridnya. Aku dan almarhum Ki Ageng Pengging, Ki Kebo Kenanga. Dan keempat adalah saudara muda seperguruan Guru, yang tidak lain adalah putra guru yang tua, kakak Ki Kebo Kenanga. Karena itu aku berani memastikan bahwa Tuan adalah orang yang keempat itu.”
Orang itu mengangguk-angguk. Sahutnya, “Ingatanmu masih baik kalau kau pergunakan. Ternyata kau menebak tepat.”
Sekali lagi Mahesa Jenar membungkuk hormat. Dengan hikmat ia berkata, “Maafkanlah kelancanganku. Sudah berapa puluh tahun Tuan meninggalkan kami sehingga aku tidak dapat mengenal Tuan kembali.”
“Tidak ada yang perlu aku maafkan. Semuanya memang aku kehendaki demikian,” jawab orang itu.
Mahesa Jenar tiba-tiba merasakan suatu yang bergelora didalam dadanya. Suatu campur baur dari bermacam-macam perasaan. Sedih, gembira, bangga, terharu. Lebih dari pada itu, ia beberapa kali mengucap syukur kepada Tuhan di dalam hatinya.
Dalam suatu saat yang tak disangka sangka, ia bertemu dengan putra gurunya yang tua, yang dalam perguruan menjadi adik seperguruan gurunya. Orang itu bernama Ki Kebo Kanigara, yang lenyap beberapa tahun sebelum gurunya meninggal. Dari gurunya ia pernah mendengar bahwa ilmu Ki Kebo Kanigara itu sama sekali tidak berada dibawah gurunya. Bahkan, karena kegemarannya mengembara, ia dapat menambah ilmu itu dengan bermacam-macam bentuk dan isi.
Sekarang ia bertemu dengan orang itu dalam suatu suasana yang seolah-olah mengandung pertentangan. Karena itu maka Mahesa Jenar bertanya seterusnya, “Kakang Kebo Kanigara, kalau sejak selama aku dapat berpikir dengan tenang, maka sejak semula aku tak akan berani melawan, meskipun aku tidak dapat mengerti maksud kakang dengan mempergunakan nama serta gelarku.”
Kebo Kanigara tersenyum. Lalu duduk disamping Mahesa Jenar. Dengan perlahan-lahan ia menjawab, “Mahesa Jenar, kalau kau mengenal aku sejak semula, maka keadaanmu akan berbeda pula. Apa yang kau capai selama beberapa hari ini, justru karena kau tidak mengenalku.”
Sadarlah Mahesa Jenar, bahwa Kebo Kanigara telah memaksa dengan caranya, supaya ia menekuni ilmunya lebih dalam lagi. Tetapi meskipun demikian ia masih bertanya, “Kakang, bukankah Kakang dapat menuntun aku tanpa teka-teki yang hampir memecahkan kepalaku itu.”
Sekali lagi Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, “Dengan demikian keprihatinanmu akan jauh berbeda. Kau akan mendalami ilmumu dengan tahap-tahap yang biasa. Tetapi, dengan keadaanmu seperti yang kau alami, kau benar-benar membanting tulang untuk memperdalam ilmu itu. Justru dengan demikian kau benar-benar telah menemukan sarinya dalam waktu yang singkat.”
“Tetapi Kakang...” bertanya pula Mahesa Jenar, “Dari mana Kakang dapat mengetahui semua keadaan yang pernah aku alami. Bagaimana Kakang tahu bahwa Panembahan Ismaya telah menyembunyikan aku di sini, dan bagaimana Kakang dapat mengenal hampir setiap orang yang pernah aku kenal pula?”
Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia tampak ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab pula, “Mahesa Jenar... ketahuilah bahwa aku memang merupakan salah seorang dari penghuni padepokan ini. Apa yang aku lakukan semuanya atas ijin Panembahan. Dan dari Panembahan pula aku mendapatkan beberapa petunjuk tentang kau.”
“Siapakah sebenarnya Panembahan Ismaya itu?” tanya Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Pertanyaanmu aneh Mahesa Jenar. Kau bertanya tentang seseorang yang telah kau sebut namanya. Bukankah ia Panembahan Ismaya. Panembahan sakti yang mengepalai padepokan Karang Tumaritis ini?”
Dari jawaban itu Mahesa Jenar dapat mengetahui
bahwa ada sesuatu yang tersembunyi, yang tak seorangpun boleh mengetahui. Karena
itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi ia bertekad untuk pada suatu waktu
dapat mengetahuinya pula, siapakah sebenarnya orang tua yang seolah-olah
telah menyisihkan diri dari dunia ramai itu.
“Kakang...” Mahesa Jenar memulai lagi, “Kalau demikian, di manakah muridku Kakang sembunyikan?”
Kebo Kanigara tertawa. Lunak dan perlahan-lahan. Jawabnya, “Benarkah kau bertanya tentang muridmu?”
Mahesa Jenar menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk ia menegaskan, “Ya Kakang. Aku bertanya tentang muridku?”
“Sesudah itu kau pasti akan menanyakan seorang lagi kepadaku,” sahut Kebo Kanigara sambil tersenyum. “Malahan barangkali yang lebih penting bagimu.”
“Ah,” desis Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.
Sekali lagi Kebo Kanigara tertawa lunak dan perlahan-lahan. Tetapi ia tidak melanjutkan pertanyaannya.
Kemudian Mahesa Jenar berkata untuk mengalihkan pembicaraan, “Kakang, apakah menurut pendapat kakang Kanigara, ilmuku telah meningkat selama ini?”
“Kau telah merasakannya sendiri,” jawab Kebo Kanigara.
“Tetapi menurut penilaianku, kau telah memenuhi harapanku. Sebab menurut pendapatku, supaya Perguruan Pengging tidak menjadi semakin pudar, maka murid-muridnya harus dapat selalu melampaui ilmu gurunya. Demikian berturut-turut. Dan sekarang kau telah mendapatkan itu.”
Kalau ada guntur menggelegar di telinganya, Mahesa Jenar tidak akan terkejut seperti saat itu. Memang ia telah merasakan sesuatu perkembangan yang menggembirakan dalam latihan-latihan yang dilakukan selama ini dengan tekunnya. Tetapi ketika ia mendengar pernyataan Kebo Kanigara, Saudara muda seperguruan gurunya, yang memiliki ilmu lebih sempurna dari gurunya sendiri, mengatakan, bahwa ia telah dapat menyamai kesaktian almarhum gurunya.
312
”KAKANG berkata sebenarnya?” tanya Mahesa Jenar dengan nada kurang percaya.
Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, ”Aku berkata sebenarnya. Dan aku telah mencobanya. Juga terhadap gurumu, ayah Pengging Sepuhpun aku pernah mencoba ilmunya, khusus Sasra Birawa, dan memperbandingkan dengan kekuatan ilmu yang aku miliki.”
Mahesa Jenar menjadi terdiam oleh perasaan yang
bergulat di dalam dadanya. Ia tiba-tiba menjadi sangat bergembira. Tetapi hanya
sesaat.
Sesaat kemudian, ia telah memanjatkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Pencipta Alam yang telah menunjukkan jalan kepadanya lewat adik
seperguruan gurunya. Dan karena itu pulalah hatinya menjadi tenang. Setenang air
telaga yang tidak dapat dijajagi seberapa dalamnya.
Untuk beberapa lama ruangan itu dikuasai oleh keheningan Lampu obor yang menyala-nyala dengan lincahnya, melemparkan sinarnya yang seolah-olah menari di dinding goa itu. Mahesa Jenar yang masih hanyut dalam angan-angan duduk sambil menundukkan kepala. Di dalam hatinya, terucapkanlah sebuah janji, bahwa dengan kematangan yang dicapainya, ia harus lebih banyak menyerahkan darma baktinya untuk manusia dan kemanusiaan, untuk tanah dimana ia dilahirkan dan untuk bangsa yang hidup diatasnya. Dan sekaligus ia berjanji di dalam hatinya itu, bahwa dengan segenap kemampuan yang telah dimiliki itu, ia harus menumpas segala kejahatan dan pelanggaran atas keharusan dalam hidup bernegara dan bertata masyarakat. Sehingga terpancarlah api cinta sejati di atas bumi.
Kemudian angan-angannya itu dipecahkan oleh suara Kebo Kanigara, ”Mahesa Jenar... sekarang sudah sampai waktumu untuk meninggalkan ruang samadimu ini. Biarlah patung batu itu tinggal sendiri, menjadi saksi bisu atas apa yang pernah terjadi di sini.”
Mahesa Jenar mengangguk satu kali. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri dan memandang patung batu itu dengan tajamnya. Kebo Kanigara pun kemudian berdiri.
”Marilah...” katanya, ”Ikutilah aku. Sekarang kau tak usah marah lagi. Aku akan membawa obor ini, supaya kau tak kehilangan jalan.”
Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara itu dengan
langkah yang berat.
Seolah-olah ia segan meninggalkan patung batu itu kesepian. Tetapi ia tidak
berkata sepatah pun. Karena Mahesa Jenar tidak menjawab, Kebo Kanigara
meneruskan, ”Mau kau apakan patung batu itu...? Ia tidak bersedih hati kau
tinggalkan di ruangan ini.”
Mahesa Jenar tersenyum dan melangkah mengikuti Kebo Kanigara meninggalkan ruangan itu.
”Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara
kemudian sambil berjalan menyusur goa yang memiliki beratus-ratus cabang yang
membingungkan itu, ”Ada beberapa maksud, karena aku terpaksa mempergunakan
nama serta gelarmu.
Pertama-tama seperti yang telah aku katakan kepadamu. Kedua, aku ingin seseorang
tidak merasa berhutang budi kepada orang lain kecuali kepada Mahesa Jenar.”
Kali ini benar-benar Mahesa Jenar tidak dapat
menjawab. Sampai Kebo Kanigara meneruskan,
”Untunglah bahwa aku dapat meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar bukan
orang yang bernama Mahesa Jenar.”
”Nanti akan diketahuinya pula Kakang,”
jawab Mahesa Jenar kemudian,
”Bahwa bukan Mahesa Jenar yang sebenarnyalah yang telah berbuat jasa itu.”
”Jangan Mahesa Jenar,” sela Kebo Kanigara, ”Aku telah bersusah payah berperan sebaik-baiknya sebagai Mahesa Jenar.”
”Tetapi bagaimanapun juga orang akan tahu juga,
bahwa yang telah melakukan suatu perbuatan yang dahsyat itu pasti bukan aku,”
jawab Mahesa Jenar pula. ”Sebab Kakang Kebu Kanigara telah menggunakan sekian
banyak orang. Apakah aku dapat melakukan pekerjaan seperti
itu?”
”Kau masih belum dapat mengerti tentang dirimu sendiri,” sahut Kebu Kanigara.
”Dengan samadimu itu, kau akan mampu melakukan apa yang dilakukan olehku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar. Juga terhadap Bugel Kaliki dan Sima Rodra, kau sekarang tidak berada di bawahnya.”
Sekali lagi dada Mahesa Jenar bergetar. Dan sekali lagi hatinya berjanji untuk membinasakan orang-orang itu.
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada muridnya. Apakah kira-kira yang telah dilakukannya selama ini. Maka bertanyalah ia, ”Kakang Kebo Kanigara. Lalu bagaimanakah keadaan muridku?”
”Agaknya kau benar-benar sayang kepada anak
itu,” jawab Kebo Kanigara.
”Aku tidak tanggung-tanggung dalam perananku.” Ia meneruskan, ”Juga
terhadap muridmu aku telah memaksanya untuk meningkatkan ilmunya dengan cara
yang pernah aku tempuh.”
”Cara yang pernah Kakang tempuh?” ulang
Mahesa Jenar dengan herannya.
”Adakah Kakang pernah bertemu dengan anak itu?”
Kebo Kanigara tertawa pendek. ”Pernah,” jawabnya. ”Aku selalu bertemu dengan anak itu di mana-mana. Karena itu aku banyak mengetahui tentang kau dan muridmu. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk dari Panembahan Ismaya.”
Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar teringat akan peristiwa-peristiwa yang pernah disaksikan atas muridnya. Maka dibayangkanlah bentuk orang yang pernah melakukan perbuatan perbuatan aneh di pantai Tegal Arang. Seorang yang mempergunakan 6 wajah, menyerang muridnya setiap malam berturut-turut. Orang itu bertubuh besar dan kekar. Dan sekarang orang yang berjalan di hadapannya itu pun bertubuh besar dan kekar.
”Kakang...” seru Mahesa Jenar sesaat kemudian. ”Aku sekarang berani memastikan bahwa Kakang telah menolong muridku untuk suatu loncatan yang tingkatan ilmunya di pantai Tegal Arang dengan cara kakang yang aneh.”
313
TERDENGAR Kebo Kanigara tertawa pendek. Jawabnya, “Aku tidak telaten melihat
anak itu maju setapak demi setapak. Sejak aku dengar kabar bahwa ayah
Handayaningrat meninggal dunia, aku jadi gelisah. Jangan-jangan tak seorang pun
yang akan mewarisi dari perguruan Pengging. Karena adi Kebo Kenanga meninggal
pula, maka satu-satunya yang ada adalah kau. Kemudian kaupun menghilang.
Mati-matian aku mencarimu. Dan akhirnya aku ketemukan kau. Malahan kau telah
mempunyai seorang murid yang berbakat baik. Tetapi kau pergunakan cara-cara ayah
Pengging Sepuh untuk meningkatkan ilmu muridmu. Selangkah kecil demi selangkah
kecil. Maka akupun berusaha membantumu dengan caraku.”
“Kakang...” sahut
Mahesa Jenar. “Sudah sewajarnyalah kalau aku mengucapkan beribu-ribu terima
kasih.”
“Jangan katakan itu,” potong Kebo Kanigara. “Kewajibanmu dan kewajibanku
dalam hal ini tidak ada bedanya. Juga kali ini terhadap muridmu itu aku isikan
ilmu dari perguruan Pengging. Berurutan seperti rencana yang akan kau berikan.
Hanya caraku berbeda dengan caramu.”
Mendengar keterangan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar berdiam diri. Ia sekarang,
barangkali setelah mempelajari ilmunya lebih tekun dengan suatu cara yang tidak
direncanakannya lebih dahulu, tidak akan lagi mengajari muridnya dengan cara
yang pernah dilakukan sebelumnya. Di mana muridnya harus menerima pelajaran
setingkat demi setingkat tanpa mengikutsertakan kemampuan daya cipta muridnya
itu sendiri.
“Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara kemudian, “Marilah kita melihat
muridmu itu berlatih. Aku telah minta kepada seseorang untuk meneternya dan
memperbandingkan dengan ilmu perguruan lain.”
“Ilmu perguruan lain?” ulang Mahesa Jenar keheran-heranan. “Adakah
seseorang di sini dan perguruan lain?”
“Akan kau lihat nanti,” jawab Kebo Kanigara. “Aku telah melakukan apa
saja yang mungkin atas muridmu itu dalam masa pembajaan dirinya. Aku sendiri
suatu waktu datang melawannya. Dan pada saat lain aku datang sebagai gurunya,
Mahesa Jenar, untuk memberinya petunjuk petunjuk. Kadang kadang aku hadapkan
Arya Salaka dengan ilmu dari perguruan lain.”
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi rindu sekali kepada
satu-satunya murid yang telah dibawanya menjelajah daerah daerah serta mengalami
kesukaran lahir dan batin. Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih tak
habis-habisnya kepada Kebo Kanigara yang telah membantu mematangkan ilmu
muridnya. Dengan demikian ia mengharap seorang yang tidak kalah saktinya, Ki
Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.
Setelah Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara menempuh jalan yang berliku-liku,
maka sampailah mereka kepada satu gang yang menuju ke dalam sebuah ruang yang
agak luas seperti ruang yang dipergunakan untuk mengurung Mahesa Jenar. Dalam
pada itu Kebo Kanigara berbisik, “Mahesa Jenar, ingat muridmu selama ini
belum pernah terpisah dari gurunya.”
“Lalu apa yang pernah dilakukan oleh gurunya?” tanya Mahesa Jenar.
“Melatihnya dan menurunkan segala sifat-sifat keluhuran budi dan kepahlawanan.
Gurunya telah mengatakan kepada anak itu bahwa dalam masa-masa yang dekat, harus
sudah menurunkan api kejantanan dan kesetiaan pada janji seorang ksatria, supaya
api yang menyala didalam dada angkatan tua itu tidak padam kehabisan minyak.
Sebab apabila datang waktunya kita meninggalkan mereka, api itu harus sudah
mereka miliki. Bahkan harus berkobar lebih hebat dari semula.”
Mahesa Jenar benar-benar tersentuh hatinya mendengar ucapan itu. Karena iapun
tak akan berbuat lain daripada itu.
“Kakang...” tanya Mahesa Jenar pula, “Tidakkah anak itu mengenal
Kakang bukan sebagai gurunya?”
“Tidak Mahesa Jenar,” jawab Kebo Kanigara, “Aku selalu datang padanya,
apabila ruangan itu sudah mulai gelap. Aku tidak pernah membawa obor yang cukup
menerangi ruangan itu.
Disamping itu aku jarang-jarang sekali bercakap-cakap dengan anak itu. Aku paksa
ia bekerja keras untuk mendalami ilmunya. Nah sekarang kaupun telah memiliki
rambut yang memenuhi mukamu. Aku mengharap bahwa Arya Salaka tidak sempat
membeda-bedakan antara kita. Hanya mungkin aku agak lebih kasar daripadamu.”
“Mungkin ada juga terselip beberapa pertanyaan dalam hatinya,” kata Mahesa
Jenar kemudian,
“Karena perbedaan sifat dan cara dari apa yang pernah aku berikan kepadanya.”
“Mahesa Jenar...” Kebo Kanigara meneruskan, "Sebelumnya baiklah kita
tunggu sampai esok. Lihatlah bagaimana ia berlatih dengan seseorang dari
perguruan lain didalam ruangan itu. Aku sudah menyuruhnya tinggal di situ terus
menerus sampai aku, Mahesa Jenar, membawanya keluar.”
Bagaimanapun mendesaknya keinginan Mahesa Jenar untuk bertemu dengan muridnya,
namun ia harus menyabarkannya sampai esok. Tetapi hari esok itu tidak akan
terlalu lama datang.
Meskipun demikian, Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah menunggu terlalu lama.
Agaknya matahari menjadi bertambah malas, sehingga agak kesiangan terbit. Namun
lambat laun, terasalah bahwa fajar telah pecah di timur. Selama itu ia mengisi
waktunya dengan mendengarkan ceritera Kebo Kanigara tentang muridnya, dan
tentang peranannya sebagai Mahesa Jenar.
“Ingat Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara, “Kau waktu itu marah
kepada muridmu, karena ia kehilangan jalan. Seharusnya ia dapat berjalan lebih
cepat di belakangmu. Karena itulah maka kau kurung muridmu dalam ruangan itu
untuk dengan keras berusaha membajakan diri. Ternyata muridmu adalah seorang
murid yang patuh. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun kadang-kadang ia berlatih
sampai hampir pingsan. Kaulah yang membawa makan dan minumnya. Disamping itu,
satu halyang penting dan seharusnya akuminta maaf kepadamu bahwa Arya Salaka
telah menerima dasar - dasar ilmu khusus perguruan Pengging, Sasra Birawa".
314
MAHESA JENAR terkejut mendengar ceritera itu. Karena itu ia bertanya,
Adakah anak sebesar Arya Salaka telah cukup kuat untuk memiliki aji itu?
Muridmu luar biasa, jawab Kebo Kanigara. Memang aku kira akibatnya akan
tidak baik kalau kau dalam tingkat sebelum samadimu, memberikan ilmu itu
kepadanya. Tetapi sekarang tidak. Juga aku merasa tidak. Apalagi ketika aku
tunjukkan bagaimana ia harus mengatur pernafasan, pemusatan pikiran dan tenaga,
aku jadi yakin bahwa mungkin ia mempunyai bakat lebih baik daripada kita.
Nah, sekarang kau telah menyadari kematanganmu. Aku harap kau lanjutkan
dasar-dasar ilmu Sasra Birawa. Meskipun dalam pelaksanaannya barulah dalam
tingkat kekuatan lahiriah saja.
Itu sudah cukup Kakang, sela Mahesa Jenar, Sudah terlalu banyak bagi
seorang anak-anak sebesar Arya Salaka yang baru berumur lebih kurang 16 sampai
17 tahun itu. Bukankah kecuali persiapan jasmaniah diperlukan pula persiapan
rokhaniah, supaya tidak ada penyalahgunaan di kemudian hari.
Kebo Kanigara tersenyum mendengar pendapat Mahesa Jenar. Kau benar-benar seorang
yang teliti terhadap segala akibat dari suatu perbuatan. Tetapi khusus muridmu
itu, aku kira ia telah cukup mempunyai persiapan lahir batin.
Mungkin karena pengalaman-pengalamannya serta tekanan-tekanan yang dialami dalam
usianya yang masih muda itu, ia menjadi agak terlampau cepat masak.
Mahesa Jenar mengangguk membenarkan. Memang pengaruh penghidupan yang dialami,
sangat terasa pula kematangan jiwa muridnya. Ia dapat berpikir hampir seperti
seorang dewasa dengan menanggapi suatu kejadian, karena itulah maka
tiba-tiba timbul pulalah rasa ibanya terhadap Arya Salaka yang seakan-akan telah
kehilangan sebagian dari tataran hidupnya, sebagian dari masa mudanya.
Ketika itu terasalah bahwa pagi telah datang. Obor yang dibawa oleh Kebo
Kanigara telah lama padam. Kemudian mereka melanjutkan menyusur lubang-lubang
gua itu mendekati ruang tempat Arya berlatih. Dari sebuah lubang mereka dapat
mengintip ke dalam ruangan itu. Dari sanalah Mahesa Jenar itu melihat muridnya.
Yang mula-mula memukul dadanya adalah suatu perasaan haru ketika ia melihat Arya
Salaka menjadi kurus dan pucat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Juga senyum haru.
Disamping Arya Salaka ia melihat seorang pemuda yang gagah, berwajah bening dan
berdada bidang.
Ia adalah Putut Karang Tunggal yang agaknya menemani Arya Salaka. Kalau bukan
aku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar, anak itulah yang membawa makanan untuk
Arya, bisik Kebo Kanigara.
Mahesa Jenar jadi bergembira ketika ia melihat muridnya bersahabat dengan Putut
yang mengepalai para cantrik itu.
Mereka berdua mempunyai banyak persamaan, bisik Kebo Kanigara lebih
lanjut, Keduanya tabah dan penuh semangat. Karena itu mereka tekun
berlatih bersama.
Berlatih bersama...? ulang Mahesa Jenar terkejut, Jadi Putut Karang
Tunggal juga memiliki ilmu yang cukup tinggi?
Kebo Kanigara mengangguk.
Aku tidak mengira. Ia terlalu halus dan sopan. Muridku adalah seorang anak
yang biasa hidup dalam pergaulan yang kasar. Diantara para petani dan nelayan,
sambung Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara tersenyum aneh. Tetapi karena itulah muridmu menjadi seorang
anak yang jujur, yang tidak memandang setiap persoalan dengan berbelit-belit,
sahut Kebo Kanigara.
Nah, tunggu sebentar... ia melanjutkan, Mereka pasti sedang
mempersiapkan diri untuk berlatih bersama. Aku mengijinkan Arya Salaka melakukan
tanpa pengawasanku. Dan kepada Putut Karang Tunggal itu pun aku pesankan agar
tidak mengatakan kepada Arya Salaka siapakah aku sebenarnya.
Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Ia memang mengharap untuk menyaksikan
muridnya berlatih. Ia ingin mengetahui sampai dimana sekarang tingkat
kepandaiannya.
Hal itu perlu pula untuk menghilangkan kesan-kesan yang mungkin timbul, apabila
ia telah kembali kepada anak itu sebagai seorang guru yang pernah diantarai oleh
orang lain tanpa setahu anak itu sendiri.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Kebo Kanigara. Sesaat kemudian ia melihat Arya
dan Putut Karang Tunggal mempersiapkan dirinya untuk memulai dengan
latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan hampir setiap hari.
Melihat langkah Arya yang sedang pergi ke tengah ruangan itupun Mahesa Jenar
telah merasakan betapa perubahan yang terjadi pada muridnya, sehingga ia semakin
lekas ingin mengetahui, gerakan-gerakan yang akan dilakukan.
Kemudian setelah mereka masing-masing bersiap, maka latihan itupun dibuka dengan
sebuah serangan yang mengejutkan dari Putut Karang Tunggal. Mahesa Jenar sendiri
menjadi terkejut pula. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak yang halus, sopan
dan sama sekali tidak menunjukkan kekasaran jasmaniah itu dapat berbuat
sedemikian.
Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Arya Salaka. Ia dengan tangkasnya
dapat mengelakkan serangan itu, bahkan dengan suatu gerak yang sangat lincah ia
sudah memulai dengan serangannya.
Demikian latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Selangkah demi
selangkah mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain memenuhi ruangan
itu.
Dalam pada itu, terjadilah gelora di dalam dada Mahesa Jenar. Ia sama sekali
tidak menduga bahwa anak muridnya dapat mencapai tingkat yang sedemikian dalam
waktu yang singkat. Perasaan bangga dan gembira berputar-putar di seluruh rongga
dadanya.
315
MURIDNYA itu kini benar-benar merupakan banteng muda yang tangkas dan
kuat. Sepasang kakinya yang cepat itu, suatu waktu dapat tegak diatas tanah
bagaikan tonggak besi yang tak tergerakkan. Tangannya yang hanya sepasang itu
tampak bergerak dengan cepatnya, melingkar-lingkar dan mematuk-matuk dengan
dahsyatnya. Tetapi lawannya berlatih bukan pula anak kemarin sore. Iapun telah
menguasai ilmunya hampir sempurna. Karena itu maka latihan itu berlangsung
dengan serunya. Mereka masing-masing mempunyai kekuatan dalam bentuknya
masing-masing. Arya Salaka ternyata tangguh bukan main. Tubuhnya cukup kuat dan
setiap gerakannya menimbulkan desir dalam dada Mahesa Jenar.
Sedangkan Putut Karang Tunggal sangat mencengangkannya. Gerakannya semakin lama
menjadi semakin lincah dan cepat. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi seakan-akan
sangat ringan dan sekali-sekali seperti terbang ia meloncat-loncat membingungkan.
Namun Arya Salaka dapat menanggapinya dengan baik. Iapun menjadi seolah-olah
memiliki beberapa pasang mata yang terserak-serak di tubuhnya, sehingga kemana
bayangan itu melontar, ia selalu dapat melihatnya dan segera menghadapinya.
Dalam pada itu, semakin lama Mahesa Jenar dapat semakin melihat jelas
kekuatan-kekuatan yang tersimpan pada setiap gerak kedua anak muda itu. Bagi
Arya Salaka ia hanya dapat berbangga hati, sebab setiap geraknya adalah
gerak-gerak dari perguruan Pengging ditambah dengan segala macam pengalaman Arya
Salaka yang dipetiknya dari gerak-gerak alam yang pernah ditekuni bersama, yang
dapat disusunnya sendiri dalam satu senyawa yang serasi. Tetapi yang semakin
mengetuk-ngetuk hatinya adalah setiap gerakan Putut Karang Tunggal yang cepat
lincah itu.
Tiba-tiba Mahesa Jenar seolah-olah melihat kedua anak muda yang sedang berlatih
itu seperti pernah terjadi belasan tahun yang lalu. Meskipun tidak tepat benar,
namun ia pernah menyaksikan ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal itu.
Akhirnya ketika ia menjadi semakin jelas, tergetarlah tubuhnya. Hampir saja ia
berteriak menyebutkan sebuah nama, kalau ia tidak segera teringat bahwa pada
saat itu ia masih belum waktunya menampakkan diri.
Namun bagaimanapun juga ia merasa bahwa kedua anak muda itu berlatih mirip
seperti dirinya sendiri berlatih bersama sahabatnya pada waktu mudanya, Mahesa
Jenar dan Sela Enom. Dan pada saat itulah ia mendapat kepastian bahwa anak yang
menamakan diri Putut Karang Tunggal itu pasti ada sangkut pautnya dengan Ki
Ageng Sela Enom yang pada masa kanak-kanaknya bernama Anis. Tetapi menilik
kedahsyatannya maka ia tidak yakin bahwa anak itu adalah murid Ki Ageng Sela.
Sebab bagaimana tingginya ilmu Ki Ageng Sela itu, namun ia pasti tidak akan
mampu membentuk Putut Karang Tunggal sampai menjadi anak yang sedemikian
mencengangkan.
Karena itu Mahesa Jenar tidak mau berteka-teki lagi. Akhirnya iapun bertanya
kepada Kebo Kanigara, Kakang, siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu?
Kebo Kanigara tersenyum, jawabnya perlahan-lahan, Adakah sesuatu yang kau
lihat padanya?
Ya, sambung Mahesa Jenar. Aku melihat perguruan Sela ada padanya.
Tepat, jawab Kebo Kanigara. Ia adalah murid Ki Ageng Sela.
Mahesa Jenar menarik nafasnya. Namun ia masih bertanya lagi, Adakah Ki Ageng
Sela mampu membentuk Karang Tunggal menjadi sedemikian mengagumkan?
Ki Ageng Sela yang mana yang kau tanyakan, sahut Kebo Kanigara. Kalau
yang kau maksud Sela Enom, maka kau benar, meskipun Sela Enom itupun sekarang
telah mampu melakukan hampir seperti apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya.
Menangkap petir, potong Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara tertawa perlahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, Bukankah
ceritera tentang kecakapan menangkap petir itu sudah dimiliki oleh Sela Enom
sejak mudanya? Agaknya bakat turun tumurun itu tidak perlu dipelajarinya terlalu
lama.
Mahesa Jenarpun tersenyum pula mendengar jawaban itu.
Tidak hanya itu... Kebo Kanigara meneruskan, Tetapi berbagai ilmu yang
lain. Ia memiliki kedahsyatan tangan seperti yang dipancarkan oleh Sasra Birawa.
Ki Ageng Sela menamakannya aji Narantaka.
Agaknya ia mengagumi tokoh Gatutkaca, potong Mahesa Jenar.
Mungkin, jawab Kebo Kanigara.
Kemudian mereka berdiam diri. Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal masih sibuk
berlatih. Agaknya latihan-latihan serupa itu telah sering dilakukan sehingga
bagaimanapun hebatnya, namun tidaklah sangat berbahaya.
Ketika matahari telah tegak di langit, agaknya kedua anak muda itu merasa telah
cukup lama berlatih. Karena itu, terdengar Putut Karang Tunggal bersiul nyaring,
dan berloncatanlah mereka surut. Meskipun tubuh masing-masing dibasahi oleh
peluh yang mengalir deras sekali, namun wajah-wajah mereka menunjukkan
kegembiraan.
Dalam pada itu, sekali lagi terdengar Mahesa Jenar bertanya, Kakang Kanigara.
Siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu? Bagaimanapun juga aku masih melihat
beberapa kelebihan yang dimilikinya daripada Arya Salaka.
Untuk beberapa lama Kebo Kanigara tidak menjawab. Ia agaknya menjadi ragu-ragu.
Tetapi kemudian terdengar Mahesa Jenar mendesak, Aku merasa bahwa anak itu
memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak muda pada umumnya. Cahaya
wajahnya yang terang seperti memancarkan wibawa yang mengagumkan.
Ia juga murid Ki Ageng Sela Sepuh, jawab Kanigara.
Aku sudah mengira, sahut Mahesa Jenar, Tetapi siapakah dia?
Putut Karang Tunggal, jawab Kanigara pula sambil tersenyum.
Akh...! desis Mahesa Jenar. Kakang Kanigara memang mempunyai kegemaran
berteka-teki. Tetapi teka-teki yang pertama telah aku tebak dengan tepat.
Sekarang aku menyerah. Sebab pada saat aku meninggalkan Demak, aku tidak sempat
menanyakan kepada Nis Sela, apakah ia mempunyai murid yang sekaligus menjadi
adik seperguruan.