Pondok GajahSora.Net
GASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
306
TIBA-TIBA diri Mahesa Jenar dalam alam yang lain
itu, memancar dengan terangnya, menyinari tubuhnya. Pada saat itulah Mahesa
Jenar merasa bahwa timbul sesuatu di dalam dirinya. Pada saat itulah ia merasa,
menguasai benar setiap watak dari setiap gerak yang dilakukan, yang dilakukan
oleh dirinya di luar wadagnya, yang sebenarnya adalah perwujudan dari
kedahsyatan daya khayalnya dalam menekuni ilmunya, tanpa ikut sertanya wadag itu
sendiri.
Pada saat itulah Mahesa Jenar menemukan suatu kekuatan yang jauh melampaui
kekuatan wadagnya, dengan menguasai setiap watak dari setiap gerak. Sedang apa
yang pernah dilakukan selama ini adalah penguasaan gerak itu sebagai suatu gerak
jasmaniah melulu.
Pada saat yang terakhir, dirinya diluar wadagnya itu berdiri tegak di atas kedua
kaki. Kemudian dengan gerak yang mengagumkan menyilangkan satu tangannya di muka
dada, mengangkat tangannya yang lain tinggi-tinggi.
Ditekuknya satu kakinya ke depan, siap menghantamkan aji Sasra Birawa. Pada saat
itu, terasa seolah-olah wadagnya terbang melayang mendekati dirinya diluar wadag
itu. Sehingga jarak antara wadag dan kedahsyatan daya khayalnya dalam kebulatan
tekat semakin lama semakin dekat.
Pada saat pertemuan diantara kedua dirinya dalam bentuknya yang berbeda itu,
Mahesa Jenar mendapat suatu perasaan nikmat yang luar biasa. Perasaan yang tak
dapat dilukiskan.
Persenyawaan diri dari unsur-unsur yang seolah-olah memiliki watak yang berbeda
itu telah memecahkan masa hidupnya selama ini.
Kemudian seolah-olah lahirlah seorang Mahesa Jenar yang baru. Pada saat itulah,
tiba-tiba bersenyawa pula gerakan-gerakan yang dilihatnya pada diri diluar
wadagnya itu dengan wadagnya. Karena itulah maka yang ada kemudian hanya seorang
Mahesa Jenar, dengan tubuh yang kurus pucat, tetapi berjiwa sekeras baja,
berdiri diatas satu kakinya, satu tangannya menyilang dada dan satu tangannya
terangkat tinggi-tinggi.
Kemudian dengan satu loncatan lemah, Mahesa Jenar mengayunkan tangannya
menghantam batu yang bertimbun-timbun menutupi pintu satu-satunya dari ruangan
itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali.
Meskipun dengan tubuh yang lemah, namun kekuatan Mahesa Jenar rasanya menjadi
berlipat-lipat. Batu-batu itupun segera pecah berhamburan. Dan tampaklah
kemudian sebuah lubang, yang semula tertutup oleh guguran-guguran batu yang
bertimbun-timbun, meskipun tidak menganga seluruhnya.
Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang mengagumi tenaganya sendiri,
terdengarlah sebuah suara tertawa yang lemah perlahan-lahan di belakangnya.
Mahesa Jenar terkejut bukan main, dan dengan segera ia memutar tubuhnya,
menghadap arah suara itu. Tetapi pada saat itu, ruang di dalam goa itu sudah
mulai gelap, sehingga Mahesa Jenar tidak segera melihat sesuatu.
“Suatu latihan yang hebat,” tiba-tiba terdengar suara dari arah
patung batu.
Mendengar suara itu Mahesa Jenar seperti orang bermimpi. Kata-kata itulah yang
sering diucapkan oleh gurunya. Adakah patung batu itu benar-benar telah berubah
menjadi gurunya?
Sesaat kemudian kembali terdengar suara, “Beristirahatlah, hari masih
panjang.”
Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Gurunya selalu menasehatinya demikian kalau
ia terlalu letih berlatih.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar melangkah maju mendekati patung itu. Ia menjadi ragu.
Bagaimanapun juga, patung itu baginya tidak lebih daripada batu-batu biasa. Yang
kebetulan dapat dipergunakan sebagai pancatan untuk memusatkan pikirannya. Tidak
lebih dari pada itu. Tetapi kalau tiba-tiba patung itu dapat berbicara adalah
diluar nalar.
Tetapi tiba-tiba ia menjadi terkejut sekali lagi. Ia melihat bayangan yang
bergerak-gerak di belakang patung itu. Dan di dalam relung itu dilihatnya pula
bayangan yang lebih kelam dari sekitarnya. Cepat Mahesa Jenar dapat mengetahui,
bahwa di belakang patung itu ternyata ada sebuah pintu yang dapat ditutup dan
dibuka, yang dibuat dari batu-batu pula, sehingga tidak diketahuinya sebelum itu.
“Siapakah kau...?” desis Mahesa Jenar bertanya.
“Jangan bertanya demikian,” jawab suara itu.
“Seharusnya kau sudah tahu bahwa Mahesa Jenar datang menjengukmu.”
Mendengar jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Tetapi sekarang ia sudah
mendapat suatu keyakinan tentang dirinya, sehingga dengan demikian ia menjadi
bertambah tenang. Maka katanya kemudian, “Adakah yang menarik hati bagimu,
sehingga kau perlukan menjenguk aku?”
“Ada,” jawab orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu.
“Lewat lubang itu aku dapat mengintip apa yang selama ini kau lakukan.”
“Kau keberatan?” sahut Mahesa Jenar.
“Tidak,” jawabnya, “Aku tidak pernah keberatan terhadap kelakuan orang lain yang
tidak merugikan diriku, apalagi tidak merugikan orang banyak. Apa yang kau
lakukan tidak lebih dari sebuah pertunjukan yang menyenangkan.”
Meskipun Mahesa Jenar tidak senang mendengar kata-kata itu, namun ia masih diam
saja.
“Dengan pertunjukanmu itu aku pasti...” sambung orang itu, “Bahwa kau pernah
membaca lontar kisah Mahabarata. Kisah seseorang yang tak berhasil berguru
kepada seorang Pandeta yang bernama Kombayana.
Orang itu, yang bernama Bambang Ekalaya atau lebih terkenal dengan nama
Palgunadi, kemudian membuat patung. Patung Pendeta itu. Pada patung itu ia
berguru. Dan akhirnya benarlah ia dapat menyamai kesaktian murid Kombayana yang
paling dahsyat dalam olah jemparing, yaitu Raden Arjuna.”
307
MAHESA JENAR merenung sebentar. Memang ia pernah
mendengar ceritera itu. Dan apa yang dilakukan memang mirip sekali. Tetapi pada
saat ia memulainya, ia sama sekali tidak pernah berpikir, apalagi sengaja
menirukan apa yang pernah dilakukan oleh Bambang Palgunadi.
Mengingat peristiwa itu ia menjadi geli sendiri. Lalu jawabnya, “Kau benar.
Mudah-mudahan akupun berhasil pula seperti Palgunadi.”
Tiba-tiba orang itu tertawa tinggi. Katanya, “Kau
benar-benar pemimpi.
Yang bisa terjadi semacam itu, hanyalah didalam suatu dongeng saja.
Dan kau agaknya ingin menjadi salah seorang tokoh dongeng-dongeng semacam itu.”
Mahesa Jenar mengangkat pundaknya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba.”
“Bagus,” sahut orang itu melengking dengan nada yang berbeda. “Aku akan melihat apakah kau berhasil,” sambungnya.
Setelah itu tiba-tiba ia meloncat maju. Meskipun ruangan itu sudah menjadi semakin gelap, namun Mahesa Jenar masih melihat orang itu menyilangkan satu tangannya, tangannya yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sedang satu kakinya dingkatnya dan ditekuk ke depan.
Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dalam gerakan yang pertama orang itu telah menyiapkan suatu bentuk aji yang mirip dengan ajinya Sasra Birawa, bahkan orang itupun menamainya demikian.
Dalam pada itu Mahesa Jenar sadar bahwa kekuatan
aji orang itu adalah sangat dahsyatnya. Beberapa hari yang lalu, ia menjadi
pingsan karena benturan yang hebat. Sekarang tiba-tiba orang itu akan
mengulanginya kembali. Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada
berusaha menyelamatkan diri.
Karena itu, segera iapun berbuat hal yang sama dengan tubuhnya yang lemah. Ia
mengharap setidak-tidaknya, dengan perlawanannya itu, akan dapat mengurangi
tekanan yang dideritanya karena pukulan aji lawannya.
Sesaat kemudian ia melihat orang itu meloncat ke depan, dan dengan derasnya mengayunkan tangan kanannya. Pada saat yang bersamaan, Mahesa Jenar pun dengan segenap kekuatan lahir batin yang disalurkan dalam aji Sasra Birawa, menghantam tangan yang terayun ke arah kepalanya itu.
Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat. Dua macam kekuatan ilmu sakti yang oleh para pemiliknya dinamai Aji Sasra Birawa telah berbenturan. Dan benturan kali ini lebih dahsyat dari benturan kedua kekuatan sakti itu beberapa waktu yang lalu, karena Mahesa Jenar telah menemukan inti kekuatan ilmunya.
Meskipun demikian bagaimanapun juga, keadaan jasmaniah mereka mempengaruhi pula. Mahesa Jenar yang telah sekian lama tersekap di dalam goa itu tanpa sebutir makananpun, harus berbenturan melawan seorang yang segar bugar. Namun pancaran kekuatan yang tersembunyi di balik kekuatan jasmaniah, ternyata memiliki kemampuan yang nggegirisi.
Demikianlah ketika benturan itu terjadi, ternyata kedua orang itu bersama terlempar surut. Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, merasakan pula betapa hebat pukulan lawannya, sehingga ia terpaksa jatuh sekali berguling, barulah ia dapat tegak kembali. Tetapi dalam pada itu, Mahesa Jenar sendiri terdorong jauh ke belakang sehingga tubuhnya membentur dinding goa.
Setelah itu dengan lemahnya Mahesa Jenar terduduk di lantai. Tetapi dalam pada itu terbesitlah suatu perasaan yang aneh dalam dirinya. Meskipun ia terlempar sampai membentur dinding goa, dan kemudian dengan lemahnya terduduk di lantai seperti orang yang kehilangan seluruh tulang-tulangnya, namun dalam benturan itu ia tidak lagi merasakan percikan panas yang membakar seluruh tubuhnya seperti yang dialaminya dahulu. Juga kali inipun kepalanya tidak menjadi pening berkunang-kunang dan ia tidak pingsan. Dengan demikian, timbul pulalah suatu pikiran di dalam kepalanya, seandainya keadaan jasmaniahnya tidak terlalu jelek, mungkin akan dapat mengimbangi pukulan lawannya.
Tetapi disamping perasaan gembira yang membersit di dalam dadanya itu, iapun menjadi cemas kalau-kalau lawannya itu akan mengulangi serangannya untuk membinasakannya. Meskipun ia sama sekali tidak takut mati, namun ia masih menginginkan untuk menurunkan ilmu Perguruan Pengging itu kepada Arya Salaka.
Dan karena itulah, terdorong oleh kemauannya yang keras dan tekad yang mantap, terasalah bahwa perlahan-lahan kekuatannya timbul kembali. Sehingga meskipun ia masih harus berpegangan pada dinding goa, namun iapun berhasil untuk berdiri dan menanti apa yang akan terjadi.
Disamping itu ia bersyukur pula, bahwa kini di dalam ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Dengan demikian ia mengharap bahwa orang itu tidak lagi akan menyerang segera.
Kalau saja orang itu menundanya sampai esok, mungkin ia telah mendapatkan sebagian dari kekuatannya kembali. Dalam kegelapan itu, maka Mahesa Jenar yang tajam, masih mampu menangkap bayangan samar-samar di hadapannya. Tetapi sampai sekian lama ia menyaksikan bayangan itu tegak tak bergerak.
Dan kemudian ternyatalah, apa yang diharapkan Mahesa Jenar. Sebab ruangan yang semakin kelam, maka orang itu pun berkata, “Untunglah bagimu, ruangan ini menjadi amat gelap sehingga aku berhasrat untuk menunda umurmu sampai besok. Tetapi bagaimanapun juga aku jadi heran. Iblis mana yang telah merasuk dalam tanganmu, sehingga kau mampu melawan Sasra Birawa tanpa cidera.”
Mahesa Jenar menarik nafas. Ia menjadi lega oleh
keputusan lawannya.
Tetapi ia menjawab sindiran itu, “Bukankah kau telah berceritera tentang Ekalaya
dan Pendeta Kombayana?”
Tiba-tiba orang itu tertawa. Nyaring dan panjang.
Katanya kemudian,
“Bagus, kau telah menghidupkan sebuah cerita petikan dari Mahabarata.
Dan aku ingin melihat akhir dari cerita ini. Apakah kau benar-benar mampu
menandingi aku.”
“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar pendek.
308
SEKALI lagi orang itu tertawa. Kemudian sambungnya, “Tetapi aku ingin bertindak adil. Aku tidak mau memenangkan pertempuran ini melawan seseorang yang hampir mati kelaparan. Tunggulah kau di sini, aku akan membawa makanan untukmu.”
Kemudian terdengarlah orang itu melangkah pergi.
Mahesa Jenar berdiri termangu-mangu. Ia semakin tidak mengerti kelakuan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.
Sesaat kemudian, apa yang dijanjikan orang itu
terjadilah. Ia masuk kembali lewat mulut goa yang mula-mula ditutupinya dengan
reruntuhan batu-batu, yang kemudian terbuka kembali karena tangan Mahesa Jenar.
Di tangan kanannya ia memegang sebuah obor dan di tangan kirinya sebuah
bungkusan daun pisang.
Ia langsung duduk di tengah-tengah ruangan itu, sambil membuka bungkusannya ia berkata, “Kemarilah. Duduklah dan makanlah bersama aku.”
Mahesa Jenar tidak membantah. Tetapi mula-mula ia pergi dahulu ke mata air. Sesudah minum beberapa teguk baru ia duduk di depan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.
“Makanlah,” desak orang itu. “Atau kau takut aku meracunmu?”
Mahesa Jenar menggeleng. “Tidak,” jawabnya. “Orang semacam kau ini pasti tidak akan meracun orang. Sebab kau terlalu yakin akan kesaktianmu.”
Sejenak kemudian mereka berdiam diri sambil menikmati isi bungkusan yang dibawa oleh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, yang ternyata adalah seonggok nasi dengan lauk pauknya. Goreng ikan gurami.
Mula-mula Mahesa Jenar tidak menaruh perhatian
sama sekali kepada jenis makanan ini. Tetapi beberapa saat kemudian ia mulai
berpikir.
Dari manakah orang itu mendapat goreng ikan gurami. Ataukah
di dalam goa ini terdapat alat untuk menggoreng dan kolam ikan gurami?
“Kau telah berbuat suatu kesalahan,” desisnya.
Orang itu terkejut. “Kesalahan...?” ia bertanya.
Mahesa Jenar mengangguk. Sambil menunjuk sisa ikan gurami itu ia berkata, “Mahesa Jenar yang kehilangan muridnya di dalam goa ini tidak akan menemukan goreng ikan gurami dengan demikian mudahnya.”
Kembali orang itu terkejut. Tetapi hanya sebentar, sebab sebentar kemudian ia tertawa tinggi.
Sambil masih menyuapi mulutnya ia menjawab, “Kau memang suka ngotak-atik. Apa salahnya kalau aku mendapat goreng ikan gurami? Aku tangkap ikan ini di kolam di sebelah selatan goa ini.”
“Dari mana kau dapat minyak?” potong Mahesa Jenar.
Orang itu terdiam sebentar, lalu katanya, “Sekarang ternyata kalau kau tak tahu sama sekali ujung pangkal tempat ini. Aku berada di dalam goa ini atas petunjuk seorang pendeta sakti yang bernama Panembahan Ismaya bersama muridku Arya Salaka. Tetapi sesaaat kemudian muridku itu hilang.”
“Adakah seorang Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh perlu bersembunyi di dalam goa?” bantah Mahesa Jenar.
Sekali lagi orang itu terdiam. Setelah berpikir sebentar barulah ia menjawab, “Kalau kau mengaku pula bernama Mahesa Jenar, apa pula kerjamu di sini?”
Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Ia merasa mendapat sesuatu dari percakapan itu. Jawabnya, “Aku masuk ke dalam goa ini karena aku mengejar kau, orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar.”
“Tetapi menurut katamu...” sahut orang itu, “Kau telah berada di dalam goa ini sebelumnya. Bukankah kau menuduh aku memancingmu, memisahkanmu dari seorang yang kau aku menjadi muridmu?”
“Kalau begitu, kita telah menghuni goa ini bersama-sama. Namun ada bedanya,” jawab Mahesa Jenar. “Kau agaknya telah mengenal segenap lekuk liku goa ini. Aku belum.”
“Aku berada dalam goa ini karena ijin yang memiliki,” potong orang itu. “Kau agaknya seorang penghuni gelap?”
Mahesa Jenar tertawa pendek. Ia merasa kehilangan jalan. Karena itu ia berdiam diri.
Suasana kemudian menjadi hening. Namun dalam
keheningan itu, Mahesa Jenar tidak luput dari suatu keadaan yang sibuk. Sibuk
berpikir dan menebak-nebak. Ia merasa bahwa pasti ada suatu maksud yang
tersembunyi. Mungkin orang itu sudah tahu bahwa dialah sebenarnya yang
bernama Mahesa Jenar.
Tiba-tiba Mahesa Jenar bertanya menyentak, “Kau belum menjawab pertanyaanku, dari mana kau mendapat minyak goreng?”
Orang itu pun terkejut. Jawabnya, “Sudah aku katakan, dari cantrik padepokan Karang Tumaritis.”
“Kenapa kau bersembunyi dalam goa ini?” desak Mahesa Jenar cepat.
“Beberapa orang sakti mencari aku untuk membalas dendam,” jawabnya secepat pertanyaan Mahesa Jenar.
“Kau takut?” desak Mahesa Jenar pula.
“Tidak. Tetapi aku tidak akan mampu melawan mereka.”
“Bohong!” bentak Mahesa Jenar.
Orang itu terkejut. Pandangannya jadi semakin tajam.
“Kau sudah berada diantara mereka. Dan mereka tidak dapat menangkapmu.” potong Mahesa Jenar.
Tiba-tiba mata orang itu menjadi merah. Agaknya
ia menjadi marah.
Tetapi Mahesa Jenar tidak peduli. Ia berkata terus, “Ada beberapa pertentangan
dalam ocehanmu. Kau bersembunyi karena orang-orang sakti yang mengejarmu untuk
membalas dendam, tetapi kau telah berada diantara mereka, dan mereka ternyata
tak dapat berbuat sesuatu.
Kemudian kau katakan bahwa kau kehilangan muridmu di dalam goa ini, sedang
agaknya kau mengenal segala lekuk-likunya, sehingga mustahillah bahwa kau tak
dapat menemukannya. Ataupun kalau murid yang kau katakan itu hilang diluar goa
ini, kau akan dapat minta tolong kepada Panembahan Ismaya dan cantrik-cantriknya
untuk mencarinya. Nah, sekarang katakan kepadaku. Apakah maksudmu sebenarnya
dengan mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh?”
309
ORANG itu menjadi semakin marah mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang menghambur seperti bendungan pecah. Tetapi Mahesa Jenar masih belum berhenti, sambungnya, “Apalagi kau dapat berceritera tentang semua pengalaman dan peristiwa yang aku alami. Bahkan sampai pada ke persoalan hubungan antara aku dan orang-orang sakti yang mengejarku?”
Orang itu sudah tidak sabar lagi. Dengan kerasnya ia membentak, “Cukup!”.
Lalu tubuhnya menjadi gemetar, dan tiba-tiba ia
meloncat berdiri.
Katanya melanjutkan dengan suara gemetar, “Kau memancing kemarahanku.
Aku sudah ingin menunda umurmu sampai besok. Tetapi ternyata kau ingin
menyerahkannya sekarang. Berdirilah, dan jangan mati berpangku tangan.
Apakah kau akan membanggakan Sasra Birawa tiruan yang hanya mampu memecah batu
itu. Itu hanyalah suatu pameran jasmaniah yang sama sekali tak berharga.”
Setelah itu ia mencari sebuah batu untuk
menyandarkan obornya.
Kemudian sambil mempersiapkan diri ia berkata, “Marilah kita mulai. Jangan
lewatkan waktu dengan sia-sia.”
Sekali lagi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Kalimat itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh gurunya pula. Sudah beberapa kali ia mendengar orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Kalau tidak, tidak akan ia menyebut beberapa kata-kata yang bersamaan. Yang selalu ditujukan kepada dirinya dan saudara seperguruannya almarhum.
Sebelum ia menemukan suatu jawaban, terdengar orang itu berkata pula, “Berdirilah, dan pergunakan Sasra Birawa buatanmu yang tidak lebih dari sebuah pedang yang tumpul. Dengan pedang yang berat dan tumpul itu, kau dapat mematahkan besi gligen, dengan mengandalkan kekuatan jasmaniah. Tetapi kalau ada sehelai kapuk yang melayang-layang dibawa angin, pedangmu itu tidak akan berguna. Kau tidak akan mampu membelah helaian kapuk itu bagaimanapun kuatnya tenaga jasmanimu. Tetapi untuk memotongnya, kau perlukan sebuah pedang yang tidak perlu berat dan kuat, namun ia harus tajam setajam perasaanmu.”
Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Kata-kata itu
sama sekali bukan kata-kata seorang yang marah dan akan membunuhnya. Tetapi
justru kata-kata yang sangat diperlukannya. Dengan mesu raga, ia sekarang mampu
menangkap isi katakata itu. Bahkan justru sebagai penjelasan
atas perbedaan watak dari gerak-gerak wadagnya dan gerak-gerak dirinya yang
dilihatnya di luar wadagnya. Tetapi sekali. Dua buah pedang yang berat, kuat
namun tumpul, yang mampu memecah henda apapun, dan yang lain pedang yang ringan,
tetapi bermata tajam. Hanya dengan pedang semacam itulah ia akan mampu memotong
sehelai kapuk yang diterbangkan angin.
Apalagi di dalam kata-katanya, orang itu ternyata
menganggapnya, betapa tajam perasaannya. Sehingga untuk memangkas kapuk yang
diterbangkan angin diperlukan pedang setajam perasaannya. Sesaat kemudian
kembali orang itu berkata, “Berdirilah, aku sudah hampir
mulai.”
Tetapi Mahesa Jenar tidak juga mau berdiri.
Ditatapnya saja wajah orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, seolah-olah
sampai menembus ke dalam otaknya. Didalam cahaya obor yang masih menyala-nyala
disamping mereka. Mahesa Jenar dapat melihat wajah itu dengan agak jelas. Kalau
orang itu dihilangkan rambut-rambut yang melingkari mukanya, ia akan dapat
memastikan, bahwa tak seorangpun akan mengenalnya sebagai Mahesa Jenar. Tetapi
yang mengherankan, segala gerak, tingkah-laku serta setiap unsur gerak yang
dilakukan
adalah tepat seperti yang dikenal dan dilakukannya. Bahkan tidaklah mungkin,
bahwa secara kebetulan orang itu mengulang kata-kata gurunya sampai beberapa
kali.
Karena itulah maka ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Apapun sifatnya. Dengan demikian maka tidak sewajarnyalah kalau ia melawannya.
Bahkan ketika sekali lagi orang yang berdiri dihadapannya itu menyuruhnya berdiri, Mahesa Jenar menjawab, “Tidak. Aku lebih senang duduk menikmati makanan yang kau bawa.”
“Kau takut menghadapi kematian?” tanya orang itu.
“Sejak semula aku berkata, bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan,” jawab Mahesa Jenar.
“Kalau begitu kau menunggu apa lagi?” desak orang itu tidak sabar.
“Kau benar-benar mau berkelahi?” tanya Mahesa Jenar kemudian.
“Sebagaimana kau lihat. Aku sudah siap,” jawabnya.
“Aku tidak,” potong Mahesa Jenar.
“Kau takut?” sahut orang itu.
Mahesa Jenar menggeleng. Katanya, “Aku tidak takut. Tetapi aku tidak akan dapat menyamai kesaktianmu. Tidak ada gunanya.”
Mendengar jawaban itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Nah, kalau begitu kau mengaku sekarang, bahwa kau bukanlah Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Sebab Mahesa Jenar bukanlah seorang pengecut.”
“Siapa bilang?," bantah Mahesa Jenar. “Aku tidak mengatakan bahwa aku bukan Mahesa Jenar. Tetapi bukan berarti bahwa di dunia ini tak ada seorangpun yang melampaui kesaktianku. Diantaranya kau.”
310
Tiba-tiba orang itu jadi kesal sekali. Karena itu ia membentak, "aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan."
"Ki sanak," jawab Mahesa Jenar dengan tenangnya. Agaknya ia sudah menemukan jalan untuk mendapatkan suatu ketegasan. "Aku mempunyai usul. Kenapa persoalan ini harus diselesaikan dengan sebuah perkelahian? Menurut katamu kau disembunyikan disini oleh seorang Panembahan sakti yang bernama Panembahan Ismaya. Akupun seharusnya berkata demikian pula kepadamu. Karena itu biarlah Panembahan itu yang memilih satu diantara kita, siapakah yang dianggapnya benar-benar Mahesa Jenar."
"Tidak perlu pihak ketiga. Marilah kita selesaikan soal kita sendiri."
Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tersenyum. Jawabnya, "aku makin yakin sekarang bahwa aku tidak perlu berkelahi. Sebab kau sama sekali tidak bermaksud bertempur untuk mempertahankan suatu kebenaran dan keyakinan, tetapi kau ingin bertempur karena nafsu ketamakanmu. Nafsu ingin mempertunjukkan kemenanganmu dan kesaktianmu."
"Omong kosong," potong orang itu.
"Aku menantangmu karena kau telah menamakan dirimu Mahesa Jenar. Bukankah dengan demikian kau meniadakan adaku sebagai Mahesa Jenar yang sebenarnya?."
Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Ternyata karena keyakinan pada dirinya sudah bertambah sempurna sehingga ia tidak lagi bersikap menentang dan tidak lagi membiarkan perasaannya bergolak. Jawabnya, "kau menganggap dirimu Mahesa Jenar ?."
"Aku tidak menganggap demikian," bantah orang itu, "sebab aku memang demikian sebenarnya."
"Kau dapat berkata demikian kepada orang lain, bahkan kepadaku. Kepada Mahesa Jenar murid Ki Ageng Pengging Sepuh, " sahut Mahesa Jenar. "Tetapi dapatkan kau berkata demikian kepada dirimu sendiri. Kepada hatimu ?"
Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah. tetapi ia diam saja.
"Nah ki sanak. Sebenarnya kau tak usah mempersulit dirimu, " sambung Mahesa Jenar. "Kau dapat berbuat sekehendakmu tanpa suatu kesaksianpun disini. Apakah kau menamakan dirimu Mahesa Jenar atau bukan dihadapanku, sesudah kau berhasil membunuhku, akibatnya akan sama saja."
"Aku jadi yakin terhadap suatu kebenaran tentang dirimu," tiba-tiba orang itu berkata. "bahwa otakmu memang tidak jelek."
Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang. Orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu sekali lagi membuat heran dengan kalimat kalimat yang pernah diucapkan gurunya. Sehingga dengan demikian Mahesa Jenar menjadi semakin yakin pula bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Karena itu ia tidak mau memperpanjang keadaan dalam belitan pertanyaan-pertanyaan.
Karena itu segera Mahesa Jenar memperbaiki duduknya menghadap kearah orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar, yang berdiri tegak dihadapannya. Dengan hidmadnya ia membungkuk hormat sambil berkata," tuan, sudah beberapa kali aku mendengar tuan mengucapkan kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh almarhum guruku, ki Ageng Pengging Sepuh. Karena itu aku mengharap agar tuan tidak terlalu lama mengaduk otakku dengan teka-teki yang tuan berikan mengenai diri tuan."
Orang itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya. Tetapi mata itu makin lama semakin menjadi lunak. Dengan sebuah senyuman ia menjawab, "Jadi kau benar-benar percaya bahwa aku bernama Mahesa Jenar? Bukankah kau akui bahwa aku dapat menirukan beberapa kalimat yang pernah diucapkan oleh guruku ki Ageng Pengging Sepuh?."
"Maafkanlah," jawab Mahesa Jenar, "bagaimana aku dapat percaya bahwa diriku dapat dipecah menjadi dua orang. Aku dan tuan. Tetapi bahwa tuan dapat menirukan kalimat-kalimat ki Ageng Pengging Sepuh, aku tidak akan membantah, karena itu aku ingin tuan memecahkan jawaban itu."
Sekali lagi orang itu tersenyum. Lalu perlahan-lahan berjalan mendekap Mahesa Jenar.
"Kalau kau tidak percaya bahwa aku Mahesa Jenar, lau siapakah aku menurut pendapatmu?," katanya.
"Aku tidak tahu," jawab Mahesa Jenar.
"Aku terlalu membiarkan perasaan marahmu menjalari otakmu, sehingga kau tidak dapat lagi melihat lebih saksama. Tetapi sekarang akgaknya kau telah berhasil mengendapkan diri, karena itu dengan gembira aku melihat, bahwa kau tidak lagi mudah dipaksa untuk berkelahi, tanpa tujuan."
"Mahesa Jenar. Tidakkah kau dapat mengingat-ingat lagi, siapakah yang memiliki ilmu Sasra Birawa di dunia ini ?"
Mahesa Jenar seperti terbangun dari mimpi yang membingungkan. Seharusnya sejak semula ia harus sudah mengingat-ingat hal itu. Dengan teliti ia mulai mengenangkan masa lampau. Suatu lingkungan kecil didalam padepokan di Pengging dimana ia bersama kakak seperguruannya menuntut ilmu jaya kawijayan dan kesaktian, sebagai bekal hidupnya kelak. Tetapi bagaimanapun ia mengingat-ingat, namun yang diingatnya hanyalah, didalam padepokan itu, kecuali dirinya dan almarhum Kebo Kenanga tidak ada seorang muridpun lagi.
Akhirnya ia mulai mengingat siapakah yang sering datang ke padepokan itu. Orang-orang lain yang mempunyai hubungan erat dengan gurunya. Tetapi gurunya sangat teliti, sehingga tidak mungkin ada orang lain yang dapat mencuri ilmu sakti tiu tanpa setahunya.
Tiba-tiba Mahesa Jenar tersentak. Ya, orang itu ada orang yang selalu datang ke padepokan itu melihat-lihat gurunya menurunkan ilmu kepadanya.
Karena ingatan itulah maka mata Mahesa Jenar menjadi berkilat-kilat. Sekali lagi ia membungkuk hormat. Katanya, " Tuan, baru sekarang agaknya otakku dapat bekerja dengan baik. Perkenankanlah aku menebak siapakah sebenarnya tuan?."