Nagasasra dan Sabukinten

Pondok GajahSora.Net

Babak Belur Mahesa Aseli dihajar Mahesa Palsu

Gajahsora.Net

 NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

301
LAWAN Mahesa Jenar yang mengaku juga bernama Mahesa Jenar itu ternyata memiliki kekuatan tubuh yang melampaui kekuatan tubuh Mahesa Jenar, sehingga setelah mereka bertempur berputar-putar, akhirnya terasalah bahwa Mahesa Jenar mulai terdesak. Hal ini terasa pula olehnya, sehingga dengan demikian ia menjadi gelisah. Apapun yang dilakukan, segala macam unsur gerak yang pernah dipelajari, tidak dapat menolongnya, sebab orang itupun mampu melakukannya. Bahkan kemudian terasa oleh Mahesa Jenar, bahwa seolah-olah ia telah berjalan mundur beberapa tahun. Kalau beberapa orang sakti dapat menambah ilmu hampir setiap saat, baginya, setelah sekian tahun terpisah dari gurunya, seakan-akan sama sekali tak suatupun yang dicapainya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak segera kehilangan akal. Jiwa kesatriaannya bergelora memenuhi dadanya, sehingga apapun yang terjadi, sama sekali ia tidak gentar.

Beberapa saat kemudian, di langit ujung Timur, terpencarlah warna kemerah-merahan fajar. Perlahan-lahan malam yang kelam mulai berangsur surut. Semburat merah yang mewarnai daun-daun ilalang hijau segera telah menimbulkan kesan tersendiri. Dalam pada itu kedua orang yang bertempur itu masih saja berjuang mati-matian. Di tengah-tengah rumpun-rumpun ilalang itu, terjadilah semacam sawah yang baru dibajak oleh bekas-bekas kaki yang bertempur dengan dahsyatnya.

Tetapi bagaimanapun juga akhirnya Mahesa Jenar harus mengakui keunggulan lawannya, setelah ia berjuang sekuat tenaga. Namun demikian ia sama sekali tidak mau mengorbankan diri. Dalam setiap kemungkinan antara hidup dan mati, akhirnya terpaksalah ia mempergunakan setiap kemungkinan untuk menolong jiwanya, selama itu tidak melanggar kehormatan darah kesatriaannya. Maka karena itulah sesaat kemudian, tampaklah ia mengangkat sebelah kakinya, tangan kirinya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi.

Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar yang mengaku bernama Mahesa Jenar itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu, sebab segera Mahesa Jenar meloncat maju dan melontarkan pukulan Sasra Birawanya yang dahsyat. Ia hanya sempat melihat lawannya itu menyilangkan kedua tangannya, dan sesudah itu, orang itu terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terguling-guling.

Mahesa Jenar, setelah melihat akibat pukulannya, berdiri mematung. Matanya tajam memandangi lawannya yang dijatuhkannya itu. Tetapi sesaat kemudian ia terkejut, ketika ia melihat orang itu tertatih-tatih berdiri. Agaknya pukulannya tidak membinasakan lawannya. Tetapi setelah terkejut, iapun berlega hati, melihat lawannya masih hidup. Sebab bagaimanapun juga, bukanlah maksudnya untuk membunuh hanya karena sekedar ingin membunuh. Kalau ia terpaksa mempergunakan aji Sasra Birawanya, adalah karena ia tidak mau terbunuh. Justru karena itulah, ketika ia melihat orang yang dihantamnya itu masih hidup ia jadi berbesar hati. Juga karena dengan demikian ia akan dapat menanyakan dimana muridnya dan Pudak Wangi disembunyikan.

Tetapi kemudian kembali ia terkejut ketika orang yang dianggapnya sudah tak mampu lagi berbuat sesuatu karena pukulannya, kecuali hanya berdiri itu, membalikkan diri dan kemudian meloncat pergi. Sudah tentu Mahesa Jenar tidak membiarkannya. Kalau orang itu tidak terbunuh oleh pukulannya, ia sudah heran. Apalagi orang itu masih dapat berlari. Alangkah hebatnya daya tahan tubuhnya.

Karena itu, maka segera Mahesa Jenarpun meloncat mengejar orang itu, yang ternyata masih dapat berlari cepat. Maka terjadilah kejar-mengejar diantara batang-batang ilalang yang tumbuh lebat melampaui tubuh manusia. Tetapi pendengaran dan penglihatan Mahesa Jenar cukup tajam.
Apalagi cahaya matahari sudah semakin terang. Maka tampaklah setiap ujung batang-batang ilalang yang tergoyangkan oleh sentuhan tubuh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Pancingan kedalam Goa

Karena orang yang dikejarnya itu agaknya telah terluka, maka semakin lama jarak merekapun semakin pendek pula, sehingga Mahesa Jenar percaya, bahwa ia pasti akan dapat menangkap orang itu. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa, ketika ia tinggal meloncat saja beberapa langkah, orang yang dikejarnya itu tiba-tiba merunduk dan seolah-olah lenyap diantara batu-batu. Itulah lobang goa, tempat Mahesa Jenar menembus keluar.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri termangu-mangu. Namun ia tidak mau kehilangan waktu. Segera ia berjongkok dan mendengarkan setiap desir di dalam goa itu, kalau-kalau lawannya telah memancingnya, dan kemudian membinasakannya pada saat ia merangkak masuk. Tetapi kemudian Mahesa Jenar mendengar suara terbatuk-batuk, tidak di depan mulut goa. Agaknya lawannya telah mengalami luka di dalam dadanya, dan sekaligus ia mengetahui bahwa lawannya tidak pula berada di muka mulut goa itu, sehingga dengan demikian segera ia melontarkan diri masuk ke dalamnya.

Untuk beberapa saat ia membiasakan matanya di dalam gelapnya goa. Dan setelah itu ia perlahan-lahan berjalan sambil memperhatikan setiap suara yang didengarnya. Sekali lagi ia mendengar suara lawannya terbatuk-batuk. Dan karena itulah ia dapat mengenal arahnya.    

302

DENGAN hati-hati Mahesa Jenar menyusur dinding goa mendekati arah suara itu. Dan karena ketajaman telinganya, akhirnya Mahesa Jenar menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya orang itupun bergerak pula semakin lama semakin dalam dan melewati berpuluh-puluh cabang yang membingungkan.

Namun Mahesa Jenar telah bertekad untuk mengikuti orang itu sampai ditangkapnya. Sebab ia yakin bahwa lukanya tidak akan mengijinkan orang itu bergerak leluasa.

Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba Mahesa Jenar tertegun. Ia sampai pada suatu ruangan yang agak lebar dan tidak terlalu gelap. Ketika ia melihat ke atas, tampaklah beberapa lobang-lobang yang tembus. Dari sanalah cahaya pagi jatuh menerangi ruangan itu seperti ruangan-ruangan yang sering dipergunakan bermain-main oleh para cantrik.

Untuk beberapa lama, sekali lagi Mahesa Jenar kebingungan. Sekarang ia sama sekali tidak lagi mendengar suara apapun. Juga suara batuk-batuk orang yang dikejarnya itupun telah lenyap.

Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi marah kembali. Dengan saksama ditelitinya dinding ruangan itu kalau-kalau ada yang mencurigakan. Tetapi selain pintu masuk yang dilewatinya tadi, sama sekali tak diketemukannya lubang yang lain.

Dengan demikian ia menduga bahwa orang yang dicarinya masih berada di dalam ruangan itu pula. Maka sekali lagi Mahesa Jenar meneliti setiap relung ruang itu dengan lebih saksama lagi, sambil tetap mengawasi satu-satunya lobang masuk ke dalam ruang itu.

Dan dugaannya ternyata benar. Ia terkejut sampai terlonjak ketika di belakangnya terdengar suara tertawa yang lunak perlahan.

Cepat-cepat ia memutar diri dan bersiaga. Benarlah bahwa yang berdiri di hadapannya, di samping sebuah batu yang besar, adalah orang yang dicari-carinya.

"Kau tak akan dapat melepaskan diri," kata Mahesa Jenar.

Orang itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah mendekati Mahesa Jenar. Langkahnya tetap, tegap dan cekatan. Karena itu maka Mahesa Jenar terkejut karenanya. Kalau demikian, maka orang itu dapat melenyapkan luka-lukanya hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun demikian Mahesa Jenar masih belum yakin, bahwa orang itu telah terbebas sama sekali dari akibat pukulannya. Maka katanya sekali lagi, "Katakan sekarang, di mana Arya Salaka."

Orang itu berhenti beberapa langkah di hadapannya dalam keremangan. Terdengarlah kembali ia tertawa perlahan. Kemudian jawabnya, 

"Kau telah mencoba menirukan aji Sasra Birawa. Tetapi sayang, jelek sekali."

Mendengar ejekan itu darah Mahesa Jenar menggelegak sampai ke kepala. Ia tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya. Karena itu sekali lagi ia meloncat menyerang dengan sengitnya. Kembali terjadi sebuah pertarungan yang hebat. Dua kekuatan yang tangguh saling berjuang untuk mempertahankan nama masing-masing.

Tetapi beberapa saat kemudian Mahesa Jenar menjadi gelisah kembali. Orang itu sama sekali telah terbebas dari luka-luka akibat pukulan yang luar biasa. Disamping itu kemarahan Mahesa Jenar semakin membakar hatinya. Dan apa yang dilakukannya kemudian adalah mengulangi apa yang pernah dilakukan. Dipusatkannya segala kekuatan batinnya, disilangkannya satu tangannya, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sambil menekuk satu kaki ke depan, ia menggeram hebat siap mengayunkan ajinya Sasra Birawa.

Sesaat sebelum tangannya menghantam lawannya, dadanya terasa berdesir hebat ketika ia dalam sekejap melihat lawannya, yang mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh itu, ternyata juga mengangkat satu kaki, menyilangkan tangan kirinya di muka dada, serta mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Meskipun demikian Mahesa Jenar sudah tidak sempat lagi membuat bermacam-macam pertimbangan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah, dengan garangnya ia meloncat dan menghantam lawannya dengan sepenuh kekuatan dialasi dengan ajinya Sasra Birawa yang dahsyat.

Tiba-tiba pada saat itu pula ia melihat lawannya itupun berbuat demikian pula sehingga terjadilah benturan yang maha dahsyat. Mahesa Jenar merasakan seolah-olah berpuluh-puluh petir meledak  bersama-sama di hadapan wajahnya. Udara yang panas yang jauh lebih panas dari api, terasa memercik membakar seluruh tubuhnya. Setelah itu, pemandangannya menjadi kuning berputar-putar, semakin lama semakin gelap. Akhirnya tanah tempatnya berpijak seolah-olah berguguran jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terhingga. Sesudah itu tak satupun yang diingatnya.

Ia tidak tahu, berapa lama ia pingsan.

Yang mula-mula terasa olehnya adalah tetesan-tetesan air yang membasahi wajahnya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar mencoba membuka matanya. Mula-mula pemandangan di sekitarnya masih tampak hitam melulu. Tetapi lambat laun, tampaklah samar-samar cahaya matahari yang menembus lubang-lubang diatas ruangan itu, semakin lama semakin terang. Sejalan dengan perkembangan kesadarannya.

Kemudian, ketika pikirannya sudah semakin terang, terasalah bahwa seluruh tubuhnya basah kuyup. Agaknya seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkannya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Ketika segala sesuatunya menjadi semakin jelas, maka segera ia berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya serasa dicopoti segala tulang-tulangnya. Karena itu ketika ia mencoba mengangkat kepalanya, kembali ia jatuh terbaring.

Darahnya serasa menguap ketika ia mendengar di sampingnya suara tertawa lunak perlahan. Segera ia mengenal, siapakah orang itu. Namun bagaimanapun juga ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.

303

"KI SANAK..." Terdengar orang itu berkata.

"Jangan mencoba-coba menjadi rangkapan Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Meskipun tiruan itu sudah kau lakukan dengan saksama, namun kalau kebetulan kau bertemu dengan orangnya, seperti sekarang ini, segera akan dapat dikenal kepalsuanmu. Meskipun demikian aku menjadi heran pula bahwa apa yang kau lakukan sudah hampir dapat menyamai apa yang aku lakukan. Dan agaknya kau telah mencoba pula mendalami ilmu Sasra Birawa. Aku tidak tahu dari mana kau pelajari ilmu itu, namun dalam beberapa hal, telah benar-benar mirip dengan Sasra Birawa yang sebenarnya."

Mendengar ucapan-ucapan itu telinga Mahesa Jenar rasanya menjadi terbakar. Ia menggeram beberapa kali, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya dan melihat orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar itu duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas, disampingnya.

Beberapa saat kemudian orang itu kembali berkata, "Aku tidak sabar menunggui orang tidur terlalu lama, karena itu aku menyirammu dengan air. Ternyata kau terbangun karenanya."

Mahesa Jenar ingin berteriak memaki-maki. Namun suaranya tersumbat di kerongkongan. Yang terdengar hanyalah sebuah desis kemarahan. "Bagaimanapun juga, aku hormati ketebalan tekadmu", sambung orang itu, "Dalam keadaan yang demikian kau masih tetap pada pendirianmu. Karena itulah aku belum membunuhmu. Sebab aku ingin mengetahui siapakah orang yang telah berkeras hati mengaku bernama Mahesa Jenar."

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Perlahan-lahan, ia mencoba menjawab, "Jangan kau takut-takuti aku dengan kematian, sebab kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti."

"Bagus...!" Tiba-tiba orang itu meloncat berdiri. "Kau sendiri yang mengatakan. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu sekarang."

Mahesa Jenar bukan seorang penakut. Apapun yang akan terjadi atasnya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian ia menjadi gelisah ketika teringat oleh Arya Salaka. Ia tidak tahu di mana anak itu sekarang berada. Apakah ia masih hidup ataukah sudah mati di dalam relung dan lekuk-lekuk goa yang membingungkan itu. Karena perasaan yang demikian itulah tiba-tiba tanpa disengajanya ia berkata, " Kau bunuh aku atau tidak, itu bukanlah urusanku, tetapi itu adalah urusanmu. Namun demikian katakan kepadaku apakah Arya Salaka masih hidup atau sudah kau bunuh pula?"

Orang itu tertegun sejenak. Tetapi hanya sejenak. Kemudian terdengar ia tertawa. "Jangan kau persulit dirimu, dan jangan kau kotori jalan kematianmu dengan dongengan-dongengan yang kisruh itu. Ataukah barangkali kau mengharap aku mengampuni kau untuk membantuku mencari muridku itu?"

"Cukup!"
tiba-tiba Mahesa Jenar berteriak nyaring. Seluruh sisa kekuatannya telah mendorongnya berbuat demikian karena kemarahan yang tak tertahankan. "Kau mau membunuh, bunuhlah. Jangan membual."

Sekali lagi terdengar suara tertawa. Lunak dan hanya perlahan-lahan. Sesudah itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu melangkah justru menjauhi Mahesa Jenar. Katanya kemudian setelah ia sampai ke mulut ruang itu, "Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang semacam kau. Biarlah alam membunuhmu. Kau tidak akan dapat keluar dari ruangan ini sampai ajalmu tiba."

Setelah itu orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu segera meloncat keluar dan terdengarlah suara berguguran. Beberapa batu besar jatuh tertimbun menutupi lubang ruangan itu. Bersamaan dengan itu, berguguran pulalah rasanya isi dada Mahesa Jenar. Ia ditinggalkan dalam ruangan tertutup dalam keadaan yang demikian. Bukan main. Suatu penghinaan yang tiada taranya. Sebagai seorang laki-laki ia lebih senang hancur di dalam suatu pertempuran daripada dibiarkan mati kelaparan di dalam sebuah goa.

Karena itulah dirasanya seluruh tubuhnya mendidih. Seluruh isi rongga dadanya menggelegak seperti akan meledak. Terasa betapa darahnya mengalir cepat dua kali lipat. Tetapi karena itu pulalah terasa kekuatannya timbul kembali oleh dorongan perasaan yang meluap-luap.

Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar mulai dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian ia telah mampu untuk mengangkat tubuhnya dan duduk tegak.

Matahari yang telah mencapai titik tengah, sinarnya langsung tegak lurus menembus lubang-lubang di atas ruangan itu dan membuat lingkaran-lingkaran di lantai. Udara yang lembab di dalam goa itu rasa-rasanya jadi menguap oleh panas matahari.

Mahesa Jenar kemudian menjadi gelisah karenanya. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia tidak mau membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam goa itu tanpa perlawanan. Maka dengan segenap tenaga yang ada ia pun berdiri dan dengan terhuyung-huyung berjalan sekeliling ruangan itu berpegangan dinding. Dua tiga langkah ia masih terus beristirahat, sebab dadanya masih terasa nyeri, disamping pertanyaan yang selalu memukul-mukul kepalanya. Siapakah gerangan orang yang telah mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh, yang mampu mempergunakan ilmu Sasra Birawa, dan justru lebih hebat dari ilmunya.

Menurut ceritera almarhum gurunya, maka Ki Ageng Pengging Sepuh itu tidak mempunyai murid lain kecuali dirinya dan Ki Ageng Pengging yang bernama Kebo Kenanga, almarhum, putera gurunya sendiri. Tiba-tiba sekarang ia bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu gurunya itu dengan sempurna. Bahkan orang itu telah mengaku bernama Mahesa Jenar dan mempunyai seorang murid yang bernama Arya Salaka. Seolah-olah orang itu ingin menyindir akan ketidakmampuannya sebagai seorang murid dari perguruan Pengging.              

304

KARENA pertanyaan-pertanyaan itu, maka kembali Mahesa Jenar merasa bahwa perkembangannya seolah-olah berhenti setelah ia terpisah dari gurunya. Sejak itu, ia hanya berusaha untuk mengamalkan ilmunya saja, tanpa berusaha untuk menambahnya. Dengan demikian maka ia tidak akan dapat mencapai tingkat seperti gurunya. Apabila hal yang demikian berlaku juga untuk murid-muridnya kelak, maka perguruan Pengging semakin lama akan menjadi semakin surut. Padahal seharusnya setiap murid akhirnya harus melampaui gurunya. Dengan demikian ilmu akan berkembang terus.

Hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi pedih. Pedih sekali. Justru kesadaran itu timbul ketika dirinya sudah terkurung di dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat. Mungkin ia dapat menghantam di dinding-dinding ruangan itu dengan Sasra Birawa dan membuat lubang untuk menemukan jalan keluar, tetapi agaknya sampai ia mati kehabisan tenaga, usahanya mustahil akan berhasil.

Dalam penelitiannya itu, Mahesa Jenar menemukan sebuah mata air kecil di belakang sebuah batu. Segera ia berjongkok, dan membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan panas. Setelah itu terasa tubuhnya menjadi bertambah sehat.

Tetapi perasaannyalah yang tidak berkembang seperti tubuhnya. Perasaannya yang pedih masih saja menyayat. Tetapi tiba-tiba memancarlah suatu tekad. Tekad yang membawanya pada suatu ketetapan hati, bahwa justru dalam keadaannya yang sekarang, ia akan mengisi sisa hidupnya dengan suatu ketekunan, mendalami ilmunya mati-matian. Dalam keadaannya itu tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan yang tegak berdiri pada sebuah relung dinding goa itu, sehingga ia terlonjak berdiri.

Tetapi ketika Mahesa Jenar semakin jelas melihat menembus keremangan relung itu, sadarlah ia bahwa yang berdiri di situ hanyalah sebuah patung batu yang belum sempurna. Meskipun demikian hatinya tertarik pula untuk melihatnya. Siapakah yang sudah membuat patung itu, justru di dalam sebuah ruangan jauh di dalam goa? Akh, mungkin orang aneh yang telah menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Ketika ia telah semakin dekat, makin jelaslah bahwa patung batu itu masih belum siap seluruhnya. Dan ketika ia meraba-rabanya, tampaklah perubahan pada beberapa bagian. Pada bagian tubuhnya ia melihat lumut-lumut liar merayapi hampir seluruh bagian, tetapi di bagian kepalanya tampaklah luka-luka baru dari sebuah pahatan.

Tiba-tiba, ketika ia memandang kepala patung itu, hatinya berdebar-debar. Ia melihat bunga melati terselip di atas kupingnya sebelah kanan. Rambutnya berjuntai sebatang-sebatang sangat jarang, sedang ikat kepalanya hanya dikalungkan di lehernya. Itu adalah ciri-ciri khusus dari gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh, yang semula bergelar Pangeran Handayaningrat.

Dan tiba-tiba, dari wajah patung itu seolah-olah memancar suatu tuntutan darinya kepada Mahesa Jenar, apakah yang dapat dicapainya sepeninggalnya.

Oleh pemandangan yang tak disangka-sangka itu, hati Mahesa Jenar seperti dicengkam oleh suatu keadaan gaib. Tanpa sesadarnya ia berjongkok dan menunduk hormat di hadapan patung itu. Seolah-olah ia merasa berhadapan dengan almarhum gurunya.

Beberapa lama kemudian barulah ia tersadar. Yang berdiri di hadapannya tidak lebih dari sebuah patung. Patung yang mempunyai ciri-ciri khusus seperti gurunya, meskipun pahatan wajahnya tidak sempurna. Namun demikian, Mahesa Jenar merasa, bahwa patung itu dapat menjadi daya pengantar untuk mencapai suatu pemusatan pikiran terhadap gurunya. Sekali lagi Mahesa Jenar merasa berada dalam suatu alam yang gaib.

Lewat patung itu ia mengenang seluruh jasa-jasa gurunya. Seluruh cinta kasih yang pernah dilimpahkan kepadanya. Dan seluruh pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan. Dari huruf pertama sampai huruf terakhir dalam ilmu tata berkelahi, jaya kawijayan dan kasantikan. Ia telah menerima pelajaran pula, bagaimana ia harus merangkai huruf itu menjadi kata-kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

Dengan demikian sebenarnya ia telah mendapat dasar-dasar pendidikan sepenuhnya. Bahkan sampai pada aji Sasra Birawa yang dahsyat itu pun telah dapat dikuasainya. Soalnya kemudian, bagaimana ia dapat mengendapkan ilmunya untuk mendapatkan inti sarinya.

Dalam keadaan yang demikian itulah, hati Mahesa Jenar menyala berkobar-kobar. Tiba-tiba sekali lagi ia dikuasai oleh keadaan yang khusus. Dengan menyebut kebesaran nama Allah, maka tanpa sesadarnya ia mulai menggerakkan tubuhnya. Dimulailah gerakan-gerakan yang pernah dipelajari, dari unsur gerak yang paling sederhana. Satu demi satu. Kemudian unsur-unsur yang semakin sukar. Seolah-olah ia sedang menempuh ujian di hadapan gurunya sendiri.

Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar bergerak semakin lama semakin cepat dan hebat. Orang yang bertempur dengan dirinya, yang menamakan diri Mahesa Jenar itu ternyata telah melengkapi unsur-unsur gerak yang telah hampir dilupakannya. Demikianlah maka Mahesa Jenar tenggelam dalam satu pemusatan pikiran untuk menyempurnakan seluruh ilmunya.

Dalam keadaannya itu Mahesa Jenar lupa pada segala-galanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada waktu, lupa pada orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, bahkan ia lupa pula tentang apa yang dilakukan itu. Demikianlah ia berjuang sebaik-baiknya, mengungkap segala ilmu yang pernah dimiliki.

Tetapi Mahesa Jenar sekarang, bukanlah Mahesa Jenar pada saat ia sedang mulai belajar dari gerakan pertama, kedua dan berturut-turut. Sekarang, kecuali segala macam unsur-unsur gerak yang pernah dipelajari, iapun pernah menempuh pengalaman yang luar biasa, sehingga dengan demikian, tak disengajanya pula, segala macam pengalaman itu menyusup masuk, melengkapi ilmunya sendiri.

Dalam pengembaraannya, ia pernah bertemu dengan tunas-tunas dari perguruan putih dan hitam yang bermacam-macam. Ia pernah bertempur dengan Sarayuda dari cabang Perguruan Pandan Alas yang terkenal dari Klurak, yang justru sebenarnya orang Gunung Kidul, Gajah Sora, anak dan sekaligus murid Ki Ageng Sora Dipayana, Banyubiru.

305

Ia pernah bertempur dengan murid-murid Pasingsingan seorang tokoh golongan hitam yang memiliki bermacam-macam ilmu dari golongan putih, Sima Rodra dari Gunung Tidar, Jaka Soka dari jenis perguruan golongan hitam di Nusakambangan, sepasang Uling dari Rawa Pening yang mempunyai cara bertempur yang aneh dan berpasangan.

Mau tidak mau. semua jenis ilmu gerak itu saling mempengaruhi. Juga bersama-sama dengan muridnya, Arya Salaka, Mahesa Jenar pernah menekuni gerak gerik binatang hutan yang paling lemah, sampai yang paling buas. Bagaimana yang lemah berusaha melepaskan diri dari kekuasaan binatang yang buas dan kuat. Juga pertarungan antara hidup dan mati antara binatang buas yang sama kuat, pertarungan maut antara burung rajawali dengan ular naga yang besar.

Demikianlah Mahesa Jenar yang menjadi seolah olah bergerak dengan sendirinya itu, tanpa setahunya telah mengungkapkan satu jenis ilmu tata berkelahi yang maha dahsyat. Pemusatan pikiran yang luar biasa dengan perantaraan patung disampingnya itu, seolah olah Mahesa Jenar sedang mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan gurunya sendiri.

Matahari yang mula-mula memancar dengan teriknya, semakin lama semakin jauh menjelajah kearah barat. Dan pada saat mega putih berarak arak ke arah selatan, Matahari itu dengan lelahnya menyusup kearah garis cakrawala, meninggalkan warna lembayung yang tersirat dibalik mega-mega mewarnai wajah langit.

Pada saat itulah ruangan yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar itu dicengram oleh kehitaman warna-warna yang lemah lembayung dilangit sama sekali tidak dapat menembus masuk kedalamnya. Apalagi sebentar kemudian malam telah menjadi semakin kelam. Pada saat itulah Mahesa Jenar baru merasa seluruh tubuhnya menjadi lelah. Kecuali keadaan tubuh yang memang belum pulih benar akibat benturan aji Sasra Birawa, juga ia telah mencurahkan tenaga melampaui batas.

Karena itulah, maka Mahesa Jenar menghentikan latihannya. Dengan meraba-raba dinding ia menyelusur kearah mata air didalam ruangan itu dibelakang sebuah batu. Karena kelelahan dan haus maka Mahesa Jenar segera minum sepuas-puasnya. Setelah itu iapun segera kembali kemuka patung yang mempunyai ciri gurunya. Dihadapan patung itulah Mahesa Jenar merebahkan dirinya untuk beristirahat.

Tetapi meskipun demikian, perasaannya yang sudah terikat pada patung itu, seolah-olah mempunyai kewajiban untuk menjaganya.

Maka ketika diluar goa itu binatang malam mulai meraja di padang ilalang dan lapangan rumput, mulailah Mahesa Jenar tenggelam kealam mimpi.

Ia tertidur karena kelelahan...

Di langit bintang menari-nari dengan riangnya diiringi dendang angin yang berhembus lemah. Lubang lubang diatas ruang yang banyakterdapat didalam goa itu karena hembusan angin, menimbulkan bunyi-bunyi yang beraneka warna. Dari nada rendah sampai nada tinggi.

Mahesa Jenar terbangun pada saat matahari melemparkan sinarnya yang pertama. Dari lubang-lubang diatas ruangan itu Mahesa Jenar dapat melihat betapa riangnya langit menerima senyuman Matahari pagi.

Bersamaan dengan itu, terasa seakan akan datanglah waktunya bagi Mahesa Jenar untuk memulai lagi kewajibannya terhadap gurunya. Dengan khidmat ia berjongkok dimuka patung batu itu, dengan perantaraannya mulailah ia memusatkan pikirannya atas semua ajaran almarhum gurunya. Apabila pikirannya telah benar-benar terpusat, serta dalam pendekatan diri setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulailah ia dengan pendalaman ilmu yang pernah diterimanya.

Demikianlah apa yang dilakukan Mahesa Jenar. Tekun melatih diri. Mengulangi dan menghubungkan satu sama lain untuk kemudian mencari intisarinya.

Hari demi hari telah dilampauinya. Bagaimanapun kuat tubuh Mahesa Jenar, namun dalam kerja yang sedemikian keras dan tekun, hanya dengan minum saja, tanpa sebutir makananpun, akhirnya tubuhnya menjadi semakin lemah. Tetapi tidak demikian dengan jiwanya. Perkembangan jiwanya bertentangan dengan perkembangan tubuhnya. Semakin lemah keadaan tubuhnya, jiwanya bertambah membaja. Akhirnya, ketika pada suatu saat tubuhnya telah menjadi lemah benar karena telah berulang kali memperdahsyat aji Sasra Birawanya. Mahesa Jenar tidak lagi dapat berbuat banyak.

Jasmaninya adalah wadag yang terbatas.

Maka yang dilakukan kemudian, adalah dengan tenangnya ia duduk bersila disamping batu itu. Ditutupnya kesembilan lubang tubuhnya, matanya yang redup tertanam pada ujung hidungnya. Seolah olah hilanglah dirinya, meloncat keluar dari tubuhnya yang lemah itu. Kemudian, seolah-olah dirinya yang hidup dialam lain itulah yang dengan dahsyatnya bergerak, dengan gerakan-gerakan yang luar biasa yang tak pernah mampu dilakukan wadagnya. Gerakan-gerakan yang mempunyai watak agak lain dengan gerakan-gerakan yang pernah dilakukan dialam wadag.

Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox