Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 30 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
286
DUA orang yang masih duduk itu menggerutu tak habis-habisnya. Salah seorang darinya berkata, Aku kagumi ketangkasan Kakang Sakayon. Sayang hatinya terlalu kecil.
Mendengar kata-kata itu hati Mahesa Jenar berdesir hebat. Ia ingat dengan jelas bahwa orang yang bernama Sakayon adalah salah seorang dari kepercayaan Sima Rodra di Gunung Tidar. Kalau demikian maka orang-orang yang mengepung bukit itu pasti gerombolan Sima Rodra. Mendapat pikiran itu ia menjadi berdebar-debar.
Cepat ia menghubungkannya dengan peristiwa yang baru saja lampau, dimana Sima Rodra telah terbunuh olehnya di padukuhan Gedangan. Maka pikirannya bekerja dengan cepatnya. Yang dihadapi itu hanyalah anak buah gerombolan yang telah diketahui kekuatannya. Karena itu, apakah tidak lebih baik kalau gerombolan itu segera dihancurkannya sama sekali?
Panembahan Ismaya yang melihat kegelisahan Mahesa Jenar berbisik perlahan-lahan, Apakah yang telah Anakmas ketahui tentang percakapan mereka?
Panembahan... jawab Mahesa Jenar berbisik pula, Mereka adalah gerombolan Sima Rodra dari Gunung Tidar. Aku telah mengenal salah seorang diantara mereka. Dan aku mendapat pikiran untuk menghancurkan mereka sekaligus sekarang juga, kemah demi kemah tanpa mereka ketahui. Sebab benar-benar mereka tidak lebih daripada tikus-tikus yang sangat rakus.
Tiba-tiba Panembahan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya menjadi cemas. Katanya tergagap perlahan-lahan, Jangan anakmas, jangan dipakai kekerasan.
Mendengar kata-kata Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi bingung. Bagaimana mungkin menghadapi gerombolan Sima Rodra itu tanpa kekerasan. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang akan dikatakan. Dan karena Mahesa Jenar berdiam diri, Panembahan Ismaya meneruskan, Anakmas, bukankah dengan demikian akan terjadi pertempuran?
Hampir tidak sadar Mahesa Jenar berkata, Ya Panembahan, pertempuran dan pertumpahan darah.
O ngger..., aku akan mati ketakutan melihat pertempuran. Maksudku semata-mata hanyalah untuk mengetahui apakah maksud mereka mengepung bukit ini. Setelah itu biarlah aku selesaikan kemudian. Dengan mengetahui maksud itu, bukankah aku telah mempunyai ancang-ancang untuk berbicara dengan mereka?
Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Meskipun ia dapat mengerti jalan pikiran Panembahan itu, namun sebenarnya ia sangat keberatan untuk melepaskan kesempatan ini.
Orang-orang dari gerombolan hitam yang dalam keadaan terpisah-pisah seperti itu, akan dengan mudahnya untuk digilas, seperti membunuh cacing. Ia dapat memasuki kemah demi kemah dan membinasakan isinya sebelum mereka sempat membunyikan tanda apapun. Kemudian ia akan menghadapi pimpinan mereka, istri Sima Rodra yang pasti akan dapat dibinasakannya pula.
Tetapi Panembahan Ismaya itu melarangnya untuk berbuat
demikian.
Dalam kebingungan itu terdengar kembali Panembahan Ismaya berbisik, Anakmas,
kita telah berhasil mengetahui maksud kedatangan mereka. Marilah kita kembali
dan mempertimbangkan apa yang baik aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
Hati Mahesa Jenar bergolak hebat. Karena itu ia masih duduk diam tak bergerak.
Kalau Mahesa Jenar tidak dapat mengerti apa yang akan dilakukan, apalagi Arya Salaka. Meskipun ia berdiam diri, namun tubuhnya telah basah oleh keringat dingin. Bahkan terdengar giginya gemeretak menahan hati.
Melihat gelagat itu, maka Panembahan Ismaya menjadi bertambah cemas. Apalagi ketika ia mendengar Arya Salaka berdesis dengan suara yang gemetar.
Cucu Arya Salaka... bisik Panembahan Ismaya, Apakah rencanaku itu tidak dapat cucu mengerti?
Eyang Panembahan... jawab Arya Salaka memaksa diri untuk berkata, Apakah salahnya kalau sekarang juga aku bertindak. Menurut Paman Mahesa Jenar, darma seorang lelaki adalah termasuk menumpas kejahatan. Bukankah saat ini kesempatan itu ada...?
Kau betul cucu, kau betul. Dan pamanmu Mahesa Jenar pun betul pula. Tetapi adakah untuk menumpas kejahatan harus dilakukan dengan membinasakan mereka?
Bapa Panembahan... Mahesa Jenar menyahut, Setiap sisa dari kejahatan akan dapat menjadi benih pada masa yang akan datang.
Kau juga benar Anakmas, kau juga benar, jawab Panembahan Ismaya, nafasnya menjadi semakin memburu. Tetapi membunuh sebatang pohon tidak harus memotong dahan-dahan serta cabang-cabang saja. Yang penting akarnyalah yang harus dibinasakan.
Akan sampai juga saatnya kelak, potong Arya Salaka.
Cucu... sahut Panembahan Ismaya semakin bingung. Tetapi dari mulutnya meluncur kata-kata yang menunjukkan kedalaman tanggapannya atas keadaan yang dihadapinya.
Kalau kau mulai dengan orang-orang yang menurut pamanmu tidak lebih daripada tikus-tikus yang rakus itu, cucu, maka kau tidak akan menemukan rajanya. Atau kau akan diterkamnya tanpa sepengetahuanmu.
Mendengar kata-kata Panembahan tua itu, Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia menjadi seperti orang yang tersadar dari sebuah angan-angan yang dahsyat. Gamblanglah baginya apa yang dikatakan oleh Panembahan Ismaya itu. Ternyata meskipun orang tua itu tidak cukup pengalaman dalam dunia keprajuritan, namun pandangannya yang jauh ternyata sangat bermanfaat.
Tetapi agaknya Arya Salaka sama sekali tidak dapat mengerti pikiran Panembahan Ismaya. Karena itu ia menjawab, Sekarang atau nanti, soalnya sudah jelas. Baik setiap anggota gerombolan itu atau setiap orang yang memegang pimpinan, harus kita binasakan. Apakah bedanya?
Arya... potong Mahesa Jenar dengan tenang, Biarlah
kita urungkan niat kita. Biarlah kita dapat menangkap orang yang kita kehendaki
tanpa korban yang terlalu banyak.
CERITA BERSAMBUNG = 01 desEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
287
MENDENGAR pendapat Mahesa Jenar, Arya Salaka terkejut bukan buatan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gurunya akan menjadi sedemikian lunak menghadapi gerombolan hitam yang memuakkan itu. Karena itu wajahnya jadi merah. Jawabnya, Guru... ijinkanlah aku bertindak atas namaku sendiri. Bukankah mereka telah bekerja sama dengan Paman Lembu Sora untuk mencelakakan ayahku...?
Sekali lagi Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia dapat merasakan perasaan anak itu. Tetapi ia dapat pula merasakan betapa bijaksananya Panembahan Ismaya dengan pendapatnya. Maka dengan penuh kesabaran seorang guru terhadap murid yang dikasihinya, Mahesa Jenar berkata, Arya Salaka, kalau ada orang yang benci kepada golongan hitam, akulah orangnya yang akan berdiri di baris terdepan. Namun demikian, ada beberapa pertimbangan yang harus kita perhatikan.
Paman... potong Arya Salaka, Haruskah kita menunggu agar mereka menjadi bertambah kuat dan bersiaga dahulu...? Ataukah kita menunggu sampai mereka menggantung aku tinggi-tinggi di pohon beringin tua itu...?
O cucu, jangan sebut-sebut peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu, sahut Panembahan Ismaya.
Tetapi hal itu bisa terjadi, Eyang, jawab Arya. Mula-mula ayahkulah yang menjadi korban, kemudian apa yang terjadi atas Paman Sawungrana menambah penjelasan. Dan apakah yang sudah mereka lakukan terhadap orang-orang Banyubiru dan Pamingit?
Arya... potong Mahesa Jenar, Biarlah aku selesaikan penjelasanku dahulu. Kita harus mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama kita harus menghormati Bapa Panembahan sebagai tuan rumah. Kedua, kita tidak mau kehilangan pemimpin mereka. Kalau orang-orang itu telah kita binasakan, maka pimpinan mereka tidak akan menginjakkan kakinya di daerah ini. Dengan demikian pekerjaan kita akan bertambah sulit.
Kalau demikian biarlah kita tinggalkan padepokan ini, supaya kita tidak terikat lagi pada sopan santun. Setelah itu kita bebas untuk bertindak atas orang-orang dari gerombolan hitam itu, jawab Arya.
Sehabis ucapannya itu, tiba-tiba Arya sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu.Melihat hal itu Mahesa Jenar terkejut sekali. Karena itu segera ia mencegahnya.
Arya, apa yang akan kau lakukan? Ingat aku adalah gurumu. Dan aku telah mengasuhmu sampai ketingkatan ini.
Mendengar suara gurunya yang sudah mulai keras itu Arya menjadi tergetar hatinya. Rupa-rupanya gurunya benar-benar mempunyai pendapat yang lain dari pendapatnya terhadap orang-orang dari gerombolan hitam yang tinggal memijat hancur itu.
Dalam pada itu, tiba-tiba lembah di kaki bukit Karang Tumaritis itu tergetar oleh suara tertawa yang tinggi nyaring. Suara itu jelas suara perempuan. Hati mereka yang sedang bersembunyi di dalam semak-semak itu tiba-tiba menjadi bergetaran dan berdebar-debar.
Mahesa Jenar dan Arya Salaka sama sekali tidak melupakan bahwa suara itu adalah suara Istri Sima Rodra dari Gunung Tidar. Suara itu kemudian disahut oleh suatu suara yang tenang berat, meskipun terdengar kurang menyenangkan. Sambil tertawa pendek terdengar laki-laki itu berkata, Seharusnya kau sedikit memelihara kecantikanmu daripada terus-menerus merendam kuku-kukumu itu di dalam racun. Dengan begitu aku tidak akan terlalu ngeri memandangmu.
Sekali lagi terdengar tertawa iblis betina itu, bahkan semakin dekat. Dan ketika sekali lagi terdengar suara laki-laki yang bersamanya, dada Mahesa Jenar bergoncang keras. Suara itu adalah suara berdesis dari Ular Laut Nusakambangan.
Jangan coba merayu aku, katanya, Kecuali kalau kau benar-benar dapat menangkap gadis yang kau sebut-sebut anak bekas suamimu yang terbunuh itu. Dengan demikian kau berdua akan aku ambil sekaligus sebagai isteri-isteriku.
Kau benar-benar serigala, jawab istri Sima Rodra, Tetapi apakah kau tidak takut kepada Pandan Alas?
Itu urusanmu. Kau boleh minta pertolongan ayahmu, Sima Rodra tua dari Lodaya, dan barangkali juga Paman Bugel Kaliki akan bersedia pula membantu.
Kenapa urusanku? tanya Istri Sima Rodra.
Banyak sebabnya, jawab Jaka Soka yang berwajah tampan itu. Pertama,
Sima Rodra adalah ayahmu. Karena itu permintaanmu akan mendapat perhatiannya.
Kedua, Bugel Kaliki adalah sahabat ayahmu itu. Dan ketiga, kau yang minta aku
mengawinimu.
He... potong Istri Sima Rodra terkejut. Siapa bilang aku minta kau mengawini aku?
Lalu apa maksudmu menyeret aku kemari serta segala macam tingkah lakumu yang aneh-aneh itu? tanya Jaka Soka keheran-heranan.
Sekali lagi tertawa nyaring yang mengerikan itu meluncur dari mulut harimau betina liar Gunung Tidar itu. Jawabnya, Soka... kau benar-benar telah berubah menjadi seorang yang alim. Coba katakan kepadaku, pernahkah kau mengawini segenap perempuan yang kau kumpulkan di Nusakambangan? Sekarang kau tak usah berpura-pura. Aku juga tidak. Kita tidak usah mengikat diri dengan cara apapun. Sebab itu hanya akan menertawakan orang dan mengurangi kemerdekaan kita masing-masing.
Gila! gerutu Jaka Soka. Ternyata kau jauh lebih liar
dari dugaanku. Tetapi bagaimanapun juga bentuk hubungan kita, namun syaratku
tetap. Kau harus membawa gadis itu kepadaku. Terserah cara yang akan kau tempuh.
Kau terlalu menyakitkan hatiku, tetapi aku tidak akan marah kepadamu. Jangan
takut, gadis itu akan kutangkap dan akan kujadikan umpan untuk memancingmu.
Lalu suara itu disusul oleh suara tawa dengan nada tinggi yang
sangat menyakitkan telinga, yang semakin lama semakin menjauh dan ternyata
kemudian memasuki kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain.
CERITA BERSAMBUNG = 02 desEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
288
MENDENGAR percakapan itu hati Mahesa Jenar seperti tertusuk sembilu. Ketika ia menoleh kearah Panembahan Ismaya, orang tua itu menggigil seperti orang kedinginan. Terdengarlah suaranya yang lemah gemetar, Ya ampun, ada juga manusia-manusia semacam itu di dunia ini.
Itulah pimpinan mereka, sahut Mahesa Jenar. Adakah Panembahan merasa bahwa orang-orang semacam itu dapat diajak berbicara?
Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia bertanya tentang hal yang lain.
Katanya, Anakmas, pernahkah kau mendengar nama-nama yang disebut-sebut tadi? Pandan Alas, Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki?
Sekali lagi Mahesa Jenar terasa seperti terbangunkan dari sebuah angan-angan yang hebat. Kalau orang-orang itu, Sima Rodra dan Bugel Kaliki, berada di tempat ini pula, maka akibatnya akan hebat sekali. Apakah yang dapat dilakukan terhadap kedua tokoh itu?
Bagaimanapun juga Mahesa Jenar bukan orang yang dengan mudahnya dapat ditelan oleh perasaan saja tanpa pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan, sebagaimana harus dilakukan oleh seorang prajurit.
Bapa Panembahan... jawabnya, Orang-orang itu adalah orang-orang yang dahsyat, yang memiliki kesaktian luar biasa. Mereka seolah-olah mampu berbuat sesuatu diluar kemampuan manusia biasa.
Orang tua itu menjadi semakin cemas mendengar keterangan Mahesa Jenar.
Adakah orang-orang itu di tempat ini pula? sambungnya.
Mahesa Jenar menggelengkan kepala.
Entahlah, jawabnya.
Tetapi sesaat kemudian percakapan mereka terhenti oleh suatu suara, He, kau lihat tadi lurah kita?
Kemudian terdengar jawaban, yang ternyata adalah laki-laki yang sedang menghangatkan tubuh perapian yang hampir padam. Ya, aku lihat Nyi Lurah bersama-sama dengan Ular Laut yang sombong itu masuk ke dalam kemah. Apakah ada suatu keperluan?
Ya! jawab orang yang pertama. Sima Rodra tua ingin menemuinya.
Kata-kata yang diucapkan itu, telah cukup menggetarkan dada Mahesa Jenar. Sadarlah ia sekarang bahwa ia berhadapan dengan satu gerombolan lengkap dari Gunung Tidar yang di belakangnya berdiri orang-orang semacam Sima Rodra tua yang dahsyat itu.
Apalagi ketika laki-laki itu meneruskan, Katakan kepadanya
bahwa ayahnya dan tamunya, si bongkok dari Lembah Gunung Cerme sudah menunggu.
Kemudian sepi kembali. Yang terdengar hanyalah langkah-langkah mereka yang
sesaat kemudian telah lenyap ditelan sepi malam.
Di langit, bintang-bintang masih bermain dengan riangnya. Sekali-sekali selembar awan putih lewat di depan wajah langit yang biru tua, dihanyutkan oleh angin yang berhembus perlahan-lahan. Dingin malam yang dibasahi oleh tetesan embun terasa menyusup sampai ke tulang.
Sesaat Mahesa Jenar terkenang pada pertemuan golongan hitam beberapa tahun yang lampau, ketika ia berlima, dengan Gajah Alit, Paningron, Mantingan dan Wiraraga, terlibat dalam suatu pertempuran melawan Sima Rodra tua itu bersama Pasingsingan. Pada saat itu Sima Rodra dan Pasingsingan bertempur berdua hanya karena mereka bersama-sama ingin membunuh, bukan karena mereka terpaksa menggabungkan kekuatan mereka.
Sekarang, bukit kecil ini telah dikepung rapat oleh sejumlah laskar gerombolan hitam yang terkenal, ditambah lagi dengan kehadiran Sima Rodra dan Bugel Kaliki, disamping istri Sima Rodra muda dan Jaka Soka. Gabungan kekuatan mereka akan merupakan suatu tenaga dahsyat yang tak terbayangkan.
Disamping itu, ia merasa berterima kasih pula kepada Panembahan Ismaya, yang telah melarangnya bertindak, meskipun itu disebabkan oleh ketakutannya melihat kekerasan. Namun dengan demikian tanpa disengaja Panembahan tua itu telah menyelamatkannya beserta muridnya.
Sebentar kemudian kembali terdengar suara Istri Sima Rodra muda yang agaknya telah keluar dari kemahnya. Sakayon... katanya, Kau harus menjaga supaya orang itu tidak dapat lolos.
Baik Nyi Lurah, jawab Sakayon.
Aku akan tinggal di sini, sela suara yang lain, yang ternyata suara Jaka Soka.
Kalau ia akan mencoba menerobos, akulah yang akan membinasakan.
Kau benar, jawab Jaka Soka. Tetapi aku akan membunuhnya beramai-ramai. Bukankah di sini ada Sakayon dan kawan-kawannya...? Setidak-tidaknya aku akan dapat mencegahnya sampai ayahmu datang untuk membinasakannya.
Sekali lagi Harimau betina itu tertawa, sahutnya, Ternyata kau jujur menghadapi lawanmu. Tetapi jangan mimpi ayahku akan membinasakannya.
Kenapa? potong Jaka Soka.
Istri Sima Rodra muda itu tertawa lebih mengerikan lagi. Jawabnya sangat mengejutkan, Aku minta ayah menangkapnya hidup-hidup. Sayang, ia terlalu tampan untuk dibunuh.
Gila kau! bentak Jaka Soka. Dan bersamaan dengan itu dada Mahesa Jenar serasa akan pecah. Tubuhnya menggigil menahan kemuakan hatinya.
Hampir ia kehilangan pengamatan diri, kalau ia tidak mendengar Panembahan tua itu berdesis, Adakah Sima Rodra ayah perempuan itu?
Mahesa Jenar mengangguk, tetapi giginya gemeretak. Sementara itu terdengar suara perempuan itu semakin memuakkan, Jangan cemburu Soka. Aku juga tidak cemburu ketika kau ajukan syarat untuk menangkap gadis anak tiriku itu. Dan jangan kira aku tidak tahu, bahwa aku akan kau jadikan alat saja, dan sesudah itu akan kaulempar jauh-jauh. Tetapi kau tidak dapat melakukan itu. Ayahku akan mencekikmu bersama-sama dengan Pandan Alas. Kecuali kalau itu atas kehendakku.
Gila kau. Pergilah, pergilah ke ayahmu. Aku tidak mempedulikan apa yang akan kau lakukan. Tetapi ingat, sementara kau perlukan aku, syarat itu harus kau penuhi, jawab Jaka Soka.
CERITA BERSAMBUNG = 03 desEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
289
TERDENGAR kembali suara tertawa iblis betina itu, semakin lama semakin jauh dan kemudian hilang di kejauhan.
Pertunjukan yang dahsyat dan memuakkan itu telah berakhir.
Namun Panembahan tua itu masih menggigil, sedang dada Mahesa
Jenar dan Arya Salaka serasa sesak oleh kemarahan dan kemuakan yang meluap-luap.
Anakmas... bisik Panembahan Ismaya, Sungguh mengerikan.
Panembahan... jawab Mahesa Jenar, Aku kira lebih baik Panembahan kembali ke padepokan. Agaknya disini terlalu berbahaya bagi Bapa.
O, ngger, sahut Panembahan itu, Aku tidak dapat berjalan sendiri. Tubuhku tiba-tiba jadi lemas seperti segenap otot bayuku dilolosi. Karena itu sudilah angger berdua menuntunku mendaki bukit kecil ini.
Mahesa Jenar tak dapat menolak permintaan itu. Meskipun ia sebenarnya masih ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang kekuatan laskar Gunung Tidar itu. Karena itu, maka perlahan-lahan mereka menggeser semakin dalam menyusup semak-semak dan batang ilalang, untuk kemudian membantu Panembahan tua itu kembali ke Padepokan diatas bukit.
Tak ada yang mereka percakapkan sepanjang jalan. Angan-angan mereka masing-masing dicengkam oleh kengerian dengan alasan yang berbeda-beda.
Dan karena itu pulalah maka Mahesa Jenar dan Arya Salaka seterusnya sama sekali tak dapat memejamkan mata sekejappun, meskipun mereka menghendaki. Pikiran mereka menjadi kalut tak karuan. Disamping itu, Mahesa Jenar pun harus berpikir pula, bagaimanakah sebaiknya ia menghadapi iblis-iblis yang berkumpul di sekitar bukit kecil itu.
Menilik persiapan mereka, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan melakukan pengepungan itu untuk waktu yang lama. Bagaimanapun juga orang-orang dari Gunung Tidar tidak mau menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang yang tak berdaya menghadapi mereka. Lebih-lebih lagi setelah Mahesa Jenar mendengar percakapan Jaka Soka dengan Janda Sima Rodra.
Tanpa diketahuinya, bulu kuduknya meremang. Ia sama sekali tidak takut menghadapi kemungkinan yang paling berbahaya sekalipun.
Namun terhadap iblis betina itu ia merasa ngeri. Karena itulah dihabiskannya sisa malam itu dengan hati yang berdebar. Pada pagi harinya, sesaat setelah matahari terbit, datanglah Jatirono ke pondok Mahesa Jenar, untuk menyampaikan undangan Panembahan Ismaya. Mahesa Jenar merasa bahwa ada hal yang penting yang akan dibicarakan. Karena itu setelah membersihkan diri, bersama-sama dengan Arya Salaka ia pergi menghadap.
Anakmas... kata Panembahan itu kemudian, Agaknya keadaan sangat gawat bagi Anakmas. Tetapi untung lah bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui dengan pasti bahwa Anakmas masih berada di atas bukit ini.
Aku kira tidak demikian Panembahan, jawab Mahesa Jenar. Persiapan mereka menunjukkan bahwa mereka yakin aku masih berada di sini. Hanya barangkali mereka menganggap bahwa untuk menangkap aku, mereka memerlukan waktu yang panjang. Sebab bukit ini banyak sekali relung likunya yang baik sekali untuk bersembunyi. Tetapi Bapa Panembahan, aku sama sekali tidak akan bersembunyi. Kalau mereka naik ke bukit itu, akau akan menemuinya dan apa yang terjadi terserahlah kepada kekuasaan Yang Maha Adil.
Panembahan Ismaya mengangguk-angguk.
Katanya, Angger memang seorang jantan tiada taranya. Yang tidak sisip dengan gelar yang Anakmas miliki, Rangga Tohjaya. Namun demikian anakmas, setiap usaha dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Juga usaha untuk menyelamatkan diri. Sebab tak ada yang dapat dicapai tanpa suatu usaha apapun.
Ucapan Panembahan tua itu mengena benar di hati Mahesa Jenar. Sebenarnya ia pun sependapat dengan pikiran itu. Bahkan menurut perhitungan, ia pun seharusnya berbuat demikian pula. Tetapi dengan demikian, Panembahan Ismaya akan mengalami akibatnya. Setidak-tidaknya bukit kecil yang telah dipeliharanya dengan baik itu, akan dibongkar oleh rombongan Gunung Tidar yang akan mencarinya.
Panembahan... jawab Mahesa Jenar, Pendapat Bapa adalah benar sama sekali. Tetapi aku tidak mau menyulitkan Panembahan karena kehadiranku di sini. Sebelum aku diketemukan, mereka pasti akan mengaduk Padepokan ini. Bahkan tidak mustahil kalau Panembahan akan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan. Karena itu biarlah mereka menemukan diriku tanpa banyak kesulitan. Karena persoalannya adalah persoalanku, dan sama sekali tidak bersangkut paut dengan Panembahan. Karena aku menghadap kemari itulah sebabnya maka bukit kecil yang tenang dan damai itu mengalami kegoncangan. Karena itu, bahkan aku tidak akan menunggu mereka naik. Akulah yang akan berusaha, kalau mungkin menerobos kepungan mereka.
Sekali lagi Panembahan tua itu memancarkan pandangan kekaguman. Maka katanya, Sekali lagi aku menghormati kejantanan Anakmas. Namun meskipun demikian, berilah aku kesempatan berlaku sebagai tuan rumah yang baik. Aku harap Anakmas tidak menolak permintaanku, supaya aku tidak merasa bersedih. Bukankah aku yang menahan Anakmas supaya tinggal di bukit ini untuk beberapa lama? Nah, kalau demikian aku akan menunjukkan sebuah jalan, sebab menurut pendapatku, setelah aku mendengar keterangan dari Anakmas malam tadi, sulitlah untuk menerobos kepungan mereka. Meskipun aku tahu benar maksud Anakmas, bahwa dengan demikian orang-orang itu tidak lagi akan mendaki bukit ini. Dan Anakmas telah mengatakan pula, bahwa mereka tidak akan tergesa-gesa bertindak.
CERITA BERSAMBUNG = 04 desEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
290
ANAKMAS..., lanjut Panembahan Ismaya, Di lereng sebelah selatan bukit ini ada sebuah goa, Aku tidak tahu, siapakah yang telah membuatnya, atau barangkali hasil perbuatan alam. Goa itu ditakbiri sebuah gerumbul yang cukup besar. Di situ Anakmas dapat menyembunyikan diri dengan aman. Aku yakin bahwa tak seorangpun dapat menemukan mulut goa itu.
Mendengar keterangan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi terharu. Rupa-rupanya ia akan mempertanggungjawabkan segala sesuatu mengenai dirinya, hanya karena Panembahan tua itu telah menahannya untuk tetap tinggal dibukit kecil itu.
Panembahan... jawab Mahesa Jenar, Aku tidak akan dibenarkan oleh perasaanku, seandainya aku berbuat demikian. Dan adakah Panembahan telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi?
Sekali lagi aku minta, potong Panembahan Ismaya, Anakmas jangan membuat aku bersedih. Percayalah bahwa mereka tidak akan berbuat sesuatu atas diriku serta padepokan ini, sebab aku dapat mengingkari kedatangan Anakmas di bukit ini.
Untuk beberapa lama Mahesa Jenar bimbang, sedang Panembahan Ismaya selalu mendesak-desaknya saja.
Panembahan... akhirnya Mahesa Jenar berkata, Memang tidak sepantasnya aku menolak, tetapi bagaimanapun juga, aku ingin supaya aku tidak menyulitkan Bapa Panembahan. Karena itu apabila terjadi kesulitan atas Panembahan Ismaya, maka perkenankanlah aku bertindak atas pertimbanganku sendiri.
Baiklah Anakmas, saratmu aku terima, jawab Panembahan itu.
Setelah itu kemudian Panembahan Ismaya memerintahkan kepada cantrik-cantriknya untuk menyediakan perbekalan. Sebab Mahesa Jenar akan tinggal di dalam goa itu untuk waktu yang tidak tertentu.
Demikianlah pada hari itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka diantar oleh seorang cantrik pergi ke goa di lereng selatan bukit kecil itu.
Setelah menyibakkan sebuah gerumbul yang cukup lebat, tampaklah di hadapan mereka sebuah mulut goa yang kecil. Seseorang hanya dapat memasukinya dengan merangkak.
Di dalam goa itulah kami biasa bermain-main, kata cantrik yang mengantarkan itu.
He...? Mahesa Jenar agak terkejut. Kalian bermain-main di dalam goa ini?
Ya, jawab Cantrik itu, Di dalam goa itu terdapat
sebuah lobang yang tembus keatas. Dari situlah sinar matahari menerangi bagian
dalam goa ini.
Kemanakah lubang goa ini tembus? tanya Mahesa Jenar.
Kami tidak tahu, jawab Cantrik itu, Kami belum pernah menyusurnya jauh ke dalam. Sebab diujung sebelah dalam goa itu gelap sekali.
Setelah itu maka masuklah cantrik itu ke dalam goa sambil membawa beberapa macam bekal. Setelah itu baru Mahesa Jenar dan Arya Salaka merangkak masuk. Memang sebenarnyalah di dalam goa itu, agak ke dalam, tampak sinar jatuh dari lubang di atas.
Lubang itu tidak seberapa besarnya, namun terdapat lebih dari satu lubang. Sehingga dengan demikian, beberapa berkas sinar cukup untuk menerangi sebagian dari ruangan di dalam goa itu.
Goa itu sebenarnya tidaklah seperti kebiasaan goa-goa. Lantainya licin bersih. Dan yang lebih menyenangkan lagi, di dalam goa itu terdapat sebuah bale-bale bambu. Agaknya para cantrik yang sering bermain-main di dalam goa itu telah membuatnya sebuah bale-bale di dalam.
Nah, Tuan... kata cantrik itu kemudian, Sekarang perkenankanlah aku meninggalkan Tuan-tuan. Setiap kali aku akan dapat kemari untuk menengok perbekalan Tuan.
Menurut pesan Panembahan, tempat ini harus menjadi tempat rahasia. Sebab siapa tahu orang-orang yang mengepung bukit ini telah mengirimkan orang untuk memata-matai keadaan di sekitar bukit ini. Kalau aku terlalu sering datang kemari, atau Tuan keluar dari goa ini jangan-jangan orang-orang mereka dapat melihatnya.
Pergilah, jawab Mahesa Jenar, Berilah kami kabar apabila terjadi sesuatu atas padepokan ini, lebih-lebih Bapa Panembahan.
Cantrik itu mengangguk hormat. Pesan Tuan akan kami laksanakan dengan baik, katanya.
Kemudian pergilah ia keluar lewat lubang sempit itu, dan seterusnya menyibakkan daun-daun gerumbul yang menutup lubang goa itu.
Untuk beberapa saat Mahesa Jenar dan Arya Salaka mengamat-amati dinding goa itu. Dan kemudian mereka menemukan suatu ruangan yang agak lebar dengan lubang-lubang pula di atasnya.
Arya... kata Mahesa Jenar, Kita tidak tahu berapa lama kita harus meringkuk di dalam lubang ini. Tetapi aku kira sehari dua hari ini Sima Rodra masih belum akan bertindak.
Karena itu kita mempunyai cukup waktu untuk menyusur goa ini sebelum kita mendapat kabar dari cantrik tadi.
Arya Salaka adalah seorang anak yang ingin mengetahui segalanya. Karena itu segera ia menjawab, Paman, tidakkah kita mencoba melihat setiap segi goa ini?
Marilah, jawab Mahesa Jenar.
Maka segera dengan hati-hati mereka mulai memasuki ke bagian yang lebih dalam lagi. Di beberapa bagian, lubang-lubang yang menembus ke atas masih saja terdapat. Dan sepanjang bagian yang masih mendapat penerangan itu, ternyata terdapat bekas-bekas tempat bermain para cantrik.
Di situ terdapat pula alat-alat memasak dan beberapa perlengkapan lain. Tetapi ketika kemudian mereka sampai ke bagian yang lebih gelap, hilanglah semua bekas-bekas yang menunjukkan bahwa tempat itu pernah didatangi oleh para cantrik.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar dan Arya Salaka menyusuri lubang goa yang semakin lama menjadi semakin sempit dan gelap.