Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 15 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
271
BAGAIMANAPUN besar jiwa kepahlawanan penduduk Gedangan serta kecintaan mereka terhadap kampung halaman mereka, namun mendengar nama itu diucapkan hati mereka menjadi tergoncang. Sima Rodra Gunung Tidar di telinga mereka adalah seolah-olah nama hantu yang siap menerkam nyawa setiap orang yang melawan kehendaknya. Tetapi yang sama sekali tak mereka ketahui apakah salah mereka terhadap hantu-hantu itu, sehingga pedukuhan itu harus menjadi korbannya.
Tuan... kata Wiradapa, Lalu apakah yang mesti kami kerjakan apabila benar-benar yang datang itu Sima Rodra Gunung Tidar?
Manahan menyesal telah menyebut nama itu, sehingga telah menakut-nakuti dan memperkecil hati mereka. Karena itu untuk mengembalikan keberanian laskar Gedangan, Manahan menjawab dengan tertawa kecil, Kakang Wiradapa, bukankah kami sudah bertekad untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dengan tetesan darah? Sedangkan mengenai suami-istri Sima Rodra itu serahkanlah kepadaku serta anakku Bagus Handaka. Mereka adalah kenalan lamaku. Mungkin ia akan berpendirian lain setelah melihat aku di sini.
Untuk beberapa saat mereka tampak ragu-ragu. Tetapi hati mereka kemudian menjadi tegar ketika mereka melihat Manahan melangkah diikuti oleh muridnya, dengan wajah yang tenang, ke arah api yang menyala-nyala di ujung pedukuhan itu.
Kakang Wiradapa... kata Manahan sebelum meninggalkan
halaman. Kepunglah mereka. Hancurkan laskarnya sedapat mungkin. Biarkan
pimpinannya aku layani dengan muridku ini.
Baiklah Tuan, jawab Wiradapa mantap.
Setelah itu dengan tengara kentongan, pasukan itu berpencar
menurut siasat yang telah dipersiapkan. Dengan petunjuk Manahan pula atas
pengalaman yang pernah diperoleh Ki Asem Gede, laskar Gedangan supaya menyerang
dengan senjata jarak jauh. Panah dan api. Mereka supaya menghindari pertempuran
perseorangan. Sebab nilai perseorangan laskar Gedangan tidak akan dapat
mengimbangi nilai perseorangan laskar yang datang dari bukit hantu itu.
Sebentar kemudian terjadilah pertempuran yang dahsyat sekali.
Agaknya cara-cara yang pernah dipakai oleh Ki Asem Gede itu benar-benar
membingungkan laskar Sima Rodra. Karena itulah tiba-tiba terdengar Sima Rodra
mengaum hebat menunjukkan kemarahannya. Setiap dada yang disinggung oleh getaran
suara itu menjadi bergetaran seperti terhantam angin ribut.
Suara yang terlontar dari mulut harimau liar itu benar-benar
dahsyat akibatnya. Laskar Gedangan, yang mula-mula berbesar hati melihat hasil
perjuang-an mereka, tiba-tiba keberaniannya kuncup dan hampir lenyap. Apalagi
ketika melihat seorang laki-laki bertubuh besar kekar di atas kudanya mengamuk
sejadi-jadinya.
Tetapi pada saat mereka sudah hampir kehabisan akal, tiba-tiba muncul di dalam pertempuran, seseorang yang dengan tenangnya menyapa orang bertubuh besar kekar yang sedang mengamuk di atas kudanya itu.
Selamat datang Sima Rodra. Maafkanlah bahwa aku agak
terlambat menyambutmu.
Kesan dari sapa itu adalah luar biasa pula. Sima Rodra
tampaknya terkejut sekali, sehingga ia menjadi tertegun diam seperti patung. Ia
sama sekali tidak mengira bahwa di pedukuhan terpencil itu ditemuinya orang yang
menjadi musuh utamanya. Tidak saja musuh perseorangannya tetapi telah
benar-benar menjadi musuh golongannya.
Melihat kesan wajah Sima Rodra itu, laskar Gedangan menjadi
semakin tergugah semangatnya, disamping semakin besar tanda tanya yang
mengetuk-ngetuk hati mereka. Agaknya orang yang menamakan dirinya Manahan itu
benar-benar orang yang aneh, sehingga terhadap hantu Gunung Tidar itu pun
sikapnya sangat meyakinkan.
Tiba-tiba menggelegarlah suara Sima Rodra, Apa kerjamu
di sini Mahesa Jenar?
Mendengar nama itu disebutkan, terasa agak janggal bagi
Manahan, yang telah membingungkan mereka.
Aku datang di pedukuhan ini sengaja menunggumu setelah beberapa lama kita tidak bertemu, jawab Manahan sambil tertawa pendek.
Sima Rodra terdengar menggeram marah. Jangan campuri urusanku untuk menumpas tikus-tikus yang telah berani membunuh beberapa orangku beberapa waktu yang lalu.
Berdesirlah hati Manahan oleh jawaban itu. Segera ia dapat
menghubungkan kedatangan Sawung Sariti, serangan laskar yang tak dikenal serta
keributan-keributan yang ditimbulkan. Karena itu segera ia menjawab sekaligus
menebak, Sima Rodra, agaknya kau yang telah menjual diri kepada Sawung Sariti
untuk membunuh Kakang Sawungrana?
Kembali Sima Rodra menggeram. Apa pedulimu.....?
Ketahuilah.... sahut Manahan, Akulah yang telah
membunuh beberapa orang yang tak aku ketahui golongannya dalam
keributan-keributan yang timbul. Aku sangka mereka adalah orang-orang Pamingit
atau manapun yang tak kukenal. Dan mereka itu telah ditelan api yang dinyalakan
oleh Sawung Sariti sendiri,
Mendengar keterangan Manahan, mata Sima Rodra Suami Istri
menjadi merah menyala-nyala. Mereka yang belum pernah mengenal wajah itu menjadi
menggigil ketakutan. Bagus Handaka, seorang yang hampir tak mengenal takut,
hatinya menjadi berdebar-debar pula.
Kalau begitu.... terdengar suara Sima Rodra bergetar
hebat, Kepadamulah aku harus menuntut balas.
Memang demikianlah adilnya, jawab Manahan. Karena
itulah aku sudah bersedia melayanimu bersama-sama dengan anak angkatku ini.
Sekali lagi Sima Rodra menggeram hebat. Ia sama sekali tidak mau tersinggung kehormatannya sebagai seorang yang percaya kepada kekuatan diri. Karena itu segera ia berteriak gemuruh.
Hentikan pertempuran. Aku ingin mendapat penyelesaian yang adil dengan Mahesa Jenar.
CERITA BERSAMBUNG = 16 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
272
BAGUS..... sahut Mahesa Jenar. Agaknya kau dapat pula bersikap jantan.
Sesaat kemudian berhentilah pertempuran antara laskar Gedangan melawan laskar dari Bukit Tidar. Segera mereka berkerumun untuk menyaksikan pertunjukan yang jarang terjadi di pedukuhan kecil itu.
Tiba-tiba belum lagi mereka bertempur terdengarlah suara istri
Sima Rodra itu melengking, Kyai.... serahkanlah orang itu kepadaku. Biarlah
aku saja yang menyelesaikannya. Bukankah aku sekarang berbeda dengan dua tiga
tahun yang lalu....?
Mendengar kata-kata itu hati Manahan berdesir, meskipun ia tahu bahwa maksud kata-kata itu untuk menakut-nakutinya. Tetapi tidaklah mustahil bahwa apa yang dikatakan itu mengandung kebenaran. Sebab selama itu, ayahnya, Sima Rodra tua dari Lodaya, pasti tidak tinggal diam. Ilmunya yang mengerikan, Macan Liwung, serta kecekatannya bergerak yang mirip seperti seekor harimau, sangat menakjubkan.
Kemudian terdengarlah Sima Rodra menjawab, Berikanlah
kesempatan pertama kepadaku sebagai suatu kehormatan yang dapat kami berikan
kepadanya yang terakhir.
Manahan benar-benar tersinggung mendengar kata-kata itu.
Jangan berebut dahulu. Kalian akan mendapat giliran masing-masing. Tetapi kalau
kalian masih membiasakan diri bertempur berpasangan, biarlah Bagus Handaka
membantuku, sebab aku merasa pasti bahwa aku tidak akan mampu melawan kalian
berdua.
Merahlah telinga Suami Istri Sima Rodra mendengar jawaban itu. Apalagi yang disebutnya dengan nama Handaka tidak lebih dari seorang anak-anak. Karena itu dengan marahnya Harimau Liar itu menjawab, Baiklah biarlah aku binasakan kau sampai kepada muridmu. Supaya untuk seterusnya kau tidak selalu mengganggu.
Selesai dengan kata-katanya itu, segera suami istri itu meloncat dari kudanya dan dengan gerakan seperti badai mereka menyerang Manahan dan Bagus Handaka. Sima Rodra bertempur melawan Manahan, sedang istrinya dengan marahnya menyerang Bagus Handaka.
Melihat gerakan mereka, Manahan agak terkejut. Memang ternyata mereka telah mendapat banyak kemajuan. Karena itu segera ia mencemaskan muridnya. Dalam kesempatan yang pendek ia berbisik, Handaka, hindari setiap benturan serta sentuhan dengan kuku-kuku harimau betina itu. Sebab kuku itu beracun. Aku hanya percaya kepada kecepatanmu bergerak. Bukan kekuatanmu.
Handaka maklum kepada nasehat gurunya. Segera ia sadar bahwa lawannya memiliki ketinggian ilmu di atasnya. Karena itu ia harus melayani dengan otaknya, tidak dengan tenaganya melulu.
Dan ternyata kemudian setelah mereka bertempur beberapa saat, segera Bagus Handaka merasa betapa angin yang sangat membingungkan melibatnya dari segenap arah. Untunglah bahwa ia banyak menaruh perhatian pada setiap gerak yang dianugerahkan kepada alam oleh Penciptanya, kepada setiap makhluk yang paling lemah sekalipun.
Kali ini Bagus Handaka benar-benar menjadi seekor kelinci yang harus menghindari terkaman serigala ganas, seperti yang pernah diamatinya dengan saksama. Atau seperti seekor kancil yang menyelinapkan hidupnya diantara kaki-kaki harimau yang garang.
Karena itulah maka ia tidak dapat bertempur di tempat yang sempit, Bagus Handaka kemudian berkisar dari tempatnya, menyusup pepohonan dan mempergunakan batang-batang pohon sebagai perisai.
Meskipun demikian, ternyata bahwa ia selalu berhasil menyelamatkan dirinya dari libatan gerakan-gerakan yang dahsyat dari Harimau Betina Gunung Tidar yang garang itu, meskipun ia terpaksa berlari-larian dan hanya sekali-sekali saja menyerang, apabila benar-benar ada kesempatan. Bahkan dengan demikian ia berhasil membuat istri Sima Rodra itu semakin marah dan menjerit-jerit tak habis-habisnya.
Sedangkan Manahan dengan tangguhnya bertempur melawan Sima Rodra. Dalam beberapa saat saja, Manahan benar-benar harus mengakui bahwa ilmu lawannya telah meningkat, sedang selama ini ilmunya sendiri tidak seberapa mengalami penambahan, sebab memang tak ada orang yang menuntunnya lebih lanjut. Hanya karena ketekunan diri saja maka Manahan menjadikan ilmunya lebih masak. Maka pertempuran antara dua orang perkasa itu pun berlangsung dengan dahsyatnya. Sima Rodra menjadi semakin garang, karena hatinya dibebani oleh dendam yang meluap-luap, sedang Manahan dengan penuh tekad serta janji kepada diri sendiri, untuk melenyapkan setiap unsur kejahatan yang merusak sendi-sendi penghidupan.
Kemudian mereka pun tidak dapat bertahan bertempur di titik yang sama.
Perlahan-lahan pertempuran itu berkisar dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain, dengan menandai bekas-bekas yang mengerikan. Pohon-pohon berderakan roboh, serta batu-batu menghambur-hambur simpang-siur di udara. Kaki-kaki mereka telah memecahkan apa saja yang terinjak.
Medan pertempuran itu kemudian menjadi seolah-olah daerah angin prahara yang belit-membelit dan hantam-menghantam, bahkan kadang-kadang dibarengi dengan teriakan yang membahana seperti guntur disusul dengan benturan-benturan dahsyat dari tangan-tangan mereka yang saling menghantam.
Laskar dari kedua belah pihak yang menyaksikan pertempuran itu menjadi terpukau diam. Meskipun mereka pernah pula menyaksikan pertempuran-pertempuran dahsyat, apalagi laskar dari Gunung Tidar, namun kali ini merupakan suatu pertempuran yang benar-benar jarang terjadi.
Berbeda dengan pertempuran itu, Bagus Handaka masih saja bermain kucing-kucingan. Dengan cerdiknya ia memilih tempat-tempat yang gelap dan berpohon-pohon meskipun kadang-kadang ia dikejutkan oleh pukulan yang dahsyat dari Istri Sima Rodra, yang mematahkan pohon-pohon yang dipergunakan sebagai perisai.
CERITA BERSAMBUNG = 17 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
273
KEADAAN itu sebenarnya sangat menggetarkan hati Handaka. Namun adalah suatu keuntungan bahwa baik tubuhnya maupun jiwanya telah tertempa hebat, sehingga bagaimanapun ia tidak kehilangan akal.
Meskipun demikian, disamping melayani lawannya yang tangguh luar biasa, Manahan masih selalu mencemaskan muridnya. Hanya kadang-kadang saja ia sempat melirik Handaka yang berlari-larian di dekatnya, kemudian anak itu menyerang sekali dua kali, kemudian kembali berlindung di balik pohon-pohonan.
Namun bagaimanapun juga akhirnya Manahan terpaksa mengakui bahwa Handaka sama sekali tak akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Karena itu Manahan telah berjuang semakin keras. Ia mengharap dapat segera menyelesaikan pertempuran. Dengan demikian ia akan dapat pula menyelamatkan Bagus Handaka. Tetapi ternyata Sima Rodra sekarang bukan lagi Sima Rodra tiga tahun yang alu. Sima Rodra itu ternyata telah memiliki berbagai macam ilmu yang belum dimilikinya dahulu. Gerakannya menjadi sangat garang, cekatan dan sangat berbahaya, sehingga untuk menandinginya, Manahan sudah harus memeras segenap ilmunya. Karena itu ia menjadi gelisah. Bagaimana jadinya Bagus Handaka kalau ia tidak segera dapat menolongnya.
Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal di luar dugaan. Ketika Bagus Handaka telah benar-benar terdesak, dan tidak mampu untuk berbuat sesuatu, hati Manahan tergoncang hebat. Cepat ia meloncat mundur, menghindar dari lingkaran pertempuran.
Pada saat itu ia melihat tangan istri Sima Rodra itu telah terayun deras sekali, sedang Bagus Handaka yang baru saja kehilangan keseimbangan dan jatuh bergulingan, masih belum sempat meloncat berdiri.
Manahan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meloncat
mendekati. Maka satu-satunya kemungkinan adalah menyelamatkan muridnya dari
jarak jauh.
Untunglah bahwa ia masih sempat menyambar sebuah batu dan dengan sekuat tenaga
batu itu dilemparkan ke arah istri Sima Rodra. Ternyata pertolongannya itu untuk
sementara berhasil. Istri Sima Rodra terpaksa meloncat menghindari batu yang
dengan derasnya menyambar kepalanya.
Saat yang sangat berharga itu ternyata dapat dipergunakan Handaka dengan baiknya. Cepat ia melenting berdiri dan dengan tangkasnya pula tangannya menyambar tombaknya, Kyai Bancak. Pada saat itu Manahan tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Sebab Sima Rodra telah menggeram dengan hebatnya dan menerkamnya sebagai seekor harimau yang kelaparan. Sehingga sesaat kemudian pertempuran telah berulang lagi dengan dahsyatnya.
Demikian juga Bagus Handaka, ia harus sudah bekerja mati-matian melawan istri Sima Rodra itu. Meskipun di tangannya telah tergenggam Tombak Pusaka Banyubiru, namun ia masih banyak mengalami kesulitan. Tetapi sedikit banyak tombak di tangannya itu akan dapat memperpanjang daya perlawanannya.
Tiba-tiba, ketika Bagus Handaka sekali lagi mengalami tekanan
yang hebat, sedang Manahan masih belum sempat untuk menolongnya, datanglah
sebuah bayangan yang seperti melayang memasuki lingkaran pertempuran.
Dengan tangan kirinya ia mendorong Bagus Handaka, sehingga
anak itu jatuh terpelanting. Dan sesudah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun
ia langsung menyerang istri Sima Rodra. Bagus Handaka ketika kemudian telah
dapat meloncat berdiri, memandang orang itu dengan penuh keheranan. Tenaganya
meskipun terasa lunak, namun kuatnya bukan kepalang. Meskipun demikian, dalam
keheranannya itu ia menjadi gembira pula.
Sebab menilik kekuatannya, ia mengharap bahwa orang itu dapat
mengimbangi istri Sima Rodra. Kemudian dengan mulut ternganga ia memperhatikan
pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Kedua-duanya memiliki kecepatan
bergerak yang mengagumkan, sehingga pertempuran itu seolah-olah berubah menjadi
bayang-bayang daun yang bergerak-gerak ditiup angin pusaran.
Manahan dan Sima Rodra suami-istri pun tidak pula kalah
herannya. Mereka sama sekali tidak mengenal siapakah orang yang telah berani
ikut campur dalam pertempuran itu. Namun beberapa saat mereka tidak sempat
memperhatikan lebih saksama lagi, karena masing-masing masih harus berjuang
diantara hidup dan mati. Hanya kemudian terdengar istri Sima Rodra itu berteriak
melengking karena marahnya. He, orang yang tak tahu diri. Siapakah kau yang
berani mencampuri urusan kami?
Namun orang yang perkasa itu sama sekali tidak menjawab.
Bahkan ia mempercepat gerakannya sehingga istri Sima Rodra itu terpaksa bekerja
lebih keras lagi, sejalan dengan memuncaknya kemarahannya. Tetapi agaknya
lawannya pun memiliki ketangkasan yang mengagumkan. Tangannya dengan lemasnya
bergerak menyambar-nyambar seperti ujung ribuan cambuk yang bergerak
bersama-sama, sehingga dengan demikian terasa bahwa serangan orang itu datangnya
dari ribuan arah pula.
Hal yang sedemikian itu dapat dilihat pula oleh Sima Rodra. Ia
kemudian agak mencemaskan istrinya. Maka sekarang ialah yang bekerja mati-matian
untuk segera dapat menundukkan lawannya. Karena itu tandangnya menjadi semakin
garang. Serangannya datang bergulung-gulung seperti ombak yang diguncang oleh
badai. Namun ternyata lawannya tangguh seperti batu karang, yang sama sekali tak
dapat ditundukkan.
Karena itu, maka tiba-tiba Harimau Hitam dari Gunung Tidar itu
tidak sabar lagi. Dengan mengaum hebat, direntangkannya kedua belah tangannya,
serta tubuhnya menggeletar dengan hebatnya. Itulah tandanya bahwa Hantu Gunung
Tidar itu akan mempergunakan Aji Macan Liwung.
Melihat sikap lawannya, Manahan terkejut. Ia pernah melihat sikap yang demikian ketika ia melawan orang berkerudung kulit harimau hitam bersama-sama dengan Gajah Sora. Yang kemudian ternyata bahwa orang itu adalah Sima Rodra tua dari Lodaya. Ia mengenal gerak yang demikian, yang menurut seorang sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten, adalah pemusatan tenaga untuk melontarkan Aji Macan Liwung. Karena itu untuk sesaat hatinya tergetar hebat. Tetapi Manahan tidak sempat berbuat banyak. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, dilihatnya Sima Rodra itu telah meloncat dengan suatu auman yang mengerikan.
CERITA BERSAMBUNG = 18 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
274
UNTUNGLAH bahwa Manahan adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh
yang mumpuni. Ditambah lagi dengan pengalaman yang telah menempa dirinya siang
malam. Karena itu, melihat Sima Rodra menerkamnya dengan ajinya yang sangat
berbahaya, Manahan tetap dapat menguasai dirinya. Dengan cermat ia mempelajari
gerak lawannya untuk dengan tepat menghindarkan dirinya. Ketika kedua tangan
Sima Rodra dengan kuku-kukunya yang mengembang itu melayang ke arahnya, cepat
Manahan menjatuhkan diri dan berguling-guling ke arah yang berlawanan, justru
lewat di bawah kaki Sima Rodra yang melayang di atas satu kakinya, kakinya yang
lain ditekuk ke depan, sebuah tangannya menyilang dada dan yang lain diangkatnya
tinggi-tinggi. Dengan gerak secepat petir menyambar, Manahan meloncat dan
menghantamkan sisi telapak tangannya ke arah dada Sima Rodra yang baru saja
berhasil memutar tubuhnya. Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat.
Sima Rodra yang telah mengenal pula tanda-tanda yang mengerikan itu, segera
mencoba menghimpun kekuatannya untuk melawan. Namun Sasra Birawa adalah suatu
ilmu yang jarang ada tandingnya.
Itulah sebabnya maka tubuh Sima Rodra yang besar kekar itu
terlempar beberapa langkah, dan kemudian seperti sebuah batu terbanting
berguling-guling, dibarengi dengan pekik ngeri yang keluar sekaligus dari mulut
istri Sima Rodra dan orang yang melawannya. Untuk beberapa kejap, orang yang
bertempur melawan Harimau Betina Gunung Tidar itu diam mematung mengawasi tubuh
Sima Rodra yang kemudian terbujur diam tak bergerak. Sedang mata yang
membayangkan kengerian dan ketakutan tersirat di wajah istri Sima Rodra. Agaknya
ia merasa, dengan kekalahan yang dialami oleh suaminya itu, merupakan suatu
titik batas yang tak akan mampu lagi diatasi. Apalagi dengan demikian ia merasa
bahwa ia harus berhadap-hadapan dengan orang yang telah berhasil membinasakan
suaminya itu, di samping orang yang tak dikenalnya. Karena itu, meskipun
dendamnya menggelegak sampai ke lehernya, maka ia lebih baik menghindarkan diri
dari kebinasaan, untuk kelak dapat membalaskan sakit hati serta kematian
suaminya. Maka selagi mereka masih belum sampai menarik perhatian atasnya, lebih
baik ia melenyapkan diri.
Mendapat keputusan itu, secepatnya ia meloncat ke arah kudanya,
dan dalam sekejap melontarkan diri ke punggung kuda itu, untuk seterusnya
menarik kendali kudanya yang kemudian berlari seperti angin. Berbareng dengan
itu mengumandanglah suara Harimau Betina itu berteriak, Tunggulah hari
pembalasan akan datang.
Setelah derap suara kuda yang kemudian disusul oleh para pengawalnya itu lenyap, suasana menjadi hening sepi. Mereka kini ternyata telah berada agak jauh dari ujung desa, dimana pertempuran itu dimulai. Manahan, Bagus Handaka, orang yang takdikenal itu, beserta setiap orang yang berada di situ, berdiri diam seperti batu dengan wajah-wajah yang tegang.
Pandangan mereka berganti-ganti beralih dari Manahan, Bagus Handaka yang masih menggenggam Kyai Bancak, orang yang hanya tampak remang-remang dalam gelap malam, dan Sima Rodra yang terbujur diam, meskipun masih terdengar ia lamat-lamat mengerang menahan sakit dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
Untuk beberapa lama, orang itu mengawasi Sima Rodra pula.
Tetapi kemudian, terjadilah suatu hal yang tak seorang pun menduganya. Dengan
menggeram orang itu dengan dahsyatnya menjadi terkejut sekali. Untunglah bahwa
ia cekatan, sehingga meskipun agak sulit, ia berhasil menghindarkan dirinya.
Tetapi agaknya pemuda itu tidak mau berbicara lagi. Sekali lagi ia menyerang
Manahan, sekali lagi dan sekali lagi berturut-turut.
Mula-mula Manahan yang masih bingung menebak-nebak, hanya
selalu menghindar-hindar saja. Dengan suara bergetar ia mencoba bertanya, Ada
apakah Ki Sanak menyerang aku?
Akibat dari pertanyaan itu mengherankan. Orang yang menyerang
Manahan itu tiba-tiba terloncat selangkah mundur. Meskipun wajahnya tak begitu
jelas dalam gelap malam, namun agaknya orang itu memperhatikan Manahan dengan
saksama. Tetapi kemudian kembali ia mengejutkan tidak saja Manahan, juga
orang-orang yang hadir menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati. Sebab sesaat
kemudian orang itu dengan tiba-tiba kembali meloncat menyerang Manahan dengan
dahsyatnya.
Kembali Manahan dengan penuh pertanyaan mencoba menghindarkan
diri dari serangan-serangan yang sangat berbahaya itu. Sekali dua kali Manahan
masih berhasil meloncat-loncat seperti berpijak di atas batubara. Namun apa yang
dapat dilakukan itu tidaklah lama. Sebab bagaimanapun juga orang itu ternyata
memiliki ilmu yang tinggi pula, sehingga akhirnya Manahanpun menjadi jengkel.
Akhirnya terpaksa Manahan pun mulai membalas serangan demi serangan. Dalam
sekejap terjadilah kembali pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya memiliki
tenaga serta kecepatan gerak yang mengagumkan.
Pertempuran ini pun tidak kalah dahsyatnya dengan pertempuran yang telah terjadi antara Manahan melawan Sim Rodra. Meskipun lawan Manahan ini belum memiliki kedahsyatan tenaga seperti Sima Rodra, namun kelincahannya sangat mengagumkan. Ia memiliki daya serang yang luar biasa serta membingungkan. Dua belah tangannya itu merupakan senjata yang sangat berbahaya.
CERITA BERSAMBUNG = 19 NOVEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
275
KINI, Manahan seolah-olah kini berhadapan dengan seorang yang
memiliki beberapa pasang tangan, yang bergerak bersama-sama menyerangnya.
Itulah sebabnya semakin lama Manahan semakin kehilangan
kesabaran. Ia tidak mau menjadi korban dari suatu masalah yang gelap, yang sama
sekali tak diketahuinya. Maka akhirnya, dengan mengerahkan kekuatannya, Manahan
pun kemudian berjuang dengan hebatnya. Serangannya datang seperti asap yang
bergulung-gulung melibat lawannya. Karena itu beberapa lama kemudian terasa
bahwa Manahan akan dapat menguasai keadaan. Setapak demi setapak tetapi pasti,
ia selalu berhasil mendesaknya.
Tetapi dalam pada itu lawannya pun segera mengerahkan segenap
tenaganya. Gerakannya menjadi semakin lincah dan cepat. Agaknya ia pun menyadari
bahwa lawannya memiliki beberapa kelebihan daripada dirinya. Karena itu ia
bertempur dengan sangat berhati-hati.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, termasuk Bagus
Handaka, tidak habisnya keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak tahu persoalan
apa yang telah terjadi. Mula-mula mereka melihat seseorang membantu Bagus
Handaka melawan istri Sima Rodra sehingga sepasang Harimau Gunung Tidar itu
sudah dapat dikalahkan. Tetapi yang tiba-tiba saja malahan orang yang telah
membantu itu dengan dahsyatnya berganti menyerang.
Namun demikian tak seorangpun berani berbuat sesuatu. Tak
seorangpun yang berani mencoba melerainya. Jangankan para penduduk Gedangan,
sedang Bagus Handaka pun melihat pertempuran itu dengan wajah yang kagum. Pada
saat Manahan bertempur dengan Sima Rodra, ia sama sekali tidak sempat
menyaksikannya, sebab ia sendiri harus selalu berloncat-loncatan menghindari
serangan istri Sima Rodra.
Pada saat ia menyaksikan pertempuran antara orang yang
menolongnya itu melawan istri Sima Rodra yang tak sehebat gurunya, iapun telah
mengaguminya. Apalagi pertempuran itu. Diam-diam ia menjadi semakin kagum
melihat keperkasaan Manahan, namun ia heran juga melihat orang dapat bertempur
selincah lawan gurunya itu.
Tetapi yang tak seorang pun tahu, adalah kesibukan hati
Manahan. Ketika lawannya telah sangat terdesak, dan melawannya dengan segenap
ilmu yang dimilikinya, Manahan menjadi berdebar-debar. Agaknya ia pernah
bertempur dengan seseorang yang memiliki ilmu yang demikian dahsyat serta lincah.
Meskipun demikian sesaat ia masih bertempur sepenuh tenaga. Ia tak mau ditelan
oleh angan-angannya, yang belum mendapat kepastian. Karena itulah ia masih saja
mendesak maju, serta mempersempit setiap kesempatan bergerak dari lawan, yang
bagaimanapun lincahnya, akhirnya merasakan juga ilmunya belum dapat disejajarkan
dengan ilmu yang dimiliki oleh Manahan.
Akhirnya ketika ia sudah tidak mampu lagi melawan dengan
tangannya, tiba-tiba memancarlah sebuah cahaya yang berkilat-kilat. Di tangan
orang itu kemudian tergenggam sehelai pedang yang tipis, yang agak lebih kecil
sedikit dibandingkan dengan pedang biasa.
Melihat pedang itu hati Manahan berdesir. Cepat ia meloncat
mundur, dan dengan dada bergetaran ia akan mencoba untuk menghentikan
pertempuran. Namun belum lagi mulutnya sempat mengucapkan kata-kata, orang itu
telah meloncat menyerang dadanya. Tetapi sekarang Manahan tidak lagi berusaha
untuk melawan, bahkan menghindar pun tidak.
Ketika ia melihat pedang itu, dan kemudian ia melihat ujung
pedang itu selalu bergetar dalam tangan lawannya, ia sudah pasti, siapakah orang
itu. Karena itu betapa menyesalnya, bahwa ia telah benar-benar bertempur, dan
bahkan mungkin sudah menyakitinya pula.
Dalam sesaat itu, ia sudah dapat mengetahui hampir segala
persoalan kenapa tiba-tiba ia diserangnya. Juga ia yakin bahwa lawannya telah
pula mengetahui siapakah sebenarnya dirinya.
Sebaliknya, orang itupun terkejut ketika Manahan sama sekali
tak menghindari mata pedangnya yang sudah hampir merobek dada itu. Kalau semula
ia benar-benar marah dan dendam, namun ketika Manahan sama sekali seolah-olah
pasrah diri, hatinya bergoncang.
Tiba-tiba saja timbullah suatu perasaan, bahwa tidak semestinyalah ia harus melukai orang itu, apalagi setelah lawannya itu pasrah. Lebih-lebih sampai mengambil jiwanya. Karena itu, kemudian dengan gugupnya ia mencoba untuk menarik serangannya.
Tetapi sayang bahwa lontaran tenaga loncatnya sedemikian besar.
Maka yang dapat dilakukannya adalah mengubah arah pedangnya. Meskipun demikian,
karena ujung pedangnya yang setajam pisau pencukur itu sudah hampir melekat
dada, maka terpaksa ujung pedang itu masih menggores lengan Manahan.
Mengalami peristiwa itu, Manahan berdesis kecil sambil
terdorong setapak ke samping oleh gerak naluriahnya. Tetapi setelah itu, kembali
ia tegak seperti patung, tanpa suatu usaha untuk membalas, apalagi membinasakan
lawannya.
Berdesirlah setiap dada, dari mereka yang mengelilingi arena
pertempuran itu. Sedang diantara mereka, dada Handakalah yang paling terguncang.
Tanpa disengajanya ia telah meloncat maju. Tetapi kemudian ia tidak berani
melangkah, sebelum mendapat izin dari gurunya.
Meskipun keinginannya untuk melakukan apapun karena
kemarahannya yang telah memuncak melihat gurunya dilukai, pada saat gurunya
sudah menghentikan perlawanan. Sedangkan ia yakin bahwa kalau saja Manahan
menghendaki, pasti ia berhasil menghindari tusukan pedang itu.
Tetapi lebih dari segala keanehan yang telah terjadi, orang-orang di sekitar arena pertempuran itu seolah-olah benar-benar melihat suatu pertunjukan yang sengaja untuk memusingkan kepala mereka. Sebab setelah itu, tiba-tiba ia melihat orang yang telah melukai Manahan itu pun berdiri pula seperti patung sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun sangat menyesal bahwa Manahan telah terluka.
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox