Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 25 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
251
JAWABAN itu membuat hati Manahan menjadi gembira. Karena itu segera ia mengangguk hormat.
Alangkah besar hati kami berdua atas izin sekaligus tempat
yang disediakan untuk kami berdua. Tetapi hendaknya kehadiran kami janganlah
menambah kesibukan, katanya.
Orang itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Aku memang selalu sibuk, katanya. Jadi kehadiran Ki
Sanak sama sekali tak mempengaruhi kesibukan itu.
Memang sejak semula Manahan sudah mengira bahwa orang itu
pasti seorang yang baik hati serta ramah, ditilik dari sinar matanya yang jernih.
Apalagi setelah Manahan bercakap-cakap sejenak, makin pastilah ia bahwa orang
itu orang yang berbudi.
Marilah Ki Sanak, kata orang itu, Ikutlah ke
pondokku. Dan kalian dapat beristirahat sepuas-puasnya.
Maka kemudian ikutlah Manahan serta Bagus Handaka ke rumah orang yang bertubuh pendek bermata jernih itu. Dan kemudian ketika mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan, tahulah Manahan bahwa orang itu adalah tangan kanan dari lurah mereka, namanya Wiradapa.
Sebagai seorang kepercayaan kepala pedukuhan, rumah Wiradapa tidaklah begitu
jauh dengan rumah lurahnya. Halamannya cukup luas ditumbuhi berbagai macam
pepohonan serta dipagari oleh deretan pohon nyiur yang berpuluh-puluh jumlahnya.
Di pedukuhan yang kecil itu, rumah Wiradapa merupakan rumah yang cukup baik
meskipun tidak begitu besar. Beratap ijuk dan bertulang-tulang kayu.
Di rumah itu pun Manahan mengalami pelayanan yang baik, meskipun bagi Manahan
dan Handaka hanya disediakan ruangan di bagian belakang rumah. Sebab menurut
tangkapan Wiradapa, Manahan tidaklah lebih dari dua ayah-beranak yang pergi
merantau untuk mencari penghidupan yang baik.
Tetapi kemudian sejak Manahan serta Handaka dipersilakan di
ruang yang diperuntukkan bagi mereka, maka mereka tidak lagi bertemu dan
bercakap-cakap dengan Wiradapa sampai malam, karena Wiradapa harus pergi ke
lurahnya.
Manahan dan Handaka yang setelah beberapa lama selalu tidur di
tempat-tempat yang sama sekali tak menentu, dan sekarang mendapat tempat
pembaringan yang selayaknya, segera membaringkan diri sejak gelap mulai turun.
Tempat pembaringan yang tidak lebih dari sebuah bale-bale bambu serta tikar
pandan yang dibentangkan di atas galar. Bagi Manahan serta Handaka, pada saat
itu dirasakan sebagai suatu pembaringan yang sangat baik. Karena itu pula maka
belum lagi malam sampai seperempat bagian, mereka telah tertidur nyenyak.
Tetapi meskipun bagaimana nyenyaknya mereka tidur, namun
telinga Manahan adalah telinga yang terlatih baik. Itulah sebabnya meskipun
suara itu sangat perlahan-lahan tetapi sudah cukup untuk membangunkannya.
Manahan menjadi terkejut ketika mendengar seseorang berkata
perlahan, Di mana mereka tidur...?
Di ruang sebelah belakang, Tuan, jawab yang lain, yang
oleh Manahan suara itu dikenalnya, yaitu suara Wiradapa.
Kemudian terdengarlah beberapa orang melangkah mendekat ke ruang tidurnya. Mendengar langkah-langkah itu, segera Manahan curiga. Karena itu ia pun segera bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi sampai sedemikian ia merasa masih belum perlu untuk membangunkan muridnya yang masih tidur dengan nyenyaknya.
Sampai di muka pintu, terdengarlah langkah-langkah itu berhenti, dan
terdengarlah seseorang berbisik, Kau yakin bahwa orang itu tak berbahaya...?
Tidak, Kakang Lurah, aku yakin bahwa orang itu hanyalah bagian dari
orang-orang yang hidup berpindah-pindah seperti burung yang selalu mencari
tempat dimana ada makanan. Terdengar Wiradapa menjawab.
Aku akan melihatnya.... Terdengar suara lain lagi.
Silakan Tuan, jawab Wiradapa.
Aku akan dapat mengetahui apakah dia orang berbahaya atau
benar-benar orang-orang malas yang kerjanya mondar-mandir dari desa yang satu ke
desa yang lain. Terdengar lagi suara itu. Sebab aku tidak mau ada orang yang
dapat mengganggu usahaku.
Kembali terdengar Wiradapa menjawab, Apa saja yang baik
bagi Tuan.
Kemudian terdengarlah langkah-langkah mereka semakin dekat dan dengan sekali
dorong pintu itu sudah terbuka.
Dengan tangkasnya salah seorang dari mereka meloncat masuk dan tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam sebilah pedang. Dalam sinar pelita yang remang-remang, berkilat-kilatlah cahayanya menyilaukan. Dengan suara yang keras orang itu membentak, He, perantau malang, aku bunuh kau.
Berbareng dengan itu melekatlah ujung pedangnya di dada Manahan yang masih saja
berbaring di bale-bale bambu.
Mendengar orang itu berteriak, Bagus Handaka menjadi terkejut.
Cepat ia dapat menguasai kesadarannya karena latihan-latihan berat yang pernah
dijalani. Tetapi demikian ia akan bergerak, terasalah pergelangannya dipijat
oleh gurunya, yang berbaring di sampingnya. Sehingga dengan demikian ia
mengurungkan niatnya, meskipun ia sama sekali tidak tahu maksudnya. Bahkan
kemudian ia melihat gurunya menggigil ketakutan dan dengan suara gemetar berkata,
Tuan... jangan aku Tuan bunuh. Ampunilah aku yang tidak berdosa.
Untuk beberapa saat beberapa pasang mata memandanginya dengan seksama. Mereka terdiri seorang anak sebaya dengan Bagus Handaka, yang kira-kira baru berumur 16 tahun. Dialah yang dengan geraknya yang lincah mengancam Manahan dengan pedangnya. Kemudian di sampingnya sebelah-menyebelah berdiri dua orang yang lain lagi terdiri Wiradapa dan seorang lagi yang disebutnya Kakang Lurah.
Dialah kepala daerah Pedukuhan Gedangan.
Kemudian terdengarlah anak yang memegang pedang itu berkata dengan nyaring, Menyebutlah nama nenek moyangmu, sebab saat kematianmu telah datang.
CERITA BERSAMBUNG = 26 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
252
HANDAKA tidak tahu siapakah yang telah mengancam gurunya, juga orang-orang yang berdiri di dalam ruangan itu. Ia tidak habis herannya melihat sikap gurunya.
Baginya lebih baik mati dengan tangan terentang daripada mati
seperti seekor cacing yang sama sekali tak berdaya. Bukankah gurunya telah
menuntunnya demikian dalam menghadapi lawan-lawannya ...? Tetapi sekarang
gurunya sendiri bersikap sebagai seorang pengecut. Karena perasaan-perasaan yang
berdesakan itulah Handaka menjadi gemetar. Bukan karena ketakutan, tetapi karena
pergolakan dadanya yang tak tertahan.
Hampir Handaka tak dapat menguasai dirinya ketka sekali lagi ia mendengar Manahan menjawab, Ampun Tuan, ampun.... Apakah dosaku maka Tuan akan membunuhku?
Melihat sikap Manahan itu Wiradapa memandangi wajah anak muda yang memegang
pedang itu dengan sikap meminta untuk membebaskannya. Tetapi anak muda itu
agaknya sama sekali tidak menaruh belas kasihan. Namun kemudian terdengarlah ia
tertawa sambil berseru, Apakah kerjamu berdua di sini?
Manahan nampak gugup mendengar pertanyaan itu. Maka jawabnya gemetar, Aku
tidak apa-apa, Tuan. Sungguh aku tidak apa-apa.
Sekali lagi anak muda itu tertawa menyeringai. Sedang ujung pedangnya masih saja melekat di dada Manahan. Sesaat kemudian terdengarlah ia berkata, Kau datang pada saat yang tidak menguntungkan bagimu.
Setelah itu ia merenung sejenak, dan kemudian melanjutkan. Kenapa kau pilih
desa ini untuk bermalam...?
Aku tidak tahu, jawab Manahan gugup.
Anak muda itu menarik nafas panjang mendengar jawaban Manahan yang ketakutan itu.
Kemudian tangannya yang memegang pedang itu mengendor. Dan dengan nada yang
merendahkan ia berkata, Kalau di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang macam
itu, maka manusia ini tak ada bedanya dengan binatang-binatang melata yang
mengais makanan dari dalam tanah tanpa dapat berbuat apa-apa.
Kemudian ia membentak, He orang-orang malang. Kau harus menggerakkan
tanganmu kalau kau ingin mengisi perutmu. Selama kau berada di sini kau harus
bekerja keras. Aku menjadi muak melihat kau menjual belas kasihan untuk mendapat
makan. Karena itu besok pada saat matahari terbit, kau sudah harus datang ke
rumah bapak lurah untuk menerima pekerjaan yang harus kau lakukan besok.
Sesudah berkata demikian anak muda itu segera menyarungkan pedangnya kembali,
dan sekali lagi dengan pandangan yang menghina ia menggerutu, Seharusnya
orang-orang macam itu wajib dimusnahkan, supaya dunia kita tidak kekurangan
makan.
Setelah itu segera ia pun melangkah pergi, diikuti oleh kedua orang yang
bertubuh kokoh kuat berwajah seram, serta lurah pedukuhan itu. Tinggallah
Wiradapa yang memandangi Manahan dengan perasaan welas. Tetapi ketika ia akan
berkata sesuatu, terdengarlah suara di luar, He Wiradapa, apa yang kau
kerjakan?
Wiradapa mengurungkan niatnya, lalu dengan cepatnya ia melangkah keluar. Sebentar kemudian hilanglah langlah-langkah mereka ditelan oleh bunyi binatang-binatang malam.
Demikian langkah mereka menghilang, melentinglah Bagus Handaka dari tempat
tidurnya, dan dengan kecepatan yang luar biasa ia sudah tegak berdiri di hadapan
gurunya, seolah-olah ia ingin memperlihatkan ketangkasannya. Dengan mata yang
memancarkan kemarahan dan gigi yang gemeretak terdengar ia menggeram, Bapak...
Setelah itu bibirnya sajalah yang gemetar, tetapi tak ada kata-katanya yang
meluncur keluar. Meskipun di dalam dadanya berdesak-desakkan berbagai macam
perasaan yang akan dilahirkan, namun hanya satu kata itulah yang berhasil
diucapkan.
Tetapi ia bertambah bingung dan tidak mengerti ketika
dilihatnya gurunya masih saja berbaring dengan bibir yang tersenyum-senyum. Baru
ketika ia melihat Handaka gemetar di hadapannya, ia berkata Duduklah Handaka.
Tetapi Handaka masih saja tegak seperti patung, suara gurunya itu tidak terdengar oleh telinganya yang seperti mendesing-desing, sehingga Manahan terpaksa mengulangi lagi, Duduklah Handaka.
Dengan perasaan yang dipenuhi oleh teka-teki, Handaka kemudian duduk di samping
gurunya. Namun terasa bahwa dadanya masih bergetar keras.
Tenanglah Handaka. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, sambung Manahan
kemudian.
Tetapi... sahut Handaka tergagap. Tetapi kenapa demikian?
Handaka menjadi semakin bingung ketika gurunya kemudian tertawa panjang,
meskipun perlahan-lahan, supaya tidak menimbulkan suara riuh.
Apa yang demikian...? tanya Manahan sambil tertawa.
Handaka menjadi semakin bingung, meskipun demikian ia menjawab, Kenapa Bapak
tadi menjadi sedemikian takut? Kalau Bapak tidak menahan aku, barangkali aku
sanggup berbuat sesuatu untuk mengusir mereka. Ataupun kalau mereka adalah
orang-orang sakti, bukankah lebih baik binasa daripada mereka hinakan sedemikian?
Bagus, memang sedemikianlah seharusnya, potong Manahan.
Tetapi kenapa aku tidak boleh berbuat demikian? sambung
Handaka yang merasa mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya. Maka
mengalirlah kata-katanya seperti hujan yang dicurahkan dari langit.
Dan kenapa Bapak sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Malahan bapak minta ampun kepada orang yang sama sekali tidak kenal. Bukankah
kami tidak pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Sebab kami belum pernah
bertemu sebelumnya, dan...
Sudahlah Handaka, potong Manahan. Tenanglah, dan
dengarkanlah kata-kataku seterusnya.
CERITA BERSAMBUNG = 27 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
253
HANDAKA menjadi terdiam. Ia mencoba untuk mendengarkan
kata-kata gurunya dengan baik.
Handaka... kata Manahan kemudian.
Aku percaya bahwa apa yang kau katakan itu dapat kau lakukan. Memang harusnya kita berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Pertimbangan pikiran yang kadang-kadang bertentangan dengan perasaan. Sebagai seorang laki-laki yang berhati jantan, seharusnya kita lawan setiap serangan dengan dada tengadah. Apalagi penghinaan. Namun demikian ada kalanya keadaan menuntut tanggapan yang lain atas penghinaan yang kita terima itu. Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka aku tidak melawan sama sekali ketika anak muda itu mengancamku dengan pedangnya.
Tetapi ia tidak sekadar mengancam, sahut Bagus Handaka.
Bagaimana kalau pedang itu benar-benar ditusukkan kepada Bapak?
"Bukankah ia tidak berbuat demikian? jawab Manahan sambil tersenyum.
Dan hal itu aku ketahui dengan pasti. Ia hanya akan
menggertak untuk mengetahui apakah aku memiliki kemampuan untuk melawan atau
tidak. Ia hanya ingin mengetahui apakah kita memiliki ilmu tataperkelahian atau
tidak. Sekarang ternyata bahwa ia telah mendapat kesan bahwa kita adalah
orang-orang yang malas, yang merantau dari satu desa ke lain desa untuk sekadar
mendapat makan. Bukankah dengan demikian kita mendapat keuntungan?
Setelah diam sejenak, Manahan kemudian meneruskan, Handaka... sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang mereka lakukan di sini, tanpa kecurigaan apapun.
Mendengar penjelasan itu Handaka menundukkan kepalanya. Ia menjadi malu kepada
dirinya sendiri atas ketergesa-gesaannya. Apalagi ia telah telanjur seolah-olah
mengajari gurunya. Ternyata apa yang dilakukan gurunya adalah suatu cara untuk
maksud-maksud tertentu.
Sudahkah kau jelas Handaka? tanya Manahan.
Handaka mengangguk perlahan. Sadarlah ia sekarang, betapa banyak persoalan yang sama sekali tidak dipikirkannya, yang ternyata perlu untuk diketahuinya. Ternyata bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan dan kekerasan, tetapi dapat diambil cara yang lain. Dengan demikian ternyata bahwa pandangan gurunya sangat jauh mendahuluinya.
Nah, Handaka... marilah kita tidur kembali. Hari masih malam. Tutuplah pintu
itu, ajak Manahan sambil membaringkan dirinya kembali.
Perlahan-lahan Handaka pun bangkit menutup pintu, dan kemudian
merebahkan dirinya di samping Manahan. Pikirannya sibuk menduga-duga siapakah
orang-orang yang telah datang menjenguk nya tadi. Dalam remang-remang cahaya
pelita ia tidak dapat memandang wajah mereka dengan jelas.
Handaka... kata Manahan pelan, Mulai besok kita akan mendapat pekerjaan baru. Aku tidak tahu apakah kira-kira yang harus kita kerjakan. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan mengetahui siapakah mereka dan apakah maksud kedatangan mereka kemari.
Tetapi alangkah sombongnya anak muda itu, Bapak, gerutu Handaka.
Manahan tertawa pendek, lalu jawabnya, Bukankah itu
persoalan biasa? Anak-anak sebaya dengan kau memang sedang dalam taraf
pergolakan. Mereka senang menunjukkan ketangkasan serta kelebihannya.
Handaka tidak menjawab lagi. Ia merasa bahwa sebagian jawaban
gurunya ditujukan kepadanya pula. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan
meneruskan, Karena itu, jiwa yang bergolak itu harus mendapat saluran yang
sebaik-baiknya. Untuk itu perlu kesadaran. Kesadaran akan keadaan diri sendiri
serta keadaan yang melingkupinya.
Seperti biasa, Handaka selalu mendengarkan nasihat gurunya baik-baik. Ia
berjanji dalam hati bahwa ia akan berusaha untuk mentaatinya sejauh-jauh mungkin.
Setelah itu Manahan tidak berkata-kata lagi. Kantuknya telah mulai menyerangnya
kembali. Dan sesaat kemudian ia pun telah tertidur pula. Demikian pula Bagus
Handaka. Ketika ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, kesadarannya pun mulai
tenggelam. Dan ia pun tertidur kembali dengan penuh angan-angan di kepala.
Pagi-pagi benar Manahan telah bangun. Segera Handaka
dibangunkannya pula. Sebab pada saat matahari terbit mereka harus sudah sampai
di halaman kalurahan untuk menerima tugas-tugas yang akan diberikan oleh anak
muda yang datang semalam.
Ketika mereka keluar dari ruang itu mereka melihat Wiradapa
sudah berdiri di pagar halaman. Agaknya ia pun baru bangun. Maka ketika ia
melihat Manahan mendekati, ia pun berkata mengingatkan, Ki Sanak, bukankah
kau diwajibkan datang ke kalurahan pagi ini?
Manahan mengangguk hormat sambil menjawab, Benar Tuan, dan
aku akan segera pergi.
Baik Ki Sanak, bersiap-siaplah. Nanti kita pergi bersama.
Sekarang mandilah, aku pun akan membersihkan diri pula, kata Wiradapa sambil
melangkah pergi.
Manahan dan Handaka pun segera pergi ke sumur di belakang
rumah untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka menghangatkan diri dengan air
panas dan gula kelapa yang sudah disediakan untuk mereka. Sementara itu Manahan
selalu menasihati Handaka untuk tidak bertindak tergesa-gesa dalam segala hal.
Ia harus menyesuaikan diri dengan kedudukannya sebagai seorang yang dianggap tak
berdaya. Hanya apabila jiwanya benar-benar terancam, barulah boleh bertindak
untuk melindungi dirinya.
Beberapa saat kemudian Wiradapa pun telah siap. Bertiga mereka berjalan
bersama-sama ke kalurahan.
CERITA BERSAMBUNG = 28 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
254
KETIKA mereka sampai ke halaman kalurahan, ternyata di pendapa
telah banyak orang. Dari pakaian mereka segera dapat diketahui bahwa beberapa
orang diantaranya bukanlah orang dari padukuhan itu. Orang-orang asing itu
berpakaian lebih baik dan lengkap daripada orang pedukuhan itu sendiri, serta
pada umumnya di pinggang mereka terselip sebilah keris atau senjata-senjata yang
lain.
Melihat Wiradapa datang, segera mereka mempersilahkannya. Dan
lurah mereka sendiri memanggilnya untuk duduk di sampingnya. Sedang Manahan dan
Handaka, mereka suruh duduk di lantai di tangga pendapa itu. Tampaklah di wajah
Handaka perasaan tidak senang, namun Manahan sendiri, wajahnya sama sekali tidak
berkesan apa-apa.
Sebentar kemudian muncullah dari ruang dalam seorang pemuda
sebaya dengan Bagus Handaka. Wajahnya memancar cerah dan pakaiannya pun lebih
baik dari pakaian mereka semua yang hadir di pendapa itu. Di sampingnya sebelah
menyebelah, berdirilah orang-orang yang bertubuh gagah tegap dengan
wajah-wajahnya yang seram. Mereka itulah yang tadi malam datang melihat Manahan
di tempatnya menginap.
Pada saat itu, sinar matahari yang baru saja naik, mulai
menembus dedaunan dan jatuh di tanah-tanah lembab. Embun malam yang melekat di
rerumputan perlahan-lahan mulai mengering menimbulkan asap putih yang melapisi
cahaya pagi. Sedangkan tetesan-tetesan embun yang tersangkut di dedaunan, tampak
berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang masih kemerah-merahan, seperti
butiran-butiran permata yang cemerlang.
Dengan semakin cerahnya cahaya matahari, semakin jelas pulalah wajah-wajah yang berada di dalam pendapa kalurahan. Mulai dari wajah yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu Wiradapa, sampai wajah lurah pedukuhan itu. Juga wajah orang-orang asing itu satu demi satu mulai dapat dikenal.
Manahan dan Bagus Handaka yang duduk agak jauh dari mereka, mulai memperhatikan
wajah-wajah itu pula. Satu demi satu. Namun Manahan tak dapat mengenal seorang
pun dari mereka. Mereka bagi Manahan benar-benar orang asing yang belum pernah
dilihat sebelumnya.
Karena itu Manahan sama sekali tidak lagi menaruh banyak
perhatian, kecuali menanti pekerjaan apakah yang akan diberikan kepadanya, dan
seterusnya menyelidiki apakah yang mereka kerjakan di situ. “Mudah-mudahan
mereka tidak berbuat keributan,” pikirnya.
Lalu setelah itu mulailah perhatiannya beredar ke sudut-sudut
halaman rumah kepala pedukuhan itu. Sejak dari pagar batu yang mengelilingi
setinggi orang, sampai pada pohon-pohon liar yang tumbuh tidak begitu teratur
bertebaran di sana-sini.
Tetapi tiba-tiba Manahan terkejut karena gemeretak gigi
Handaka. Ketika ia menoleh, dilihatnya wajah Handaka yang merah padam, sedang
nafasnya mengalir cepat. Manahan menjadi agak terkejut. Sadarlah ia bahwa pasti
ada sesuatu di hati anak itu. Untunglah bahwa Manahan cepat dapat menggamit
Bagus Handaka yang hampir saja melompat berdiri.
“Handaka...” bisik Manahan, “Ada
apa?”
Mata Bagus Handaka menjadi merah menyala. Tubuhnya gemetar karena menahan diri.
“Bapak, biarkan aku kali ini membuat perhitungan,” desisnya.
Manahan menjadi keheran-heranan.
“Kau kenapa Handaka?” tanya Manahan.
“Aku tidak mau melepaskan anak itu pergi,” jawabnya.
Manahan menjadi semakin heran. Karena itu ia segera berusaha menenangkan hati
Bagus Handaka.
Dengan perlahan-lahan ia berkata, “Tenanglah Handaka,
jangan kau biarkan perasaanmu meluap-luap. Ada apakah sebenarnya dengan anak itu?”
“Bapak, belumkah Bapak kenal dia?”
tanya Handaka.
Manahan menggelengkan kepalanya.
“Semalam aku agak kurang dapat melihat wajah anak muda itu.
Juga barangkali setelah tiga tahun aku tidak bertemu, maka baru setelah aku
mengingat-ingat agak lama, aku kenal ia kembali,”
sambung Bagus Handaka.
“Siapakah dia?” desak Manahan
ingin tahu.
“Sawung Sariti, putra Paman Lembu Sora,” jawab Handaka.
Berdesirlah dada Manahan mendengar jawaban itu. Memang sebelumnya ia belum
pernah melihat anak itu. Tetapi bagaimanapun, Manahan tidak ingin maksudnya
gagal.
Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak itu adalah anak Lembu
Sora, keinginannya untuk mengetahui maksud kedatangannya di pedukuhan itu
semakin mendesak. Maka itu segera ia berkata, “Bagus Handaka, cobalah kuasai
perasaanmu. Dengan bertindak tergesa-gesa barangkali, tidak banyak keuntungannya."
"Sudah aku katakan bahwa aku ingin mengetahui apakah
kedatangannya kemari. Agaknya ia sudah tidak mengenal kau kembali setelah kau
menjadi anak sawah dan anak laut. Barangkali kulitmu telah hitam terbakar
matahari dan tersiram ombak lautan. Hal itu adalah suatu keuntungan bagimu
sehingga usaha kita tidak lekas dapat diketahui. Dengan mengetahui lebih banyak
tentang Sawung Sariti itu, bukankah jalanmu menjadi semakin licin...?”
CERITA BERSAMBUNG = 29 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
255
BAGUS Handaka menekan giginya kuat-kuat. Ia sedang berusaha
untuk menenangkan dirinya. Seperti biasa ia tidak pernah berani melanggar
perintah dan nasehat gurunya, bagaimanapun nasehat atau perintah itu
bertentangan dengan kehendaknya.
Handaka... sambung Manahan, Barangkali permintaanku ini mengecewakan engkau, tetapi dengan sangat aku harapkan bahwa kau dapat memenuhinya.
Handaka menundukkan kepalanya. Dengan penuh ketaatan ia menjawab, Baiklah
Bapak, aku selalu berusaha untuk dapat memenuhi nasehat Bapak.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Sambil tersenyum ia berkata pula, Nah, sekarang nikmatilah permainan ini. Ingat, kita adalah perantau yang tak berharga. Dua orang ayah-beranak yang malas, yang pergi dari satu tempat, ke lain tempat untuk menuntut belas kasihan orang.
Handaka menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab. Terkilaslah di dalam
otaknya permainan-permainan aneh yang pernah dilakukan oleh gurunya, yang kadang
kadang sangat membingungkannya. Kemudian teringat pulalah keanehan orang yang
tak dikenal, yang bahkan gurunya pun tak mengenalnya, yang mengajarkannya dengan
cara yang sama sekali tak diduga-duganya. Enam malam berturut-turut menyerangnya
dengan cara yang berbeda-beda menurut urutan yang teratur.
Apakah setiap orang sakti itu mempunyai cara-cara yang
tidak menurut kebiasaan orang-orang lumrah...? pikirnya.
Tetapi ia tidak menanyakan hal itu kepada gurunya.
Sementara itu terjadi pulalah berbagai pembicaraan diantara orang-orang yang berada di pendapa. Pembicaraan mereka mula-mula berkisar pada persoalan-persoalan yang berarti. Tentang sawah, air dan tentang kebiasaan-kebiasaan penduduk pedukuhan itu. Diantara mereka terdengarlah seorang yang tampaknya berasal dari Pamingit, yang bersama-sama dengan Sawung Sariti memberikan beberapa petunjuk mengenai cara-cara mengolah sawah.
Tiba-tiba kemudian terdengarlah anak muda yang ternyata adalah Sawung Sariti itu
berkata nyaring, He, Paman Lurah, siapakah dua orang yang duduk di sana itu?
Mendengar sapa itu, semua mata kemudian tertuju kepada Manahan
dan Bagus Handaka, yang kemudian kepalanya menjadi semakin tunduk. Dadanya
terasa bergelora hebat, namun ia sama sekali tidak berani melanggar pesan
gurunya.
Sesaat kemudian terdengarlah Wiradapa menjawab, Mereka adalah Manahan dan
Bagus Handaka, yang semalam bermalam di rumahku, Tuan.
O... sahut Sawung Sariti. Untuk apa mereka datang kemari?
Bukankah Tuan yang memerintahkannya? jawab Wiradapa
pula.
Terdengarlah Sawung Sariti tertawa. Suaranya terdengar melengking tinggi.
Benar Paman, memang aku yang menyuruhnya kemari. Aku sama
sekali tidak senang melihat orang bermalas-malas seperti kedua orang itu.
Mendengar percakapan itu dada Bagus Handaka serasa akan pecah
terdesak oleh gelora perasaannya. Ia belum pernah mengalami tanggapan yang
sangat menyakitkan hati seperti itu. Ia menjalani semua pahit getir penghidupan
dengan senang hati, tetapi tidak untuk direndahkan sedemikian.
Namun dengan tabah ia menelan segala kepahitan itu, sebagai suatu kewajiban.
Karena itu mukanya menjadi merah pengab. Dadanya seolah-olah berdentang dentang oleh pukulan detak jantungnya. Manahan melihat keadaan Bagus Handaka itu dengan penuh pengertian. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada anak itu, namun ia harus mengajarinya menahan diri.
Maka dengan lembut ia berbisik, Di dalam perjalanan hidupmu kelak Handaka, banyaklah tekanan-tekanan batin yang lebih dahsyat daripada permainan ini. Karena itu anggaplah kali ini sebagai latihanmu yang masih terlalu ringan.
Kata-kata Manahan itu ternyata besar pengaruhnya. Memang latihan selamanya
terasa hebat. Karena itu ia menjadi agak tenang dan menerapkan dirinya dalam
suatu keadaan latihan.
Paman Lurah... kembali terdengar suara Sawung Sariti,
Pekerjaan apakah yang dapat diberikan kepada orang-orang malas itu?
Lurah Gedangan yang sama sekali tidak mempunyai rencana apapun menjadi agak bingung, maka jawabnya, Terserahlah Tuan, sebab aku tidak memerlukan mereka berdua.
Kembali terdengar Sawung Sariti tertawa nyaring. Tetapi kemudian tampak wajahnya
berkerut. Agaknya ia teringat sesuatu yang sangat penting. Tiba-tiba ia berdiri
dan mendekati salah seorang pengiringnya. Untuk beberapa saat mereka saling
berbisik-bisik. Setelah itu kemudian dengan tersenyum-senyum Sawung Sariti
berkata, He orang-orang malas, siapakah namamu?
Manahan memutar duduknya, dan sambil membungkuk hormat ia
menjawab, Namaku Manahan, Tuan... dan ini anakku bernama Handaka.
Nama-nama yang bagus, sahutnya, kemudian ia meneruskan,
Apakah yang dapat kau kerjakan?
Manahan mengangkat mukanya. Apa saja yang Tuan perintahkan, aku akan mencoba melakukannya.
Sawung Sariti mengangguk-anggukkan kepalanya.
Besok aku mempunyai pekerjaan penting untukmu berdua.
Sekarang belum. Tetapi ingat, jangan coba-coba meninggalkan pedukuhan ini. Sebab
menurut pikiranku tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali kalian
berdua. Kalau kalian mencoba dengan diam-diam pergi dari pedukuhan ini, maka
pasti orang-orangku akan menemukan kalian dan memenggal leher kalian. Mengerti...?
Manahan memandangi wajah anak muda itu dengan penuh pertanyaan.
Dengan nada bertanya-tanya ia menjawab, Pekerjaan apakah yang akan Tuan
berikan itu. Dan adakah aku mampu melaksanakan?
Kau pasti dapat melakukan, jawabnya bersungguh-sungguh lalu ia meneruskan,
Karena kalian akan melakukan pekerjaan yang penting itu,
maka sekarang kalian boleh beristirahat, tidur untuk sehari penuh. Dan jangan
takut kelaparan untuk sehari ini. Paman Wiradapa akan memberimu makan
sebanyak-banyaknya.
Mimbar Bambang
Seputro
Updated 08/07/2000
Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox
updated 6 June 2000