Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 20 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
246
TIDAK, Bapak.... Aku sama sekali tidak berusaha untuk
menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk menunjukkan hasil
pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada saat-saat terakhir.
Diam-diam Manahan memuji di dalam hati. Benar-benar anak ini
berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan menjadi semakin terharu. Namun
demikian ia berusaha agar wajahnya sama sekali tidak membayangkan perasaannya.
Handaka... kata Manahan kemudian, Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.
Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat
dengan gurunya.
Handaka.... Manahan melanjutkan, Mengucapkan syukur
atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut. Meskipun barangkali
untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa sakit-sakit, namun setelah itu kau
akan berbangga karenanya.
Apakah yang dapat aku banggakan Bapak? tanya Handaka.
Manahan tersenyum, lalu jawabnya, Aku telah mencoba untuk memancingmu dalam
suatu perkelahian. Apapun alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya.
Sedang apa yang kau lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku
berikan.
Bapak... potong Handaka, Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah
belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.
Kembali Manahan tersenyum.
Meskipun andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki
sekarang, kemudian aku pun akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau
capai selama lima hari akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu
berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan yang
biasa.
Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga
kemudian Manahan berkata pula, Handaka..., menurut dugaanku orang yang datang
enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.
Orang yang sama? tanya Handaka keheran-heranan.
Ya, jawab Manahan. Orang itu hanya mengubah mukanya
sedikit dengan menggores-goreskan warna-warna hitam dan kadang-kadang memasang
kumis dan janggut palsu.
Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak,
potong Handaka.
Sekali lagi Manahan tersenyum.
Itulah sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar,
meskipun waktunya dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian
hanyalah orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.
Handaka menjadi termenung karenanya.
Jadi apakah maksudnya menyerangku...? Dan kenapa
dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk sebuah pertunjukan
pembunuhan...? tanya Handaka.
Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut-nakutimu dengan cara demikian, jawab Manahan.
Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam. Mengertilah ia sekarang bahwa orang
yang datang setiap malam itu sama sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya
itu pula.
Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu? tanya Handaka kemudian.
Manahan menggelengkan kepalanya.
Aku tidak tahu. Meskipun aku telah berusaha mengenal
gerak-geraknya sebaik-baiknya namun aku tetap tidak dapat mengatakan siapakah
dia. Apalagi apa yang diberikan kepadamu selama ini ternyata adalah urut-urutan
pelajaran dari ilmuku sendiri yang akan aku berikan pula kepadamu.
Sekarang semuanya menjadi agak jelas bagi Handaka. Ternyata
orang itu datang kepadanya dengan maksud baik. Menuntunnya untuk berlatih lebih
keras. Dan tahulah ia sekarang kenapa pada malam-malam pertama, kedua dan ketiga
orang itu seolah-olah hanya memiliki unsur-unsur gerak yang itu-itu saja,
sehingga dengan demikian ia berhasil menguasai unsur-unsur itu, serta kemudian
pada malam-malam berikutnya tanpa disengajanya unsur-unsur itu terselip pada
gerak-gerak perlawanannya, sedang lawan-lawannya dapat memberikan perlawanan
sebaik-baiknya dan diulang-ulangnya pula.
Karena itu, dadanya jadi bergelora. Apalagi ketika gurunya berkata, Handaka... orang yang datang berturut-turut itu pastilah seorang yang sakti, jauh lebih sakti dari gurumu ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak berusaha untuk menangkapnya, sebab hal itu pasti akan sia-sia. Hal itu juga ternyata pula, bahwa orang itu dapat mengetahui bahwa aku berada di sekitar ini meskipun aku telah bersembunyi sebaik-baiknya.
Handaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu sama sekali tak pernah
dibayangkan sebelumnya, bahwa seorang yang sakti, bahkan lebih sakti dari
gurunya, datang kepadanya dengan cara-cara yang aneh.
Jadi Bapak diketahuinya sebelum Bapak menampakkan diri?
Tidak hanya itu saja Handaka... Manahan meneruskan, Sedang
aku pun telah menerima nasihatnya pula.
Nasihat untuk Bapak? tanya Handaka terkejut.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bukankah orang itu berkata kepadaku bahwa pertanian
bukanlah daerah pelarian. Bukan daerah tempat orang-orang yang berputus asa
apabila kewajibannya sendiri sudah tak dapat ditunaikan...?
Handaka memandang Manahan dengan mata yang bertanya-tanya. Ia
sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Sampai Manahan melanjutkan,
Handaka..., barangkali kau sama sekali tak dapat menghubungkan
perkataan-perkataan itu dengan keadaan kita.
Tetapi ketahuilah bahwa ada sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku katakan
kepadamu, sebab kau masih aku anggap terlalu kanak-kanak. Sekarang, aku kira kau
telah cukup dewasa untuk mengetahui lebih banyak hal tentang keadaan kita.
Keadaan serta kewajiban-kewajibanku dan keadaan serta kewajiban-kewajibanmu.
CERITA BERSAMBUNG = 21 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
247
BAGUS Handaka mendengarkan setiap kata gurunya dengan saksama.
Sakit-sakitnya di seluruh tubuhnya sudah tidak dirasakannya lagi. Sementara itu
angin malam bertiup lemah, dan bintang-bintang di langit telah mengubah
susunannya. bintang Waluku telah jauh condong di barat, sedang bintang Bima
Sakti telah mulai mengabur pada kedua ujungnya, jauh di selatan dan utara.
Bagus Handaka.... Manahan meneruskan perlahan-lahan.
Sebenarnya saat ini aku sedang mengemban suatu tugas yang berat. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekarang, karena kau telah cukup dewasa, ternyata seorang sakti yang tak dikenal telah berkenan langsung mengajarmu, maka baiklah aku berterus-terang pula. Saat ini aku sedang berusaha untuk mencari dua pusaka Istana yang hilang, berwujud keris yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Handaka mendengarkan ceritera gurunya sampai tidak sempat berkedip. Sedang
Manahan kemudian berceritera tentang kedua keris yang pernah diketemukannya
bersama ayahnya, Gajah Sora. Tetapi keris itu kemudian hilang kembali. Dan
karena itu pula maka ayahnya terpaksa menghadap Sultan Demak untuk
mempertanggungjawabkan hilangnya kedua pusaka itu.
Sepeninggal Gajah Sora, Banyubiru kemudian ditimpa oleh banyak
malapetaka dan Bagus Handaka sendiri hidupnya selalu terancam bahaya.
Untunglah bahwa Paman Lembu Sora segera bertindak,
desis Bagus Handaka, Dengan demikian pasti Ibu serta Banyubiru dapat
diselamatkan.
Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu Manahan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata dengan suara sayu, Kau keliru Bagus Handaka.
Keliru? sela Handaka terkejut.
Ya, kau keliru. Manahan menjelaskan, Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak
berbuat demikian. Meskipun apa yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru,
pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah perdikan itu, namun
nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.
Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya
telah membantu ayahnya menghalau gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan
kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta bantuan pamannya
pula ketika kemudian timbul hura-hara.
Bagus Handaka... sambung Manahan, Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.
Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena
kemarahan yang mencengkam perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa
yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.
Benarkah apa yang Bapak katakan...? Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.
Aku telah berkata sebenarnya, jawab Manahan.
Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?
Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka, jawab
Manahan pula.
Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak,
Dan kenapa pada saat itu Bapak tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan
itu?
Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti
sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya.
Dengan sabar Manahan menjelaskan, Handaka....., waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru sebagian saja dari antara mereka.
Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya
kemudian menjadi merah menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak
serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja lenyaplah segala
perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri
serta dengan suara lantang ia berkata, Bapak..., apapun yang terjadi atasku,
aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari terbit aku minta ijin Bapak
untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah
menjadi soal. Tetapi aku harus menuntut balas.
Handaka... kata Manahan masih setenang tadi, Duduklah.
Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir
pantai.
Tidakkah sekarang sudah saatnya Bapak...? Kita harus
bertindak tegas.
Duduklah Handaka.... Meskipun Manahan berkata perlahan-lahan, namun
nadanya penuh dengan tekanan, sehingga Handaka tidak dapat berbuat lain, kecuali
duduk kembali di sisi gurunya.
Handaka... sambung Manahan, Aku dapat mengerti sepenuhnya perasaan
yang bergelora di dalam dadamu. Tetapi jangan membiasakan diri bertindak
tergesa-gesa. Membunuh pamanmu Lembu Sora barangkali tidaklah terlalu sulit,
meskipun bagaimana saktinya. Tetapi akibat dari perbuatan itu sudahkah menjadi
perhatianmu? Setidak-tidaknya pasti akan timbul permusuhan antara Pamingit dan
Banyubiru. Kalau benar demikian, maka diantara kedua daerah perdikan itu pasti
akan ditelan oleh masa depan yang suram.
CERITA BERSAMBUNG = 22 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
248
SETELAH diam sejenak, Manahan melanjutkan, “Dalam kekalutan itu akan hadirlah kekuatan-kekuatan dari pihak lain yang akan menelan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Sebab dalam hal ini golongan hitam pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian dapatlah dipastikan bahwa di atas mayat-mayat laskar Pamingit dan Banyubiru akan berkibar bendera-bendera mereka, bendera yang bergambarkan harimau hitam, sepasang uling yang berlilitan, kelelawar raksasa berkepala serigala, ular laut yang ganas. Setelah itu lenyaplah sudah nama daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Lenyap pulalah hasil jerih payah eyangmu Sora Dipayana yang dengan memeras keringat dan darah membangun kedua daerah perdikan itu. Lenyap pulalah nama kebesaran keluarga Sora yang selama ini disegani oleh daerah-daerah lain, bahkan sampai ke Istana Demak. Yang ada kemudian tinggalah nama-nama Sima Rodra, Uling Rawa Pening, Lawa Ijo, dan Jaka Soka.”
Bagus Handaka adalah seorang anak yang cerdik. Karena itu segera ia dapat
menangkap maksud gurunya. Namun meskipun demikian amat sulitlah baginya untuk
mengendalikan perasaannya.
Maka bertanyalah ia, “Bapak, kalau demikian apakah kita
biarkan saja Paman Lembu Sora tidak terhukum atas kesalahannya itu?”
“Itu pasti Handaka,” jawab Manahan.
“Siapa yang bersalah harus dihukum. Tetapi kita harus
menjaga agar kita dapat menarik garis antara pamanmu Lembu Sora dan
orang-orangnya yang sama sekali tidak tahu-menahu, sehingga dengan demikian
pertumpahan darah yang luas dapat terhindar. Itu adalah tugasmu Handaka,
meyakinkan orang-orang Pamingit dan Banyubiru, bahwa pamanmu telah berbuat suatu
dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”
Bagus Handaka menjadi tertegun diam. Perkataan Manahan itu
seolah-olah satu demi satu menyusup ke dalam dadanya serta mendinginkan hatinya.
Sadarlah bahwa pekerjaan yang dihadapinya bukanlah pekerjaan yang dapat
dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi harus ditempuhnya dengan penuh
kebijaksanaan.
“Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapak?”
tanya Handaka kemudian.
Untuk beberapa saat Manahan tidak menjawab. Ia sendiri masih
belum tahu dengan pasti, apa yang akan dilakukannya. Namun demikian ia kemudian
menjawab, “Handaka, kita harus meninggalkan pedukuhan ini. Aku harus tetap
berusaha mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Disamping itu ada baiknya kalau kita mencari berita tentang Banyubiru dan
perkembangannya setelah kau tinggalkan. Kemudian baru kau menentukan cara untuk
memecahkan masalahnya. Meskipun kau sebenarnya belum dewasa penuh, namun aku
kira kau telah cukup untuk memulai pekerjaan yang besar itu, dengan
kehati-hatian dan yang mungkin memerlukan waktu tidak sehari dua hari, tetapi
setahun dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu.”
Bagus Handaka memperhatikan setiap kata gurunya yang menambah
keyakinannya bahwa pekerjaan yang betapapun beratnya itu pasti akan dapat
diselesaikan. Namun ia sadar bahwa jalan yang akan ditempuhnya bukanlah jalan
yang lurus dan licin, tetapi pasti akan penuh dengan rintangan dan bahaya.
Namun ia sadar pula bahwa apa yang dilakukannya nanti
seharusnya tidak menyingkir dari bahaya-bahaya itu, tetapi ia harus berani
menghadapi serta mengatasinya.
Kemudian untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam
angan-angan serta gambaran-gambaran masa yang akan datang. Masa yang pasti akan
penuh dengan perjuangan.
“Bagus Handaka....”
Kemudian terdengar Manahan memulai, “Marilah kita pulang. Sejak besok kita harus sudah berkemas-kemas. Kita tinggal menunggu padi yang sudah menguning. Setelah itu baiklah kita melanjutkan perantauan kita untuk menemukan kedua pusaka itu, beserta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kembali tanah pusaka yang kau tinggalkan. Sekarang bekalmu telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu.”
Bagaimanapun Bagus Handaka masih belum begitu yakin kepada kata-kata gurunya.
Benarkah ilmunya sudah sedemikian menanjak sehingga gurunya merasa bahwa
bekalnya telah cukup banyak? Karena itu bertanyalah ia meyakinkan, “Bapak,
benarkah ilmuku telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu...?”
Mendengar pertanyaan muridnya, Manahan tersenyum. “Bagus Handaka..., aku telah mengujimu. Dalam keadaan payah dan luka-luka kau mampu melawan aku sampai beberapa lama. Hal itu tidak akan dapat kau lakukan lima atau enam hari yang lalu. Bahkan aku telah mencoba untuk menyerangmu dengan bersungguh-sungguh walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Tetapi kau nyata-nyata telah bertambah jauh. Karena itu maka yang akan aku berikan kepadamu seterusnya tinggallah tingkat yang tertinggi.”
Oleh keterangan-keterangan itu, diam-diam Bagus Handaka jadi berbangga.
Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak mengucapkan terima kasih
kepada orang yang tak dikenalnya, namun tak sepatah kata pun yang meluncur
keluar.
Kemudian berjalanlah mereka berdua perlahan-lahan sepanjang pantai menuju ke pondoknya. Di sepanjang jalan hampir tak ada kata-kata yang mereka ucapkan.
Apalagi Bagus Handaka, yang sedang merenungi dirinya sendiri.
Dicobanya mengingat-ingat kembali segala peristiwa yang pernah dialaminya dengan
lebih saksama. Dicobanya mengingat-ingat setiap gerak yang pernah dilakukan dan
yang pernah disaksikan. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa memang
banyak unsur-unsur yang tanpa sesadarnya telah dimiliki dan bahkan telah
dikuasainya dengan baik.
Maka, sejak matahari terbit di pagi harinya, Bagus Handaka
mulai berkemas-kemas. Sesuai dengan perintah gurunya, apabila padi telah dituai,
maka mereka segera akan meninggalkan pedukuhan Tegal Arang, untuk meneruskan
perjalanan ke tempat yang tak ditentukan.
Namun sesuai dengan harapan gurunya untuk mengetahui perkembangan Banyubiru, maka mereka pasti akan mendekati tempat itu, dengan harapan bahwa mereka sudah tidak akan dikenal lagi setelah hampir tiga tahun meninggalkan tempat itu. Bila perlu, mereka akan mempergunakan penyamaran.
CERITA BERSAMBUNG = 23 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
249
DEMIKIANLAH, tidak sampai dua pekan, padi telah masak.
Tetapi demikian orang pergi menuai, demikian Manahan dan Bagus Handaka mulai minta diri kepada tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pedukuhan itu.
Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan mereka, yang mengira
bahwa Manahan dan anaknya akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari tuanya.
He..., kau mau kemana lagi Manahan? tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek, kasar dan berambut tegak.
Kami telah menerima kau dengan baik, tetapi kau agaknya tidak betah tinggal
di pantai.
Meskipun kata-kata itu diucapkan dalam nada yang kasar seperti
tubuhnya, namun sebenarnya itu adalah suatu pernyataan yang jujur dari rasa
persahabatannya.
Maafkan Kakang, jawab Manahan. Aku terpaksa meninggalkan kalian karena aku masih mempunyai pekerjaan yang lain
.
Apa yang harus kau kerjakan? tanya yang lain, seorang nelayan yang kurus
dan berkumis tipis.
Aku masih harus mencari bapakku, jawab Manahan berbohong.
Orang yang kurus dan berkumis tipis itu mengerutkan keningnya, lalu sambungnya, Kemana bapakmu pergi...?
Manahan menggeleng-gelengkan kepala.
Itu yang aku tidak tahu. Karena itu aku harus mengelilingi seluruh pulau untuk menemukannya.
Hampir semua orang yang mendengar, mengerutkan dahinya. Mereka merasa aneh bahwa
seseorang sampai kehilangan bapaknya. Tetapi meskipun demikian ternyata mereka
tidak berhasil mencegah. Manahan serta Bagus Handaka pergi meninggalkan mereka.
Banyak pula kawan-kawan Handaka yang menjadi kecewa karena kepergiannya.
Maka dengan rendah hati Manahan menyerahkan seluruh hasil
panennya kepada para tetangganya, dan dengan hati yang agak berat pula, setelah
bergaul hampir tiga tahun dengan para nelayan yang kasar namun berhati bersih,
ia terpaksa meninggalkan mereka. Suatu hal yang terpaksa berulang kali
dialaminya. Menetap di suatu tempat dan kemudian meninggalkannya, dan kembali ia
harus berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan, hutan dan lereng-lereng gunung
serta lembah-lembah yang hijau padat.
Tetapi kali ini Manahan tidak membawa muridnya menyembunyikan
diri, tetapi bahkan sebaliknya. Mereka berusaha mendekati Banyubiru untuk
mengambil ancang-ancang atas perjuangan yang bakal dilakukan. Mereka harus lebih
dahulu mengetahui seluk-beluk daerah itu dan mengetahui tanggapan rakyatnya
terhadap pimpinan daerah yang sebenarnya tidak berhak sama sekali itu.
Dengan Kyai Bancak, tanda kebesaran Banyubiru yang berwujud
sebuah ujung tombak, di pinggangnya, setelah dilepas dari tangkainya, Bagus
Handaka berjalan dengan tegapnya menuju ke arah selatan. Manahan yang berjalan
di belakangnya memandangi anak itu dengan bangga. Ia mengharap agar Bagus
Handaka benar-benar dapat menjadi seorang anak yang kuat dan berhati mulia
seperti harapan ayahnya.
Tetapi dengan demikian Manahan jadi teringat kepada Gajah Sora.
Apakah kira-kira yang terjadi atasnya? Namun ia percaya bahwa Gajah Alit dan
Paningron dapat membantu kesulitannya. Setidak-tidaknya memperingan tuduhan yang
ditimpakan atasnya.
Perjalanan Manahan dan Handaka kemudian sampai pada daerah
hutan dan kemudian mereka harus menyusur kaki gunung Slamet, membelok kearah
timur.
Demikianlah dari hari ke hari mereka selalu berjalan tanpa
henti-hentinya. Ternyata kekuatan jasmaniah Bagus Handaka cukup memuaskan. Ia
sama sekali tetap segar dan lincah. Disamping itu selama perjalanan mereka,
masih sempat juga Manahan memberikan tambahan pengetahuan kepada muridnya. Dan
bahkan karena kecerdasan Bagus Handaka, maka dapatlah ia menemukan unsur-unsur
gerak yang bagus, yang ditirunya dari gerak-gerak binatang buas.
Dengan tuntunan gurunya, Bagus Handaka yang hampir
menghabiskan waktunya selama perjalanan itu dengan memperhatikan gerak-gerik
kera-kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, maka kemudian ia berhasil
menirukan beberapa bagian, yang dapat dileburnya ke dalam unsur-unsur gerak yang
telah dimilikinya.
Handaka juga senang sekali memperhatikan perkelahian antar binatang. Dari binatang yang paling buas sampai binatang yang paling lemah. Diperhatikannya pula, bagaimana seekor kancil berhasil melepaskan diri dari terkaman serigala-serigala yang buas, dan bagaimana seekor banteng dengan tangguhnya menanti serangan seekor harimau dan kemudian dengan tanduk-tanduknya yang tajam membinasakannya.
Dengan demikian Bagus Handaka mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari alam.
Manahan sendiri sebenarnya kagum atas ketangkasan otak muridnya, maka ia menjadi
semakin bangga bahwa tidak sia-sialah ia menuntun anak itu.
Karena itu, Manahan selalu memberinya petunjuk-petunjuk atas kemungkinan kemungkinan yang dapat dimanfaatkan dari setiap gerak yang dilihatnya. Kecuali gerak-gerak binatang, juga gerak-gerak dari benda-benda yang lain, seperti angin pusaran, air bah dan bahkan kelincahan gerak nyala api.
CERITA BERSAMBUNG = 24 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
250
DI sepanjang perjalanan itu, tidak sedikitlah pengetahuan yang
ditangkap oleh Handaka. Dan karena itu pula ia sama sekali tidak merasakan suatu
kejemuan atau keletihan selama ia bersama-sama dengan gurunya menyusuri
jalan-jalan hutan yang lebat dan sulit.
Setelah meninggalkan lembah kaki gunung Slamet, mereka mulai
dengan perjalanan yang tidak kalah sulitnya. Mereka menyusur tebing pegunungan
Prau, setelah melampaui beberapa pedukuhan yang tak berarti.
Tetapi meskipun mereka sama sekali tidak mengenal letih, namun
kadang-kadang mereka terpaksa berhenti pula untuk beberapa lama di suatu tempat.
Kadang-kadang sampai satu dua bulan, kadang-kadang malahan lebih. Setelah itu
kembali mereka meneruskan perjalanan mereka sambil berbuat bermacam-macam
kebajikan.
Di tempat-tempat yang pernah dilewati oleh mereka itu,
banyaklah hal-hal yang ditinggalkannya. Pemberitahuan tentang banyak hal.
Tentang pertanian dan sebagainya.
Karena itu mereka selalu meninggalkan kesan yang baik,
sehingga nama Manahan dan Bagus Handaka menjadi banyak dikenal orang.
Pada suatu kali mereka memasuki sebuah pedukuhan yang sepi di
ujung hutan. Penduduknya yang menamakan pedukuhannya itu Gedangan, terdiri dari
petani-petani yang menggarap sawah dengan cara yang sederhana sekali. Mereka
masih belum begitu menaruh perhatian kepada saluran-saluran air. Untunglah bahwa
tanah mereka adalah tanah yang subur, sehingga meskipun dengan cara-cara yang
sangat sederhana, hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan.
Berbeda dengan pengalaman-pengalaman mereka, Manahan dan Bagus
Handaka ketika memasuki pedukuhan itu, mengalami penerimaan yang aneh. Hampir
setiap mata memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Manahan dan Handaka
merasakan keasingan penerimaan itu. Karena itu mereka bersikap hati-hati dan
berusaha untuk tidak menyinggung perasaan mereka.
Kepada salah seorang dari para petani yang sedang berdiri di
pematang, Manahan bertanya dengan hormatnya, Kakang, apakah aku diperkenankan
untuk memasuki pedukuhan ini?
Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi sekali dua kali ia melemparkan pandangannya kepada beberapa orang yang bertebaran menggarap sawah di sekitarnya.
Baru setelah beberapa saat ia menjawab, Siapakah kau berdua?
Aku bernama Manahan dan ia anakku, Handaka, jawab Manahan.
Mendengar nama itu, orang itu mengernyitkan alisnya. Agaknya nama itu asing
baginya. Kemudian terdengar ia berkata, Entahlah aku tak tahu. Berkatalah
kepada lurah kami.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bertanya pula, Di manakah Bapak Lurah itu?
Maksudku, di mana rumahnya? sambung Manahan.
Kembali orang itu ragu-ragu dan kembali ia menebarkan pandangannya kepada
orang-orang yang sedang menggarap sawah di sekitarnya. Tiba-tiba ia menunjuk
pada salah seorang daripadanya sambil berkata, Bertanyalah kepada orang itu.
Manahan menoleh menurut arah tangan orang itu. Dilihatnya di sudut desa berdiri
seorang yang bertubuh pendek kokoh dengan urat-urat yang menonjol. Namun matanya
membayangkan kejernihan hatinya.
Setelah mengucapkan terimakasih, segera Manahan dan Handaka
berjalan ke arah orang bertubuh pendek itu. Dan kemudian dengan hormatnya
Manahan bertanya, Adakah Bapak ini Lurah dari pedukuhan ini?
Orang itu menggelengkan kepalanya, sambil menjawab, Bukan
Ki Sanak, aku bukan lurah di sini. Adakah kau punya keperluan dengan lurahku?
Manahan menganggukkan kepalanya. Demikianlah, aku mempunyai sedikit keperluan.
Apakah keperluan itu? tanya orang yang bertubuh pendek.
Tiba-tiba saja setelah mengalami peristiwa itu, timbullah
keinginan Manahan untuk mengetahui lebih banyak hal lagi. Karena itu timbul pula
keinginan untuk bermalam.
Maka kemudian kata Manahan, Sebenarnya keperluanku hanyalah akan mohon izin
untuk bermalam barang semalam dua, setelah aku berjalan beberapa hari
terus-menerus tanpa beristirahat.
Orang yang bertubuh pendek itu mengernyitkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, Siapakah kau berdua?
Aku adalah seorang perantau dan bernama Manahan. Sedang anak ini adalah
anakku, bernama Handaka, jawab Manahan memperkenalkan diri.
Dengan seksama orang itu mengamat-amati mereka berdua. Baru sesaat kemudian ia berkata, Saat ini lurah kami sedang menerima beberapa orang tamu. Karena itu mungkin tak ada tempat lagi bagi kalian untuk bermalam di rumah lurah kami.
Kalaupun tempat itu ada, pastilah lurah kami dengan
terpaksa tidak akan mengizinkan kalian bermalam di sana.
Manahan mengangguk perlahan-lahan. Ia menjadi semakin ingin
untuk mengetahui lebih banyak lagi. Karena itu katanya, Bukan maksudku untuk
bermalam di rumah Pak Lurah. Meskipun aku ditempatkan di kandang kuda sekalipun,
asal aku diizinkan bermalam untuk melepaskan lelah barang semalam dua malam, aku
akan mengucapkan terimakasih.
Orang yang bertubuh pendek serta bermata jernih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian setelah berpikir sejenak ia menjawab, Menilik wajah-wajah kalian yang merah hitam terbakar terik matahari, serta menilik pakaian kalian maka aku percaya bahwa kalian telah menempuh jarak yang sangat jauh. Maka adalah kewajiban kami untuk memberikan sekadar tempat melepaskan lelah bagi kalian berdua. Karena itu maka kalian akan aku bawa pulang ke rumahku, di sana kalian dapat bermalam. Sebab selain Lurah di pedukuhan ini, aku pun termasuk orang yang harus membantu pekerjaannya.
Mimbar Bambang Seputro
Updated 08/07/2000
mimbarse@gajahsora.net