Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 10 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
236
AKHIRNYA, ketika orang tua itu merasa bahwa Bagus Handaka
bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya dapat ditakut-takuti serta dengan
mudahnya dapat ditangkap, bahkan malahan dalam beberapa hal Bagus Handaka dapat
melebihinya, maka tak ada jalan lain daripada melarikan diri.
Apalagi ketika ternyata Bagus Handaka dapat melawannya dengan mempergunakan bagian-bagian dari unsur-unsur geraknya sendiri. Orang tua itu menjadi bertambah takut lagi.
Cepat-cepat ia meloncat mundur beberapa langkah, dan kemudian berusaha untuk
berlari secepat-cepatnya. Bagus Handaka yang sudah mengira hal itu akan terjadi,
segera meloncat menghadang. Tetapi orang tua itu seakan-akan telah dapat
memperhitungkan pula tindakan Bagus Handaka, karena demikian Bagus Handaka
melontarkan diri, demikian orang tua itu membalik ke arah yang berlawanan, dan
seperti terbang orang itu berlari masuk ke dalam semak-semak yang gelap.
Bagus Handaka yang mengejarnya menjadi keheran-heranan.
Meskipun ternyata ilmunya tidak kalah tinggi, bahkan beberapa unsur gerak orang
tua itu malahan telah dapat dikuasai, namun dalam hal berlari ternyata ia masih
kalah. Karena itu dengan hati yang semakin jengkel Bagus Handaka terpaksa
melepaskan orang tua itu pergi.
Dengan kejadian-kejadian itu, teka teki yang melibat dirinya
menjadi semakin kisruh. Ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah
dialami, namun ia sama sekali tak dapat menghubungkannya dengan peristiwa dua
malam terakhir itu.
Tetapi Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang berani, cerdas
dan banyak hal yang ingin diketahui. Karena itulah maka, setelah mengalami
peristiwa dua malam berturut-turut, malahan ia ingin untuk mengetahui apakah
yang akan terjadi seterusnya. Ia ingin melihat apakah pada malam-malam
berikutnya akan terjadi pula hal-hal semacam itu. Malahan ia mengharap
kedatangan salah seorang diantaranya, sehingga apabila orang itu dapat
ditangkapnya, maka pastilah latar belakang dari peristiwa-peristiwa itu dapat
disingkapkan.
Namun sampai sedemikian jauh Bagus Handaka masih belum merasa
perlu untuk menyampaikan masalah itu kepada gurunya. Nanti apabila salah seorang
dari mereka dapat ditangkapnya, barulah Bagus Handaka bermaksud membawa orang
itu kepada Manahan.
Pada malam berikutnya Bagus Handaka sengaja menghindarkan diri
dari beberapa kawannya yang sering mengajaknya turun ke laut. Dengan demikian
maka ia dapat leluasa pergi ke pantai untuk menanti peristiwa yang aneh, yang
barangkali masih ada kelanjutannya.
Dan apa yang dinantinya benar-benar datang.
Ketika angin laut menghembus perlahan-lahan mempermainkan buih
di pantai, Bagus Handaka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang seolah-olah muncul
saja dari dalam laut, dan dengan langkah yang cepat langsung menuju ke arahnya.
Meskipun Bagus Handaka sengaja menanti kejadian itu, namun hatinya tergetar juga.
Dua malam berturut-turut ia mengalami serangan dari orang yang tak dikenalnya.
Tetapi orang-orang itu datang dari arah semak-semak, sedangkan
kali ini orang itu muncul seakan-akan dari dalam air.
Ketika orang itu sudah semakin dekat, Bagus Handaka segera
meloncat berdiri serta mempersiapkan diri. Sebab menilik gerak serta arah
datangnya, maka orang ini pasti lebih berbahaya dari dua orang yang pernah
dilawannya.
Melihat Bagus Handaka berdiri serta mempersiapkan diri, orang
itu terhenti. Agaknya ia heran melihat sikap Handaka. Tetapi kemudian terdengar
ia tertawa pendek, menyeramkan. Aku tidak akan keliru lagi. Bukankah kau yang
bernama Bagus Handaka?
Di dalam gelap, Bagus Handaka mencoba mengawasi wajah orang itu. Tetapi yang dapat diketahuinya adalah, orang itu janggut serta kumisnya tumbuh lebat sekali, sehingga menutupi hampir seluruh lubang mulut serta hidungnya. Selain dari itu tak ada lagi kesan yang diperolehnya.
Dengan suara yang mantap, Bagus Handaka menjawab, Ya, aku Bagus Handaka. Kau
mau apa?
Kembali terdengar suara tertawa pendek yang menyeramkan. Kau memang berani
Handaka. Aku kira kau akan memungkiri dirimu. Kau tidak takut mendapat bahaya?
Kenapa aku mesti takut. Aku sudah mengira bahwa kau akan berkata seperti
orang-orang yang pernah menyerangku dua malam berturut-turut meskipun orangnya
tidak sama, potong Bagus Handaka.
Agaknya orang itu heran mendengar kata-kata Handaka, sehingga ia bertanya,
Dua malam berturut-turut kau mendapat serangan?
Sekarang Bagus Handaka yang tertawa berderai. Aku bukan anak-anak yang masih
pantas kau bohongi dengan cara demikian. Adakah suatu peristiwa kebetulan sampai
tiga kali berturut-turut dengan cara yang sama?
Mendengar jawaban Bagus Handaka, orang itu berdesis, Agaknya mereka telah
mendahului aku.
Lalu tiba-tiba ia berkata kepada Bagus Handaka, Tetapi kenapa kau masih
sempat bermain-main di sini. Kalau apa yang kau katakan benar, aku kira kau
sudah tergantung mati di tengah Alas Roban.
Mau tidak mau jantung Handaka tergetar hebat mendengar kata-kata itu. Apakah
sebabnya orang-orang itu memburunya dan akan menggantungnya di Alas Roban...?
Karena itu pula ia menjadi marah sekali. Ia tidak pernah merasa berbuat salah
kepada orang lain, tetapi kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?
Kemudian dengan tidak menunggu lebih lama lagi, Bagus Handaka meloncat
mendahului menyerang orang itu. Serangannya hebat sekali dengan mengerahkan
segenap tenaga yang ada.
CERITA BERSAMBUNG = 11 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
237
ORANG yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut
sekali. Ia tidak mengira bahwa Bagus Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia
meloncat ke samping. Tetapi Bagus Handaka tidak membiarkannya. Disusullah
serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali,
sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu
cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Bagus Handaka dengan kedua tangan yang
disilangkan di muka dadanya.
Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Bagus Handaka
terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada
tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing
mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran
selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.
Karena itu segera Bagus Handaka mempersiapkan dirinya. Ia
merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah
nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan
bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.
Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat.
Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun
Bagus Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan
berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan
selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun
ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam-malam sebelumnya.
Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya.
Hanya kadang-kadang saja Bagus Handaka dikejutkan oleh
gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena
lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga
pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Bagus Handaka yang lincah
dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan
yang demikian.
Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa
meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan
kelincahannya.
Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya
pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya
tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa
bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.
Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu
serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil
menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai
tubuh Bagus Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.
Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya
untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan
menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Bagus
Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah
kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah
agaknya Bagus Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang
menguntungkan.
Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam
sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Bagus
Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul
dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.
Ketika orang itu lenyap, Bagus Handaka berdiri bertolak
pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan,
keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa
yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung
berlarut-larut...?
Tetapi jiwa keingintahuan Bagus Handaka tiba-tiba menguasai
perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan
kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para
penyerang itu datang berturut-turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang
terjadi sesudah itu...?
Demikianlah kembali pada malam keempat. Bagus Handaka mencari-cari alasan untuk
tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga
bahwa Bagus Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya
penuh dengan bahaya.
Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.
Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Bagus Handaka berjuang
dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak
berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan
kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat
mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.
Demikian pula pada malam kelima. Otak bagus Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.
CERITA BERSAMBUNG = 12 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
238
TIDAK seperti keempat orang sebelumnya, yang datang dari
jurusan yang tidak sama, namun kedatangan mereka itu dapat diketahui sebelumnya,
meskipun ada dua diantaranya yang datang dari jurusan yang aneh, dari laut.
Tetapi orang kelima ini jauh lebih aneh lagi. Tahu-tahu orang itu sudah berdiri
di belakang Bagus Handaka dengan suara garang dibarengi dengan suara tertawa
yang menyeramkan.
Bagus Handaka, kau mau melarikan dirimu kemana lagi.
Berbulan-bulan aku mencarimu, dan sekarang aku menemukan kau di sini.
Empat malam berturut-turut Bagus Handaka sudah bertempur
dengan orang-orang yang tak dikenal, dan empat kali pula ia berhasil mengalahkan
mereka. Namun kali ini bulu tengkuknya meremang juga. Wajah orang ini sama
sekali bersih, hanya alisnya agak terlalu lebat dan hampir bertemu di atas
hidungnya. Tetapi wajah yang bersih itu seakan-akan memancarkan udara maut dari
setiap lubang-lubangnya.
Kemudian terdengar kembali orang itu berkata, Ha, agaknya kau sudah ketakutan. Aku kira kau anak yang berani. Bukankah kau murid Manahan sepengecut kau ini.
Bagus Handaka adalah seorang anak yang berani. Meskipun hatinya tergetar pula
menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak akan menilai seseorang berlebih-lebihan.
Apalagi orang itu telah menghinanya dengan menyebut-nyebut nama gurunya. Karena
itu ia menjadi marah sekali. Dengan mulut yang terkatub rapat serta gigi yang
gemeretak, Bagus Handaka tidak menanti orang itu selesai berkata. Seperti seekor
banteng luka ia dengan dahsyatnya menyerang orang itu.
Orang yang mendapat serangan itu agaknya terkejut. Tetapi
dengan tangkasnya ia menggeser kakinya sehingga ia terbebas dari serangan Bagus
Handaka. Tetapi Bagus Handaka yang hatinya sudah terbakar oleh kemarahan itu,
dengan cepatnya menyerang pula. Sekali lagi orang itu terpaksa mengelakkan diri,
tetapi agaknya ia tidak mau diserang terus-menerus.
Kemudian dengan garangnya ia pun menyerang kembali. Namun
ternyata Bagus Handaka memiliki kelincahan yang cukup pula, sehingga serangan
orang itu dapat dielakkannya. Kemudian terjadilah suatu pertempuran yang hebat.
Masing-masing melancarkan serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya. Tetapi
masing-masing ternyata memiliki kegesitan dan ketahanan yang cukup.
Bagus Handaka yang telah bertempur empat malam berturut-turut
dan memenangkan setiap pertempuran, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ia
semakin percaya kepada kekuatan dirinya sendiri. Dan perasaan yang demikian
sangat membantu keadaannya pada malam kelima itu. Meskipun ia merasa bahwa orang
kelima ini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang-orang sebelumnya, namun
hatinya yang telah dibesarkan oleh peristiwa-peristiwa empat malam sebelumnya
menjadikannya tetap tatag dan tenang.
Tetapi suatu hal yang kurang menguntungkan bagi Bagus Handaka,
adalah karena orang itu jauh lebih besar dan lebih tinggi, maka kesempatan orang
itu untuk mengenainya agak lebih banyak. Tangan serta kakinya yang agak lebih
panjang, ternyata mempengaruhi jalan pertempuran itu.
Rupa-rupanya orang itu mempergunakan keuntungan itu
sebaik-baiknya. Ia selalu melawan serangan Bagus Handaka dengan serangan pula.
Beberapa kali Bagus Handaka dapat dikenai dengan cara demikian sebelum tangannya
sempat menyentuh tubuh orang itu. Sehingga Bagus Handaka menjadi semakin marah
dan bertempur mati-matian.
Ternyata kali ini lawannya benar-benar tangguh. Orang itu
licin seperti belut, serta lincah seperti singgat. Beberapa kali, apabila
serangan-serangan Bagus Handaka agaknya sudah tidak dapat dihindari, tiba-tiba
saja ia melenting beberapa langkah, dan kemudian dengan cara yang sama ia telah
menyerang kembali.
Menghadapi serangan yang demikian Bagus Handaka merasa agak
sulit. Dengan menjatuhkan diri ia mencoba membebaskan dirinya. Tetapi orang itu
tidak membiarkan Bagus Handaka lolos. Dengan kakinya yang kokoh ia meloncat
kearah dada anak itu. Sekali lagi Bagus Handaka berguling. Tetapi sekali lagi
orang itu melakukan serangan yang sama pula sebelum Handaka sempat berdiri.
Bagus Handaka kemudian menjadi agak gugup. Berapa kali ia
harus bergulung-gulung di pasir pantai itu. Tiba-tiba ia teringat kepada
lawan-lawannya yang pernah dikalahkannya. Ada beberapa unsur gerak yang dapat
dikuasainya. Karena itu ketika sekali lagi Bagus Handaka mendapat serangan
dengan cara yang sama, setelah ia berhasil menggeser tubuhnya, cepat-cepat ia
menangkap pergelangan kaki lawannya.
Dengan mempergunakan daya dorongnya sendiri, Bagus Handaka
ternyata berhasil menjatuhkan orang itu, dengan menghantam betisnya. Ia sendiri
pernah pula mengalami hal yang demikian. Ketika orang itu terjatuh dan
berguling-guling, kesempatan itu cepat dipergunakan oleh Bagus Handaka untuk
berdiri.
Tetapi demikian ia berdiri, orang itupun dengan suatu gerak
seperti roda yang bergulung telah berdiri di hadapannya pula.
Bagus Handaka, melihat hal itu menjadi bertambah marah.
Matanya menjadi merah menyala-nyala dan dadanya berdegupan. Dengan dahsyatnya ia
melontar maju menyerang dada orang itu. Serangan itu demikian tak terduga-duga
sehingga orang asing itu tak sempat mengelak. Karena itulah maka dadanya
terpaksa terhantam hebat. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut.
Bagus Handaka tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi. Dengan
garangnya ia memburu dan sekali lagi menghantamnya. Sayang bahwa kali ini orang
itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Bagus Handaka tidak mengenai
sasarannya, bahkan ia sendiri hampir-hampir kehilangan keseimbangan.
Dalam saat yang demikian, tampak lawannya mengayunkan tangannya dengan dahsyatnya. Melihat serangan itu, Bagus Handaka agak bingung.
CERITA BERSAMBUNG = 13 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
239
TIBA-TIBA tanpa sadar Bagus Handaka telah mempergunakan
unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya.
Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar
tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Bagus Handaka menarik orang
itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas
pundaknya dan terbanting di pasir pantai.
Tetapi sekali lagi Bagus Handaka keheran-heranan. Demikian
orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit
kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar
biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Bagus Handaka
terlontar mengenai perutnya.
Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
Tetapi seterusnya ketika Bagus Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka
orang itu pun menghantamnya.
Kali ini Bagus Handaka mengalami kembali hal yang sangat
merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian
sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh
bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut,
dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang
garang sekali.
Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum
sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya
kecuali dengan kedua kakinya Bagus Handaka menghantam tubuh orang yang seperti
melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara.
Kali ini Bagus Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan
gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk
kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri.
Pada saat itu Bagus Handaka pun telah berdiri. Keringatnya
mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh
debu-debu pasir pantai.
Sebenarnya Bagus Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya
ternyata benar-benar licin seperti belut.
Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu
tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Bagus
Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya.
Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia
tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya
dengan hebat.
Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Bagus
Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh.
Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Bagus Handaka. Orang yang hebat ini
pasti akan dapat ditangkapnya.
Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang
itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan
mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri
sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman
mengenai punggungnya.
Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap,
sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja.
Meskipun demikian, karena Bagus Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya
akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup.
Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti
serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.
Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar.
Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat
ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka
mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar
telah lenyap.
Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir.
Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu,
pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa
meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu,
namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.
Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia
masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.
Lalu bagaimana dengan malam besok?
Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau
besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari
orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang
itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di
tengah-tengah Alas Roban.
Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa
yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya
kepadanya.
Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya,
terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur
sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk.
Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan
sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak
pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.
Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan
menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Bagus Handaka
mendekatinya dan berkata, Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.
Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka. Apakah kau turun ke laut
Handaka?
CERITA BERSAMBUNG = 14 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
240
TIDAK, Bapak, jawab Handaka singkat.
Dari pantai...? tanya Manahan lebih lanjut. Bagus
Handaka menganggukkan kepalanya. Dalam cahaya api barulah Bagus Handaka melihat
tubuhnya merah-merah biru dan berdarah di beberapa tempat. Ketika Manahan
melihat luka-luka itu, serta melihat wajah Handaka yang pucat dan nafasnya yang
kurang teratur, ia menjadi keheran-heranan. Maka kemudian ia bertanya,
Handaka, apakah yang terjadi? Apakah kau berselisih dengan kawan-kawanmu,
sehingga kau berkelahi?
Tidak, Bapak, jawab Handaka.
Lalu kenapa kau? desak Manahan.
Bagus Handaka yang memang telah berkeputusan untuk
menyampaikan keadaan yang dialaminya lima malam berturut-turut itu pun segera
duduk disamping Manahan, dan segera mengalirlah ceritera dari mulutnya. Sejak
malam pertama sampai malam terakhir, lengkap dengan bentuk-bentuk wajah dari
orang-orang yang menyerangnya.
Mendengar ceritera Bagus Handaka itu, Manahan menarik alisnya. Memang ia pun
menjadi keheranan-heranan, apakah pamrih orang-orang itu menyerang Bagus Handaka.
Handaka..., kenapa kau baru sekarang mengatakan semua kejadian itu kepadaku? tanya Manahan.
Dengan jujur Handaka mengatakan segala keinginannya untuk mengetahui kelanjutan
peristiwa-peristiwa itu, serta keinginannya untuk menyelesaikan masalah itu
sendiri.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya berkobar
pula kemarahan ketika ia mendengar bahwa orang kelima yang menyerang Bagus
Handaka itu telah menyebut-nyebut namanya. Padahal pada saat orang itu ia hanya
melawan seorang anak-anak.
Handaka... kata Manahan kemudian, Pergilah kau besok sekali
lagi ke pantai. Aku akan melihat siapakah yang selalu datang itu.
Mendengar kesanggupan gurunya, Handaka menjadi bergembira.
Besok apabila benar-benar ada seseorang yang datang menyerangnya, meskipun
kepandaiannya berlipat tiga, namun pasti orang itu akan dapat ditangkap oleh
gurunya. Karena itu ia tersenyum-senyum sendiri. Dipandanginya api yang
berkobar-kobar di hadapannya, yang bergerak-gerak seolah-olah menari-nari riang.
Dan sebentar kemudian mendidihlah air yang dipanasinya. Segera ia bangkit untuk
mengambil daun serai serta gula kelapa. Itulah kegemaran gurunya, air serai
bergula kelapa.
Hari itu rasa-rasanya panjang sekali bagi Bagus Handaka.
Matahari seolah-olah menjalani garis edar dengan malasnya. Sehari itu ia merasa
amat malas untuk bermain-main dengan kawan-kawannya. Dihabiskannya waktunya
dengan berangan-angan. Namun akhirnya, perlahan-lahan datanglah senja. Langit
yang cerah dengan gumpalan-gumpalan mega yang berarak-arak mulai dirayapi oleh
warna-warna lembayung. Bagus Handaka yang hampir tidak sabar itu memaki-maki di
dalam hati. Kenapa kedatangan malam tidak saja langsung tanpa melewati senja?
Setelah melampaui masa-masa yang menjengkelkan, kemudian malam turun dengan
tabir hitamnya. Bagus Handaka segera berangkat ke pantai, dimana ia biasa
duduk-duduk memandangi ombak lautan. Manahan sengaja tidak berangkat
bersama-sama supaya kehadirannya tidak diketahui. Ketika Manahan telah sampai di
pantai pula, segera ia bersembunyi dengan membaringkan dirinya di belakang
sebuah puntuk pasir tak begitu jauh dari Bagus Handaka.
Bersamaan dengan semakin gelapnya malam, hati Bagus Handaka
menjadi semakin tegang dan gelisah. Jangan-jangan orang-orang yang menyerangnya
telah mengetahui bahwa gurunya berada di tempat itu, sehingga para penyerang itu
tidak berani mendekatinya.
Dan dalam kesempatan itu, ia mencoba pula mengingat-ingat
kelima orang yang datang berturut-turut setiap malam. Masing-masing menyatakan
bahwa mereka satu sama lain tidak berhubungan. Sejak semula ia sudah tidak
percaya.
Tetapi yang mengherankan, bahwa seolah-olah kedatangan mereka
telah diatur sedemikian, sehingga setiap orang yang datang pasti memiliki
kepandaian setingkat lebih tinggi dari orang sebelumnya.
Tiba-tiba ketika sedang berangan-angan, Bagus Handaka
dikejutkan oleh suara tertawa dekat di sampingnya. Suara itu terdengar nyaring
dan menggetarkan hatinya. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiap. Perasaannya
telah mengatakan kepadanya bahwa orang ini pasti salah seorang yang datang untuk
menyerangnya pula seperti malam-malam yang lewat.
Ketika ia memandang wajah orang itu, hatinya menjadi bertambah
berdebar-debar. Wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan wajah manusia.
Barangkali demikian itulah wajah hantu yang ditakuti oleh anak-anak. Beberapa
bintil-bintil sebesar biji rambutan bertebaran hampir di seluruh wajah itu.
Gigi-giginya tampak berleret pada saat orang itu tertawa.
Kemudian disela-sela tertawanya ia berkata, Siapakah nama anak muda yang bermain-main di pantai di malam hari...?
Meskipun sebenarnya Bagus Handaka ngeri juga melihat wajah itu, namun karena ia
merasa bahwa gurunya berada di dekatnya, hatinya menjadi tabah pula. Maka
jawabnya lantang, Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu pula siapa aku.
Dan kau pasti akan menangkapku seperti yang pernah dilakukan oleh lima orang
sebelum kau datang, pada malam-malam sebelum malam itu.
Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu, tertawanya menjadi
bertambah keras. Bagus... bagus, jadi sebelum ini telah datang lima orang
mendahului aku? Agaknya monyet-monyet itu ingin menerima hadiah pula dengan
menangkap anak ini. Dan kau dapat mengalahkan mereka berlima?
Mereka datang satu-persatu, jawab Handaka.
Alangkah bodohnya mereka, sambung orang berwajah iblis itu. Tentu kau
dapat mengalahkannya.
Jangan banyak bicara, potong Bagus Handaka dengan beraninya, Jangan
coba bohongi aku. Kau pasti telah bersekongkol dengan mereka. Dan barangkali kau
malam ini akan mencoba menangkap aku bersama-sama. Ayo datanglah berenam.
CERITA BERSAMBUNG = 15 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
241
KEMBALI orang yang menakutkan itu tertawa berderai-derai
sampai seluruh tubuhnya bergetar. Hebat, kau memang hebat. Tetapi jangan
terlalu sombong. Sebab malam ini nyawamu benar-benar akan lenyap. Aku harus
menangkap kau, mati atau hidup. Meskipun kalau aku membawamu hidup-hidup
hadiahnya akan berlipat banyaknya. Sebab pertunjukan membunuh Bagus Handaka akan
dapat mendatangkan uang yang banyak sekali.
Tanpa sadar, bulu tengkuk Bagus Handaka serentak berdiri.
Perkataan orang berwajah menakutkan itu sangat mempengaruhi perasaannya. Apakah
sebenarnya latar belakang dari semua kejadian ini? Kenapa orang itu
menyebut-nyebut pertunjukan membunuh Bagus Handaka?
Mau tidak mau Bagus Handaka menjadi ngeri juga. Ia sudah
membayangkan dirinya diikat di tengah-tengah lapangan, kemudian setiap orang
diperkenankan untuk melukainya, sampai mati. Tetapi apa salahnya?
Tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Ini hanyalah suatu gertakan
saja. Karena itu ia menjawab sambil berteriak keras-keras, Jangan coba-coba
takut-takuti aku. Namun demikian terasa suara Handaka bergetar pula.
Mendengar teriakan Bagus Handaka, orang itu sekali lagi
tertawa keras-keras. Jangan berbohong pula. Kau sudah ketakutan bukan? Bagus...,
semakin takut kau, semakin lucu pertunjukan itu jadinya.
Sekarang Bagus Handaka benar-benar menjadi marah sekali.
Ternyata orang itu telah menghinanya. Karena itu segera ia meloncat dan langsung
menyerang leher dengan jari-jarinya.
Orang itu, yang masih enak tertawa, ternyata terkejut melihat
kecepatan bergerak Bagus Handaka, sehingga tertawanya segera terhenti. Memang
kau anak berani. Tetapi hati-hatilah.
Sambil berkata demikian ia merendahkan dirinya, dan dengan
kakinya ia menghantam lambung Bagus Handaka. Bagus Handaka yang menyerang dengan
sekuat tenaga, tidak sempat menarik serangannya, maka yang dapat dilakukan
adalah memukul kaki itu dengan tangannya ke samping. Ternyata usahanya berhasil
pula. Orang itu terputar sedikit dan dengan demikian lambungnya dapat
diselamatkan, meskipun tangannya yang berbenturan dengan kaki orang itu terasa
sakit.
Dengan demikian Bagus Handaka segera dapat mengetahui, bahwa orang ini mempunyai ilmu diatas orang-orang yang pernah menyerangnya. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak gentar ketika diingatnya bahwa gurunya telah menungguinya.
Mengingat hal itu, segera Bagus Handaka menjadi bertambah tatag, karena itu
serangannya menjadi bertambah sengit. Tetapi perlawanan orang itu bertambah
sengit pula. Bahkan ia pun telah menyerangnya dengan gerak-gerak yang sangat
membingungkan dan berbahaya sekali. Namun ternyata Bagus Handaka telah
memberikan perlawanan dengan gigih.
Setiap serangan yang datang, bagaimanapun berbahayanya, Handaka selalu dapat menghindarkan dirinya. Malahan tidak jarang pula iapun berhasil membalas serangan-serangan itu dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya.
Namun serangan-serangan itu pun selalu tidak berhasil pula.
Maka pertempuran itu semakin lama menjadi bertambah hebat dan
cepat. Masing-masing menyerang dan menghindar berganti-ganti, sehingga tampaknya
kedua orang itu seperti bayangan yang sedang libat-melibat dengan cepatnya,
semakin lama semakin cepat.
Tetapi kemudian ternyata bahwa Bagus Handaka tidak dapat
menyamai kecepatan gerak lawannya, sehingga tiba-tiba terasa punggungnya
terdorong oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Dengan derasnya ia terlempar ke
udara.
Mengalami peristiwa itu hati Bagus Handaka berdesir. Untuk
beberapa saat ia menjadi bingung. Tetapi untunglah bahwa otaknya yang cerdas
dapat bekerja dengan cepat. Ia pernah menyaksikan lawannya terlempar ke udara
pula, namun ia dapat jatuh dengan enaknya, seolah-olah sama sekali tidak
terasakan sesuatu. Maka tanpa dikehendakinya sendiri Bagus Handaka menirukan
gerak-gerak yang pernah disaksikannya itu. Cepat-cepat ia berusaha melingkarkan
diri dan menjatuhkan diri pada punggungnya, yang kemudian dilanjutkan dengan
berguling sampai dua kali. Setelah itu ia melenting berdiri.
Untunglah bahwa Bagus Handaka telah dibekali dengan olah
keprigelan yang cukup, serta kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga meskipun
gerak-geraknya masih belum sempurna, namun ia tidak pula mengalami sesuatu.
Melihat cara Bagus Handaka membebaskan diri dengan cara yang demikian, terdengar lawannya tertawa keras-keras sambil berkata, Hai monyet kecil, dari mana kau belajar berjungkir balik demikian...? Untunglah bahwa kau mengenal cara yang baik untuk menyelamatkan dirimu.
Bagus Handaka tidak sempat menjawab kata-kata itu. Dengan darah yang mendidih ia
meloncat maju kembali untuk menyerang lawannya sejadi-jadinya. Tangannya
bergerak berganti-ganti mengarah ke segenap tubuh lawannya, sedang kakinya
bergerak dengan lincahnya di atas pasir pantai. Tetapi ternyata lawannya tidak
kalah lincah pula.
CERITA BERSAMBUNG = 16 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
242
UNTUK beberapa lama serangan-serangannya tidak dapat menyentuh
tubuh lawannya sama sekali. Bahkan ketika ia mencoba untuk menyerang mata
lawannya dengan jarinya, maka tiba-tiba terasa kepalanya berguncang hebat.
Guncangan yang pertama, disusul dengan yang kedua.
Untunglah dalam keadaan terakhir Bagus Handaka masih sempat melihat sebuah kepalan tangan sekali lagi mengarah kepelipisnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Tangan itu dengan derasnya menyambar tidak lebih dari tebal daun padi di muka hidungnya. Untunglah bahwa Bagus Handaka masih dapat bekerja cepat.
Tangan itu segera ditangkapnya, serta sambil merendahkan diri
ia pergunakan tenaga dorong serta berat badan lawannya sendiri untuk
membantingnya ke tanah lewat pundaknya.
Dengan kerasnya orang itu terpelanting. Tetapi meski ia jatuh
terlentang namun ia berusaha jatuh di atas kedua kaki serta pundaknya saja yang
menyentuh tanah. Bagus Handaka tidak mau membiarkannya dalam sikap yang demikian,
cepat-cepat ia menyerang lagi lawannya sebelum sempat memperbaiki keadaannya.
Dengan kakinya ia menghantam dada orang yang masih terlentang itu. Gerak Bagus
Handaka sedemikian cepatnya sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya. Maka
terdengarlah keluhan pendek. Tetapi sesaat kemudian kaki lawannya itu dengan
cepatnya menyapu kakinya, sehingga Bagus Handaka jatuh terbanting pula.
Ketika ia kemudian tegak, lawannya telah berdiri di hadapannya
pula. Bahkan dengan suatu lontaran dahsyat ia menyerang ke arah dadanya. Dengan
cepatnya Bagus Handaka merendahkan dirinya, dan bersamaan dengan itu ia
menjulurkan kakinya lurus-lurus, sehingga dengan demikian ia berhasil mengenai
perut lawannya.
Agaknya lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa Bagus
Handaka akan menyerang selagi ia melakukan serangan yang sedemikian cepat.
Karena itu ia terdorong keras beberapa langkah surut disusul dengan serangan
Bagus Handaka yang dahsyat pula.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin hebat dan
cepat. Pada malam kelima, Bagus Handaka yang hampir merasa dapat dikalahkan,
ternyata memiliki nafas yang lebih baik dari lawannya sehingga akhirnya lawannya
menjadi lemas karena kehabisan nafas.
Tetapi orang keenam ini agaknya mempunyai nafas lebih baik
dari kuda. Karena itu semakin lama terasa Bagus Handaka semakin terdesak,
tenaganya semakin lama semakin berkurang pula setelah ia berjuang mati-matian
untuk mempertahankan dirinya.
Akhirnya pertempuran itu pun menjadi berat sebelah. Beberapa
kali Bagus Handaka terpaksa terlempar, terbanting dan kadang-kadang perutnya
terasa terguncang-guncang hebat. Dari mulut serta hidung melelehlah darah segar.
Sampai sedemikian jauh Bagus Handaka tidak melihat gurunya datang membantunya.
Bahkan ketika matanya sudah mulai berkunang-kunang pun Manahan masih belum
menampakkan dirinya. Ia menjadi keheran-heranan. Apakah sebenarnya maksud
Manahan dengan membiarkannya demikian? Seolah-olah segenap sisa-sisa tenaganya
ia tetap melawan dengan beraninya.
Sampai beberapa saat kemudian ketika ia terbanting diatas
pasir dan seolah-olah ia sudah sama sekali tidak dapat bergerak lagi, dilihatnya
orang berwajah menakutkan itu tertawa berderai sambil selangkah demi selangkah
mendekatinya. Bagus Handaka tidak tahu lagi bagaimana ia harus melawan.
Tangannya serasa sudah membeku dan darahnya seolah-olah sudah tidak mengalir
lagi.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba orang itu, yang sudah
tinggal beberapa langkah dari padanya, terhenyak dan memandang ke suatu titik.
Maka sekali lagi meledaklah tertawanya yang mengerikan, disusul dengan suaranya
yang menggelegar, Hai, kaukah itu? Jadi kau datang pula untuk membantu
muridmu...?
Mendengar suara orang itu, melonjaklah sebuah kegembiraan di
hati Bagus Handaka. Agaknya gurunya telah datang. Dan apa yang diduganya adalah
benar. Ketika ia mengangkat mukanya, dilihatnya Manahan berjalan dengan
tenangnya ke arah orang yang berwajah mirip hantu itu. Melihat gurunya datang,
tiba-tiba Bagus Handaka merasa bahwa akan datanglah saatnya ia mengetahui latar
belakang dari semua peristiwa-peristiwa itu.
Ketika Manahan telah berdiri di muka orang berwajah jelek itu terdengarlah orang berwajah menakutkan itu berkata, Kaukah yang bernama Manahan?
Manahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, Kenapa kau tanyakan itu?
Bukankah kau sudah pasti bahwa guru Bagus Handaka bernama Manahan?
Kembali terdengar orang itu tertawa berderai sehingga suaranya memenuhi pantai.
Aku tidak mengira bahwa Manahan orangnya seperti kau ini.
Terdengarlah Manahan menjawab sambil tersenyum, Lalu dari
mana kau tahu bahwa kau bernama Manahan?
Karena kau datang pada saat Bagus Handaka sudah tidak dapat
bergerak lagi. Aku kira tidak ada orang lain yang akan menolongnya, selain
gurunya, sahut orang itu.
Lalu apa anehnya aku ini? tanya Manahan pula.
Aku jadi kecewa melihat tampangmu. Seharusnya kau berwajah seperti asahan
batu, berkumis lebat dan bertubuh seperti orang hutan. Supaya ujudmu sesuai
dengan namamu yang terkenal itu.
Tak ada orang yang mengenal aku sebagai seorang yang seharusnya bertubuh
demikian. Aku adalah seorang petani yang tidak lebih dari menggarap sawah setiap
hari, jawab Manahan.
Mendengar jawaban Manahan yang masih bernada dingin itu, Bagus Handaka bertambah heran pula. Kenapa gurunya tidak saja langsung menghantamnya sampai pingsan. Apalagi orang itu telah menghinanya pula.
243
DALAM gelap malam Handaka melihat orang berwajah menakutkan itu menyeringai,
benar-benar seperti hantu. Namun Manahan sama sekali tidak bergerak dari
tempatnya. Bahkan masih saja ia tersenyum-senyum.
Bagus.... Kau adalah seorang petani yang baik, Manahan.
Pekerjaan petani adalah pekerjaan yang mulia pula. Tanpa petani maka banyaklah
orang yang kelaparan. Tetapi daerah pertanian bukankah daerah pelarian? Apabila
seseorang telah berputus asa dalam melaksanakan tugasnya sendiri, maka kemudian
orang itu menerjunkan diri dalam daerah pertanian. Bukankah demikian...?
Mendengar kata-kata orang itu tampaklah wajah Manahan berkerut. Segera senyumnya lenyap dari bibirnya. Namun tak sepatah katapun ia menjawab. Sehingga kemudian terdengar orang yang menakutkan itu meneruskan, Atau barangkali kau sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya, yang dapat menandingi kekayaan demang Gunung Kidul?
Hampir terlonjak Manahan mendengar kata-kata itu. Juga Bagus Handaka menjadi
keheran-heranan. Kemana arah bicara orang yang berwajah hantu itu. Tetapi ia
menjadi semakin tidak sabar ketika ia masih saja melihat Manahan tegak seperti
patung. Bahkan kemudian ia menjadi bertambah tidak mengerti ketika kemudian
orang itu berkata, Bagus Handaka..., untunglah kau untuk satu pertunjukan
yang menarik di daerahku. Tetapi hati-hatilah lain kali aku datang lagi.
Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam.
Bapak...! teriak Bagus Handaka.
Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.
Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya
sambil berkata pula, Kenapa Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku
ingin menangkap salah seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku
mengharap bahwa aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi
Bapak membiarkan orang itu pergi.
Bagus Handaka, kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. Bagaimana keadaan tubuhmu?
Sakit, Bapak, jawabnya agak jengkel. Tetapi bagaimana dengan orang
tadi?
Kau sudah dapat bergerak kembali? sambung Manahan tanpa menghiraukan
kata-kata Bagus Handaka.
Sudah, Bapak... jawab Handaka masih belum mengerti.
Bagus.... Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu,
kata Manahan tiba-tiba.
Bapak... apakah artinya ini? tanya Handaka semakin bingung.
Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkap kau dan akan menyerahkan kau
kepada orang yang menyuruh mereka datang berturut-turut selama enam malam. Aku
sekarang sudah tahu, siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku
juga ingin menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung
Kidul. Jelas?
Handaka mendengar kata-kata gurunya seperti orang bermimpi.
Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar bersiap untuk menyerangnya.
Sehingga ia menjadi bertambah bingung.
Handaka... kata Manahan kemudian, Terserahlah padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau tidak menjadi bahan pertunjukan.
Agaknya Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang sama-sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah Handaka menghindarkan diri.
Dengan kekuatan yang ada padanya ia melenting tinggi dan
kemudian jatuh berguling-guling menjauhi gurunya. Tetapi Manahan mengejar terus
sambil melepaskan serangan-serangan yang sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh.
Ia memang pernah berlatih dengan gurunya seperti ia harus
berkelahi sungguh sungguh, namun terasa bahwa selama itu gurunya selalu
menyesuaikan diri dengan gerak-geraknya. Tetapi kali ini Manahan benar-benar
telah menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang dapat membinasakan. Karena itu
Bagus Handaka menjadi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali
meloncat-loncat berlari, berguling dan cara-cara lain untuk menghindari
serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus seperti orang
kehilangan akal. Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran yang agak jernih dalam
otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa saat ini adalah saat terakhir
baginya untuk menunjukkan kepada gurunya, ketekunan serta kesungguhannya selama
ini dalam menerima segala ilmu serta pelajarannya.
Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar gurunya akan
membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan sebaik-baiknya. Ia harus
dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil yang telah dicapainya dalam olah
kanuragan.
Meskipun Handaka menjadi semakin tidak mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu berbuat keanehan lagi.
Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan melayang.
CERITA BERSAMBUNG = 18 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
244
NAMUN demikian, apabila hal itu sudah dikehendaki oleh gurunya,
maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan hati gurunya pada saat terakhir
itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya hasil pelajaran yang diterimanya selama
ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati
gurunya itu yang telah berjerih payah mendidiknya.
Mendapat pikiran yang demikian, maka tiba-tiba Bagus Handaka
merasa seolah-olah telah menerima segala kekuatannya kembali. Seolah-olah
badannya merasa bertambah segar dan sehat.
Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang,
Handaka kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang
menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau. Dengan demikian maka ia
telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta
dicintainya itu.
Pertempuran itu segera berjalan semakin cepat. Bagus Handaka
telah berusaha untuk mengurangi tekanan Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali.
Ia tiba-tiba saja merasa bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik
daripada saat-saat yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting,
kemudian melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan
gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.
Dalam keadaan yang demikian, setitik pun tak ada maksud
Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah tidak mungkin sama
sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan itu adalah benar-benar
suatu pernyataan kebaktian seorang murid terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun,
Manahan adalah gurunya.
Manahan adalah seorang yang perkasa, yang pernah menjabat sebagai seorang
perwira pasukan pengawal raja. Karena itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi
sebenarnya tenaga Bagus Handaka telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena
sebelumnya ia sudah harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah
seperti hantu.
Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera tampak surut. Dengan
demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin banyak mengenai tubuhnya.
Meskipun demikian, Bagus Handaka sama sekali tidak mengeluh.
Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah itu ia tetap melawan
sedapat-dapatnya.
Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah tidak seberapa lama.
Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang mengarah ke lambungnya. Dengan
tenaga yang masih ada padanya, Bagus Handaka mencoba menghindari serangan itu
dengan memiringkan tubuhnya, tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia
terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat
dilakukannya hanyalah mencoba menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan
diri sebaik-baiknya. Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil.
Namun setelah itu, kembali seluruh tulang-tulangnya terasa
telah terlepas. Tubuhnya menjadi lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir
lagi. Bagaimanapun ia berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan
bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak
mengeluh sama sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal
terjadi.
Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi
bintang-bintang seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara,
dengan sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti
yang melintang ke utara.
Kemudian dilihatnya gurunya, yang diakunya sebagai ayahnya
setelah ayahnya yang sebenarnya pergi meninggalkannya, berjalan mendekatinya.
Dan Bagus Handaka telah siap menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya
itu, meskipun untuk sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya,
serta wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan
membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya Sarayuda,
serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut menyerangnya.
Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya, Manahan
yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang menyatakan dirinya
sebagai orang yang ketujuh.
Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus Handaka mencoba
melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang mengganggu otaknya.
Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi, dengan
tabahnya.
Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya itu meraba-raba
tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan suara yang rendah berkata,
Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?
Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.
Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak
karena kerut-kerut di keningnya. Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik
di permukaan tubuh muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas
dalam-dalam serta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu terdengar ia bertanya kembali, Adakah dengan cara
demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?
Bagus Handaka tidak segera mengerti maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab, terdengar kembali Manahan berkata, Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.
Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga, Bapak, selama
itu akupun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan aku sudah
mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku tidak berhasil.
Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Bagus Handaka
menjadi bertambah bingung. Apalagi ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum
sambil membangunkannya. Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu
perlahan-lahan.
CERITA BERSAMBUNG = 19 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
245
DENGAN otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus
Handaka mencoba sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di
atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya
kembali...?
Ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya
itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan
dengan wajah yang jernih berkata, Sudahkah kau ingat keenam orang yang
menyerangmu?
Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja,
Sudah, Bapak.
Baik... sahut Manahan, Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari
kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi
kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang
yang menyerangmu itu.
Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu
ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang
tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk
membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.
Bagaimanakah dengan orang yang pertama? tanya Manahan.
Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka
menjawab, Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.
Orang kedua? desak Manahan.
Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan
gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak,
Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.
Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu? tanya
Manahan pula.
Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia
berkata, Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya
wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.
Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda? desak
Manahan.
Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu.
Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak
berbeda-beda.
Sayang, aku tak dapat menangkapnya, gumam Bagus Handaka.
Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, Inginkah
kau menangkapnya?
Ya, jawab Handaka. Aku ingin tahu kenapa mereka
menyerang aku.
Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh? tanya Manahan
pula.
Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa
yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya.
Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh
teka-teki.
Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan,
Handaka.... Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa
keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan
bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat
menangkapnya.
Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang
membingungkan. Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang
yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan
yang besar untuk dapat menangkapnya.
Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Meskipun
demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?
Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.
Jangankan kau Handaka, sambung Manahan, Sedang aku
pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.
Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia
tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi
hatinya.
Handaka... kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, Sudah
sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.
Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama,
meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.
Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan,
tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat
untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah
untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam
malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang
yang datang berturut-turut itu.
Guru... potong Handaka dengan penuh haru, Jadi Bapak
tidak benar-benar mau membunuhku?
Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu.
Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, Kenapa aku akan membunuhmu?
Bukankah Bapak sendiri berkata demikian? jawab Handaka.
Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu? tanya Manahan pula.
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox