Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 30 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
226
AKHIRNYA Arya menjadi kelelahan.
Maka bertanyalah ia, Paman..., kemanakah kita pergi?
Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih saja
berjalan cepat-cepat. Karena itu Arya kadang-kadang terpaksa berlari-lari untuk
mengikuti langkah Mahesa Jenar.
Paman..., tunggulah! teriak Arya.
Mahesa Jenar yang sedang diliputi oleh berpuluh ribu masalah itu hampir tak
mendengar suara Arya. Ia masih saja berjalan cepat tanpa menoleh.
Mendengar Arya berteriak-teriak, Mahesa Jenar berhenti menoleh.
Tetapi, Arya yang biasanya mendapat perhatian sepenuhnya dari Mahesa Jenar, kini
rasa-rasanya sangat menjengkelkan sekali. Dengan keras pula Mahesa Jenar
berteriak, Arya..., tidakkah kau dapat berjalan lebih cepat?
Aku lelah sekali Paman, jawab Arya.
Baru beberapa langkah kau berjalan. Ayo belajarlah menjadi seorang laki-laki.
Apakah kau, yang sudah sebesar itu masih harus selalu dimanjakan...? Didukung
sampai punggungku patah? teriak Mahesa Jenar dengan kasarnya.
Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya terkejut bercampur heran.
Ia belum pernah melihat Mahesa Jenar bertindak sekasar itu terhadapnya. Padahal
ia sama sekali tidak merasa berbuat suatu kesalahan. Ia ingat jelas bahwa
pamannya kemarin berkata kepadanya agar ia tidur saja, pamannya akan pergi
berburu. Kemudian ketika ia terbangun, ia sedang didukung oleh pamannya sambil
berlari-lari. Dan sekarang tiba-tiba saja pamannya marah kepadanya.
Sedang Arya kebingungan, terdengar kembali suara Mahesa Jenar, Arya..., tidakkah kau mau berjalan?
Arya tersentak, cepat ia melangkah menyusul. Namun di hatinya terasa ada sesuatu
yang mengeram. Dan tiba-tiba saja terasa tenggorokannya tersumbat. Alangkah
asingnya sikap pamannya. Sikap yang belum pernah dirasakannya selama ia bertemu
dengannya. Apalagi sejak ayahnya meninggalkan Banyubiru, dan sejak beberapa
orang selalu mengejar-ngejarnya dan akan membunuhnya. Pamannya selama itu selalu
melindunginya dengan saksama. Tetapi sekarang sikap Paman Mahesa Jenar itu
tiba-tiba berubah. Maka tanpa dirasanya matanya jadi membasah.
Dengan susah payah Arya berusaha untuk mencegah air mata yang
hampir pecah. Namun akhirnya Arya Salaka tidak tahan lagi. Apalagi ketika
didengarnya Mahesa Jenar membentaknya, Arya, kau anak laki-laki yang sudah
sebesar itu masih juga menangis? Ayo, berlarilah kalau kau masih mau beserta aku.
Kalau tidak, terserahlah kepadamu.
Setelah berkata demikian, Mahes Jenar melangkah melanjutkan perjalanannya. Meskipun kemudian terdengar suara Arya memanggil-manggilnya, Paman..., Paman...!
Tiba-tiba saja langkah Mahesa Jenar terhenti. Dilihatnya di pinggir jalan sempit
di tepi hutan itu seseorang berdiri seperti menantinya. Ketika Mahesa Jenar
berhenti, tampaklah orang itu melambaikan tangannya memanggil. Hati Mahesa Jenar
jadi berdebar-debar, apalagi kemudian ketika dikenalnya orang itu adalah Ki
Ageng Pandan Alas. Kakek dan guru Rara Wilis, yang telah memecahkan hatinya.
Tetapi ketika Mahesa Jenar sadar bahwa ia tidak dapat bermain-main
dengan orang tua itu, maka dengan langkah yang berat ia pergi mendekatinya.
Mahesa Jenar... kata orang tua itu setelah Mahesa Jenar berdiri di hadapannya, Aku menangkap suatu sikap yang aneh padamu.
Mahesa Jenar menundukkan kepalanya tanpa menjawab.
Kenapa kau pergi tanpa pamit kepadaku? lanjut Ki Ageng Pandan Alas.
Juga kali ini Mahesa Jenar tidak menjawab.
Terdengarlah orang tua itu tertawa lirih, namun wajahnya tidak
secerah biasanya.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Tetapi ketika pandangannya
membentur mata orang tua itu, kembali ia menundukkan mukanya. Dengan suara yang
berat ia menjawab, Ki Ageng..., aku adalah orang yang tak berarti, yang tidak
sepantasnya tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng, Adi Pudak Wangi dan Demang
Sarayuda yang kaya raya.
Sekali lagi Ki Ageng Pandan Alas tersenyum.
Mahesa Jenar..., aku telah mendengar seluruhnya
percakapanmu dengan Rara Wilis di padang perburuan.
Aku juga melihat bagaimana kau menyaksikan Rara Wilis berkelahi melawan dua
orang yang kemudian kau bunuh dengan lemparan batu. Tetapi seterusnya, menurut
gagapanku, kau menjadi tersinggung karenanya. Maka segera aku menyusulmu untuk
mendapat penjelasan. Tetapi mendengar kata-katamu tadi, aku dapat mengambil
kesimpulan bahwa kau merasa disisihkan, karena kau bukan seorang yang kaya
seperti Sarayuda, kata Ki Pandan Alas.
Mahesa Jenar mengangguk perlahan-lahan. Ki Ageng..., bukankah Ki Ageng mendengar sendiri, bagaimana Rara Wilis menanyakan kepadaku? Kenapa aku tidak menjabat kedudukanku kembali? Bukankah itu sudah jelas, bahwa Rara Wilis sama sekali tidak senang melihat seseorang yang merantau memperjuangkan keyakinannya?
Bukan tidak senang, Mahesa Jenar... jawab Ki Ageng Pandan Alas, Tetapi
sebagai seorang gadis, pastilah ia berangan-angan. Angan-angan itu akan dapat
dipenuhi oleh Ki Demang Sarayuda, yang memiliki tanah, ternak dan pangkat.
Apalagi ia adalah seorang yang sakti pula, yang akan dapat melindungi
keselamatan Rara Wilis, sela Mahesa Jenar.
Mendengar kata Mahesa Jenar itu, wajah Ki Ageng Pandan Alas nampak berkerut.
Alisnya bergerak-gerak, sedang matanya memancarkan perasaannya yang kecewa.
Mahesa Jenar..., meskipun Sarayuda itu muridku,
namun aku melihat beberapa kelebihan ada padamu.
Tetapi ternyata bahwa kau juga mempunyai kekurangan yang besar. Hatimu keras
seperti baja, tetapi getas seperti baja pula. Kalau demikian... baiklah, aku
akan berusaha untuk membentuk Sarayuda lebih lanjut, untuk melenyapkan
kekurangan-kekurangannya agar dapat menyamaimu.
CERITA BERSAMBUNG = 01 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
227
SETELAH mengucapkan kata-kata itu, dalam sekejap saja Ki Ageng
Pandan Alas telah melangkah jauh. Ketika Mahesa Jenar akan menjawab, orang tua
itu telah hilang masuk ke dalam hutan.
Maka, tiba-tiba timbullah penyesalan di hati Mahesa Jenar.
Mungkin ia sudah menyakitkan hati orang tua itu. Sehingga dengan demikian
kemungkinan untuk dapat kembali kepada Rara Wilis menjadi semakin tipis. Karena
itu tiba-tiba menggeloralah kembali kejengkelan di dalam dadanya. Dunia ini
menjadi seolah-olah gelap dan tanpa masa depan. Hidupnya menjadi tak berarti
sama sekali. Kalau demikian buat apa ia mesti berjuang untuk masa depan. Masa
yang akan dipenuhi oleh kepahitan hidup...?
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Ki Paniling yang
sebenarnya bernama Radite, yang menjauhkan diri dari pergaulan ramai. Yang
kemudian lebih senang hidup diantara para petani miskin tanpa berpikir tentang
masa depan. Tentang negara, tentang bangsa.
O..., adakah demikian balas jasa yang diterimanya atas
perjuangan yang dilakukan selama ini? Kalau demikian maka alangkah tenteramnya
hidup Paniling.
Paman... tiba-tiba terdengar suara Arya dekat di
belakang Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar agak terkejut mendengar suara itu. Tetapi ketika
ia menoleh dan nampak wajah Arya yang kuyu, kembali terungkitlah kejengkelannya.
Anak itu adalah isi dari masa depan yang gelap, yang pahit, yang akan
menyiksanya. Buat apa ia harus ikut serta membinanya. Anak itu bukanlah anaknya.
Biarlah Gajah Sora sendiri bertanggung jawab atasnya. Kalau kelak ia marah
kepadanya, biarlah Gajah Sora mencoba mengukur lebar dadanya.
Karena pengaruh pikirannya yang kelam itu berteriaklah Mahesa
Jenar membentak, Pergi..., pergi kau kelinci cengeng. Buat apa kau ikuti aku?
Mendengar suara kasar itu, dada Arya Salaka rasa-rasanya seperti tersambar petir, sehingga tubuhnya menggigil ketakutan. Belum lagi ia dapat bersuara, Mahesa Jenar telah melompat berlari. Berlari kencang-kencang seperti orang yang kehilangan ingatan. Meskipun kemudian terdengar jerit Arya Salaka, Paman..., Paman... namun suara itu semakin lama semakin jauh semakin jauh di belakangnya.
Suara Arya Salaka itu akhirnya lenyap menghantam batas-batas hutan. Sedang
Mahesa Jenar masih saja berlari menyusup semak-semak seperti orang gila. Dengan
napas yang terengah-engah, ia mendaki bukit kecil sambil masih terus berlari,
menjauhi manusia. Ia akan pergi ke suatu tempat dimana hidupnya tak tersentuh
oleh apapun.
Di puncak sebuah bukit, atau di pusat hutan yang lebat, ia
akan bertapa. Menghadapkan hidupnya melulu buat masa langgeng. Akan
ditinggalkannya dunia yang penuh dengan bayangan dan angan-angan seperti mimpi
yang nikmat, tetapi kemudian yang membantingnya ke dalam jurang kekecewaan yang
maha dalam.
Tetapi, tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat sebuah
bayangan menghadang perjalanannya di tempat yang temaram oleh bayangan pepohonan.
Karena itu segera ia memperlambat langkahnya. Ia menjadi semakin terkejut lagi
ketika dari kejauhan dilihatnya bayangan itu mengenakan jubah abu-abu.
Pasingsingan... desisnya. Hatinya kemudian agak gelisah.
Tetapi tiba-tiba ia tersenyum sendiri.
Bagus, desisnya. Kalau Pasingsingan mau membunuh aku pula, aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Mendapat pikiran itu, kembali Mahesa Jenar berlari, ke arah orang yang berjubah
abu-abu yang disangkanya Pasingsingan itu. Tetapi kembali ia terkejut bukan
kepalang, ketika ternyata orang yang berjubah abu-abu itu tidak mengenakan
topeng kasar seperti yang biasa dipergunakan oleh Pasingsingan.
Apalagi ketika Mahesa Jenar sempat memandang wajah orang itu.
Kurus dan janggutnya yang sudah putih tumbuh lebat pepat, menutup sebagian dari
mukanya, sedang rambutnya yang sudah putih dibiarkannya terurai menjuntai dari
bawah ikat kepalanya. Menilik garis-garis umur yang tergores di keningnya,
nyatalah bahwa umur orang itu sudah sangat tua, namun tubuhnya masih nampak
segar dan kuat.
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang telah
mengambil keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten di Banyubiru. Orang itu
berpakaian mirip dengan jubah Pasingsingan, namun bukan Pasingsingan. Sedang
rambutnya yang putih itu, dapat saja pada waktu ia mengambil keris di Banyubiru
digelungnya di bawah ikat kepalanya. Adapun wajahnya, tak seorangpun yang
mengetahuinya. Karena itu tiba-tiba timbul dugaannya bahwa orang inilah yang
telah mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Maka dengan tiba-tiba pula Mahesa Jenar berteriak, He Kyai..., adakah kau yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten?
Orang itu sama sekali tidak menjawab dan tidak bergerak. Hanya matanya saja yang
tajam bersinar memandang ke arah Mahesa Jenar tanpa berkedip.
Karena pandangan mata itu, hati Mahesa Jenar jadi gelisah.
Seolah-olah ada suatu pengaruh yang aneh pada dirinya. Maka untuk mengatasi
kegelisahannya, kembali ia berteriak, He, siapakah kau, yang telah berani
mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyu Biru...?
Orang itu masih belum menjawab. Tetapi pandangan matanya semakin dalam menembus dada Mahesa Jenar yang menjadi semakin gelisah. Dan seperti orang yang bingung, Mahesa Jenar membentak-bentak, Kau yang mengambil, he..? Ayo bilang, tak usah kau ingkari. Kalau demikian, kembalikan keris itu kepadaku. Kembalikan...!
Karena orang itu masih saja tidak menjawab, perasaan Mahesa Jenar menjadi
semakin melonjak-lonjak. Timbullah suatu perasaan kecut dan ngeri di dalam
dirinya. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya itu memancarkan suatu
perbawa yang aneh. Sehingga kemudian Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan
kecemasannya, bercampur-baur dengan perasaan bingung dan pepat.
CERITA BERSAMBUNG = 02 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
228
MAHESA JENAR mundur beberapa langkah, disilangkan satu
tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi. Sambil memusatkan
segala tenaganya, Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya dan ditekuknya ke depan.
Sambil berteriak nyaring Mahesa Jenar meloncat maju, Kembalikan keris-keris
itu atau kau binasa.
Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa
tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak
terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap
tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang
ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang
tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah
menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah
seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan
demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.
Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat
sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang
maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika
tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan
kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk
bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu.
Dengan gemetar Mahesa Jenar berkata, Maafkanlah kelancanganku Kyai, dan perkenankanlah aku mengetahui siapakah sebenarnya Tuan?
Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum.
Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali, jawabnya.
Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu,
Mahesa Jenar menjadi tertegun heran. Apakah gerangan maksudnya?
Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan, Mahesa Jenar..., apakah
sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?
Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah,
apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini...?
Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini,
yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada
orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang
sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.
Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua
itu meneruskan, Aku kira, aku dapat menduga-duga apa yang sebenarnya telah
kau alami Mahesa Jenar. Dan ketika aku melihat kau berlari-lari ke arah yang
sama sekali tak kau ketahui, aku pun dapat mengira-ngira pula, apa yang akan kau
lakukan. Sebab sebagian besar dari percakapanmu dengan Kyai Ageng Pandan Alas,
serta kemarahanmu kepada Arya Salaka dapat aku dengar. Ditambah lagi dengan
beberapa kejadian akhir-akhir ini yang dapat aku lihat pula. Hubunganmu dengan
cucu Ki Ageng Pandan Alas serta murid Ki Ageng Pandan Alas yang bernama Sarayuda.
Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula.
Maka katanya, Apa yang Tuan katakan adalah benar.
Maka terdengarlah orang tua itu tertawa. Bagus... katanya. Kau sadari semua
itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?
Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula.
Karena itu jawabnya, Aku akan pergi bertapa, Kyai. Menjauhi kesibukan kesibukan duniawi yang menjemukan.
Sekali lagi orang tua itu tertawa.
Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan
manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu
dengan sendirinya?
Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat
ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah
sebenarnya yang dicarinya selama ini?
Mahesa Jenar... lanjut orang tua itu, Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?
Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari
yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya
telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya.
Masihkah kau akan melanjutkan mencari pusaka-pusaka yang hilang itu? tanya orang tua itu.
Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak.
Jawabnya tergagap, Ya... Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?
CERITA BERSAMBUNG = 3 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
229
ORANGTUA itu tersenyum, lalu jawabnya, Aku tahu. Kedua
keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu.
Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua
itu.
Mahesa Jenar... lanjut orang itu, hati-hatilah kelak
akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan
Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang
mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah
keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi.
Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan
itu.
Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar,
Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?
Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya, Paman..., Paman Mahesa Jenar..., di manakah kau Paman...?
Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti
kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.
Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar? tanya orang tua itu sambil tersenyum.
Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah
ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan
dan kekalutan pikiran.
Mahesa Jenar... terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu, Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu.
Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya,
Siapakah sebenarnya Tuan?
Orang tua itu tersenyum.
Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat
itu melangkah pergi.
Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan, Paman..., Paman Mahesa Jenar.... Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman...?
Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah
menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia
menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu
ia berteriak pula, Arya..., tunggulah Paman segera datang.
Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya
menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar,
berteriak lebih keras lagi, Paman..., Paman....
Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul
dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya
sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa
Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab,
dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.
Arya.... bisik Mahesa Jenar.
Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu.
Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.
Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat
itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.
Arya... kata Mahesa Jenar, Anak laki-laki tidak
sepantasnya menangis. Diamlah.
Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan
kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya
kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang
tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
Sudahlah Arya... sambung Mahesa Jenar, Kalau kau terlalu lama menangis
kau dapat kemasukan angin.
"Aku takut" kata Arya.
Takut...? tanya Mahesa Jenar. Apa yang kau takutkan?
Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri, jawab Arya.
CERITA BERSAMBUNG = 4 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
230
MENDENGAR jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Adalah wajar
kalau seorang anak sebesar Arya Salaka menjadi ketakutan ditinggalkan seorang
diri di padang ilalang di pinggir hutan yang sama sekali tak dikenalnya,
bagaimanapun beraninya anak itu.
Tidak Arya..., Paman tak akan meninggalkan kau sendiri, kata Mahesa Jenar membesarkan hati anak itu.
Tetapi tadi Paman berlari kencang sekali, potong Arya.
Mendengar kata-kata Arya itu, Mahesa Jenar tersenyum. Senyuman yang pahit bagi
dirinya sendiri.
Namun jawabnya, Tadi Paman tidak akan meninggalkan kau, Arya. Tetapi karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan, dan tidak boleh orang lain tahu, apalagi anak-anak. Karena hal itu adalah rahasia besar, maka aku pergi mendahuluimu untuk beberapa lama.
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan pandangan yang penuh keragu-raguan. Apa
yang dilakukan oleh Mahesa Jenar tadi menurut anggapannya bukanlah sekadar
mendahului, tetapi benar-benar telah berusaha untuk meninggalkannya.
Karena itu ia bertanya, Tetapi tadi Paman marah kepadaku.
Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Namun hatinya mengeluh. Sudahlah Arya,
sekarang dan seterusnya Paman tak akan meninggalkan kau lagi.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hatinya masih tetap ragu.
Kemana Paman pergi, aku ikut Paman.
Bagus Arya, bagus, jawab Mahesa Jenar. Nah, sekarang kemana?
Terserahlah kepada Paman, jawab Arya.
Kau lelah? tanya Mahesa Jenar.
Tidak, kalau berjalan dengan Paman aku masih kuat, jawab Arya dengan mantapnya, meskipun sebenarnya kakinya sudah terlalu letih. Agaknya Mahesa Jenar mengetahui pula kelelahan Arya, karena itu katanya,
Kita beristirahat sebentar Arya, nanti kalau kau sudah
tidak begitu letih, kita berjalan kembali.
Arya menjadi gembira mendengar ajakan pamannya. Memang sebenarnya ia lelah sekali setelah beberapa lama berlari-lari mengejar Mahesa Jenar. Maka jawabnya,
Baiklah Paman. Aku akan beristirahat dahulu.
Kemudian mereka mencari tempat yang teduh di bawah pepohonan,
di tepi hutan. Arya Salaka dengan segera merebahkan dirinya berbaring diatas
rumput-rumput kering. Dan, karena lelahnya maka segera ia pun tertidur.
Mahesa Jenar memandang Arya yang sedang tidur itu dengan
perasaan belas kasih. Apalagi kalau diingatnya, bahwa hampir saja anak itu
ditinggalkannya seorang diri. Dari wajah anak itu tampaklah memancar ketulusan
serta keberanian yang diwarisinya dari ayahnya, Gajah Sora. Karena itu, apabila
Arya Salaka menerima pendidikan serta latihan yang baik, pastilah kelak ia akan
menjadi seorang pemuda yang perkasa.
Sementara itu matahari telah menempuh lebih dari tigaperempat bagian dari jalan
peredarannya, karena itu panasnya tidak begitu tajam lagi. Di langit yang biru
bersih, hanya kadang-kadang saja tampak awan tipis mengalir perlahan-lahan.
Bersama dengan awan yang tipis itu kenangan Mahesa Jenar
membubung tinggi. Diingatnya segenap masa lampaunya yang penuh dengan
bermacam-macam kejadian silih berganti. Ketenaran dua keagungan sebagai seorang
perwira pasukan Naramanggala, kepahitan dan kekecewaan, kecemasan dan
bermacam-macam lagi peristiwa yang datang silih berganti di masa perantauannya.
Namun akhirnya, ketika awan di langit itu pecah berpencaran
ditiup angin, maka hilang pulalah semua kenangan yang mengganggu pikiran Mahesa
Jenar. Yang tampak sekarang adalah masa yang menghadang di hadapannya. Masa yang
akan penuh dengan tantangan-tantangan yang harus dijawab dengan
tindakan-tindakan yang tepat.
Tetapi kemudian tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang
tua yang telah membawanya kembali ke jalan yang lurus. Siapakah kira-kira orang
itu? Benarkah orang itu yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai
Sabuk Inten?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan kepadanya maka ia sama sekali tidak
menyangkalnya meskipun tidak pula membenarkan. Ditilik dari pakaiannya maka
Mahesa Jenar hampir pasti bahwa orang itulah yang mengambil kedua pusaka itu
dari Banyubiru, sebab jarang orang yang berpakaian jubah berwarna abu-abu,
kecuali Pasingsingan dan orang itu.
Meskipun Mahesa Jenar belum pernah melihat wajah asli
Pasingsingan yang nama sebenarnya adalah Umbaran, namun pastilah bahwa orang tua
itu bukannya Umbaran.
Kalau demikian sampailah Mahesa Jenar pada suatu dugaan bahwa orang tua itu
adalah Pasingsingan tua, guru dari Paniling, atau yang sebenarnya bernama Radite,
Anggara dan Umbaran. Namun ia sendiri tidak yakin, apakah dugaannya itu benar.
Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa usaha untuk menemukan
keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten akan merupakan suatu usaha yang berjangka
panjang. Sebab sampai saat itu segala sesuatunya masih gelap. Gelap sama sekali.
Tak ada satu titik pun yang dapat menunjukkan arah lenyapnya
kedua pusaka yang sedang menjadi rebutan oleh beberapa pihak itu. Akibat dari
itu, pasti akan menyangkut Gajah Sora pula. Makin lama waktu yang diperlukan
untuk menemukan kedua keris itu, semakin lama pula waktu pembebasan yang akan
diberikan kepadanya. Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Paningron
dan Gajah Alit dapat menolong meringankan tuduhan yang dibebankan kepada Gajah
Sora.
Tetapi ketika Mahesa Jenar baru asyik berangan-angan, tiba-tiba terdengarlah derap kuda yang semakin lama semakin dekat. Karena itu segera didukungnya Arya yang masih tidur, dibawa masuk ke dalam semak-semak yang rimbun. Untunglah bahwa Arya yang kelelahan itu tidak terbangun. Sedang Mahesa Jenar, dengan hati-hati sekali mengintip dari celah-celah rapatnya dedaunan ke arah suara kuda-kuda itu.
CERITA BERSAMBUNG = 5 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
231
SEBENTAR kemudian dari balik tikungan semak-semak muncullah tiga orang berkuda. Melihat tiga orang itu, dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar.
Mereka adalah sepasang Uling dari Rawa Pening, disertai oleh
Sri Gunting.
Menilik perbekalan mereka, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa dua
bersaudara Uling itu akan menempuh perjalanan yang jauh. Mula-mula timbul
keinginan Mahesa Jenar untuk menghadang mereka serta langsung membinasakan
mereka.
Tetapi tiba-tiba diingatnya pesan Ki Paniling, bahwa ia
dinasehatkan untuk tidak bertindak tergesa-gesa. Ia harus tahu pasti bahwa
tindakannya benar-benar akan menguntungkan. Sedang pada saat itu, ia masih belum
yakin bahwa ia seorang diri dapat mengalahkan orang-orang itu.
Apalagi ia sedang membawa Arya. Kalau sampai terjadi sesuatu
atas anak itu, maka letak kesalahan ada padanya. Karena itu akhirnya, Mahesa
Jenar hanya mengintip dengan dada yang bergetar menahan perasaannya.
Ketika ketiga orang itu lenyap dari pandangan matanya, Mahesa
Jenar segera menyadari, betapa semakin sulitnya pekerjaan yang akan dilakukan.
Dengan melihat kedua orang itu Mahesa Jenar dapat menerka, bahwa pasti tidak
saja sepasang Uling itu yang pergi merantau, tetapi pasti juga tokoh-tokoh hitam
yang lain, menempuh perjalanan dan bertebaran ke segenap penjuru untuk
dahulu-mendahului menemukan Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Kalau saja ia bertemu dengan Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, bagaimanapun masih ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menyelamatkan diri.
Tetapi bagaimana halnya kalau di perjalanan ia berjumpa dengan
tokoh-tokoh tua seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Bugel Kaliki dan
barangkali tokoh-tokoh tua yang berdiri di belakang Sepasang Uling dan Jaka Soka,
atau guru-guru mereka, yang ternyata juga mengingini pusaka-pusaka itu?
Terhadap mereka tidak akan banyak yang dapat dilakukan.
Untunglah sampai saat ini beberapa kali jiwanya selalu terselamatkan oleh
pertolongan mereka dari angkatan yang sebaya. Tetapi kalau tak seorangpun dari
mereka yang melihat, pasti bahwa tinggal nama Mahesa Jenar saja yang mungkin
masih sering disebut-sebut orang.
Mengingat hal itu, tiba-tiba dirasanya bulu tengkuknya berdiri.
Tetapi ketika segera menyusul gema yang berkumandang di rongga hatinya, gema
suara orang tua yang tak dikenalnya, yang mengatakan bahwa Keris Nagasasra dan
Sabuk Inten berada di dalam kekerasan hatinya serta usahanya, maka nyala tekad
di dalam hatinya berkobar semakin besar, sebesar nyala api di lubang kepundan
Gunung Merapi, yang tak akan dapat padam oleh hujan selebat apapun serta angin
sekencang apapun.
Sementara itu Arya telah menggeliat pula. Ketika ia membuka
matanya maka yang pertama-tama dilakukan adalah berteriak memanggil, Paman...,
Paman Mahesa Jenar....
Sst...! desis Mahesa Jenar. Kenapa kau berteriak,
Arya...?
Dengan pandangan yang masih diliputi oleh keragu-raguan, Arya mengawasi Mahesa
Jenar tanpa berkedip. Paman tidak meninggalkan aku lagi bukan?
Mahesa Jenar tertawa kosong, dengan penuh pengertian atas
kecemasan yang mencengkam perasaan Arya.
Kalau aku akan meninggalkan engkau, bukankah lebih baik
pada saat kau sedang tidur?
Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya menjadi percaya bahwa
pamannya tidak akan pergi meninggalkannya. Setelah beberapa kali menggeliat,
segera Arya duduk di samping Mahesa Jenar.
Sudah tidak lelah lagi kau Arya? tanya Mahesa Jenar.
Bukankah sejak tadi aku tidak lelah Paman? jawab anak itu.
Terdengar Mahesa Jenar tertawa pendek, katanya meneruskan,
Bagus kalau begitu. Nah sekarang kau sudah siap untuk berjalan lagi?
Tentu Paman, tentu aku siap berjalan setiap saat, sahut Arya.
Kalau begitu, mari kita berjalan, ajak Mahesa Jenar.
Oleh ajakan itu segera Arya meloncat berdiri dengan sigapnya. Memang setelah ia
tertidur beberapa lama, tubuhnya telah menjadi segar kembali.
Kita sekarang kembali ke rumah kita sebentar Arya, ajak Mahesa Jenar meneruskan.
Kenapa hanya sebentar Paman? tanya Arya.
Biarlah kami tinggalkan rumah itu. Rumah dimana kau hampir saja mengalami
bencana, jawab Mahesa Jenar.
Seterusnya ia menerangkan, Arya, rumah itu ternyata sudah diketahui oleh
orang-orang yang ingin membunuhmu. Karena itu bukankah lebih baik kalau kita
pergi? Kita mampir sebentar hanyalah untuk mengambil tombak pusaka Banyubiru
Kyai Bancak. Biarlah tombak itu kau bawa serta. Supaya tidak mencurigakan, nanti
sebaiknya kita lepas tangkainya.
Baiklah Paman, jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian berangkatlah mereka berdua meneruskan perjalanan.
Tidak lama kemudian matahari tenggelam di ujung barat langit.
Dalam kegelapan, mereka tetap meneruskan perjalanan. Mahesa
Jenar yang berpandangan tajam dapat menempuh perjalanan dengan tidak banyak
menemui kesulitan, sambil menggandeng Arya Salaka.
Belum sampai tengah malam, mereka berdua telah tiba di
pedukuhan dimana telah mereka bangun tempat untuk berteduh.
Pada pagi harinya, tetangga-tetangga Mahesa Jenar yang baik
hati, ketika mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil menemukan anak yang
mereka anggap anak Mahesa Jenar sendiri, dengan selamat, segera berkerumun untuk
mengucapkan syukur.
Mereka bertanya bergantian tak ada henti-hentinya sehingga
Mahesa Jenar kerepotan untuk menjawabnya.
CERITA BERSAMBUNG = 6 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
232
TETAPI kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu
menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada
mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di
pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani
yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah
seorang dari mereka, Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?
Tidak, Bapak, sahut Mahesa Jenar cepat. Sama sekali
tidak.
Atau barangkali Anda marah kepada kami? sambung yang lain, Karena kami
tidak dapat melindungi anak Adi?
Juga tidak, jawab Mahesa Jenar. Tidak ada kesalahan saudara-saudara
kepada kami.
Lalu kenapa Adi mau pergi? tanya seseorang pula.
Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata,
Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena
kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku
ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari
nasibku sendiri.
Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala.
Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat
hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.
Pada suatu saat kami akan datang kembali, kata Mahesa Jenar
kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.
Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya
kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.
Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah
selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk
sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di
bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas
dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.
Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata.
Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak
yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan
bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti
meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan.
Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah
perdikan Banyubiru.
Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan
apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya.
Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka
apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di
rerumputan yang hijau segar.
Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah
gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang
kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian
burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.
Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar
memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di
belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.
Arya... kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama. Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya. Apakah kalau aku berganti
nama, orang tak mengenal aku lagi? katanya.
Bukan begitu Arya, jawab Mahesa Jenar. Tetapi setidak-tidaknya orang
tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang
dapat menemukanmu?
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud
Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, Paman, meskipun namaku sudah
diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan
bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang
selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar.
Kau benar-benar cerdas Arya, jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, Aku
setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama.
Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.
Nah, Arya... siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu? tanya
Mahesa Jenar kemudian.
Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama
kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, Terserahlah kepada paman.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.
Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar.
Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku
mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus
lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama
yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu
benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu
nama Handaka.
Handaka... ulang Arya, Apakah Handaka itu?
Handaka adalah nama binatang bertanduk pula, jawab Mahesa Jenar. Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng.
CERITA BERSAMBUNG = 7 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
233
MENDENGAR uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka
dengan bangga ia berkata, Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang
seekor banteng.
Apa kata ayahmu? tanya Mahesa Jenar.
Banteng adalah binatang yang hebat sekali, jawab Arya.
Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka, kata Mahesa Jenar
meneruskan.
Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?
Handaka Sora, seperti nama ayah, usul Arya.
Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu, jawab Mahesa Jenar.
Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan
menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar.
Lalu apakah yang baik menurut Paman? tanya Arya Salaka.
Begini Arya... aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah....
Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?
Mata Arya menjadi berkilat-kilat. Bagus... Paman. Bagus
sekali. Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, Dan sekarang
siapakah namaku?
Terserahlah kepada Paman, jawab Bagus Handaka.
Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk
seterusnya.
Baiklah Bapak.
Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat
ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan.
Baiklah Bapak Manahan.
Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun
apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali
ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan.
Tentu Paman... eh... Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta.
Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula, Bagus Handaka,
karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan
sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu
Lembu Sora.
Adi Sawung Sariti? potong Bagus Handaka.
Manahan mengangguk. Katanya meneruskan, Anak itu pun
sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat
pula. Karena itu kau jangan sampai kalah.
Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku
tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora, jawab Bagus Handaka.
Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan
diri, desis Bagus Handaka.
Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam
arus angan-angan masing-masing.
Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi
gunung serta lembah-lembah.
Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh
dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian
bernama Bagus Handaka.
Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas.
Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu
tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan
Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila
mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka
jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota,
mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.
Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu
keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan
apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam
dada mereka.
Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus
Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan
kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia
harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu,
sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri
dengan segala unsur-unsurnya.
Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan
tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya
dapat dikuasainya dengan baik.
Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.
CERITA BERSAMBUNG = 8 OKTOBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
234
AKHIRNYA mereka sampai ke suatu daerah pedukuhan yang kecil,
dimana para penduduknya hidup sebagai nelayan. Disamping itu mereka gemar
berburu kalong, sejenis binatang malam yang mirip dengan kelelawar, tetapi lebih
besar dan pemakan buah-buahan. Meskipun ada juga diantara mereka yang bercocok
tanam, tetapi penghidupan sebagai seorang petani agak tidak begitu menarik
perhatian.
Di pedukuhan itulah Manahan dan Bagus Handaka berhenti berjalan. Mereka menyatakan diri untuk tinggal bersama-sama di padepokan itu. Meskipun penduduknya tampaknya agak bersikap kasar, namun sebenarnya hati mereka tulus.
Karena itu Manahan dan anaknya diterima oleh mereka dengan
tangan terbuka.
Di pedukuhan itulah Manahan menambah jumlah mereka yang
mengolah tanah pertanian. Dengan tidak mencolok Manahan membawa cara-cara baru
dalam pengolahan tanah dan cara-cara pengairan yang agak teratur. Karena itu
dalam waktu singkat Manahan telah menjadi orang yang disenangi oleh penduduk
pedukuhan itu.
Di pedukuhan itu, Bagus Handaka mendapat kesenangan baru. Dengan para nelayan
kadang-kadang ia ikut serta berlayar menangkap ikan. Adalah mengherankan bahwa
Handaka yang belum begitu lama hidup di kalangan para nelayan, kesigapannya
telah hampir melampaui pemuda-pemuda nelayan yang sebayanya.
Agaknya kesenangannya bermain-main di Rawa Pening, serta
kegemarannya menangkap Uling, merupakan bekal yang baik bagi seorang nelayan.
Apalagi darah pelaut yang mengalir dalam tubuh ayahnya, Gajah Sora, agaknya
melimpah juga kepada anak ini. Ditambah lagi dengan latihan-latihan keprigelan
yang diterimanya dari Manahan. Dengan demikian Handaka pun menjadi cepat
terkenal diantara teman-temannya. Bahkan orang-orang tua pun kemudian
mengaguminya.
Tetapi ada kegemaran Handaka yang lain, yang tidak sama dengan
pemuda-pemuda nelayan pada umumnya. Handaka mempunyai kegemaran menyepi apabila
semua pekerjaannya sudah selesai. Kadang-kadang ia betah duduk lama-lama di
pasir pantai yang sepi. Memandang ke arah laut yang luas. Pada
gelombang-gelombang yang selalu bergerak disapu angin.
Apabila tubuhnya terasa lelah sekali, di pasir pantailah
Handaka merebahkan diri, yang kadang-kadang ketika terdengar ayam berkokok
menjelang matahari terbit, ia baru bangkit dan berjalan pulang ke pondoknya.
Manahan sama sekali tidak keberatan atas kelakuan muridnya itu. Ia mengharap bahwa dengan demikian Bagus Handaka mendapat ketenangan dan pengendapan.
Dalam kesepian yang demikian kadang-kadang ditemukannya
masalah-masalah besar dalam perjuangan masa depan. Karena itu ia sama sekali tak
mengganggunya.
Dibiarkannya Handaka pada saat terluangnya menyepikan diri,
sedang Manahan sendiri waktu-waktu luangnya selalu diisi dengan duduk-duduk di
sudut desa bersama-sama dengan para petani yang menunggui sawahnya yang sering
diganggu oleh babi hutan. Dalam keadaan yang demikian banyaklah masalah-masalah
yang dapat diberikan kepada para petani secara tidak langsung.
Tetapi pada suatu malam terjadilah suatu hal yang mengejutkan.
Saat itu, ketika malam kelam membalut pantai, Handaka sedang duduk seperti biasa
merenungi lampu-lampu perahu nelayan yang hilir-mudik di laut. Tiba-tiba
dilihatnya seseorang berjalan lurus ke arahnya. Di dalam gelap malam, Handaka
tidak segera mengenal siapakah orang itu. Tetapi ia tahu pasti bahwa orang itu
bukanlah Manahan.
Ketika orang itu sudah berdiri dekat di hadapannya, mendadak
tanpa berkata apa-apa orang itu langsung menyerangnya. Mula-mula Handaka
terkejut bukan main, tetapi kemudian ia sadar bahwa ia harus membebaskan dirinya.
Karena itu segera ia meloncat menghindar. Tetapi penyerangnya tidak
membiarkannya lolos, malahan kembali ia menyerang lebih hebat.
Untuk beberapa saat Handaka menjadi ragu. Apakah salahnya dan siapakah orang itu? Sambil meloncat menghindar, ia berteriak, Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?
Tetapi penyerang itu sama sekali tak menghiraukannya. Dengan penuh nafsu orang
itu menyerang terus.
Akhirnya karena tak ada kemungkinan lain, Handaka terpaksa melayaninya.
Mula-mula ia masih berusaha untuk meyakinkan orang itu, bahwa
mungkin ia keliru. Sebab selama ini Handaka merasa tak ada seorang pun yang
memusuhinya di seluruh pedukuhan nelayan itu.
Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang dalam, Bagus Handaka, kau sekarang tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku.
Sekali lagi ia mencoba bertanya, Apakah hubunganmu dengan diriku sehingga kau
bermaksud menangkap aku? Dan siapakah sebenarnya kau ini?
Orang itu tidak menjawab, tetapi tertawanya yang nyaring terdengar sangat
mengerikan. Dan berbareng dengan itu serangannya menjadi bertambah cepat dan
mendesak.
Tetapi Bagus Handaka sekarang bukanlah Arya Salaka dua tahun
yang lalu. Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang meskipun umurnya belum lebih
dari 15 tahun, namun karena gemblengan yang menempa dirinya setiap saat, maka ia
adalah seorang pemuda yang tangkas dan kuat. Karena itu ia dapat berkelahi
dengan tenang dan lincah. Sehingga serangan-serangan orang yang tak dikenalnya
itu beberapa kali dapat dihindarinya dengan mudah.
Tetapi ia tidak dapat terus-menerus menghindar dan mengelak.
Sebab orang yang menyerangnya menjadi semakin marah. Gerak-geriknya semakin
cepat dan berbahaya. Karena itu, akhirnya Bagus Handaka terpaksa melakukan
serangan-serangan pula, sebagai suatu cara terbaik untuk mempertahankan diri.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin hebat. Namun di masa-masa yang pendek, Bagus Handaka sempat mengamat-amati wajah penyerangnya. Orang itu agaknya telah berumur sedikit lebih tua dari gurunya. Wajahnya tampak bengis dan berkumis tebal. Selebihnya ia tidak begitu jelas. Kecuali orang itu selalu bergerak, juga karena malam yang kelam.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
235
UNTUNGLAH bahwa orang itu tidak memiliki ilmu yang tinggi,
sehingga meskipun Bagus Handaka pantas menjadi anaknya, tetapi dalam perkelahian
itu, meskipun ia harus bekerja keras, ia sama sekali tidak perlu cemas akan
kesudahan dari pertempuran itu.
Setelah mereka bertempur beberapa lama, akhirnya Bagus Handaka
mendengar desah nafas lawannya semakin lama semakin cepat. Ia menjadi bergembira,
karena dengan demikian ia tahu bahwa sebentar lagi lawannya akan kehabisan nafas.
Karena itu, ia tidak perlu untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Ia cukup
mengganggunya sehingga apabila nafas orang itu telah benar-benar tersekat, maka
ia dengan mudah akan dapat menangkapnya. Mungkin gurunya tahu siapakah orang itu.
Tetapi agaknya penyerang itu menyadari kelemahannya.
Karena itu, dengan tergesa-gesa orang itu meloncat mundur
sebelum kehabisan nafas dan berusaha melarikan diri. Tetapi Bagus Handaka sama
sekali tak melepaskannya. Cepat ia berusaha mengejarnya. Namun ia menjadi
keheran-heranan. Orang yang nafasnya tinggal seujung kuku itu, masih dapat
melarikan diri dari kejarannya.
Bagus Handaka berhenti mengejar ketika orang itu menyusup ke dalam semak-semak
yang rimbun. Sulitlah baginya untuk mencari seseorang di dalam gelapnya malam
diantara semak-semak itu.
Setelah puas merenungi semak-semak itu, kemudian dengan
langkah yang berat Bagus Handaka berjalan pulang ke pondoknya. Di dalam otaknya
terjadilah suatu keributan. Ia sibuk menebak-nebak, siapakah orang yang dengan
tiba-tiba saja menyerangnya. Bukan karena suatu kekeliruan, tetapi benar-benar
dirinyalah yang dicari.
Sampai di pondoknya segera ia mencari gurunya. Tetapi ternyata
Manahan masih belum pulang. Bagus Handaka yang tahu akan kebiasaan gurunya
segera pergi menyusul ke pojok desa.
Tetapi akhirnya ia menjadi ragu. Apakah hal yang demikian saja
sudah merupakan suatu hal yang perlu dibicarakan dengan gurunya. Apakah dalam
hal-hal yang kecil tidak cukup kalau diselesaikannya sendiri.
Karena pikiran itu maka Bagus Handaka kemudian membatalkan
maksudnya untuk menyatakan peristiwa yang baru saja dialami itu kepada gurunya.
Sehingga ketika ia sampai di pojok desa, dan ketika ia sudah duduk diantara para
petani dan nelayan yang sedang tidak turun ke laut, ia sama sekali tak berkata
apapun mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau mengganggu
Manahan dengan soal-soal yang remeh-remeh.
Tetapi apa yang dialami kemudian adalah sangat memusingkan
kepalanya. Pada malam berikutnya, ketika ia sedang berbuat seperti kebiasaannya,
tiba-tiba datanglah seseorang yang juga tanpa sebab menyerangnya. Tetapi orang
ini adalah orang yang lain dari yang menyerangnya kemarin. Orang ini agaknya
sudah jauh lebih tua dari gurunya.
Seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka berusaha pula
meyakinkan bahwa mungkin orang itu keliru. Tetapi juga seperti malam sebelumnya,
Bagus Handaka terkejut dan keheran-heranan ketika orang yang menyerangnya itu
berkata dengan suara yang tinggi, Tak usah kau mengelakkan diri. Soalnya
sudah cukup jelas. Dan kau harus menyerah kepadaku sebelum orang lain berhasil
menangkapmu mati atau hidup.
Maka bersilang-silanglah teka-teki di dalam kepala Bagus Handaka. Apakah sebabnya maka hal ini bisa tejadi? Tiba-tiba ia teringat kepada orang-orang yang beberapa tahun yang lalu memburunya. Adakah orang-orang ini juga terdiri dari gerombolan yang sama? Karena itu dengan keras Bagus Handaka berkata, Hai orang tua yang tak tahu diri, adakah kau termasuk dalam gerombolan orang-orang yang akan membunuhku beberapa tahun yang lalu?
Terdengar orang itu tertawa dengan nada yang tinggi. Jawabnya, Aku tidak
mengenal orang-orang lain yang memburumu. Tetapi aku memerlukan kau seperti
orang-orang lain yang barangkali juga memerlukan.
Bagus Handaka menjadi semakin bingung. Adakah hubungan semua itu dengan tanah
perdikan Banyubiru?
Banyubiru? tanya orang tua itu dengan heran. Aku
belum pernah mendengar nama Tanah Perdikan Banyubiru.
Lalu apa perlumu menangkap aku? potong Handaka.
Sekali lagi orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang semakin tinggi.
Tetapi bersamaan dengan itu serangan menjadi bertambah cepat dan berbahaya.
Bagus Handaka pun kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Ia menjadi jengkel sekali
atas kejadian-kejadian itu. Karena itu ia bertekad untuk menangkap penyerangnya
kali ini.
Tetapi ternyata orang tua ini mempunyai ilmu yang agak lebih
tinggi dari orang yang menyerang kemarin. Meskipun umurnya sudah lanjut, namun
geraknya masih sangat membahayakan. Serangannya datang tiba-tiba dan
kadang-kadang tak terduga.
Mula-mula Bagus Handaka menjadi agak mengalami kesulitan. Ia
belum pernah melihat beberapa dari unsur-unsur gerak lawannya. Tetapi karena
orang tua itu agaknya belum memiliki unsur-unsur gerak yang banyak macamnya,
maka serangannya selalu dilakukan berulang kali dengan unsur-unsur gerak yang
hanya ada beberapa macam itu saja. Meskipun unsur-unsur gerak itu mula-mula agak
membingungkannya, tetapi lambat laun dapat dikuasainya. Apalagi karena Bagus
Handaka sendiri telah banyak menerima bahan-bahan serta ilmu yang cukup banyak
dari gurunya.
Malahan ketika mereka telah bertempur beberapa lama, Bagus
Handaka mulai dapat mengenal ilmu lawannya dengan baik. Karena itu seperti malam
sebelumnya, ia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia pasti akan dapat
mengatasi lawannya yang sudah tua itu.
Tetapi karena kali ini ia benar-benar ingin menangkap
penyerang itu, maka Bagus Handaka selalu berusaha untuk dengan secepat-cepatnya
menjatuhkan lawannya, meskipun hal itu tidak dapat dilakukannya dengan mudah.
Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox