Nagasasra dan Sabukinten

Rasa cemburu dan kecewa menyerang diri Mahesa Jenar

Pondok GajahSora.Net

 

CERITA BERSAMBUNG = 25 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
221

TIDAK demikianlah dengan Pudak Wangi. Tangannya yang memegang pedang itu bergerak dengan cepatnya. Agaknya menjadi ciri dari ilmu pedang Ki Ageng Pandan Alas, bahwa daun pedang itu tampaknya selalu bergetar, sehingga mengaburkan arah geraknya. Untuk melawan ilmu pedang dari Gunung Kidul itu, kedua orang Lembu Sora harus bekerja mati-matian. Mereka mengandalkan kekuatan tenaga mereka, ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang mereka dapat puluhan tahun. Meskipun demikian kadang-kadang nyawa mereka hampir saja disambar oleh pedang Pudak Wangi.

Untunglah bahwa Pudak Wangi sangat kurang pengalaman. Ia belum pernah mengalami perkelahian benar-benar yang dapat mengancam jiwanya maupun jiwa orang lain. Sampai sedemikian jauh Pudak Wangi baru mengalami latihan-latihan dengan gurunya serta kakak seperguruannya, Sarayuda. Karena itu, maka dalam saat-saat yang menentukan ia menjadi agak ragu-ragu. Beberapa kali tampak Pudak Wangi menarik kembali serangannya yang sangat membahayakan jiwa lawan-lawannya.

Dengan demikian maka akhirnya Pudak Wangi berada di dalam kekuasaan lawan-lawannya yang sama sekali tidak tahu diri. Mereka sama sekali tidak peduli bahwa lawannya kadang-kadang tidak sampai hati melukai kulitnya. Bahkan mereka telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Meskipun kemudian Pudak Wangi sadar bahwa seharusnya ia tidak beragu-ragu lagi, namun waktunya telah agak terlambat. Lawan-lawan Pudak Wangi telah berhasil menempatkan diri mereka pada kedudukan yang menentukan.

Mengalami hal yang demikian itu, Pudak Wangi menjadi agak bingung. Ia masih belum tahu beberapa kesempatan yang dapat dipergunakan untuk mengatasi keadaan, karena kurangnya pengalaman.

Maka segera teringatlah Pudak Wangi kepada Mahesa Jenar. Dengan sudut matanya, ia melihat dalam sepintas Mahesa Jenar dengan enaknya duduk di atas rumput sambil melihat perkelahian itu seperti sedang menikmati pertunjukan. Sama sekali tidak ada kesan bahwa Mahesa Jenar melihat kesulitan yang sedang dialami Pudak Wangi.

Karena itu dengan agak terpaksa Pudak Wangi menjerit, Kakang Mahesa Jenar, sudah puaskah Kakang melihat permainanku?


Mendengar suara Pudak Wangi yang halus nyaring itu Mahesa Jenar tersenyum. Ia sebenarnya melihat kesulitan Pudak Wangi. Tetapi karena keadaannya belum terlalu membahayakan, timbullah keinginannya untuk menggoda gadis itu. Ia juga mengerti maksud Pudak Wangi dengan kata-katanya, yang sebenarnya memintanya untuk membantu. Namun ia menjawab dengan tertawa pendek, Belum Adi, permainan Adi bagus sekali. Aku masih ingin menyaksikan beberapa lama lagi.

Pudak Wangi mendengar jawaban Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali, tetapi untuk berterus terang ia pun agak malu-malu, karena itu sekali lagi ia menjerit, Aku sudah cukup lama berlatih, Kakang.


Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Tinggi hati juga gadis ini, katanya dalam hati.
Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin memaksa gadis itu supaya menyatakan permintaan untuk menolongnya. Karena itu ia menjawab, Latihanmu baru mulai, Adi... gerak-gerakmu baru sampai pada taraf memanaskan badan. Aku ingin melihat kalau kau benar-benar sudah menunjukkan kepandaianmu.

Mendengar jawaban itu hati Pudak Wangi menjadi semakin jengkel. Akhirnya ia menjadi sadar bahwa Mahesa Jenar sedang mengganggunya. Apalagi ketika itu, kedua orang lawan Pudak Wangi, yang merasa dirinya direndahkan menjadi bertambah marah. Mereka menyerang semakin garang dan ngetok kekuatan.

Sehingga akhirnya timbullah jiwa kemanjaan seorang gadis di dalam dada Pudak Wangi. Sekali lagi ia menjerit hampir menangis, Kakang, baiklah kalau Kakang ingin melihat dadaku terbelah. Dan berbareng dengan itu Pudak Wangi melemparkan pedangnya ke arah salah seorang dari lawannya.

Melihat pedang itu melontar ke arahnya, orang itu menjadi terkejut sekali, sehingga ia meloncat mundur menghindar. Demikian pula yang seorang lagi, menjadi tertegun beberapa saat.

Tetapi tidak pula kalah terkejutnya adalah Mahesa Jenar. Dengan melemparkan pedangnya, Pudak Wangi sama sekali tidak bersenjata lagi. Sedangkan sesaat kemudian kedua lawannya telah berhasil menguasai diri mereka masing-masing, sehingga segera melakukan serangan-serangan mereka kembali.

Meskipun demikian agaknya Pudak Wangi sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi. Ia berdiri saja tegak dengan tenangnya menanti ujung-ujung pedang yang mengarah ke dadanya.

Melihat peristiwa itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Ia dapat mengerti bahwa Pudak Wangi marah kepadanya. Kemarahan seorang gadis yang manja. Mahesa Jenar mendadak teringat pada saat Rara Wilis akan bunuh diri di hutan Tambak Baya. Karena itu secepat kilat tangannya kiri dan kanan, kedua-duanya meraih dua buah batu sebesar telur ayam. Dengan sekuat tenaganya kedua batu itu dilemparkan ke arah dua lawan Pudak Wangi berturut-turut.

Hasilnya adalah mengerikan sekali. Batu-batu itu tepat mengenai pelipis orang yang berwajah padam seperti mayat. Suaranya gemeretak memecahkan tulang pelipisnya.

 


CERITA BERSAMBUNG = 26 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
222

TANPA dapat berbuat sesuatu, orang jatuh terjerembab untuk tidak bangun lagi. Sedang yang sebuah lagi mengenai dada orang yang bermata seperti mata burung hantu. Terdengar ia berteriak keras-keras dan kemudian jatuh berguling-guling kesakitan. Dari mulutnya memancar darah segar. Tetapi beberapa saat kemudian orang itu terdiam untuk selama-lamanya.

Melihat kedua peristiwa yang tak disangka-sangka itu, Pudak Wangi terperanjat bukan kepalang. Apalagi ketika dilihatnya darah yang mengalir dari luka-luka kedua lawannya. Peristiwa itu adalah suatu peristiwa yang belum pernah disaksikan. Karena itu hatinya ngeri dan ketakutan. Di luar sadarnya maka ia kemudian berlari dan seperti seorang anak kecil ia menyembunyikan wajahnya ke dada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar adalah seorang yang sudah berpuluh kali melihat darah mengalir. Tetapi ketika tiba-tiba Pudak Wangi berlari ke arahnya dan kemudian menangis terisak-isak, Mahesa Jenar kemudian seperti terpaku di atas tanah. Jantungnya berdebaran dan darahnya seolah-olah membeku. Untuk beberapa saat mulutnya terkunci rapat-rapat dan seolah-olah seluruh persenjataannya mati terkunci.

Baru beberapa saat kemudian Pudak Wangi sadar akan dirinya. Karena itu dengan penuh kemalu-maluan sebagai lazimnya seorang gadis, ia perlahan-lahan menarik dirinya dan selangkah demi selangkah ia menjauhi Mahesa Jenar. Tetapi untuk beberapa lama Mahesa Jenar masih diam mematung. Ditatapnya wajah Pudak Wangi yang tunduk itu dengan jantung yang bergelora. Baru kemudian ketika Pudak Wangi menjatuhkan dirinya di atas rumput-rumput kering, Mahesa Jenar merasa seolah-olah terbangun dari sebuah mimpi yang indah.

Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar hampir tidak pernah bergaul dengan gadis-gadis. Meskipun yang duduk di hadapannya itu menurut wujudnya adalah seorang pemuda namun hatinya melihat, bahwa ia adalah seorang gadis. Karena itu untuk beberapa lama kemudian Mahesa Jenar masih diam termangu-mangu. Tetapi kemudian perlahan-lahan Mahesa Jenar maju juga mendekati Pudak Wangi yang masih terisak-isak menahan tangis.

Melihat Pudak Wangi menangis, Mahesa Jenar merasa bahwa ia bersalah. Tetapi sebenarnya maksudnya adalah bergurau saja. Maka ingin rasanya ia minta maaf kepada gadis itu.

Setelah ia dekat berdiri di belakang Pudak Wangi, berkatalah Mahesa Jenar, Wilis, aku minta maaf.

Mendengar namanya disebut, dada Pudak Wangi tiba-tiba terasa sesak. Telah beberapa lama ia tidak pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan namanya yang sebenarnya. Sekarang tiba-tiba ia mendengar lagi nama itu, namanya sebagai seorang gadis disebut oleh seorang yang dikaguminya. Karena itu timbullah rasa haru yang menggelegak, sehingga kemudian Rara Wilis tak dapat menahan dirinya lagi, dan menangislah ia sejadi-jadinya.


Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu kenapa Pudak Wangi menangis semakin keras. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan gemetar ia melangkah kian kemari. Sebentar ia duduk dibelakang Pudak Wangi, tetapi sebentar kemudian kembali ia berdiri dan melangkah pula kian-kemari.

Sesaat kemudian terasalah malam menjadi semakin sepi. Angin malam yang gemerisik di sela-sela tangis Pudak Wangi, mengantarkan udara yang dingin. Kelelawar yang merajai langit di malam hari, masih tampak berkeliaran di muka tebaran bintang-bintang yang menaburkan cahayanya yang gelisah, segelisah hati Mahesa Jenar.

Maka akhirnya Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya di samping Pudak Wangi, dan untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri.

Ketika di kejauhan terdengar ayam hutan berkokok bersahutan, Mahesa Jenar menjadi seperti tersadar, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Mereka tidak dapat terus-menerus berdiam diri di tengah-tengah padang terbuka sampai esok pagi. Kerana itu Mahesa Jenar ingin menghibur hati Pudak Wangi, tetapi karena banyaknya kata-kata yang tersimpan di dalam dadanya, yang keluar hanyalah, Adi Pudak Wangi, marilah kita teruskan perburuan kita.


Pudak Wangi memandang wajah Mahesa Jenar dengan sinar mata yang kecewa. Tetapi ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya kecewa. Mungkin hatinya mengharapkan Mahesa Jenar berkata lebih banyak lagi, meskipun ia sendiri takut menduga-duga kata-kata apa yang dinantinya itu.

Namun semuanya itu hanya terjadi dalam sesaat, sebab sesaat kemudian Pudak Wangi segera kembali ke dalam keadaannya kini. Ia adalah seorang pemuda, murid Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu segera ia mencoba menguasai perasaannya. Dan dengan gagahnya ia menjawab ajakan Mahesa Jenar, Marilah kita berlomba, siapakah yang lebih dahulu berhasil mendapatkan binatang buruan.


Mendengar jawaban Pudak Wangi itu, Mahesa Jenar tersenyum kecil. Segera ia memungut busurnya dan kemudian mereka bersama-sama meneruskan perburuan mereka diantara gerumbul-gerumbul yang semakin lama semakin hebat.

Tetapi meskipun mereka telah berjalan di daerah perburuan, hati mereka sama sekali tidak tertarik kepada binatang-binatang hutan. Itulah sebabnya maka beberapa ekor menjangan yang seharusnya telah mati, mendapat kesempatan untuk masih menikmati segarnya rumput dan akar-akaran.

Akhirnya Pudak Wangi menjadi lelah. Maka katanya, Kakang, baiklah perlombaan kita tunda sebentar. Aku ingin beristirahat dahulu.


Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Baiklah, Adi... aku pun lelah, katanya. Setelah itu, maka segera mereka mencari tempat peristirahatan, di atas batu-batu yang berserakan.


Segera terdengarlah mereka dan Pudak Wangi bercakap-cakap tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting. Pembicaran itu beredar dari satu ke lain hal sehingga akhirnya sampai pada diri Mahesa Jenar. Terdengarlah dengan penuh keinginan tahu Pudak Wangi bertanya, Kakang Mahesa Jenar, tidakkah Kakang Mahesa Jenar bermaksud untuk kembali ke Demak dan memangku jabatan Kakang kembali?

 


CERITA BERSAMBUNG = 27 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
223

MENDENGAR pertanyaan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Apakah perlunya maka Pudak Wangi menanyakan hal-hal yang menyangkut dengan kedudukannya?

Adi... jawab Mahesa Jenar, Jabatan itu memang menyenangkan. Sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja aku banyak mempunyai kesempatan untuk berbangga. Baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Tetapi sayang bahwa aku tidak dapat kembali pada saat-saat yang dekat ini. Apalagi ketika aku merasa bahwa aku wajib untuk ikut menemukan kembali keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Maka keinginanku untuk kembali ke Demak menjadi semakin tipis.


Sebagai seorang prajurit, sela Pudak Wangi, Bukankah Kakang akan lebih banyak kesempatan untuk menemukan keris-keris itu?


Mungkin demikian, jawab Mahesa Jenar. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Sebab tugas seorang prajurit adalah beraneka ragam. Kecuali itu Adi, pengabdian seseorang bertebaran pada banyak bidang. Aku sekarang sedang mengabdikan diriku dengan cara ini.


Pembicaraan mereka jadi terputus ketika mereka mendengar gemersik halus di belakang mereka. Mahesa Janar cepat meloncat berdiri dengan busur di tangan, serta anak panah yang siap meluncur. Sebab yang terdengar itu sama sekali bukan harimau atau babi hutan, tetapi suara langkah manusia.

Tetapi meskipun pandangan Mahesa Jenar sangat tajam, namun Mahesa Jenar tidak dapat melihat seseorang di belakangnya. Karena itu ia menjadi curiga. Cepat ia melangkah maju, meskipun dengan penuh kehati-hatian. Sedang Pudak Wangi pun segera mempersiapkan anak panahnya. Namun setelah beberapa lama mereka mencari-cari, tak seorangpun yang mereka jumpai. Maka hati mereka menjadi gelisah. Kalau benar dugaan mereka, bahwa yang didengarnya itu langkah seseorang, pastilah orang itu orang yang sakti.

Baru beberapa lama kemudian, ketika mereka sudah menjadi bertambah gelisah, terdengarlah suara tertawa halus di kejauhan. Mendengar suara itu, tiba-tiba Pudak Wangi menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah, semerah jambu dersana. Suara itu sangat dikenalnya, sebagai suara seseorang yang mengasuhnya, Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar yang mengenal suara itu, juga menjadi malu. Namun segera ia berkata lantang, Adi, lihatlah babi hutan hampir sebesar kerbau.

Setelah berkata demikian, segera Mahesa Jenar meloncat berlari menyusup ke dalam semak-semak. Pudak Wangi segera tersentak pula. Ia mengira bahwa Mahesa Jenar benar-benar telah melihat seekor binatang buruan. Karena itu, segera ia pun meloncat menyusulnya.

Tetapi meskipun mereka telah berlari-lari beberapa lama, namun sama sekali Pudak Wangi tak melihat seekor binatang pun, sampai akhirnya ia melihat Mahesa Jenar berdiri tegak menantinya.

Manakah binatang itu Kakang? tanya Pudak Wangi.


Dengan menarik nafas Mahesa Jenar menjawab, Sama sekali aku tak melihat seekor binatang pun Adi. Tetapi aku mendengar suara tertawa Ki Ageng Pandan Alas.


Pudak Wangi menjadi tersenyum jengkel. Namun ia membenarkan pula sikap Mahesa Jenar yang agak rikuh terhadap kakeknya.

Tetapi mereka menjadi terkejut pula ketika tiba-tiba terdengar kembali suara tertawa itu. Suara Ki Ageng Pandan Alas yang justru berada di tempat yang bertentangan dengan arah semula.

Mendengar suara itu, Mahesa Jenar sadar, bahwa ia tidak dapat menjauhkan dirinya dari orang tua yang sakti itu, selama orang tua itu menghendakinya. Teringatlah Mahesa Jenar akan sikap jenaka dari Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu akhirnya ia tidak akan menghindar lagi, bahkan segera ia menjatuhkan diri dan duduk di atas rumput-rumput kering. Agaknya Pudak Wangi memaklumi hal itu, dan segera ia pun duduk di samping Mahesa Jenar. Namun untuk beberapa lama mereka sama sekali tidak berkata sepatah pun.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar kemersik yang disusul oleh dengus seekor binatang. Dengan mata yang tajam, dibalik semak-semak di hadapan mereka tampaklah sesuatu yang bergerak-gerak, dan sesaat kemudian muncullah seekor rusa yang agaknya terbangun dari tidurnya. Dengan isyarat tangan, Mahesa Jenar menunjuk ke arah binatang itu.

Pudak Wangi yang kemudian melihat pula, dengan cepat sekali telah memasang anak panahnya dan sesaat kemudian rusa itu terlonjak dan memekik tinggi. Anak panah tepat mengenai lambungnya. Tetapi sekejap kemudian menancaplah anak panah kedua, yang dilepaskan oleh Mahesa Jenar pada leher binatang itu. Tanpa diulang lagi, rusa itu jatuh dan mati seketika.

Nah, bukankah aku yang menang? kata Pudak Wangi diiringi oleh suara-suara tertawanya yang segar. Akulah yang pertama-tama mengenainya.
Akulah yang menang,
bantah Mahesa Jenar, Karena panahkulah binatang itu mati.
Tetapi akulah yang lebih dahulu, bantah Pudak Wangi kembali.


Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dengan tersenyum, didekatinya rusa yang telah mati itu, kemudian setelah ia membuka baju, dipanggulnya binatang itu.

Marilah kita pulang, Adi. Rusa ini cukup besar untuk pesta besok. Pesta kemenangan Adi Pudak Wangi atas dua orang yang akan membunuh anakku Arya Salaka, kata Mahesa Jenar.

Ah... potong Pudak Wangi. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Mahesa Jenar pun tidak berkata-kata lagi. Segera mereka dengan seekor rusa di pundak Mahesa Jenar, berjalan kembali pulang.

Di sepanjang jalan pulang, Mahesa Jenar sempat mengamat-amati dengan saksama Pudak Wangi yang berjalan di depannya. Melihat tingkah lakunya, maka Mahesa Jenar semakin yakin bahwa tidak lama lagi Pudak Wangi pasti akan menjadi seorang yang perkasa seperti kakak seperguruannya, Sarayuda. Setidaknya, ia akan dapat memenuhi keinginan kakeknya, gurunya pula, bahwa akhirnya ia pasti akan dapat menandingi ibu tirinya, istri Sima Rodra muda dari Gunung Tidar, anak Sima Rodra dari Lodaya.

 


CERITA BERSAMBUNG = 28 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
224

MAHESA JENAR membayangkan bahwa persoalannya kemudian akan menjadi bertambah melilit lagi. Persoalan antara mereka yang sedang memperebutkan Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, ditambah dengan persoalan Rara Wilis dengan ibu tirinya, yang pasti akan sangkut-menyangkut pula dengan usaha Arya untuk menemukan kembali kedudukan ayahnya yang telah dirampas oleh pamannya, Lembu Sora.

Sampai di rumah, mereka temui Arya masih tidur nyenyak. Maka tanpa dibangunkannya, rusa hasil buruan itu langsung dibaringkan di samping Arya, untuk mengejutkan anak itu besok pagi.

Kemudian Pudak Wangi segera pergi ke pembaringannya untuk beristirahat, sedang Mahesa Jenar seperti biasanya tidur dengan alas anyaman daun kelapa yang direntangkan di atas tumpukan jerami disamping gubug Ki Ageng Pandan Alas. Karena kelelahan serta kantuknya yang sangat maka segera Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya suara orang bercakap-cakap di halaman belakang rumah itu. Tanpa disengaja ia mendengar bahwa mereka yang bercakap-cakap itu adalah Pudak Wangi dengan Sarayuda, sebagai seorang gadis dengan seorang pemuda.

Tiba-tiba saja dengan tidak diketahuinya sendiri, darah Mahesa Jenar bergetar membentur dinding-dinding jantung. Maka timbullah keinginannya untuk mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. Dengan masih berpura-pura tidur, ia memasang telinganya untuk mencoba menangkap setiap kata-kata mereka. Dan apa yang didengarnya telah menambah cepat gelora hatinya.

Wilis... terdengar suara Sarayuda jauh di dalam dadanya, Sejak kecil aku telah mengenalmu. Mengenal sebagai cucu guruku. Sejak itu aku telah merasakan suatu perbedaan antara pergaulanku denganmu dibanding dengan pergaulanku dengan kawan-kawan lain. Perasaan itulah yang agaknya kemudian berkembang menjadi perasaan seperti yang aku alami kini, dan yang pasti sudah aku ketahui pula. Karena itu Wilis, aku telah berusaha untuk menemukan kau kembali setelah kau melenyapkan diri beberapa saat yang lalu dari Gunung Kidul setelah ibumu meninggal dunia. Dengan menyimpan harapan di dalam hati, bahwa kau akan memiliki perasaan yang demikian pula.
Kemudian untuk beberapa lama, sama sekali tak terdengar suara. Namun bagi Mahesa Jenar, suara detak jantungnya seolah-olah sedemikian kerasnya sehingga jauh melampaui bunyi bedug.

Tetapi sesaat kemudian terdengar Sarayuda melanjutkan, Wilis, kalau beberapa waktu yang lalu aku pulang dari perantauanku, dan untuk beberapa lama aku tak pernah mengatakan perasaan itu kepadamu dan kepada siapapun, itu karena aku merasa bahwa aku masih belum mempunyai syarat-syarat yang cukup. Sekarang aku telah memiliki pekerjaan yang pantas. Yang dilintirkan dari ayahku kepadaku, yaitu jabatan Demang, yang aku kira akan dapat mencukupi bagi jaminan masa depan.


Kembali Sarayuda diam. Tetapi kali ini juga Rara Wilis sama sekali tidak menjawab. Bahkan akhirnya terdengar isak tangisnya diantara desah angin menjelang fajar, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah merupakan desir suara meluncurnya anak-anak panah yang langsung menembus jantungnya, serta menimbulkan luka yang pedih.

Wilis... Sarayuda melanjutkan, Aku tidak tahu kenapa kau menangis. Apakah kau terharu, marah, gembira atau kata-kataku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi apa yang aku lakukan adalah benar-benar terdorong oleh perasaanku yang bersih.


Masih belum terdengar Rara Wilis menjawab.

Bukan maksudku untuk memancingmu dengan janji Wilis, desak Sarayuda kemudian, Tetapi meskipun hanya setapak aku telah memliki tanah, dan walaupun hanya seekor kerbau kurus, aku telah berternak pula.


Meskipun kata-kata itu terluncur dari mulut Sarayuda tanpa maksud apapun terhadap orang lain, namun bagi Mahesa Jenar, kata-kata itu merupakan sebuah cermin suryakantha yang dapat menimbulkan bayangan seratus kali lipat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat dirinya dalam kaca itu sebagai seorang pengembara tak berarti. Seorang yang tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal, tidak mempunyai tanah yang subur untuk jaminan hidupnya, tanpa ternak dan tanpa kedudukan. Serta dilihatnya pula bayangan Sarayuda sebagai seorang yang memiliki syarat-syarat yang penuh. Tanah hampir seluas tanah yang terbentang di daerah Gunung Kidul yang ditaburi oleh 1000 puncak-puncak pegunungan yang asri. Ternak yang setiap hari memenuhi padang-padang rumput di tebing-tebing pegunungan dan di dataran-dataran, sawah yang subur di lembah-lembah yang luas dipagari oleh lereng-lereng hijau.

Mahesa Jenar... tiba-tiba terdengar hatinya berkata, Apakah kau akan berusaha untuk menyaingi Demang Sarayuda yang kaya raya serta gagah perkasa itu...? Mungkin kau akan dapat berhasil merebut hati Rara Wilis, tetapi dengan demikian kau akan menyiksanya sepanjang umurnya. Wilis akan mengalami hidup yang sulit, penuh dengan kekurangan dan penderitaan. Kalau kau melanjutkan usahamu untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, lalu apakah yang dapat kau lakukan terhadap Rara Wilis? Kau bawa serta untuk kau binasakan di bawah kekejaman-kekejaman lawan-lawanmu, atau kau umpankan kepada orang-orang golongan hitam sebagai barang permainan? Atau barangkali kau bermaksud meninggalkannya di suatu tempat? Dengan demikian Rara Wilis akan kesepian. Tiap malam ia akan menghitung setiap desir angin yang menyentuh wajahnya dengan mata yang mengaca, dengan penuh harapan pada setiap tarikan nafasnya, menantimu pulang. Tetapi adakah kau akan pulang kembali kepadanya?


Kata-kata hatinya itu mendengung sedemikian kerasnya di dalam kepala Mahesa Jenar. Ditambah dengan berbagai kenangan yang susul-menyusul. Apalagi kalau diingatnya bahwa Sarayuda adalah seorang yang telah menyelamatkan Arya, yang telah melepaskannya dari kemarahan Gajah Sora. Dan tiba-tiba karena semuanya itu, terasa bahwa kepalanya seolah-olah berputar, semakin lama semakin cepat semakin cepat.


CERITA BERSAMBUNG = 29 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
225

MAHESA JENAR memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai perasaannya. Namun betapa sulitnya. Malahan kenangan-kenangan masa lalu, yang seolah susul-menyusul, nampak semakin jelas. Bagaimana ia telah berusaha menyelamatkan Rara Wilis dari tangan Jaka Soka, sehingga akibatnya, hampir saja ia dibinasakan oleh Pasingsingan.

Tetapi karena tiba-tiba sekarang dirinya merasa tidak berhak lagi untuk mencoba mengambil hatinya, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang lain yang menarik garis pemisah? Mengingat hal itu semua, darah Mahesa Jenar bergelora. Bukankah ia seorang laki-laki? Kalau demikian maka untuk mencapai idaman hati, taruhannya adalah nyawa. Ia tahu bahwa Sarayuda termasuk orang yang sakti, yang memiliki ilmu keturunan dari Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Cunda Manik. Namun ia yakin bahwa Sasra Birawa tidak pula kalah dahsyatnya. Penyelesaian dari pertempuran itu tidaklah penting. Kalau ia menang, maka ia pasti dapat memiliki Rara Wilis, tetapi kalau ia kalah, adalah kebinasaan. Ini akan lebih baik daripada hidup dengan hati yang kosong.

Karena pikiran itu, tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak. Apalagi ketika timbul dugaannya, bahwa Sarayuda sengaja menyatakan perasaannya terhadap Rara Wilis untuk dapat didengarnya. Kalau demikian, maka berarti bahwa Sarayuda dengan terang-terangan menantangnya. Maka hampir saja Mahesa Jenar meloncat berdiri, kalau tidak tiba-tiba saja timbul pula pikirannya yang lain. Sehingga terjadilah desak-mendesak antara perasaan yang satu dengan yang lain, pikiran yang satu dengan yang lain.

Rara Wilis bukanlah semacam barang yang dapat diperebutkan. Ia adalah seorang manusia yang berhak menjatuhkan pilihan. Meskipun seandainya ia menang dalam perang tanding dengan Sarayuda, tetapi ternyata Rara Wilis sebenarnya tidak memilihnya. Maka yang akan dimilikinya hanya Rara Wilis dalam bentuk wadagnya, bukan keseluruhannya. Apakah artinya bagi Mahesa Jenar, memiliki Rara Wilis tanpa hatinya. Karena itu maka kemauan Mahesa Jenar jadi mengendor lagi.

Malahan kembali timbul di dalam dadanya, suatu perasaan yang pedih, ketika ia tiba-tiba teringat kata-kata Rara Wilis di padang ilalang pada saat mereka berburu tadi.

Bukankah pertanyaan itu jelas. Rara Wilis akan berkata kepadanya, bahwa kenapa ia adalah seorang perantau, seorang yang tidak mempunyai tempat tinggal? Kenapa ia hidup sebagai seorang yang selalu berkeliaran di hutan-hutan, bukit-bukit dan lembah-lembah...?

Kalau demikian maka Rara Wilis pasti sedang memperbandingkan dirinya yang tidak hidup seperti lazimnya orang yang berkeluarga. Kenapa ia tidak menjadi Demang seperti Sarayuda yang menguasai tanah dengan seribu bukit, ternak di padang dan sawah yang subur di lembah-lembah...?

Kenapa ia tidak berkata kepada Rara Wilis tentang rumah yang besar serta halaman yang ditumbuhi pohon buah-buahan serta dipagari oleh tanam-tanaman berbunga...?
O..., semuanya itu pasti akan selalu menggugahnya kelak, apabila Rara Wilis kelak benar-benar menjadi istri Mahesa Jenar. Ataupun kalau tak terucapkan, perlahan-lahan pasti akan membakar hati gadis itu. Karena itu sebelum semuanya itu terjadi maka lebih baik Mahesa Jenar menarik diri. Kalau ia ingin melihat Rara Wilis berbahagia, maka ia harus melepaskan kepentingannya sendiri yang dikendalikan oleh nafsu. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Wilis menderita dan terlalu banyak berkorban untuknya.

Aku tidak akan mengganggunya, desis Mahesa Jenar.


Kemudian dengan diam-diam dan hati-hati sekali Mahesa Jenar bangkit dari pembaringannya, anyaman daun kelapa di atas jerami. Perlahan-lahan ia memasuki gubug Pandan Alas dari pintu depan, dan tanpa bersuara didukungnya Arya Salaka dari pembaringannya. Kemudian dengan hati-hati ia meninggalkan gubug yang telah menimbulkan peristiwa pahit itu.

Arya yang kemudian terbangun, sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya. Ia merasa bahwa pamannya berlari kencang sekali, karena itu ia bertanya, Paman..., ke mana Paman akan pergi?


Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu, malahan ia berlari semakin kencang dan kencang, menuju ke gubug yang telah dibangunnya bersama Arya Salaka.

Perjalanan mereka menyusup melewati hutan-hutan kecil yang tidak begitu lebat.
Ketika fajar menyingsing, Mahesa Jenar mencoba untuk menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan yang asing bagi orang-orang yang dijumpainya di jalanan. Karena itu Arya segera diturunkannya dari dukungan.

Orang-orang yang sedang ke sawah serta orang-orang yang pergi mencari kayu di hutan, hanya memandang Mahesa Jenar sepintas saja, meskipun kadang-kadang ada yang heran pula, Dari manakah sepagi itu, ayah-beranak sudah berada di perjalanan?

Tetapi Mahesa Jenar sudah sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Ia berjalan terus dengan kecepatan yang penuh, tanpa beristirahat.

 

Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox