Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 15 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
211
KAWAN orang itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia melangkah menjauh.
Matanya yang sayu dilemparkan ke arah purnama yang dengan tenangnya mengambang
di langit yang bersih. Hanya kadang-kadang saja tampak beterbangan
kelelawar-kelelawar yang sedang mencari mangsa.
Adi... terdengarlah orang itu berkata, Entahlah apa sebabnya, aku
tidak dapat membiarkan Pasingsingan itu terbunuh. Mungkin masanya memang belum
sampai.
Masihkah Kakang ingin melihat kejahatan-kejahatan berikutnya yang akan dilakukan oleh Pasingsingan? desak yang lain.
Tentu tidak, Adi, jawabnya. Tetapi apakah kata bapa guru nanti atas
kematian Pasingsingan. Sebab bagaimanapun juga ia adalah muridnya pula. Apalagi
sebenarnya letak kesalahan yang menyebabkan segala kejadian ini, adalah aku
sendiri. Kalau terjadi kejahatan-kejahatan, maka sebenarnya semuanya itu
bersumber pada diriku. Bersumber pada pemuasan nafsu yang tiada mengenal batas.
Karena itulah maka hukuman yang sepantasnya adalah dibebankan kepadaku.
Kau terlalu perasa, Kakang. Kalau suatu kota tenggelam dilanda banjir,
bukanlah mata air yang harus memikul beban kesalahannya? Sebab dari mata air
itulah sawah-sawah mendapat air, serta kepentingan-kepentingan lain yang berguna.
Meskipun karena mata air itu dapat timbul banjir. Tetapi perkembangannya telah
melampaui beberapa tingkatan yang tidak ada hubungannya. Air yang mengalir ke
lautan menjadi mendung dan kemudian hujan lebat. Barulah terjadi banjir.
Untuk mencegah banjir itu haruskah orang-orang menutup segenap mata air? Seperti
Kakang merasa bersalah kalau Pasingsingan berbuat kejahatan-kejahatan?
Orang yang lain itu sama sekali tak menjawab. Perlahan-lahan tampak orang itu
mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi pandangannya masih melekat pada bulan di
langit.
Kakang... orang yang satu melanjutkan, Aku persilahkan Kakang melenyapkan
perasaan itu. Perasaan yang menyalahkan diri tanpa batas. Suatu pengakuan yang
demikian tidak akan menguntungkan. Bagi Kakang, bagi orang lain dan bagi
bebrayan agung.
Sudahlah Adi, potong yang lain. Nada suaranya jauh dan dalam. Aku tahu akan perasaanmu. Suatu rasa kesetiaan dan kecintaanmu kepada saudara tua. Namun barangkali aku masih menunggu sampai guru memberikan ijinnya.
Mahesa Jenar mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Kecuali dirinya tak
seorang pun yang mengerti siapakah kedua orang itu. Tetapi bagi Mahesa Jenar,
percakapan mereka cukup memberi penjelasan, siapakah mereka berdua. Karena itu
segera ia berlari dan berjongkok di hadapan mereka. Keempat kawan-kawannya,
meskipun tidak dapat mengerti siapakah mereka itu, namun sebagai ucapan terima
kasih, mereka segera menirukan perbuatan Mahesa Jenar.
Paman..., kata Mahesa Jenar, Perkenankanlah aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Paman Paniling dan Paman Darba.
Kedua orang itu, yang memang sebenarnya adalah Paniling dan Darba, menjadi agak
terkejut mendengar nama-nama mereka disebut oleh Mahesa Jenar. Maka terdengarlah
Darba tertawa pendek.
Dari mana kau tahu tentang kami? Adakah warna-warna yang tersaput di wajah
kami telah terhapus?
Aku telah mengenal paman berdua, baik suara Paman yang sebenarnya itu,
maupun persoalan-persoalan yang Paman perbincangkan, jawab Mahesa Jenar.
Memang otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau, sahut Darba sambil tertawa kembali.
Bukankah begitu kakang? sambungnya kepada Paniling.
Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya.
Aku sudah mengira kalau kau akan berbuat itu. Mengintip musyawarah
orang-orang dari golongan hitam. Sadar atau tidak sadar, kau telah bermain-main
api kembali. Karena itulah kami datang kemari. Beberapa waktu yang lampau aku
telah memperingatkan agar kau berhati-hati menghadapi orang-orang dari golongan
hitam itu. Hampir saja kau binasa pada saat kau dikerubut oleh tokoh-tokoh hitam
itu. Sekarang kau masuk ke dalam bahaya yang lebih besar lagi, dimana hadir Sima
Rodra tua dan Pasingsingan.
Mahesa Jenar sama sekali tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pamanmu Paniling terlalu hati-hati, Mahesa Jenar, sahut Darba.
Mungkin karena umurnya yang telah lanjut. Tetapi kira-kira pada saat mudanya melebihimu.
Mungkin, potong Paniling sambil tersenyum, Memang anak-anak muda senang
menyerempet-menyerempet bahaya.
Dan karena itulah mereka mencapai kemajuan-kemajuan, sambung Darba,
Karena dengan pengalaman-pengalaman mereka, masa depan seakan-akan telah diratakan. Sedang bagi mereka yang tidak berani menempuh bahaya, tak sesuatu apapun yang akan bisa dicapainya.
Meskipun demikian... jawab Paniling,
Segala sesuatu wajib diperhitungkan. Kalau kita berani menempuh bahaya,
bukan berarti kita harus bunuh diri. Mahesa Jenar, kami datang kemari karena
kami mencemaskan kau. Tetapi Adi Darba mengusulkan supaya kami membuat permainan
ini dengan berpakaian mirip pakaianmu. Sebab kami tahu bahwa kau tidak pernah
berganti pakaian kecuali kalau pakaianmu satu-satunya itu sedang kau cuci.
Semua yang mendengar kata-kata Paniling itu tersenyum. Mahesa Jenar menjadi
agak malu. Memang, ia sama sekali tidak mempunyai pakaian lain selain yang
dipakainya. Kalau pakaian itu dicuci, terpaksa ia menunggu sampai kering.
Maksudku... sahut Darba, Salah seorang diantara kami yang mungkin dapat berbuat sesuatu mewakilimu. Dengan demikian tak seorang pun berani merendahkan kau lagi. Tetapi ternyata kau datang berlima, sehingga kami agak menemui kesulitan. Untunglah bahwa kami menemukan suatu cara untuk bermain-main dengan Pasingsingan. Sayang, Kakang Paniling menahan kerisku yang sudah melekat di dada Pasingsingan itu.
CERITA BERSAMBUNG = 16 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
212
KI PANILING segera memotong,
Sudahlah Adi Darba, aku minta maaf kalau aku membuat kau kecewa. Sekarang
yang penting adalah usaha untuk menemukan kembali keris yang hilang itu.
Mahesa Jenar... sambung Paniling, Apakah kau tidak memperkenalkan sahabat-sahabatmu itu kepadaku?
Mendengar pertanyaan Paniling, Mahesa Jenar seakan-akan disadarkan dari
kekhilafannya. Segera ia mulai memperkenalkan satu persatu sahabat-sahabatnya
yang telah bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.
Dan kepada sahabat-sahabatnya, Mahesa Jenar memperkenalkan Paniling dan Darba
sebagai dua orang petani yang sakti, yang telah menolong jiwanya untuk kedua
kalinya. Namun sama sekali tidak disinggung-singgungnya bahwa Paniling itulah
yang dahulu pernah mengenakan jubah abu-abu dan kedok yang kasar, dan yang
menamakan diri Pasingsingan.
Setelah mereka saling memperkenalkan diri, maka berkatalah Paniling, Mahesa Jenar, aku kira kerjaku untuk kali ini sudah selesai. Aku dan pamanmu Darba akan segera kembali. Tetapi pesanku, janganlah terlalu lama anak pungutmu kau tinggalkan. Sebab bagaimanapun juga, banyaklah bahaya yang mengancam anak itu.
Kembali Mahesa Jenar seperti orang yang tersadar dari mimpi. Segera ia ingat
kepada Arya, anak yang sampai sekarang masih menjadi buruan pamannya sendiri.
Karena itu tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenteram. Meskipun Arya kini telah
berada di tempat yang jauh, namun mungkin saja orang-orang Lembu Sora akan
sampai ke sana.
Maka setelah Paniling dan Darba pergi meninggalkan mereka, segera mereka
mengadakan pembicaraan tentang pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh
mereka masing-masing.
Gajah Alit dan Paningron harus segera kembali ke Demak untuk melaporkan
segala kejadian di tepi Rawa Pening itu. Melaporkan tentang kebenaran laporan
mengenai adanya golongan hitam yang kuat dan berbahaya bagi ketenteraman negara.
Dengan manyaksikan serta mengalami sendiri, Paningron serta Gajah Alit harus
percaya, bahwa orang yang bernama Pasingsingan dan Sima Rodra, tetua dari
golongan hitam, termasuk orang yang tak dapat diabaikan, meskipun jumlah
orang-orang yang demikian itu tidak banyak.
Demikianlah maka segera Paningron dan Gajah Alit mohon diri. Mahesa Jenar
melepaskan mereka berdua dengan pesan agar untuk sementara dirinya jangan
tersinggung-singgung pula dalam laporan mereka, sebab ia masih belum mempunyai
keinginan untuk kembali ke Demak sebelum
Nagasasra dan Sabuk Inten
diketemukan. Juga Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan itu untuk menitipkan
bukti-bukti tentang kebenaran alasan-alasan Gajah Sora, bahwa ia tidak mampu
mempertahankan kedua keris itu dari usaha-usaha golongan lain untuk memilikinya.
Bagaimanapun hebatnya Gajah Sora, yang pernah menerima hadiah pusaka sebuah
tombak yang bernama Kyai Bancak, namun menghadapi orang-orang seperti
Pasingsingan dan Sima Rodra, maka Gajah Sora tidak lebih dari seorang anak-anak
yang baru saja dapat berjalan.
Dalam pada itu Wiraraga pun minta diri untuk kembali ke Wanakerta bersama-sama dengan Ki Dalang Mantingan. Tetapi sebelum mereka berangkat, Mahesa Jenar minta kepada Ki Dalang Mantingan untuk membantu mengawasi tanah perdikan Banyubiru.
Dalam kedudukannya sebagai seorang dalang maka ia akan lebih leluasa bergerak
di mana saja.
Maka setelah segala pembicaraan selesai, berpisahanlah mereka. Masing-masing
ke arah tujuan masing-masing. Gajah Alit dan Paningron kembali ke Demak,
Wiraraga dan Mantingan ke Wanakerta lewat Banyubiru.
Sedangkan Mahesa Jenar harus segera kembali kepada Arya Salaka yang telah
beberapa hari ditinggalkan seorang diri, dan hanya dititipkan kepada para
tetangga yang baik hati.
Mengingat kata-kata Ki Paniling, hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi berdebar-debar.
Memang sebenarnyalah pasti Lembu Sora tetap akan berusaha untuk membunuh Arya.
Sebab sepeninggal Gajah Sora, Aryalah yang paling berhak atas tanah perdikan
Banyubiru. Sedang apabila Arya ini dilenyapkan, maka keturunan Sora Dipayana
tidak ada lain tinggal Lembu Sora seorang diri. Dengan demikian maka Banyubiru
dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang itu.
Mengingat hal itu semuanya, maka segera Mahesa Jenar mempercepat langkahnya
untuk dapat segera sampai ke rumah, dimana Arya ditinggalkan. Di perjalanan
pulang itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak tenteram. Ia telah menyatakan
kesanggupannya kepada Gajah Sora untuk memelihara anak itu, serta mendidiknya
dan mengajarinya dalam olah kanuragan sehingga anak itu kelak dapat menjadi
orang yang berguna.
Ketika burung-burung menyambut fajar yang segar dalam belaian angin pagi yang bertiup halus dari pegunungan serta melintasi lembah-lembah, Mahesa Jenar masih tetap berjalan cepat-cepat. Seakan-akan kesegaran fajar itu tak terasa baginya. Namun meskipun demikian, sinar matahari pagi yang memancar cerah, dapat menimbulkan perasaan yang cerah pula. Karena itu Mahesa Jenar mempercepat langkahnya. Karena perasaannya yang kecemasan, ia sama sekali tak dipengaruhi oleh kelelahannya.
Demikianlah seharian Mahesa Jenar berjalan terus. Hanya sekali dua ia berhenti
untuk mencari sumber air, apabila terasa lehernya disekat dahaga, serta kemudian
untuk beberapa saat ia menyegarkan tubuhnya dengan duduk-duduk sejenak. Hanya
sejenak, sebab ia tidak dapat membiarkan perasaannya diburu oleh kegelisahan.
Karena itu, dengan tergesa-gesa segera Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya
pula.
Demikian pula ketika matahari yang lelah setelah menempuh peredarannya sehari
penuh itu menjelang garis pertemuan langit dan bumi, serta sebentar lagi
seolah-olah tenggelam ditelan garis pemisah itu. Mahesa Jenar sama sekali tidak
peduli.
CERITA BERSAMBUNG = 17 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
213
MESKIPUN perlahan-lahan, karena gelapnya malam kemudian mentakbiri bumi,
Mahesa Jenar tetap berjalan terus di bawah sinar bulan yang baru saja lewat
purnama penuh.
Maka di pertengahan malam, Mahesa Jenar melihat cahaya pelita yang
berpancaran di sebuah dusun yang kecil. Itulah desa dimana Arya ditinggalkannya.
Melihat nyala pelita yang seolah-olah melambai-lambai meneriakkan nama Arya
Salaka, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Meskipun Salaka itu bukan
sanak dan bukan kadang, namun telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi
mengingat segala pesan-pesan dari Gajah Sora. Maka pertanggungjawaban anak itu
seluruhnya ada padanya.
Tetapi semakin dekat Mahesa Jenar dengan desa itu, hatinya menjadi semakin
gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia seakan-akan
mendapat suatu firasat yang tidak baik.
Demikianlah dengan gelisah dan setengah berlari Mahesa Jenar memasuki desanya yang kecil, yang biasanya selalu diliputi oleh suasana tenteram dan damai. Tetapi pada malam itu, tampaklah beberapa kesibukan yang aneh. Dari jarak yang semakin dekat, Mahesa Jenar melihat beberapa orang berjalan cepat-cepat dengan membawa obor, dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di sudut desa itu. Itulah rumah yang dibangunnya, serta ditinggalinya bersama-sama dengan Arya.
Dengan berlari-lari kecil Mahesa Jenar melintas pematang untuk segera dapat
sampai ke rumahnya.
Demikian ia sampai ke ambang pintu, demikian semua mata memandanginya dengan keheranan, seolah-olah tidak sewajarnyalah kalau ia datang pada malam itu. Baru sesaat kemudian seorang diantara mereka dapat menguasai dirinya.
Anakmas Mahesa Jenar, marilah..., marilah duduk dahulu, katanya.
Hati Mahesa Jenar sama sekali tidak enak mendengar kata-kata itu. Kata-kata
yang mengandung perasaan yang iba. Apalagi ketika ia memandangi setiap wajah
yang berada di dalam rumah itu. Arya Salaka tidak ada.
Sekali lagi ia meneliti setiap orang yang berada di dalam ruangan gubugnya, namun Arya Salaka tetap tidak tampak. Tiba-tiba berdesirlah jantung di dalam dadanya. Dan, dengan suara yang bergetar ia bertanya, Di manakah anakku, Arya Salaka?
Serentak semua mata memandang kepadanya dengan pandangan penuh iba. Salah
seorang diantaranya, setelah beberapa lama baru dapat menjawab pertanyaan itu
dengan kata yang terputus-putus. Angger, duduklah dahulu, nanti kami kabarkan
di mana anakmu berada.
Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah.
Di manakah Arya Salaka? desaknya.
Angger... jawab yang lain, Maafkanlah kami sebelumnya, bahwa kami tidak
dapat memenuhi harapan Angger untuk melindungi anak itu. Baru tadi hal itu
terjadi. Ketika beberapa orang bersenjata datang ke rumah ini menjelang senja.
Dengan kekerasan mereka membawa Arya. Kami telah berusaha menggagalkan maksud
mereka. Tetapi kami adalah petani-petani yang tak berarti seperti kau juga.
Karena itu kami sama sekali tidak berdaya untuk menahannya.
Tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak hebat. Jantungnya berdentang
menggoncangkan dada. Matanya yang sayu karena kelelahan berubah seperti bara api.
Duduklah Ngger, kata yang lain pula. Biarlah kita bicarakan bagaimana caranya untuk dapat mencari anakmu itu.
Tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar kata-kata itu. Matanya yang
membara itu sesaat beredar ke wajah-wajah para petani kecil yang baik hati serta
ramah tamah. Hanya sesaat, sebab sekejap kemudian seperti orang kehilangan akal,
Mahesa Jenar meloncat berlari ke luar halaman.
Beberapa orang kemudian memburunya sambil berteriak-teriak, Tunggulah Angger..., tunggulah....
Mahesa Jenar tertegun sejenak. Ia menjadi agak bingung, ke mana arah yang harus
dianut kalau ia mau menyusul Arya. Lalu katanya hampir berteriak, Kemanakah
anak itu dibawa?
Beberapa orang jadi ragu-ragu, namun salah seorang menjawab pula, Mereka
pergi ke arah timur melalui jalan di sebelah desa kami itu.
Mahesa Jenar tidak menunggu kata-kata itu berakhir. Segera ia meloncat dan
berlari kencang-kencang ke arah yang ditunjukkan oleh tetangga-tetangganya.
Lamat-lamat ia masih mendengar orang-orang itu berteriak, Angger, kembalilah.
Mereka adalah orang-orang perkasa dan bersenjata. Kita cari akal untuk mengambil
anak itu, tetapi jangan dengan kekerasan.
Namun bagi Mahesa Jenar suara-suara itu tidak lebih dari suara berdesirnya
daun-daun kering yang rontok oleh angin malam yang kencang. Karena itu justru ia
mempercepat larinya seperti orang yang kehilangan akal, semakin lama semakin
cepat.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar sampai ke padang rumput yang luas. Di sana-sini terdapat padas. Di bawah cahaya bulan yang hampir penuh, Mahesa Jenar dapat memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi matanya yang tajam tak dapat menangkap apapun kecuali puntuk-puntuk yang seolah-olah gelembung-gelembung yang tumbuh dari dalam tanah yang sedang mendidih. Ia bertambah cemas.
Bagaimanakah keadaan Arya Salaka...? Apakah ia dibawa ke padang rumput itu.., atau ke mana...?
CERITA BERSAMBUNG = 18 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
214
DALAM kebimbangan itu Mahesa Jenar mencoba mengamat-amati tanah-tanah di
sekitarnya. Kalau-kalau ia menemukan sesuatu sebagai petunjuk. Tiba-tiba ia
melihat rumput-rumput liar di padang rumput itu rebah searah. Tampaknya jelas,
bekas sesuatu yang diseret diatas rumput itu. Hati Mahesa Jenar kemudian
berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian ia melihat warna yang kehitam-hitaman di
atas rumput yang mewarnai jari-jarinya pula. Darah. Adakah darah ini darah Arya
Salaka?
Hati Mahesa Jenar kini benar-benar mendidih. Mahesa Jenar yakin pasti terjadi
sesuatu yang tak menyenangkan atas anak itu. Maka seperti digerakkan oleh tenaga
gaib, Mahesa Jenar berlari lebih cepat lagi, sehingga tampaknya seperti bayangan
malaikat yang melayang-layang di atas padang rumput yang luas. Ia tidak tahu,
sudah berapa lama ia berlari.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti berlari. Dilihatnya agak jauh di
depannya sebuah bayangan yang bergerak perlahan-lahan. Apalagi ketika dilihatnya
bayangan itu adalah seorang yang sedang mendukung sesuatu. Cepat Mahesa Jenar
menyelinap ke belakang sebuah puntuk, serta dengan hati-hati ia mendekati
bayangan yang berjalan semakin lama semakin cepat.
Ketika jarak orang itu sudah dekat serta dapat dicapainya dengan jelas oleh
matanya yang tajam, perasaan Mahesa Jenar terlonjak hebat. Yang didukung oleh
orang itu tidak lain adalah Arya Salaka. Karena itu segera darahnya bergelora.
Ia sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Maka segera ia mengambil
kesimpulan, bahwa orang itu adalah salah seorang yang melarikan Arya. Perasaan
Mahesa Jenar segera menghubungkan kejadian itu dengan Lembu Sora. Tidak mustahil
bahwa kejadian-kejadian ini adalah atas perintahnya.
Melihat hal itu, Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan diri lagi. Seperti
kilat ia meloncat dari tempat persembunyiannya sambil berteriak, Hai orang
yang mengandalkan kejantanan diri.... Letakkan anak itu, dan marilah kita
membuat perhitungan.
Orang itu terkejut. Dengan tangkasnya ia memutar tubuhnya. Ketika ia melihat
Mahesa Jenar sudah siap untuk menyerang, perlahan-lahan anak yang di dalam
dukungannya itu diletakkan. Agaknya ia menjadi curiga pula, karena itu segera
orang itu pun mempersiapkan dirinya.
Tetapi belum lagi ia bertanya sesuatu, Mahesa Jenar sudah tidak dapat lagi
menahan diri. Seperti taufan yang dahsyat, ia segera menyerang lawannya. Namun
agaknya lawannya pun bukanlah orang yang dapat direndahkan. Dengan cepat ia
berhasil menghindari serangan Mahesa Jenar. Bahkan dalam saat yang tidak lebih
dari sekejap mata, ia sudah siap untuk membalas serangan itu.
Segera terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Serangan Mahesa Jenar datang seperti mengalirnya ombak yang digerakkan oleh taufan yang dahsyat, sedang lawannya tidaklah kurang dari batu karang yang kokoh kuat. Bahkan tidak jarang pula orang itu berhasil mengadakan serangan-serangan balasan yang sangat berbahaya. Tangannya dapat bergerak-gerak dengan cepat serta tak terduga.
Agaknya mereka berdua memiliki ilmu yang seimbang.
Setelah mereka bertempur beberapa saat, ia menjadi keheran-heranan di dalam
hati. Kalau orang ini orang Pamingit sangatlah mustahil. Ia sudah dapat mengukur
kekuatan Lembu Sora yang dianggap orang terkuat di daerahnya, sedang orang ini
memiliki beberapa kelebihan, daripada kepala daerah perdikan itu.
Tetapi kemungkinan yang lain adalah Lembu Sora minta bantuan kepada orang
lain dengan imbalan yang tinggi. Sebab hal yang sedemikian tidaklah mustahil
dilakukan oleh orang itu. Mendapat pikiran yang demikian, hati Mahesa Jenar
menjadi semakin panas, karena itu serangannya menjadi semakin dahsyat pula.
Sehingga dengan demikian lawannya harus berjuang lebih keras lagi untuk dapat
menyelamatkan dirinya.
Demikianlah terjadi suatu pertempuran yang dahsyat diantara dua orang perkasa.
Tandang Mahesa Jenar semakin lama semakin garang, terdorong oleh suatu perasaan
bertanggung jawab terhadap Arya, yang berarti terhadap masa depan Banyubiru.
Tetapi lawannya pun menjadi semakin garang pula.
Mereka saling menghantam, saling menyerang dengan hebatnya. Ketika Mahesa
Jenar mendapat kesempatan, dengan segenap kekuatannya tangannya menghantam dada
lawannya. Demikian kerasnya sehingga lawannya terdorong beberapa langkah dan
kemundian jatuh terlentang. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan. Cepat
ia meloncati lawannya yang belum sempat bangun.
Tetapi tiba-tiba terasa perutnya muak sekali, dan dengan kerasnya ia
terlempar. Agaknya perutnya telah terkena dengan kerasnya tendangan lawannya.
Untuk beberapa saat Mahesa Jenar kehilangan keseimbangan. Ketika ia telah
berhasil berdiri tegak kembali, sebuah pukulan yang tepat mengenai rahang
kanannya, kembali ia terdorong ke belakang sampai punggungnya melekat pada
sebuah puntuk padas. Lawannya dengan cepat memburunya, dan sebuah pukulan tangan
kiri melayang dengan kerasnya.
Mahesa Jenar tidak mau rahang kirinya dikenai pula. Cepat ia memutar tubuhnya
sambil merendahkan dirinya. Tangan kiri lawannya itu berdesing dengan kerasnya
disertai dengan sambaran angin yang mengejutkan. Pada saat itulah kaki Mahesa
Jenar melayang ke lambung orang itu. Terdengarlah sebuah keluhan tertahan, dan
orang itu terlempar beberapa langkah. Cepat ia melangkah maju dan beberapa kali
tangannya berhasil menghantam lawannya sehingga lawannya itu jatuh berguling.
Melihat lawannya jatuh, Mahesa Jenar segera meloncat maju. Tetapi langkahnya segera terhenti ketika dengan lincahnya pula orang itu telah menyerang kembali ke arah dadanya. Dengan tangkas Mahesa Jenar membalas ke arah pelipisnya. Tetapi orang itu pun tidak mau dikenai pukulan Mahesa Jenar. Cepat ia merendahkan diri, dan sebuah hantaman yang kuat tepat mengenai perut Mahesa Jenar. Sekali lagi perut itu terasa muak dan seolah-olah isinya bergelut di dalamnya.
CERITA BERSAMBUNG = 19 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
215
UNTUNGLAH Mahesa Jenar telah mengalami masa penggemblengan baik jasmaniah
maupun rohaniah, sehingga dengan memusatkan segala tenaganya tetap tegak. Ketika
lawannya sekali lagi akan mengulangi serangannya, Mahesa Jenar berhasil
mendahului dengan sebuah tendangan yang dahsyat mengenai wajah orang itu,
sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Namun demikian ia terjatuh,
demikian ia berusaha untuk tegak kembali.
Dari sudut bibirnya melelehlah cairan berwarna merah. Darah. Ketika tangannya
mengusap darah itu, serta dirasanya cairan yang hangat, maka orang itu menjadi
marah sekali. Matanya segera menyala seperti api. Bibirnya tampak bergetar-getar
namun tak sepatah kata yang terdengar.
Tiba-tiba dari wajahnya yang membara itu memancar perasaan dendam tiada
taranya. Cepat orang itu menjulur lurus ke depan. Melihat sikap itu, Mahesa
Jenar terkejut. Ia pernah mendengar dari gurunya tentang sikap yang demikian.
Suatu sikap pemusatan pikiran dan perasaan untuk memancarkan suatu ilmu yang
dahsyat.
Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tidak sempat untuk mengingat-ingat lebih lama
lagi, sebab apabila ia terlambat menjaga diri, maka akibatnya tidak dapat
dibayangkan. Karena itu cepat-cepat ia memusatkan segala tenaga lahir dan batin,
mengatur peredaran pernafasannya. Satu kakinya diangkat dan ditekuk ke depan,
sedang sebelah tangan menyilang dada, dan yang satu lagi diangkatnya
tinggi-tinggi.
Peristiwa seterusnya, hanya terjadi dalam sekejap. Lawan Mahesa Jenar itu
meloncat maju, dan dengan telapak tangannya ia menghantam dahsyat sekali. Tetapi
pada saat itu Mahesa Jenar telah mengayunkan tangannya pula, sehingga
berbenturanlah sisi telapak tangannya dengan telapak tangan lawannya.
Terjadilah suatu benturan yang tidak terkira dahsyatnya. Suaranya berdentam
seperti sebuah ledakan. Dan akibatnyapun hebat pula. Kedua-duanya terlempar
beberapa langkah surut, dan kemudian mereka jatuh terguling untuk kemudian
beberapa saat pandangan mereka menjadi gelap, dan hilanglah kesadaran mereka.
Pada saat itu pecahlah fajar di langit. Warna yang kemerah-merahan membayang
di ujung timur, diantar oleh kokok ayam hutan saling bersahutan. Angin pagi yang
segar berhembus silir menggerakkan batang-batang ilalang yang seolah-olah menari
kegirangan menyambut datangnya pagi yang segar.
Dalam kesegaran angin pagi itu, dari arah timur berlarilah seekor kuda tidak
terlalu cepat. Penunggangnya yang berwajah tampan, beberapa kali selalu
mengamat-amati jalan yang akan dilewati. Agaknya ia sedang menuruti jejak dari
seekor kuda. Dalam cahaya fajar, rupa-rupanya penunggang kuda itu harus
memperhatikan bekas-bekas itu dengan saksama. Tetapi arahnya adalah tepat kepada
dua orang yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Ketika penunggang kuda itu telah semakin dekat, dan ketika tiba-tiba matanya yang bercahaya itu melihat kedua orang yang terbaring tak bergerak, maka ia menjadi sangat terkejut. Cepat ia meloncat turun mengamat-amati lawan Mahesa Jenar.
Dengan wajah yang cemas, ia meraba-raba dada orang itu, menggerak-gerakkan
tangannya dan mengendorkan ikat pinggang kulit yang melilit di perutnya. Setelah
itu perlahan-lahan ia mendekati Mahesa Jenar.
Alangkah terkejutnya ia, pada saat ia melihat siapakah yang terbaring pingsan itu, sehingga terloncatlah suaranya yang lunak halus, Kakang Mahesa Jenar....
Setelah itu ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Apalagi ketika ia sadar bahwa pasti telah terjadi pertempuran diantara mereka
berdua.
Dalam kebingungannya, penunggang kuda itu melihat Mahesa Jenar mulai
bergerak-gerak. Tanpa disengaja ia meloncat selangkah maju. Tetapi pada saat itu
pula ia melihat orang yang lain bergerak-gerak pula. Sehingga tanpa sadar ia
mendekatinya pula. Sesaat kemudian tampaklah mereka berdua telah dapat
mengangkat kepala masing-masing, meskipun pandangan mereka masih berputar-putar.
Tetapi demikian mereka saling memandang, maka dengan sisa kekuatan mereka,
segera mereka bangkit dan siap untuk bertempur kembali, meskipun mereka belum
dapat berdiri tegak.
Untunglah bahwa orang ketiga itu sempat memisahnya.
Mendengar suara orang ketiga yang halus, Mahesa Jenar terkejut bercampur
heran. Pandangannya bergerak-gerak berganti-ganti ke arah kedua orang yang
berada di hadapannya.
Dalam cahaya matahari pagi yang sudah semakin jelas, Mahesa Jenar dapat
melihat kedua-duanya dengan terang. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang
perkasa, bertubuh tegap kekar, berwajah cakap, serta berpakaian bagus. Beberapa
macam perhiasan melekat pada pakaiannya yang sudah menjadi kotor.
Tetapi yang paling menggetarkan adalah orang yang satu lagi. Meskipun orang itu berpakaian sederhana, tetapi dari wajahnya memancar cahaya yang menyilaukan mata Mahesa Jenar.
Ketika orang itu menyapanya, darah Mahesa Jenar serasa berdesir lebih cepat.
Kakang Mahesa Jenar, apakah yang telah menyebabkan Kakang bertengkar dengan
Kakang Sarayuda?
Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Melihat wajah
orang yang disebut Sarayuda itu, tiba-tiba Mahesa Jenar meragukan tuduhannya,
bahwa orang itu telah menjadi suruhan Lembu Sora untuk membunuh Arya.
Karena Mahesa Jenar beberapa lama tidak menjawab, maka terdengarlah suara
Sarayuda, masih dengan nada kemarahan, Kau kenal dia, Pudak Wangi...?
Orang yang dipanggil Pudak Wangi itu menganggukkan kepalanya. Ya, aku kenal orang itu Kakang, seperti aku mengenal Kakang Sarayuda, jawabnya.
Mendengar jawaban Pudak Wangi, Sarayuda bertambah tidak senang. Di mana dan
kapan kau kenal dia?
Pudak Wangi tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi kepada Mahesa Jenar ia berkata, Kakang, marilah Kakang Mahesa Jenar aku perkenalkan dengan Kakang Sarayuda.
CERITA BERSAMBUNG = 20 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
216
MENDENGAR ajakan Pudak Wangi, perasaan Mahesa Jenar menjadi bertanya-tanya. Apakah hubungan antara Pudak Wangi dengan Sarayuda...?
Sebaliknya Sarayuda yang masih dipengaruhi oleh kemarahannya, menjadi agak
bingung.
Agaknya Pudak Wangi merasakan kekakuan suasana, maka ia menjelaskan, Kakang Mahesa Jenar.., Kakang Sarayuda adalah murid Eyang Pandan Alas.
Mendengar keterangan itu, hati Mahesa Jenar berdebar tak keruan. Kalau demikian
ia telah berbuat suatu kesalahan. Mustahillah kalau murid Pandan Alas telah
berbuat suatu kejahatan. Perlahan-lahan matanya beredar ke arah Arya terbaring,
dan perlahan-lahan didekatinya anak itu. Anak tempat menumpahkan segala harapan
masa depannya.
Karena ia sendiri sampai saat itu belum mempunyai gambaran sesuatu tentang kelanjutan dari perguruannya, maka ia telah berbuat suatu kesalahan. Sambil meraba-raba tubuh Arya, Mahesa Jenar mengangguk hormat kepada Sarayuda.
Barangkali aku telah berbuat kesalahan. Karena itu aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku adalah Mahesa Jenar, murid dari Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh, katanya.
Mendengar pengakuan Mahesa Jenar, Sarayuda menjadi terkejut pula, disamping
pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya.
Kalau orang itu murid Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh seperti yang pernah
didengar dari gurunya, lalu apakah sebabnya ia demikian saja menyerangnya tanpa
sebab?
Belum lagi Sarayuda bertanya, terdengar Mahesa Jenar melanjutkan,
Tuan... sebenarnya aku tadi telah meraba-raba. Menilik sikap Tuan,
pastilah Tuan ada hubungannya dengan salah seorang sahabat almarhum guruku.
Tetapi aku sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengingat-ingat. Baru
kemudian setelah Adi Pudak Wangi mengatakan bahwa Tuan adalah murid Ki Ageng
Pandan Alas, aku jadi teringat kepada ceritera guruku, bahwa sikap yang demikian
tadi adalah sikap khusus perguruan Ki Ageng Pandan Alas dengan sebutan Aji Cunda
Manik.
Wajah Sarayuda kini telah mengendor, namun matanya masih mengandung bermacam-macam pertanyaan.
Aku pun kemudian tahu pula, bahwa Tuan telah melawan Aji Cunda Manik
dengan aji yang terkenal, Sasra Birawa. Untunglah bahwa aku tidak lumat
karenanya.
Ah, jangan merendahkan diri Tuan, sahut Mahesa Jenar. Cunda Manik adalah
suatu kekuatan yang tiada taranya.
Tetapi, apakah sebabnya Tuan menyerang aku tanpa sebab, sedang aku lagi
berusaha menyelamatkan jiwa anak itu? tanya Sarayuda kemudian.
Tiba-tiba wajah Mahesa Jenar jadi pucat. Maka dengan gugup ia bertanya, Tuan sedang berusaha menyelamatkan jiwa anak ini?
Demikianlah, jawab Sarayuda. Ketika aku sedang menikmati kesejukan
malam di padang ilalang ini, aku mendengar jerit anak itu. Ketika aku
mendekatinya, maka aku melihat seorang anak sedang diseret dan disiksa oleh tiga
orang yang tak mengenal perikemanusiaan. Akhirnya aku terpaksa membunuh ketiga
orang yang tidak mau mendengarkan peringatanku. Bahkan mereka telah mencoba
untuk membunuh anak yang sudah pingsan itu.
Mendengar ceritera itu, Mahesa Jenar menjadi semakin pucat.
Kalau demikian, Tuanlah yang telah menyelamatkan jiwa anak itu? Kalau
demikian maka dengan menyerang Tuan, aku telah berbuat kesalahan yang
berlipat-lipat. Sebab aku mengira bahwa Tuan telah mengambil anakku itu dari
rumahku.
Sarayuda mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang ia sedikit banyak telah dapat mengetahui duduk perkaranya, kenapa Mahesa Jenar langsung menyerangnya pada saat ia sedang mendukung anak yang pingsan itu.
Agaknya Tuan telah salah sangka, katanya.
Mahesa Jenar menjawab lirih,
Benar Tuan, aku terlalu tergesa-gesa, karena kecemasan akan nasib anakku.
Siapakah anak itu? tanya Pudak Wangi, yang memperhatikan percakapan kedua orang itu dengan saksama.
Arya Salaka, jawab Mahesa Jenar. Ia adalah putra Kakang Gajah Sora,
kepala perdikan Banyubiru, yang juga cucu Paman Sora Dipayana.
Aku pernah mendengar nama itu dari Bapa Pandan Alas, sahut Sarayuda, dan
untunglah bahwa aku telah menjumpai orang-orang yang mencoba mengganggunya.
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan segala sesuatu yang telah terjadi atas Arya,
dan suatu kebetulan yang tak disangka-sangka bahwa kemudian ia bertemu dengan
murid Ki Ageng Pandan Alas, Sarayuda dan Pudak Wangi mendengarkan kata-kata
Mahesa Jenar itu dengan seksama.
Sampai akhirnya Mahesa Jenar berkata, Aku minta maaf, Tuan, bahwa aku telah menyerang Tuan. Untunglah bahwa Tuan adalah seorang perkasa. Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Tuan maka aku akan menanggung dosa yang tiada taranya.
Sarayuda tersenyum hambar. Bagaimanapun juga ia masih agak jengkel kepada Mahesa
Jenar. Tetapi mendengar keterangan Mahesa Jenar, ia dapat mengerti sepenuhnya,
perasaan apakah yang mendorongnya sehingga ia berbuat demikian.
Kemudian atas persetujuan mereka bersama, Arya segera didukung oleh Pudak
Wangi di atas kudanya, dan segera dilarikan ke tempat pemondokannya, untuk
segera mendapat perawatan yang lebih baik. Sedang Sarayuda dan Mahesa Jenar
segera berjalan menyusulnya, meskipun kemudian mereka terpaksa kembali dengan
membawa alat-alat untuk mengubur orang-orang yang terbunuh oleh Sarayuda.
Mereka pergi ke sebuah bukit, dimana Ki Ageng Pandan Alas membangun sebuah
gubug sebagai tempat peristirahatan. Di sebelahnya terbentang sebuah tanah
pategalan yang luas, milik orang-orang padepokan di bukit itu pula.
Sebagai seorang yang sedang melakukan tugas yang diliputi oleh rahasia, maka Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri pula. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas diterima sebagai seorang penduduk yang baik hati beserta cucunya seorang pemuda pemalu yang tidak pernah keluar dari gubugnya.
CERITA BERSAMBUNG = 21 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
217
KADANG-KADANG Ki Ageng Pandan Alas yang menamakan dirinya Ki Punjung, pergi
beberapa hari untuk mendapatkan keterangan tentang keris
Nagasasra dan Sabuk Inten.
Namun sampai beberapa minggu kedua keris itu masih diliputi oleh takbir
kegelapan.
Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat,
siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis,
untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis
dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan
dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok
itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda,
yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu
adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka
beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah
beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk
menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.
Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya
dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda
kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda
mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya
meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa
berkabung itu lampau.
Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung
Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda
telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.
Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi,
maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis.
Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah,
bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang
meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi
untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.
Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke
tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak
dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan
cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada
bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.
Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.
Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.
Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke
tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun
bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak
ada bedanya.
Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan
Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan
perasaannya kepada Rara Wilis.
Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat
tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin
melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan
kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar
sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu.
Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang
agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.
Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah
sebab-musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga
orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali
melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.
Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya
telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar
menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.
Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu
ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika
Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.
Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu.
CERITA BERSAMBUNG = 22 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
218
Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga
dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik
Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai
cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.
Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta
pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat
kesehatannya telah hampir pulih kembali.
Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama
tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.
Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara
Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi
Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai
ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda,
Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap
Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.
Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.
Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan
seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.
Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang
susul-menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan
bekas luka yang pedih.
Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di
sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun
ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta
bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu
adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat
mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.
Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.
Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering
berburu.
Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan
busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia
tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang
mengganggunya.
Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan
kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang
diseling-seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran
harimau-harimau yang sedang mencari mangsa.
Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di
langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa
kali lembaran-lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit
berkeliaran di danau yang luas.
Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas
kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda
angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih
dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita
hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama
sekali tak berarti.
Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah
oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan
hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai
akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya
serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu,
debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di
hadapannya adalah Pudak Wangi.
Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya, Akan ke manakah Adi Pudak Wangi malam-malam begini?
Pudak Wangi tidak segera menyahut.
Kemudian ia bertanya, Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?
Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.
Kalau demikian aku akan pergi berburu pula, lanjut Pudak Wangi.
Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar, Adi... aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu.
Tetapi sesaat kemudian ia menjawab, Kakang Mahesa Jenar..., kalau Kakang
boleh berburu pada malam hari, apa sebabnya aku tidak...? Adakah bedanya...?
CERITA BERSAMBUNG = 23 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
219
MAHESA JENAR terdiam. Barulah ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, bukan dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Karena itu, segera ia menjawab, Tidak ... Adi, sama sekali tak ada bedanya.
Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula,
Desak Pudak Wangi.
Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta. Tetapi banyak halangannya berjalan di malam hari, meskipun Adi pada dasarnya diperkenankan berburu pula.
Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab, Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan
bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak
mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk
mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?
Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi.
Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak
Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali
Pudak Wangi berkata, Jadi, masih tetapkah Kakang Mahesa Jenar menolak aku
ikut serta?
Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab, Silahkan Adi... silahkan.
Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian
berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di
sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada,
membatasi pergaulan mereka.
Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan,
bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan
segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.
Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak
kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat
bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.
Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.
Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan
orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.
Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya, He,
siapakah kalian yang pada malam-malam begini berkeliaran di sini?
Kami adalah petani-petani di bukit ini, jawab Mahesa Jenar.
Hem... desis yang lain. Lalu apa kerja kalian di sini?
Kami sedang berburu ayam hutan, jawab Mahesa Jenar pula.
Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang
diantaranya lebih lanjut, Adakah kau lihat di sekitar bukit ini kemarin atau
lusa atau beberapa hari yang lalu tiga orang asing lewat?
Tiga orang? ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat. Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.
Maka katanya, Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan.
Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak
laki-laki bersama dengan mereka.
Seorang anak laki-laki? potong salah seorang diantaranya.
Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu,
lanjut Mahesa Jenar.
Bukan, sama sekali bukan, jawab yang lain.
Pasti demikian, sela Mahesa Jenar, Sebab anak itu didukungnya dengan penuh
kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya.
Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah
seorang berkata, Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada
saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?
Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu
adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh
oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena
orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora
kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu.
Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.
Tuan salah terka. Anak itu sampai sekarang masih segar bugar. Oleh ketiga orang itu, ia mereka titipkan kepada kami, sementara mereka pulang untuk mengambil jemputan dan kendaraan, kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat.
Dengan gugup salah seorang bertanya, Ketiga orang itu berasal dari mana?
Dari Banyubiru, jawab Mahesa Jenar cepat-cepat. Mereka adalah utusan Nyi
Ageng Gajah Sora.
Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar
melanjutkan, Nama anak itu adalah Arya Salaka.
Berikan anak itu kepadaku! Tiba-tiba yang seorang berteriak.
Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar
hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung
hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai
pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah
bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.
CERITA BERSAMBUNG = 24 SEPTEMBER 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
220
SIAPAKAH sebenarnya kalian? tanya Mahesa Jenar.
Aku juga suruhan Nyi Ageng Gajah Sora dari Banyubiru, jawab mereka.
Sayang, bahwa aku tidak berani menyerahkan anak itu kecuali kepada yang telah
menitipkan, sahut Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, agaknya kedua orang itu menjadi marah sekali.
Kau berikan anak itu, atau kau aku seret di belakang kudaku? teriak orang
itu.
Melihat muka-muka yang kasar dari kedua orang itu Mahesa Jenar menjadi muak.
Tetapi masih juga ia menjawab dengan tenang, Aku tidak akan memberikan anak itu. Ketahuilah bahwa ketiga orang Banyubiru yang akan menyelamatkan Arya Salaka itu sudah aku bunuh, dan sekarang anak itu pun akan aku bunuh pula. Aku adalah orang Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit.
Mendengar jawaban Mahesa Jenar, kedua orang berkuda itu tubuhnya menjadi
bergetar karena marah. Mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan serta telah
dikenal pula sebagai orang-orang Lembu Sora yang diperintahkan membunuh Arya.
Karena itu tidak ada jalan lain kecuali membinasakan kedua orang yang tidak
dikenalnya itu. Dengan gigi yang gemeretak mereka mencabut pedang-pedang mereka.
Bersamaan dengan itu, Mahesa Jenar pun menjadi semakin muak pula melihat mata
yang mirip dengan mata burung hantu, serta mata yang sama sekali padam di atas
bibir yang melengkung ke bawah. Karena itu segera ia akan bertindak melenyapkan
pemandangan yang sama sekali tidak menarik hati itu.
Tetapi baru saja Mahesa Jenar akan melangkah, terasalah Pudak Wangi menggamit pundaknya sambil berbisik, Kakang Mahesa Jenar, berilah aku kesempatan untuk berlatih. Tetapi jangan lepaskan aku dari pengawasan.
Mahesa Jenar agak terkejut mendengar bisik Pudak Wangi, tetapi kemudian ia
tersenyum. Dengan berbisik pula ia menjawab, Silahkan murid Ki Ageng Pandan
Alas.
Oleh jawaban itu, Pudak Wangi menjadi agak malu. Namun sesaat kemudian Mahesa
Jenar telah meloncat ke samping pada saat serangan kedua orang berkuda itu
datang.
Pudak Wangi pun lincah pula. Sambil memungut busurnya ia meloncat ke samping,
serta dengan tangkasnya ia berjongkok, untuk sesaat yang sangat pendek siap
melontarkan anak panahnya.
Sengaja Pudak Wangi tidak segera mengarahkan anak panahnya kepada orang-orang
yang mengendarai kuda-kuda itu, karena ia ingin mengetahui sampai di mana
tingkat ilmu yang pernah diterima dari kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas.
Mengalami kejadian itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian mereka tidak berani tergesa-gesa menyerang, sebab mereka sadar bahwa busur di tangan Pudak Wangi itu tak dapat diperingan akibatnya.
Karena itu mereka segera meloncat turun dan lari-lari berputaran sambil
mendekati bersama-sama dari arah yang berlawanan.
Pudak Wangi, yang memang sama sekali tak ingin membunuh mereka dengan panahnya, segera meletakkan busurnya serta kemudian mencabut pedangnya pula.
Kedua orang lawannya menjadi keheranan kenapa orang itu tidak mempergunakan
panahnya.
Tetapi mereka sama sekali tidak mau membuang-buang waktu lagi. Segera mereka
bersama-sama mendesak maju. Karena Mahesa Jenar kemudian menyingkir saja, maka
perhatian mereka tercurah kepada Pudak Wangi.
Ternyata Pudak Wangi yang meskipun baru menerima pelajaran beberapa bulan
saja, namun ia telah dapat menunjukkan kelincahan serta ketangkasan bergerak.
Dengan melingkar dan kemudian meloncat mundur, ia berhasil menghindari kedua
serangan yang datang dari arah yang berbeda itu sekaligus. Bahkan demikian
kakinya menyentuh tanah, ia segera meloncat maju menyerang dengan pedangnya yang
tipis namun tajamnya tiada terkira.
Pedang itu dibuat oleh Ki Ageng Pandan Alas, khusus untuk Pudak Wangi.
Meskipun bentuknya tidak ubahnya pedang biasa, namun pedang itu agak lebih
ringan.
Kedua orang lawan Pudak Wangi itu terkejut melihat lawannya dapat
menghindarkan diri, bahkan kemudian dengan cepatnya telah menyerang kembali.
Segera mereka berloncatan mundur. Meskipun kedua orang itu adalah dua orang yang
telah berpuluh tahun menjadi laskar Pamingit, namun mereka belum pernah menerima
latihan yang teratur dan bersungguh-sungguh, sehingga apa yang mereka lakukan
adalah cara-cara yang kasar namun sederhana.
Mereka lebih senang mempergunakan tenaga dari pada otak mereka. Karena itu,
meskipun melawan dua orang sekaligus, Pudak Wangi dapat melayani mereka dengan
baiknya. Meskipun setelah beberapa lama, ternyata bahwa kedua orang Pamingit itu,
bagaimanapun juga telah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada
Pudak Wangi, sehingga akhirnya Pudak Wangi perlahan-lahan menjadi agak terdesak.
Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar menjadi keheranan. Agaknya darah Ki
Ageng Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya telah memberinya bekal yang
cukup untuk menjadikannya seorang yang perkasa. Baru beberapa bulan yang lalu di
hutan Tambak Baya, seorang gadis hampir membunuh dirinya karena ia dikejar-kejar
oleh Jaka Soka, dan kemudian setelah gadis itu ditolongnya, telah menjadikan
Mahesa Jenar hampir gila karena gadis yang ditolongnya itu lenyap. Semuanya itu
baru terjadi beberapa bulan, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah baru kemarin
sore.
Sekarang, Mahesa Jenar menyaksikan gadis yang mengubah dirinya menjadi seorang pemuda bernama Pudak Wangi, telah dapat melawan dua orang laki-laki yang tubuhnya kuat seperti orang hutan, dengan otot-otot menjorok di permukaan kulit. Bagaimanapun tekunnya Pudak Wangi belajar, serta bagaimanapun sakti guru yang memberinya pelajaran, kalau di dalam tubuh Pudak Wangi tidak tersimpan bakat yang kuat, pasti dalam waktu yang pendek itu pelajaran yang diterimanya belumlah berarti.