Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG =31 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
196
MAHESA JENAR menjadi agak keheran-heranan. Apakah kerja Gajah
Alit di sini? Melihat cara Mantingan berkelahi, Mahesa Jenar menjadi kagum.
Alangkah cepatnya ia mendapat kemajuan. Langkahnya jauh lebih lincah dari
beberapa saat yang lalu, ketika ia harus menghadapinya sebagai lawan, serta
unsur-unsur geraknya menjadi banyak dan berbahaya. Tetapi yang lebih mengagumkan
Mahesa Jenar adalah cara Mantingan mempergunakan trisulanya. Ketiga ujung
trisula itu seolah-olah berubah menjadi tangan-tangan besi yang siap menangkap
dan membunuh setiap tubuh apapun yang tersinggung olehnya.
Mahesa Jenar melihat bahwa sebenarnya Mantingan, pasti sudah
menerima ilmu-ilmu baru dari gurunya. Tangannya yang satu lagi selalu bergerak,
menjulur, dan trisulanya mendesing-desing menimbulkan sambaran-sambaran angin
yang menakutkan. Karena itu, sekarang Mahesa Jenar tidak berwas-was lagi
terhadap Mantingan. Dengan ilmunya itu Mantingan sudah dapat disejajarkan dengan
Lawa Ijo, Jaka Soka, Sima Rodra dan sepasang Uling dari Rawa Pening. Seandainya
dirinya tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak, serta mendapat kesempatan
untuk memiliki Aji Sasra Birawa, maka untuk dapat mengalahkan Mantingan dengan
trisulanya adalah terlalu sulit.
Tetapi lawan Mantingan itu bukan orang kebanyakan pula. Ia
adalah setingkat pula dengan Mahesa Jenar tanpa aji Sasra Birawa. Bahkan mungkin
sepeninggal Mahesa Jenar, Gajah Alit yang dipercaya untuk mengisi kedudukannya.
Ketika trisula Mantingan dengan dahsyat mematuk-matuk hampir
mencapai tingkat tertinggi, maka pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Mahesa
Jenar kemudian menjadi cemas ketika dilihatnya bahwa agaknya pertempuran itu
telah mencapai puncaknya. Masing-masing telah mengeluarkan segala kemampuan yang
ada untuk membinasakan lawannya.
Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi ragu. Kalau ia melerai
mereka, maka Gajah Alit pasti akan mengenalnya. Tetapi bila dibiarkan,
pertempuran itu pasti akan membawa korban.
Selagi Mahesa Jenar termangu-mangu, pertempuran itu menjadi
semakin sengit. Trisula Mantingan bergerak dengan cepatnya seperti petir
menyambar-nyambar, sedang senjata Gajah Alit berputar semakin cepat pula
sehingga yang tampak hanyalah bayangan hitam yang bergulung-gulung mengerikan,
seperti awan gelap yang hendak melanda dengan dahsyatnya.
Beberapa kali rantai berkepala bola besi Gajah Alit berhasil
melilit senjata lawannya, tetapi ia sama sekali tak berhasil merampasnya. Bahkan
kadang-kadang mereka sampai lama berputar-putar, tarik-menarik senjata
masing-masing, sehingga akhirnya terpaksa mereka berusaha untuk mengurai lilitan
rantai itu.
Demikian senjata mereka terurai, demikian senjata-senjata itu
kembali berputar, menyambar dan menusuk-nusuk dengan dahsyatnya. Melihat
semuanya itu akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk melerai mereka.
Karena itu segera ia meloncat maju mendekati arena pertempuran itu sambil
berteriak nyaring, Tahan dirimu masing-masing. Hentikan pertempuran ini.
Tetapi agaknya mereka yang bertempur itu sama sekali tak mendengarnya, sebab pendengaran mereka dikacaukan oleh bunyi senjata mereka yang berdesing-desing dan berdentangan saling beradu. Sedang perhatian mereka seluruhnya tertumpah pada upaya mempertahankan jiwa masing-masing. Karena itu sekali lagi Mahesa Jenar berteriak, lebih keras dari semula sambil meloncat lebih dekat lagi, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit, hentikan pertempuran.
Baru ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebut, mereka
menjadi terkejut. Apalagi, ketika mereka lihat seseorang mendekat, Mantingan dan
Gajah Alit hampir berbareng meloncat surut, dan dengan herannya memandang kepada
Mahesa Jenar yang kemudian meloncat diantara mereka. Tetapi untuk sesaat mereka
tidak segera mengenal siapakah yang telah melerai mereka itu, sampai Mahesa
Jenar berkata, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit.... Adakah sesuatu yang
tidak wajar, sehingga kalian terpaksa bertempur?
Mantingan dan Gajah Alit, segera mengenal suara itu. Karena itu hampir berbareng mereka menyebut nama Mahesa Jenar.
Ya, inilah aku, jawab Mahesa Jenar.
Mendengar jawaban itu, segera mereka berloncatan maju sambil berebutan memberi salam.
Kemanakah kau selama ini, Kakang? tanya Gajah Alit, Kau begitu saja menghilang seperti hantu.
Mahesa Jenar tidak segera menjawab pertanyaan ini, tetapi malahan ia bertanya,
Kenapa kalian bertempur?
Mantingan dan Gajah Alit kemudian saling berpandangan. Memang
sebenarnya mereka tidak mempunyai suatu alasan yang kuat, kecuali mereka
sebenarnya hanya saling curiga.
Aku tidak tahu sekarang, jawab Gajah Alit sambil
tersenyum-senyum. Wajahnya yang bulat itu masih saja memancarkan kejenakaannya.
Kami sebenarnya tidak mempunyai urusan, jawab Mantingan.
Lalu apakah sebabnya? tanya Mahesa Jenar heran.
Sebenarnya kami belum saling mengenal, jelas Mantingan.
CERITA BERSAMBUNG = 1 September 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
197
MENDENGAR kata-kata itu, barulah Mahesa Jenar sadar bahwa
sebaiknya ia memperkenalkan kedua orang yang baru saja bertempur itu.
Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan
maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang
perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya
nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu
juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga
orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.
Dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap
dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum
menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas
dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa.
Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat
berbahaya.
Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan
Gajah Alit, Apakah urusan kalian, sehingga kalian sampai mempertaruhkan nyawa
kalian?
Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi
penjelasan.
Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap.
Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang
kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa
yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.
Benarkah begitu, Adi Gajah Alit? Mahesa Jenar
menegaskan.
Begitulah, Kakang, jawab Gajah Alit, Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak.
Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata, Tuan
terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat
memandang bulan.
Aku tidak dapat mengatakan, potong Mahesa Jenar, Siapakah yang lebih
unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di
sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening.
Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan, Apakah sebenarnya
kepentingan Adi Gajah Alit kemari?
Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil
memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya, Katakanlah.
Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah.
Kakang.... Gajah Alit memulai, Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari.
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan
tengah bulan ini?
Ya, Jawab Gajah Alit, Bahkan aku tidak seorang diri.
Kau tidak seorang diri? ulang Mahesa Jenar.
Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron. Gajah Alit meneruskan.
Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga.
Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah
dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.
Di manakah Adi Paningron sekarang? tanya Mahesa Jenar.
Sejak senja kami berpisah, jawab Gajah Alit. Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu.
Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami
masih harus bekerja keras.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.
Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak
berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?
Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar.
Karena itu ia berkata, Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang
Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis
orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek.
Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.
Percayakan itu padaku, tegas Gajah Alit.
Baiklah... kata Mahesa Jenar, Kalau demikian aku bersamamu menunggu
kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan
bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah
menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri.
Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya
terdengar ia berkata, Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi.
He...? Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.
Dengan siapa Kakang pergi? tanya Mahesa Jenar.
Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku,
jawab Mantingan.
CERITA BERSAMBUNG = 2 September 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
198
MAHESA JENAR dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk.
Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan
setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan.
Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu
pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang
keberangkatan mereka.
Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya,
tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan
seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih
luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak
seperguruannya itu.
Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak
sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa
saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga
menyertainya.
Di manakah kakak seperguruan Kakang itu? tanya Mahesa
Jenar kemudian.
Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin.
Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih
belum dapat kami temukan.
Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak
seperguruan Kakang Mantingan, sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.
Mudah-mudahan, jawab Mahesa Jenar.
Kalau demikian... lanjut Mahesa Jenar, Aku tunggu di sini. Kalian cari
kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah
kalian cari-cari lagi.
Kenapa? tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.
Carilah kawan-kawan kalian, desak Mahesa Jenar, dan
cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku
menunggu kalian di sini.
Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.
Tepat! sambung Mantingan, Aku juga menduga demikian.
Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. Mungkin kalian benar, karena itu kalian
harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.
Baiklah, jawab mereka berbareng.
Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk
beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang
bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir
dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.
Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang
mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu.
Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang
mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit,
yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan
dan Wiraraga.
Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar,
demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar
dengan sebutan Rangga Tohjaya.
Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil
berkata, Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah
menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung
perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan
kejahatan.
Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.
Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak
tersenyum-senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi
nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban.
Matanya memancar lembut, tetapi dalam.
Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang
benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang
mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena
sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang
sebenarnya.
Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula
bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ
sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu,
sehingga suasana kemudian menjadi riuh.
Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka
berbicara tentang tokoh-tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama
penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.
Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang
lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu
akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat
dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.
Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga
pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta
seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.
Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk
melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.
Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan
pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat
yang sangat baik.
CERITA BERSAMBUNG = 3 September 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
199
TEMPAT itu agak menjorok ke atas, tetapi ditumbuhi pepohonan
yang agak lebat. Dari tempat itu, mereka akan dapat melihat apa saja yang
terjadi di lapangan rumput yang terbentang di hadapannya. Meskipun pada siang
hari, tempat itu akan tetap merupakan tempat yang tersembunyi. Mereka yang
sedang bertugas mengadakan pengawasan harus memanjat sebuah pohon yang tak
begitu tinggi, namun berdaun rimbun. Sedang yang lain dapat dengan aman
beristirahat tidak lebih dari dua puluh langkah dari tempat itu, sambil
menikmati ketupat sambal, bekal yang dibawa oleh Mantingan atau jadah jenang
alot, bekal Gajah Alit.
Pada siang hari itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat
betapa orang-orang Uling Rawa Pening berusaha keras menyelesaikan pekerjaan
mereka, bahkan pada malam harinya pun pekerja-pekerja itu tetap melakukan tugas
mereka sampai barak-barak itu siap dipergunakan.
Maka pada hari berikutnya, menjelang purnama penuh, tampaklah
di tempat itu kesibukan-kesibukan yang padat. Uling Putih dan Uling Kuning
sendiri datang menjelang hari sepenggalah.
Ketika matahari telah mencapai puncaknya, maka mulailah
penjagaan-penjagaan sekeliling tempat itu semakin ditertibkan. Sri Gunting
sendiri yang memimpinnya. Beberapa orang telah diperintahkan untuk meronda
keliling, serta beberapa orang lagi ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap
perlu.
Dalam pada itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berani
lagi berbuat seenaknya. Sebab setiap saat ada kemungkinan para peronda melintasi
tempat mereka bersembunyi. Karena itu, daripada mereka harus selalu
memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, maka mereka lebih menganggap aman
apabila mereka semuanya memanjat pohon. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi
bersusah payah menegangkan urat syaraf mereka.
Berdasarkan atas pikiran itu, maka segera mereka berlima
memilih tempat mereka masing-masing. Tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi
juga tidak terlalu jauh.
Beberapa saat, perasaan mereka dihinggapi oleh ketegangan yang semakin lama
semakin memuncak, karena mereka harus menunggu suatu peristiwa yang cukup
penting. Sedang di bawah mereka beberapa peronda sudah lebih dari dua kali lewat
hilir-mudik. Namun untunglah bahwa tak seorang pun dari mereka merasa perlu
untuk menyelidiki dahan-dahan kayu di atas mereka.
Ketika matahari telah condong ke barat, mulailah rombongan
yang pertama datang ke tempat itu. Rombongan yang datang paling awal adalah
rombongan dari Gunung Tidar. Beberapa waktu yang lampau Mahesa Jenar pernah
menyaksikan orang-orang dari golongan hitam ini berkumpul, tetapi agaknya kali
ini pertemuan mereka lebih bersifat resmi.
Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring,
di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok,
membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa
kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.
Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut
rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang
agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat,
rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang
rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.
Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan
Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro
Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu
Sora beserta para pengiringnya.
Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu
Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar
pula menyaksikan kedatangannya.
Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu
kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan
itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut
perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan
dimulai.
Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul
oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di
langit.
Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan
dimulai.
Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan
berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk
penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala
sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul
perlahan-lahan.
Sesaat kemudian muncullah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing
menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu.
Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.
Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan
tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu
kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening.
Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian
timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk
rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang
disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong.
Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara muncullah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.
CERITA BERSAMBUNG = 4 September 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
200
DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah
menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi
Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia
berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung
berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.
Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut.
Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab
pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak
berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya
Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.
Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora.
Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya
telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya
yang dipergunakannya sebagai perisai.
Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka.
Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi
ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka
Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang
lambung Lembu Sora dengan pedangnya.
Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu
Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari
pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar
serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi,
sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar
menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua
tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan
rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang
terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya
menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak
mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan.
Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka
menjadi sadar atas apa yang terjadi.
Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka,
hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka,
kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.
Biarkanlah mereka, kata Uling Putih. Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa.
Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga
dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan, Aku setuju dengan
pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan.
Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang?
Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang
Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu
kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak
sendiri binasa.
Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak
sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka
sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai
perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.
Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.
Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox