NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
191
MEREKA berjalan
dengan agak tergesa-gesa. Mahesa Jenar mengharap untuk dapat segera sampai ke
Pudak Pungkuran dan menitipkan Arya di sana. Setelah itu ia akan berusaha dengan
bersembunyi menemui Wanamerta dan ibu Arya, untuk membeberkan peranan Lembu Sora
yang sebenarnya.
Ternyata Arya pun adalah anak yang betah berjalan. Meskipun tampaknya ia agak
lelah, ketika Mahesa Jenar mengajaknya beristirahat anak itu menolak. Maka
mereka pun berjalan terus di dalam gelapnya malam.
Mahesa Jenar memang pernah pergi ke Pudak Pungkuran. Dan ia telah pula
mengenal jalan dari tempat itu ke Banyubiru. Tetapi sekarang untuk menghindari
bahaya, ia menempuh jalan lain. Jalan yang belum pernah dilewatinya. Karena itu
ia menjadi agak bingung dan kesulitan untuk menemukan arah yang tepat di dalam
gelap serta di dalam hutan yang belum pernah dijamahnya.
Maka kemudian ketika fajar menyingsing, serta melemparkan warna kemerahan ke
segenap penjuru, insyaflah Mahesa Jenar bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan
yang sama sekali tidak mengarah ke Pudak Pungkuran.
Karena itu dengan hati berdebar-debar ia berkata, Arya.., agaknya aku telah kehilangan jurusan untuk mencapai Pudak Pungkuran.
Arya memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang tidak mengerti. Lalu ke
mana kita pergi, Paman?
Mahesa Jenar menarik nafas. Dengan hilangnya arah Pudak Pungkuran, ia tidak lagi
mempunyai suatu tujuan tertentu lagi. Karena itu ia menjawab, Arya, tujuan
bukanlah hal yang penting bagi kita. Kemanapun kita akan pergi, adalah sama saja.
Sebab akhirnya kita akan kembali lagi ke Banyubiru. Karena itu, jangan
dirisaukan tujuan kita.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi badannya sudah bertambah letih.
Meskipun demikian Arya masih belum mau untuk beristirahat. Karena itu kembali
mereka berjalan menyusur hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun perlahan-lahan,
namun mereka setapak demi setapak tetap maju.
Ketika matahari sudah mencapai ujung pepohonan, hutan yang ditempuh itu sudah
semakin menipis. Sejenak kemudian tuntaslah hutan itu. Mahesa Jenar dan Arya
Salaka segera menempuh padang rumput yang tidak begitu luas untuk segera sampai
ke daerah yang didiami orang.
Di sinilah mereka beristirahat. Orang-orang yang membangun daerah itu menjadi
pedesaan, ternyata adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Yang menerima
Mahesa Jenar dan Arya Salaka sebagai seorang perantau beserta anaknya, dengan
senang hati.
Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak dapat untuk seterusnya menetap di tempat itu, sebab menurut pertimbangannya, tempat itu masih terlalu dekat dengan Banyubiru.
Karena itu ketika ia beserta Arya telah beristirahat satu malam, mereka minta
izin kepada penduduk desa itu untuk segera meneruskan perjalanan. Terpaksa
Mahesa Jenar membohongi orang-orang desa itu, dengan mengatakan arah yang
bertentangan dengan arah yang sebenarnya hendak ditempuh, untuk menghindari
orang-orang yang mencari mereka, kalau-kalau menanyakan kepada penduduk, apabila
mereka sampai di tempat itu.
Pada hari berikutnya Mahesa Jenar sampai pula pada sebuah desa yang lain.
Penduduk desa ini terdiri dari orang-orang yang baik hati dan ramah pula.
Mereka menerima Mahesa Jenar dengan senang hati, serta dengan gembira mereka
menerima Mahesa Jenar sebagai warga baru di desa itu.
Di daerah ini Mahesa Jenar merasa, bahwa keamanan Arya telah dapat
dipertanggungjawabkan. Karena itu ia pun menyatakan diri sebagai keluarga baru
serta dengan bekerja keras ia pun segera membangun perumahan serta menebas hutan
untuk tanah pertanian, sebagaimana dilakukan oleh setiap pendatang.
Di tempat kediamannya yang baru itu Mahesa Jenar dianggap tidak lebih dari
seorang petani biasa. Seorang yang seperti kebanyakan penduduk di desa itu, yang
datang untuk sekadar dapat memperbaiki nasibnya dengan mengolah tanah yang
sedikit lebih subur dibanding daerah mereka semula.
Demikianlah Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah memulai dengan suatu
penghidupan baru, sebagai seorang petani yang bekerja untuk mempertahankan
hidupnya. Setiap pagi mereka pergi ke ladang, menggarap tanah seperti yang
dikerjakan oleh orang lain pula.
Tetapi disamping itu, yang tak seorang pun mengetahuinya adalah, di dalam
setiap kesempatan, terutama apabila matahari telah terbenam, Mahesa Jenar dengan
tekunnya menuntun Arya dalam berbagai ilmu. Tidak saja olah kanuragan, tetapi
juga tata pergaulan, kesusasteraan dan sebagainya.
Lebih dari itu, Mahesa Jenar juga selalu memberi petunjuk-petunjuk tentang
keluhuran budi dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, juga sedikit
mengenai ilmu keprajuritan dan siasat.
Sedikit demi sedikit, namun pasti, Arya setiap saat tumbuh menjadi seorang
pemuda yang perkasa serta memiliki berbagai macam pengetahuan.
Sementara itu terjadilah berbagai perubahan di Banyubiru. Pada malam Arya
dilarikan oleh Mahesa Jenar, Wanamerta telah mengutus beberapa orang untuk minta
perlindungan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Ketika utusan Wanamerta sampai di
Pamingit, Lembu Sora justru baru berada di Banyubiru, sehingga utusan itu
terpaksa menunggu untuk beberapa lama. Baru beberapa saat kemudian Ki Ageng
Lembu Sora dengan tergesa-gesa datang kembali. Tentu saja ia sama sekali tidak
mengatakan bahwa ia baru datang dari Banyubiru.
Mendengar permintaan utusan Wanamerta itu, hati Lembu Sora menjadi gembira
sekali. Tanpa berpikir lagi segera ia menyanggupinya. Pada saat itu pula Ki
Ageng Lembu Sora segera mengumpulkan pasukannya, pasukan murni dari Pamingit,
yang dianggapnya pilihan serta dapat dipercaya. Ia sendiri kemudian berangkat
memimpin orang-orangnya untuk melindungi perdikan Banyubiru. Tetapi ketika
pasukan itu sampai, keadaan telah reda. Para penyerang telah menarik diri.
CERITA BERSAMBUNG =27 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
192
DALAM pertemuan yang diadakan oleh Lembu Sora dengan para pemimpin Banyubiru,
karena kelincahan Lembu Sora, maka dicapai suatu persetujuan bahwa selama Gajah
Sora belum kembali, serta Arya Salaka belum diketemukan, Banyubiru langsung
berada di bawah pemerintahan Lembu Sora di Pamingit. Tetapi untuk kelancaran
tata pemerintahan, Lembu Sora diberi wewenang untuk menempatkan beberapa
orangnya di Banyubiru.
Inilah titik permulaan dari kemunduran secara menyeluruh bagi Banyubiru.
Sebenarnya perjanjian perlindungan itu tidak menyenangkan hati beberapa orang
diantara para pemimpin Banyubiru. Wanamerta sendiri akhirnya menyesal pula.
Apalagi pemuda-pemuda yang mempunyai cita-cita buat masa depannya, yaitu
Bantaran dan Panjawi.
Untuk sementara mereka tidak berbuat apa-apa. Sebab mereka tahu bahwa
bagaimanapun Lembu Sora adalah seorang yang perkasa. Yang memiliki ilmu seperti
yang dimiliki oleh kakaknya, meskipun dalam tingkatan yang lebih rendah.
Dalam pada itu, diam-diam Lembu Sora selalu berusaha untuk menemukan Arya.
Kepada orang-orang Banyubiru, ia memerintahkan mencari anak itu sebagai pewaris
tanah perdikan, sedang kepada orang-orangnya yang dipercaya, diperintahkannya
untuk menemukan Arya dan membunuhnya. Sebab selama anak itu masih hidup,
rasa-rasanya masih saja ada duri di dalam dagingnya. Karena apabila tiba-tiba
Arya muncul, maka akan terjadilah suatu perjuangan yang lebih berat lagi.
Apalagi Arya membawa tanda kebesaran Banyubiru, yaitu tombak pendek yang bernama
Kyai Bancak, sebuah pusaka yang menjadi kebanggaan Gajah Sora. Itulah sebabnya
ia bekerja mati-matian untuk membinasakannya.
Disamping Arya Salaka, masih ada pula hal-hal yang sangat merisaukan Ki Ageng
Lembu Sora, yaitu pusaka-pusaka Kyai
Nagasasra dan Kyai Sabuk
Inten. Ia sadar sepenuhnya, apabila pada suatu saat ada kemungkinan ia
berhadapan dengan sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, sebagai lawan
yang akan saling membinasakan. Pertolongan ayahnya, Ki Ageng Sora Dipayana,
belum tentu dapat diharapkan. Apalagi kalau ayahnya itu mengetahui bagaimana ia
telah menyingkirkan kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.
Karena itu, usahanya yang pertama adalah memperkuat diri. Ia selalu berusaha
memperbesar pasukannya dengan biaya yang besar, tanpa mempedulikan tata
penghidupan rakyat yang menjadi semakin sempit. Cita-citanya tidak hanya
menguasai seluruh daerah perdikan yang dulu berada di bawah pemerintahan ayahnya,
tetapi kelak bila ia berhasil mendapat Kyai
Nagasasra dan Kyai Sabuk
Inten, maka kekuatan itu sangat diperlukan. Dengan kedua pusaka itu ia akan
mempunyai kemungkinan terbesar menerima wahyu kraton. Dengan demikian ia akan
dengan mudahnya dapat menghancurkan kekuatan Demak.
Tetapi meskipun demikian ia masih selalu berusaha bahwa tokoh-tokoh golongan
hitam akan dapat dijadikan landasan kekuatan pula, sesuai dengan kepercayaan
mereka, bahwa barang siapa yang telah memiliki kedua keris pusaka itu akan
dianggap sebagai pemimpin mereka. Itulah sebabnya maka Lembu Sora selalu banyak
memberi keleluasaan bergerak kepada sekutu-sekutunya, di daerahnya sendiri serta
daerah perlindungannya.
Disamping itu, Lembu Sora juga selalu berusaha mencari Arya Salaka, sekaligus
memerintahkan untuk mendapatkan keterangan mengenai Kyai
Nagasasra dan Kyai Sabuk
Inten.
Sementara itu waktu berjalan terus tanpa henti-hentinya. Hari berganti hari,
minggu berganti minggu. Maka semakin dekatlah waktu yang akan diselenggarakan
tokoh-tokoh hitam untuk mendapatkan seseorang yang dapat menjadi pemimpin mereka.
Tetapi rasanya nafsu mereka sudah jauh berkurang sejak mereka mengetahui dengan
pasti bahwa keris-keris pusaka yang mereka harapkan telah lenyap serta jatuh ke
tangan seseorang yang tak dikenal.
Demikianlah akhirnya bulan terakhir itu datang juga. Pada saat itu Mahesa Jenar
kemudian bersedia pula untuk menyaksikan pertemuan itu, meskipun ia sadar bahwa
untuk melihatnya pasti akan sangat sulit. Karena itu ia harus berangkat beberapa
hari sebelum purnama naik, untuk mendapatkan keterangan di mana pertemuan itu
berlangsung.
Menurut keterangan yang pernah didengar Mahesa Jenar, dalam pertemuan itu Uling
Putih serta Uling Kuning akan bertindak sebagai tuan rumah. Karena itu menurut
perkiraan Mahesa Jenar, pertemuan itu akan dilangsungkan di sekitar daerah Rawa
Pening. Mahesa Jenar juga pernah mendapat petunjuk tentang sarang Uling itu,
yaitu di dalam rimba di ujung rawa yang menjorok ke utara.
Mahesa Jenar semula mengharap bahwa menyaksikan pertemuan itu ia akan dapat
mengukur kekuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Tetapi sebenarnya sekarang tanpa
menyaksikan pun ia sudah mendapat gambaran jelas tentang kekuatan mereka, bahkan
tentang orang-orang angkatan tua yang berdiri di belakang mereka.
Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar tetap berkeinginan menyaksikan pertemuan itu.
CERITA BERSAMBUNG =28 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
193
SETELAH mendekati waktu yang ditentukan, Mahesa Jenar pun segera
mempersiapkan diri. Sebenarnya yang agak memusingkan kepalanya, adalah Arya
Salaka. Ia sebenarnya agak keberatan untuk meninggalkan anak itu. Tetapi
sebaliknya, membawa Arya adalah sangat berbahaya pula. Tetapi akhirnya Mahesa
Jenar menganggap bahwa lebih aman bagi Arya, serta lebih ringan pula
tanggungjawabnya apabila Arya ditinggal saja di rumah, dengan pesan agar anak
itu tidak membahayakan dirinya sendiri. Sebaiknya selama Mahesa Jenar pergi, ia
tidak usah pergi keluar rumah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Demikianlah maka pada suatu hari, sepekan sebelum purnama naik, Mahesa Jenar
berangkat untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya, setelah ia menitipkan
Arya kepada penduduk, serta pamit kepada mereka itu, bahwa ia akan mengunjungi
orang tuanya di daerahnya yang lama.
Dengan memakai pakaiannya yang kumal, Mahesa Jenar mengharap bahwa dirinya
tidak segera dapat dikenali. Karena itu pula ia selalu menghindari setiap
pertemuan dengan orang-orang Banyubiru. Apabila kehadirannya sampai diketahui
orang, maka usahanya akan menjadi terhalang. Apalagi kalau hal itu sampai
terdengar Ki Ageng Lembu Sora, yang pasti menduganya telah lenyap, ketika ia
tergelincir ke dalam jurang.
Tetapi sebelum itu Mahesa Jenar masih harus berusaha untuk bertemu dengan
seseorang yang telah berjanji kepadanya untuk bersama-sama ke Rawa Pening, yaitu
Ki Dalang Mantingan.
Usahanya mula-mula adalah mencari tempat yang kira-kira akan dipergunakan
untuk mengadakan pertemuan itu. Hampir setiap saat ia bersembunyi di semak-semak
di sekitar daerah Rawa Pening yang menjorok ke utara.
Meskipun di daerah itu nampaknya tidak ada jalan, tetapi Mahesa Jenar dapat
mengenal bahwa ada sebuah lorong rahasia yang sengaja dikaburkan dengan
semak-semak dan pepohonan kecil lainnya. Tetapi ia sama sekali belum berani
untuk memasuki lorong itu, sebelum mendapat beberapa kenyataan yang tidak
terlalu membahayakan.
Pada hari kedua, Mahesa Jenar melihat seseorang berkuda memasuki lorong itu.
Orang itu bertubuh tegap kekar. Matanya bersinar-sinar. Hidungnya melengkung,
serta dagunya jauh menggantung di bawah mulutnya. Menilik wajahnya, Mahesa Jenar
menduga bahwa orang yang demikian itu, dapat berbuat sesuatu tanpa
tanggung-tanggung. Ia dapat menjadi kejam seperti iblis.
Melihat orang itu lewat, Mahesa Jenar menahan nafas. Ia masih belum pernah
mengenalnya. Di pinggang orang itu tergantung sebuah pedang. Meskipun demikian,
Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa orang itu pasti anggota gerombolan Uling Rawa
Pening, karena orang itu mengenakan ikat pinggang kulit lebar, bergambar
sepasang Uling yang saling membelit.
Hal itu bagi Mahesa Jenar adalah sangat menguntungkan. Ketika suara derap
kudanya sudah tak terdengar lagi, dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar keluar
dari persembunyiannya, untuk kemudian menyusuri lorong itu, mengikuti bekas
telapak kaki kuda yang baru saja lewat.
Ia mengharap dengan demikian akan dapat mendekati, setidaknya mendekati
sarang gerombolan Uling Rawa Pening.
Ternyata bahwa lorong itu sengaja dibuat berkelok-kelok. Beberapa kali Mahesa
Jenar menganggap bahwa seterusnya daerah itu sangat sulit dilewati, namun dengan
menerobos semak yang tipis saja, ia sampai pada tempat yang tidak lagi ada
kesukaran-kesukaran untuk dilaluinya.
Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan selalu
mengikuti jejak kuda yang dinaiki oleh orang yang belum dikenalnya.
Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar tidak jauh di hadapannya lamat-lamat suara
orang tertawa. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan segera menyelinap ke
semak-semak. Sesaat kemudian suara tertawa itu berhenti, tetapi kemudian
terdengar orang bercakap-cakap perlahan-lahan. Karena itu Mahesa Jenar tidak
dapat menangkap isi percakapan mereka.
Dengan sangat hati-hati, Mahesa Jenar berusaha untuk mendekati orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tetapi ketika ia telah menjadi bertambah dekat, suara percakapan itu telah berhenti. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih mendengar salah seorang berkata, Silahkan Kakang Sri Gunting..., kudamu telah lelah sekali.
Dengan demikian tahulah Mahesa Jenar, bahwa orang yang berkuda itu adalah Sri
Gunting. Orang pertama di dalam gerombolan Uling Rawa Pening sesudah sepasang
Uling itu sendiri.
Sejenak kemudian, terdengar kembali suara langkah kuda Sri Gunting disusul dengan langkah kuda lain ke arah yang berlawanan. Sesaat kemudian Mahesa Jenar melihat orang lain lewat di depannya. Orang itu pernah dikenalnya beberapa waktu yang lalu.
Ia adalah Yuyu Rumpung, yang bersama-sama dengan Gemak Paron berusaha untuk
mencuri kedua pusaka kraton di Bukit Tidar.
Mahesa Jenar sama sekali tidak mempedulikan orang itu lewat. Tetapi dengan
demikian ia harus semakin hati-hati. Ternyata lorong itu memang merupakan pintu
masuk ke sarang Uling Rawa Pening. Pantaslah kalau jalan itu selalu dirondai
dengan cermat.
Beberapa langkah kemudian, kembali Mahesa Jenar mendengar suara orang bercakap-cakap. Juga perlahan-lahan. Tetapi agaknya lebih dari dua orang. Ketika Mahesa Jenar berhasil mengintip dari jarak yang agak jauh, dilihatnya Sri Gunting sedang bercakap-cakap dengan dua-tiga orang yang bersenjatakan tombak. Tetapi juga kali ini ia tidak mendengar isi percakapan mereka, sampai akhirnya Sri Gunting meneruskan perjalanannya.
CERITA BERSAMBUNG =29 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
194
SAMPAI di situ, Mahesa Jenar tidak berani lagi menuruti jejak kuda itu secara
langsung. Sebab kemungkinan untuk bertemu orang-orang gerombolan Uling akan
bertambah besar. Meskipun andaikata ia dapat memenangkan perkelahian melawan
tiga-empat orang, namun dengan demikian kedatangannya sudah diketahui lebih
dahulu. Karena itu Mahesa Jenar berusaha untuk mengikuti kuda Sri Gunting dari
semak-semak di sekitar lorong itu, meskipun kadang-kadang ia harus
merangkak-rangkak menerobos pohon-pohon liar serta sulur-sulur dan
tumbuh-tumbuhan merambat lainnya.
Dugaan Mahesa Jenar bahwa penjagaan semakin lama semakin rapat ternyata benar.
Beberapa langkah kemudian kembali terdapat beberapa orang penjaga. Dengan
demikian, Mahesa Jenar mengharap bahwa tidak lama lagi ia akan sampai ke sarang
sepasang Uling Rawa Pening.
Ketika Mahesa Jenar maju lagi, tiba-tiba sampailah ia pada daerah
tumbuh-tumbuhan yang rapat sekali. Pohon-pohon berduri tumbuh rapat diseling
dengan tanaman-tanaman menjalar dan beberapa tanaman yang sangat gatal apabila
menyinggung tubuh, misalnya pohon rawe, serta pohon-pohon yang mengandung lugut
dari jenis bambu.
Melihat kerapatan pepohonan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Ketika ia
memandang ke arah Sri Gunting, yang juga maju dengan perlahan-lahan di atas
kudanya, dilihatnya ia membelok menyusur tanaman-tanaman berduri itu ke arah
timur. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati Mahesa Jenar berusaha untuk
mengikutinya.
Beberapa langkah kemudian tampaklah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi,
tetapi daunnya sangat lebat. Dibalik pohon itulah Mahesa Jenar melihat Sri
Gunting menghilang. Tahulah kini Mahesa Jenar bahwa pohon-pohon yang tumbuh
rapat sekali itu, memang sengaja diatur demikian, sehingga merupakan benteng
hidup yang mengelilingi pusat sarang Uling Rawa Pening. Gerombolan yang
mempunyai nama tidak kalah menggetarkan daripada nama Lawa Ijo, yang ditakuti di
daerah pantai utara.
Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk
seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia
masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin
setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau
malah sampai ke barak Uling sendiri. Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti
di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat
memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.
Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat
masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman
itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat,
menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa
Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke
pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon
yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang
sepasang Uling.
Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di
pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar,
rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang
banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat
tinggal serupa itu.
Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia
berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan.
Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri
Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu.
Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua
orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik
sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga
dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat
sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu
gerbang.
Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan
dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah
itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing
dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka
selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting
dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa
menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup
tinggi, sehingga pancaindera mereka pun.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan
kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang
mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu
gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng. Mahesa Jenar jadi
menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati.
Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan
bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat
dekat di bawahnya.
Adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap.
Terdengar Uling Putih berkata, Jadi kau yakin bahwa tempat itu telah
disiapkan dengan baik?
Terdengar Sri Gunting menjawab, Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang
belum siap benar.
Bagus! Uling Putih meneruskan, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya
akan hadir dalam pertemuan itu.
Tidakkah mereka akan berpihak? sela Uling Kuning.
Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing, jawab
Uling Putih.
Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting
mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.
CERITA BERSAMBUNG =30 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
195
DENGAN mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan
bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam
benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan
pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang
gerombolan Uling Rawa Pening.
Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur.
Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda
sepasang Uling itu.
Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah
mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak
dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.
Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong
semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa
Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari
kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat
di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas.
Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih
dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk
menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa
yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.
Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah
datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan
dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa
perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan
pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.
Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa
barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang
rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.
Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di
situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk
dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki
Dalang Mantingan.
Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang
di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun
menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan.
Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah
memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh
akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari
golongan hitam.
Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu.
Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah
Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau
Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening,
untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar
daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan
dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.
Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang
cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya,
Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga
pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam
memperbandingkan kemampuan mereka.
Tetapi yang belum pernah dilihatnya, bagaimana Mantingan menggerakkan
trisulanya yang terkenal itu. Mudah-mudahan keahliannya menggunakan trisula akan
dapat menandingi Lawa Ijo dengan pisau belatinya, atau Jaka Soka dengan tongkat
hitamnya. Namun Mahesa Jenar yakin, bahwa waktu yang sedikit menjelang
kepergiannya ke Rawa Pening, Mantingan pasti telah mendapatkan sesuatu dari
gurunya, Kiai Ageng Supit.
Kiai Ageng Supit adalah tokoh sakti yang tidak begitu dikenal, karena orang
itu tidak banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang menonjol di luar
padepokannya. Tetapi muridnya, Mantingan, dalam setiap kesempatan selalu
berusaha untuk menunjukkan jasanya kepada masyarakat di sekitarnya. Mungkin
gurunya sengaja memerintahkannya berbuat demikian untuk mewakilinya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berangan-angan, terkejut. Di tepi
rawa itu ia melihat bayangan dua orang yang sedang berkelahi dengan dahsyatnya.
Mahesa Jenar menjadi menduga-duga, siapakah mereka itu. Karena itu segera dengan
hati-hati ia pun mendekatinya.
Semakin dekat Mahesa Jenar dengan orang yang sedang bertempur itu, debar
hatinya menjadi semakin keras pula. Di dalam sinar bulan yang hampir purnama itu
Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas, bahwa kedua-duanya adalah pasti
orang-orang yang berilmu tinggi.
Tiba-tiba debar jantung Mahesa Jenar berubah menjadi degupan yang
menghentak-hentak dadanya. Di dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu
tampaklah berkilat-kilat sinar yang memantul dari senjata orang yang sedang
bertempur itu. Senjata yang cukup dikenalnya, yaitu trisula.
Karena itu cepat Mahesa Jenar mengetahui bahwa salah seorang dari mereka adalah Mantingan. Maka, Mahesa Jenar segera berusaha untuk semakin mendekat lagi. Tetapi sekali lagi detak jantungnya menyentak dan berdegupan dengan riuhnya, ketika ia melihat lawan Mantingan itu bersenjata bola besi yang diikat di ujung rantai. Juga senjata itu pernah dikenalnya. Yaitu senjata andalan dari kawan seangkatannya, seorang perwira dalam pasukan pengawal raja, yang bertubuh gemuk pendek, yakni Gajah Alit.