Nagasasra dan Sabukinten

CERITA BERSAMBUNG =21 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
186

RASANYA Mahesa Jenar sudah tidak sabar lagi terhadap kakinya yang sudah mulai lelah. Tetapi ketika ia sudah semakin dekat, tiba-tiba dadanya berdentam keras sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Dari kota Banyubiru Mahesa Jenar melihat nyala api yang semakin lama semakin besar.

Sekarang Mahesa Jenar menjadi benar-benar tidak sabar lagi. Seperti seekor kijang yang sedang diburu, Mahesa Jenar meloncat dan kemudian berlari sekencang kencang ke arah api yang menyala-nyala. Apalagi sebentar kemudian didengarnya suara tanda bahaya menggema memenuhi seluruh daerah pegunungan Telamaya.

Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya Mahesa Jenar berhasil memasuki kota. Ia berjalan hati-hati sekali. Beberapa kali ia melihat orang-orang berkuda berlari hilir-mudik. Beberapa orang sudah dikenalnya sebagai laskar Banyubiru. Tetapi beberapa yang lain sama sekali belum pernah dilihatnya.

Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diingini, Mahesa Jenar selalu berusaha menyembunyikan dirinya di balik bayang-bayang pepohonan atau di samping rumah-rumah. Sekali-sekali ia berlari dari satu tempat kelain tempat sambil mendekati tempat kebakaran.
 

Ketika Mahesa Jenar berhasil mendekati tempat itu, dilihatnya laskar Banyubiru terlibat dalam satu pertempuran dengan laskar yang sama sekali belum dikenalnya. Pertempuran itu berlangsung dengan serunya, sehingga kedua belah pihak telah kehilangan ikatan kesatuannya. Mereka seolah-olah bertempur tanpa pimpinan.
 

Dari jarak yang agak dekat akhirnya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa pasukan Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran, yang agaknya merasa terdesak. Bantaran sendiri bertempur seperti harimau luka, tetapi musuhnya terlampau banyak.

Sebentar kemudian terdengar derap pasukan yang berlari dari arah barat. Dan muncullah laskar bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana. Pasukan ini pun segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit itu.

Dengan datangnya bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana, tampak laskar Banyubiru dapat mencapai keseimbangan kembali. Bahkan agaknya sebentar kemudian mereka akan segera dapat menguasai keadaan.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Sehilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, apakah kira-kira yang masih mereka cari di Banyubiru?

Teringatlah Mahesa Jenar kepada kedudukan Arya Salaka. Ayahnya yang dibawa ke Demak untuk waktu yang tak ditentukan, bahkan karena serangan laskar Lembu Sora atas pasukan Demak, mempunyai kemungkinan yang lebih tak menyenangkan bagi Gajah Sora. Ia menyerahkan kekuasaan Banyubiru kepada Arya. Ini berarti suatu rintangan langsung bagi Lembu Sora untuk dapat menguasai Banyubiru.

Karena itu, Mahesa Jenar segera memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia memang agak heran bahwa daerah yang tak berarti di pinggiran kota ini menjadi tujuan serangan lawan. Rumah yang sama sekali tidak penting kedudukannya, kecuali banjar-banjar desa, juga bangunan-bangunan lain yang juga tidak begitu berarti.

Mengingat hal itu, maka segera Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa serangan ini hanyalah suatu usaha untuk menarik perhatian semata-mata. Sedang tujuan yang sebenarnya adalah tempat lain.

Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi bertambah gemetar. Ia menjadi cemas atas keselamatan Arya. Karena itu segera ia meloncat dan berlari dari satu tempat yang terlindung ke tempat yang lain menuju ke rumah Gajah Sora, sehingga beberapa saat kemudian ia telah dapat mendekati rumah itu. Sebenarnyalah bahwa apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar mendengar keributan di halaman rumah itu. Agaknya telah terjadi suatu pertempuran pula. Perlahan-lahan ia menyusur regol samping, dan dilihatnya Wanamerta dan Pandankuning serta beberapa orang sedang bertempur menghadapi lawan yang jumlahnya berlipat dua. Apalagi diantara para penyerang itu terdapat pula beberapa orang yang termasuk berilmu cukup tinggi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menjadi agak bimbang. Apakah ia harus melibatkan diri, ataukah masih harus ditunggunya perkembangan seterusnya.

Tetapi segera Mahesa Jenar dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melontar keluar lewat pintu belakang. Bayangan dari seorang anak yang masih belum dewasa. Cepat Mahesa Jenar mengenal, itulah Arya.

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, dilihatnya Arya merapatkan dirinya pada dinding di sebelah pintu. Sesaat kemudian muncullah bayangan lain meloncat keluar dari pintu itu pula. Tetapi demikian bayangan itu melangkahkan kakinya keluar ambang, demikian Arya dengan tangkasnya menusuk lambungnya, sehingga dengan tidak dapat berbuat sesuatu orang itu terlempar dan roboh mati. Sedang tangan Arya dengan eratnya menggenggam tombak Kyai Bancak.

Tetapi kemudian dari pintu itu muncullah beberapa orang bersama-sama. Agaknya mereka melihat seorang kawan mereka yang dapat dibunuh oleh Arya, sehingga mereka meloncat keluar dengan kesiagaan penuh. Karena itu, ketika Arya menusuk orang yang pertama, segera tampaklah orang itu menangkis serangan Arya dengan sebuah pedang pendek, sehingga Arya terputar setengah lingkaran.

Tetapi agaknya Arya bukan anak yang bodoh. Maka demikian serangannya gagal, segera ia meloncat untuk melarikan diri. Sayang bahwa orang yang mengejarnya cukup banyak segera mengepungnya.

Tampaklah Arya Salaka yang sama sekali belum cukup dewasa itu menjadi bingung.

Tetapi belum lagi orang-orang yang mengepungnya sempat bertindak, melayanglah sebuah bayangan lain, yang langsung menyerang orang-orang itu. Tubuhnya tampak ringan tetapi kuat dan tangkas. Orang itu adalah Panjawi, seorang yang masih muda, tetapi telah memiliki ketangkasan yang cukup. Dengan pedang di tangan, Panjawi bergerak menyambar-nyambar seperti burung layang. Dalam waktu yang singkat, beberapa orang telah menjadi korbannya.


CERITA BERSAMBUNG =22 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
187

ORANG-ORANG yang mengepung Arya itu segera mengalihkan perhatiannya. Mereka bersama-sama segera menyerang Panjawi. Tetapi Panjawi adalah orang yang cukup tangkas, sehingga beberapa orang itu sama sekali tak berhasil mendesaknya. Apalagi beberapa saat kemudian berdatanganlah beberapa orang laskar Banyubiru yang segera membantu Panjawi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menarik nafas lega. Ia juga merasa kagum kepada Panjawi. Meskipun anak itu masih harus banyak berlatih, namun ia memiliki dasar-dasar yang baik dan kuat.

Tetapi sejenak kemudian, Mahesa Jenar terkejut mendengar sebuah siulan nyaring. Ia pernah mendengar bunyi yang demikian itu. Bunyi siulan dari gerombolan Lawa Ijo.

Dan apa yang sedang dipikirkan itu adalah benar. Sebab sesaat kemudian ia melihat bayangan yang melayang dari sebuah pohon langsung menyerang Panjawi.

Untunglah bahwa Panjawi cukup tangkas untuk menghindari serangan itu, sehingga bayangan itu tidak berhasil mengenainya. Bahkan demikian Panjawi meloncat menghindar, demikian kembali ia meloncat menyerang bayangan itu dengan pedangnya. Serangan Panjawi ternyata cukup cepat, sehingga bayangan itu tidak sempat menghindar. Dengan sebuah pisau belati panjang, ia menangkis pedang yang mengarah ke dadanya. Terdengarlah suatu dentangan nyaring. Dan ternyata kekuatan mereka seimbang.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar segera mengenal bahwa bayangan yang meloncat dari atas pohon itu adalah Wadas Gunung.

Segera terjadilah pertempuran yang sengit antara Wadas Gunung dan Panjawi, sedang di lain pihak terjadi pula pertempuran yang hiruk-pikuk antara laskar Banyubiru melawan laskar-laskar penyerang. 

Pada saat itu, pada saat mereka sedang sibuk mempertahankan hidup masing-masing, tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam dapat melihat bayangan lain yang datang mengendap-endap ke arah Arya Salaka yang masih saja mengawasi pertempuran itu dengan mata yang menyala-nyala. Ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri, sebab ia yakin bahwa Panjawi serta laskarnya akan dapat memenangkan pertempuran itu. Bahkan dengan girangnya ia melihat pertempuran itu seperti melihat tontonan yang sangat menarik.

Dengan berdebar-debar Mahesa Jenar mengikuti gerak gerik orang itu. Melihat caranya bergerak, Mahesa Jenar dapat meyakini bahwa ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena itu Mahesa Jenar tidak mau menonton saja. Ia pun kemudian dengan mengendap-endap pula mendekati Arya Salaka dari arah lain. Untunglah bahwa ia lebih dahulu dapat melihat bayangan itu sehingga dengan demikian ia dapat lebih berhati-hati. Ternyata sampai sedemikian jauh bayangan itu belum mengetahui bahwa dari arah lain pula seseorang yang sedang mendekati Arya Salaka.

Setelah jarak mereka tidak lagi begitu jauh, terasa di dalam dada Mahesa Jenar jantungnya berdesir keras. Ia mengenal dengan pasti siapakah orang itu. Dan ia tahu pasti pula apakah yang akan dilakukannya terhadap Arya. Pedang yang terlalu besar dan panjang di tangan orang itu telah menambah pula keyakinan Mahesa Jenar.

Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Lembu Sora.

Pada kesempatan yang pendek itu, berputarlah otak Mahesa Jenar. Sebenarnya, pada saat itu ia mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dengan Lembu Sora, dengan alasan yang tepat. Tetapi mengingat pesan Paniling, apakah pada saat itu, orang-orang lain, seperti Uling Rawa pening, Sima Rodra, Lawa Ijo dan sebagainya tidak berada pula di tempat itu? Karena itu seharusnya ia tidak melawan mereka bersama-sama.

Mengingat hadirnya Wadas Gunung, maka kemungkinan hadirnya Lawa Ijo adalah besar sekali. Karena itu terjadi suatu pertentangan di dalam diri Mahesa Jenar.

Perasaannya ingin membawanya ke dalam suatu perhitungan jasmaniah yang menentukan. Tetapi pikirannya yang telah dipengaruhi oleh pertimbangan dan nasehat Paniling mengajaknya untuk berbuat lain.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar dapat berpikir secara wajar, sehingga ditemukannya suatu pemecahan yang tidak terlalu berbahaya.

Pada saat itu, Lembu Sora telah dekat benar dengan Arya Salaka yang dengan tombak di tangan masih saja perhatiannya terikat pada pertempuran yang sengit antara Panjawi dan Wadas Gunung, serta laskar Banyubiru melawan laskar-laskar yang menyerangnya.

Ternyata Lembu Sora sudah tidak mau membuang waktu lagi. Meskipun mula-mula ia tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya dengan suatu gerakan yang dahsyat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Meskipun demikian, karena anak yang berdiri di hadapannya itu, bagaimanapun juga adalah kemenakannya, maka pada saat pedangnya terayun deras, Lembu Sora memejamkan matanya.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika pedangnya sama sekali tak menyentuh apapun. Bahkan ia sendiri telah tertarik oleh kekuatannya serta ayunan pedangnya sehingga hampir saja ia tertelungkup. Pada saat Lembu Sora berusaha untuk menguasai dirinya, dilihatnya sebuah bayangan yang melayang menyusup regol samping dan hilang di dalam gelap malam.

Cepat Lembu Sora meloncat menyusulnya, tetapi ia sama sekali tidak dapat lagi melihat bayangan yang telah hilang bersama-sama dengan hilangnya Arya Salaka, beserta tombak tanda kebesaran Banyubiru, Kyai Bancak.

Pada saat yang tepat, ternyata Mahesa Jenar telah berhasil menarik Arya dan langsung dibawanya lari. Ia masih mempunyai kelebihan waktu beberapa saat dari Lembu Sora yang sedang memperbaiki keseimbangannya pada saat ia terbawa oleh pedangnya yang terayun deras. Karena itu Lembu Sora sudah tidak berhasil untuk dapat mengejarnya.

Pada saat itu, dada Lembu Sora terguncang luar biasa. Kegagalannya pada saat yang menentukan itu sangat menyakitkan hatinya. Hampir saja ia menjadi mata gelap dan menghancurkan Banyubiru serta seluruh isinya. Tetapi otaknya yang licin telah menyelamatkannya.


CERITA BERSAMBUNG =23 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
188

CEPAT Lembu Sora menyelinap, dan dengan kudanya yang tangkas ia berlari kencang-kencang kembali ke Pamingit. Setelah dengan rahasia ia memberikan aba-aba kepada laskar gabungan itu untuk segera meninggalkan Banyubiru, diikuti pula oleh sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, untuk kemudian dengan laskar murni dari Pamingit. 

Lembu Sora akan datang kembali, dengan dalih untuk memberi perlindungan kepada daerah perdikan, yang dikuasai oleh kakaknya, yang terpaksa tidak dapat menjalankan kewajibannya.

Arya Salaka yang merasa dirinya ditangkap oleh seseorang tanpa diketahui dari mana arahnya, menjadi terkejut sekali. Dengan gerak diluar kesadarannya ia menusuk orang yang menangkapnya dengan tombaknya, tetapi orang itu sangat tangkasnya, sehingga tombaknya malahan telah dirampasnya.

Dengan demikian Arya menjadi marah dan cemas. Segera ia meronta untuk melepaskan diri. Tetapi ketika ia hampir saja berteriak-teriak, didengarnya orang itu berkata, Jangan ribut Arya, kita bersembunyi untuk beberapa saat.

Arya terperanjat mendengar suara itu, suara yang telah dikenalnya. Paman Mahesa Jenar? desisnya.

Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.

Mendengar jawaban itu, hati Arya Salaka segera menjadi sejuk seperti disiram embun. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan yang menusuk-nusuk dadanya seketika itu lenyap seperti asap ditiup angin.

Beberapa saat kemudian, setelah Mahesa Jenar merasa aman dari kemungkinan dapat diketemukan oleh Lembu Sora dan laskarnya, segera memberhentikan langkahnya. Nafasnya berjalan cepat, serta jantungnya berdetakan karena perasaan-perasaan yang bercampur-baur di dalam kepalanya.

Setelah mereka berdua agak tenang, berkatalah Mahesa Jenar, Arya, tahukan kau siapakah yang telah menyerang Banyubiru?

Tidak Paman, jawab Arya.

Kapankah serangan itu mulai? tanya Mahesa Jenar pula.


Sejak matahari terbenam. Tiba-tiba saja terjadi kerusuhan-kerusuhan di dalam kota. Untunglah bahwa Kakek Wanamerta segera bertindak untuk mengatasi keributan.

Meskipun demikian ternyata para penyerang itu berkekuatan besar sekali, sehingga untuk keselamatan selanjutnya, Kakek Wanamerta merasa perlu atas persetujuan beberapa pemimpin yang lain serta atas persetujuan Ibu untuk mengirimkan permintaan bantuan ke Pamingit, kepada Paman Lembu Sora, sebab kalau kerusuhan itu berlarut-larut tidak dapat teratasi, maka Banyubiru akan semakin rusak.
 

Mendengar keterangan Arya Salaka itu, bergolaklah hati Mahesa Jenar. Ternyata para pemimpin Banyubiru sama sekali masih belum mengetahui bahwa sumber dari segala bencana itu justru Lembu Sora sendiri. Puncak dari kejahatannya adalah suatu usaha untuk membinasakan Arya Salaka. Padahal saat itu, para pemimpin Banyubiru datang minta perlindungan kepadanya.
 

Arya..., kata Mahesa Jenar kemudian, Ketahuilah bahwa jiwamu terancam. Karena itu sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara waktu.


Mahesa Jenar tidak meneruskan kata-katanya. Ia menjadi ragu, apakah sebaiknya ia harus mengatakan terus terang tentang apa yang terjadi sebenarnya, ataukah ia harus berkata lain.
 

Arya Salaka menjadi keheran-heranan mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Apakah kepentingan orang-orang kita itu membunuhnya? Tetapi baru saja, apa yang telah terjadi, agaknya memang benar. Beberapa orang telah mengejar-ngejar Arya Salaka, dengan senjata terhunus.
 

Arya menarik nafas panjang. Otaknya yang masih belum cukup masak itu belum dapat menangkap masalah-masalah yang terlalu sulit. Karena itu ia tidak berpikir lebih lanjut. Apalagi sekarang ia sudah merasa bahwa dirinya telah mendapat perlindungan.
 

Ketika melihat wajah Arya yang seolah-olah masih bersih dari segala macam prasangka, Mahesa Jenar tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya, oleh karena kekhianatan pamannya.
 

Dengan melihat kenyataan itu, ada kemungkinan timbul suatu luka yang berbahaya pada jiwa kanak-kanaknya. Mungkin ia akan kehilangan seluruh kepercayaan pada seseorang. Apalagi orang lain, sedang pamannya sendiri telah melakukan kejahatan terhadap dirinya.
 

Karena itu, Mahesa Jenar harus berkata lain kepada Arya Salaka, meskipun maksudnya adalah sama. Mengajak Arya Salaka untuk sementara bersembunyi. Arya..., mungkin orang-orang jahat sedang berusaha untuk menangkapmu. Sebab kau sekarang adalah penjabat kepala daerah perdikan Banyubiru. Dengan menangkap kau, orang-orang itu akan mengharapkan keuntungan. Mungkin kau akan dijadikan tanggungan atas suatu pemerasan terhadap Banyubiru. Tetapi juga ada kemungkinan yang lebih berbahaya lagi bagi dirimu, yaitu menghendaki jiwamu, kata Mahesa Jenar.

 


CERITA BERSAMBUNG =24 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
189

ARYA SALAKA mengangguk-angguk, tetapi jawabannya sangat memusingkan Mahesa Jenar. Aku tidak perlu takut, Paman, sebab sebentar lagi Paman Lembu Sora pasti akan datang. Dengan adanya Paman Lembu Sora beserta laskarnya serta hadirnya Paman Mahesa Jenar di Banyubiru, maka aku kira tak akan ada seorangpun lagi yang berani mengganggu tanah kami.


Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia mendapat kesulitan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Justru adanya Lembu Sora di Banyubiru itulah maka bahaya dapat datang setiap saat bagi Arya Salaka.
 

Setelah berpikir beberapa saat berkatalah Mahesa Jenar, Arya, kalau mereka menyerang dengan terang-terangan maka laskar Banyubiru dan Pamingit pasti akan dapat menghalaunya, tetapi untuk menangkap atau berbuat hal-hal jahat lainnya terhadapmu, adalah seribu satu cara yang dapat ditempuh. Karena itu menurut pertimbanganku, sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara. Selama itu, selama keadaan belum memungkinkan, kau tidak perlu menampakkan diri terhadap siapapun. Aku akan berusaha untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Banyubiru, selama kau di dalam persembunyian. Selama itu, kau sempat belajar beberapa hal yang perlu bagi keselamatanmu. Bukankah ayahmu minta kepadaku untuk melatihmu dalam olah kanuragan?


Mendengar kata-kata- Mahesa Jenar itu, serta kesempatan baginya untuk memperdalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu, Arya menjadi gembira. Maka jawabnya, Baiklah Paman..., kalau Paman mempertimbangkan demikian. Tetapi Ibu pasti akan selalu mencari aku dan mencemaskan keselamatanku.
 

Bagus Arya, pada suatu saat kau akan kembali ke tanah ini, dan kau akan memelihara tanah ini sebagai tanah pusaka. Kau harus menjadikan tanah ini tanah harapan bagi masa depan. Bukankah ayahmu selalu mengharap kau menjadi seorang pahlawan?
 

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menjadi cerah seperti bintang pagi yang berkilau-kilau, karena kebesaran hatinya.
 

Kepada ibumu, aku akan selalu berusaha menyampaikan setiap berita tentang dirimu, lanjut Mahesa Jenar.
 

Sekali lagi Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.
 

Sesaat kemudian keadaan menjadi sepi. Dengan pancainderanya yang tajam, Mahesa Jenar sedang mengamati keadaan.
 

Maka setelah menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam, serta hiruk-pikuk pertempuran sudah tidak terdengar lagi, berkatalah ia kepada Arya, Arya..., agaknya keadaan telah bertambah baik. Meskipun demikian, kau harus berusaha untuk tidak menampakkan diri. Baik kepada para pemimpin Banyubiru maupun kepada ibu serta rakyatmu. Siapa tahu bahwa masih ada musuh-musuh yang bersembunyi, yang akan dapat menjebak atau menyerang kau dari jarak jauh. Karena itu marilah untuk sementara kita tinggalkan tanah ini dengan suatu keyakinan bahwa kau pasti akan kembali dalam keadaan aman dan sentosa.
 

Arya Salaka tidak menjawab kata-kata Mahesa Jenar. Wajahnya jadi tampak suram. Bagaimanapun juga, untuk meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, dimana setiap hari ia bermain-main, dimana setiap hari ia meneguk airnya, serta segala-galanya yang ia cintai, adalah berat sekali bagi seorang anak seumur Arya Salaka.
 

Agaknya Mahesa Jenar dapat menebak perasaan Arya, maka sambungnya, Lupakanlah semuanya, Arya. Kau hanya pergi untuk sementara, dengan suatu kepastian bahwa kau akan kembali.
 

Kembali Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya menjadi bertambah suram. Mudah-mudahan Ibu selamat. Serta mudah-mudahan Ibu segera mengetahui bahwa akupun selamat.


Aku akan segera berusaha untuk memberitahukan itu, Arya,
potong Mahesa Jenar.
Tetapi pohon jeruk yang aku pelihara dan aku siram setiap hari itu kini sudah mulai berbunga, jawab Arya.


Mahesa Jenar menjadi terharu mendengar kata-kata Arya yang memancar dari hatinya yang tulus. Tetapi yang lebih merisaukan hati Mahesa Jenar adalah, bahwa besok Lembu Sora akan datang untuk melindungi Banyubiru serta berusaha menelan tanah serta segala isinya.
 

Tetapi bagaimanapun, menyelamatkan Arya adalah tugas yang pertama-tama harus dilakukan. Sebab Arya adalah satu-satunya pewaris tanah perdikan Banyubiru, yang justru karena itulah maka jiwanya selalu terancam. Karena itu, Mahesa Jenar menganggap perlu untuk segera meninggalkan daerah ini sebelum Lembu Sora datang dan memerintahkan untuk mengaduk seluruh sudut Banyubiru. Pasti Lembu Sora akan berbuat demikian, dengan alasan untuk keselamatan Arya Salaka. Tetapi tidak mustahil bahwa kepada laskar Pamingit ia memerintahkan untuk menemukan Arya dalam keadaan mati.
 

Bukankah dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora bebas dari segala prasangka? Sedang apabila yang menemukan laskar Banyubiru serta membawa Arya kembali, umurnya pasti tidak akan panjang pula.
 

Mendapat pertimbangan itu maka segera Mahesa Jenar mengajak Arya untuk berangkat. Arya, kita jangan menunggu terlampau lama. Marilah kita berangkat selagi kesempatan ada. Siapa tahu bahwa keadaan akan berkembang ke arah yang tidak kita harapkan.


Marilah Paman, jawab Arya dengan wajah sayu.


Mahesa Jenar menjadi tambah terharu ketika didengarnya Arya mengatupkan giginya rapat-rapat. Ternyata anak itu sedang berusaha untuk membendung perasaan harunya meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga tampaklah bahwa matanya menjadi basah oleh air mata. Mata seorang anak yang masih seharusnya mendapat kasih sayang ayah-ibunya. Tetapi karena keadaan, ia harus berpisah dengan ayah-ibu yang ia cintai.

 


CERITA BERSAMBUNG =25 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
190

PADA saat itu bulan yang tinggal seperempat bagian telah muncul di langit sebelah timur. Cahayanya yang merah tembaga tersebar meremangi seluruh pegunungan Telamaya yang sepi, namun mengerikan. Sebab setiap hati dari penduduk Banyubiru diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan. Hilangnya Gajah Sora dari daerah ini, ternyata sangat mempengaruhi semangat mereka.
 

Dalam keremangan bulan yang samar-samar itu, Mahesa Jenar menggandeng Arya berjalan dengan sangat hati-hati menyusup semak-semak untuk menjauhi kota.
 

Kita pergi ke mana Paman? tanya Arya tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Ia sendiri belum pernah berpikir ke mana Arya akan diajak pergi. Tiba-tiba ia teringat kepada suatu daerah terpencil yang dicikal-bakali oleh Ki Paniling dan Darba. Yaitu daerah di hutan Pudak Pungkuran. Ia mengharapkan Ki Paniling akan mengizinkan ia tinggal untuk sementara bersama Arya di sana. Maka kemudian jawabnya, Kita pergi ke Pudak Pungkuran, Arya.


Pudak Pungkuran? ulang Arya. Ia belum pernah mendengar sama sekali daerah itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.


Sebenarnya Mahesa Jenar ingin membawa Arya untuk pergi sejauh-jauhnya. Sebab menurut perhitungan Arya, semakin jauh dari Banyubiru, jiwa Arya pasti akan semakin aman. Tetapi untuk sementara ia tetap terikat kepada Banyubiru, kepada Rawa Pening. Sebab meskipun agaknya sudah semakin hambar, namun pertemuan akhir tahun dari golongan hitam akan tetap dilaksanakan.
 

Kemudian setelah itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sedang disibukkan oleh pikiran masing-masing. Pikiran tentang keadaan kini serta masa datang. Sedangkan pikiran Mahesa Jenar diganggu oleh Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi andaikata kedua keris itu untuk seterusnya tidak dapat diketemukan? Tidakkah ada seseorang yang kelak dapat melangsungkan kejayaan Demak? Sebab menurut kepercayaan, siapa yang kuat memiliki kedua keris itulah, yang kuat pula menerima wahyu kraton.
 

Pikiran-pikiran Mahesa Jenar dirisaukan pula oleh kenyataan adanya dua garis keturunan yang sama-sama berhak atas tahta. Yaitu putra-putra Sultan Demak sekarang, sedangkan yang lain adalah putra almarhum Sekar Seda Lepen yang dalam keadaan belum dewasa telah mewarisi Kadipaten Jipang, bernama Penangsang.
Penangsang sebenarnya memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki tahta, seandainya ayahnya tak terbunuh. Meskipun demikian tidak mustahil kalau pada suatu saat ia akan menuntut pula haknya serta mengadakan perhitungan dengan pembunuh ayahnya. Pada saat yang demikianlah akan terjadi suatu perjuangan yang hebat.

Kalau mereka sama-sama percaya bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten adalah sumber kekuatan untuk menerima wahyu kraton, maka perjuangan untuk mendapatkan kedua pusaka itu pun akan menjadi bertambah ramai.
 

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar dari angan- angannya oleh suara derap kuda yang mendatanginya. Segera ia menghentikan langkahnya dan dengan saksama memperhatikan suara itu. Ternyata suara itu semakin lama semakin dekat tepat ke arahnya, sepanjang jalan hutan yang sempit. Karena itu, segera ia menarik Arya untuk segera bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah para penunggangnya.
 

Beberapa saat kemudian terdengar derap itu menjadi tidak secepat tadi. Agaknya jalan kuda itu diperlambat ketika menyusup jalan sempit serta banyak rintangan salur-salur pepohonan liar. Ternyata penunggang kuda itu lebih dari 3 atau 4 orang.
Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang bersembunyi di dalam semak, segera menahan nafas ketika kuda-kuda itu hampir lewat di depannya. Tiba-tiba terdengar salah seorang berkata, Kakang, ke mana kita akan mencari?
 

Entahlah, jawab yang lain. Mencari seseorang di daerah yang seluas ini adalah sulit sekali.


Tidak mungkinkah anak itu dilarikan ke Demak untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi kepada Sultan?
kata yang lain pula.
 

Telah diperlihatkan untuk memotong jalan.
 

Dan itu tak mungkin dilakukan, sahut yang lain lagi. Kalau orang yang melarikan anak itu bukan orang yang bodoh, ia pasti tidak akan pergi ke Demak. Sebab tidak akan ada gunanya. Kecuali kalau dapat ditunjukkan bukti-buktinya, atau yang berkepentingan tertangkap pada saat itu. Apalagi Sultan sedang murka kepada Gajah Sora.


Setelah itu, tak terdengar lagi suara mereka. Sedang derap kuda itu semakin lama terdengar semakin jauh dan kemudian menghilang.
 

Ketika sudah tidak ada tanda-tanda yang membahayakan lagi, segera Mahesa Jenar bangkit dan menggandeng Arya untuk berjalan kembali. Mahesa Jenar agak terkejut ketika dirasanya tangan Arya gemetar. Segera ia dapat menduga perasaan anak itu. Meskipun ada juga perasaan takut, tetapi pasti Arya menjadi marah sekali mendengar percakapan orang-orang itu.
 

Ketika baru tiga-empat langkah mereka berjalan, mendadak Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Ia mendapat suatu pikiran bahwa jalan ini pasti merupakan jalan yang berbahaya. Orang-orang tadi dapat dengan segera kembali dan mungkin ada orang lain yang mencari lewat jalan ini pula. Karena itu segera ia mempertimbangkan untuk mengambil jalan lain. Ia tidak mau menanggung akibat tertangkapnya Arya, apabila ia tidak dapat melawan orang-orang yang mencarinya.
 

Arya... kata Mahesa Jenar kemudian, Ternyata jalan ini adalah jalan yang berbahaya. Karena itu marilah kita ambil jalan lain.


Arya tidak menjawab, tetapi ia hanya menganggukkan kepalanya.
Karena pertimbangan itu, segera Mahesa Jenar dan Arya Salaka membelok menyusup hutan untuk mengambil jalan lain.