![]()
gajahsora.net
CERITA BERSAMBUNG =15 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
181
SETELAH matahari sampai pada titik puncaknya, segera mereka mohon diri, pulang ke rumah masing-masing. Yang terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Darba.
Dengan tertawa pendek ia berkata, Mahesa Jenar, datanglah
sekali-sekali ke pondokku meskipun tidak lebih baik dari pondok ini. Aku juga
hidup seperti pamanmu, Paniling. Berbeda dengan orang lain di sini yang hidup
berkeluarga, dengan anak-istri. Tetapi kami, aku dan pamanmu, hidup sebatang
kara.
Baiklah, Paman, jawab Mahesa Jenar mengangguk.
Mata Mahesa Jenar yang tajam menangkap sinar yang gemerlapan dalam mata petani yang kekurus-kurusan itu. Sinar itu bukanlah sinar mata seorang petani miskin.
Rupanya dua orang ini harus mendapat perhatian sepenuhnya.
Tetapi Mahesa Jenar pun adalah orang yang berotak cemerlang. Karena itu segala
sesuatu diperhitungkannya dengan cermat. Juga terhadap kedua orang ini, ia
bersikap sangat hati-hati.
Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak mempunyai prasangka
yang jelek terhadap Paniling maupun Darba. Sebab cahaya mata mereka serta
pancaran wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan sesuatu kepalsuan. Tetapi
meskipun demikian ia memperhitungkan pula kemungkinan-kemungkinan yang
sebaliknya. Malahan kadang-kadang timbul dugaannya, apakah salah seorang
diantaranya itu adalah Pasingsingan?
Setelah semua orang, juga Darba telah meninggalkan rumah itu,
segera Paniling menyodorkan beberapa jagung rebus beserta gula kelapa yang masih
baru kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang memang merasa lapar segera
menerimanya dan dengan lahapnya ia menghabiskan bagiannya. Setelah itu tidak
banyak yang mereka percakapkan. Apalagi Paniling segera pergi ke kebun untuk
menyiangi tanaman-tanamannya.
Baru ketika matahari telah hilang di balik batas antara siang
dan malam, serta Paniling telah menyalakan oncor jarak, mereka duduk di atas
satu-satunya tempat pembaringan yang ada di dalam ruang itu.
Tiba-tiba tanpa ditanya Paniling berkata tentang kitabnya,
Angger, ternyata kedua jilid dari kitab itu belum aku ketemukan. Aku tanyakan
kesana-kemari, agaknya belum aku jumpai siapakah yang telah meminjamnya. Apakah
Anakmas tertarik sekali dengan ceritera itu?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Namun demikian katanya, Aku sangat tertarik kepada ceriteranya, Bapak.
Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya. Ceriteranya memang menarik. Tetapi ceritera itu adalah ceritera biasa saja sebenarnya, sambung Paniling.
Ya, jawab Mahesa Jenar tiba-tiba. Ia sedang mencoba untuk memancing
pikiran orang tua itu.
Aku juga pernah mendengar ceritera yang hampir sama, katanya.
Orang itu tampak agak terkejut, tetapi sebentar kemudian kesan itu telah hilang
kembali. Malahan ia tersenyum sambil menjawab, Angger juga pernah mendengar?
Di mana...?
Di Banyubiru, sahut Mahesa Jenar.
Banyubiru...? Dekat Rawa Pening? tanya Paniling.
Ya, kenapa? tanya Mahesa Jenar pula.
Akh, ceritera itu sampai tersiar demikian jauhnya, jawab Paniling.
Demikian jauhnya? Mahesa Jenar yang sekarang keheranan.
Ki Paniling kembali mengernyitkan alisnya. Dan kembali pula ia
tersenyum lebar.
Bukan jauh sekali, katanya kemudian, Tetapi buat ceritera yang tak
berharga itu, adalah suatu kehormatan besar apabila sampai tersiar ke
daerah-daerah yang agak jauh.
Terasa bagi Mahesa Jenar ada sesuatu yang dapat ditangkapnya dari kata-kata
Paniling, karena itu segera ia menyahut, Kalau ceritera itu sampai di sini,
bukankah telah tersebar ke tempat yang lebih jauh lagi?
Paniling terkejut mendengar jawaban Mahesa Jenar. Tetapi hanya sekejap, karena hanya sesaat kemudian ia telah tertawa sambil berkata, Mungkin, mungkin Angger benar.
Mahesa Jenar tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi, karena itu ia ingin
mendesak lebih lanjut. Ki Paniling, aku juga pernah mendengar ceritera
tentang Pasingsingan itu di Banyubiru. Cobalah Ki Paniling sudi mendengarkan
ceritera yang aku dengar itu untuk diperbandingkan dengan kelanjutan dari
ceritera Ki Paniling yang tercecer, dari kitab jilid 2 dan 3. Adakah
persamaannya ataukah hanya persamaan nama melulu.
Mahesa Jenar melihat orang tua itu menjadi agak gelisah, tetapi ia tidak mau kehilangan kemungkinan untuk menyentuh-nyentuh perasaan Ki Paniling yang paling dalam. Dengan demikian ia akan segera tahu dengan siapa ia berhadapan. Dengan kawan atau lawan. Maka segera Mahesa Jenar melanjutkan, Menurut ceritera yang tersebar luas di Banyubiru, tidak saja yang tertulis di lontar-lontar, tetapi bahkan telah menjadi ceritera rakyat yang tersebar dari mulut kemulut, mengatakan bahwa Pasingsingan sama sekali bukanlah seorang yang baik hati, bukan seorang yang pasrah diri kepada Yang Maha Agung, ia sama sekali tidak mengagungkan kebajikan, apalagi mempunyai dua orang murid yang bernama Radite dan Anggara. Tetapi Pasingsingan adalah orang yang sama sekali berlawanan dengan sifat-sifat itu. Ia mempunyai murid-murid yang sama jahatnya dengan dirinya sendiri, yang menamakan dirinya sebagai nama pahlawan, yaitu Lawa Ijo, Wadas Gunung dan Watu Gunung. Yang sama dengan ceritera Bapak adalah bahwa Pasingsingan itu memang sakti, namun ia telah mempergunakan kesaktiannya untuk kejahatan, merampok, membunuh, merampas isteri orang, me....
Bohong! tiba-tiba Paniling berteriak keras. Wajahnya jadi tegang dan
merah. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Cepat ia hendak bangkit
ketika dilihatnya wajah Paniling menyala. Mahesa Jenar sadar bahwa hal yang tak
dikehendaki bisa terjadi. Karena itu ia cukup waspada.
CERITA BERSAMBUNG =16 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
182
TIBA-TIBA tangan Ki Paniling terjulur untuk menangkap baju
Mahesa Jenar. Cepat ia mengelak, dan dengan gerakan kuat ia menerkam Paniling.
Mahesa Jenar tidak mau didahului oleh orangtua yang masih belum diketahui
siapakah dia dan sampai dimanakah kekuatannya.
Dengan menangkap orangtua itu, Mahesa Jenar bermaksud
memaksanya untuk menjelaskan siapakah sebenarnya dirinya itu.
Tetapi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang ketika ia sama
sekali tak berhasil menyentuh Ki Paniling dalam tempat yang demikian sempitnya.
Bahkan tiba-tiba terasa tangannya terpilin dan lenyaplah segenap kekuatannya
yang memang belum pulih seluruhnya. Tetapi bagaimanapun ia merasa bahwa Paniling
mempunyai kekuatan yang jauh di atas kemampuannya. Bahkan andaikata kekuatannya
samasekali tak terganggu sekalipun. Namun orangtua itu akan dapat dengan mudah
menangkapnya.
Mengalami peristiwa itu, Mahesa Jenar segera teringat kepada
pertemuan-pertemuannya dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana yang
juga sama sekali tak diduganya. Dengan demikian ia dapat mengambil suatu
kesimpulan bahwa orang ini pun pasti tergolong angkatan itu pula. Kalau saja
orang ini Pasingsingan, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya.
Tetapi tiba-tiba terasa tangkapan pada tangannya itu semakin
kendor, semakin kendor, bahkan akhirnya dilepaskan. Dan dengan keheran-keheranan
Mahesa Jenar melihat Ki Paniling itu membanting diri diatas bale-bale, yang
kemudian dengan kedua telapak tangannya menutupi mukanya.
Mahesa Jenar jadi ragu dan tidak tahu apa yang akan
dilakukannya. Tetapi suatu kelegaan telah membersit di hatinya. Sebab jelas
orangtua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya.
Setelah beberapa saat suasana ruangan sempit itu dicengkam
oleh kesepian yang tegang, maka perlahan-lahan Ki Paniling mengangkat mukanya.
Muka yang tadi tampak merah membara, kini menjadi pucat keputih-putihan. Bahkan
dari matanya memancar sinar duka.
Mahesa Jenar jadi merasa bahwa ia telah berbuat sesuatu yang
menyebabkan orangtua itu susah. Maka katanya, "Maafkan aku, Bapak, barangkali
aku telah berbuat suatu kesalahan."
Tiba-tiba Ki Paniling tersenyum lebar, namun senyumnya adalah senyum yang pahit. "Tidak, Angger..., Angger tidak berbuat suatu kesalahan. Tetapi akulah yang bodoh. Sebagai orangtua aku telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tetapi itu ada sebabnya."
Mata orangtua itu semakin membayangkan kedukaan yang dalam. Hanya kadang kadang
saja ia memandang kepada Mahesa Jenar, tetapi kemudian kembali matanya menatap
ke titik-titik, jauh tak terhingga.
Lewat pintu rumah kecil yang belum ditutup itu, terasa angin malam menghembus halus, menggoyang-goyang nyala pelita jarak yang melemparkan cahaya suram ke segenap arah.
Untuk beberapa lama mereka berdua masih berdiam diri. Perlahan-lahan Mahesa
Jenar pun kemudian duduk kembali di samping Ki Paniling.
"Angger..." kata Ki Paniling kemudian memecah sepi, "Maksudku hanya ingin mengatakan bahwa ceritera yang Angger dengar itu sama sekali tidak benar. Atau barangkali lebih baik aku katakan bahwa ceritera itu tidak sama dengan ceritera di dalam kitab-kitabku. Mungkin benar kata Angger bahwa kedua ceritera itu ditulis oleh orang yang tidak sama, hanya kebetulan nama tokoh-tokohnya sajalah yang bersamaan."
"Demikianlah Bapak, ceritera itu bukanlah tidak mungkin bersamaan nama, "
jawab Mahesa Jenar.
"Ceritera yang aku baca, Angger..." kata Paniling, "Pasingsingan
adalah orang yang baik hati. Menjunjung tinggi keluhuran budi, serta pasrah diri
kepada Yang Maha Agung."
"Dapatkah aku mendengar ceritera itu, Bapak? " tanya Mahesa Jenar.
Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. "Otakmu cemerlang seperti matahari
musim kemarau," sahut Paniling.
Mahesa Jenar kurang mengerti kepada kata-kata Paniling itu. Tetapi ia tidak
bertanya sesuatu, sampai akhirnya Paniling berkata kembali, "Baiklah Angger...,
aku tidak tahu apakah ada gunanya kalau aku berceritera.
Sebab kau bukanlah anak-anak yang mudah tertidur karena dongeng-dongeng yang
menyenangkan serta mengasyikkan."
Mahesa Jenar menundukkan kepala mendengar kata-kata Ki Paniling yang
rupa-rupanya sudah mengetahui maksudnya, memancing-mancing keterangan tentang
dirinya.
"Angger Mahesa Jenar...,"kata Ki Paniling lebih lanjut, "Bagian kedua
dari ceritera itu mengatakan bahwa setelah kedua murid Pasingsingan itu menjadi
dua orang yang hampir mumpuni, maka Pasingsingan ingin menyerahkan jabatannya,
meskipun jabatan itu disandangnya atas kemauan sendiri, kepada muridnya yang tua.
Tetapi pada saat itu datanglah seorang yang mengaku murid Pasingsingan yang
tertua, yang merasa berhak untuk mengenakan tanda-tanda kebesaran gurunya, yaitu
jubah abu-abu, topeng yang kasar dan yang terutama adalah sebuah belati panjang
berwarna kuning emas berkilau-kilauan, yang disebut Kyai Suluh, serta cincin
bermata batu akik merah menyala yang dinamai Akik Klabang Sayuta. Hampir tak ada
orang yang dapat melawan kesaktian belati panjang serta akik Klabang Sayuta itu."
Sampai sekian terasa punggung Mahesa Jenar meremang. Ia kenal semua benda-benda yang disebutkan itu.
Ia pernah melihat Pasingsingan memegang sebuah pisau belati
yang berwarna kuning gemerlapan pada saat orang itu hendak bertempur melawan Ki
Ageng Pandan Alas, yang juga terpaksa menarik pusakanya Sigar Penjalin.Sedang
akik Klabang Sayuta yang beracun itu, tidak saja ia pernah melihat, tetapi ia
pernah merasakan betapa dahsyatnya. Kalau saja di dalam darahnya tidak mengalir
bisa Ular Candrasa, entahlah apa yang terjadi atasnya.
CERITA BERSAMBUNG =18 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
183
KI PANILING kemudian melanjutkan ceritanya, Tetapi agaknya
Pasingsingan tidak begitu terkena hatinya kepada bekas muridnya yang telah lama
meninggalkannya. Karena itu ia tetap pada pendiriannya, menyerahkan semua
tanda-tanda jabatannya kepada Radite. Maka pada suatu hari, dengan tidak
diketahui oleh siapapun, Pasingsingan telah lenyap. Tetapi jubah abu-abu serta
semua miliknya itu ditinggalkannya di dalam ruang tidur Radite. Dan sejak itulah
Radite kemudian mengembara dengan nama Pasingsingan untuk mengamalkan kebajikan
demi kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam pengembaraan itu pula ia berkenalan
dengan tokoh-tokoh sakti yang lain, yang juga berusaha untuk menegakkan
kebajikan bagi kesejahteraan umat mahusia. Diantara sahabatnya terdapat seorang
yang bernama Kiai Ageng Pengging Sepuh, yang kemudian mempunyai seorang murid
yang menjadi Prajurit Pengawal Raja bernama Rangga Tohjaya.
Kembali punggung Mahesa Jenar meremang. Bahkan kali ini
keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia jadi agak bingung. Ternyata
Paniling telah hampir mengetahui keseluruhan dari perjalanan hidupnya. Ia
akhirnya malu sendiri, ketika ia merasa bahwa pancingan-pancingannya terasa
berhasil untuk memaksa Paniling berceritera. Tetapi agaknya orangtua itu telah
dapat menebak seluruh isi hatinya.
Adapun Anggara... Ki Paniling meneruskan, Telah diserahi tugas untuk
menunggui tempat pertapaan Pasingsingan. Dan orang itupun dengan setia melakukan
kewajibannya.
Tetapi... sambung Ki Paniling dengan nada yang merendah, Peredaran roda tidak selamanya menempuh jalan datar. Radite akhirnya bertemu dengan murid tertua dari Pasingsingan, yang menamakan dirinya Umbaran. Dari segi keperwiraan jasmaniah, maka Umbaran ada di bawah kepandaian Radite.
Ki Paniling berhenti sebentar. Terasa bahwa nafasnya berangsur cepat. Wajahnya
tampak semakin pucat sedang matanya semakin sayu. Kemudian ia kembali
melanjutkan ceritanya, Karena itu Umbaran tidak dapat memaksa Radite untuk
menyerahkan tanda-tanda kebesaran gurunya. Namun demikian ada saja jalan yang
dapat ditempuhnya. Dan ini termuat pada bagian ketiga dari kitab ini. Bagian
yang paling menyedihkan.
Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi,
Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan
jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi
hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah.
Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah
sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia
berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan,
sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis
itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di
dalam genggaman gadis itu.
Akhirnya... lanjut Ki Paniling, Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi.
Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir
berteriak ia berkata, Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali.
Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan, Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya.
Tetapi kemudian... lanjut Ki Paniling, Menyusullah kejadian yang semakin
menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di
hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan
penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang
barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak
mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi
sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha
dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya
kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi.
Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan
tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.
Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat. Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan.
Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya.
Dengan terputus-putus ia menjawab, Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu
yang kau ingin ketahui?
Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat? kata Mahesa Jenar kemudian,
Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang
kemudian bernama Pasingsingan itu?
Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat. Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite..., nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu.
CERITA BERSAMBUNG =19 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
184
KI PANILING termenung sejenak.
Kemudian lanjutnya, Itu adalah hukumanku yang paling berat.
Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan
diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama
Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku
sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di
dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena
caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah
seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga
Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja, kata Ki Paniling.
Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.
Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang
berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra
dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya, Bagaimanakah kalau
ada seorang lagi yang menyatakan dirinya sebagai Pasingsingan?
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata, Adakah orang lain yang kau kenal sebagai Pasingsingan pula?
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat
hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah
abu-abu yang mengambil kedua keris itu.
Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah
tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya, Kau lihat orang
itu bertopeng pula?
Itu yang tidak aku ketahui, jawab Mahesa Jenar.
Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja
keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah
abu-abu itu.
Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar, Tuan, bolehkah aku
mengetahui, di manakah murid yang seorang lagi dari Pasingsingan itu?
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar. Adakah kau menduga bahwa murid yang satu itu menamakan diri Pasingsingan pula?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan
bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia
menjadi ragu. Bukan maksudku untuk berkata demikian, Tuan.
Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula, Apakah yang menamakan dirinya Paman Darba itulah orangnya?
Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu,
sampai Mahesa Jenar agak terkejut.
Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa
diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke
arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di
sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya.
Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri
mengulangi kata-kata Paniling, Otakmu cemerlang seperti matahari musim
kemarau.
Kemudian terdengar Paniling berkata, Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan.
Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar? tanya Darba.
Akan aku coba, Tuan, jawab Mahesa Jenar.
Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana?
Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten,
meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan
Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan
pula tentang Pasingsingan...?
Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba, Kepada
kedua orang itu, juga kepada Titis Anganten, Pangeran Gunung Slamet, kau tidak
usah merahasiakan. Kalau mereka akan melenyapkan Pasingsingan adalah urusan
mereka, bukankah begitu Kakang?
Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.
Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya, Kakang Paniling, masihkah kau ingin mengadakan perhitungan dengan Umbaran? Aku kiranya hanya akan mengotori tanganmu saja dengan darah yang telah digenangi kejahatan. Apalagi kau terikat kepadanya dengan sebuah perjanjian aneh itu, untuk seterusnya tidak saling mengganggu. Kenapa kau tidak memerintahkan aku saja untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah aku tidak terikat oleh suatu apapun?
CERITA BERSAMBUNG =20 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
185
TIBA-TIBA wajah Darba yang bening itu berubah, seolah-olah
menjadi batu padas yang maha keras.
Sabarlah Darba, jawab Paniling yang wajahnya masih
setegang tadi, Aku kira akan datang saatnya.
Wajah Darba perlahan-lahan menjadi lunak kembali. Dengan langkah yang perlahan lahan pula ia duduk di samping Mahesa Jenar.
Kakang Paniling kagum melihat caramu bertempur melawan 7
orang yang termasuk orang-orang kuat. Memang Kakang Pengging Sepuh telah hampir
tercermin seluruhnya di dalam dirimu. Kalau kau kelak dapat mengendap ilmu Sasra
Birawa sehingga mendapat bentuk yang lebih masak lagi, aku kira kau akan menjadi
tepat seperti bayangan Kakang Pengging Sepuh yang mengagumkan.
Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar
pujian itu, tetapi bersamaan dengan itu pula segera ia teringat kepada nasib
Banyubiru yang dalam keadaan lumpuh itu.
Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Paniling dan Darba tak berkata-kata pula. Baru beberapa lama kemudian berkatalah Mahesa Jenar, Dan sekarang ke-7 orang yang mengeroyokku itu sedang merencanakan kehancuran Banyubiru.
Paniling dan Darba tampak mengerutkan kening nya. Kemudian kata Paniling,
Perencana dari peristiwa Banyubiru itu bukanlah orang bodoh. Karena itu kaupun
harus sangat berhati-hati untuk melawannya.
Apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, melawan 7
orang sekaligus, adalah perbuatan yang terlalu berani. Kalau kau tewas dalam
pertarungan semacam itu, maka kau sudah tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.
Sedang agaknya kau tak pernah berfikir untuk menghindar. Untunglah bahwa aku
berhasil menggugurkan tanah yang kau injak, ketika kau berdiri terlalu ke tepi,
dengan sebuah lemparan. Sehingga kau dengan tak usah merasa melarikan diri dari
gelanggang, telah dapat terselamatkan, meskipun kau harus menggelinding ke dalam
jurang.
Dada Mahesa Jenar terasa berdesir mendengar kata-kata Paniling. Agaknya orang tua itulah yang telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Dengan demikian maka tanpa disengaja ia berkata dengan gemetar, Terima kasih Tuan, terima kasih atas pertolongan itu.
Dalam hati Mahesa Jenar memancarlah perasaan kagum yang tak terhingga. Dengan
satu lemparan, Radite menggugurkan tanah tempat ia berpijak.
Paniling tersenyum lebar. Aku juga pernah mengalami masa
muda. Masa darah kita menggelora, dimana kita kadang-kadang kehilangan kemampuan
untuk mengakui kekurangan diri, jawabnya.
Terasa oleh Mahesa Jenar kebenaran kata-kata Paniling. Memang
dalam saat yang demikian terasa alangkah kecilnya apabila seseorang
menghindarkan diri dari arena. Tetapi apabila benar-benar ia dapat ditewaskan,
maka untuk selanjutnya ia tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, adalah
suatu keuntungan bahwa ia masih hidup.
Mahesa Jenar... kata Paniling kemudian, Memang
sebaiknya kau kembali ke Banyubiru. Ketahuilah bahwa kau sekarang ini berada di
hutan Pudak Pungkuran. Perjalanan ke Banyubiru dapat kau tempuh kira-kira dalam
satu hari. Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa. Kau pulihkan dahulu kekuatanmu.
Di sini aku mempunyai beberapa jenis akar yang dapat menolong menambah lancar
aliran darah serta menambah kesegaran tubuhmu.
Mahesa Jenar segera menyatakan terima kasihnya. Dengan demikian ia dapat
beristirahat untuk beberapa saat di rumah Ki Paniling.
Beberapa hari kemudian setelah tubuhnya terasa pulih kembali,
serta keadaan telah memungkinkan, maka Mahesa Jenar mohon diri kepada Paniling
untuk kembali ke Banyubiru. Paniling dan Darba yang merasa pentingnya kehadiran
Mahesa Jenar di tanah perdikan yang kehilangan pemimpin itu, segera
mengizinkannya, diiringi beberapa pesan dari seorang tua yang telah banyak makan
garam, kepada seorang pemuda yang darahnya masih cepat mendidih.
Disamping itu, Paniling juga memesannya untuk tidak berkata
apa-apa tentang Pasingsingan apabila tidak dianggapnya perlu sekali. Sebab
sampai saat itu, belum ada orang lain yang pernah mengenal wajah asli dari
Pasingsingan, apalagi Pasingsingan tua, guru Radite, yang pada saat itu, baik
Radite maupun Anggara tidak tahu apakah Pasingsingan masih hidup ataukah sudah
tidak ada lagi.
Maka pada suatu pagi yang cerah, diiringi oleh kicauan
burung-burung liar, Mahesa Jenar melangkah dengan segarnya menuju ke Banyubiru.
Bagaimanapun ia merasa bahwa ia ingin segera sampai.
Sebenarnya daerah Banyubiru, yang paling menarik bagi Mahesa Jenar adalah Arya
Salaka. Kepada anak ini Mahesa Jenar menaruh perhatian sepenuhnya. Apalagi sejak
ayahnya Ki Ageng Gajah Sora, menyerahkan Arya kepadanya dalam olah kanuragan.
Maka seolah-olah ia telah dibebani suatu tanggungjawab. Apabila kelak pada
waktunya Arya dewasa, dengan tidak memiliki sesuatu yang pantas dipakai sebagai
pegangan bagi seorang kepala daerah perdikan, maka ialah yang paling dapat
disalahkan.
Mengenangkan hal itu, tiba-tiba saja Mahesa Jenar ingin segera sampai ke
Banyubiru.
Karena itu segera ia mempercepat langkahnya. Tetapi karena ia
menempuh suatu perjalanan yang belum pernah dilalui sebelumnya, dan hanya
dikenalnya dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Paniling, maka perjalanannya
tidak dapat terlalu cepat. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengenali
jalan-jalan dan tempat-tempat seperti yang disebut oleh Paniling.
Dengan demikian maka ia tidak dapat mencapai Banyubiru dalam
sehari. Meskipun matahari telah tenggelam di langit, Mahesa Jenar dengan
perlahan-lahan tetap melanjutkan perjalanannya. Apalagi ketika dari jarak yang
agak jauh, remang-remang di hadapannya hanya taburan bintang-bintang.
Mahesa Jenar melihat bayangan hitam yang membujur seperti
seorang raksasa yang baru berbaring. Itulah pegunungan Telamaya. Karena itu maka
Mahesa Jenar seakan-akan merasa terhisap oleh pegunungan itu, serta rasa
rindunya kepada Arya Salaka semakin menjadi-jadi. Segera ia pun mempercepat
langkahnya.
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox