Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG =10 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
176
SAMPAI di tempat itu segera beberapa orang berusaha untuk
mendapatkan jejak kaki kuda. Dan ketika jejak itu diketemukan maka mereka
mencoba untuk mengikuti dengan harapan dapat memecahkan teka-teki hilangnya
Mahesa Jenar.
Mudah-mudahan kuda itu hanya nakal saja sehingga
penunggangnya ditinggalnya lari, desis Wanamerta perlahan-lahan. Tetapi
nyata bahwa dibalik kata-katanya itu tersembunyi suatu pergolakan perasaan yang
dahsyat.
Dengan tekunnya mereka mencoba untuk mengikuti terus jejak seekor kuda yang mereka sangka adalah kuda yang dipakai oleh Mahesa Jenar, sebab arah kuda ini berbeda dengan arah kuda-kuda yang lain dari laskar Banyubiru. Kalau jejak kuda yang lain berjalan ke arah barat, maka jejak yang seekor berjalan kearah timur.
Mereka menemukan jejak ini berhenti di sebuah tempat yang agak
tinggi, dan yang kemudian melingkar menuju ke sebuah bukit di sebelah lembah.
Tetapi mereka akhirnya menemukan jejak itu terputus. Dan
tahulah mereka bahwa kuda itu telah ditambatkan di sebatang pohon. Dari tempat
itu disebarlah beberapa orang untuk menyelidik beberapa tempat dengan suatu
harapan bahwa mereka akan menjumpai Mahesa Jenar sedang mencari kudanya.
Tetapi yang mereka jumpai adalah mengejutkan sekali. Beberapa orang yang tersebar itu ada yang sampai pada bekas daerah pertempuran antara pasukan Demak dengan laskar Lembu Sora. Di situ, mereka menemukan beberapa bekas darah, senjata senjata yang tertinggal dan sebagainya. Sedang orang lain, yang juga mencari Mahesa Jenar telah sampai di atas gundukan tanah, dan mereka pun menjumpai bekas-bekas perkelahian. Seekor kuda ditemukan telah mati. Yaitu kuda Lawa Ijo yang telah dibunuh oleh Mahesa Jenar dengan tangannya.
Wanamerta mendengar semua laporan itu dengan dahi yang berkerut-kerut. Otaknya
berputar seperti baling-baling. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dari
apa yang telah disaksikan oleh anak buahnya. Tetapi yang pasti adalah keadaan
telah menjadi semakin gawat. Dan sesuatu dapat terjadi atas Banyubiru. Maka
terlintaslah dalam angan-angannya bahaya dari segala penjuru siap untuk menerkam
tanah perdikan yang seolah-olah sedang lumpuh itu.
Setelah beberapa saat mereka tak mendapatkan suatu hasil
apapun, mereka segera kembali dengan hati gelisah.
Pada malam hari itu juga beberapa pemimpin Banyubiru segera
mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan segala segi yang mungkin terjadi pada
keadaan seperti itu. Akhirnya, setelah mereka membahas beberapa masalah,
sampailah mereka pada suatu keputusan, bahwa satu-satunya kemungkinan, apabila
keadaan memaksa, mereka akan minta bantuan kepada Ki Ageng Lembu Sora dari
Pamingit. Sebab dalam pertimbangan mereka, Ki Ageng Lembu Sora adalah adik Ki
Ageng Gajah Sora. Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa Lembu Sora sendiri
ternyata memegang peranan penting dalam kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.
Hilangnya Mahesa Jenar, terutama bagi Arya Salaka, terasa menekan sekali dalam
dadanya. Ia telah kehilangan ayahnya, dan kemudian orang yang dipercaya oleh
ayahnya untuk mengasuh serta menjadi gurunya dalam olah kanuragan. Disamping itu
Mahesa Jenar adalah kawan bermain-main yang menyenangkan. Itulah sebabnya maka
kemudian ia menjadi pendiam dan selalu bermenung.
Ibunya yang tidak kalah sedihnya, namun yang selalu berusaha
untuk menghiburnya, kadang-kadang menjadi sangat cemas melihat perkembangan Arya
dari hari ke hari. Ia lebih senang menyendiri dan pergi ke tempat-tempat yang
sepi. Kadang-kadang malahan ia sama sekali tidak mau tidur di dalam rumah,
tetapi untuk beberapa malam Arya Salaka tidur dihalaman belakang.
Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya juga telah berusaha
sedapat-dapatnya untuk menggugah kegembiraan Arya, tetapi usaha mereka sama
sekali tak berhasil. Sehingga akhirnya mereka hanya dapat menyaksikan dengan
hati cemas atas sifat-sifat Arya yang telah berubah itu.
Dalam pada itu, apa yang telah terjadi dengan Mahesa
Jenar? Pada saat Mahesa Jenar terpelanting ke dalam jurang, ia menjadi tidak
sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia
membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun
ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah
menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ketika Mahesa Jenar mencoba untuk bergerak, sendi-sendi
tulangnya terasa sakit bukan main. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya
untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah
menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di
dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia
terbaring, paga bambu dengan sebuah kendhi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul
di sudut, dan parang pemotong kayu terselip di dinding.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan
memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya
telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar dan
terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran
dan kebaikan hatinya.
Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar telah membuka matanya, tampaklah ia
tersenyum lebar. "Nah, Angger..., rupa-rupanya Angger telah sadar,"
katanya.
CERITA BERSAMBUNG =11 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
177
SEGERA Mahesa Jenar tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Mahesa Jenar menjawab perlahan.
"Ya bapak."
Orang itu mengangguk, lalu duduk dibale, sambungnya, "
jangan angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih."
Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar.
Mahesa Jenar mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar
dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Tetapi tubuhnya
adalah tubuh idaman bagi setiap lelaki. Mungkin karena ia harus bekerja keras
untuk mencukupi kebutuhannya setiap hari, maka badannya masih tampak segar dan
kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir keseluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu
meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula pendek.
Rupanya orang itu sadar ia sedang diamati. Kembali senyumnya
yang lebar menghiasi bibirnya. "Adakah sesuatu yang aneh pada diriku ?."
Mahesa Jenar terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena
itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.
"Angger..," sambung orang tua itu, "usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Disini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal disini kecuali aku seorang diri."
Kembali Mahesa Jenar mencoba mengangguk.
"Bagus," orang tua itu melanjutkan, "tidurlah. Atau
barangkali angger mau minum."
Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi kedalam mulut Mahesa Jenar. Sebenarnya memang leher Mahesa Jenar terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan kedalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar.
Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.
"Jangan coba untuk bangun dahulu," orang tua itu
melarangnya. "Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali angger
suka air jeruk."
Sesudah berkata demikian orangitu segera melangkah pergi. dan tinggallah Mahesa Jenar seorang diri, berbaring didalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa. Sebab bagaimanapun dahsyatnya kekuatan Sasra Birawa yang dimilikinya, namun untuk melawan tujuh orang sekaligus, agaknya ada diluar batas kemampuannya.
Kemudian oleh angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring
Mahesa Jenar, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Mahesa Jenar
akhirnya jatuh tertidur.
Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk
disampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Mahesa
Jenar orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis didalam lontar itu. Maka
segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita
yang agaknya menarik hati.
Pada saat itu tubuh Mahesa Jenar telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia
telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar
itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.
Bait pertama dari cerita itu menggambarkan tentang dua orang sahabat yang pergi merantau untuk berguru kepada seorang sakti. Meskipun kedua orang itu hanyalah sahabat saja, namun mereka telah merasa dirinya lebih dari dua orang bersaudara.
Karena itu apapun yang terjadi selalu mereka tanggung bersama.
Akhirnya sampailah mereka kesuatu lembah yang amat sepi. Lembah yang sama sekali
tak pernah disentuh oleh kaki manusia. Disana dijumpainya seorang petapa yang
telah menjauhkan diri dari kehidupan. Ia hanya tinggal mengabdikan sisa hidupnya
untuk menyembah Yang Maha Agung.
Kedua orang sahabat itu kemudian menyerahkan hidup matinya kepada sang petapa sakti. Petapa yang telah menjauhkan diri dari kesibukan manusia itu semula ragu.
Tetapi karena kesadaran akan pembinaan kebajikan, akhirnya
kedua orang itu diterima menjadi muridnya. Diajarinya mereka berdua tentang
berbagai ilmu lahir dan batin. Jaya Kawijayan dan olah kanuragan sehingga kedua
sahabat itu kemudian menjadi dua orang yang gagah perkasa.
Petapa sakti itu mengharap agar kedua pemuda itudapat
melanjutkan dharma bhaktinya kepada tata pergaulan manusia membina kebajikan dan
memusnahkan kejahatan.
Adapun petapa sakti itu, tak seorangpun yang pernah mengenal
wajahnya, serta nama yang sebenarnya. Sebab ia selalu memakai topeng yang sangat
kasar buatannya, berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan.
Mendengar nama Pasingsingan disebutkan, Mahesa Jenar terkejut bukan main. Tanpa disengaja ia mengulangi nama itu sampai orang itu terkejut dan berhenti.
CERITA BERSAMBUNG =12 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
178
PERLAHAN-LAHAN ia menoleh kepada Mahesa Jenar, dan ketika ia
melihat Mahesa Jenar duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar.
"Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, "
katanya.
Begitulah, Bapak, jawab Mahesa Jenar.
Tetapi agaknya, adakah yang menarik perhatian Angger dalam ceritera ini? tanya orangtua itu kemudian.
Tetapi ketika Mahesa Jenar akan menjawab terdengar orang itu melanjutkan, Aku
pernah mendengar kata orang bahwa lagu dapat dipergunakan untuk banyak tujuan.
Dalam peperangan, lagu dapat membangkitkan semangat bertempur dan berkorban.
Seorang prajurit yang telah kehilangan semangat, akan bangkit keberaniannya
apabila ia mendengar sangkakala dalam irama yang menggelora. Sebaliknya, lagu
akan sangat berguna pula dalam waktu bercinta.
Orang itu berhenti berbicara. Kemudian terdengarlah ia tertawa berderai.
Anakmas pasti pernah bercinta, katanya tiba-tiba.
Perkataan itu mengejutkan Mahesa Jenar. Tanpa disengaja ia
menggelengkan kepala. Melihat Mahesa Jenar menggeleng, orangtua itu mengerutkan
keningnya, dan dengan nada keheranan ia bertanya, Angger belum pernah
bercinta?
Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah oleh pertanyaan itu.
Tetapi sekali lagi tanpa disengaja ia menggelengkan kepalanya pula.
Orangtua itu kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya,
Baiklah aku berkata tentang masalah yang lain.
Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya, Kata orang, lagu dapat pula menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Nah, tadi aku mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Angger derita, meskipun suaraku sama sekali tak merdu dan lagunya pun barangkali banyak yang salah.
Terima kasih, Bapak, sahut Mahesa Jenar. Mungkin karena lagu itu pula
aku jadi berangsur baik. Tetapi isi ceritera yang Bapak lagukan itu pun sangat
menarik perhatianku.
Angger juga tertarik pada ceritera-cerita semacam itu? katanya pula.
Kalau begitu kita mempunyai persamaan kesenangan. Tetapi, sampai sekarang aku
masih belum mengenal siapakah Angger ini sebenarnya?
Oleh pertanyaan orangtua itu, barulah Mahesa Jenar menyadari kekakuan
hubungannya dengan orang itu. Sebab masing-masing masih belum saling mengenal
namanya. Karena itu, ketika orangtua itu menanyakan namanya, segera dijawabnya.
Namaku Mahesa Jenar, Bapak..., dan siapakah Bapak ini pula?
Akh, aku adalah orang yang sama sekali tak berarti. Tetapi
meskipun demikian, baiklah Angger mengenal namaku.
Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan,
Namaku adalah Ki Paniling.
Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya sambil mengulangi nama
itu. Kemudian ia bertanya pula, Ceritera yang Bapak baca sangat menarik
perhatianku. Dari manakah ceritera itu Bapak dapatkan?
Kening orangtua itu berkerut kembali. Agaknya ia sedang
mengingat-ingat. Tetapi kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia
menjawab, Aku tidak ingat lagi Angger, di mana dan kapan aku mendapatkan
naskah itu. Tetapi aku kira itu adalah salinan dari naskah-naskah yang ada di
mana-mana. Jadi bukanlah berisikan suatu ceritera yang sedemikian menarik
perhatian.
Bagaimanapun, keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang isi naskah itu, yang telah menyebut-nyebut nama Pasingsingan, namun ia selalu berusaha untuk menguasai diri. Sebab ia masih belum tahu benar dengan siapakah ia berhadapan.
Meskipun menilik sikap, kesederhanaan, cara berpikir serta hal-hal lain, orang
itu bukanlah orang jahat, namun ia tidak dapat meninggalkan sikap hati-hati.
Masih panjangkah ceritera itu? tanya Mahesa Jenar
kemudian.
Tidak, jawab Ki Paniling, Angger ingin membaca sendiri?
Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya. Ki Paniling kemudian menyerahkan lontar
yang dibacanya itu kepada Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar kemudian menjadi
kecewa ketika kelanjutan dari ceritera itu hanyalah tinggal beberapa bait saja,
yang menceriterakan tentang keperkasaan dua orang murid Pasingsingan yang
seakan-akan dapat terbang seperti burung rajawali. Adapun nama dari kedua orang
itu, yang dianggap lebih tua karena memiliki beberapa kelebihan adalah Radite,
sedang yang muda disebut Anggara.
Tidakkah Bapak mempunyai kelanjutan ceritera ini? tanya Mahesa Jenar dengan penuh keinginan untuk mengetahui.
Orangtua itu mengangguk-angguk sejenak, lalu berkata, Menurut ingatanku, aku
ada mempunyai tiga jilid dari naskah itu. Tetapi cobalah nanti Bapak cari,
barangkali sedang dipinjam orang selagi mereka punya keperluan.
Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke
luar ia berkata, Istirahatlah Angger. Bapak akan mencari jilid kedua dan
ketiga dari kitab itu.
Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu.
Mahesa Jenar heran mendengar kata-kata Ki Paniling. Kemanakah
ia akan mencari kedua jilid yang lain? Adakah di sekitar rumah ini? Atau
rumah-rumah orang lain?
Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di
sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengingsar tubuhnya ke tepi
tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu
nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri.
Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah
berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa
untuk berjalan.
Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar melangkah ke luar rumah. Ia
menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui
dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan.
CERITA BERSAMBUNG =13 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
179
KETIKA memandang ke arah matahari terbit, Mahesa Jenar juga
agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi.
Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki
Paniling.
Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Mahesa
Jenar melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan
halaman Ki Paniling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk
mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak
Mahesa Jenar melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia
percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan
orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang
tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin
lainnya.
Tetapi disamping itu, timbullah suatu masalah lain di dalam
kepalanya. Mahesa Jenar ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang
yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan
dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai
tempat yang didiami oleh manusia.
Memang mungkin pada saat itu Ki Paniling sedang mencari kayu,
misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat
yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang
daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan
dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar menjadi
semakin berbelit-belit di kepalanya.
Setelah Mahesa Jenar berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat.
Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali.
Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Paniling.
Tetapi baru saja ia memutar tubuhnya, tiba-tiba terdengarlah
suara ramah, Adi Darba, itulah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.
Segera Mahesa Jenar memandang ke arah suara itu. Dilihatnya Ki Paniling sedang bercakap-cakap dengan seorang petani lain, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka.
Orang yang dipanggil Darba itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti
suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang
tidak wajar.
Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Paniling,
aku jadi agak heran, katanya dengan jujur.
Ki Paniling tersenyum lebar. Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia, jawabnya.
Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Mahesa Jenar berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.
Mahesa Jenar..., kata Paniling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti
lazimnya orang memanggil kemenakannya. Inilah pamanmu Darba. Ia termasuk
salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang
datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan
dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Darba?
Darba tertawa kembali. Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorangpun
yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.
Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki
Paniling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar.
Sekarang, singgahlah sebentar, Darba, ajak Paniling.
Terimakasih. Masih banyak yang akan aku kerjakan pagi ini. Mengairi sawah dan
memasak gula, jawab Darba. Aku juga masih nderes tiga pohon lagi.
Bagus, sahut Paniling. Kalau masak, gulamu nanti
antarlah kami buat minum air jahe.
Tentu, tentu... potong Darba, yang lalu melangkah pergi setelah mengangguk
kepada Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar melihat keakraban pergaulan dalam hidup sederhana
itu dengan perhatian yang luar biasa. Alangkah jauh bedanya dengan pergaulan
orang-orang kota yang banyak dibumbui oleh sikap berpura-pura.
Setelah petani yang bernama Darba itu hilang di kelokan jalan, segera Ki Paniling melangkah mendekati Mahesa Jenar sambil berkata gembira, Rupanya angger telah banyak mendapat kemajuan. Sukurlah kalau Angger telah dapat berjalan-jalan. Maafkanlah kalau aku terpaksa menyebut Angger sebagai kemenakanku. Hal itu hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Sebab di padepokan kecil ini segala sesuatu yang tak berarti dapat saja menjadi peristiwa yang besar.
Tak apalah, Bapak, jawab Mahesa Jenar. Mana saja yang baik untuk Bapak,
akan baik pula untukku.
Bagus, bagus... sahut Ki Paniling, Sekarang marilah kita pulang, Angger
masih jangan terlalu banyak bergerak.
Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi segera ia melangkah mengikuti Ki Paniling.
Sebentar kemudian mereka telah sampai ke pondok Ki Paniling. Mahesa Jenar
langsung dipersilakan berbaring untuk memulihkan kekuatannya, sedang Ki Paniling
segera menyalakan api serta mengupas jagung.
Kembali terasa angin yang semilir mengusap tubuh Mahesa Jenar.
Dan karena kesegaran dan kepenatan yang bercampur-baur, akhirnya sekali lagi
Mahesa Jenar jatuh tertidur.
Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya hiruk-pikuk di halaman. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tetapi untuk menjaga diri segera ia bangkit, dan memperhatikan keadaan dengan saksama. Di luar, didengarnya beberapa suara orang laki-laki menyebut-nyebut namanya. Tetapi kemudian ia menjadi tersenyum sendiri, namun juga dihinggapi oleh perasaan gelisah.
CERITA BERSAMBUNG =14 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
180
ORANG-ORANG itu ternyata adalah sahabat-sahabat Ki Paniling
yang telah mendengar kabar bahwa kemenakannya datang mengunjungi kampung mereka
yang kecil dan terpencil ini. Karena itulah mereka memerlukan datang untuk
mengucapkan selamat datang serta menyampaikan salam perkenalan.
Ki Paniling sendiri agaknya menjadi kerepotan untuk memberi
penjelasan kepada sahabat-sahabatnya, tentang kemenakannya. Tetapi rupanya ia
cerdik juga. Supaya tidak ada salah keterangan dengan Mahesa Jenar, sengaja ia
berbicara keras-keras dengan harapan bahwa dongengannya itu didengar pula oleh
Mahesa Jenar.
Adik-adik sekalian, kemenakanku ini datang dari daerah yang jauh sekali. Ia pada saat-saat yang lampau telah pergi merantau hampir ke seluruh sudut bumi. Yang terakhir ia mengabdikan dirinya di pusat kerajaan. Yaitu pada Sultan Demak. Di sana ia menjadi seorang prajurit yang gemblengan, kata Ki Paniling.
Kemudian terdengar suara orang-orang itu bergumam. Agaknya mereka menyatakan
perasaan kagum terhadap salah seorang prajurit kerajaan yang sudi berkunjung ke
kampung kecil itu. Malahan seorang diantaranya berkata, Anehlah kau Bapak
Paniling. Kenapa kau mempunyai kemenakan yang menjabat sebagai prajurit Demak,
tetapi kau hidup miskin bersama-sama dengan kami di sini?
Mendengar pertanyaan itu, terdengar Ki Paniling tertawa. Yang menjadi
prajurit bukanlah aku, tetapi kemenakanku.
Kalau begitu banyaklah yang sudah dilihatnya, kata yang lain, Dapatkah
kiranya kita mendengar ceriteranya?
Tentu, tentu..., apabila ia sudah bangun, jawab Ki
Paniling. Tetapi jangan tanyakan tentang kedudukannya sebagai prajurit, sebab
ia telah mengundurkan diri.
Mengundurkan diri? tanya mereka hampir berbareng.
Ya, jawab Paniling.
Kenapa? tanya mereka kembali.
Paniling diam sejenak. Baru kemudian ia dapat menjawab,
Sampai hal yang sekecil-kecilnya kalian ingin tahu?
Itu bukan kecil soalnya, jawab salah seorang, Tetapi adalah masalah yang besar. Seorang prajurit bagi kami adalah seorang yang luar biasa. Kalau sampai ia mengundurkan diri, pasti ada hal-hal yang luar biasa.
Kembali terdengar Paniling tertawa. Otakmu mengkilap seperti batu akik. Bagus,
kau takut kalau kemenakanku itu menjadi buruan, atau dipecat karena kejahatan?
Bagus, dengarlah, ia mengundurkan diri karena perbedaan pokok mengenai
kepercayaan. Ia tidak mau menentang kawan-kawan seperjuangannya dalam satu
pertentangan jasmaniah. Karena itu lebih baik ia mengundurkan diri, meskipun
dengan demikian bukan berarti masa kebaktiannya terhenti pula. Ia tetap berjuang
untuk kesejahteraan kawula Demak, kata Paniling.
Kemudian terdengarlah orang-orang di luar rumah itu bergumam
puas. Tetapi tidak demikianlah perasaan Mahesa Jenar yang justru menjadi
bergolak hebat. Keterangan Ki Paniling itu bagi Mahesa Jenar bukanlah sekadar
kebetulan semata-mata. Tetapi adalah suatu ceritera yang tepat seperti apa yang
dialaminya. Karena itu dadanya jadi bergoncang.
Bersamaan dengan itu muncullah sebuah kepala di ambang pintu.
Sedemikian tiba-tiba sehingga Mahesa Jenar menjadi terkejut. Hampir saja ia
meloncat menangkapnya, tetapi untunglah dalam sekejap kepala itu telah lenyap
kembali disusul dengan suara seseorang, Kakang Paniling, kemenakanmu telah
bangun.
He.... jawab Paniling, Bagus, kalau begitu kalian dapat menemuinya, tetapi jangan lupa kepada pesan-pesanku.
Sesaat kemudian beberapa orang telah melangkah masuk. Salah satu diantaranya
segera membentangkan sebuah tikar pandan yang kasar, dan di atas tikar itulah
segera mereka duduk. Mau tidak mau Mahesa Jenar harus duduk pula di atas tikar
pandan itu. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan kewaspadaan, meskipun
hanya sekejap. Ia tidak tahu jenis sarang apa pula yang sekarang sedang
dimasukinya.
Maka mulailah sahabat-sahabat Paniling saling berebutan memperkenalkan diri mereka serta bertanya-tanya. Bertanya tentang hal-hal yang kadang-kadang menggelikan bagi Mahesa Jenar. Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka benar-benar petani-petani miskin yang sebagian besar masih sangat rendah pengetahuannya.
Memang ada satu dua diantaranya yang pernah pula merantau,
tetapi pengalaman yang didapatnya pun sama sekali tak berarti.
Kalau demikian, akhirnya Mahesa Jenar mengambil kesimpulan,
bahwa yang sebenarnya kurang wajar adalah Ki Paniling sendiri. Memang sejak
semula ia telah bertanya-tanya dalam hati tentang orang ini. Bagaimana ia dapat
sampai ke pondoknya, dan bagaimana ia sengaja menyebut-nyebut Pasingsingan, lagi
pula ia dapat menebak dengan tepat tentang dirinya, bahkan tentang kedudukannya
sebagai bekas prajurit pun diketahuinya. Karena itu ia menjadi gelisah.
Untunglah bahwa pertemuan itu tidak berlangsung terlalu lama.
Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox