![]()
Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 5 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
171
MAHESA JENAR memang sudah menduga bahwa Lembu Sora pasti akan
beralasan demikian. Karena itu ia meneruskan, Membebaskan Ki Ageng Gajah Sora
dan kemudian tidak memberinya tempat menetap karena ia akan selalu diburu oleh
alat-alat negara?
Ki Ageng Lembu Sora, kau tidak usah banyak bercerita.
Sekarang perintahkan orang-orangmu untuk menarik laskarmu yang menyerang pasukan
Demak itu.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terkedjut
bukan buatan. Karena itu pula maka darahnya menjadi semakin mendidih membakar
hatinya.
Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu
telah mulai memiliki kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu pula mereka
menjadi cemas sebab sebagian dari mereka telah mengenal siapakah Mahesa Jenar,
bahkan Lawa Ijo, Wadas Gunung, Jaka Soka dan Sima Rodra telah mengetahui sampai
di mana kekuatan Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar... jawab Lembu Sora, Kau jangan
mencoba-coba menakut-nakuti aku dengan permainanmu yang licik itu. Kau kira aku
dapat kau paksa dengan caramu yang murahan ini?
Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi keris di punggung Lembu Sora itu semakin menekan, sehingga ia terpaksa menahan napas.
Kawan-kawan Lembu Sora hanya dapat menyaksikan semuanya itu dengan hati yang
berdebar-debar. Mereka sama sekali tak berani berbuat sesuatu, sebab dengan
demikian berarti riwayat Lembu Sora akan berakhir.
Meskipun demikian, Lawa Ijo telah mencoba untuk menyelamatkan
jiwa Lembu Sora.
Tuan, Rangga Tohjaya yang perwira. Aku telah mengenal dan
merasakan betapa dahsyatnya ilmu Tuan yang dinamakan Sasra Birawa. Tetapi
meskipun demikian aku yakin kalau Tuan tak dapat mengalahkan kami semua ini
sekaligus, katanya sambil tertawa dalam.
Lawa Ijo... jawab Mahesa Jenar, Aku tidak merasa
bahwa aku akan dapat mengalahkan kalian. Yang penting bagiku sekarang adalah Ki
Ageng Lembu Sora memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari
pertempuran. Setelah itu, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku.
Tetapi mudah-mudahan Ki Ageng Lembu Sora akan menjadi pelindungku yang baik.
Kau gila! bentak Lembu Sora. Lepaskan aku, dan
marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.
Itu adalah soal yang mudah, sahut Mahesa Jenar, Tetapi perintahkan
orang-orangmu menarik diri.
Mendengar kata-kata itu Lembu Sora menjadi semakin marah, sampai dadanya serasa
akan pecah. Apalagi ketika ujung keris itu serasa semakin menekan punggungnya.
Akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menuruti
permintaan Mahesa Jenar. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang kaku tegang di
sekitarnya tanpa mendapatkan suatu kesan apapun juga. Kemudian berkatalah ia
kepada salah seorang yang berkuda itu, Berilah tanda untuk menarik pasukan.
Orang yang diajaknya berbicara itu rupanya ragu-ragu. Beberapa
kali ia memandang berkeliling, dan seolah-olah ia minta penjelasan dari setiap
orang yang berada di situ. Tetapi setiap wajah yang ditatapnya hanyalah
mengesankan kebimbangan dan ketegangan. Sampai akhirnya ia memandang wajah Jaka
Soka. Hanya wajah inilah yang berkesan lain. Mahesa Jenar yang pada saat itu
juga memandang Jaka Soka, melihat suatu perasaan yang aneh. Apalagi ketika
kemudian ia berkata kepada orang yang memandangnya untuk mendapat penjelasan itu.
Jenawi, tak usah kau beri tanda untuk menarik pasukan, katanya.
Semuanya yang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu menjadi terkejut. Lebih-lebih Lembu Sora sendiri, sampai ia membentak kepada Jaka Soka, Apakah maksudmu?
Tampaklah senyum menghias bibir Jaka Soka. Sedang matanya yang redup itu
memandang Lembu Sora dengan sinar yang aneh. Pandangan yang demikianlah yang
pernah menarik Mahesa Jenar dalam suatu perjalanan menyeberang hutan Tambakbaya.
Meskipun wajah Jaka Soka itu cukup tampan dan bersih, namun wajah yang demikian
bagi Mahesa Jenar tidaklah lebih atau kurang daripada wajah iblis yang paling
berbahaya.
Mereka menjadi bertambah terkejut lagi ketika mereka mendengar
jawaban Jaka Soka atas pertanyaan Lembu Sora, Maksudku... Ki Ageng, tak usah
laskar Ki Ageng itu ditarik. Biarlah mereka membinasakan pasukan Demak itu.
Dengan demikian bukankah benar kata Rangga Tohjaya atau Mahesa Jenar itu, bahwa
Ki Ageng Gajah Sora tak akan mendapat tempat lagi di dunia ini, sebab selalu
akan diburu oleh alat-alat negara. Syukur kalau segera ia dapat tertangkap dan
dihukum mati.
Aku tidak berkata tentang Kakang Gajah Sora, potong Lembu Sora, Tetapi tentang aku sendiri.
Kembali Jaka Soka tersenyum. Kalau kau juga mati karena Mahesa Jenar, adalah
baik sekali bagi kami. Dengan demikian saingan kami telah berkurang satu orang
lagi, katanya.
Tutup mulutmu, bentak Lembu Sora sambil menggigil karena marah yang tak tertahankan lagi.
Kalau aku dapat lepas dari tangan pengecut ini, aku ingin meremas mulutmu itu Jaka Soka, sambungnya lagi.
Kembali terdengar Jaka Soka berkata di sela-sela senyumnya, Jangan marah Ki
Ageng, dan jangan menyesal atas nasib jelek yang kau alami.
Tubuh Lembu Sora, menjadi semakin menggigil, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa oleh tekanan keris Mahesa Jenar. Sedang kawan-kawannya yang lain pun tidak kalah terkejutnya mendengar kata-kata Jaka Soka itu, sampai terdengar Uling Kuning yang kasar berkata, Tidakkah kau dapat diam Ular Laut gila?
Mendengar kata-kata Uling Kuning itu, malahan Jaka Soka tertawa lembut.
Jangan berpura-pura Uling Kuning, katanya.
Atau akukah yang harus menutup mulutmu? potong Uling Kuning.
Jaka Soka agaknya tidak senang mendengar kata-kata Uling Kuning yang kasar itu,
sehingga ia memutar kudanya menghadap Uling Kuning. Cobalah kalau kau mau,
katanya.
CERITA BERSAMBUNG = 6 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
172
ULING KUNING ternyata betul-betul orang yang kasar dan terburu
nafsu. Hampir saja ia mendera kudanya menyerang Jaka Soka kalau saja kakaknya,
Uling Putih tidak mencegahnya. Kenapa kau perlu mendengarkan omongan orang
gila itu? kata Uling Putih.
Terdengarlah Lawa Ijo menyambung, Alangkah beraninya kalian. Tetapi apa yang dapat kalian perbuat atas orang itu. Orang yang sudah jelas menghalangi usaha kami?
Sejenak kemudian mereka semuanya saling berdiam diri. Otak mereka bekerja keras
untuk dapat mencapai suatu penyelesaian tanpa merugikan diri sendiri. Tetapi
kesepian yang tegang itu kemudian tersobek oleh suara Mahesa Jenar yang lantang,
Aku tidak peduli apakah kalian ini sebenarnya sedang bersekutu atau sedang
bersaing. Tetapi sekali lagi aku minta, tariklah pasukan penyerang itu.
Mahesa Jenar mengakhiri kata-katanya sambil menekankan
kerisnya lebih keras lagi. Terdengar Ki Ageng Lembu Sora berdesis perlahan.
Kemudian katanya, Kalian tak akan dapat berbuat sesuatu atas tanah ini serta
segala isinya tanpa aku. Karena itu jangan halangi Jenawi memberi tanda untuk
menarik pasukan.
Semua mata kemudian tertuju kepada Jaka Soka yang masih dalam keadaan siaga untuk menghadapi Uling Kuning. Tetapi sesaat kemudian tampaklah kembali sebuah senyuman di bibirnya. Senyum iblisnya. Rupa-rupanya kalian lebih senang berpura-pura, meskipun kalian sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Baik mengenai tanah perdikan Banyu Biru maupun mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Apakah kalian kira bahwa pertemuan akhir tahun itu nanti akan dapat memberi kepuasan kita semuanya? Itu adalah omong kosong yang besar. Kalian tahu pasti bahwa Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten itu akan menuntut kematian demi kematian, sampai akhirnya ia jatuh di tangan orang yang terkuat diantara kita, bahkan guru-guru kita atau pendekar-pendekar angkatan tua itu. Meskipun demikian aku akan tetap hadir di pertemuan akhir tahun, yang sebenarnya tak berarti apa-apa itu. Nah sekarang aku tidak mempunyai urusan lagi di sini. Aku akan pergi saja, dan pulang ke Nusakambangan.
Setelah berkata demikian segera ia memutar kudanya dan menderanya. Kuda itu
segera meloncat dan berlari, seperti gila, diikuti oleh dua orang berkuda yang
berlari menyusulnya. Kedua orang itu pasti pembantu-pembantu kepercayaannya.
Sejenak kemudian orang yang bernama Jenawi itu bergerak maju.
Sekali lagi ia masih memandangi setiap wajah yang ada disitu. Sesudah tidak ada
kesan-kesan lain, maka segera ia mengambil sebuah bundaran logam yang mengkilap.
Dengan bermain-main sinar matahari yang memantul dari logam itu, ia sebenarnya
sedang memberikan aba-aba ke arah bukit di seberang tempat pertempuran itu.
Ternyata tanda-tanda yang dikirim lewat logam yang mengkilap
itu dapat sampai ke alamatnya. Dan karena itulah kemudian dari balik
gerumbul-gerumbul di lereng sebelah, terdengar suara sangkakala mengumandang
dengan nyaringnya. Itulah aba-aba kepada para laskar Lembu Sora yang bergabung
dengan laskar-laskar para tokoh hitam untuk mengundurkan diri. Tetapi yang
terbanyak dari laskar penyerang itu adalah laskar Lembu Sora, sebab dialah yang
merasa paling berkepentingan dengan tanah perdikan Banyubiru.
Sebentar kemudian segera tampaklah perubahan pada pertempuran
yang berlangsung dengan hebatnya di lembah. Pasukan gabungan yang menyerang
pasukan Demak itu segera berpencaran dan mengundurkan diri cerai berai. Sebab
sebenarnya mereka merasakan betapa dahsyatnya bertempur pasukan-pasukan Wira
Tamtama, Wira Jala Pati, Nara Manggala, Manggala Sraya, dan lebih-lebih kesatuan
Manggala Pati yang mengawal Sang Saka Gula Kelapa.
Karena itu ketika mereka mendengar tanda untuk mengundurkan
diri, maka dengan tidak perlu diulang lagi, mereka telah saling berebut dahulu
meloncat menjauhi prajurit-prajurit Demak yang bertempur dengan semangat yang
tinggi sebagai pengemban kewajibannya, melindungi ketenteraman negara.
Sekali lagi bulu tengkuk Mahesa Jenar rasa-rasanya tegak
berdiri, ketika dilihatnya bendera-bendara Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda
Rekta dan Tunggul Mega tetap berkibar dengan megahnya, memagari Sang Saka Gula
Kelapa.
Pasukan Demak yang menyaksikan penyerang-penyerangnya berlari
cerai berai, ternyata sama sekali tidak berusaha untuk mengejar atau
menghancurkan dengan senjata-senjata jarak jauh. Tetapi ketika pertempuran itu
telah reda segera pasukan Demak itu mengubah gelarnya menjadi Gedong Minep
kembali. Dan dalam gelar ini mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Demak.
Beberapa orang dari prajurit Demak itu segera merawat kawan-kawan mereka yang
terluka, malahan ada beberapa diantaranya yang gugur, untuk dibawa bersama-sama
dengan mereka.
Melihat kenyataan itu, meskipun korban dari kedua belah pihak itu sama sekali tak seimbang, tetapi terlukanya seorang saja dari prajurit Demak telah dapat menjadi sebab murkanya Sultan Demak. Dan pasti Gajah Sora yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala kemurkaan itu. Mengenangkan hal itu jantung Mahesa Jenar berdenyut semakin cepat. Dan karena kenangannya yang melambung itu pulalah, maka ia menjadi lengah.
CERITA BERSAMBUNG = 7 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
173
SEBENARNYA Lembu Sora bukan pula orang yang dapat diremehkan.
Bagaimanapun ia adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora.
Karena itu ia pun cukup mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.
Ketika tekanan ujung keris Mahesa Jenar tiba-tiba mengendor, tahulah Lembu Sora
bahwa perhatian Mahesa Jenar hampir seluruhnya tertuju kepada pasukan-pasukan di
lembah. Entahlah, ia sedang menekuri kekalahan pasukan gabungan itu, atau sedang
berbangga hati karena pasukan Demak masih tampak segar bugar, atau ia sedang
mengenangkan nasib Gajah Sora. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahesa Jenar telah
meninggalkan sikap hati-hati. Karena itu Lembu Sora ingin mempergunakan
kesempatan ini sebaik-baiknya.
Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang hanyut dalam arus
kenangannya yang mengawang, tiba-tiba Lembu Sora yang mempunyai kekuatan besar
sekali itu, menjatuhkan dirinya setelah dengan cepat sekali ia merenggut lengan
Mahesa Jenar yang melingkar di lehernya. Demikian ia berguling di tanah,
demikian kakinya menyambar perut Mahesa Jenar yang agak kurang bersiaga.
Demikian keras tendangan Lembu Sora, juga karena Mahesa Jenar
sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka segera ia
terdorong ke belakang beberapa langkah. Hanya karena keuletan serta
pengalamannya maka ia tidak sampai jatuh terlentang.
Meskipun mendadak, perut Mahesa Jenar terasa mual dan sakit,
namun ia segera dapat menguasai keseimbangannya kembali. Meskipun demikian
hatinya berguncang karena terkejut. Juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa
itu menjadi terkejut pula, tetapi cepat mereka dapat menanggapi keadaan.
Karena itu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar surut beberapa
langkah, serta segera dapat menguasai dirinya kembali, mereka tidak mau memberi
kesempatan sama sekali. Lebih-lebih Lawa Ijo yang tahu pasti sampai dimana
kedahsyatan tangan Mahesa Jenar. Maka sebelum Mahesa Jenar dapat menguasai diri
sepenuhnya, Lawa Ijo mendera kudanya, langsung menyerang Mahesa Jenar dengan
tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang putih
mengkilap.
Tetapi ia menjadi gugup ketika dilihatnya, dalam sekejap
Mahesa Jenar telah berdiri dengan marahnya. Di atas satu kakinya, tangan kirinya
menyilang dada sedang tangan kananhya terangkat tinggi- tinggi.
Lawa Ijo telah mengenal unsur gerak Mahesa Jenar yang demikian
itu. Maka ketika ia telah hampir sampai di hadapan Mahesa Jenar, dengan
kebingungan dan tanpa perhitungan ia meloncat dari kudanya. Meskipun gerakannya
itu sama sekali tak dihitungkan dengan saksama, namun ia berhasil menyelamatkan
nyawanya. Sebab pada saat itu benar-benar karena marah yang tak tertahankan
Mahesa Jenar telah memutuskan untuk melawan orang-orang itu dengan Sasra Birawa
yang menjadi andalannya. Tetapi pada saat ia mengayunkan ilmunya, Lawa Ijo
dengan gugup telah menjatuhkan dirinya, sehingga tangannya tidak berhasil
menghancurkan dada Lawa Ijo. Tetapi pukulan Mahesa Jenar itu telah mengenai
punggung kuda Lawa Ijo, yang kemudian dengan dahsyatnya kuda itu memekik tinggi,
tetapi sekejap kemudian seperti batu saja jatuh terguling tak bernafas lagi.
Tulang belakang kuda itu patah serta beberapa tulang iganya remuk.
Melihat kedahsyatan pukulan Mahesa Jenar, semua yang menyaksikan terguncang hatinya. Namun tak ada pilihan lain dari mereka itu, kecuali melawan bersama-sama.
Maka dengan menggeram dahsyat Sima Rodra segera menyerang
dengan tombak pusakanya dan bersamaan dengan itu sepasang Uling Rawa Pening pun
telah mengayunkan cambuknya. Cepat Mahesa Jenar meloncat undur untuk menghindari
tombak Sima Rodra yang menyambar dengan dahsyatnya. Dan pada saat itu pula Lembu
Sora telah mencabut pedangnya yang berukuran luar biasa besarnya.
Tetapi meskipun ia masih belum berani mendekat. Baru ketika
Lawa Ijo telah bersiaga pula, mereka menyerang bersama-sama dari arah yang
berbeda-beda. Sebenarnya untuk menghadapi sekian banyak tokoh-tokoh sakti itu
Mahesa Jenar merasa bahwa tenaganya tidak akan mencukupi. Tetapi apapun yang
terjadi, pantang ia menghindari.
Karena itu, segera ia menghimpun segenap kekuatan yang ada
padanya untuk dapat memberikan perlawanan yang sebesar-besarnya. Dengan ayunan
yang deras sekali, Lembu Sora mengarahkan pedangnya ke leher Mahesa Jenar, dan
bersamaan dengan itu pula Lawa Ijo menusuk ke arah lambung, untuk menangkap
gerakan Mahesa Jenar apabila ia menghindari sambaran pedang Lembu Sora dengan
merendahkan diri.
Tetapi ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak menghindar dengan
merendahkan diri, bahkan dengan loncatan yang keras ia menerkam Lawa Ijo.
Gerakan ini sangat mengejutkannya, sehingga dengan cepat ia menarik pisaunya dan
segera pisau itu dipergunakannya untuk melindungi dirinya dengan gerakan-gerakan
yang berputar. Tetapi Mahesa Jenar pun segera mengurungkan serangannya.
Sementara itu pedang Lembu Sora yang berat telah berdesing di
belakang punggungnya. Cepat ia memutar tubuhnya dan dengan dahsyatnya tangan
Mahesa Jenar menyusul arah gerakan pedang itu, dengan sisi telapak tangannya
yang berlandaskan ilmunya Sasra Birawa. Ternyata akibatnya adalah hebat sekali.
Pedang Lembu Sora adalah bukan pedang sewajarnya. Tetapi adalah pedang yang
dibuat khusus untuknya, dengan ukuran yang tidak lazim, serta dari baja pilihan.
Tetapi demikian sisi telapak tangan Mahesa Jenar menyentuh punggung pedang itu,
terdengarlah gemeretak pedang itu patah dan disusul dengan keluhan tertahan.
Terasa betapa nyerinya tangan Lembu Sora sampai pangkal pedang
itu terlempar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedahsyatan ilmu Sasra Birawa
itu mampu mematahkan pedangnya. Ketika ia melihat kuda Lawa Ijo jatuh dan mati,
ia masih belum begitu kagum, meskipun hal itu telah mengejutkannya pula. Apalagi
ia tidak segera dapat menyaksikan bahwa pukulan Mahesa Jenar itu telah
meremukkan tulang-tulang iga kuda itu.
CERITA BERSAMBUNG = 8 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
174
KARENA terkejut, heran dan kagum campur-aduk, juga pada saat
itu ia teringat ceritera ayahnya tentang beberapa orang sahabatnya, diantaranya
adalah Ki Ageng Pengging Sepuh yang terkenal dengan ilmu Sasra Birawa, Lembu
Sora menjadi seperti terpaku di tempatnya. Kesempatan itulah yang akan
dipergunakan oleh Mahesa Jenar. Ia sudah tidak dapat memaafkan lagi kesalahan
Lembu Sora yang sudah sampai hati mengkhianati kakaknya. Maka segera ia bersiaga
dan bersiap meloncat ke arah Lembu Sora dengan pukulan mautnya.
Tetapi keadaan segera berubah dan berselisih dengan rencananya.
Mahesa Jenar pernah melawan Wadas Gunung bersama dengan kira-kira 20 orang
sekaligus, dan dengan suatu keyakinan yang penuh ia akan dapat mengalahkan
mereka. Sekarang ia berhadapan tidak lebih dari 8 atau 9 orang. Tetapi mereka
bukanlah Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking, Bagolan dan sebagainya.
Mereka yang dihadapi sekarang adalah Lawa Ijo, Suami Isteri Sima Rodra, Sepasang
Uling dan Lembu Sora. Karena itu keadaannya akan sangat jauh berbeda.
Pada saat itu, pada saat ia telah mengambil suatu kepastian
akan dapat membalaskan sakit hati Gajah Sora, mendadak ketika ia hampir meloncat,
menyerbulah kuda Suami-Istri Soma Rodra seperti gila menerjangnya. Dan bersamaan
dengan itu pula meluncurlah dua buah sinar putih dari tangan Lawa Ijo dan Wadas
Gunung. Meskipun mereka tidak pernah bertempur berpasangan, tetapi karena ilmu
mereka cukup tinggi, mereka dengan mudahnya saling menyesuaikan diri dan saling
mengisi. Demikianlah Sima Rodra dan sebagainya telah bekerja mati-matian untuk
menyelamatkan Lembu Sora.
Mengalami serangan-serangan yang hampir bersamaan itu, Mahesa
Jenar terpaksa mengurungkan serangannya. Dengan merendahkan diri dan memutar
tubuhnya sekaligus, ia berhasil menghindari serangan dua pisau Lawa Ijo dan
Wadas Gunung. Tetapi pada saat itu kuda suami-istri Sima Rodra telah demikian
dekatnya. Untuk menghindarkan diri dari injakan kaki kedua ekor kuda itu, Mahesa
Jenar terpaksa berguling-guling beberapa kali.
Dengan gerakannya itu, Mahesa Jenar berhasil menyelamatkan
dirinya, tetapi serangan berikutnya telah mendatanginya pula. Dengan cara yang
sama dengan Sima Rodra, Uling dari Rawa Pening menyerang berpasangan pula.
Serangan itu tidak kurang hebatnya. Ditambah lagi dengan sepasang cambuk yang
berdesing-desing di udara. Agar tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu, Mahesa
Jenar melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya.
Tetapi malang bagi Mahesa Jenar. Ternyata ia terlalu jauh
meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang.
Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Mahesa
Jenar dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang yang sangat dalam.
Peristiwa itu sama sekali tak terduga oleh siapapun. Karena
itu, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi
jurang itu untuk melihat Mahesa Jenar tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian
hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi
jurang itu.
Mahesa Jenar sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh
suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat
setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke
atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung
di langit.
Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu
yang sangat keras sehingga seolah-olah Mahesa Jenar terputar melintang dengan
kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya
semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi
seterusnya.
Lawan-lawan Mahesa Jenar yang berada di atas jurang itu,
setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam
dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja
bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat
bersama-sama membinasakan Mahesa Jenar.
Meskipun demikian, mereka merasa betapa panas hati mereka,
karena dengan tindakannya yang luar biasa itu, Mahesa Jenar telah menggagalkan
maksud mereka untuk menghancurkan tentara Demak, atau setidak-tidaknya membuat
tentara itu lumpuh, sehingga dengan demikian hukuman yang akan dijatuhkan kepada
Gajah Sora pasti sangat berat. Tetapi dengan serangan yang tak begitu berarti
itu, masih ada kemungkinan bagi Gajah Sora untuk mengelakkan diri, atau malahan
diantara para prajurit Demak itu dapat memberikan keterangan bahwa serangan itu
bukan dari Laskar Banyubiru.
Tetapi bagaimanapun, usaha mereka ada juga hasilnya meskipun
hanya sedikit. Yang pasti adalah bahwa Gajah Sora untuk beberapa saat tidak
berada di Banyubiru. Keadaan ini pasti akan dapat dipergunakan sebagai modal
untuk melaksanakan rencana-rencana yang akan disusun kemudian.
Karena itu, ketika sudah tidak ada lagi yang akan mereka
lakukan, serta mereka telah yakin bahwa Mahesa Jenar tidak akan mungkin
menyelamatkan diri dalam keadaan yang demikian, maka segera mereka meninggalkan
tempat itu. Selanjutnya mereka menuju ke tempat yang telah mereka tentukan
sebagai tempat berkumpul bagi segenap laskar gabungan.
Namun bagaimanapun, kata-kata Uling Laut dari Nusakambangan,
Jaka Soka sebagai seorang pemimpin Bajak Laut yang sangat ditakuti, membekas
pula di dalam otak mereka. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten pasti akan
menuntut kematian demi kematian, sampai kedua pusaka itu jatuh ke tangan orang
yang terkuat. Dan wajarlah apabila orang yang terkuat itu kemudian dapat merajai
golongannya.
Demikianlah hampir sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka
yang mengucapkan kata-kata. Mereka sedang sibuk menaksir-naksir diri,
menaksir-naksir kekuatan gerombolan masing-masing serta orang-orang mereka yang
dapat mereka percaya. Sebab, akhirnya dalam tata pergaulan yang tak terikat oleh
hukum itu, kekuatan jasmaniahlah yang akan dapat menentukan siapakah yang
berkuasa.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
175
SEMENTARA itu, Laskar Banyubiru yang menarik diri kembali,
telah sampai di alun-alun Banyubiru. Wanamerta, Panjawi, Arya Salaka dan
beberapa pimpinan laskar yang lain segera menghadap Nyai Ageng Gajah Sora dan
menceriterakan apa yang telah terjadi.
Nyai Ageng mendengarkan cerita itu dengan berdiam dan menundukkan kepala.
Tetapi kemudian nampaklah butiran-butiran airmata setetes demi
setetes jatuh di pangkuannya. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang tabah,
yang sadar akan kedudukan suaminya sebagai seorang kepala daerah perdikan yang
sekaligus menjadi panglima laskarnya.
Namun mengalami peristiwa kali ini, Nyai Ageng Gajah Sora
tidak dapat menahan airmatanya. Bahkan kemudian didekapnya Arya Salaka, anak
laki-laki satu-satunya, dan kemudian kepala anak itu ditekankan ke dadanya
seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi.
Maka setelah cukup mereka memberikan laporan mereka, Wanamerta
dan kawan-kawannya segera mohon diri untuk memberikan beberapa keterangan kepada
laskar Banyubiru yang masih berkumpul di alun-alun, dan yang kemudian akan
dibubarkan.
Tetapi dalam keadaan ini Wanamerta sadar bahwa Banyubiru harus
tetap mempertinggi kewaspadaan, dan bahkan Wanamerta telah mengambil keputusan
untuk mengadakan persiapan yang lebih saksama dengan mengadakan latihan-latihan
keprajuritan.
Sementara itu, matahari tetap beredar dalam garis
perjalanannya. Angin pegunungan yang sejuk bertiup semakin sore semakin kencang,
menggoyang pepohonan dan merontokkan daun-daun kuning yang telah tidak dapat
berpegangan lebih erat lagi.
Pada saat itu, ketika Arya sedang duduk bertopang dagu di atas tangga pendapa
rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kuda abu-abu lengkap dengan
pelananya, tetapi tanpa penunggangnya. Kuda itu berjalan perlahan-lahan memasuki
halaman.
Arya kenal betul bahwa kuda itu adalah kuda yang dipergunakan
oleh Mahesa Jenar, karena itu segera ia berlari ke pintu gerbang untuk menengok
apakah Mahesa Jenar masih berada di luar halaman. Tetapi di luar gerbang itu
sama sekali tak ada seorangpun kecuali dua orang laskar yang sedang berkawal.
Kau lihat kuda ini, Kakang? tanya Arya kepada salah
seorang.
Ya, aku melihat, jawab orang itu.
Tanpa penunggang? tanya Arya lagi, menegaskan.
Ya, jawab orang itu pula, Kuda itu datang tanpa penunggangnya.
Segera Arya menjadi sangat cemas. Apakah yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar?
Segera ia meloncat ke atas punggung kuda itu dan dilarikan ke arah timur untuk
melihat barangkali Mahesa Jenar langsung pergi ke mata air tempat ia biasa mandi.
Tetapi hatinya menjadi kecewa ketika di sanapun ia tidak
melihat orang yang dicarinya.
Dengan perasaan yang semakin cemas segera Arya kembali ke
pendapa. Setelah itu ia meloncat turun, langsung berlari ke pringgitan, dimana
Wanamerta yang belum sampai hati meninggalkan rumah itu, sedang tidur untuk
melepaskan lelah.
Eyang Wanamerta...! teriak Arya, Lihatlah ke halaman.
Wanamerta terkejut mendengar Arya berteriak. Segera ia meloncat ke halaman dan
apa yang dilihatnya adalah seekor kuda abu-abu tanpa penunggang.
Wanamerta pun kenal kuda itu, maka iapun menjadi terkejut dan kemudian cemas.
Apakah kuda ini datang tanpa penunggangnya?
Ya, Eyang, jawab Arya. Kuda itu datang tanpa penunggang.
Dimanakah Anakmas Mahesa Jenar? gerutu Wanamerta seolah-olah kepada diri
sendiri.
Aku telah mencarinya ke belik tempat Paman Mahesa Jenar sering mandi dan tidur di bawah beringin di lereng sebelah, tetapi di sana Paman tidak ada, sahut Arya.
Wajah Wanamerta tampak berkerut-kerut. Ia agaknya sedang berpikir dan kecemasan.
Sesaat kemudian dipanggilnya pengawal gerbang. Panggil Adi Pandan Kuning,
Sawungrana, Bantaran serta Panjawi. Suruhlah mereka membawa anak buah
masing-masing 10 orang. Kami akan mencari Anakmas Mahesa Jenar. Mudah-mudahan
tidak ada apa-apa dengan anakmas itu, perintahnya.
Yang disuruhnya segera melangkah pergi dengan tergesa-gesa ke kandang kuda,
dimana kudanya ditambatkan. Dan sebentar kemudian orang itu telah meluncur di
atas punggung kudanya seperti dilemparkan.
Sebentar kemudian orang-orang yang dipanggil itu telah lengkap
berkumpul di pendapa. Mereka mendengar keterangan singkat dari Wanamerta bahwa
kuda abu-abu yang dipergunakan Mahesa Jenar telah kembali tanpa penunggangnya.
Karena itu dicemaskan kalau Mahesa Jenar telah menemui sesuatu kecelakaan.
Padahal hadirnya Mahesa Jenar di Banyubiru pada saat itu, pada saat Ki Ageng
Gajah Sora tidak ada, sangat diperlukan untuk melindungi tanah perdikan yang
sedang kehilangan pemimpinnya, serta terancam bahaya dari segala penjuru.
Setelah mengadakan pembicaraan sebentar, maka dibagilah
pekerjaan mereka. Bantaran dan anakbuahnya tetap berada di halaman itu,
Sawungrana menjadi penghubung di antara halaman itu dengan rombongan pencari
yang terdiri dari Wanamerta sendiri, Pandan Kuning, Panjawi dan anak buahnya.
Mereka masing-masing telah menyiapkan alat-alat untuk
mengirimkan tanda-tanda bahaya apabila setiap saat diperlukan. Sementara itu
para penjaga pun telah diperintahkan untuk memukul tanda supaya setiap laskar
Banyubiru tetap dalam keadaan siap.
Ketika segala sesuatunya telah siap, maka segera rombongan itu
berangkat, disusul dengan rombongan Sawungrana dengan arah yang sama, tetapi
dengan kecepatan yang lebih kecil. Mereka pertama-tama menuju ke tempat mereka
melihat Mahesa Jenar yang terakhir kalinya, yaitu pada saat pasukan Banyubiru
akan ditarik kembali dari daerah pertempuran.
[HOME]
Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox
07/19/2004