Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 31 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
166
SEMENTARA itu, terjadilah suatu hal yang sama sekali tak
terduga-duga. Dengan suara lirih dan dalam, terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora
memanggil Wanamerta dan Panjawi. Sesaat kemudian Gajah Sora memalingkan mukanya,
mencari Mahesa Jenar, dan dengan isyarat ia diminta mendekatinya.
Ketika Mahesa Jenar melihat wajah Ki Ageng Gajah Sora, ia
menjadi terkejut. Wajah itu nampak begitu suram dan basah oleh keringat yang tak
sempat diusapnya. Segera ia menarik kekang kudanya, dan cepat-cepat mendekatinya.
Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar. Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata, Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyubiru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku.... Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat.
Gajah Sora berhenti sebentar, lalu lanjutnya, Tetapi aku tak akan melawannya.
Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat
terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan
berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorangpun yang menyatakannya.
Dengarlah dengan baik, sambung Gajah Sora, Mungkin Adi Mahesa Jenar
yang paling dapat mengerti perasaanku.
Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Demak.
Beberapa tahun yang lampau..., lanjut Gajah Sora, Aku pernah bertempur
melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan
kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera
Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa.
Kembali Gajah Sora terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali.
Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan.
Mendengar kata-kata itu, bulu tengkuk Mahesa Jenar serasa
serentak berdiri. Kata-kata itu langsung menyusup ke perasaannya yang paling
dalam. Agaknya perasaan yang demikian pulalah yang menyebabkan dirinya seperti
orang yang kehilangan pegangan.
Tetapi Wanamerta dan Panjawi mempunyai tanggapan yang lain.
Wajahnya menjadi tegang. Mereka tidak begitu mengerti maksud Gajah Sora. Karena
itu Wanamerta segera bertanya, Bagaimanakah maksud Ki Ageng sebenarnya?
Lalu apakah yang akan Ki Ageng lakukan? sela Panjawi
yang menjadi semakin gelisah.
Aku akan berbicara dengan mereka, jawab Gajah Sora.
Mendengar jawabnya itu Wanamerta dan Panjawi saling memandang dengan kebingungan.
Mereka tidak datang untuk berbicara, jawab Panjawi kemudian, Tetapi
mereka datang dengan gelar perang.
Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah-olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak.
Kalau mereka tidak dapat berbicara, kata Gajah Sora Sora selanjutnya,
aku akan menyertai mereka ke Demak. Sebab aku percaya bahwa pemerintahan
berjalan dalam garis-garis hukum. Bagaimanapun juga masalah ini adalah masalah
kita bersama yang harus dapat kita selesaikan, tanpa pertumpahan darah.
Wanamerta dan Panjawi agaknya masih belum begitu mengerti maksud Gajah Sora,
sehingga terdengar suara Wanamerta agak tertahan, Anakmas, kami adalah
orang-orang yang bersedia dibujur-lintangkan untuk keselamatan Anakmas.
Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah
mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka
Gula Kelapa. Karena itu katanya, Paman..., aku tahu kesetiaan Paman dan
segenap laskar Banyubiru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku
kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara.
Termasuk Banyubiru. Sebab Banyubiru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini,
kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman
sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak
melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah,
termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyubiru.
Wanamerta dan Panjawi menundukkan mukanya dalam-dalam. Di dalam hatinya telah membayang sedikit pengertian akan ucapan pemimpinnya yang sangat dicintainya itu. Namun bagaimanapun, agaknya amat sulit baginya untuk melepas Gajah Sora pergi sebagai seorang terdakwa yang telah melakukan pengkhianatan.
Karena itu Wanamerta masih mencoba bertanya, Anakmas,
tidakkah Anakmas dapat berbicara dengan mereka dalam kesempatan lain yang lebih
baik, sehingga Anakmas tidak dianggap sebagai seorang tangkapan?
Tak akan ada lagi kesempatan kecuali ini, Paman. Sebab kalau aku tidak
mempergunakan kesempatan ini, pasti akan terjadi pertumpahan darah sesama kita
yang tak ada artinya, jawab Ki Ageng Gajah Sora.
Kembali Wanamerta menundukkan kepalanya. Ia kenal betul akan sifat dan watak
Gajah Sora. Apabila ia sudah menjatuhkan keputusan, maka tak seorang pun yang
akan dapat mengubahnya. Karena itu, dengan perasaan yang tertekan ia terpaksa
berdiam diri.
Sebaliknya Panjawi yang masih belum dapat mengendapkan dirinya, berkata menyela, Ki Ageng..., sebenarnya kami lebih senang apabila Ki Ageng memerintahkan kepada kami untuk menghunus pedang kami daripada melepaskan Ki Ageng pergi sebagai seorang tawanan.
CERITA BERSAMBUNG = 1 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
167
GAJAH SORA tersenyum pahit. Lalu jawabnya, "Aku bukanlah
tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh
orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum
pasti dapat mereka kalahkan."
"Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng,"
sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.
"Panjawi..." jawab Gajah Sora, "Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya."
Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat,
sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya
kembali.
Adi Mahesa Jenar... kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. Wanamerta dan Panjawi, Di manakah Arya?
Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah
melupakan anak ini.
Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi? sambung
Gajah Sora.
Benar, Kakang, jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan
pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam
dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua
pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit.
Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata
kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah
gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai
terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggungjawabkannya.
Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya
anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.
Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata-kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, Arya..., kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.
Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi
terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan.
Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat.
Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika
mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka
sadar akan arti kata-kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah
menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.
Apakah artinya ini Ki Ageng? tanya Panjawi dengan suara
bergetar.
Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku, sahut Arya dengan riangnya.
Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang
ini?
Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam.
Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.
Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan
bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak
untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan
kepada eyangmu Wanamerta, kata Gajah Sora dengan suara lembut.
Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya.
Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti
minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya, Ayah akan pergi jauh sekali?
Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya.
Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan
pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi...?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain
daripada mengiyakan.
Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula
Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada
seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada
Meta.
Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan
tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan
bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora.
Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian
ia berkata kepada Wanamerta, Sepeninggalku perintahkan pasukan ini
mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman
selama aku pergi.
Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak
berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu, lanjut Gajah Sora kepada Mahesa
Jenar.
Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya
yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak.
Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan
dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya.
Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah
pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam
kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil.
Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang
hampir berlari memburu.
Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta
memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu.
CERITA BERSAMBUNG =2 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
168
WANAMERTA memandangi Arya dengan dada yang sesak.
Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk
beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan
berteriak-teriak sejadi-jadinya.
Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring, Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta...?
Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar
Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya
untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai
Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan
wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru.
Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati
laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah
yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui
pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat
kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu
menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi
meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang
sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik
gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.
Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka
menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang
menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan.
Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan
kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan
ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru.
Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan
yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap
tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai
hal ini akan aku berikan kemudian, kata Wanamerta.
Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru.
Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang
sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar
tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat
hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang
bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan
pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.
Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus
semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin
pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu
lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan
yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu.
Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan
mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan
kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya
tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi
semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.
Arya..., marilah kita pulang, kata Wanamerta lembut.
Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.
Pulanglah, Arya... sambung Mahesa Jenar, Bukankah ayahmu telah
berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?
Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin
menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan
ayahnya.
Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru? tanya Arya di
sela-sela isaknya.
Pasti, Arya, jawab Mahesa Jenar. Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi
berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.
Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.
Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal
sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.
CERITA BERSAMBUNG = 3 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
169
SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai
kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu
yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu
yang tidak wajar akan terjadi.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit
yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah
kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.
Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang
sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila
jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat
melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang
agak tersembunyi.
Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah
Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan
yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia
menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah
sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.
Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa
bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.
Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang
bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah
mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar
Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang
besar.
Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan
pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat
dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa
Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang
menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob.
Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.
Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi
sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.
Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini
adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru
menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk
bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.
Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera
terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang
menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang
menguntungkan.
Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu
gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya
menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka
nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan
yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian
sebenarnya.
Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat
dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu.
Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan
satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.
Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang
Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir
melandanya.
Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup
ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian
gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua
dan ketiga.
Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian
banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.
Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari
punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora
hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya
yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.
Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas
bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di
sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.
Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil
kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu,
ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil
itu.
Mendapat pikiran itu, terus saja Mahesa Jenar memutar kudanya,
dan dengan mengambil jalan melingkar ia menuju ke arah bukit kecil, dimana
orang-orang yang dicurigainya itu berada. Dengan hati-hati ia berusaha untuk
mendekati orang itu dari arah belakang.
Maka setelah Mahesa Jenar berhasil mencapai bukit kecil itu,
ia segera turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon dengan
ikatan yang tidak begitu keras, supaya apabila setiap saat diperlukan, tidak
terlalu sukar baginya untuk melepaskan tali itu.
Dengan hati-hati sekali ia merangkak naik dan selalu berusaha
untuk melindungi dirinya dengan batang-batang pohon dan daun-daun yang rimbun.
Bahkan kadang-kadang ia memilih jalan menyusur tebing-tebing yang curam agar
tidak menarik perhatian.
Di atas bukit itu ternyata beberapa orang berkuda yang dengan
saksama mengikuti jalannya pertempuran di lembah. Mahesa Jenar yang dengan
sangat hati-hati berhasil mendekati mereka, segera mengenal siapakah mereka itu.
CERITA BERSAMBUNG = 4 Agustus 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
170
PADA saat Mahesa Jenar mengetahui orang-orang yang berkuda itu,
rasanya dirinya seperti terlempar ke dalam sebuah khayalan yang sangat
menakutkan dan sukar untuk dipercaya. Karena itu jantungnya terasa seperti
berdentam-dentam tak keruan. Cepat ia berusaha menguasai diri dan mengatur
pernafasan untuk menenangkan dirinya. Meskipun demikian, ia menjadi gemetar juga.
Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang cukup
berpengalaman, sehingga apa yang dilakukan bukanlah pencetusan perasaannya
belaka, tetapi juga hasil dari pemikirannya yang masak.
Karena itu, meskipun di hadapannya berdiri tokoh-tokoh yang
seolah-olah merupakan kejadian yang hanya dapat terjadi di dalam mimpi, namun ia
tetap dapat mempergunakan pikirannya dengan baik.
Orang-orang berkuda itu adalah deretan dari tokoh-tokoh yang
dikenalnya sebagai tokoh-tokoh golongan hitam yang cukup tangguh. Diantaranya
adalah Lawa Ijo dan Padas Gunung yang rupanya telah sembuh, Sepasang Uling dari
Rawa Pening, Suami-istri Sima Rodra, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan yang
lebih mengejutkan hati Mahesa Jenar adalah hadirnya Lembu Sora bersama-sama
dengan mereka.
Dengan demikian maka apa yang terjadi di Banyubiru seolah-olah
kini menjadi terang benderang baginya.
Berkumpulnya tokoh-tokoh itu adalah suatu petunjuk yang jelas. Karena itu setelah ia mendapat kesimpulan dari peristiwa yang tak tersangka itu, otaknya pun segera bekerja keras. Yang harus diusahakan pertama-tama adalah menarik pasukan pasukan yang menyerang pasukan dari Demak itu. Sesudah itu entahlah apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Menilik tata tempat mereka berada, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan,
bahwa Lembu Sora yang berada di tempat paling depan adalah orang yang paling
berkepentingan dengan pertempuran itu. Sedang menurut perhitungan Mahesa Jenar,
laskar yang paling banyak dari para penyerang itu adalah laskar Lembu Sora.
Sekali lagi Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke lembah
yang semakin samar dilapisi debu yang mengepul tinggi. Tetapi dengan jelas ia
dapat menyaksikan pertempuran yang semakin dahsyat. Laskar penyerang itu
kemudian hampir kehilangan pegangan, sehingga serangannya sudah mengarah ke
gelar Gelatik Neba.
Melihat hal itu, maka Mahesa Jenar merasa perlu untuk segera
bertindak sebelum korban semakin banyak yang jatuh. Bagi Lembu Sora dan
orang-orang seperti Lawa Ijo dan sebagainya, banyaknya korban tidak merupakan
soal. Yang penting, adalah maksud mereka tercapai.
Setelah berpikir berulang kali, dan menimbang untung-ruginya,
Mahesa Jenar memutuskan untuk mengambil jalan yang sangat berbahaya. Sebab sudah
tidak ada pilihan lain baginya kecuali menempuh bahaya itu.
Dengan lebih berhati-hati lagi Mahesa Jenar merangkak semakin
dekat dengan orang-orang berkuda. Untung mereka terlalu asyik menyaksikan
pertempuran di lembah, sehinggga kehadiran Mahesa Jenar sama sekali tak mereka
ketahui.
Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, seperti harimau yang menerkam
mangsanya, Mahesa Jenar sambil menggeram meloncati Lembu Sora yang sama sekali
tidak menduganya.
Karena itu, ia sama sekali tidak bersiaga, ia tidak dapat
berbuat sesuatu. Segera Mahesa Jenar mendekapnya dan karena dorongan kekuatan
loncatannya maka Mahesa Jenar telah mendorong Lembu Sora sehingga keduanya jatuh
berguling dari atas kuda.
Mahesa Jenar yang telah memperhitungkan setiap gerakannya
dengan saksama, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebaliknya, Lembu
Sora menjadi bingung, dan untuk beberapa saat ia seperti kehilangan pikirannya.
Lembu Sora menjadi sadar ketika lengan Mahesa Jenar yang kuat
telah melingkari lehernya. Cepat tangan kanannya bergerak meraba hulu kerisnya
yang terselip di lambung. Tetapi ia menjadi terkejut ketika keris itu sudah
tidak ada.
Ketika Lembu Sora berusaha untuk mencapai tangkai pedangnya,
tiba-tiba terasa ujung sebuah senjata tajam melekat di punggungnya. Tahulah ia
sekarang bahwa orang yang mendorongnya telah berhasil pula menghunus kerisnya.
Segera Lembu Sora menggigil karena marah, matanya merah menyala dan nafasnya
mengalir bertambah cepat.
Orang gila manakah yang telah melakukan pekerjaan terkutuk ini? kata Lembu Sora sambil menggeram.
Sementara itu, orang-orang lain yang menyaksikan kejadian yang hanya sekejap itu
menjadi tertegun. Sesaat mereka pun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang
dilakukan.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, Akulah, Mahesa
Jenar.
Kau orang Pandanaran..., desis Lembu Sora semakin marah, tetapi ia tidak
dapat berbuat apa-apa. Sebab setiap ia bergerak, keris yang menempel di
punggungnya itu terasa semakin menekan.
Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.
Aku sudah menduga bahwa kau tidak berani berlaku sebagai seorang jantan,
sambung Lembu Sora.
Aku hanya dapat berlaku jantan terhadap orang jantan pula,
jawab Mahesa Jenar.
Kau kira aku tidak mampu membunuhmu kalau kau menyerang aku berhadapan?
kata Lembu Sora hampir berteriak.
Aku tidak peduli, tetapi membinasakan kakak kandung dengan caramu itu, adalah
bukan laku seorang jantan. Kau bermaksud membinasakan pasukan Demak itu, dengan
harapan Gajah Sora yang tertuduh berbuat khianat dengan menipu dan kemudian
menjebak. Adakah itu laku seorang jantan?
Aku sedang berusaha membebaskannya, jawab Lembu Sora.
Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir,
semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My e-FishBox