Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 16 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
151
DARAH Mahesa Jenar segera bergolak. Dadanya tiba-tiba merasa
sesak oleh desakan kemarahan. Untunglah bahwa masih diingatnya
bahwa di ruangan itu terbaring beberapa orang yang terluka serta
di dalam ruang sebelah putera Gajah Sora masih juga belum sadarkan
diri. Karena itu sekuat-kuatnya ia masih mencoba menguasai dirinya.
Adi Lembu Sora..., kata Gajah Sora, kau jangan terlalu cepat mengemukakan pendapat sebelum kau pikirkan masak-masak untung-ruginya. Sudah aku katakan bahwa aku sendiri dapat melihat orangnya yang mengambil pusaka-pusaka itu. Jadi kalau benar dugaanmu pasti akulah orangnya yang pertama-tama akan bertindak.
Rupa-rupanya Lembu Sora masih belum puas mendengar jawaban kakaknya,
maka ia menyahut, Untuk melakukan pekerjaan itu, tidaklah
perlu harus ditangani sendiri. Tetapi adanya seorang asing di
dalam halaman ini, telah merupakan suatu kemungkinan untuk menuntun
datangnya orang kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab segala sesuatu
telah dapat dipersiapkannya dengan saksama.
Jantung Mahesa Jenar rasa-rasanya hampir meledak mendengar
kata-kata itu. Tetapi ketika ia melihat Gajah Sora telah berdiri
dari duduknya, ia masih mencoba sekuat-kuatnya menahan diri.
Sudahlah, Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora, pendapatmu baik aku perhatikan. Tetapi biarlah aku yang memutuskan.
Tidak, Kakang... bantah Lembu Sora, Mumpung sekarang kita
sedang lengkap di hadapan Kakang, siap untuk menghukum siapapun
yang mencoba untuk mengganggu ketenangan Banyubiru, meskipun
ia adalah bekas sahabat Kakang sendiri. Adakah Kakang yakin bahwa
orang itu sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang
yang menyerang Banyubiru?
Kembali Lembu Sora melanjutkan hasutannya, Kakang Gajah
Sora, paman Pandan Kuning, Bantaran Wirapati dan lain-lainnya
telah bertempur dengan gagah perkasa mengusik laskar penyerbu
itu. Dan sekarang di sini mereka harus menyaksikan seorang diantara
penjahat-penjahat itu, yang mungkin lebih licik dan licin mendapat
perlindungan dari Kakang. Apakah.....
Cukup! potong Gajah Sora. Kau jangan mengurus aku, Lembu Sora. Aku senang sekali bahwa kau mencoba ikut serta memecahkan kesulitan-kesulitan yang aku alami. Tetapi janganlah kau memaksakan suatu pendapat yang belum dapat diyakinkan kebenarannya. Menghukum seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja tanpa bukti-bukti akan kesalahannya. Karena itu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu itu, tetapi sebaiknya kau beristirahat di tempat yang sudah kami sediakan.
Paman Pandan Kuning..., kata Lembu Sora seolah-olah tidak
mendengar kata-kata kakaknya, ... dan paman-paman yang lain
serta para perwira di Banyubiru.... Dapatkah kalian membiarkan
orang yang berkedok persahabatan ini mengkhianati kepala daerah
kalian? Hilangnya kedua pusaka itu adalah suatu pengkhianatan
yang tiada taranya dalam sejarah Banyubiru, sejak ayah Sora Dipayana
masih memegang pemerintahan di Pangrantunan. Tetapi ternyata
Kakang Gajah Sora adalah seorang yang terlalu luhur budi dan
pengasih, sehingga ia tidak sampai hati untuk bertindak terhadap
seorang yang menamakan diri sahabatnya.
Nah, para pahlawan, sekarang adalah waktunya bagi kalian untuk
menunjukkan bakti kalian terhadap kepala daerah kalian serta
daerah kelahiran kalian, tambah Lembu Sora.
Akibat kata-kata Lembu Sora yang diucapkan dengan berapi-api
itu, ternyata hebat sekali. Mereka yang disebutnya pahlawan yang
mempunyai kesempatan untuk berbakti itu, tiba-tiba menjadi lupa
diri. Beberapa orang telah bergerak untuk menangkap Mahesa Jenar.
Sedangkan Lembu Sora sendiri segera menarik pedangnya yang besar
sekali, dan siap diayunkan.
Kini Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Banyak hal yang akan dikatakan untuk menyatakan kebersihannya
serta banyak hal lagi yang dapat dikatakan pula tentang ketidakwajaran
Lembu Sora. Tetapi terdorong oleh kemarahan yang memuncak maka
bibirnya hanyalah tampak bergetar tanpa mengeluarkan sepatah
katapun. Apalagi ketika ia melihat Lembu Sora telah menarik pedangnya,
maka tidak ada pilihan lain kecuali bertempur mati-matian.
Segera Mahesa Jenar memusatkan segala kekuatan lahir batin,
mengatur jalan pernafasannya dan siap untuk mempergunakan Sasra
Birawa dalam pukulan yang pertama. Sebab ia tidak mau menanggung
akibatnya apabila Lembu Sora telah memiliki aji Lebur Seketi
seperti kakaknya. Maka sebagai seekor banteng murka, ia cepat
berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ketika Lembu Sora beserta beberapa orang yang berotak
kosong serta hanya berpikir pendek untuk dapat disebut sebagai
seorang pahlawan tanpa menilik masalahnya lebih dalam lagi, mulai
bergerak. Tampaklah dengan kecepatan kilat Gajah Sora meloncat
maju ke depan adiknya beserta orang-orang itu.
Dengan wajah merah membara, Gajah Sora berteriak dengan penuh
kemarahan, Hai orang-orang Banyubiru, akulah kepala daerah
perdikan di sini. Kalau kalian maju selangkah lagi, kalian akan
berhadapan dengan aku.
Lontaran suara yang penuh dengan perasaan marah itu terdengar
dahsyat sekali. Beberapa orang yang telah bergerak seperti orang
mabuk itu, tiba-tiba seperti terlempar kembali ke alam kesadaran.
Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang dengan penuh kebaktian
dan kesetiaan mengabdikan diri mereka kepada tanah kelahiran
serta kepala daerah perdikan mereka.
Tetapi karena itu pulalah dengan mempergunakan kesadaran akan
kesetiaan itulah maka mereka kadang-kadang dapat dengan mudah
digelincirkan ke dalam suatu perbuatan yang salah, yang justru
bertentangan dengan kesetiaan mereka sendiri tanpa sesadar mereka.
Sekarang tiba-tiba pemimpin yang ditakuti, disegani dan dicintai itu seolah-olah telah menantang mereka. Maka tidaklah mustahil bahwa beberapa orang kemudian menjadi gemetar ketakutan seperti seekor tikus di tangan seekor kucing yang ganas.
CERITA BERSAMBUNG = 17 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
152
LEMBU SORA, bagaimanapun angkuhnya, ketika melihat kakaknya
benar-benar telah marah, dan benar-benar tidak termakan oleh
hasutan-hasutannya itu pun menjadi agak takut pula. Sebab ia
tahu betul akan sifat-sifat Gajah Sora. Meskipun dalam banyak
hal Gajah Sora selalu mencoba untuk mengalah terhadap adik kesayangan
ibunya itu. Tetapi apabila ia telah menentukan suatu sikap, tak
seorang pun mampu mengubahnya.
Karena itu dengan kecewa dan menyesal, Lembu Sora mundur beberapa
langkah. Lalu katanya, Maafkan aku, Kakang. Maksudku adalah
baik, untuk kepentingan masa datang Kakang dan kesan yang teguh
atas kepemimpinan Kakang. Tetapi agaknya Kakang salah terima.
Sarungkan senjata itu, perintah Gajah Sora.
Sekali lagi Lembu Sora tak berani melawan perintah kakaknya.
Dengan segera pedangnya itu disarungkannya pula.
Suasana tegang itu kemudian untuk beberapa saat menjadi semakin
tegang. Tak seorangpun yang berani bergerak, meskipun hanya jari
kakinya. Bernafaspun mereka menjadi berhati-hati sekali, seolah-olah
takut kalau-kalau bunyi nafasnya dapat menambah kemarahan Gajah
Sora.
Lembu Sora..., kembali terdengar suara Gajah Sora.
Tetapi kali ini terasa bahwa kemarahannya telah menurun. Bagaimanapun
ia adalah seorang kepala daerah yang bijaksana. Maka sekali ini
pun ia menunjukkan kebijaksanaannya.
Baiklah... kau beritirahat, sambung Gajah Sora, mungkin kau terlalu lelah sehingga pikiranmu tak dapat berjalan dengan baik. Juga kalian laskar Banyubiru, aku persilahkan meninggalkan ruangan ini untuk mengaso. Setelah kalian bertempur untuk mempertahankan tanah ini, mungkin sekali otak kalian pun agak terganggu. Tetapi tak apalah.... Sekarang pergilah.
Tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Dengan kepala tunduk,
mereka berjalan berebutan untuk lebih dahulu meninggalkan ruangan
yang rasa-rasanya menjadi panas sekali. Demikian mereka sampai
di halaman, segera mereka meloncat ke atas kuda masing-masing.
Dengan segera kuda-kuda itu dipacu pulang ke rumah masing-masing
untuk menyatakan keselamatan mereka kepada keluarga mereka masing-masing
yang menanti dengan hati cemas. Sedang beberapa orang lagi bertugas
untuk merawat kawan-kawan mereka yang gugur, dan yang terluka
pun segera dengan tekun melakukan tugas masing-masing.
Lembu Sora pun segera mengundurkan diri bersama-sama dengan
para pengiringnya, ke tempat yang sudah disediakan, di gandok
sebelah barat.
Sepeninggal mereka, di dalam ruangan itu tinggallah Gajah
Sora, Mahesa Jenar, Ki Lemah Telasih, dan orang-orang yang terluka.
Mereka duduk tepekur tanpa berkata-kata. Angan-angan mereka mengalir
menuruti pikiran masing-masing.
Suasana segera menjadi hening. Kembali terdengar di kejauhan
gonggong anjing-anjing liar berebut makanan. Sedang di ruang
itu beberapa orang duduk seperti patung, kaku dan membisu. Tetapi
perasaan mereka berputar seperti baling-baling.
Baru beberapa saat kemudian terdengar Gajah Sora berkata,
Adi Mahesa Jenar... maafkan kelakuan Lembu Sora beserta beberapa
orangku yang sama sekali tidak sopan.
Tetapi percayalah bahwa orang-orangku sama sekali tak mempunyai
pandangan yang kurang baik terhadap Adi. Sayang bahwa Lembu Sora
telah menyeret mereka ke dalam suatu tindakan yang memalukan.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali
tidak akan dapat melupakan tuduhan pengkhianatan yang dilancarkan
oleh Lembu Sora. Terhadap laskar Banyubiru, memang ia tidak menaruh
banyak perhatian, sebab mereka hanya terpengaruh oleh hasutan-hasutan
Lembu Sora saja. Namun, meskipun demikian, kepada Gajah Sora
ia menjawab, Sudahlah Kakang, mudah-mudahan aku dapat melupakannya.
Aku harapkan bahwa Ki Ageng Lembu Sora tidak berbuat hal-hal
yang dapat mengeruhkan keadaan.
Gajah Sora mengangguk-angguk kecil. Ia dapat merasakan sepenuhnya
kekecewaan Mahesa Jenar terhadap adiknya. Karena itu ia berkata
menyambung, Aku akan mencoba selalu mengawasi anak itu selama
ia berada di Banyubiru. Mudah-mudahan ia segan meninggalkan rumah
ini untuk tidak menambah pekerjaannku
.
Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali keadaan ruangan itu
menjadi sepi. Sepi dan kaku, seperti garis-garis lurus dari sambungan-sambungan
papan gebyok rumah Gajah Sora yang pecah berserakan karena ditembus
oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama.
Kesepian itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara rintih Arya Salaka
dari dalam ruang tidur Gajah Sora. Mendengar suara itu, hampir
bersamaan Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih meloncat,
mendekati Arya. Wajah Gajah Sora yang suram itu segera berubah,
karena tumbuhnya harapan yang semakin besar, bahwa Arya Salaka
akan segera dapat sadar kembali.
Ketika mereka bersama-sama memasuki ruangan itu, mereka melihat Arya sudah mulai menggerakkan kepalanya, dan perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Terdengarlah dari mulutnya ia merintih dan akhirnya terdengar Arya perlahan-lahan sekali menangis, meskipun agaknya ia mencoba menahannya kuat-kuat.
CERITA BERSAMBUNG = 18 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
153
IBU Arya Salaka yang melihat Arya mulai sadar, segera memeluknya dan menciuminya dengan penuh rasa kasih dari seorang ibu. Tetapi Ki Lemah Telasih sebagai seorang tabib segera mencoba mencegahnya. Nyai Ageng, biarlah Ananda Arya bebas bernafas dahulu, supaya tubuhnya menjadi segar.
Wajah Gajah Sora pun segera menjadi cerah. Meskipun luka di hatinya
dengan hilangnya kedua pusaka itu begitu dalam, namun Arya Salaka
pun merupakan mutiara di hatinya yang tidak kalah nilainya.
Mahesa Jenar yang sejak melihat Arya untuk pertama kali telah
mengagumi anak itu, kini ia bertambah kagum lagi. Anak-anak yang
masih pantas bermain gundu itu, andaikata tidak ada orang kedua,
telah berhasil menggagalkan suatu usaha dari seorang yang tentu
berilmu tinggi, dalam usahanya mencuri Kyai Nagasasra dan Sabuk
Inten.
Dalam asuhan Ki Ageng Gajah Sora, pastilah Arya kelak akan
menjadi manusia yang mumpuni lahir dan batin. Apalagi andaikata
kakeknya Ki Ageng Sora Dipayana juga mau mengasuhnya.
Sebentar kemudian Arya Salaka telah benar-benar sadar. Ia
telah mulai mengenali orang-orang yang berdiri di sekitar tempat
pembaringannya.
Pada saat itu malam telah semakin jauh, bahkan ayam jantan
telah mulai berkokok untuk ketiga kalinya, suatu pertanda bahwa
sebentar lagi fajar akan datang.
Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih pun segera meninggalkan
Arya Salaka yang sudah mulai dapat tidur ditunggui oleh ibunya
yang berbaring di sampingnya. Ki Lemah Telasih dan Mahesa Jenar
kemudian meninggalkan ruangan itu pula untuk beristirahat.
Ketika Mahesa Jenar turun dari pendapa untuk mengantarkan Ki Lemah Telasih sampai di gerbang halaman, tampaklah di timur sudah mulai membayang warna kemerah-merahan yang melapisi langit. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah Mahesa Jenar yang masih tampak berminyak karena keringat yang berlapis debu.
Meskipun demikian perasaan segar terasa menusuk sampai ke
tulang sungsum.
Perlahan-lahan ia berjalan ke gandok sebelah timur untuk beristirahat.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia memasuki ruang yang disediakan
untuknya.
Rupa-rupanya ruangan itu pun telah dibongkar dengan teliti.
Melihat hal itu, Mahesa Jenar tertegun. Ia tiada tahu siapakah
yang telah melakukan perbuatan itu, tetapi kejadian itu telah
menyalakan kembali kemarahannya. Sayanglah bahwa Lembu Sora kebetulan
adalah adik Gajah Sora. Kalau saja tidak ada hubungan antara
kedua orang itu, sudah pasti bahwa ia akan membuat perhitungan
secepat-cepatnya dengan Lembu Sora. Tetapi dalam keadaan seperti
sekarang ini, yang dapat dilakukannya hanyalah menyimpan kemarahannya
itu di dalam dadanya yang menjadi sesak.
Akhirnya dengan susah payah ia dapat meredakan gelora hatinya
sendiri. Dan karena kelelahan, Mahesa Jenar kemudian merebahkan
dirinya di atas pembaringan dan sejenak kemudian ia tertidur
dengan nyenyaknya.
Demikian nyenyaknya ia tidur, sehingga tidak terasa bahwa
hari telah tinggi. Meskipun demikian masih saja ia belum bangun,
apabila tidak didengarnya derap kuda di halaman. Ketika ia bangun
dan membuka pintu depan, tampak sudah siap untuk berangkat Ki
Ageng Lembu Sora beserta rombongannya.
Melihat Lembu Sora siap meninggalkan Banyubiru, tanpa sadar
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa syukur
bahwa orang yang sama sekali tak menyenangkan, baik wataknya
maupun bentuk tubuhnya yang kaku itu, segera akan meninggalkan
Banyubiru sebelum terjadi sesuatu.
Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sorapun
memandang ke arah pintu yang sudah terbuka sedikit itu, dimana
Mahesa Jenar sedang berdiri mengawasinya.
Benturan pandangan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah
menimbulkan ledakan yang hebat di hati masing-masing. Pandangan
mereka segera berubah menjadi tajam dan seolah-olah meskipun
tanpa diucapkan, mereka telah berjanji bahwa pada suatu ketika
mereka akan berhadapan sebagai lawan yang harus membuat perhitungan
dengan taruhan yang sangat mahal.
Sebentar kemudian, Ki Ageng Lembu Sora segera memberi aba-aba
kepada para pengiringnya, dan segera mereka pun pergi meninggalkan
halaman Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.
Sampai di regol halaman, sekali lagi Lembu Sora menoleh kepada
kakaknya yang melepasnya dari atas pendapa beserta istrinya.
Dan dengan sekali lagi menganggukkan kepalanya, Lembu Sora lenyap
dari pandangan mereka.
Setelah Lembu Sora hilang di balik pagar halaman, serta Ki
Ageng Gajah Sora telah masuk kembali ke dalam rumah, segera Mahesa
Jenar keluar dari Gandok Wetan dan langsung pergi lewat pintu
pagar samping, menuruti tangga batu, pergi ke mata air dimana
ia biasa mandi.
Tetapi baru saja ia akan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba
dilihatnya dua bayangan diantara pepohonan agak diatas mata air
itu. Dan ketika ia memandangnya lebih tajam lagi, dilihatnya
seorang tua dengan seorang pemuda tampan berdiri memandangnya.
Alangkah terkejutnya ketika diketahuinya bahwa orang tua itu
tidak lain adalah Ki Ageng Pandan Alas yang berdiri bertolak
pinggang sambil tertawa nyaring. Kau agak kesiangan
bangun, Mahesa Jenar, katanya diantara derai tertawanya.
Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. Ya, Ki Ageng,
jawabnya.
Mahesa Jenar... sambung Ki Ageng Pandan Alas,
Apakah Kakang Sora Dipayana telah meninggalkan Banyubiru?
Sudah, Ki Ageng.
Bagus, sahut Pandan Alas. Aku juga akan
segera pergi. Tetapi sengaja aku singgah sebentar untuk memperkenalkan
muridku ini kepadamu.
Barulah Mahesa Jenar sadar bahwa Pandan Alas itu berdiri di sana
dengan seorang lagi. Maka ketika ia mendengar bahwa Pandan Alas
bermaksud memperkenalkannya dengan muridnya, segera ia membetulkan
pakaiannya dan melangkah mendekat.
Tetapi segera ia berhenti ketika Ki Ageng Pandan Alas menegornya,
Tak usah kau naik kemari, Mahesa Jenar. Muridku agak
malu berkenalan dengan kau yang telah memiliki nama besar sebagai
seorang perwira prajurit Demak. Tidak saja itu, tetapi juga sebagai
penolong yang luhur budi.
CERITA BERSAMBUNG = 19 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
154
Mahesa Jenar segera tertegun heran. Apakah hubungannya dengan nama yang pernah dimilikinya. Tetapi ketika sekali lagi ia memandang murid Pandan Alas itu, hatinya terguncang hebat. Apalagi ketika orang itu menundukkan wajahnya yang tampak kemalu-maluan.
Mahesa Jenar segera mengenal siapakah murid Ki Pandan Alas itu. Karena itu wajahnya menjadi terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Rupa-rupanya kau sudah mengenalnya Mahesa Jenar,
" bertanya Pandan Alas sambil tertawa.
Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Mulutnya jadi seperti terkunci.
Kemudian terdengar tertawa Pandan Alas semakin keras. Katanya;
"Aku jadi geli, kalau aku teringat ketika Mahesa Jenar
jadi marah bukan main dan hampir saja membunuh orang yang sama
sekali tak bersalah beberapa pekan yang lalu di hutan Tambak
Baya, ketika ia kehilangan bebannya."
Juga kali inipun Mahesa Jenar tidak menjawab.
Ketika kata-katanya tidak mendapat jawaban Pandan Alas melanjutkan,
"Mahesa Jenar, inilah muridku yang aku katakan. Siapakah
nama yang pantas aku berikan kepadanya?."
Mendengar pertanyaan yang berturut-turut itu hati Mahesa Jenar
menjadi bertambah bingung. Ia sendiri tidak mengetahui, kenapa
ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga ia kehilangan ketenangan.
Murid Pandan Alas itu, meskipun jelas berpakaian seperti seorang
pemuda, namun ketika Mahesa Jenar memandangnya agak lama, ia
segera mengenal bahwa murid Pandan Alas itu sama sekali bukan
seorang pemuda, melainkan ia adalah seorang gadis cantik yang
sedang mekar, yang tidak lain adalah cucu Pandan Alas sendiri
yaitu Rara Wilis yang pernah dikenalnya dan pernah ditolongnya.
Pertemuan yang tidak diduga itu membuat Mahesa Jenar kehilangan
ketenangan. Disamping itu iapun menjadi heran pula bahwa sedemikian
cepat Ki Ageng Pandan Alas telah kembali bersama gadis itu. Kalau
demikian ketika Ki Ageng Pandan Alas sedang bertempur dengan
Pasingsingan, Rara Wilis pasti disembunyikan ditempat yang tidak
begitu jauh dari Banyu Biru.
Pada saat kenangannya sedang menelusur kembali ke masa lampau
terdengan kembali Pandan Alas berkata, "apakah kau mempunyai
pilihan nama yang baik Mahesa Jenar ? Aku sendiri bingung memberi
nama yang sesuai. Tetapi yang jelas aku tidak akan memberinya
nama Lawa Ijo, meskipun nama aselinya bermakna hijau juga."
Mahesa Jenar masih saja belum dapat menguasai dirinya sehingga mulutnya masih belum dapat mengucapkan kata. Bahkan ia menjadi gelisah. Melihat sikap Mahesa Jenar, Pandan Alas tertawa semakin keras, katanya, "Barangkali kau tidak siap menghadapi kejadian yang sangat tiba-tiba datangnya ini Mahesa Jenar. Tetapi tidak mengapa. Maksudku hanyalah supaya kau tahu bahwa cucuku ini aku bawa, supaya aku dapat melakukan dua pekerjaan sekaligus, yaitu yang pertama untuk mengetahui siapakah yang telah membawa kedua keris Kiai Nagasasra dan Sabukinten, sedangkan yang kedua, supaya diperjalanan aku masih dapat mengajari anak ini selangkah dua langkah ilmu yang tak berarti, supaya ia dapat menjaga keselamatan dirinya. Sokur ia berhasil melepaskan pengaruh jahat ibu tirinya atas bapaknya yang sekarang bermukim di Gunung Tidar."
Mendengar kata-kata Pandan Alas yang terakhir Mahesa Jenar terkejut,
sahutnya;" Maksud Ki Ageng, Sima Rodra Gunung Tidar ?"
"Ya," jawab Pandan Alas. "Sima Rodra muda itu adalah bekas menantuku yang kemudian kena pengaruh seorang perempuan, maka ia seperti berubah ingatan. Sekarang keturunanku satu-satunya adalah Wilis ini. Karenaitu, meskipun ia seorang gadis aku akan mencoba untuk membuatnya setidak-tidaknya dapat menyamai ibu tirinya. Maka supaya pantas aku beri ia pakaian laki-laki dan seharusnya namanyapun harus nama lelaki pula. Nah apa katamu kalau anak ini aku beri nama Pudak Wangi ?."
Kembali Mahesa Jenar terbungkam. Tetapi nama itu rasanya amat
manisnya. karena itu, meskipun ia tidak menjawab, tetapi dengan
tidak disengaja ia mengangguk juga. Ia terkejut ketika Pandan
Alas meneruskan, "Ha rupanya kau setuju juga. Bukankah
Pudak adalah nama dari bunga Pandan. Aku harap cucuku kelak akan
dapat menjadi bunga Pandan yang wangi."
Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia ingin menjawab tetapi ia tidak tahu bagaimana, sampai akhirnya Pandan Alas berkata lagi, "Mahesa Jenar kenapa kau diam saja. Setuju atau tidak, atau barangkali kau punya nama yang lebih baik ?."
"Tidak Ki Ageng" akhirnya terpaksa ia menjawab sekenanya, "nama itu sudah baik sekali."
"Bagus, Kau setuju dengan nama itu bukan. Nah kalau pada suatu ketika kau bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, jangan kau apa-apakan dia," sahut Ki Ageng Pandan Alas. "Nah sekarang aku akan pergi. Marilah Pudak Wangi. Sebaiknya kau minta diri pada Mahesa Jenar."
Wajah Rara Wilis segera berubah menjadi merah. Ia mencoba tersenyum,
tetapi alangkah sulitnya. Dengan terpaksa ia berkata, "Selamat
tinggal tuan, aku mohon diri untuk mengikuti kakek mencari pusaka
yang hilang."
Mendengar kata cucunya segera Pandan Alas membetulkan, "eh
Mahesa Jenar adalah murid sahabatku. Kenapa kaupanggil dengan
sebutan tuan? kau sekarang adalah muridku. Panggil dengan sebutan
yang lebih akrab sebagai dua murid dari dua orang sahabat."
Kembali wajah Rara Wilis kemerahan. tetapi terpaksa ia berkata,
"Aku mohon diri kakang, aku akan menyertai guru."
"Begitulah panggilan seorang sahabat," kata Pandan
Alas sambil tertawa nyaring. Sementara itu terdengar Mahesa Jenar
menjawab, "mudah-mudahan semuanya selamat, yang pergi
dan yang ditinggalkan."
"Baiklah Mahesa Jenar," sahut Pandan Alas. "Lekaslah
mandi. Aku akan berangkat. Mungkin untuk waktu yang agak lama
kita tidak bertemu. Selamat tinggal."
CERITA BERSAMBUNG = 20 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
155
SESUDAH mengucapkan kata-kata itu segera Ki Ageng Pandan Alas
dan Rara Wilis yang kemudian bernama Pudak Wangi itu pergi meninggalkan
Mahesa Jenar dan berjalan perlahan-lahan menyusup pepohonan.
Mahesa Jenar berdiri tegak seperti patung mengawasi mereka berdua.
Pikirannya tiba-tiba menjadi risau. Ia tidak tahu kenapa hatinya
bergetar ketika mendengar Pandan Alas mengatakan bahwa mungkin
untuk waktu yang lama mereka tidak akan bertemu.
Malam tadi, ketika ia melihat Pandan Alas itu berangkat untuk
mencari pusaka-pusaka yang hilang, ia tidak merasakan perasaan
seperti pada saat itu.
Baru beberapa saat kemudian Mahesa Jenar seperti orang sadar
dari mimpi. Kembali ia turun ke mata air untuk mandi. Tetapi
bagaimanapun terasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu ketentraman
hatinya.
Rara Wilis meskipun sudah berpakaian seperti seorang pemuda,
namun wajah itu selalu mondar-mandir saja di dalam otaknya.
Karena itulah maka setelah ia mandi dan kembali ke rumah sahabatnya,
ia tampak agak lain dari biasanya. Tetapi ia selalu berusaha
untuk menyembunyikan perasaannya.
Dua-tiga hari kemudian, Mahesa Jenar merasa agak kurang enak
untuk tinggal berdiam diri di rumah sahabatnya itu. Bagaimanapun
ia merasa turut bertanggung jawab pula atas hilangnya pusaka-pusaka
Demak yang telah dengan susah payah diketemukan dan direbut dari
tangan Sima Rodra. Karena itu, meskipun ia tahu pasti bahwa yang
berhasil merampas kedua pusaka itu, termasuk angkatan gurunya
atau setidak-tidaknya mempunyai kesaktian yang setingkat dengan
gurunya, serta Ki Ageng, namun adalah kewajibannya pula untuk
mencoba-coba menemukannya kembali.
Mahesa Jenar memutuskan menemui Ki Gajah Sora untuk minta
diri, dan kemudian meneruskan perantauannya, dan apbila mungkin
untuk mendapatkan kembali Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten yang
telah hilang.
Tetapi ketika pada suatu pagi, Mahesa Jenar telah bersiap-siap
untuk minta diri, tiba-tiba terdengarlah sayup-sayup suara kentongan
yang dipukul bertalu-talu dengan irama dara muluk ganda. Itu
adalah suatu pertanda bahwa ada pejabat penting dari Istana Demak
yang datang ke Daerah Perdikan Banyubiru.
Tanda itu kemudian diulang dan diulang oleh pemukul-pemukul
kentongan yang lain, sehingga suaranya terdengar semakin lama
semakin dekat.
Mendengar tanda-tanda itu, Gajah Sora tampak agak sibuk mempersiapkan
penyambutan. Tetapi bagaimanapun tampak membayang di wajahnya
perasaan yang hambar dan kurang tenang. Meskipun ia belum tahu
akan kepentingan para pejabat itu, namun ia mendapat firasat
bahwa sesuatu yang kurang baik akan terjadi.
Wanamerta yang masih belum sembuh benar, segera diundang pula.
Beberapa pejabat lain, dengan sendirinya telah hadir pula setelah
mendengar tanda-tanda itu.
Mahesa Jenar yang mengerti juga akan tanda-tanda itu menjadi
agak bingung. Ia meninggalkan Demak serta melepaskan pakaian
keprajuritan karena perbedaan-perbedaan pendapat dengan beberapa
pejabat istana.
Dan sekarang di suatu tempat yang jauh dari istana, pejabat itu
datang untuk suatu keperluan. Ia menjadi bimbang, apakah ia harus
menemui pejabat-pejabat itu ataukah tidak.
Akhirnya setelah menimbang masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar
minta kepada Gajah Sora untuk diberi kesempatan tidak usah menemui
mereka dan kehadiran tamu-tamu tersebut. Juga tidak perlu dikabarkan
bahwa Mahesa Jenar sedang berada di Banyubiru. Ia akan berada
di dalam ruangan tengah sambil mendengarkan apakah kepentingan
para pejabat itu datang ke daerah perdikan Banyubiru.
Sejenak kemudian terdengarlah di kejauhan suara sangkakala.
Itu adalah suatu pertanda bahwa yang datng adalah pejabat-pejabat
penting.
Mendengar sangkakala itu, Gajah Sora menjadi bertambah sibuk.
Diperintahkan seorang meniup sangkakala pula untuk menyatakan
kesediaan kepala perdikan Banyubiru menerima tamu-tamu penting
dari pusat.
Sementara itu beberapa orang telah siap di atas kuda untuk
menyongsong tamu-tamu dari Demak itu. Ketika Ki Ageng memberikan
tanda-tanda, segera mereka pun berangkat.
Mahesa Jenar yang menanti kedatangan tamu-tamu itu dari ruang
dalam menjadi semakin lama semakin gelisah. Kalau saja ia telah
meninggalkan tempat itu, maka apapun yang terjadi, ia sudah tidak
melihatnya lagi. Tetapi sekarang, pada saat ia masih berada di
tempat itu, dapatkah kiranya ia berdiam diri? Sebab dalam tangkapan
Mahesa Jenar, kedatangan para utusan dari Demak itu pasti ada
sangkut-pautnya dengan keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Beberapa saat kemudian, sebelah punggung Mahesa Jenar basah
oleh keringat dingin yang mengalir karena kegelisahannya. Terdengarlah
derap kuda di halaman.
Perasaan ingin tahu Mahesa Jenar sedemikian besar sehingga
lewat lubang-lubang papan sambungan dinding, ia mengintip. Ketika
ia melihat pemimpin rombongan dari Demak itu, dadanya bergetar.
Rupa-rupanya rombongan ini dianggap sedemikian pentingnya sehingga
telah ditunjuk untuk memimpin rombongan ini, seorang perwira
dari pengawal bandar Bergota, yaitu Palindih, seorang
perwira yang sangat terkenal, yang pada saat Pangeran Sabrang
Lor menyerang Portugis di Malaka, dialah yang mempergunakannya
sebagai batu loncatan untuk meluaskan jari-jari penjajahannya
ke Pulau Jawa dan sekitarnya. Ia sudah menjabat sebagai pimpinan
dari salah satu kapal dalam armada yang dipimpin langsung oleh
Adipati Unus sendiri.
Pada saat itu Gajah Sora, yang masih sangat muda, yang ikut
sebagai sukarelawan dalam penyerangan itu, beruntung terpilih
menjadi anggota pengawal Sabrang Lor. Karena pemuda itu telah
menunjukkan ketangkasan yang luar biasa, maka dari Pangeran,
ia menerima hadiah sebuah tombak pusaka.
Karena itu, ketika Ki Ageng Gajah Sora melihat, siapakah yang datang, maka dengan tergopoh-gopoh ia turun ke halaman menyambut tamunya dengan salam persahabatan. Mereka telah saling berkenalan dan telah mengetahui kebesaran masing-masing.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox