Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 11 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
146
Kembali terdengar suara tertawa Pandan Alas yang dipaksakan.
Katanya; "tetapi hari ini adalah kelangsungan dari hari
kemarin dan seterusnya. Hidupmu sekarang adalah kelanjutan dari
hidupmu 25 tahun yang lalu."
"Omongan orang sekarat," bantah Pasingsingan. "Aku pata menjalani kehidupanku kini tanpa masa lampau itu. Dan masa lampau itu sama sekali tak berarti bagiku."
"Sebab masa lampau dari Pasingsingan itu bukan milikmu,"
jawab Pandan Alas.
Jawaban yang diucapkan meskipun diucapkan alam nada yang rendah,
tetapi mempunyai akibat yang hebat sekali. Pasingsingan yang
telah sekian lama menahan kemarahannya, mendengar kata-kata Pandan
Alas dengan darah yang menggelegak.
Maka dijawabnya hampir berteriak, "Apa perdulimu.
Bahkan aku sendiri tidak perduli kepada masa lampau itu. Dan
sekarang menghadapi saat terakhirmu kau tidak usah mengigau tentang
Pasingsingan. Apakah aku Pasingsingan sahabatmu ataukah Pasingsingan
yang lain tidaklah penting bagimu. Tetapi Pasingsingan yang sekarang
berada dihadapanmu inilah yang akan menentukan saat terakhirmu
bersama-sama dengan kedua orang yang terlalu sombong itu. Nah
bersedialah untuk mati. Aku sudah hampir mulai."
Ketegangan yang memuncak telah melibat otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar. namun mereka melihat Pandan Alas tersenyum pahit sambil berkata: " Nah kalau demikian aku yang seharusnya menentukan sikap pula. Kau tidak usah menyebut lagi demi persahabatan kita, sebab persahabatan diantara kita tidak pernah kita alami. Kalau aku menyebut masa lampau itu hanyalah supaya aku yakin dengan siapa aku berhadapan. Sebab terhadap Pasingsingan sahabatku itu, tak mungkin aku bersikap keras. Sekarang silahkan mulai," lalu tiba-tiba saja ditangan orang tua itu bercahayalah sinar yang kemilau. Itulah pusaka Pandan Alas yang dahsyat, yang bernama Kiai Sigar Penjalin.
Suasana segera menjadi hening sepi, tetapi diliputi oleh ketegangan
yang memuncak. Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk diatas kuda
masing-masing seperti patung. Meskipun didalam dada mereka bergolak
berpuluh macam persoalan yang simpang siur sebab dihadapan mereka
dua orang tokoh sakti akan bertanding mati-matian sehingga meeka
berdua merasa perlu untuk mempergunakan pusak masing-masing.
Karena itu, maka pertempuran yang akan berlangsung pasti akan
merupakan pertempuran antara hidup dan mati.
Tetapi sampai beberapa saat, mereka masih berpijak pada tempatnya
masing-masing. Tak seorangpun dari kedua tokoh sakti yang bergerak.
Sehingga terdengar kembali suara Ki Ageng Pandan Alas berkata:
"Pasingsingan, silahkan mulai. Aku sudah siap."
Tetapi Pasingsingan tidak juga bergerak dan tidak menyahut
pula. Ketika kata-katanya tidak mendapat sambutan, kembali Pandan
Alas berkata "Pasingsingan, kau jangan takut aku akan
maju bersama kedua anak-anak itu. Sebenarnya aku merasa kurangperlu
untuk mempergunakan pisau dapur yang tak berharga ini untuk melawanmu,
tetapi aku tidak ingin merendahkanmu, sehingga terpaksa aku mempergunakannya
juga. Meskipun demikian baiklah aku katakan kepadamu, bahwa mungkin
karena kau sama sekali tak menghargai masa lampaumu itulah maka
terasa ilmumu mengalami kemunduran."
Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas itu tampaklah tubuh Pasingsingan bergetar serta tangannya yang memegang pusaka itu menggigil hebat. Ia sama sekali tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram hebat untuk menahan marahnya. Meskipun demikian Pasingsingan masih tidak bergerak dari tempatnya.
Sampai Ki Ageng Pandan Alas berkata; "Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kalian datang kemari ?. Tak usahlah kalian menonton orang tua bermain-main. Barangkali bagi kalian lebih baik apabila kalian kembali dan menjaga kedua keris itu."
Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas tergetarlah dada Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka segera teringat kepada kedua pusaka yang hilang itu. Maka jawab Gajah Sora "Ki Ageng, ketika aku pulang tadi, aku masih sempat menyaksikan pusaka itu dicuri oleh Pasingsingan, tetapi aku sama sekali tak berdaya untuk menahannya."
Kata-kata itu menggelegar seperti guruh yang meledak diatas kepala Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, sehingga Ki Ageng Pandan Alas terloncat maju mendekati Gajah Sora sambil berteriak; "apa katamu? kedua pusaka itu hilang diambil Pasingsingan ?."
Belum lagi Gajah Sora menjawab terdengar Pasingsingan menyahut; "Gila, kau jangan mencoba memutar balikkan keadaan. Tipu muslihat yang tak berharga itu jangan kau pamerkan dihadapanku, supaya aku tidak lagi berusaha untuk mendapatkan pusaka dari tanganmu."
Maka terdengarlah Gajah Sora berkata, "Ki Ageng Pandan Alas, aku berkata sebenarnya bahwa kedua keris itu telah hilang."
"Tidak mungkin," potong Ki Ageng Pandan Alas. "Pasingsingan sejak kau meninggalkan kami masih tetap bersama dengan aku."
Gajah Sora menjadi ragu sebentar. Memang tidak mungkinlah bahwa Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Ki Ageng Pandan Alas dapat mengambil kedua keris itu. Karena itu katanya kemudian dengan jujur, "Ki Ageng, aku tidak dapat memastikan dengan jelas siapakah yang telah mengambil kedua keris itu. Tetapi aku dapat melihat bahwa orang itu memakai jubah abu-abu pula tepat seperti apa yang dipakai oleh Pasingsingan itu."
"Apakah orang itu berkedok pula ?," tanya
Pandan Alas.
"Itulah yang tidak jelas," jawab Gajah Sora.
Ki Ageng Pandan Alas tampak merenung. Rupa-rupanya ia seding berfikir keras apakah kira-kira yang telah terjadi.
Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan berkata, "Aku dapat mempercayai omonganmu Gajah Sora. Tampaknya kau memang tidak bermaksud membohongi kami. Dan rupa-rupanya karena itu pula kau menyerang aku dengan tombakmu. Nah kalau demikian aku tidak perlu terlalu lama lagi berada disini, sebab kedua keris yang aku kehendaki itu sudah tidak ada lagi. Tak ada gunanya lagi bagiku untuk melayani orang gila macam Pandan Alas. Tetapi meskipun demikian sekali waktu aku ingin bertemu dengan kau kembali."
CERITA BERSAMBUNG = 12 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
147
PASINGSINGAN tidak menunggu jawaban lagi. Dalam waktu sekejap ia telah hilang dari pandangan mereka.
Maka tinggallah kini Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang telah maju pula mendekati Gajah Sora, serta kemudian bersama-sama meloncat dari punggung kuda masing-masing.
Mahesa Jenar..., kata Ki Ageng Pandan Alas, aku berharap sekali bahwa aku atau kau berdua dapat menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu ke Istana Demak. Tetapi rupa-rupanya keadaan belum mengizinkan.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka berdua merasa bahwa mereka ternyata tak dapat memenuhi keinginan orang-orang tua.
Tampaklah bahwa Ki Ageng Pandan Alas terguncang pula hatinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam serta beberapa kali ia menghela nafas panjang. Sementara itu dari arah utara tampaklah sebuah bayangan yang seolah-olah melayang di udara mendekati mereka bertiga yang berdiri terpaku diantara kedua batang ringin kurung yang masih saja acuh tak acuh pada keadaan di sekitarnya.
Ternyata bahwa yang datang itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Ketika dilihatnya bahwa Ki Ageng Pandan Alas berada di situ pula, maka segera ia menyapanya, Selamat malam Adi Pandan Alas, apakah yang telah terjadi di sini?
Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. Namun dalam dada mereka terasa bahwa jantung mereka berdenyut semakin cepat.
Selamat malam, Kakang, jawab Pandan Alas. Aku baru saja bermain-main di sini bersama Pasingsingan.
Pasingsingan...? ulang Sora Dipayana sambil mengerutkan
keningnya. Rupa-rupanya ia datang bersama muridnya Lawa Ijo.
Rupa-rupanya orang itu benar-benar menginginkan kedua pusaka
Demak yang disimpan oleh putramu, jawab Ki Ageng Pandan Alas.
Tidak hanya Pasingsingan, jawab Sora Dipayana. Untunglah bahwa Adi berada pula di sini, sebab aku tadi sedang sibuk melayani tamu dari Lodaya.
Sima Rodra? potong Pandan Alas.
Ya, ia datang bersama menantunya, dengan maksud yang sama.
Hebat..., hebat sekali, desis Pandan Alas. Setan dari
Lodaya itu memerlukan datang pula.
Tetapi... sambung Pandan Alas setengah berbisik, tanyakanlah
kepada putramu apa yang telah terjadi.
Tampaklah Ki Ageng Sora Dipayana menarik alisnya sehingga hampir bertemu.
Ada apa Gajah Sora...? Agaknya telah terjadi sesuatu? tanya Ki Ageng Sora Dipayana kepada Gajah Sora.
Maka segera Gajah Sora menceriterakan tentang apa yang telah dilihatnya pada saat lenyapnya Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya.
Mendengar keterangan Gajah Sora, hati Ki Ageng Sora Dipayana terguncang hebat, sampai tubuhnya menggigil. Wajahnya yang bening itu segera menjadi seolah-olah diaduk oleh kemarahannya.
Setan manakah yang telah mengganggu kami itu? geramnya.
Adi Pandan Alas... katanya kemudian, bukankah kau tidak melepaskan Pasingsingan itu barang sekejap?
Tidak, Kakang, jawab Pandan Alas. Ia tetap dalam pengawasanku.
Kembali keadaan menjadi sunyi. Kesunyian yang tegang. Masing-masing dikuasai oleh perasaan yang bercampur baur diantara marah, kesal dan kecewa.
Akhirnya berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, Gajah Sora dan Mahesa Jenar... memang apa yang terjadi adalah diluar kemampuanmu berdua. Apalagi kalian, kami yang tua-tua inipun menjadi pusing karenanya. Mungkin ada sesuatu yang tak beres pada Pasingsingan itu. Bukankah begitu Adi Pandan Alas?
Pandan Alas mengangguk mengiyakan. Lalu ia berkata, Aku
menjadi sulit untuk mengatakan tentang Pasingsingan. Rasa-rasanya
memang ada sesuatu yang tidak wajar. Meskipun demikian aku masih
belum berani meyakinkan bahwa ada lebih dari satu Pasingsingan.
Kalau begitu marilah kita lihat rumah itu, ajak Sora Dipayana. Barangkali ada sesuatu yang dapat menunjukkan tanda-tanda siapakah yang telah mengambil kedua keris itu.
Maka segera berangkatlah mereka menuju ke rumah Gajah Sora, setelah
Gajah Sora memungut kembali pusakanya. Mereka menjadi terkejut
ketika mereka melihat kesibukan yang luar biasa. Segera mereka
meloncat lebih cepat untuk segera dapat mengetahui apakah yang
telah terjadi. Ternyata di Pringgitan, mereka melihat Wanamerta
dan Sawungrana menggeletak tak sadarkan diri, sedang di sudut
yang lain Panjawi yang luka parah menggeletak tak berdaya. Ketika
mereka melangkah memasuki bagian dalam rumah Gajah Sora, mereka
melihat Nyai Ageng Gajah Sora duduk bersimpuh, sedang di pangkuannya
terletak kepala Arya yang masih pingsan.
Melihat kejadian itu semua, kembali Gajah Sora tergugah kemarahannya. Tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga karena itu giginya terdengar gemeretak dan nafasnya berjalan semakin cepat.
Sebenarnya ketika Sora Dipayana menyaksikan kejadian itu, hatinya
tergetar pula.
Tetapi wajahnya nampak tenang-tenang saja. Perlahan-lahan Sora Dipayana membungkuk, meraba dada Arya dan meneliti bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dari ceritera Gajah Sora, ia sudah tahu apakah yang menyebabkan Arya luka-luka. Tetapi tentang Wanamerta, Sawungrana, Panjawi serta beberapa orang pengawal yang lain, belumlah diketahuinya.
Di depan ruang tidur Gajah Sora masih menggeletak sesosok
tubuh yang masih belum dikenal. Apakah yang sudah terjadi dengan
Paman Wanamerta dan yang lain-lain?
Tiba-tiba terdengar suara Gajah Sora gemetar.
CERITA BERSAMBUNG = 13 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
148
ISTRI Gajah Sora menjawab, Ketika aku mendengar ribut-ribut... aku waktu itu sedang mengatur orang-orang yang mengungsi ke rumah ini di belakang, segera aku berlari masuk. Aku sudah tidak sempat menjumpai Kakang Gajah Sora dan Adi Mahesa Jenar yang katanya sedang mengejar seseorang berjubah abu-abu yang mencuri kedua pusaka simpanan Kakang. Tetapi tidak beberapa lama, muncullah begitu tiba-tiba saja di hadapan kami. Aku, Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Seorang yang pendek bongkok dan berwajah menakutkan, seolah-olah ia pernah mengalami suatu penyakit yang mengerikan. Orang itu datang kemari juga untuk mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Paman Wanamerta menyatakan bahwa ia tidak tahu-menahu kedua keris itu, serta menceriterakan dengan betul apa yang sudah terjadi. Tetapi rupa-rupanya orang itu tidak percaya, sehingga terjadilah pertempuran antara orang itu seorang melawan Paman Wanamerta berdua dengan Paman Sawungrana yang kemudian dibantu juga oleh Panjawi dan beberapa orang. Tetapi ternyata bahwa dengan mudahnya orang itu dapat mengalahkan mereka. Lalu langsung dibongkarnya segala barang-barang yang ada di rumah ini untuk mendapatkan kedua keris itu. Baru setelah ia yakin benar-benar bahwa kedua keris itu tak dapat diketemukan, maka seperti pada saat ia datang, segera ia pun lenyap.
Mendengar ceritera itu betapa terkejutnya Gajah Sora dan Mahesa
Jenar. Orang itu pasti seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi
pula. Tetapi terlebih-lebih lagi adalah Sora Dipayana dan Pandan
Alas, sehingga nampaklah wajah mereka berubah. Kedua orang itu
hampir bersama-sama menyebutkan suatu nama yang cukup menggetarkan.
Itulah Bugel Kaliki dari Gunung Cerme.
Mendengar nama itu disebut, barulah Gajah Sora dan Mahesa
Jenar sadar betapa berbahayanya orang itu. Ia pernah mendengar
nama Bugel Kaliki dari lembah Gunung Cerme itu dari mulut seorang
sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten. Dalam sekejap itu tiba-tiba
kesunyian mencengkam suasana. Yang terdengar hanyalah tarikan
nafas mereka yang dengan tegang membayangkan apakah kira-kira
yang telah terjadi.
Rupanya hantu itu telah mendengar pula tentang Kyai Nagasasra
dan Kiai Sabuk Inten. Akhirnya terdengar Ki Ageng Pandan Alas
berkata perlahan.
Keadaan telah menjadi sedemikian rumit serta saling berkait, jawab Ki Ageng Sora Dipayana.
Mengenai Bugel itu, sudah jelas, sambung Ki Ageng Pandan
Alas. Dan ia tidak mendapatkan apa yang dicari setelah dengan
leluasa ia menggeledah setiap sudut di dalam rumah ini. Dengan
demikian ada kemungkinan bahwa ia tidak akan kembali lagi kemari.
Tetapi ia akan mencari di tempat-tempat lain. Yang belum kita
ketahui, justru yang berhasil membawa kedua pusaka itu, seorang
yang berjubah abu-abu seperti jubah yang selalu dipakai oleh
Pasingsingan.
Alis Ki Ageng Sora Dipayana yang sudah putih itu tampak bergerak-gerak.
Rupa-rupanya ia pun sedang berpikir hebat. Akhirnya terdengarlah
ia berkata, Gajah Sora dan Mahesa Jenar..., rupa-rupanya belum
saatnya aku yang tua-tua ini menghabiskan sisa hidup kami untuk
menikmati ketenteraman. Rupa-rupanya kini kami tidak dapat tinggal
diam, menyendiri di puncak-puncak bukit. Aku tahu bahwa kau tentu
bingung mengalami peristiwa-peristiwa ini. Jangan cemas, sebab
kami pun telah pula menjadi bingung.
Ki Ageng Pandan Alas tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya.
Jadi kalian mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak dalam
kebingungan kalian, sambungnya.
Akh... kau badut tua, potong Sora Dipayana.
Maksudku, kami pun menjadi bingung, apalagi kalian, yang masih muda-muda. Nah, sekarang Gajah Sora... kau dapat mengundang Ki Lemah Telasih. Suruhlah orang itu mengobati anakmu dan orang-orangmu yang luka parah. Aku yakin bahwa luka-luka anakmu dan orang-orang itu tidak akan sampai membahayakan jiwanya di tangan Ki Lemah Telasih. Sekarang aku kira justru Banyubiru ini dapat aku tinggal dengan aman setelah kedua keris itu lenyap. Tetapi percayalah bahwa kepergianku itu merupakan suatu usaha untuk menemukannya pula, sambung Sora Dipayana.
Gajah Sora menundukkan kepalanya. Kemudian terdengarlah ia menjawab
dengan suara yang dalam dan gemetar, Ayah..., maafkan aku
yang sudah setua ini masih saja selalu mengganggu ketenteraman
hidup ayah. Tetapi hal ini adalah benar-benar diluar kemampuanku.
Terdengarlah Ki Ageng Sora Dipayana tertawa pendek. Jangan salahkan dirimu. Akulah yang tidak mampu menjadikan kau orang yang luar biasa. Tak apalah. Sekarang biarlah aku pergi dengan Adi Pandan Alas. Mungkin arah kita berbeda, tetapi tujuan kita adalah sama. Menemukan kedua keris itu kembali, sebab permainan ini sudah mulai dicampuri pula oleh orang-orang tua.
Gajah Sora tidak dapat menjawab kata-kata ayahnya. Ia menjadi
terharu sekali. Sebaliknya Mahesa Jenar merasakan betapa sepi
hidupnya sepeninggal gurunya. Tak ada lagi orang yang akan menjadi
tempat mengadu dan mohon pertolongan. Meskipun ia merasa bahwa
sebagai seorang laki-laki dirinyalah tempat untuk mengadu. Serta
pada dirinya itu pulalah kepercayaan yang terakhir harus dilandaskan.
CERITA BERSAMBUNG = 14 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
149
MENGHADAPI kenyataan itu, dirasakan betapa pahitnya hidup
Mahesa Jenar sebatang kara, diantara manusia-manusia perkasa
yang dalam setiap saat memungkinkan adanya bentrokan-bentrokan
yang hanya dapat diselesaikan dengan mengadu kesaktian.
Tetapi hati Mahesa Jenar agak terhibur juga melihat adanya
orang-orang tua seperti Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana
dan Titis Anganten yang sudah pernah dirasakan betapa persahabatan
mereka dengan gurunya melimpah pula kepada dirinya.
Sesaat kemudian terdengarlah Ki Ageng Pandan Alas berkata,
Gajah Sora dan Mahesa Jenar..., aku sependapat dengan Kakang
Sora Dipayana. Sebab berhadapan dengan orang-orang tua macam
Sima Rodra, Pasingsingan, Bugel Kaliki, harus orang-orang tua
pulalah yang melayaninya. Meskipun bagi kami sebenarnya lebih
senang minum-minum sambil mengunyah jadah jenang alot. Bukan
begitu, Kakang?
Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, lalu jawabnya, Begitulah
kira-kira. Dan sekarang, marilah kita mulai kehidupan kita seperti
beberapa puluh tahun yang lalu. Seperti seekor burung yang lepas
di udara, hinggap dari satu dahan ke lain dahan, dari satu cabang
ke lain cabang.
Tetapi aku tak akan sebebas dahulu, sahut Ki Ageng Pandan Alas. Sebab aku sekarang mempunyai seorang murid. Akan aku bawa muridku itu untuk menambah pengalamannya.
Murid...? potong Ki Ageng Sora Dipayana.
Ya, muridku seorang pemuda tampan yang masih seperti batu
pecahan, jawab Pandan Alas, dan aku harus mengasahnya sejak
gosokan yang pertama. Untunglah bahwa ia memiliki bakat yang
baik.
Setelah mengadakan beberapa persiapan dan pesan-pesan, Ki Ageng
Sora Dipayana dan Ki Ageng Pandan Alas segera minta diri untuk
memulai penghidupan dalam pengembaraan yang kedua sejak mereka
menghentikan pengembaraan mereka pada masa muda mereka.
Mereka tidak perlu lagi menunggu sampai esok atau lusa. Sebab
bagi seorang pengembara, siang atau malam sama saja. Gajah Sora
suami- istri dan Mahesa Jenar melepas mereka dengan perasaan
yang berat dan terharu. Orang-orang tua yang seharusnya tinggal
menikmati hasil lelah masa mudanya, masih harus bekerja keras
untuk kesejahteraan umat manusia.
Tak ada yang membatasi umur kita untuk berjuang, kata
Ki Ageng Sora Dipayana ketika ia melangkah keluar gerbang halaman.
Yang disambung oleh Ki Ageng Pandan Alas, He, Mahesa Jenar,
adakah kau dahulu memenuhi permintaanku? Menunggu sampai jagungku
tua? Kalau begitu aku akan singgah dahulu ke sana untuk menikmati
dua tiga buah jagung bakar.
Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, seperti terbang Ki Ageng
Pandan Alas segera lenyap di gelap malam. Ki Ageng Sora Dipayana
tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu. Memang Adi
Pandan Alas dalam keadaan yang bagaimanapun juga, tetap saja
dapat tertawa. Dengan begitu, rupa-rupanya ia akan panjang umur,
kata Ki Ageng Sora Dipayana.
Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati-hatilah dengan pekerjaanmu
masing-masing. Mudah-mudahan semuanya selamat dan baik. Biarlah
aku pergi sekarang, sambung Ki Ageng kepada Gajah Sora dan
Mahesa Jenar.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama mengangguk hormat
dan mengucapkan selamat jalan. Maka berangkatlah Ki Ageng Sora
Dipayana ke arah yang bertentangan dengan Ki Ageng Pandan Alas.
Orang tua itu melangkah perlahan-lahan seperti orang yang sedang
berjalan-jalan menghirup kesejukan udara malam.
Setelah Ki Ageng Sora Dipayana lenyap dari pandangan mereka,
dan tenggelam dalam kehitaman malam, segera Gajah Sora dan Mahesa
Jenar masuk kembali ke dalam rumah. Dilihatnya di sana Ki Lemah
Telasih telah datang dan telah mencoba mengobati Aria Salaka,
Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan orang-orang yang terluka,
dengan ramuan dedaunan, dan dengan memijat-mijat berusaha mengembalikan
urat-urat yang salah letak.
Ki Lemah Telasih tampaknya masih agak lebih muda dari Ki Asem
Gede, tetapi tubuhnya jauh lebih besar dan lebih tinggi. Hanya
matanya sajalah yang mirip benar dengan Ki Asem Gede, sejuk dan
damai.
Dengan cekatan ia merawat orang-orang yang terluka itu berganti-ganti,
sehingga beberapa saat kemudian semua telah diobatinya dan dibaringkannya
di tempat yang tenang.
Nyai Gajah Sora masih saja merenungi putranya yang terbaring
di bale-bale tempat tidur ayahnya dengan tanpa bergerak. Sedang
di mata Nyi Ageng Gajah Sora itu kadang-kadang masih tampak butiran-butiran
air mata yang satu-satu menetes memercikkan kesedihan hatinya.
Tetapi karena kepandaian Ki Lemah Telasih, nafas Arya Salaka
telah mulai berjalan teratur dan detak jantungnya sudah mulai
berjalan wajar.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk berdiam diri sebelah-menyebelah
dari ruang tidur tempat Arya terbaring. Wajah-wajah mereka tampak
suram serta pandangan mereka seakan-akan jauh menembus lantai
kelam yang tak dikenal.
Suasana menjadi sepi. Di kejauhan terdengar semakin jelas
gonggongan anjing-anjing liar bersahut-sahutan, seolah-olah mereka
berkata bahwa malam adalah milik mereka.
Sepi malam yang mencengkam itu kemudian dipecahkan oleh suara
Ki Lemah Telasih. Ki Ageng, luka-luka Ananda Arya tidaklah
begitu berat. Mudah-mudahan atas kemurahan Tuhan, dalam waktu
yang singkat luka itu akan segera sembuh kembali.
Gajah Sora menoleh perlahan-lahan ke arah Ki Lemah Telasih.
Syukurlah, Kakang. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan. Lalu
bagaimana dengan Paman Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan lain-lain?
Tampaknya luka-luka mereka pun akan dapat disembuhkan.
Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimanapun,
hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten telah merupakan suatu lecutan
pedih yang tak akan pernah dilupakan.
CERITA BERSAMBUNG = 15 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
150
TIBA-TIBA tanpa disengaja, pandangan mata Gajah Sora terlempar
ke arah sesosok tubuh yang masih belum ada seorang pun yang berani
mengubah letaknya, yang menggeletak di muka ruang tidur Gajah
Sora. Seketika itu dadanya menggelora kembali, tetapi dicobanya
untuk menenangkan dirinya. Perlahan-lahan ia berdiri dan memeriksa
mayat yang masih belum berkisar sama sekali itu. Tetapi pada
mayat itu sama sekali tak dijumpainya tanda-tanda apapun yang
dapat memberi petunjuk tentang peristiwa yang baru saja terjadi.
Karena itu ia pun segera duduk kembali.
Suasana di dalam rumah itu kembali dikuasai oleh kesepian yang
menekan, tetapi didalam setiap dada orang-orang yang berada di
dalam rumah itu bergulatlah perasaan-perasaan yang simpang siur.
Dalam kesepian malam, di sela-sela gonggong anjing-anjing
liar dan pekik burung-burung malam, lamat-lamat terdengarlah
derap kaki kuda yang menderu-deru, semakin lama semakin dekat.
Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mengangkat kepalanya untuk
mengetahui dari manakah datangnya suara-suara itu.
Suara itu ternyata adalah suara derap dari berpuluh-puluh
ekor kuda. Tetapi karena sampai beberapa lama masih tidak terdengar
tanda apapun, maka tahulah mereka bahwa rombongan itu pasti bukanlah
rombongan dari orang-orang yang menyerang Banyubiru.
Dan apa yang diduganya adalah benar. Rombongan itu adalah
rombongan dari Laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir
laskar-laskar yang menyerbu daerah mereka. Diantara mereka adalah
Ki Ageng Lembu Sora, Pandan Kuning, dan tokoh-tokoh lainnya.
Sampai di halaman rumah Gajah Sora, segera mereka turun dari
kuda masing-masing. Dengan wajah berseri-seri mereka segera masuk.
Tetapi demikian mereka melangkah masuk, segera mereka menjadi
terkejut dan bertanya-tanya. Di hadapan mereka terkapar sesosok
mayat, sedang di bale-bale di sisi-sisi ruangan itu terbaring
pula Wanamerta, Sawungrana, Panjawi dan beberapa orang lagi.
Apakah yang terjadi di rumah ini, Anakmas? tanya Pandan
Kuning gugup.
Beberapa orang telah datang ke rumah ini dan mengaduk segala
isinya, jawab Gajah Sora.
Lembu Sora ketika melihat orang yang terbaring di depan ruang
tidur Gajah Sora itu, menjadi terkejut. Wajahnya segera berubah.
Tetapi sebentar kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya
kembali. Meskipun demikian segera ia melangkah masuk, langsung
menuju ke arah mayat yang masih terkapar itu. Dengan kakinya
ia menggerak-gerakkan tubuh itu dan membalikkannya sehingga mayat
itu terlentang.
Bagaimanapun Lembu Sora mencoba menahan hatinya, Mahesa Jenar
dapat menangkap suatu kesan yang aneh pada wajah Lembu Sora itu.
Siapakah orang ini, Kakang? tanya Lembu Sora kepada
Gajah Sora.
Gajah Sora sama sekali tidak memperhatikan wajah adiknya sehingga
tak suatu pun dapat ditangkap dari kelakuan Lembu Sora, yang
menurut tangkapan Mahesa Jenar agak kurang wajar.
Entahlah, Adik, jawab Gajah Sora. Ia termasuk salah
seorang dari tiga orang yang telah memasuki rumah ini.
Tiga orang? ulang Lembu Sora terkejut.
Ya, tiga orang. Dan satu dapat dibinasakan. Dialah orangnya
yang tak beruntung, dapat dibunuh oleh Arya dengan tombak pusaka
Kiai Banyak, sambung Gajah Sora.
Arya dapat membunuh orang ini?
Agaknya, bagi Lembu Sora sangatlah mustahil bahwa Arya dapat
berbuat demikian.
Gajah Sora mengangguk mengiyakan.
Siapakah yang dua lagi? tanya Lembu Sora lebih lanjut.
Yang kedua, aku tidak tahu, jawab Gajah Sora. Sedang
yang ketiga adalah Bugel Kaliki.
Bugel Kaliki...? Siapakah orang itu? tanya Lembu Sora.
Akhirnya Gajah Sora dengan agak segan-segan terpaksa menceriterakan tentang kedatangan tokoh-tokoh sakti ke dalam rumah ini.
Adakah salah seorang dari mereka berhasil mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten? tanya Lembu Sora lebih lanjut.
Orang kedua yang tak kukenal itulah yang membawanya, jawab Gajah Sora.
Mendengar jawaban itu, wajah Lembu Sora berubah menjadi merah membara. Tubuhnya gemetar serta giginya gemeretak. Rupa-rupanya ia pun marah sekali akan hilangnya kedua pusaka simpanan kakaknya itu.
Tetapi dalam tanggapan Mahesa Jenar, sama sekali bukanlah
demikian. Bagaimanapun ia sudah mempunyai prasangka yang tidak
baik terhadap Lembu Sora.
Tidakkah Kakang dapat mencurigai seseorang? kata Lembu
Sora tiba-tiba.
Mendengar kata-kata adiknya itu Gajah Sora terkejut. Ia tidak tahu maksud kata-kata itu. Melihat kesan itu, Lembu Sora menyambung, Kakang.., aku percaya akan kesetiaan rakyat Banyubiru terhadap Kakang, sehingga tidaklah mungkin mereka mau mengkhianati Kakang. Tetapi ternyata keris itu lenyap juga, meskipun menilik cara penjagaan halaman ini adalah tidak mungkin sama sekali, kecuali orang macam Bugel Kaliki. Tetapi barangkali Kakang lupa, bahwa diantara rakyat Banyubiru yang setia ini, di dalam rumah ini terdapat orang lain.
Kata-kata yang diucapkan dengan tegas itu terdengar di telinga Mahesa Jenar seperti petir yang meledak di tengkuknya.
Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit yang berwatak ksatria serta benar-benar seorang laki-laki jantan. Ia sendiri sangat membenci sifat-sifat licik dan curang.
Sekarang didengarnya lewat telinganya sendiri, seseorang memfitnahnya, menuduhnya berbuat curang dan pengkhianatan terhadap Gajah Sora, yang meskipun belum begitu lama dikenalnya, tetapi karena sifat-sifatnya serta persamaan tujuan, maka orang itu sudah dianggapnya lebih dari seorang sahabat biasa.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox