Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG 6 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
141
TERNYATA mereka adalah dua orang yang sedang bertempur pula.
Gerakan-gerakan mereka tampak aneh dan cepat seperti dua ekor burung yang sedang berlaga, sambar menyambar. Sebentar mereka berloncatan dan berkelahi diatas dinding pohon beringin yang hanya secengkal tebalnya. Tetapi seolah-olah kaki mereka memiliki alat perekat, sehingga mereka tidak dapat jatuh. Yang mengagumkan kadang-kadang mereka berloncatan dan berkejaran diantara ranting-ranting dan sulur beringin tua itu, dengan gerakan yang seolah-olah mereka berada diatas tanah saja.
Melihat mereka yang bertempur itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar menarik kekang kudanya, dan berhenti beberapa langkah dari pohon beringin itu. Didalam gelap malam serta gerak-gerak yang melontar kesana kemari, agak sulitlah bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora untuk segera mengenal orang yang sedang berkelahi itu. Tetapi menilik gerak serta cara mereka, pastilah mereka tergolong dalam tataran yang sama tinggi dengan Ki Ageng Sora Dipayana.
Beberapa kali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melarikan kudanya melingkari pohon beringin itu. Tetapi setiap kali mereka hanya melihat bayangan yang berloncatan dan lenyap di balik pohon beringin itu.
Namun bagaimanapun, Gajah Sora dan Mahesa Jenar telah memiliki dasar-dasar ilmu kepandaian yang cukup, sehingga meskipun agak lama akhirnya dengan terperanjat sekali mereka melihat salah seorang diantaranya mengenakan jubah abu-abu dan bertopeng kayu yang kasar buatannya, sehingga mirip dengan wajah hantu.
Pasingsingan, desis Mahesa Jenar.
Ya, Pasingsingan, ulang Gajah Sora.
Belum lagi mereka dapat mengenal dengan baik yang satu lagi, terdengarlah lawan Pasingsingan itu berkata, Hai anak-anak bodoh, jangan menonton seperti menonton adu jago. Lebih baik kau pulang dan lihat barang-barangmu.
Mendengar suara orang itu, darah Mahesa Jenar tersirap. Ia pernah mendengar suara itu dan bahkan ia pernah menerima perintahnya untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
Maka dengan tak disengaja ia berteriak, Bukankah tuan Ki Ageng Pandan Alas
Maka jawab orang itu, Ingatanmu baik sekali Mahesa Jenar, tetapi lekaslah pergi.
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dua tokoh sakti telah memperingatkan mereka mengenai pusaka-pusaka itu. Maka segera mereka memutar kuda mereka dan dilarikan menuju ke halaman rumah Gajah Sora. Dalam waktu yang pendek itu Gajah Sora sempat bertanya, Beliaukah Ki Ageng Pandan Alas?
Ya, beliaulah. Apakah Kakang Gajah Sora belum pernah mengenalnya? kata Mahesa Jenar.
Pernah, tetapi sudah lama sekali, jawab Gajah Sora.
Sementara itu kuda mereka telah sampai di muka pintu gerbang halaman rumah Gajah Sora. Dua orang penjaga gerbang masih berdiri dengan tegapnya. Ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar datang, segera kedua penjaga itu membungkuk hormat.
Gajah Sora tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan
tentang keamanan rumahnya, maka kepada dua orang penjaga itu
ia bertanya, Apakah yang sudah terjadi?
Tidak ada apa-apa yang terjadi, Ki Ageng, jawabnya.
Mendengar jawaban itu perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar agak lega sedikit, tetapi dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tersembunyi suatu kebimbangan atas kebenaran keterangan penjaga itu.
Mereka berdua seolah-olah mendapat suatu firasat yang kurang
menenteramkan hati mereka. Maka mereka berdua segera memasuki
halaman dan langsung menuju ke pendapa.
Di pendapa itu tampak Wanamerta dan Sawungrana masih duduk
dengan tenangnya. Ketika mereka melihat Gajah Sora dan Mahesa
Jenar, segera mereka berdua pun berdiri menyambutnya.
Paman Wanamerta... tidak adakah sesuatu yang terjadi di sini?
tanya Gajah Sora tidak sabar.
Pangestu Anakmas tak ada sesuatu yang terjadi, jawab Wanamerta.
Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tambah lega mendengar jawaban itu. Sebab Wanamerta dan Sawungrana bukanlah anak kecil yang dapat dipermainkan.
Di halaman rumah itu masih nampak beberapa orang laskar yang
berjaga-jaga berjalan hilir mudik dengan senjata siap di tangan,
sedangkan di gandok kulon, tempat pondokan Ki Ageng Lembu Sora
pun masih nampak beberapa orangnya ikut berjaga-jaga.
Bagaimanakah dengan Panjawi? tanya Gajah Sora pula.
Agaknya juga tidak mengalami sesuatu, Anakmas. Baru saja Adi
Sawungrana nganglang ke belakang rumah, dan di sana Panjawi tampak
selalu bersiaga, jawab Wanamerta,
Syukurlah, desis Gajah Sora.
Mendengar semua keterangan itu, gelora perasaan Gajah Sora dan
Mahesa Jenar terasa agak mengendor sedikit, setelah mereka mengalami
ketegangan perasaan beberapa saat lamanya. Memang sulit untuk
dapat memasuki halaman itu tanpa dilihat oleh salah seorang pengawal.
Sebab dinding halaman Gajah Sora cukup tinggi dan gerbangnya
pun terjaga rapat.
Beberapa orang pengawal berjaga-jaga di sekeliling halaman,
di setiap tujuh delapan langkah seorang dan melekat dinding halaman.
Kalau demikian, maka agaknya peringatan-peringatan yang diberikan
oleh Ki Ageng Sora Dipayana maupun Ki Ageng Pandan Alas hanyalah
sikap hati-hati dari orang-orang tua saja.
Tetapi belum lagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar puas menarik nafas lega, tiba-tiba dikejutkan oleh jerit Arya Salaka dari dalam rumah. Serentak mereka berdiri dan dengan kecepatan yang luar biasa mereka meloncat ke arah suara Arya. Wanamerta dan dua tiga orang yang berdiri paling dekat dengan pintu segera mendorongnya dan meloncat masuk.
CERITA BERSAMBUNG 7 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
142
GAJAH SORA dan Mahesa Jenar rupa-rupanya tidak sabar lagi
menunggu Wanamerta yang meskipun geraknya termasuk dalam tataran
yang tinggi, untuk bergantian masuk lewat pintu yang hanya satu
itu. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan kekuatan penuh
menerobos dinding gebyok itu sehingga pecah berantakan.
Ketika mereka bersama-sama telah sampai di muka ruangan Gajah
Sora, rasa-rasanya darah mereka berhenti mengalir.
Mereka masih sempat menyaksikan Arya Salaka terpelanting dan terbentur dinding.
Seketika itu juga ia terjatuh dan pingsan. Dari mulutnya meleleh darah merah segar.
Sedang di tangannya tergenggam erat sebuah tombak pendek yang
juga berlumuran darah. Tombak itu adalah tombak pusaka Ki Ageng
Gajah Sora yang bernama Kyai Bancak, hadiah dari Pangeran Sabrang
Lor, yang juga bergelar Adipati Unus, pada waktu ia mengikuti
pasukan Sabrang Lor itu ke Semenanjung Melayu untuk mengusir
penjajahan Portugis. Kyai Bancak sebenarnya adalah pasangan dari
pusaka lain yang berupa sebuah bende.
Sedang di muka pintu kamarnya ia melihat sesosok tubuh yang
terhuyung-huyung. Di dadanya tampak luka yang menyemburkan darah.
Dalam kejadian yang sekejap itu melayanglah sebuah bayangan yang
hampir tak dapat ditangkap oleh penglihatan, menyambar orang
yang hampir terjatuh karena luka di dadanya itu. Maka berpindahlah
dua buah keris yang dipegang oleh orang yang terluka di dadanya
itu ke tangan yang menyambarnya. Itulah Kyai Nagasasra dan Sabuk
Inten.
Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta adalah orang-orang
yang memiliki kecepatan bergerak dalam tingkatan yang cukup tinggi.
Tetapi terhadap bayangan itu, mereka tak mampu berbuat sesuatu.
Mereka hanya melihat bayangan itu lenyap lewat atap.
Meskpun demikian, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta bukanlah
orang yang mudah putus asa. Sambil berteriak nyaring Gajah Sora
meloncat memburu bayangan itu, disusul oleh Mahesa Jenar dan
Wanamerta. Tetapi demikian Gajah Sora muncul di atas atap lewat
lobang yang sama, bayangan itu telah lenyap sama sekali.
Karena itu bergetarlah dada mereka bertiga oleh kemarahan
dan keheranan yang bercampur aduk. Bayangan itu seolah-olah adalah
bayangan hantu yang tiba-tiba muncul untuk menambah keributan
di Banyubiru dan kemudian lenyap seperti lenyapnya asap dihembus
angin.
Tetapi bagaimanapun cepatnya bergerak bayangan itu, namun
ada sesuatu yang dapat ditangkap oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Bayangan itu agaknya memakai jubah abu-abu. Tetapi Gajah Sora
dan Mahesa Jenar sama sekali tak dapat melihat wajahnya. Namun
demikian segera perasaan mereka lari kepada Pasingsingan. Orang
itu beberapa saat yang lalu bertempur melawan Ki Ageng Pandan
Alas di alun-alun, tak begitu jauh dari rumah itu. Tetapi bagaimana
ia dapat berhasil melepaskan diri dari pengawasan Pandan Alas?
Maka bergulatlah di dalam otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar berbagai
pertanyaan. Adakah Pasingsingan berhasil mengalahkan Pandan Alas...?
Pada saat itu, lebih-lebih Gajah Sora yang menyaksikan pusaka
simpanannya dan yang telah direbutnya dengan taruhan nyawanya
hilang tanpa dapat berbuat sesuatu di hadapannya. Juga anaknya
dilukai oleh seseorang yang tak dikenal di rumahnya. Seolah-olah
di dalam dadanya menyalalah api yang berkobar-kobar dan jauh
lebih panas dari api yang menyala-nyala di ujung utara kotanya.
Nyala di dalam dadanya ini memancar lewat matanya yang merah
berapi-api, giginya gemeretak, dan bibirnya bergerak-gerak. Tetapi
tak sepatah kata pun yang terucapkan.
Otak Gajah Sora yang cerdas segera dapat meraba apa yang telah
terjadi di rumahnya. Rupa-rupanya seseorang telah berusaha untuk
mengambil kedua pusakanya. Tetapi malang baginya, sebab Arya
dapat mengetahui perbuatan itu sehingga anak yang otaknya cemerlang
itu mengintipnya dengan tombak pusaka di tangan.
Rupa-rupanya pada saat ia keluar dari ruang tidurnya, Arya
telah menusuk dada orang itu dengan Kyai Bancak. Tetapi meskipun
demikian orang yang sudah pasti bukan orang sembarangan itu dengan
sisa tenaganya yang sudah lemah, berhasil menghantam Arya sehingga
Arya terlempar dan terbanting membentur dinding. Pada saat itulah
datang orang ketiga yang dengan kecepatan seperti cahaya kilat,
berhasil merampas kedua pusaka itu.
Api kemarahan yang membentur dinding perasaan Gajah Sora itu
tidak lagi dapat dibendungnya. Karena itu dengan gerak yang seolah-olah
tak dikuasainya sendiri, ia meloncat terjun dari atap rumahnya.
Dengan tangkasnya ia meloncat sambil berlari, tangannya menggapai
tombak pusakanya dan menariknya dari tangan Arya, langsung keluar
halaman dan sekaligus meloncat ke punggung kudanya.
Mahesa Jenar dapat menangkap apa yang bergolak di dalam dada
sahabatnya, sebab memang ia pun mempunyai rabaan yang sama pula
atas kejadian yang baru saja berlalu. Karena itu ia dapat menduga
kemana Gajah Sora akan pergi. Pastilah ia akan melihat apakah
Pandan Alas masih ada di antara Ringin Kurung dan bertempur dengan
Pasingsingan, ataukah Pandan Alas itu sudah tidak berdaya lagi.
Maka tanpa berpikir lagi, ia pun meloncat ke atas punggung kudanya
dan lari menyusul Gajah Sora.
Wanamerta yang meskipun dapat mengambil kesimpulan yang sama
atas kejadian yang disaksikannya, namun ia sama sekali tidak
mengetahui tentang orang yang berjubah abu-abu yang telah dilihat
oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar di tengah alun-alun. Karena
itu ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Untunglah sebelum berangkat Mahesa Jenar sempat berkata kepadanya,
Paman Wanamerta. Paman tidak perlu ikut bersama kami, jagalah
rumah ini baik-baik. Mungkin ada suatu perkembangan keadaan.
Aduklah seluruh halaman rumah ini, meskipun kemungkinan untuk
menemukan hantu itu tipis sekali.
Setelah itu Mahesa Jenar lenyap pula di atas punggung kuda abu-abu yang berlari dengan derap yang gemuruh seperti badai, mengejar Gajah Sora dengan kuda putihnya.
CERITA BERSAMBUNG 8 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
143
JARAK antara rumah Gajah Sora dan pohon beringin yang berdiri
tegak di tengah alun-alun, yang seakan-akan tidak peduli atas
apa yang sudah terjadi di sekitarnya itu tidaklah begitu jauh.
Karena itu dalam waktu yang singkat mereka berdua telah berhasil
mendekati ringin kurung itu.
Maka mereka menjadi terkejut dan heran tak habis-habisnya
ketika dari jarak yang sudah agak dekat mereka masih melihat
dua bayangan yang berloncat-loncat dan melontar kesana kemari
diantara sepasang beringin itu. Di sana masih jelas dapat disaksikan
Pasingsingan dan Ki Ageng Pandan Alas bertempur. Bahkan semakin
sengit. Tetapi jubah yang dipakai oleh orang yang menyambar kedua
keris pusaka itu tepat benar dengan jubah yang dipakai oleh Pasingsingan.
Sebenarnya dalam keadaan yang biasa, Gajah Sora akan dapat
mempertimbangkan bahwa tidak mungkin dalam satu saat Pasingsingan
dapat berada di dua tempat dan melakukan dua pekerjaan sekaligus.
Tetapi pada saat itu, karena kemarahannya yang meluap-luap, ia
membutuhkan wadah untuk menumpahkannya.
Satu-satunya kemungkinan sebagai tempat penampungan kemarahan
Gajah Sora adalah Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Pandan
Alas.
Meskipun ia tahu bahwa Pasingsingan bukanlah lawannya, karena
orang itu memiliki ilmu yang sejajar dengan Ki Ageng Sora Dipayana,
namun sama sekali Gajah Sora sudah tidak mampu lagi membuat pertimbangan-pertimbangan.
Karena itu, dengan otak yang buntu, ia memacu kudanya habis-habisan,
langsung mengarah kepada kedua orang yang sedang bertempur itu
dengan Kyai Bancak siap di tangan.
Melihat sikap Gajah Sora, yang seolah-olah tidak dapat terkendali
itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Sebenarnya ia sendiri merasa
sangat marah atas hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi
karena justru hal itu terjadi di rumah Gajah Sora maka Gajah
Sora-lah yang merasa lebih bertanggungjawab. Ditambah lagi cedera
yang dialami oleh anak satu-satunya. Karena itu bagaimanapun
hebatnya kemarahan yang bergolak di dada, Mahesa Jenar masih
dapat bersikap lebih tenang.
Maka segera Mahesa Jenar berusaha sekuat-kuatnya untuk memacu kudanya lebih cepat agar dapat menyusul Gajah Sora, untuk mencoba mencegahnya berbuat sesuatu yang berbahaya. Dibungkukkannya badannya dalam-dalam sampai melekat ke punggung kudanya. Namun kuda Gajah Sora bukanlah kuda sembarangan.
Larinya bahkan semakin cepat seperti angin.
Pada saat itu Gajah Sora sudah tidak dapat berpikir lain,
kecuali menyerang Pasingsingan habis-habisan. Ia sama sekali
sudah tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat
terjadi karena perbuatannya itu.
Maka ketika jarak mereka sudah semakin dekat, segera Gajah
Sora mengangkat tombak pusakanya. Tombak yang jarang sekali keluar
dari rangkanya. Tapi kali ini, tombak yang ujungnya sudah membekas
darah itu seolah-olah menjadi semakin haus dan buas.
Untunglah bahwa Gajah Sora tidak bermaksud langsung menyerang
Pasingsingan dengan tombak di tangan. Ternyata bagaimanapun gelap
pikirannya, namun sebagai seorang yang cukup berpengalaman, nalurinya
yang tajam masih dapat mempengaruhi tindakannya.
Dengan hati yang dibakar oleh kemarahan, Gajah Sora mengangkat
tombaknya yang bermaksud membinasakan Pasingsingan. Maka dengan
sekuat tenaga, bahkan dengan ilmunya Lebur Seketi yang disalurkan
lewat tangannya yang memegang tombak pusaka itu, ditambah lagi
dengan tenaga dorong dari kecepatan berlari kuda putihnya yang
seperti angin, Gajah Sora melepaskan tombaknya ke arah Pasingsingan,
yang sedang sibuk melayani Ki Ageng Pandan Alas.
Perbuatan Gajah Sora itu sama sekali tak diduganya. Meskipun
Pasingsingan sudah tahu bahwa Gajah Sora bersenjata, tetapi ia
tidak mengira bahwa senjata itu akan dilemparkan kepadanya. Karena
itu ketika ia melihat Gajah Sora mengangkat tombaknya, Pasingsingan
menjadi terkejut.
Kalau saja pada saat itu Pasingsingan berdiri seorang diri,
maka serangan Gajah Sora itu tidak akan berarti sama sekali baginya.
Tetapi pada saat itu ia sedang bertempur mati-matian melawan
Ki Ageng Pandan Alas. Untuk melayani lawannya itu saja Pasingsingan
sudah harus mengerahkan segenap tenaganya, apalagi tiba-tiba
ia menerima serangan yang cukup berbahaya. Sebab bagaimanapun
Gajah Sora bukanlah anak kemarin sore yang dengan begitu saja
boleh diletakkan di luar garis. Karena itu ketika Pasingsingan
melihat sebatang tombak yang berkilauan, seperti kilat datang
menyambarnya, ia menjadi agak gugup.
Meskipun demikian ia adalah seorang tokoh yang namanya boleh
disejajarkan dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana,
Titis Anganten, dan sebagainya. Karena itu, bagaimanapun sulitnya
keadaan, masih saja ia mampu menghindar.
Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, Pasingsingan
melontarkan diri jauh ke belakang dan seolah-olah hinggap di
atas dinding ringin kurung. Sedang pada saat yang bersamaan,
Ki Ageng Pandan Alas meloncat beberapa langkah ke belakang untuk
menghindarkan diri dari kaki kuda Gajah Sora yang seakan-akan
tidak lagi dapat dikendalikan, seperti pikiran Gajah Sora.
Apalagi ketika Gajah Sora melihat bahwa serangannya gagal
maka hatinya yang sudah terbakar itu rasa-rasanya menjadi semakin
hangus. Dengan sekuat tenaga ia menarik kekang kudanya dan kemudian
memutarnya menghadap ke arah Pasingsingan untuk segera menyerangnya
kembali. Meskipun ia kini sudah tidak bersenjata namun di telapak
tangannya masih tersimpan aji Lebur Seketi.
Tetapi tiba-tiba Gajah Sora terpaksa mengurungkan serangannya,
sebab pada saat itu tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan tertawa
menggelegar. Meskipun suara tertawanya tidak begitu keras, getarannya
memukul-mukul seperti akan memecahkan dada.
Ternyata, meskipun tombak Gajah Sora tidak mengenai tubuh Pasingsingan, tetapi karena keadaan yang sulit, Pasingsingan agak terlambat menghindar sehingga tombak yang menyambarnya itu menyobek jubah abu-abunya. Karena itu, ia merasa terhina sekali oleh seorang anak-anak saja. Maka ia menjadi marah sekali. Dan terlontarlah kemarahannya itu lewat suara tertawanya yang mengerikan.
CERITA BERSAMBUNG 9 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
144
MAHESA JENAR yang pada saat itu telah sampai pula ke tempat itu segera menghentikan kudanya dan memusatkan segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara tertawa Pasingsingan yang mengerikan itu. Tetapi suara tertawa itu ternyata tidak segera berhenti, malahan semakin berkepanjangan dan merupakan serangan-serangan yang datang bertubi-tubi dengan dahsyatnya. Ia pernah mendengar Lawa Ijo menyalurkan kesaktiannya lewat suara tertawa yang menggeletar, sehingga memerlukan daya perlawanan yang kuat untuk tidak jatuh ke dalam pengaruhnya yang berbahaya.
Tetapi suara tertawa Pasingsingan yang tidak begitu keras
itu mengandung tenaga kesaktian yang jauh lebih hebat dari suara
Lawa Ijo.
Karena itu, baik Mahesa Jenar maupun Gajah Sora pada saat
itu harus mengerahkan segenap daya kekuatan batinnya untuk melawan
pengaruh suara itu. Namun demikian kesaktian Pasingsingan yang
tersalur lewat bunyi tertawa itu bagaikan jarum yang menusuk-nusuk
ulu hati. Alangkah nyerinya, bahkan panas pula seperti dijilat
lidah api.
Meskipun pada saat itu Mahesa Jenar dan Gajah Sora telah mengerahkan
segala kekuatannya, namun terasa tubuhnya menggigil dan semakin
lama semakin kehilangan kesadaran.
Baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar pernah mendengar kisah
dari sahabat-sahabatnya yang sering mengarungi samodra-samodra
besar, bahwa di Laut Cina terdapat sebuah pulau kecil yang sangat
ditakuti, sehingga pulau itu dinamai pulau hantu. Apabila ada
kapal yang terjerumus ke dekat pulau itu, maka akibatnya akan
mengerikan sekali. Dari pulau itu terdengarlah berbagai macam
nada orang tertawa-tawa dengan getaran yang dahsyat sehingga
orang yang mendengarnya akan menjadi gila karenanya. Bahkan tidak
jarang diantara pelaut-pelaut itu kemudian menemui ajalnya dengan
cara yang mengerikan. Ada yang terjun ke laut, ada yang mati
lemas, dan ada yang mati karena saling bertempur dan menggigit.
Sekarang, mereka meskipun tidak mendekati pulau hantu itu,
mendengar pula suara tertawa yang mengerikan dan telah hampir
berhasil merontokkan kesadaran mereka.
Tetapi ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar sudah hampir benar-benar
jatuh ke dalam pengaruh suara itu, tiba-tiba terdengarlah suara
tembang yang mengalun seolah-olah menyusur dedaunan dan sulur-sulur
sepasang beringin itu. Kemudian dengan pengaruh yang sejuk, nada-nada
itu menggetarkan udara dan menyusup ke dalam dada Gajah Sora
dan Mahesa Jenar. Suara tembang itupun mempunyai pengaruh yang
luar biasa pula. Tetapi dayanya berlawanan dengan suara tertawa
Pasingsingan. Suara tembang itu seolah-olah siraman air yang
memadamkan api yang menyala-nyala membakar kesadaran mereka.
Maka bersama-sama dengan daya perlawanan masing-masing, suara
tembang itu segera dapat menenangkan pikiran Gajah Sora dan Mahesa
Jenar.
Dan ketika mereka berdua bersama-sama menoleh ke arah suara itu, dilihatnya Ki Ageng Pandan Alas dengan enaknya duduk di atas tanah bersandar dinding ringin kurung itu dengan kaki bersilang. Sikapnya seperti seorang anak gembala yang dengan tenangnya berdendang di bawah pohon rindang. Ketika itu sinar matahari sedang dengan teriknya memanasi padang rumput. Lagunya adalah lagu kesayangan orang tua, yang sudah sering didengar oleh Mahesa Jenar, yaitu lagu Dandanggula.
Lewat lagunya itu, Pandan Alas pun telah memancarkan kesaktiannya
pula untuk melawan kesaktian Pasingsingan.
Pasingsingan yang merasa bahwa serangannya dapat digagalkan oleh Pandan Alas, menjadi semakin marah. Maka dengan menggeram hebat ia berkata, Setan tua.... Tidak dapatkah kau menahan dirimu untuk tidak mencampuri urusanku. Aku telah mencoba melupakan kelakuanmu di Hutan Tambakbaya beberapa minggu lalu? Kini kembali kau berbuat gila, Pandan Alas, jangan menunggu sampai kesabaranku habis.
Ki Ageng Pandan Alas seolah-olah tidak mendengar kata-kata Pasingsingan
itu. Ia masih saja berlagu terus sampai kalimat yang terakhir.
Melihat sikap Pandan Alas yang seolah-olah tidak mempedulikan
ancamannya, Pasingsingan menjadi bertambah marah. Kini kesabarannya
telah benar-benar habis. Menurut anggapannya, Gajah Sora, Mahesa
Jenar dan Pandan Alas telah bersepakat untuk bersama-sama menghinanya.
Karena itu ia telah bertekad untuk membuat perhitungan yang terakhir.
Pandan Alas..., biarlah aku berkata kepadamu demi persahabatan
kita yang telah berpuluh-puluh tahun. Kalau kali ini kau tidak
mau mendengarkan, biarlah untuk seterusnya kau tidak akan pernah
mendengarnya lagi.
Pandan Alas..., coba kau tahan dirimu sedikit kali ini. Janganlah
kau menghalangi aku untuk mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten.
Kalau kau sendiri ingin memilikinya, sebaiknya kita berlomba
siapakah yang mendapatkannya lebih dahulu. Juga terhadap kedua
anak-anak yang tidak mempunyai sangkut paut apa-apa dengan kau
itu. Biarlah aku bereskan dahulu. Yang seorang telah menghantam
muridku dengan Sasra Birawa di hutan Tambakbaya, sedang seorang
lagi telah menyerang aku sehingga jubahku tersobek, kata
Pasingsingan.
CERITA BERSAMBUNG = 10 Juli 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
145
TERDENGAR suara Pandan Alas tertawa pendek. Pasingsingan...,
benarkah aku pernah bersahabat dengan kau? Kalau dahulu aku mempunyai
seorang sahabat yang bernama Pasingsingan pula, aku kira berbeda
dengan Pasingsingan yang aku hadapi sekarang, tanya Pandan
Alas.
Maksudmu? tanya Pasingsingan. Suaranya terdengar bergetar menahan kemarahan yang sudah memuncak. Tetapi karena ia memakai kedok maka kesan mukanya tak dapat diketahui.
Maksudku adalah... jawab Pandan Alas, Pasingsingan
yang aku kenal sifatnya sama sekali berbeda dengan Pasingsingan
yang sekarang berdiri di hadapanku. Pasingsingan yang aku kenal
dahulu meskipun ujud dan bentuknya tepat seperti kau ini, tetapi
wataknya adalah berlawanan sama sekali. Menurut perhitunganku,
Pasingsingan sahabatku itu tidak mungkin mengambil seorang murid
yang menamakan dirinya Lawa Ijo. Tidak mungkin pula kini bekerja
mati-matian untuk merampas Nagasasra dan sabuk Inten dari tangan
murid sahabatnya yang lain, yang bernama Ki Ageng Pengging Sepuh,
serta putra sahabatnya yang bernama Sora Dipayana.
Tampaklah tubuh Pasingsingan menggigil menahan diri. Nafasnya
berjalan semakin cepat. Kembali terdengar suaranya yang dalam,
yang seolah-olah melingkar-lingkar di dalam perutnya. Pandan
Alas..., lalu siapakah menurut dugaanmu aku ini?
Pandan Alas mengerinyitkan alisnya. Kenapa kau bertanya begitu?
Bukankah kau menamakan dirimu Pasingsingan. Aku tidak membantah
bahwa kau bernama Pasingsingan. Tetapi kau bukan Pasingsingan
sahabatku itu, meskipun kau juga mempunyai tanda-tanda yang bersamaan
dan ilmu Gelap Ngampar yang baru saja kau pertunjukkan untuk
menjebol dada anak-anak itu.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar tak sepatah kata pun berani mencampuri perbantahan mereka. Setelah mereka berdua mengalami serangan Pasingsingan dengan nada tertawanya yang bernama Gelap Ngampar itu, mereka merasa betapa kecil diri mereka untuk menghadapinya. Untunglah bahwa Pandan Alas berhasil menolong mereka menyelamatkan dari pengaruh ilmu Gelap Ngampar yang dahsyat itu.
Sekarang mereka berdua melihat kedua tokoh itu telah kehilangan
kesabaran dan akan bertempur mati-matian. Maka sebaiknya bahwa
mereka untuk sementara tidak usah mencampurinya.
Maka berdesirlah dada mereka ketika mereka melihat Pasingsingan
yang sedang marah itu, tiba-tiba dari dalam jubahnya menarik
sebilah pisau belati panjang. Pisau ini mirip benar bentuknya
dengan pisau yang sering dipergunakan oleh gerombolan Lawa Ijo,
tetapi pisau ini tidak berwarna putih mengkilap, melainkan kuning
berkilau-kilauan.
Sambil memegang belati itu, Pasingsingan menggeram, Pandan
Alas, aku tidak biasa bertempur dengan senjata kalau tidak sedang
mempertimbangkan untuk memotong kepala seseorang. Sekarang kau
di sini bertiga dengan tikus-tikus itu untuk bersama-sama mengeroyok
aku. Biarlah aku tidak akan mundur. Bahkan aku ingin membawa
kepalamu bertiga ke Mentaok sebagai suatu bukti bahwa Pasingsingan
tak dapat dihinakan orang.
Melihat pisau belati panjang itu di tangan Pasingsingan serta
mendengar kata-katanya, mau tidak mau hati Gajah Sora dan Mahesa
Jenar bergetar hebat. Meskipun mereka bukan orang-orang kerdil
yang takut mati, namun menghadapi seorang seperti Pasingsingan,
mereka merasa gentar juga. Tetapi bagaimanapun apabila keadaan
sudah memaksa maka apapun yang akan terjadi pasti harus dihadapi.
Diam-diam Gajah Sora dan Mahesa Jenar memusatkan segala kemampuannya
yang ada lahir batin, dan disalurkannya menurut saluran masing-masing.
Gajah Sora dengan Lebur Seketi dan Mahesa Jenar dengan Sasra
Birawanya.
Pandan Alas yang sejak tadi tampaknya acuh tak acuh saja,
setelah melihat Pasingsingan bersenjata, menjadi agak terkejut
juga. Perlahan-lahan ia berdiri dan dengan mata yang berapi-api
ia memandang Pasingsingan seperti memandang hantu. Rupa-rupanya
orang tua itu pun telah menjadi marah.
Pasingsingan..., kau ingat bahwa dahulu kita pernah bertempur?
Pasingsingan tidak segera menjawab, agaknya ia sedang mengingat-ingat.
Baru beberapa lama kemudian ia berkata, Aku ingat, Pandan
Alas.
Barangkali waktu itu kita baru pertama kali bertempur. Bukankah
begitu?, sambung Pandan Alas.
Kembali Pasingsingan mengingat-ingat. Apakah maksudmu dengan
menceritakan kembali masa-masa yang telah lama silam itu. Banyak
hal yang sudah tak dapat aku ingat kembali.
Aneh..., sahut Pandan Alas, pertemuan yang menarik itu, kau kira, baik kau maupun aku tak akan melupakannya.
Ya, aku ingat, jawab Pasingsingan kesal.
Waktu itu aku mengira kalau kau adalah seorang penjahat
yang sedang menyembunyikan wajah aslimu di belakang kedokmu yang
jelek itu. Tetapi setelah kita bertempur tiga hari tiga malam
tanpa berkesudahan, barulah kita saling bertanya.
Pandan Alas... potong Pasingsingan, adakah kau sedang mengorek rasa persahabatanku supaya aku memaafkan kau sekarang ini? Ketahuilah, aku sudah terlanjur mencabut pisauku ini. Maka pisau ini harus menemukan korbannya. Kalau kau menyesal telah mencampuri urusanku, kau boleh pergi. Tetapi tikus-tikus ini tetap di tanganku.
Mendengar kata-kata Pasingsingan itu bergeloralah dada Pandan
Alas yang biasanya senang berkelakar. Meskipun demikian ia masih
berkata tenang, Kenapa kau takut mendengar ceritera-ceritera
masa silam Pasingsingan? Adakah sesuatu yang telah menyiksa perasaanmu
sehingga kau tidak berani mengingatnya lagi?
Persetan dengan masa lampau, bentak Pasingsingan. Masa itu
tak akan kembali lagi. Yang penting bagiku adalah masa kini dan
masa depan perguruanku. Itu sebabnya aku berkeras untuk menemukan
Nagasasra dan Sabuk Inten.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox