Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 25 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
131
AKHIRNYA Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya
sendiri otaknya yang tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa
Jenar. Dengan berpapasan saja sudah dapatlah kiranya didapat
kesan mengenai orang-orang berkuda itu.
Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin
dekat. Mahesa Jenar masih selalu cemas atas tindakan-tindakan
Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan itu.
Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal,
jangan berbuat sebelum kau ketahui beberapa hal lebih dahulu.
Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita berjalan biasa saja
dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka, supaya
mereka tidak bercuriga, kata Mahesa Jenar memperingatkan
Arya.
Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab, Aku
sudah berjanji Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.
Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar
kemudian mereka telah bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri
sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka pada umumnya
bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan
mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan.
Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama
mengawasi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka
tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian sehingga mereka
biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap
bapaknya.
Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa
Jenar. Orang-orang itu pastilah mempunyai maksud yang tidak baik.
Kedatangan mereka di daerah Perdikan Banyubiru dengan senjata
lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra dan
Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu
rahasia, namun tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah
yang dengan sengaja meniup-niupkan berita bahwa Nagasasra dan
Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera diketahui
oleh Ki Ageng Gajah Sora.
Paman..., kemana kita sekarang? Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar yang sedang sibuk berpikir.
Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda
itu telah agak jauh di belakang mereka.
Ke manakah jalan ini Arya? tanya Mahesa Jenar.
Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman,
jawab Arya. Tetapi kata ayah, jalan ini menuju ke Pajaten
dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan silang ke
Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.
Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi,
Adakah simpangan yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru
tanpa mengambil jalan yang kita lewati tadi?
Aku belum tahu, Paman, jawab Arya.
Kita berhenti sebentar Arya, kata Mahesa Jenar sambil
menarik kekang kudanya. Arya juga segera menghentikan kudanya.
Arya..., kata Mahesa Jenar, Kita harus segera kembali.
Kalau mungkin lewat jalan lain. Sebab kalau kita mengambil jalan
yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang berkuda
itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti
keterangan Mahesa Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata,
Paman... aku pernah pergi berburu bersama ayah. Kami mendaki
lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang
mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan
itu kembali. Tetapi yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah
randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.
Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan
oleh Arya. Pohon itu terletak di tengah-tengah hutan yang tidak
begitu lebat di lereng bukit itu.
Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya...?
tanya Mahesa Jenar.
Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali
bukan perlengkapan orang berburu, jawab Arya.
Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya
kemudian, Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke
bawah pohon itu?
Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, Marilah kita
coba, Paman. Bila kita dapat mencapai pohon itu jalannya akan
lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong di bawah pohon
itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai
di sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman
sampai ke rumah ayah.
Kau terlalu sombong Arya, potong Mahesa Jenar sambil
tersenyum. Sebaiknya kita coba saja. Tetapi kalau kau tidak
berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku tidak mau lagi
bermain gundu.
Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang
kudanya dan memutarnya untuk seterusnya meloncat menyusup hutan
yang tidak begitu lebat di lereng timur pegunungan Telamaya.
CERITA BERSAMBUNG = 27 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
132
MAHESA JENAR pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama
sekali tidak sangsi lagi setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar
untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya sama sekali tidak akan
menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu.
Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi
kesempatan kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.
Ternyata Arya sama sekali tidak mengecewakan. Dengan tangkasnya
ia mengendalikan kudanya ke arah yang benar, meskipun sekali-sekali
kuda itu harus berjalan sangat berhati-hati kalau sedang mendaki
tebing yang terjal.
Akhirnya setelah beberapa lama mereka menyusup semak-semak
dan belukar yang tidak begitu tebal, akhirnya dengan bangga Arya
berkata, Inilah Paman, Arya telah dapat menemukan jalan.
Mahesa Jenar tersenyum melihat wajah Arya yang lucu. Maka katanya, Kau memang seorang pemburu yang hebat, Arya. Binatang-binatang buruanmu pasti tidak akan dapat melepaskan diri kalau kau sedang memburunya.
Di luar dugaan Mahesa Jenar, tampak wajah Arya tiba-tiba merengut.
Hanya itukah, Paman...? Tidakkah aku dapat menjadi lebih baik
daripada seorang pemburu? Ayah mengharap bahwa aku akan dapat
menjadi seorang pahlawan.
Kata-kata Arya itu sangat mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak mengira bahwa di dalam dada anak itu telah tertanam suatu cita-cita yang sedemikian besarnya.
Kembali Mahesa Jenar kagum, tidak hanya kepada anak itu, tetapi
sekaligus Ki Ageng Gajah Sora yang telah berhasil mencetak pola
cita-cita hari depan anaknya.
Saat yang demikian, kembali mengetuk perasaan Mahesa Jenar tentang
gambaran masa depannya sendiri. Tak seorang pun yang akan dapat
melanjutkan cita-citanya.
Kalau pada suatu ketika ia sudah tidak dapat lagi menggerakkan
tangannya serta tak dapat lagi melangkahkan kakinya, maka ia
akan terpencil dari segenap percaturan. Dan tak seorang pun akan
berkata, Aku adalah keturunan Mahesa Jenar, dan ayahku mengharap
aku menjadi seorang pahlawan.
Apakah artinya perjuangan masa kini, apabila perjuangan itu
tidak dapat tanggapan dari masa depan? Pastilah apa yang telah
dihasilkan atas cucuran keringat dan darah itu satu persatu akan
lenyap seperti lenyapnya batu dari permukaan air. Hilang. Tenggelam
ditelan bergolaknya gelombang sejarah.
Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar oleh suara Arya yang masih
belum puas ketika Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaannya.
Benarkah begitu Paman, bahwa suatu waktu aku akan dapat menjadi seorang pahlawan? tanya Arya.
Tentu, tentu... Arya. Kau akan menjadi seorang pahlawan,
jawab Mahesa Jenar cepat-cepat.
Tampaklah Arya Salaka mengangguk puas.
Nah, sekarang kita tinggal menuruti lorong sempit ini untuk
mencapai Sendang Muncul, sambung Arya Salaka.
Marilah Arya, kau berjalan di depan, jawab Mahesa Jenar.
Segera Arya dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya menuju
ke Sendang Muncul. Tetapi di sepanjang perjalanan itu Mahesa
Jenar tidak dapat melepaskan diri dari gangguan gagasannya mengenai
masa depannya.
Tiba-tiba belum beberapa lama mereka berjalan, Arya Salaka
menghentikan kudanya. Matanya tertambat pada sesuatu di atas
tanah, di jalan yang sedang dilaluinya. Tetapi belum lagi ia
mengucapkan sesuatu, Mahesa Jenar telah melihat telapak-telapak
kuda di lorong sempit itu. Telapak-telapak itu muncul dari dalam
belukar di tepi lorong itu dan beberapa langkah setelah mengikuti
lorong itu, kemudian lenyap pula ke seberang yang lain.
Telapak-telapak kuda Paman, desis Arya.
Mahesa Jenar menganggukkan kepala. Ia mencoba untuk mengetahui
adakah telapak-telapak kuda itu ada hubungannya dengan orang-orang
berkuda yang baru saja berpapasan jalan. Menilik arahnya, maka
tidaklah mungkin bahwa telapak telapak ini adalah telapak kaki-kaki
kuda yang dijumpainya tadi. Jumlahnya juga tidak sesuai. Telapak-telapak
ini tidak lebih dari lima ekor kuda.
Maka segera ia mendapat firasat bahwa bahaya yang besar telah
mendatangi kota ini. Karena itu katanya kepada Arya, Arya...
mungkin ada bahaya di sekitar kita, karena itu marilah kita pulang.
Mungkin ada gunanya kita membicarakan hal ini dengan ayahmu.
Rupanya Arya mengerti pula. Karena itu sambil mengangguk ia mempercepat jalan kudanya.
Ketika matahari telah melampaui titik tengah, mereka sampai di
Sendang Muncul. Dari sana mereka dapat menaburkan pandangan ke
dataran di muka lambung pegunungan itu. Tetapi mereka sama sekali
tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang dijumpainya tadi.
Pasti mereka telah membelok masuk hutan. Hal ini juga merupakan
suatu pertanda yang berbahaya.
Mungkin tapak-tapak kuda yang dijumpainya itu juga berasal
dari orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi. Karena itu maka
mereka berdua segera melanjutkan perjalanan pulang, untuk menyampaikan
apa yang telah mereka lihat itu kepada Ki Ageng Gajah Sora.
Sampai di rumah, segera mereka menambatkan kuda-kuda mereka
di belakang dapur, dan sesudah itu mereka langsung pergi ke pendapa.
Ki Ageng Gajah Sora ketika melihat kedatangan Mahesa Jenar
segera mempersilahkannya. Pada saat itu Ki Ageng Gajah Sora dan
Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya sedang
duduk bercakap-cakap di pendapa.
Sikap Ki Ageng Lembu Sora masih saja tidak menyenangkan bagi
Mahesa Jenar.
Meskipun demikian Mahesa Jenar sama sekali tak menunjukkan ketidaksenangannya.
Sudahkah Adi berkeliling sampai ke segala sudut? tanya
Ki Ageng Gajah Sora.
Sudah Kakang, jawab Mahesa Jenar. Bahkan aku telah
sampai agak jauh ke sebelah timur. Aku dibawa Arya sampai ke
pohon randu alas raksasa, yang katanya, ia pernah mengikuti Kakang
berburu ke sana.
Kau bawa Pamanmu sampai ke kediaman Kaki Klantung itu Arya?
tanya Gajah Sora kepada anaknya.
CERITA BERSAMBUNG = 28 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
133
YA..., Ayah..., jawab Arya yang rupanya akan berceritera
lebih banyak lagi, tetapi segera disahut oleh Mahesa Jenar,
Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman Kaki Klantung?
Begitulah kata orang, jawab Gajah Sora.
Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu.
Yang pertama kami bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu
alas itu kami temui telapak-telapak kaki kuda, kira-kira sebanyak
lima ekor, sambung Mahesa Jenar.
Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan
keningnya. Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar.
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa
Jenar tahu betul bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu.
Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak berkata apa-apa.
Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan berkata demikian.
Suatu kehormatan bagiku, tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, Sekian banyak pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.
Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan
wajah Ki Ageng Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan
perubahan. Ia mendengarkan saja percakapan Mahesa Jenar dengan
Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa.
Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora
beserta para pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok
kulon, sedang Mahesa Jenar dipersilakan untuk makan siang bersama
Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya.
Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk mengelilingi bagian kota yang lain.
Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di
gandok wetan. Tetapi baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya
seseorang mendatanginya. Ternyata orang itu adalah Ki Ageng Gajah
Sora.
Adi... kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring Mahesa Jenar.
Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.
Mahesa Jenar pun segera bangkit. Memang, orang-orang yang
aku jumpai itu menarik perhatian, Kakang, jawabnya.
Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi? tanya Gajah Sora.
Kesannya kurang baik, jawab Mahesa Jenar. Dan rupa-rupanya
Kakang telah mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa
orang untuk berjaga-jaga. Mereka, orang-orang berkuda itu, aku
kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat untuk bertindak.
Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.
Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi, kata Gajah
Sora. Tetapi mungkin tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan
oleh tangan yang baik, maka akibatnyapun besar pula.
Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga.
Sekarang aku persilakan Adi beristirahat.
Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang
itu. Ia mencoba membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang
berkuda yang ditemuinya tadi.
Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam
angan-angannya beberapa puluh orang berkuda sedang merayap-rayap
mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan membuat keributan.
Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu
rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki
halaman. Dari celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, ia
dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang pengiring memasuki
halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah
betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa
untuk menemui Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia
telah turun kembali. Dipanggilnya beberapa orang pengiringnya
untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orang-orangnya
meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka
telah lenyap di balik regol halaman.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan
bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya
apabila tidak diminta.
Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa,
untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah
Sora.
Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang
cahaya kemerah-merahan. Dan sejalan dengan semakin rendahnya
matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin tegang pula. Teringat
jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum melepaskan
keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk
Inten.
Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang
berkuda itu mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu.
Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah
seseorang ke dalam ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik
ke pendapa.
Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta,
juga Ki Ageng Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga
tampak beberapa orang pembantu Gajah Sora dalam melakukan tugasnya
sebagai kepala daerah perdikan.
Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri. Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya pula.
CERITA BERSAMBUNG = 29 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
134
TERNYATA Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan
masalah orang-orang berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang
berkuda itu tidak saja datang dari arah timur seperti yang ditemui
oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang berkuda
semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah
bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat.
Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki
Ageng Lembu Sora untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud
untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak
dikehendaki.
Adi Mahesa Jenar... sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda, maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami miliki, kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.
Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak
menyebut-nyebut tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah
minta kepada Mahesa Jenar untuk bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka
itu.
Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari
memasuki halaman. Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan
kuda itu dan langsung meloncat turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa
ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah Sora.
Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting.
Untuk beberapa lama ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi
orang-orang yang hadir. Tampaknya ia ragu-ragu untuk menyampaikan
sesuatu.
Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya, Katakanlah
apa yang telah kau lihat.
Ki Ageng... katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir
cepat, Pasukan Paman Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran
dengan kira-kira 30 orang berkuda yang datang dari arah barat.
Tigapuluh...? ulang Gajah Sora.
Ya, Ki Ageng, jawab pemuda itu.
Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu? tanya Ki Ageng.
25 Orang, Ki Ageng, jawabnya.
Seimbang, kata Ki Ageng. Tetapi kau boleh membawa orang-orang
Sanjaya bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.
Baik, Ki Ageng. Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun
dan dengan kecepatan luar biasa, ia naik ke punggung kudanya.
Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh dan lenyap.
Kita sudah mulai, kata Gajah Sora yang tampaknya masih
tenang saja.
Kakang Wanamerta, sambung Gajah Sora, Suruhlah membunyikan
tanda bahaya, supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan
diri dan mengerti bahwa di salah satu sudut kota ini telah terjadi
bentrokan.
Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda
bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh
kota Banyubiru, bunyi titir yang bersahut-sahutan.
Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah
tegang. Mereka masih menanti perintah, apakah yang harus mereka
kerjakan.
Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya
dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang
pohon di halaman menjadi semakin kabur diselubungi oleh kehitaman
malam yang bertambah pekat.
Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul
oleh bunyi kentongan tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.
Kebakaran, kata Wanamerta.
Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap tenang.
Siapakah yang berada di sana? tanya Gajah Sora kepada
Wanamerta.
Adi Pandan Kuning, jawab Wanamerta singkat.
Pandan Kuning...? ulang Gajah Sora.
Ya.
Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah, kata Gajah Sora hampir bergumam.
Paman..., kata Gajah Sora kemudian, Suruh seseorang
sediakan kuda-kuda kami.
Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi
artinya adalah besar sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa
perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut perhitungannya,
orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari
orang-orang yang tak dapat direndahkan.
Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
135
SAAT orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Arya dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu.
Inilah kuda Paman, teriaknya kepada Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar terkejut melihat Arya hadir dalam kesibukan itu.
Kau mau kemana, Arya? tanya Mahesa Jenar.
Aku ikut Paman ke tempat kebakaran itu, jawabnya.
Arya..., potong Gajah Sora, Kau jangan menambah kesibukanku
dan pamanmu. Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, seterusnya
aku tak mau mengajari kau sama sekali.
Arya memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama
sekali tidak berani membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian
ayahnya memang dapat bertindak agak keras terhadapnya.
Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Orang-orang
Banyubiru adalah orang-orang yang cukup terlatih di bawah pimpinan
Gajah Sora.
Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran,
Laskar Banyubiru segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian
barat dan utara, ternyata kekuatan mereka tak dapat dianggap
ringan.
Di pendapa, Ki Ageng Gajah Sora beberapa kali menerima penghubung-penghubung
dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah
dan petunjuk-petunjuk.
Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh bunyi kentongan dua-tiga-dua-tiga dari arah utara, sedangkan api tampak semakin menjalar ke beberapa arah.
Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Gajah Sora tak dapat
dikendalikan lagi. Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai
arti yang sama sekali tidak menyenangkan. Tanda itu mengatakan
bahwa Laskar Banyubiru terdesak hebat.
Dengan gigi yang terkatub rapat, Gajah Sora terloncat dari duduknya.
Setan manakah yang mencoba mengganggu ketenteraman Banyubiru?
katanya geram.
Paman Wanamerta... kata Gajah Sora kepada Wanamerta, Aku
akan pergi ke tempat itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di
sana. Berilah tanda supaya sebagian dari pasukan cadangan dikerahkan
ke utara.
Segera Wanamerta memerintahkan memukul kentongan dua-empat-dua-empat
berturut-turut. Bersama dengan itu Gajah Sora meloncat ke atas
kudanya. Adi Lembu Sora dan Mahesa Jenar, marilah kita lihat
daerah itu, katanya.
Mahesa Jenar nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu, lalu bagaimanakah dengan keris yang disimpan oleh Gajah Sora?
Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Gajah Sora. Tak seorang
pun yang akan dapat mengalahkan Paman Pandan Kuning kalau bukan
seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku,
pimpinan dari gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini
aku serahkan kepada Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Aku
percaya kepada Paman berdua dengan beberapa orang pasukannya.
Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat Paman, tak seorangpun
boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.
Baik Anakmas, aku akan menjaganya, jawab Wanamerta.
Siapa yang di halaman belakang? tanya Gajah Sora.
Panjawi dengan laskarnya, jawab Wanamerta.
Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti
menjadi seorang prajurit pilihan. Nah, Paman... aku akan berangkat.
Sekejap kemudian Gajah Sora mendera kudanya dan lari dengan kencangnya.
Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan
yang paling belakang adalah Mahesa Jenar dengan kuda abu-abu
yang dibawa oleh Arya tadi.
Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah
tempat kebakaran di sebelah utara Banyubiru di kaki bukit Telamaya.
Dari tempat yang agak tinggi di luar halaman, mereka dapat melihat
dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat.
Melihat nyala api itu, hati Gajah sora menjadi semakin panas.
Ia memacu kudanya lebih laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat
tenaga itu menurut perasaan Gajah Sora seperti ular yang merambat
di dedaunan. Lambat sekali.
Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai
juga di tempat pertempuran. Dari jarak yang cukup, Gajah Sora
dengan rombongannya dapat melihat arena pertempuran yang terjadi
di pinggir sebuah perkampungan.
Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di
kedua belah pihak telah jatuh beberapa orang korban.
Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Banyubiru yang dipimpin oleh
Ki Bantaran telah tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan
diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan yang sebentar itu Gajah
Sora melihat betapa kuatnya pihak lawan.
Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran
itu telah bergeser agak jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa
orang dari mereka telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak
bersalah.
Kemarahan hati Gajah Sora semakin menggelora. Karena itu setelah
ia menemukan pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu,
segera ia memberikan perintah. Lembu Sora... bawalah anak
buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus dapat
menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil
mendesak mereka, usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku
ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.
Baik Kakang, jawab Lembu Sora. Setelah itu iapun segera
pergi ke tempat yang telah ditentukan. Ia melingkar menyusup
perkampungan untuk kemudian muncul kembali menuju ke jalan kecil
di ujung sawah.
Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran
itu seolah-olah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh
ribuan obor di sekitarnya.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox
07/16/2004