Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 20 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
126
TIBA-TIBA Mahesa Jenar mendengar derap kuda yang lari sangat
kencang seperti dikejar hantu. Kuda itu tidak masuk halaman lewat
gerbang depan, tetapi menyusup melalui pintu butulan di samping.
Mahesa Jenar memalingkan mukanya dengan agak segan-segan.
Anak itu lagi, desis Mahesa Jenar. Dan muncullah dari pintu butulan pagar itu seorang anak laki-laki yang berwajah bulat dan agak gemuk menunggang kuda hitam mengkilat. Ketika anak itu melihat Mahesa Jenar, cepat-cepat ia menghentikan kudanya.
Selamat pagi Paman, sapanya sambil menyeringai.
Dari mana kau Arya? tanya Mahesa Jenar kepada anak Ki
Ageng Gajah Sora itu.
Arya Salaka itu tidak segera menjawab, tetapi dijatuhkannya sebuah
benda yang cukup berat dari punggung kuda itu. Melihat benda
itu Mahesa Jenar terkejut. Uling...? katanya.
Ya, Paman, aku dari Rawa Pening menangkap uling itu, jawabnya.
Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. Kau memang nakal
Arya. Bukankah ayahmu telah melarangmu pergi ke Rawa Pening?
Besok, kalau kau sudah bertambah besar tentu kau boleh pergi
ke sana. Tetapi sekarang belum waktunya kau pergi sendiri,
katanya.
Anak itu meloncat turun lalu mendekati Mahesa Jenar. Paman,
jangan Paman katakan kepada ayah kalau aku pergi sendiri,
bisiknya.
Lalu uling itu...? tanya Mahesa Jenar.
Arya Salaka diam termangu. Kemudian jawabnya, Aku katakan
bahwa Pamanlah yang menangkap.
Mahesa Jenar tersenyum. Hampir semalam suntuk aku bersama
ayahmu di pendapa itu. Bagaimana aku pergi menangkap uling?
katanya.
Kembali Arya Salaka kebingungan. Akhirnya ia mendapat jawaban.
Dengan tertawa ia berkata, Gampang Paman, aku akan katakan
bahwa seorang kawan memberi aku uling sebagai hadiah.
Hadiah apa? tanya Mahesa Jenar.
Aku tidak tahu, Paman. Ia menjadi kebingungan lagi.
Tetapi seharusnya kau tidak pergi ke sana, Arya. Banyak bahayanya.
Bukan saja uling-uling macam itu, tetapi uling yang tinggal di
sebelah rawa itu akan lebih berbahaya bagimu, kalau mereka tahu
bahwa kau adalah putra Ki Ageng Gajah Sora, kata Mahesa Jenar
menasehati.
Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. Uling
Putih dan Uling Kuning, maksud Paman?
Mahesa Jenar mengangguk.
Baiklah Paman, tetapi pada suatu saat aku pasti akan dapat
menangkapnya seperti menangkap uling itu.
Nah, pergilah, gantilah pakaianmu yang basah kuyup itu.
Tanpa menjawab, anak itu memutar tubuhnya lalu melangkah pergi.
Tetapi demikian Mahesa Jenar memandang punggung anak itu, ia
menjadi terkejut, sebab punggung itu terluka dan darah cair mengalir
dari luka itu.
Arya... panggil Mahesa Jenar, kenapa punggungmu
luka?
Luka...? tanya Arya keheranan. Ah tidak seberapa
Paman.
Tetapi dari luka itu banyak mengalir darah.
Arya Salaka menggosok punggungnya dengan tangannya, dan terasa
sesuatu yang cair dan hangat.
Uling itu mencoba melawan, Paman, katanya kemudian, Kami
berkelahi beberapa lama. Tetapi akhirnya aku dapat membunuhnya.
Untunglah uling itu tidak menyeretmu ke dalam rawa,
sahut Mahesa Jenar.
Kakiku dibelitnya, Paman, jawab Arya Salaka bangga. Dan memang ia mencoba menarik aku ke rawa. Tetapi tentu saja aku tidak mau. Rasa-rasanya tidak akan menarik berkunjung ke lubang uling. Karena itu aku berusaha membunuhnya dengan belati. Dan akhirnya sebagai Paman lihat sekarang, uling itu sudah mati. Kalau saja ibuku tidak tahu bahwa aku yang menangkapnya, pasti beliau senang untuk memasaknya.
Setelah berkata demikian, segera Arya meloncat dengan lincahnya
menangkap ekor uling itu lalu diseretnya ke dapur sambil berlari-lari.
Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa,
katanya kepada diri sendiri.
Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa
kagum. Arya Salaka merupakan seorang anak-anak laki-laki yang
memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh dan otaknya pun ternyata
dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air
yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Ia adalah belut raksasa. Tetapi anak ini dapat menangkapnya.
Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring.
Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah
langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat
sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat
dari papan, untuk bersembunyi.
Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya
Salaka telah lenyap. Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya,
dan pura-pura tidak mengetahui.
Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa
Jenar, Kami mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng.
Barangkali Adi Lembu Sora dapat memperkenalkan diri dengan Adi
Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. Baiklah
Nyai Ageng, sebaiknya aku mandi dulu, jawabnya.
Silakanlah Adi, katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa
Jenar kembali seorng diri.
Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga
batu yang dibuat di lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah
Sora, pergi ke mata air. Di sanalah biasanya ia mandi. Ia sama
sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora. Tetapi
sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak.
CERITA BERSAMBUNG = 21 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
127
SETELAH Mahesa Jenar selesai membersihkan diri, segera ia
pun naik ke pendapa dan langsung masuk ke pringgitan untuk menemui
Ki Ageng Lembu Sora.
Melihat kehadiran Mahesa Jenar, segera Gajah Sora memperkenalkannya
kepada Lembu Sora. Adi Lembu Sora, ini adalah Adi Mahesa Jenar,
sahabatku yang telah lama tidak bertemu, katanya.
Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, Adi Mahesa Jenar...,
Adi Lembu Sora ini adalah adikku satu-satunya yang sekarang memerintah
daerah Perdikan Pamingit. Ia datang juga hanya untuk kunjungan
kekeluargaan.
Ternyata memang Ki Ageng Lembu Sora seorang yang sombong. Ketika
Mahesa Jenar membungkukkan diri menghormatnya atas perkenalan
itu, ia mengangkat dadanya dan memandang Mahesa Jenar dengan
pandangan yang merendahkan. Kemudian ia bertanya, Sahabat,
adakah yang menarik perhatianmu, sampai kau datang dari jarak
yang sedemikian jauhnya ke Banyubiru?
Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun
Mahesa Jenar adalah tamu yang sopan, maka ia mencoba untuk tidak
mengesankan ketidaksenangannya. Maka jawabnya, Ki Ageng, memang
banyak yang menarik perhatianku di sini. Terutama keramah-tamahan
penduduknya.
Lembu Sora menarik dagunya hampir melekat dadanya. Matanya menjadi
berkilat-kilat. Rupanya ia merasakan sindiran halus yang diucapkan
oleh Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak menjawab, sebab segera Gajah
Sora yang bijaksana mengalihkan pembicaraan mereka ke hal-hal
yang tak berarti.
Namun bagaimanapun ada suatu kesan yang dalam menggores di dalam
jantung Mahesa Jenar, bahwa Ki Ageng Lembu Sora bukanlah seorang
yang baik hati. Dan sebenarnyalah bahwa memang orang ini telah
banyak memusingkan kepala ayahnya. Ki Ageng Sora Dipayana.
Andaikan Lembu Sora itu orang lain, maka mudahlah soalnya. Tetapi
ia adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora
Dipayana. Di sinilah mulanya letak kesalahannya. Nyai Ageng Sora
Dipayana dahulu terlalu memanjakan anak bungsunya, sehingga akhirnya
anak ini susah diatur. Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana tidak
mau mengecewakan istrinya, karena ia sangat menyayanginya.
Nyai Ageng Sora Dipayana adalah seorang istri yang setia,
sejak Ki Ageng masih menjadi seorang yang harus mulai segala
soal. Membuka hutan dan segala macam kerja yang harus dikerjakan
dalam suasana sakit dan pedih.
Pada keadaan yang demikian, satu-satunya orang yang bersedia
membantunya adalah almarhum istrinya itu. Karena itu, meskipun
sekarang istrinya sudah tidak ada lagi, Ki Ageng Sora Dipayana
tidak sampai hati untuk berlaku keras kepada anak kesayangan
istrinya itu.
Setelah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah cukup lama turut
serta menemui Ki Ageng Lembu Sora, segera ia minta diri untuk
pergi berjalan-jalan, melihat-lihat kota Banyubiru. Ia tidak
ingin lebih lama lagi bercakap-cakap dengan Ki Ageng Lembu Sora,
yang tampaknya tak mau menghargai orang lain. Sebab ia sendiri
bukanlah orang yang amat kuat menahan hati.
Maka setelah ia mendapat izin dari tuan rumah, segera ia turun
ke halaman dan berjalan keluar. Ia sama sekali tidak mempunyai
tujuan kecuali sekadar menuruti langkah kakinya.
Tetapi demikian ia keluar halaman, dilihatnya seorang yang
berdiri bersandar dinding. Orang ini belum pernah dikenalnya.
Beberapa orang Banyubiru yang dekat dengan Gajah Sora sudah hampir
dikenal seluruhnya. Melihat Mahesa Jenar keluar, segera orang
itu memutar tubuhnya dan berjalan perlahan-lahan menjauhi gerbang.
Mahesa Jenar menjadi agak curiga. Tetapi apakah yang akan
dilakukan di siang hari, dimana sinar matahari yang mulai terik
ini membakar seluruh halaman?
Tetapi bagaimanapun, orang itu sangat menarik perhatiannya.
Sehingga timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui maksud
orang itu.
Maka segera Mahesa Jenar pun berjalan mengikutinya dari jarak
kira-kira 50 langkah. Ia menjadi semakin curiga ketika orang
itu beberapa kali menengoknya dan mempercepat langkahnya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat bayangan yang
melayang dari sebatang pohon di pinggir jalan, langsung menyerang
orang yang diikutinya.
Ia menjadi bertambah terkejut ketika diketahuinya bahwa bayangan
itu adalah Arya Salaka yang tak diketahui sebab-sebabnya menyerang
orang yang berjalan di depan Mahesa Jenar itu.
Ternyata orang itu pun bukan orang sembarangan. Dengan tangkasnya
ia mengelakkan diri, bahkan sekaligus ia berputar sambil menyerang
dengan tumitnya. Arya Salaka, ketika tidak berhasil menyerang
orang itu dari atas pohon, rupanya menyadari bahwa lawannya berbahaya.
Karena itu ia pun segera bersiap, sehingga ketika kaki lawannya
melayang ke perutnya, ia meloncat mundur.
Demikian kaki yang tak berhasil mengenainya itu berdesing
di hadapan perutnya, Arya Salaka segera meloncat sambil menghantam
dada orang itu.
Tetapi bagaimanapun Arya Salaka adalah seorang anak yang belum
dewasa. Apalagi lawannya ternyata memiliki kecepatan bergerak,
sehingga demikian Arya Salaka meloncat, demikian ia masuk ke
dalam perangkap lawannya. Tangannya yang terjulur untuk menyerang
itu dapat ditangkap dan dengan sekali gerak tangan itu dipilinnya.
Tetapi Arya Salaka ternyata cerdik juga. Ia mengikuti saja putaran
tangannya, tetapi demikian ia membelakangi orang itu demikian
cepat ia menendangnya.
Orang itu sama sekali tidak mengira bahwa anak-anak itu dapat
berbuat demikian, sehingga karena hal yang sama sekali tak terduga-duga
itu ia terlontar ke belakang dan tangkapannyapun lepas.
Rupanya orang itu menjadi marah sekali. Matanya tampak berapi-api dan dengan tidak ragu-ragu lagi ia pun meloncat maju menghantam Arya Salaka. Gerakan itu demikian cepatnya sehingga Arya Salaka tidak sempat mengelak. Maka yang dapat dikerjakan hanyalah menangkis pukulan itu.
CERITA BERSAMBUNG
NAGASASRA dan SABUK INTEN
128
BAGAIMANAPUN kuatnya, Arya Salaka adalah seorang anak yang sama sekali tak seimbang dengan lawannya. Maka demikian tangannya yang disilangkan di muka kepalanya itu terbentur tangan lawannya, ia terpental jauh dan hampir saja kepalanya membentur dinding halaman. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cepatnya meloncat dan menangkap Arya Salaka.
Arya Salaka berdesis menahan sakit. Tangannya terasa panas seperti
terbakar. Tetapi meskipun demikian ia masih saja akan meloncat
maju kalau tidak ditahan oleh Mahesa Jenar, sehingga ia meronta-ronta
berusaha melepaskan pegangan itu.
Lepaskan..., lepaskan aku Paman, teriak Arya Salaka.
Orang yang diserangnya itu rupanya juga benar-benar marah. Lepaskan
anak kurangajar itu, biar aku pecahkan kepalanya, katanya.
Tunggu dulu Arya.... Apakah sebabnya kau menyerang orang itu?
tanya Mahesa Jenar perlahan-lahan.
Ia berjalan hilir-mudik dan mengintai-intai rumah kami. Mungkin
ia seorang penjahat yang akan memasuki rumah kami ini, jawabnya.
Tutup mulutmu! hardik orang itu.
Tutup sendiri mulutmu, balas Arya Salaka. Selama ini,
di kota ini tidak ada orang yang bertingkah laku seperti kau.
Tak pernah kota ini ada kejahatan seperti kota-kota lain. Dan
kau aku kira bukan orang Banyubiru, yang datang untuk membuat
onar di sini.
Mendengar makian Arya Salaka, orang itu tak dapat menahan diri
lagi. Karena itu ia melangkah maju dan dengan tangannya yang
kuat ia menampar muka Arya Salaka.
Tetapi Arya Salaka sudah berada di tangan Mahesa Jenar. Karena itu sudah pasti kalau Mahesa Jenar tidak akan membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Maka ketika tangan itu sudah terayun, Mahesa Jenar memutar tubuhnya dan memasang sikunya, sehingga tangan orang itu mengenai siku Mahesa Jenar.
Mengalami perlakuan Mahesa Jenar, orang itu menjadi semakin marah.
Apamukah anak ini...? Anakmu...? Kalau begitu kau tak pandai
mengajar anakmu sehingga anakmu kurangajar, bentaknya.
Tunggu dulu... jawab Mahesa Jenar, Jangan berlaku kasar
terhadap anak-anak. Memang barangkali anak ini terlalu nakal,
tetapi biarlah orang tuanya yang mengajarnya. Seharusnya kau
melaporkan saja kepada ayah bundanya. Sedang kau sendiri, memang
dapat menimbulkan sangkaan yang bukan-bukan. Sikapmu agak mencurigakan.
Wajah orang itu menjadi merah padam. Kata-kata Mahesa Jenar sangat
menusuk perasaannya. Karena itu, hampir berteriak ia kembali
membentak, Apa hakmu berkata demikian. Adakah kau pengawal
kota atau Kepala Daerah Perdikan ini?
Aku bukan apa-apanya, jawab Mahesa Jenar, masih setenang
tadi. Tetapi tiap-tiap warga kota ini berhak turut serta menjaga
keamanan kotanya. Dan bukankah kau bukan penduduk Banyubiru?
Mata orang itu menjadi semakin berapi-api. Tetapi rupanya ada
sesuatu pertimbangan yang menahannya untuk tidak berbuat sesuatu.
Akhirnya ia berkata lantang, Tak ada gunanya aku melayani
orang-orang gila macam kau dan anak itu.
Lalu ia memutar tubuhnya, dan melangkah pergi. Tetapi kali ini
Mahesa Jenar yang kemudian tidak membiarkan orang itu pergi.
Ia segera menahannya.
Nanti dulu, bukankah kau bermaksud melaporkan anak ini kepada
ayahnya. Nah, marilah aku antar kau kepadanya. Ayah anak ini
adalah Ki Ageng Gajah Sora, kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, segera wajah orang itu berubah.
Sebentar kemudian nampak ia menjadi pucat dan gemetar. Tetapi
sebentar kemudian kembali wajahnya menyala-nyala. Kemudian kembali
ia melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Melihat sikapnya, Mahesa Jenar bertambah curiga. Segera Arya
Salaka dilepaskan dan didorongnya ke pinggir, sedangkan ia sendiri
segera meloncat untuk menghadang orang yang dicurigainya itu.
Tunggu dulu... urusan kita belum selesai, katanya.
Terdengar gigi orang itu gemeretak menahan marah. Sikap Mahesa
Jenar dirasa sudah keterlaluan. Meskipun demikian ia masih berusaha
untuk menghindari bentrokan. Tidak ada persoalan diantara
kita, sebaiknya kau jangan memulainya, kata orang itu.
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu segera tertarik dan
mengerumuninya. Mereka mengenal Mahesa Jenar sebagai sahabat
Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa orang diantara mereka bertanya-tanya,
apakah yang terjadi...?
Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Arya Salaka telah mendahului
berceritera dengan suara yang mengalir seperti air terjun.
Orang itu menjadi semakin gelisah, wajahnya kembali menjadi pucat.
Jangan dengarkan omongan anak itu. Sekarang beri aku jalan,
katanya.
Ki Sanak... potong Mahesa Jenar, kenapa kau begitu
tergesa-gesa. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu kepada penduduk
Banyubiru ini supaya mata mereka tidak menyorotkan pandangan
kecurigaan.
CERITA BERSAMBUNG = 23 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
129
ORANG itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya
karena putus asa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan
tempat itu begitu saja. Matanya berubah menjadi liar dan mencari
tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos untuk
melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah
sengaja mengepungnya rapat-rapat.
Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba
ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan
suara yang parau ia berteriak, Minggir, atau aku terpaksa
membunuh kalian.
Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya
surut ke belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang
Banyubiru bukanlah sebangsa penakut. Kalau mereka mundur hanyalah
supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat. Apalagi Mahesa
Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.
Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya, kata Mahesa Jenar sambil tersenyum.
Diam...! teriak orang itu semakin putus asa. Pergi
kau, atau biarkan aku pergi.
Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus.
Melihat orang itu mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak
pula. Mereka masih belum tahu sampai di mana kemampuan bertindak
Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru merasa perlu untuk
melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri
di tempatnya.
Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman.
Mereka ternyata Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan
beberapa pengiringnya. Ketika mereka mendengar ribut-ribut di
luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya Salaka
telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya.
Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika
mereka melihat kepala daerah mereka datang. Melihat orang-orang
berdatangan, orang yang mencurigakan itu menjadi semakin pucat,
dan semakin kebingungan.
Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika
Ki Ageng Lembu Sora melihat orang itu, matanya menjadi merah
menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira bahwa Lembu Sora
secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat
menikam perut orang itu.
Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora? katanya.
Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat
mencegahnya.
Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya
memegang perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas
jatuh. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, sedang wajahnya
memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak terhingga. Ia memandangi
Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari sela-sela
jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang
menjadi putih itu bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun
terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan tak bernafas lagi.
Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa
orang yang menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu.
Mereka semua sudah mengenal bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng
Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa
adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang
yang belum jelas kesalahannya.
Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang
senang atas tindakan Lembu Sora.
Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora, kata Gajah
Sora.
Maafkan aku Kakang.... jawab Lembu Sora. Aku terlalu tidak dapat menahan hati terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk.
Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa
orang untuk mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang
lain supaya mencari keluarganya, apabila mungkin.
Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora
serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja
berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan
jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi
ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama.
Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu
tertarik ke bawah bagian-bagian tepinya, menunjukkan bahwa ia
benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh
orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan
sekaligus seperti tak terjadi apa-apa.
Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan
yang kasar sekali. Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain.
Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu alasan untuk membunuh.
Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada sebab-sebab
lain...?
Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang biasanya. Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya, bisiknya kepada Mahesa Jenar.
Sudahlah, Arya... lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah
aku melihat kau berkelahi. Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi
sudah terbentur dinding, jawabnya.
Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan
dilakukan orang itu, Paman, katanya. Kelakuannya nampak
aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan kepada siapapun.
Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya? tanya Mahesa
Jenar.
Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal
semua orang di kota ini, jawabnya.
CERITA BERSAMBUNG = 24 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
130
MAHESA JENAR merenung sejenak. Lalu katanya, Sudahlah,
lupakan itu. Marilah kita sekarang berjalan-jalan. Barangkali
kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah aku lihat.
Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali
ini ia pergi bersama Arya Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa
Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.
Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa,
kata Arya Salaka.
Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya,
jawab Mahesa Jenar.
Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di
sana bantah Arya Salaka.
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak
mempunyai tujuan. Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar
adalah sama saja.
Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat
melihat hampir seluruh dataran. Tanah-tanah yang subur dengan
padinya tampak seperti permadani kuning yang dibentangkan di
bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening
berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.
Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerak-gerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.
Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu? tanya Mahesa
Jenar kepada Arya Salaka.
Yang mana Paman? tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam
pandangan matanya.
Di sebelah selatan rawa itu, jawab Mahesa Jenar.
Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula.
Ya..., aku melihatnya, Paman, katanya.
Kau tahu, apakah itu kira-kira? tanya Mahesa Jenar.
Arya mengerinyitkan alisnya. Entahlah, jawabnya.
Itu adalah orang-orang berkuda, kata Mahesa Jenar.
Orang-orang berkuda? tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik.
Di sini memang sering ada orang-orang berkuda. Tetapi yang
bergerombol demikian adalah jarang sekali. Berapa orang kira-kira
mereka, Paman?
Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, Ya, antara
sepuluh orang.
Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya.
Maka berkatalah ia, Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka
itu.
Mahesa Jenar tersenyum. Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?
Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana,
Arya menjelaskan maksudnya.
Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja
menghambur lari menuruni tebing.
Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya.
Memang sebenarnya ia pun tertarik pada rombongan orang-orang
berkuda yang datang dari arah timur itu.
Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya,
ia melihat Arya sudah menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang
seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna
abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya menyerahkan
kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.
Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman, kata
Arya sambil meloncat ke atas punggung kudanya. Kemudian tanpa
menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu kudanya. Mahesa Jenar
segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, Memang anak
ini nakal sekali.
Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan
perbukitan, dan segera mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening.
Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung
di terik matahari. Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di
belakang menghapus wajahnya, yang rasanya bertambah tebal oleh
debu yang melekat.
Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan
mereka debu yang berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat
kudanya sampai Mahesa Jenar berjalan di sampingnya.
Itukah mereka Paman? tanya Arya Salaka.
Ya, itulah mereka, jawab Mahesa Jenar.
Lalu apa yang akan kami lakukan? tanya Arya lagi.
Terserahlah kepadamu, jawab Mahesa Jenar tersenyum. Bukankah
aku hanya mengikutimu?
Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat,
apakah yang mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya
hanyalah suatu keinginan untuk mengetahui semata-mata. Sesudah
itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi bingung mendengar
jawaban Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, Arya, lain
kali pikirkan dahulu sebelum kau bertindak, supaya kau tidak
mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang aku kau bawa ke dalam
suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam
hati. Tetapi ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera
ia berkata hampir berteriak Paman, jangan Paman mengganggu.
Aku sudah kebingungan.
Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga
kembali Arya bertanya, Aku akan tidak berbuat lagi Paman.
Tetapi bagaimana sekarang?
Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka
katanya, Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau
kita berjalan berpapasan? Apa halangannya?
Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi
geli sendiri. Katanya dalam hati, Ya kenapa aku bingung. Bukankah
benar kata Paman Mahesa Jenar itu...?
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox