Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 15 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH MIntarja
121
MUNGKIN, sahut orang yang ternyata adalah Titis Anganten. Sebab kedatangannya belum seberapa lama. Ketika aku ketahui bahwa alas Lodaya kosong, segera aku pergi ke Gunung Tidar. Ketahuilah bahwa orang itulah yang sebenarnya bernama Sima Rodra. Ia adalah ayah dari isteri Sima Rodra yang sekarang. Dan terkaanku adalah tepat. Ia pergi mengunjungi anak perempuannya di Gunung Tidar. Beberapa lama aku terpaksa mengeram mengawasinya. Jadi aku dapat melihat seluruhnya yang terjadi di muka goa Sima Rodra. Aku dapat melihat kedatangan kalian dari arah yang berbeda. Dan aku terpaksa membantu ketajaman sirep yang kau sebarkan, sebab Sima Rodra itupun telah mencoba melawannya. Dan karena kami lakukan berdua, maka sirep kamipun menang. Untunglah bahwa Sima Rodra berdua itu berlari ke dalam pintu rahasia, sehingga ayahnya memerlukan waktu untuk keluar melalui lobang yang lain sehingga ia baru dapat menyusul kalian sekarang ini. Dan agaknya karena kedatangannya itu ingin dirahasiakan, dan karena kepercayaannya kepada anaknya, ia tidak merasa perlu untuk membantu, lanjut Titis Anganten.
Persoalannya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora.
Ternyata ketika mereka tertidur nyenyak, mereka telah dibangunkan
oleh Titis Anganten. Itulah sebabnya mereka merasa seperti dilempar
dengan batu. Dan apa yang mereka hasilkan sekarang, sebagian
adalah karena jasa orang itu pula.
Karena itu, sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga.
Tetapi... sampai sekarang aku masih belum mengenal nama-nama
kalian. Siapakah namamu anak muda? tanya Titis Anganten kepada
Mahesa Jenar.
Namaku Mahesa Jenar, Tuan. Sebagai seorang prajurit aku
disebut Ronggo Tohjaya, jawab Mahesa Jenar.
Titis Anganten mengangguk-angguk. Sudah lama sekali aku
tak bertemu dengan Kakang Pengging Sepuh, sehingga aku belum
mengenal nama murid-muridnya.
Sedang apa yang kau lakukan terhadap lawan-lawanmu dengan Sasra
Birawa yang terkenal itu, kau benar-benar mengingatkan aku kepada
gurumu. Kelak kalau telah mengendap benar-benar dan dapat menguasai
setiap saluran nafasmu dengan baik, maka dapat diharapkan bahwa
kau setidak-tidaknya akan dapat menyamai gurumu. Hanya sayang
bahwa gurumu itu tidak lagi berkesempatan menuntunmu lebih lama
lagi, sehingga kau harus berjuang sendiri untuk mencapai kesempurnaan,
kata Titis Anganten kepada Mahesa Jenar.
Kemudian Titis Anganten bertanya kepada Gajah Sora, Ilmumu
Lebur Seketi ternyata sedikit lebih masak dari Mahesa Jenar.
Siapakah namamu?
Aku bernama Gajah Sora, Tuan, jawab Gajah Sora.
Titis Anganten mengernyitkan alisnya. Namamu mirip dengan
nama gurumu. Mungkin kau tidak saja muridnya. Menilik wajahmu
yang mirip dengan wajah Kakang Sora, aku sejak tadi sudah mengira
bahwa kau adalah anaknya, katanya kemudian.
Benar Tuan... aku adalah anaknya yang sulung, jawab
Gajah Sora.
Kembali Titis Anganten mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin
karena gurumu yang bahkan ayahmu masih selalu dapat mendampingimu
itulah maka ilmumu agak lebih masak sedikit dari Mahesa Jenar.
Tetapi bagaimanapun aku telah dapat menyaksikan suatu pertunjukan
yang luar biasa. Sasra Birawa beradu dengan Lebur Seketi. Dua
macam ilmu yang tak ada bandingnya, lanjutnya.
Mendengar pujian itu, Mahesa Jenar dan Gajah Sora agak canggung
pula.
Nah sekarang sarungkan pusaka-pusaka itu, kata Titis Anganten
lebih lanjut.
Kata-kata itu telah menyadarkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar bahwa
sejak tadi kedua pusaka keramat itu masih saja digenggamnya erat-erat.
Karena itu maka setelah diungkupkan di atas kepala masing-masing,
keris itu kemudian disarungkan kembali.
Sekarang..., kata Titis Anganten melanjutkan, untuk
sementara kalian akan aman. Macan Ireng itu pasti tidak akan
mengganggumu lagi. Tetapi untuk seterusnya kau harus berhati-hati.
Sebab ilmunya yang dinamainya Macan Liwung itu tak kalah pula
dahsyatnya. Mungkin ilmu itu masih belum diturunkan kepada anak
atau menantunya. Tetapi dengan kejadian-kejadian ini tidak mustahil
bahwa ia akan menurunkan ilmunya itu segera untuk mendapat tenaga-tenaga
yang akan membantunya melawan angkatan tua dan kalian. Akibatnya,
pastilah besar. Apalagi kalau Sima Rodra itu menghubungi sahabat-sahabatnya.
Misalnya Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme.
Mungkin juga dengan Ki Pasingsingan dari Mentaok, sela
Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu tampaklah Titis Anganten
agak terkejut. Tetapi akhirnya ia menjawab juga, Ya... Tuan,
Pasingsingan, guru Lawa Ijo di Mentaok.
Ah, barangkali kau keliru Mahesa Jenar, kata Titis Anganten,
Tidakkah gurumu sering mengatakan kepadamu bahwa Pasingsingan
itu termasuk salah seorang dari kami?
Benar, Tuan, Mahesa Jenar menjelaskan. Tetapi ternyata
ia telah mengambil seorang murid yang terkenal dengan sebutan
Lawa Ijo, yang termasuk dalam golongan hitam.
Kembali wajah Titis Anganten berubah. Rupanya ia tidak menyetujui
keterangan Mahesa Jenar. Siapakah yang mengatakan itu kepadamu?
tanyanya.
Aku pernah melukai Lawa Ijo itu dengan Sasra Birawa,
jawab Mahesa Jenar. Hal itu terpaksa aku lakukan karena Lawa
Ijo mempergunakan cincin bermata akik yang merah menyala dan
beracun.
Pada saat itulah muncul Pasingsingan yang akan membunuhku. Untunglah
bahwa pada saat itu hadir pula Ki Ageng Pandan Alas, meskipun
tidak menampakkan diri.
Pandan Alas? potong Titis Anganten. Dan tiba-tiba wajahnya
menjadi terang oleh suatu kesan yang lucu terhadap Pandan Alas.
Ya, Ki Ageng Pandan Alas telah memberikan tanda-tanda kehadirannya
dengan sebuah tembang Dandanggula, sambung Mahesa Jenar.
Ah, masih saja orang tua itu senang pada tembang. Masihkah
suaranya baik dan nadanya tidak sumbang?
Terdengarlah Titis Anganten tertawa lirih. Bagus-bagus, orang
tua jenaka itu rupanya masih akan panjang umur. Tetapi bagaimana
dengan Pasingsingan?
CERITA BERSAMBUNG = 16 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
122
MENDENGAR pertanyaan itu segera Mahesa Jenar menjawab, Orang
itu memakai kedok kayu yang kasar.
Betul..., kau betul. Pasingsingan itu mungkin berwajah bopeng sehingga ia malu menampakkan wajahnya. Kami sahabat-sahabatnya pun belum pernah mengenal wajahnya yang asli. Dan batu merah yang disebutnya akik Kelabang Sayuta itu benar-benar miliknya. Tetapi..., Titis Anganten berhenti sebentar, lalu melanjutkannya, Aneh kalau ia termasuk aliran hitam.
Menurut Ki Ageng Pandan Alas, beliau meragukan keaslian Pasingsingan
itu, sahut Mahesa Jenar.
He...? kembali Titis Anganten terkejut. Mungkin..., mungkin. Tetapi setan mana yang berani mengaku Pasingsingan itu? Pasti ia termasuk dalam tingkatan orang tua itu pula. Kalau tidak, barangkali umurnya tidak akan lebih dari satu hari saja.
Titis Anganten berhenti berbicara. Tampaklah ia sedang berpikir.
Lalu tiba-tiba katanya, Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, pulanglah kalian. Sebaiknya Kakang Sora Dipayana segera diberi tahu mengenai kehadiran Sima Rodra. Perkara Pasingsingan biarlah diurus oleh Pandan Alas, yang sudah tidak punya urusan apa-apa lagi kecuali bertanam jagung. Ya, memang ia suka menanam jagung sejak muda. Itulah pokok makanannya. Ia sama sekali tidak pernah makan beras.
Kemudian terdengarlah Titis Anganten itu tertawa. Lalu sambungnya,
Kalau Kakang Sora Dipayana sudah tahu, selesailah tugasku.
Aku ingin melanjutkan perjalanan ke barat, mumpung aku sudah
sampai di sini. Aku ingin mengunjungi Kakang di Gunung Slamet.
Tetapi tidakkah Tuan hendak singgah di rumahku? sahut Gajah Sora. Dan mungkin Tuan akan dapat bertemu dengan ayah. Barangkali pertemuan itu dapat menggembirakan ayah.
Titis Anganten menggelengkan kepalanya. "Pertemuan semacam
itu selalu menjadi pembicaraan orang. Apalagi di daerah yang
sedang ribut ini. Katakanlah bahwa aku akan datang besok kalau
aku akan pulang ke Banyuwangi. Ketahuilah bahwa di sini segala
sesuatu tak dapat dirahasiakan kalau kita tidak melakukannya
dengan sembunyi-sembunyi. Sekarang, aku sudah lelah setelah bersembunyi
beberapa hari mengintip Sima Rodra. Nah selamat berpisah. Salam
buat ayahmu Gajah Sora, katanya.
Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak sempat lagi untuk
mengatakan sesuatu, sebab segera Titis Anganten melangkah pergi
menyelinap diantara dedaunan, dan hilang ditelan gelap. Tinggallah
kini Gajah Sora dan Mahesa Jenar, yang segera teringat kepada
pekerjaannya. Karena itu segera mereka pun melanjutkan perjalanan.
Makin cepat mereka sampai ke Banyubiru, makin amanlah keris yang dipertaruhkannya itu.
Sampai di Sarapadan, segera mereka memotong jalan ke Bergota.
Mereka berjalan dengan cepat tanpa berhenti. Sebab bagaimanapun
kemungkinan Sima Rodra akan menyusul mereka masih tetap ada,
meskipun Titis Anganten telah mengatakan bahwa untuk sementara
mereka dapat merasa aman.
Demikianlah mereka berjalan tanpa berhenti, sehingga pada hari
berikutnya, ketika matahari sudah condong ke barat, mereka dengan
selamat sampai ke Banyubiru.
Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah segera berhenti memandang
ke arah Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Bahkan beberapa orang datang
berlari-lari menyambut kepala daerah perdikan mereka.
Segera jalan-jalan yang akan mereka lewati menjadi ramai. Mereka
menyambut dengan tulus dan bangga atas kepala daerah mereka,
yang mereka taati. Tetapi tak seorangpun dari mereka yang mengetahui
bahwa kepala daerah mereka itu baru saja menyelesaikan suatu
pekerjaan yang hampir membawa nyawanya.
Beberapa orang yang berdiri di tepi jalan itu bersorak-sorak
ramai sekali, tetapi ada pula yang berbisik, Dari manakah
Ki Ageng Gajah Sora itu...? Dan siapakah kawan seperjalanannya
itu...?
Tampaklah kesibukan yang luar biasa. Hal ini disebabkan tak
seorang pun dari penduduk Banyubiru yang mengetahui bahwa Ki
Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan kota. Tiba-tiba mereka melihat
Ki Ageng Gajah Sora telah kembali.
Mahesa Jenar menyaksikan sambutan rakyat yang meriah itu dengan
hati yang berdebar-debar. Tampaklah betapa Ki Ageng Gajah Sora
memiliki sifat kepemimpinan yang tinggi, sehingga rakyatnya sangat
mencintainya.
Di kiri kanan jalan, di balik pagar manusia yang menyambutnya,
tampaklah halaman-halaman yang luas-luas dan bersih. Dan di atas
halaman-halaman itu berdiri rumah-rumah yang besar dan bagus.
Hal itu memberi pertanda bahwa Banyubiru tergolong daerah yang
bercukupan.
Apalagi ketika Mahesa Jenar menyaksikan bahwa pada umumnya lumbung-lumbung mereka sama sekali tak berdinding, malahan ada yang bentuknya hanya seperti payung yang berdaun lebar. Maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa daerah itu merupakan daerah yang aman dan makmur.
CERITA BERSAMBUNG = 17 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
123
BANYUBIRU terletak di lambung bukit Telamaya di kaki Gunung
Merbabu sebelah utara. Di hadapannya terbentang dataran tinggi
yang dibagi dalam dua jenis tanah. Di sebelah barat merupakan
tanah persawahan yang subur, sedang di sebelah timur terdapat
sebuah rawa yang besar. Kemudian di bagian utara dari rawa-rawa
itu ditumbuhi pohon-pohon liar yang lebat, disambung dengan hutan-hutan
belukar.
Di dalam hutan-hutan belukar yang berawa-rawa itulah bersembunyi
gerombolan Uling yang terkenal dengan nama Sepasang Uling dari
Rawa Pening. Daerahnya merupakan daerah yang sangat sulit dicapai.
Meskipun demikian, Sepasang Uling itu telah membuat sendiri jalan
rahasia menuju ke sarangnya.
Bagi rakyat Banyubiru, sawah serta Rawa Pening itu merupakan
sumber penghasilan yang utama. Rawa Pening terkenal banyak sekali
menyimpan ikan-ikan rawa yang besar-besar.
Sehingga dengan demikian penghidupan mereka agak dapat terjamin
pula. Sedangkan gerombolan Uling itu, sama sekali tidak berani
mengganggu mereka, sebab di bawah pimpinan Ki Ageng Gajah Sora,
rakyat Banyubiru merupakan rakyat yang kuat lahir dan batinnya.
Demikianlah maka Ki Ageng Gajah Sora di sepanjang jalan melambai-lambaikan
tangannya untuk menyambut sorak-sorai rakyatnya. Tiada lama berselang,
terdengarlah derap beberapa ekor kuda yang datang dari arah depan.
Dan muncullah dari kelokan jalan, beberapa orang berkuda menyongsong
kedatangan Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Demikian kuda-kuda itu mendekati Ki Ageng Gajah Sora, meloncatlah
seorang yang bertubuh agak pendek dan gemuk dari atas kudanya.
Wajahnya, meskipun sudah ditandai dengan garis-garis umur, tetapi
tampak kekanak-kanakan dan jenaka. Kecuali kuda yang dinaikinya,
orang itu masih menuntun seekor kuda lagi yang berwarna putih,
sudah lengkap dengan pelananya.
Ketika yang lain melihat orang itu meloncat turun, maka berloncatan
pulalah mereka dari atas kuda-kuda mereka.
Maka berkatalah orang yang pendek gemuk itu dengan suara berderai,
Anakmas Gajah Sora, hampir Rawa Pening aku suruh aduk untuk
mencari Anakmas, kalau-kalau sedang mandi di sana. Bahkan Gunung
Gajahmungkur itu aku suruh balikkan, mungkin Anakmas terselip
di dalamnya. Sungguh pandai Anakmas membikin orang tua bingung.
Kemanakah Anakmas selama beberapa hari ini?
Ki Ageng Gajah Sora tersenyum. Tetapi tak sesuatu yang Paman
lakukan. Untunglah aku selamat, jawabnya.
Alis orang tua yang sudah memutih itu bergerak-gerak. Aku sudah memerintahkan. Tetapi Nyi Ageng melarangnya. Katanya aku disuruh menunggu sampai seminggu ini. Kalau tidak, Nyi Ageng sendiri akan memberi perintah untuk mencari Anakmas, katanya.
Kembali Gajah Sora tersenyum. Dan sekarang aku sudah kembali,
Paman.
Kembali orang tua itu berkata, Aku memang sudah mendapat kesimpulan,
bahwa Anakmas pergi untuk sesuatu tugas yang tak seorang pun
boleh mengetahui, kecuali Nyi Ageng. Kalau tidak, pastilah Nyi
Ageng Gajah Sora sudah ribut sejak semula.
Lalu terdengarlah suara orang itu tertawa berderai. Karena
itu aku tidak berusaha lagi untuk mencari Anakmas. Dan sekarang
Anakmas sudah pulang dengan selamat bersama-sama seorang yang
belum aku kenal, sambungnya.
Lalu membungkuklah orang itu kepada Mahesa Jenar. Bolehkah
aku memperkenalkan diri Anakmas...? Namaku Wanamerta, tanya
orang itu sambil memperkenalkan diri.
Mahesa Jenar membalas hormat orang tua itu. Aku bernama
Mahesa Jenar, yang oleh kebaikan hati Ki Ageng Gajah Sora, aku
mendapat kehormatan singgah di Banyubiru.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada
Ki Ageng Gajah Sora, Anakmas Gajah Sora, karena aku tidak
tahu bahwa Anakmas datang berdua, maka aku hanya membawa seekor
kuda untuk Anakmas. Maka baiklah kalau Anakmas Mahesa Jenar ini
mempergunakan kudaku saja untuk bersama-sama dengan Anakmas Gajah
Sora.
Lalu Paman...? tanya Gajah Sora.
Biarlah aku memakai salah satu dari kuda anak-anak itu,
jawabnya.
Maka dipersilahkannya Mahesa Jenar mempergunakan kuda Wanamerta yang berwarna abu-abu agak kemerah-merahan, sedang Gajah Sora mempergunakan kudanya sendiri yang berwarna putih.
Meskipun mereka sekarang berkuda, tetapi mereka berjalan perlahan-lahan
juga, sebab masih saja orang-orang menyambut mereka di kiri kanan
jalan.
Setelah beberapa lama mereka berjalan diantara rakyat Banyubiru,
sampailah iring-iringan berkuda itu ke sebuah lapangan luas,
yang di tengah-tengahnya tumbuh sepasang pohon beringin. Lewat
tengah-tengah lapangan yang tak lain adalah Alun-alun Banyubiru,
mereka menuju ke sebuah rumah besar yang berpendapa luas dan
bertiang ukir-ukiran. Itulah tempat kediaman Ki Ageng Gajah Sora.
Di muka pendapa itu telah banyak orang berjajar-jajar menanti.
Diantara mereka berdiri seorang perempuan. Ketika iring-iringan
itu sampai di muka pendapa, segera Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa
Jenar turun dari kuda, dan berjalan ke arah para penyambut.
Sampai di muka tangga, perempuan itu segera mengambil siwur
dan mencuci kaki Ki Ageng Gajah Sora. Orang itulah Nyi Ageng
Gajah Sora.
Setelah Nyi Ageng Gajah Sora mencuci kaki suaminya maka dipersilahkan
Mahesa Jenar mencuci kakinya, dan seterusnya berganti-ganti dengan
mereka yang turut serta menjemput kedatangan Gajah Sora dan Mahesa
Jenar. Setelah itu Gajah Sora suami-istri bersama-sama dengan
Mahesa Jenar langsung menuju ke Pringgitan.
Mereka jadi tertegun sejenak ketika mereka melihat di dalam
Pringgitan itu duduk seorang yang telah lanjut usianya, berkain
kotak-kotak dan berbaju lurik hijau bergaris-garis besar. Dari
wajahnya memancar keagungan pribadinya yang berwibawa.
Melihat orang itu, segera Gajah Sora berlutut sebagai pernyataan bakti dari seorang putra kepada ayahnya. Orang itulah Kiai Ageng Sora Dipayana.
CERITA BERSAMBUNG = 18 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
124
MAHESA JENAR pun segera membungkuk hormat. Ia sudah pernah
bertemu dengan Ki Ageng Sora Dipayana itu di Pangrantunan. Bahkan
ia banyak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mendapatkan Kiai
Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun harus melalui suatu ujian,
bertempur melawan Gajah Sora.
Tetapi orang yang sama itu, sekarang nampak jauh berbeda dengan
yang pernah ditemuinya di Pangrantunan dahulu. Kalau saja ia
tidak mengenal jenggotnya yang panjang, rambutnya serta alisnya
yang telah memutih seluruhnya, juga tidak di rumah Ki Ageng Gajah
Sora, maka besarlah kemungkinan bahwa ia sudah tidak dapat mengenal
lagi.
Melihat kedatangan anaknya serta Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Setelah Mahesa Jenar dan Gajah Sora suami-istri mengambil tempat duduk di atas sebuah tikar pandan di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana, berkatalah orang tua itu, Selamatlah kedatangan kalian setelah menunaikan kewajiban kalian yang berat.
Maka berceriteralah Gajah Sora atas segala pengalaman-pengalaman
mereka berdua selama mereka berusaha untuk menemukan kedua keris
pusaka dari Demak itu. Dan yang terakhir diceritakan pula kehadiran
Sima Rodra dari Alas Lodaya yang berusaha untuk merebut kembali
kedua keris itu. Juga diceriterakan bahwa mereka mendapat pertolongan
Pendekar Sakti dari Banyuwangi. Mendengar cerita Gajah Sora itu
Ki Ageng Sora Dipayana mengernyitkan alisnya yang sudah putih.
Tampaklah bahwa orang tua itu sedang sibuk berpikir.
Kau memang beruntung Gajah Sora, bahwa Titis Anganten sempat
membebaskan engkau dari tangan Sima Rodra itu. Kalau saja Pendekar
Banyuwangi itu tidak menyaksikan pertemuanmu dengan Sima Rodra,
kau berdua meskipun mempergunakan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten
maka tidak ada kemungkinan kau berdua dapat membebaskan diri
dari padanya. Kalau hal itu terjadi maka kesalahan yang terbesar
adalah terletak di pundakku. Aku terlalu menyisihkan diri dan
yang terakhir terlalu sibuk dengan urusan-urusan kecil di Pangrantunan
sehingga aku tidak tahu atas kedatangan Harimau Hitam itu. Dan
yang pasti Pandan Alas pun masih belum tahu akan hal itu, sebab
kalau ia tahu maka setidak-tidaknya ia akan mencegah Mahesa Jenar
mendekati Gunung Tidar, ujar Ki Ageng Sora Dipayana.
Kemudian kembali Ki Ageng Sora Dipayana itu merenung. Mungkin
ia sedang memecahkan cara untuk mengusir Sima Rodra itu dari
Gunung Tidar.
Tetapi Sima Rodra bukanlah seorang yang dapat diremehkan.
Ia mempunyai kesaktian yang setingkat dengan Ki Ageng Sora Dipayana,
Ki Ageng Pandan Alas, Pasingsingan dan sebagainya.
Tetapi bagaimanapun, dengan diketahuinya bahwa Sima Rodra
ada di Bukit Tidar merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan.
Sebab dengan demikian dapatlah diadakan persiapan-persiapan seperlunya
untuk menghindari kemungkinan kemungkinan yang tidak diharapkan.
Baiklah Gajah Sora..., kata Ki Ageng Sora Dipayana kemudian. Urusan Sima Rodra serahkan saja padaku. Itu merupakan soal orang tua-tua. Sekarang yang penting simpanlah Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tempat yang baik, sehingga keduanya aman sampai dapat kalian serahkan kepada kalangan Istana, jagalah bahwa hal itu merupakan rahasia sehingga tak seorangpun, meskipun orang dalam, boleh mengetahuinya, juga adikmu Lembu Sora.
Maka segera Ki Ageng Gajah Sora melaksanakan petunjuk-petunjuk
ayahnya. Disimpannya Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten di dalam
ruang tidurnya.
Setelah itu, setelah semuanya dilaksanakan dengan baik, segera
Ki Ageng Sora Dipayana minta diri. Gajah Sora yang telah mengetahui
tabiat ayahnya, sama sekali tidak menahannya. Sebab ia tahu betul
bahwa apa yang dilakukan ayahnya sebagian besar adalah atas perhitungannya
yang tepat.
Karena itu maka diantarkannya Ki Ageng Sora Dipayana itu sampai
ke halaman belakang, bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Dan pergilah
orang tua itu tanpa ada yang mengetahuinya, kecuali mereka bertiga.
Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera pergi ke pendapa,
menemui orang-orang yang sudah lama menanti untuk mendengarkan
kemana Gajah Sora selama ini pergi. Tetapi apa yang dikatakan
Gajah Sora hanya sekadar memuaskan hati mereka, sedangkan kepentingan
yang sebenarnya sama sekali tak disinggung-singgung.
Meskipun demikian pembicaraan itu ternyata menarik juga. Pertanyaan-pertanyaan
datang bertubi-tubi, yang kadang-kadang memang agak merepotkan.
Tetapi dengan sedikit berputar balik, akhirnya puaslah semua
orang.
Maka setelah pertemuan itu berlangsung beberapa saat, segera
Gajah Sora dan tamunya minta waktu untuk beristirahat, sehingga
sesaat kemudian bubarlah pertemuan itu.
Gajah Sora kemudian mempersilahkan tamunya untuk beristirahat
di Gandok sebelah timur dimana sudah disediakan ruangan untuk
Mahesa Jenar. Disana ia akan tinggal untuk beberapa waktu, memenuhi
permintaan Ki Ageng Gajah Sora.
Keluarga Gajah Sora seluruhnya hanyalah terdiri dari tiga orang
kecuali pembantu-pembantunya.
Gajah Sora dan istrinya yang ramah selalu melakukan kewajibannya
dengan baik selaku seorang istri kepala Daerah Perdikan. Ia mengerti
apa yang harus dilakukan, tidak hanya terhadap suaminya tetapi
juga kepada rakyatnya. Ia selalu siap memberikan pertolongan-pertolongan
yang diperlukan oleh penduduk wilayahnya. Kemudian seorang anak
laki-laki, putra Gajah Sora.
Mahesa Jenar mengenal anak itu pertama kali ketika ia sedang
duduk bersama-sama Ki Ageng Gajah Sora di halaman depan rumahnya.
Tiba-tiba dari atas pohon melayanglah sebuah bayangan ke arah
Gajah Sora. Mahesa Jenar yang tidak tahu-menahu, hampir saja
menangkap bayangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Gajah Sora tidak
bergerak, Mahesa Jenar pun mengurungkan niatnya.
CERITA BERSAMBUNG = 19 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
125
BAYANGAN itu kemudian dengan kuatnya melekat di punggung Ki
Ageng Gajah Sora. Ternyata ia adalah seorang anak laki-laki yang
berumur sekitar 13 tahun. Badannya tampak kuat dan agak gemuk.
Wajahnya bulat mirip benar dengan wajah ayahnya. Ia sudah agak
besar, tetapi karena ia putra satu-satunya, tampaklah bahwa ia
agak manja juga meskipun tidak berlebih-lebihan. Menilik sikap
dan geraknya, pastilah ia sudah banyak menerima pendidikan dan
pelajaran-pelajaran dari ayahnya.
Ki Ageng Gajah Sora sendiri, umurnya agak terpaut sedikit
dari Mahesa Jenar. Mereka setuju untuk memanggil dengan sebutan
kekeluargaan. Karena Gajah Sora agak lebih tua dari Mahesa Jenar,
maka Mahesa Jenar memanggilnya Kakang.
Di rumah Ki Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar merasakan ketenteraman
hidup kekeluargaan. Berbeda sekali dengan jalan hidup yang ditempuhnya
akhir-akhir ini. Pergi dari satu tempat ke tempat lain. Mengalami
bermacam-macam kejadian yang sebagian besar adalah di luar kehendaknya.
Sekali-kali kalau ia sedang terbaring di ruang tidurnya, yang
bersih dan teratur segala perabotnya. Timbullah iri hatinya kepada
mereka yang berhasil membangun rumah tangga yang baik. Dalam
saat-saat yang demikian, kadang-kadang merayap pula di dalam
dadanya suatu keinginan untuk dapat menikmati kehidupan seperti
ini.
Ketika ingatan Mahesa Jenar yang kadang-kadang melayang itu sampai
kepada masa-masa yang baru saja dilampauinya, terbayang kembali
dengan jelas satu persatu peristiwa-peristiwa itu muncul berganti-ganti
di dalam angan-angannya. Teringatlah ia kepada sebuah halaman
yang sejuk dan nyaman dari rumah Wirasaba yang digarap oleh istrinya
yang cantik dan setia, yang karena kebodohannya, terpaksa terjadi
kesalah-pahaman.
Suaminya, seorang yang tinggi hati, yang tidak mau mendapat
pertolongan dari orang lain. Tetapi hatinya merasa lega, kalau
diingatnya bahwa orang itu telah menemukan kesadarannya.
Kemudian ingatan Mahesa Jenar terlempar kepada suatu peristiwa
di hutan Tambak Baya. Pertemuannya dengan Jaka Sora dan Lawa
Ijo. Dan tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar ketika terbayang
wajah seorang gadis yang ketakutan dan yang kemudian akan membunuh
dirinya sendiri dengan keris Sigar Penjalin. Dan jantungnya terasa
berdegup keras sekali ketika ia mencoba mengingat- ingat gadis
itu, yang sedang tidur nyenyak di hadapannya. Tetapi kemudian
Rara Wilis itu lenyap pula.
Yang ada kini hanyalah dirinya.
Dipandanginya kulitnya yang berwarna merah tembaga terbakar
terik matahari. Tiba-tiba terasa bahwa belum waktunya bagi Mahesa
Jenar untuk membayangkan ketenteraman hidup berkeluarga. Karena
itu, maka jalan sebaik-baliknya adalah melanjutkan usahanya untuk
melaksanakan tujuan hidupnya, bekerja keras diantara rakyat untuk
kepentingan rakyat. Membebaskan mereka dari segenap gangguan
kejahatan yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan liar dan
jahat.
Ketika Mahesa Jenar bangun dari tidurnya pada suatu pagi yang
cerah, ia mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah
pintu yang kemudian dibukanya sedikit, ia dapat melihat rombongan
orang-orang berkuda langsung menuju ke pendapa.
Ketika Mahesa Jenar melihat orang yang paling depan, ia mengernyitkan
dahinya. Ia sendiri tidak menyadari bahwa ia menjadi muak melihat
wajah itu. Berbeda sekali dengan Ki Ageng Gajah Sora yang tampak
agung dan berwibawa. Tetapi orang ini, meskipun dari tetesan
darah yang sama, sama sekali tak mempunyai ciri-ciri kebesaran
seperti kakaknya. Karena itu Mahesa Jenar acuh tak acuh saja
atas kedatangan adik Ki Ageng Gajah Sora, yaitu Ki Ageng Lembu
Sora dengan beberapa pengiringnya.
Kembali pintu gandok itu ditutup. Kemudian Mahesa Jenar melemparkan
dirinya di atas amben bambu yang panjang disisi ruang tempat
tidurnya.
Sebentar kemudian terdengar suara ribut di pendapa. Rupanya
mereka sedang sibuk menyambut kedatangan tamu-tamunya dari Pamingit.
Terdengarlah kemudian suara Ki Ageng Gajah Sora dengan ramahnya
mempersilahkan adiknya masuk ke pringgitan.
Ketika mereka semua sudah masuk, Mahesa Jenar berdiri, lalu
dengan kesal pergi keluar ke samping gandok.
Mahesa Jenar melayangkan pandangan matanya ke dataran yang
terbentang di bawah lambung bukit Telamaya. Di bagian barat terbentang
tanah persawahan yang subur. Padi yang pada saat itu sedang menguning
dan burung-burung yang terbang di atasnya. Tetapi burung-burung
itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mencuri butiran-butiran
padi yang bergoyang-goyang karena tiupan angin pagi yang lembut,
sebab anak-anak yang menungguinya selalu menghalau mereka, dengan
goprak dan hantu-hantuan yang digerakkan dengan tali.
Di bagian timur, agak jauh menjorok ke utara terbentang rawa. Airnya yang gelisah memantulkan cahaya matahari yang masih merah, yang baru saja tersembul dari balik cakrawala. Beberapa perahu lesung para nelayan masih tampak hilir- mudik seperti sepotong lidi yang terapung-apung untuk menggali kekayaan yang tersimpan di dalamnya.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox