Pondok GajahSora.Net
CERITA BERSAMBUNG = 10 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
116
TEPAT di muka goa mereka menghentikan kuda mereka, dan langsung
dengan suara lantang terdengar salah seorang dari mereka berteriak,
Hei Sima Rodra, sudah gilakah engkau. Kau biarkan semua penjaga-penjagamu
tidur?
Suara itu melontar memukul dinding-dinding padas dan dipantulkan
kembali berturut-turut beberapa kali. Namun tak ada jawaban yang
terdengar. Berkali-kali orang itu berteriak-teriak memanggil,
tetapi juga tak pernah ada jawaban. Akhirnya mereka berhenti
berteriak-teriak.
Ada sesuatu yang tidak beres. Hai salah seorang dari kamu, bangunkan semua orang yang tidur. Juga pengawal-pengawal gerbang, kata salah seorang diantara orang-orang itu kepada pengikutnya.
Baik Ki Lurah, jawab salah satu diantaranya. Dan sejenak
kemudian terdengar langkah seekor kuda menjauh.
Sementara itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar beruntung dapat menyaksikan
orang-orang berkuda itu dengan jelas. Yang berkuda paling depan
adalah dua orang yang gagah tegap, meskipun badannya tidak begitu
besar. Mukanya tampak panjang meruncing, dan masing-masing menggenggam
sebuah cemeti panjang. Mereka tampaknya hampir seperti dua orang
kembar.
Ketika Mahesa Jenar sedang menduga-duga, terdengarlah Gajah
Sora berbisik, Itulah Sepasang Uling dari Rawa Pening. Yang
di sebelah kanan itulah yang tua, yang disebut Uling Putih, sedang
yang lain adalah Uling Kuning.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah mereka
yang bernama Uling Putih dan Uling Kuning. Kedatangan mereka
sudah pasti untuk menuntut dendam akibat terbunuhnya salah seorang
kepercayaannya.
Sebentar kemudian datanglah beberapa orang berlari-lari ke arah goa itu pula.
Mereka adalah anak buah Sima Rodra yang tertidur karena kekuatan
sirep Gajah Sora. Salah seorang diantaranya, yang gemuk agak
pendek, bertubuh kuat seperti seekor orang hutan, maju mendekati
sepasang Uling yang masih saja duduk di atas kudanya.
Salam kami untuk Sepasang Uling dari Rawa Pening, katanya.
Rupanya kakak-beradik Uling itu sama sekali tak memperhatikan
sapa itu. Bahkan salah seorang dari mereka membentak, Hai,
Sakayon, di manakah suami-istri macan liar itu?
Rupanya yang dipanggil Sakayon itu tersinggung juga hatinya.
Buat apa kau cari mereka? jawabnya.
Jangan banyak cakap. Cari mereka, bentak Uling Kuning.
Terdengar Sakayon mendengus, Hemm.... Kau kira kau bisa memerintah
aku...? Tanyakan dengan baik, aku akan menyuruh salah seorang
untuk memanggilnya.
Sepasang Uling yang kasar itu menjadi marah. Kalau kau
masih juga berlagak, aku patahkan lehermu, teriaknya.
Tetapi Sakayon sama sekali tidak takut. Malahan terdengar
ia tertawa. Kau jangan main sekarat di sini. Katakan apa perlumu.
Kalau suami-istri Sima Rodra tidak ada, akulah yang harus menyelesaikan
semua soal.
Ternyata Uling Kuning hatinya lebih mudah terbakar daripada
kakaknya. Hampir saja ia memutar cemetinya kalau Uling Putih
tidak mencegahnya. Sedang Sakayon pun telah pula menarik pedang
pendek tetapi besar seperti tubuhnya.
Jangan layani dia, Kuning, kata Uling Putih, sambil menarik kekang kudanya dan melangkah beberapa langkah maju.
Baiklah Sakayon... aku tunduk kepada peraturanmu. Tolong,
katakan kepada Suami-Istri Sima Rodra bahwa aku ingin menemui
mereka, kata Uling Kuning.
Sakayon yang merasa mendapat kemenangan, membusungkan dadanya
sambil menjawab, Itulah namanya tamu yang tahu diri.
Lalu katanya kepada salah seorang anak buahnya, Panggilkan
Ki Lurah. Katakan bahwa kakak-beradik dari Rawa Pening ingin
menemuinya.
Orang yang disuruhnya itu segera berlari ke dalam goa. Tetapi
sebentar kemudian ia telah muncul kembali dengan nafas yang terengah-engah.
Kakang Sakayon..., Ki Lurah tidak ada di dalam goa. Bahkan
ruang penyimpanan yang tidak pernah terbuka itu pun tampaknya
telah dibuka dengan paksa, katanya gugup.
Hei...! teriak Sakayon terkejut. Tanpa mengucapkan
sepatah katapun lagi ia meloncat dengan tangkasnya masuk ke dalam
goa. Menilik geraknya maka Sakayon pun pasti termasuk orang yang
berilmu tinggi. Mungkin ia adalah kepercayaan Suami-Istri Sima
Rodra. Sakayon telah keluar dari dalam goa. Gerak-geriknya menunjukkan
kegelisahan hatinya. Sejenak kemudian tanpa berkata apapun ia
berlari kesamping goa dimana Sima Rodra tadi lenyap.
Mereka telah mempergunakan pintu rahasia ini. Pasti terjadi
sesuatu atas mereka, teriaknya.
Kemudian kembali ia berlari ke arah tamu-tamunya.
Mereka telah lenyap. Untuk tiga hari setidak-tidaknya kalian
tak akan dapat menemui mereka. Sedangkan kedua pusaka yang disimpannya
itu telah lenyap pula. Kalau yang mengambil Suami-Istri Sima
Rodra, mereka tidak perlu memecahkan pintu, katanya dengan nafas
yang memburu.
Keris itu lenyap...? tanya Uling Putih. Suaranya pun menunjukkan suatu kecemasan yang sangat. Kalau kata-katanya betul, pasti akan menimbulkan suasana yang panas dalam pertemuan kami nanti, katanya.
CERITA BERSAMBUNG = 11 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
117
ULING KUNING yang lebih kasar itu tidak berkata apapun, tetapi segera ia meloncat turun dari kudanya dan langsung masuk goa.
Kau tidak percaya?, teriak Sakayon, Baiklah, lihatlah sendiri.
Rupanya Uling Putih tidak tega membiarkan adiknya memasuki goa seorang diri. Sebab mungkin ada hal-hal yang tidak beres. Karena itu ia pun segera meloncat turun dan cepat-cepat menyusul memasuki goa itu.
Sejenak suasana menjadi sepi. Masing-masing diam sambil menunggu kakak-beradik itu keluar dari mulut goa.
Sementara itu, ketika semua perhatian dicurahkan ke mulut goa, berbisiklah Gajah Sora, Tuan, bukankah kita dapat mempergunakan kesempatan ini untuk menyingkir dari kandang macan ini?
Rupanya Mahesa Jenar pun telah memperhitungkan demikian, sehingga
ia segera menyetujuinya. Baik Tuan, tetapi jalan mana
yang akan kita lalui?
Apakah Tuan belum melihat gerbang dari benteng Sima Rodra ini?
tanya Gajah Sora.
Belum, jawab Mahesa Jenar, Aku memasuki halaman ini dengan memanjat dinding belakang.
Tampaklah Gajah Sora tersenyum. Akh, Tuan kurang hati-hati. Seharusnya Tuan mengetahui lebih dahulu sebelum berbuat sesuatu, arah-arah mana yang dapat Tuan lewati kalau bahaya datang. Atau setidaknya Tuan telah memiliki pengetahuan tentang itu, katanya.
Mahesa Jenar tersenyum pula. Tuan benar. Aku memang kurang hati-hati. Tetapi apakah sekarang kita dapat melewati gerbang? sahutnya.
Tentu, jawab Gajah Sora, Orang-orang yang menjaganya sedang berkumpul di sini.
Kalau demikian marilah kita pergi, sahut Mahesa Jenar lagi.
Maka sebentar kemudian, Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan hati-hati sekali menyelinap dari satu rumpun ke rumpun yang lain, dari balik padas yang satu ke padas yang lain. Selangkah demi selangkah mereka berhasil mendekati gerbang yang menghadap ke utara.
Gerbang ini dalam keadaan biasanya selalu dijaga dengan kuatnya oleh orang-orang kepercayaan Sima Rodra. Tetapi orang-orang itu sekarang sedang berkumpul di depan goa untuk dapat mencegah kalau sepasang Uling itu akan berbuat sesuatu. Maka dengan tidak banyak mendapat kesulitan, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berhasil keluar melewati gerbang yang menganga tak terjaga.
Setelah itu, setelah mereka berada di luar, segera mereka meloncat ke dalam semak-semak dan menjauhi benteng Sima Rodra itu dengan mengambil jalan menyusup rumpun-rumpun liar dan menjauhi jalan yang semestinya. Dengan keadaan tubuh mereka yang hampir remuk itu, mereka harus dengan hati-hati sekali menuruni tebing yang curam serta menloncati padas-padas yang rumpil. Untunglah bahwa mereka berdua mempunyai dasar kecekatan yang cukup, sehingga meskipun dengan susah payah pula mereka dalam waktu singkat telah dapat mencapai dataran di sebelah bukit kecil itu.
Tetapi demikian mereka merasa bahwa jalan yang akan mereka lalui tidak lagi sulit, mereka mendengar lamat-lamat derap kuda yang keluar dari gerbang benteng bukit Tidar, yang semakin lama terdengar semakin jauh. Rupanya sepasang Uling dari Rawa Pening itu ketika sudah yakin bahwa Suami-Istri Sima Rodra tak dapat mereka temui, serta sepasang keris itu tidak lagi berada di tangan mereka, mereka merasa bahwa tak ada gunanya lagi tinggal terlalu lama di Bukit Tidar.
Setelah suara derap kuda itu lenyap, kembali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanan untuk secepat-cepatnya menjauhi gunung Tidar. Untuk menghilangkah jejak, mereka tidak langsung berjalan ke timur, tetapi mula-mula mereka melingkar ke barat untuk selanjutnya membelok ke utara, ke Banyu Biru.
Di perjalanan, ternyata bahwa Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang baru saja berkenalan itu menjadi begitu akrab, seolah-olah mereka telah berkenalan bertahun-tahun. Dalam banyak hal mereka selalu bersamaan pendapat dan perhitungan.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, serta mereka sudah yakin benar bahwa orang-orang Sima Rodra tidak lagi dapat menemukan mereka, mereka merasa perlu untuk beristirahat, untuk menyegarkan tubuh mereka. Maka dicarilah tempat yang sesuai untuk sekadar melepaskan lelah.
Tetapi demikian mereka duduk bersandar di pepohonan, karena lelah dan tegang yang dialaminya beberapa saat yang lalu, segera mereka jatuh tertidur.
Demikian nyenyaknya, sehingga mereka sama sekali tak merasa bahwa malam telah lama lewat, dan matahari telah tinggi di langit.
Ketika cahaya matahari itu, menerobos daun-daun dan memanaskan tubuh mereka, kedua orang yang kelelahan itu baru terbangun. Terasalah sesudah mereka beristirahat benar-benar, meskipun hanya sebentar, tubuh mereka menjadi bertambah segar. Meskipun masih saja terasa agak kaku-kaku dan nyeri, namun mereka telah sanggup untuk berdiri tegak dan melangkah dengan tangkas, berkat daya tahan tubuh mereka yang cukup kuat.
Setelah mereka mencuci muka serta sekadar minum air dari sumber yang ditemukannya di dekat mereka beristirahat, mulailah mereka melanjutkan perjalanan. Mula-mula mereka akan singgah ke Pangrantunan untuk menemui Ki Ageng Sora Dipayana. Tetapi setelah dipertimbangkan untung-ruginya, mereka membatalkan maksud itu.
Di perjalanan pulang itu, barulah mereka mengetahui bahwa wajah-wajah mereka tampaknya seperti berubah. Beberapa noda biru dan bengkak-bengkak tampak di sana-sini. Hal itu menunjukkan betapa hebatnya perkelahian mereka semalam. Sehingga apabila mereka saling memandang, mereka menjadi tertawa sendiri.
Di samping itu, dalam hati masing-masing timbullah rasa kagum satu sama lain. Sebab dalam pertempuran dan perkelahian yang mereka alami sebelum itu, jarang tubuh mereka dapat disakiti, apalagi sampai biru-biru dan bengkak-bengkak
CERITA BERSAMBUNG = 12 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
118
PERASAAN Gajah Sora dan Mahesa Jenar juga menjadi geli bercampur heran.
Kenapa Ki Ageng Sora Dipayana begitu yakin bahwa cara perkenalan
yang aneh itu tidak akan membawa akibat yang dapat berbahaya.
Sebab rupanya, dengan memberi banyak petunjuk kepada Mahesa Jenar,
Ki Ageng Sora Dipayana memang bermaksud untuk mempertemukannya
dengan Gajah Sora yang kebetulan juga sedang disuruhnya mengambil
kedua pusaka itu, tanpa memberitahukan lebih dahulu.
Dengan wajah-wajah yang demikian, apabila mereka singgah di
Pangrantunan, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Baik kepada
mereka sendiri maupun kepada Ki Ageng Sora Dipayana yang menyamar
sebagai seorang petani miskin. Karena itu mereka berketetapan
hati untuk melangsungkan saja perjalanan mereka ke Banyu Biru.
Pada malam berikutnya mereka bermalam pula di tengah-tengah
hutan. Sengaja mereka tidak menuruti jalan ke Bergota karena
mereka merasa bahwa barang-barang yang mereka bawa adalah bukan
barang biasa, yang apabila sampai diketahui orang akan dapat
banyak menimbulkan kerepotan.
Seperti juga malam kemarin, karena lelah dan mereka belum
pulih seluruhnya, Gajah Sora dan Mahesa Jenar demikian meletakkan
tubuhnya, demikian mereka mendengkur nyenyak sekali. Tetapi malam
ini ternyata tidak setenteram malam kemarin. Belum lagi mereka
melampaui tengah malam, mendadak terasa tubuh mereka dikenai
sesuatu. Gajah Sora dan Mahesa Jenar adalah orang-orang yang
pernah mengalami latihan-latihan jasmaniah maupun kesiagaan batin.
Maka demikian tubuh mereka kena sentuhan yang tidak wajar, demikian
mereka meloncat berdiri dan dalam sekejap mereka telah bersiaga.
Tepat pada saatnya, terdengarlah gemerisik dedaunan disamping
mereka, dan dengan suatu auman yang dahsyat meloncatlah seekor
harimau hitam yang besarnya bukan kepalang, menerkam Mahesa Jenar.
Untunglah bahwa tubuh Mahesa Jenar telah agak terasa baik, sehingga
dengan menjatuhkan diri ia bebas dari terkaman harimau hitam
itu. Bahkan tiba-tiba ia menjadi marah sekali atas gangguan yang
mendadak datangnya.
Karena itu ia tidak menanti lebih lama lagi. Saat itu pula
segera ia mengatur jalan pernafasan menurut ajaran gurunya, menyilangkan
tangan kirinya di muka dada serta mengangkat tangan kanannya,
satu kakinya ditekuk ke depan. Dan dengan menggeram penuh kemarahan,
ia meloncat ke arah harimau yang baru saja menjejakkan kakinya
keatas tanah itu, berbareng dengan mengayunkan pukulan Sasra
Birawa. Tetapi ketika tangannya sudah hampir menyentuh tubuh
harimau itu, tiba-tiba dengan gerakan aneh harimau itu berguling-guling
tangkas sekali sehingga pukulan Mahesa Jenar yang dilambari kekuatan
ilmu Sasra Birawa itu tidak mengenai sasarannya. Dengan demikian
ia terseret oleh kekuatannya sendiri sehingga hampir saja ia
kehilangan keseimbangan.
Untunglah bahwa dengan cepat Mahesa Jenar dapat menguasai
dirinya kembali sehingga ia tidak jatuh tertelungkup. Tetapi
pada saat yang demikian, pada saat dimana Mahesa Jenar masih
belum dapat menguasai keseimbangan sepenuhnya, harimau itu telah
siap merobek-robeknya. Untunglah bahwa kawan seperjalanannya
bukan pula orang kebanyakan. Ia menyaksikan kegagalan Mahesa
Jenar dengan penuh keheranan. Heran atas sikap seekor harimau
yang dengan tangkas dapat membebaskan dirinya dari pukulan maut
Mahesa Jenar, bahkan harimau itu telah siap pula untuk menerkamnya.
Karena itu Gajah Sora tidak mau kehilangan waktu. Cepat seperti
kilat ia meloncat sambil merentangkan tangannya, yang sesaat
kemudian telah menyilang dadanya. Dengan suatu gerakan melingkar
lewat atas kepalanya ia menghantam harimau itu dengan dahsyatnya.
Bahkan Gajah Sora telah mempergunakan ilmunya Lebur Sakethi.
Melihat serangan yang tiba-tiba datang itu, harimau hitam
biasa meloncat menghindari pukulan Lebur Saketi yang tidak pula
kalah dahsyatnya. Juga kali ini Gajah Sora tak berhasil mengenainya.
Tetapi sementara itu, Mahesa Jenar telah dapat menguasai diri sepenuhnya. Sehingga demikian ia melihat harimau itu berhasil menghindari pukulah Gajah Sora, demikian Mahesa Jenar mengulangi serangannya dengan ilmunya Sasra Birawa. Kali ini harimau hitam yang sedang mengelak itu tidak sempat berbuat apa-apa. Tangan Mahesa Jenar berhasil mengenai tengkuknya. Harimau itu meloncat tinggi-tinggi dan mengaum hebat sekali. Gajah Sora, yang menjadi marah pula, tidak mau membiarkan harimau itu, karenanya sebelum harimau itu jatuh di tanah ia telah mengulangi pula serangannya dengan aji Lebur Sakethi.
Akibat dari dua pukulan maha dahsyat itu hebat sekali. Harimau
hitam itu terpental beberapa langkah.
Tetapi alangkah terkejut mereka berdua, ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar menyaksikan harimau itu jatuh berguling-guling dan kemudian menggeliat dan seperti melenting ia meloncat dan bangun berdiri. Ya, berdiri di atas dua kaki seperti manusia berdiri. Akhirnya, barulah Gajah Sora dan Mahesa Jenar sempat menyaksikan bahwa yang berdiri di hadapannya sama sekali bukanlah seekor harimau hitam, tetapi benar-benar seorang manusia yang berkerudung kulit harimau berwarna hitam.
Karena itu darah mereka bergolak hebat.
Manusia itu, yang berdiri di hadapannya, pasti bukan manusia
biasa, sebab ia telah dapat membebaskan dirinya dari akibat pukulan-pukulan
Lebur Sakethi dan sekaligus Sasra Birawa.
Orang yang berkerudung kulit harimau hitam itu berdiri dengan
angkuhnya. Tubuhnya gagah besar melampaui ukuran yang biasa.
Jambang dan janggutnya tidaklah begitu lebat, tetapi hampir memenuhi
seluruh mukanya. Matanya tampak bercahaya di dalam gelap, benar-benar
seperti mata seekor harimau.
Dalam cahaya bintang yang samar-samar, Mahesa Jenar dan Gajah
Sora yang berpandangan tajam itu dapat menyaksikan bahwa wajah
orang itu pastilah bengis dan kejam.
Sebentar kemudian terdengarlah ia menggeram perlahan-lahan, lalu terdengarlah suaranya dalam sekali, Pukulan kalian luar biasa dahsyatnya. Terasa betapa sakit dan nyerinya. Karena itu, kau telah berbuat kesalahan dalam dua hal. Mengambil kedua pusaka itu dan menyakiti tubuhku. Akibatnya adalah dua hal pula, kembalikan keris itu dan aku akan membalas pukulan kalian. Kalau kalian mati karena pukulanku bukanlah salahku.
CERITA BERSAMBUNG : 13 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
119
MENDENGAR kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar menjadi
gemetar karena marah. Biarpun orang itu tidak dapat dibunuhnya
karena kesaktian andalan mereka yang terakhir, tetapi mereka
bukanlah anak-anak kecil yang harus menerima saja hukuman dari
orang tuanya. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera menyiagakan
diri untuk bersama-sama menghadapi bahaya yang besar, dan untuk
taruhan yang besar pula, yaitu kedua keris Pusaka Demak dan nyawa
mereka.
Menurut pertimbangan Gajah Sora dan Mahesa Jenar, tidaklah
mereka bersalah apabila mereka terpaksa mempergunakan keris-keris
yang sedang mereka pertahankan mati-matian itu. Karena itu, tangan
Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera melekat pada ukiran keris
yang mereka bawa masing-masing.
Melihat gelagat itu, orang yang berkerudung kulit harimau
itu berdesis, Hem.., kalian akan mempergunakan Kiai Nagasasra
dan Sabuk Inten itu untuk melawan aku. Bagus. Memang tak seorangpun
di dunia ini yang akan dapat tetap hidup meskipun hanya tergores
seujung rambut saja. Tetapi aku harus meyakinkan kalian, bahwa
kalian tak akan dapat menyentuh tubuhku dengan kedua pusaka itu.
Habis mengucapkan kata-kata itu, orang itu segera bersiap
untuk menyerang Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Bagaimanapun beraninya
Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati mereka bergetar juga. Tergetar
karena menghadapi bahaya yang mungkin akan dapat menggagalkan
tugas mereka untuk menyelamatkan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Sejenak kemudian seperti angin menyambar, orang itu mulai
dengan serangannya. Alangkah dahsyatnya, Gajah Sora dan Mahesa
Jenar segera memencarkan diri, dan tak ada pilihan lain kecuali
mencabut kedua pusaka yang mereka bawa yang kemudian sejenak
diungkulkan di atas kepala masing-masing. Kiai Nagasasra berbentuk
seekor naga bersisik emas, yang memancarkan cahaya kuning menyilaukan,
sedang Kiai Sabuk Inten yang ber-luk 11 tampak berkilat-kilat
memancarkan cahaya yang kebiru-biruan.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar meskipun tidak dapat menyamai
kecepatan gerak lawannya tetapi mereka bukan pula anak-anak ingusan.
Apalagi di tangan mereka sekarang bercahaya-cahaya pusaka yang
tiada taranya. Karena itu orang yang berkerudung kulit harimau
itupun tidak berani merendahkan. Segera mereka bertiga terlibat
dalam satu pertempuran yang luar biasa hebatnya.
Tampaklah sebuah bayangan hitam menyelinap menyusup dan kemudian
meloncati gumpalan-gumpalan cahaya kuning yang silau dan cahaya
biru yang gemerlapan. Itulah cahaya dari kedua pusaka itu di
tangan orang-orang yang hampir sempurna olah senjata.
Tetapi ternyata apa yang dikatakan orang itu benar-benar terjadi.
Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang sudah bekerja mati-matian, sama
sekali tak berhasil menyentuh kulit lawannya dengan senjata-senjatanya.
Hanya untunglah bahwa karena kedua pusaka itu pula, lawan mereka
belum juga berhasil dapat mengenai tubuh mereka. Kalau saja Gajah
Sora atau Mahesa Jenar sampai tersinggung oleh tangan hantu itu,
pastilah kulit mereka akan robek.
Akhirnya, ketika pertempuran itu sudah berlangsung beberapa
saat, dan masih saja Gajah Sora dan Mahesa Jenar memberikan perlawanan
yang sengit, orang yang berkerudung kulit harimau itu tidak sabar
lagi. Ia meloncat beberapa langkah ke belakang, dan dengan gerak
yang menakutkan ia menggetarkan tubuhnya sambil mengaum mengerikan.
Sesaat kemudian ia telah siap untuk mengadakan serangan-serangan
terakhir yang mematikan.
Meskipun Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak mengerti arti dari
gerakan-gerakan itu, mereka yakin bahwa saat yang menentukan
segera akan tiba.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri.
Mereka berdiri kira-kira berjarak 3 sampai 4 langkah, yang dapat
dicapainya dalam satu loncatan. Mereka sudah bertekad untuk bertempur
sampai kemungkinan yang terakhir. Kalau mereka berdua harus mati,
maka setan itu pun harus dapat dilukainya pula dengan salah satu
dari kedua keris itu, sehingga ia pun pasti akan mati pula.
Orang yang berkerudung kulit harimau itu setelah berhenti
mengaum segera bersikap seperti akan menerkam. Tangannya terjulur
ke depan, sedangkan jari-jarinya dikembangkan. Melihat sikap
itu, segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar teringat kepada istri
Sima Rodra yang bertempur dengan cara yang serupa. Tetapi orang
ini ternyata mempunyai ketinggian ilmu yang berlipat-lipat.
Sejenak kemudian, hampir pada saat orang itu meloncati Gajah
Sora, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang nyaring meskipun
tidak terlalu keras. Kemudian disusul gemerisik daun-daun yang
tergetar karena suara tertawa itu. Alangkah besar tenaga yang
dilontarkan lewat suara yang tidak begitu keras itu.
Mendengar suara itu, orang berkerudung kulit harimau itu tampak terkejut bukan main. Dan keadaan itu sangat mengejutkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar pula. Mereka telah terkejut karena getaran suara itu, disusul oleh sikap orang yang berkerudung itu.
CERITA BERSAMBUNG = 14 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
120
ORANG berkerudung itu kemudian menegakkan kepalanya. Ia menggeram
hebat menunjukkan kemarahannya. Kemudian terdengar ia berkata,
Hem..., apa kepentinganmu dengan mengganggu pekerjaanku?
Dan terdengarlah jawaban yang lunak halus hampir seperti suara perempuan. Terhadap anak-anak itu kau sudah akan mempergunakan ajimu Macan Liwung? katanya.
Apa pedulimu? jawab orang itu.
Banyak kepentinganku atasnya, mereka adalah murid-murid
sahabatku. Dan bukankah persoalan itu adalah persoalan anak-anak.
Sebaiknya orang tua tidak usah ikut campur, jawab suara itu.
Sebaiknya kau mengurus kepentinganmu sendiri, sahut
orang berkerudung itu.
Ini juga termasuk kepentinganku, jawab suara itu pula.
Aku tidak pedulikan kau, potong orang berkerudung itu.
Tetapi aku mempedulikan kau. Kalau kau memaksa pula untuk
mencampuri perkara anak-anak. Baiklah kita yang tua-tua ini membuka
permainan sendiri. Sedang anak-anak biarlah mereka belajar menyelesaikan
masalah mereka.
Gila.... Selamanya kau gila. Kau berharap dapat mengalahkan
aku sekarang?
Tidak. Aku tahu bahwa aku tak akan mengalahkan kau. Tetapi setidak-tidaknya kau juga tidak akan dapat mengalahkan aku. Dan permainan itu akan memberi kesempatan kepada anak-anak itu untuk berlindung pada bapak-bapaknya. Karena ada seorang bapak telah ikut campur pula, jawab orang itu.
Suara orang asing yang lunak dan mirip suara perempuan itu terang
berasal dari belakang Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Meskipun demikian,
Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak berani menoleh ke belakang.
Mereka tahu bahwa orang itu pasti tidak akan bermaksud jahat,
sebab kalau demikian sudah sejak tadi ia dapat membunuhnya dari
arah punggung. Apalagi ketika mereka berdua mendengar pembiaraannya
dengan orang yang berkerudung itu, hati mereka seperti disiram
embun.
Tetapi meskipun demikian mereka hampir tak berani berkedip.
Sebab setiap saat orang yang berkerudung itu dapat meloncatinya
dan merebut pusaka-pusaka itu, yang barangkali malahan dapat
dipergunakan untuk melawan orang yang berada di belakangnya itu.
Sebentar kemudian kembali orang berkerudung itu menggeram.
Jangan coba halangi aku, katanya.
Sesudah itu terjadilah suatu hal diluar daya pengamatan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Meskipun mereka berdua termasuk orang-orang yang disegani karena kesaktiannya, tetapi mereka samasekali tidak dapat menangkap gerakan orang berkerudung itu. Apa yang dilihatnya hanyalah seperti pancaran kilat yang membelah langit, sedemikian tiba-tiba dan berlangsung cepat sekali.
Orang berkerudung itu tahu-tahu rasanya sudah melekat di pelupuk
mata Gajah Sora. Kemudian segera disusul dengan peristiwa yang
sama cepatnya. Sebuah benturan yang luar biasa dahsyat terjadi
di hadapan mata Gajah Sora dan Mahesa Jenar tanpa dapat diketahui
permulaannya.
Apa yang mereka ketahui kemudian adalah orang berkerudung
itu telah berdiri berhadap-hadapan dengan seorang yang berperawakan
kecil. Sikapnya pun mirip dengan suaranya. Sama sekali tidak
gagah dan garang, tetapi justru mirip sikap seorang perempuan.
Orang itu berdiri dengan tubuh masih bergetar diantara Gajah
Sora dan Mahesa Jenar. Dan dihadapannya berdiri orang berkerudung
itu, yang juga tampak sedang berusaha menguasai keseimbangannya.
Kau benar-benar akan mencampuri urusanku? bentak orang
berkerudung itu.
Sudah aku katakan sejak tadi, jawab orang yang mirip
dengan perempuan itu.
Kemudian tampaklah orang berkerudung itu memandangi berganti-ganti
Gajah Sora, Mahesa Jenar dan orang asing itu. Mukanya yang hampir
seluruhnya ditumbuhi rambut yang jarang-jarang itu tampak berkerut.
Lalu katanya dengan suara parau, Baiklah, aku tidak dapat
melawan kalian bertiga. Tetapi jangan mengira bahwa aku telah
melepaskan kepentinganku atas kedua anak-anak yang bermain-main
dengan pusaka-pusaka itu.
Setelah berkata demikian, segera ia meloncat tak ubahnya seekor
harimau dan kemudian menyusup lenyap di gerumbul liar.
Setelah orang berkerudung itu tidak nampak lagi, berkatalah
orang asing itu kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Guru kalian
ternyata kurang hati-hati. Untunglah aku melihat harimau itu,
sedang kalian tidur nyenyak. Sehingga aku terpaksa membangunkan
kalian dengan batu. Seharusnya guru kalian tidak melepaskan kalian
tanpa pengawasannya.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar kemudian dengan membungkuk hormat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan dengan agak berdebar-debar Gajah Sora mencoba bertanya, Bolehkan aku mengetahui, siapakah Tuan?
Orang itu tersenyum. Tidaklah gurumu pernah berceritera tentang
aku? jawabnya.
Gajah Sora mengernyitkan alisnya sambil mengingat-ingat ceritera
gurunya tentang sahabat-sahabatnya. Mahesa Jenar juga mencoba
untuk menebak-nebak siapakah kiranya yang berdiri dihadapannya
itu. Tiba-tiba mereka hampir bersamaan teringat kepada ceritera
guru masing-masing.
Pendekar sakti yang menurut istilah guru mereka, sama sekali
tampangnya tak berarti. Mungkin orang inilah yang dimaksud. Maka
dengan hampir bersamaan pula mereka mengucapkan sebuah nama,
Tuankah yang bergelar Titis Anganten dari Banyuwangi?
Kembali orang itu tersenyum. Nah ternyata kalian kenal
aku. Guru-gurumu pasti pernah berkata tentang orang yang tampangnya
tak berarti, jawabnya lagi.
Lalu terdengarlah ia tertawa nyaring.
Aku dengar Kakang Pengging Sepuh telah wafat, katanya
tiba-tiba kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar tertegun. Rupanya
dengan tepat orang itu mengetahui bahwa Macan Ireng itu berada
di sini.
Gajah Sora segera menjawab, Mungkin Tuan, sebab Guru tak pernah
menyebutkan itu.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox