![]()
Pondok GajahSora.Net
CERBUNG = 5 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
111
SEJENAK kemudian orang itu berkata, Apakah yang Tuan lakukan seterusnya? Tuan pasti tidak akan dapat menemukan Suami-Istri itu untuk beberapa lama.
Tak apalah. Tetapi aku hanya ingin melihat-lihat saja,
jawab Mahesa Jenar.
Mudah-mudahan apa yang Tuan katakan benar. Silahkan Tuan melihat.
Seterusnya aku berjanji untuk membalas budi Tuan membinasakan
suami-istri Sima Rodra pada kesempatan lain. Semoga Tuan benar-benar
tidak mempunyai kepentingan lain kecuali itu, gumam orang
itu. Kemudian orang itu pergi bersama Mahesa Jenar, memasuki
goa Sima Rodra dengan hati-hati. Mungkin terdapat berbagai rahasia
di dalamnya. Goa itu sebenarnya tidaklah begitu dalam. Tetapi
di dalamnya terdapat beberapa ruang yang dindingnya dilapisi
papan, tak ubahnya seperti ruang-ruang rumah biasa. Ruang itu
diterangi dengan oncor-oncor.
Dua ruang sudah mereka masuki, tetapi mereka tak menemukan
sesuatu. Maka sampailah mereka pada ruang yang ketiga, yang tidak
seperti ruang-ruang lain. Ruang ini mempergunakan pintu yang
ditutup rapat. Ternyata pintu ini tidak hanya ditutup rapat,
tetapi juga dikancing dengan kancing yang tak dapat diketahui
oleh orang lain.
Ketika sudah beberapa lama mereka tak berhasil membukanya,
mereka menjadi tidak sabar lagi. Mereka berdua sepakat untuk
membuka pintu itu dengan paksa. Dengan demikian, mereka mempergunakan
kaki mereka untuk bersama-sama menjebol pintu kayu yang terkancing
itu.
Dengan satu tendangan yang hampir bersamaan mereka dapat memecahkan
pintu itu, yang dengan suara gemeretak pecah berserakan. Tetapi
meskipun pintu itu sudah menganga lebar, mereka tidak tergesa-gesa
masuk. Sebab bukanlah mustahil bahwa ada apa-apa di dalamnya.
Setelah beberapa saat tak ditemukan apapun, maka dengan langkah
yang sangat hati-hati mereka melangkah masuk. Tetapi demikian
mereka melangkahkan kakinya melewati tlundak pintu, demikian
serentak bulu roma mereka berdiri.
Di sudut ruangan itu mereka melihat sebuah nampan di atas
sebuah meja yang dialasi dengan kain beludru buatan Tiongkok
yang berwarna kuning keemasan. Dan yang mengejutkan mereka adalah
cahaya yang biru kekuning-kuningan, yang memancar dari dua keris
yang diletakkan di atas kain beludru itu. Karena itu, untuk sesaat
mereka tegak berdiri seperti patung.
Mahesa Jenar, sebagai seorang perwira istana, sudah pasti
bahwa apa yang dilihatnya itu sangat mengharukan hatinya. Ia
yakin sekarang bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten itu adalah keris-keris
yang asli.
Mahesa jenar memang pernah melihat keris itu beberapa kali, dahulu sebelum lenyap dari Istana Demak. Memang tidak semua prajurit bahkan perwira yang beruntung dapat menyaksikan keris itu. Karena Mahesa Jenar saat itu menjadi pengawal raja dan istana, maka ia diberi kesempatan untuk menyaksikan pada saat keris itu dimandikan pada hari pertama setiap tahun. Karena itu ia hampir tidak dapat lagi mengendalikan diri. Hampir saja ia meloncat mendekati keris-keris itu kalau saja orang yang berdiri di sampingnya itu tidak menggamitnya.
Apakah Tuan berkepentingan dengan keris-keris itu? kata
orang itu.
Mahesa Jenar kini tak dapat mengelak lagi. Kedua keris yang dicarinya
sudah ada di hadapannya. Maka apapun yang terjadi haruslah dihadapinya.
Benar Ki Sanak, aku datang untuk kedua keris ini. Aku harap Tuan mempunyai kepentingan yang tidak sama dengan kepentinganku, jawab Mahesa Jenar tegas.
Hem....! orang itu menggeram. Aku sudah menduga. Tetapi sayang
bahwa kepentingan kita sama.
Mendengar kata-kata orang itu seharusnya Mahesa Jenar tidak
lagi terkejut, namun demikian darahnya bergelora hebat. Ki
Sanak, maafkanlah, aku tidak dapat melepaskannya lagi, kata
Mahesa Jenar sambil menahan diri.
Orang itu merenung sejenak. Dalam keremangan cahaya oncor-oncor,
Mahesa Jenar melihat betapa gelisah perasaannya, sehingga akhirnya
keluarlah kata dari mulutnya, Tuan, aku telah berhutang budi
kepada Tuan. Tetapi aku akan tetap pada pendirianku untuk mendapatkan
benda-benda keramat dari Istana Demak itu.
Mahesa Jenar tidak tahu siapakah orang itu sebagaimana orang
itu tidak mengenal Mahesa Jenar. Karena itu mereka saling berketetapan
hati untuk dapat menguasai kedua pusaka itu.
Bagaimanapun Mahesa Jenar menyabarkan diri, namun akhirnya terloncat pula kata-katanya yang tajam, Ki Sanak, seharusnya tadi aku membiarkan Tuan bertempur seorang diri dan sekaligus dibinasakan oleh suami-istri Sima Rodra itu.
Kalau demikian... Tuan akan berbuat kesalahan. Bukankah lebih
mudah untuk melawan aku seorang menurut pertimbangan Tuan daripada
melawan mereka berdua? jawab orang itu, yang meskipun nampaknya
masih setenang semula, tetapi isi kata-katanya tidak kalah runcingnya.
Sekali lagi darah Mahesa Jenar menggelegak. Ternyata orang itu dapat dengan cepat menebak perhitungannya.
Ki Sanak benar, memang demikianlah apa yang akan aku lakukan,
jawab Mahesa Jenar tanpa tedeng aling-aling.
Baik Tuan. Tetapi sebaiknya Tuan mempertimbangkan sekali
lagi, sahut orang itu.
Tidak ada pertimbangan lain, jawab Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar sudah pasti sekarang, bahwa ia harus bertempur
melawan orang itu.
Sebenarnya ia masih bimbang terhadap bakal lawannya. Menilik
sikap serta kata-katanya, agak aneh kalau ia termasuk golongan
hitam yang lain, yang menginginkan pusaka-pusaka itu. Sebentar
kemudian Mahesa Jenar teringat pula keramahan Jaka Soka pada
waktu ia akan menyertai rombongan orang-orang yang akan melintas
hutan Tambakbaya, juga suami-istri Sima Rodra itu sendiri, yang
dengan ramah minta menginap di Kademangan Prambanan. Karena itu
ia tidak akan menilai orang itu dari sikap serta kata-katanya.
Sementara itu orang itu menjawab, Kalau demikian, marilah
kita tentukan bersama, siapakah yang berhak untuk menguasai kedua
keris itu.
Mahesa Jenar sudah yakin bahwa memang demikianlah yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang itu, mau tak mau ia terpaksa menaruh hormat kepadanya. Kata-kata Tuan adalah kata-kata jantan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kejantanan Tuan, jawab Mahesa Jenar kemudian.
CERBUNG = 6 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
112
YANG mengherankan, tetapi juga agak menjengkelkan Mahesa Jenar,
orang itu masih saja tertawa lirih. Marilah kita keluar, supaya
kita tidak harus berdesak desakan dengan dinding-dinding ruang
ini, katanya.
Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia langsung melangkah keluar
diikuti oleh orang itu. Sambil berjalan Mahesa Jenar menimbang-nimbang
tentang lawannya. Pastilah orang ini berilmu tinggi dan pasti
orang itu pula yang telah menyebarkan sirep sedemikian tajamnya.
Maka ketika mereka sudah sampai di luar goa, segera mereka saling berhadapan dengan taruhan yang besar. Juga masing-masing menyadari bahwa mereka akan berhadapan dengan lawan yang cukup tangguh. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali bekerja mati-matian untuk memperebutkan kedua pusaka itu. Apalagi Mahesa Jenar yang langsung atau tidak langsung ikut serta bertanggung jawab akan keselamatan pusaka itu. Maka taruhannya untuk mendapatkan kedua keris itu adalah nyawanya.
Sejenak kemudian setelah mereka bersiap, terdengarlah orang itu
berkata, Marilah Tuan, permainan kita mulai.
Silahkan, jawab Mahesa Jenar pendek.
Dan segera terjadilah suatu pertarungan yang dahsyat. Meskipun mula-mula mereka tampaknya agak segan-segan, tetapi ketika mereka merasakan benturan-benturan serta tekanan-tekanan dari masing-masing pihak, akhirnya mereka tidak lagi mengendalikan diri.
Lawan Mahesa Jenar itu ternyata memang orang perkasa luar biasa.
Gerakan-gerakannya serba cepat dan mempunyai tenaga yang hebat,
sehingga menimbulkan desiran-desiran angin yang menyambar-nyambar
mengiringi setiap gerak dari tubuhnya. Sedang Mahesa Jenar adalah
seorang yang mempunyai pengalaman yang cukup baik, sehingga setiap
gerakan tangan serta kakinya selalu mempunyai arti serta membahayakan.
Tubuhnya yang tidak sebesar lawannya itu, bergerak-gerak seperti
bayangan yang dengan lincahanya menari-nari mengitari lawannya
dengan belaian maut.
Lawannya yang bertubuh tegap itu lebih mempercayakan diri
pada kekuatannya, sehingga beberapa kali ia dengan beraninya
menyerang dengan mempergunakan kedua tangannya, bahkan dengan
serangan-serangan berganda, sehingga suatu ketika Mahesa Jenar
tidak sempat lagi mengelakkan diri.
Pukulan orang itu, ditambah sekaligus dengan berat tubuhnya
yang besar, mengenai pelipis Mahesa Jenar demikian kerasnya,
sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa langkah ke belakang.
Tetapi rupanya ia tidak saja berhenti sampai sekian. Sebelum
Mahesa Jenar dapat memperbaiki keadaannya, kembali ia berhasil
mengenai lambung Mahesa Jenar dengan kakinya. Kembali Mahesa
Jenar terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Untunglah bahwa
ia mempunyai ilmu yang tinggi sehingga meskipun dengan agak kesulitan,
dalam sekejap ia telah berhasil tegak diatas kedua kakinya yang
kokoh kuat bagaikan tonggak baja.
Karena beberapa pukulan yang dapat mengenainya itu, Mahesa
Jenar menjadi marah bukan buatan. Wajahnya tampak menyala, serta
matanya menyorotkan sinar-sinar yang memancarkan pergolakan darahnya.
Sekali ia melompat ke depan, dan dengan sebuah gerak tipuan yang
bagus ia berhasil menarik perhatian lawannya pada tangan-tangannya
yang menyerang ke arah kepala. Kemudian dengan kecepatan yang
hampir tidak tampak, ia mengangkat kaki kanannya dan langsung
menghantam dada lawannya.
Demikian keras serangan itu, sehinggam lawannya terpental beberapa langkah. Tetapi demikian ia tegak, demikian ia telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Bahkan sesaat kemudian ia telah melangkah maju, dan dengan
kuatnya ia menghantam ke arah dada Mahesa Jenar. Dengan satu
langkah, Mahesa Jenar bergerak ke samping, dan demikian pukulan
itu tidak mengenai sasarannya demikian Mahesa Jenar membalas
dengan sebuah pukulan pada wajah orang itu.
Kali ini Mahesa Jenar sekali lagi tak berhasil mengenainya,
sehingga orang itu terdorong mundur. Mahesa Jenar tidak mau memberi
kesempatan lagi, sekali lagi ia menyodok perut lawannya, sehingga
orang itu menggeliat kesakitan dan meloncat beberapa langkah
ke samping. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan
yang baik itu. Ia pun sekali lagi meloncat dan dengan bergelombang
ia menyerang bertubi-tubi sehingga orang itu terdesak mundur
dan mundur.
Tetapi rupanya keadaannya tidaklah tetap demikian. Tiba-tiba
orang itu menggeliat ke samping, dan dengan suatu putaran yang
cepat ia berhasil membingungkan Mahesa Jenar, yang ingin memotong
putaran itu. Cepat ia mempergunakan kesempatan ini untuk meloncat
ke samping lawannya, dan dengan suatu gerakan yang tangkas ia
merendahkan diri. Setengah lingkaran ia memutar tubuhnya untuk
langsung menyerang Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar terkejut melihat gerakan-gerakan yang berubah-ubah itu, sehingga ketika sebuah pukulan melayang ke wajahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri.
Demikian kerasnya pukulan itu sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa langkah.
Pukulan itu terasa sakitnya bukan main.
Sebagai seorang perwira, tubuh Mahesa Jenar cukup mempunyai daya tahan yang kuat. Tetapi dikenai oleh pukulan ini wajahnya menjadi panas dan sejenak pandangan matanya agak kabur. Ketika ia mengusap wajah itu dengan tangannya, terasa sesuatu yang cair dan hangat meleleh dari hidungnya.
Darah.
Mengalami kenyataan itu, marahnya semakin memuncak. Ia benar-benar
harus berkelahi dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Maka
ketika orang itu menyerangnya kembali, Mahesa Jenar segera merendahkan
diri. Dengan pangkal telapak tangannya ia berhasil menghantam
dagu lawannya. Terdengarlah suara gemeratak gigi beradu. Demikian
kerasnya serta dibarengi kemarahan, maka pukulan Mahesa Jenar
seperti berlipat-lipat dahsyatnya, sehingga muka orang itu terangkat
tinggi-tinggi.
Mahesa Jenar tidak mengabaikan kesempatan berikutnya. Selagi muka orang itu masih terangkat, ia meloncat maju menumbukkan dirinya sambil menghantam perut orang itu dengan lututnya. Terdengarlah orang it mengaduh tertahan dan terlontar surut. Mahesa Jenar langsung memburu dan menghantamnya bertubi-tubi.
CERBUNG = 7 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
113
ORANG itu terdorong terus hingga suatu ketika ia tidak dapat
mundur lagi karena punggungnya sudah melekat dengan dinding padas.
Mahesa Jenar melihat kesempatan itu. Ia tidak mau melepaskan
lawannya kali ini. Maka dengan kekuatan penuh ia meloncat maju
dan menghantamkan muka orang itu dengan kedua tangannya sekaligus.
Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah demikian saja.
Tiba-tiba, ketika Mahesa Jenar meloncat, orang itu pun menyerang
dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Serangan yang sama
sekali tak diduga oleh Mahesa Jenar. Karenanya, serangan itu
bulat-bulat telah melemparkannya dan ia jatuh terguling beberapa
kali.
Mahesa Jenar telah mengalami pertempuran dengan lawan yang beraneka macam.
Pada saat ia bertempur dengan Lawa Ijo, seorang tokoh hitam
yang perkasa, ia pun mengerahkan segenap tenaganya. Tetapi bagaimanapun
ia tidak merasakan adanya tekanan-tekanan yang sedemikian hebatnya
seperti saat ini. Tidak saja ia tidak berhasil menekan lawannya,
tetapi benar-benar ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sakit-sakit
dan nyeri.
Mengingat bahwa yang dipertaruhkan adalah pusaka-pusaka istana,
serta kesadarannya akan pertanggungjawabannya sebagai seorang
yang merasa turut serta membina kesejahteraan rakyat, maka ia
merasakan kengerian yang sangat apabila pusaka-pusaka itu sampai
jatuh ke golongan hitam yang manapun. Karena itu tidak ada jalan
lain bagi Mahesa Jenar kecuali membinasakan orang itu.
Pada saat ia tidak dapat menguasai lawannya, maka cara satu-satunya
adalah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Maka ketika tidak
ada pilihan lain, segera ia meloncat bangkit dan segera ia memusatkan
segala kekuatan batinnya serta mengatur pernafasannya, memusatkan
segala kekuatan lahir-batin pada telapak tangan kanannya.
Demikianlah ia berdiri di atas satu kakinya, sedang kakinya
yang lain ditekuk ke depan. Tangan kirinya disilangkannya di
muka dadanya, sedang tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.
Kemudian demikian cepat bagai sambaran kilat ia meloncat maju
dan dengan dahsyat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala
lawannya.
Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar terkejut bukan buatan.
Segera ia meloncat mundur sambil berteriak, Tahan... Tuan,
tahankan dulu.
Tetapi Mahesa Jenar sudah terlanjur bergerak. Kalau ia menahan serangannya maka kekuatan yang sudah tersalur itu pasti akan memukul dirinya sendiri lewat bagian dalam tubuhnya. Karena itu tidak ada cara lain kecuali melanjutkan serangannya untuk membinasakan lawannya.
Melihat Mahesa Jenar tidak mengubah serangannya, tiba-tiba orang
itu pun segera bersiap, tidak menghindarkan diri, karena tidak
ada kesempatan lagi, melainkan ia berdiri di atas kedua kakinya
yang melangkah setengah langkah ke depan, lutut kaki kanannya
diteuk sedikit.
Mula-mula ia merentangkan kedua tangannya, tapi ketika pukulan
Mahesa Jenar sudah melayang, segera ia menyilangkan kedua tangannya
di muka wajahnya.
Melihat sikap itu, jantung Mahesa Jenar seperti berhenti berdenyut karena terkejut.
Tetapi segala sesuatu sudah terlambat. Sebab tangan Mahesa
Jenar sudah tinggal berjarak beberapa cengkang saja dari orang
itu.
Dengan satu gerakan pendek, kedua tangan yang disilangkan
di muka wajahnya, orang itu menahan hantaman tangan Mahesa Jenar.
Dan sesaat kemudian terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat
seperti berbenturnya halilintar.
Akibatnya dahsyat pula. Orang itu terlempar jauh ke belakang dan bulat-bulat terbanting di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Matanya menjadi gelap dan nafasnya tersekat di kerongkongan. Sebentar kemudian ia tak dapat merasakan sesuatu.
Pingsan.
Mahesa Jenar sendiri, yang menghantamkan ilmunya Sasra Birawa,
merasakan bahwa tangannya seolah-olah tertahan oleh selapis baja
yang tebalnya lebih dari sedepa. Karena itu kekuatan yang dilontarkan
itu seolah-olah membalik dan memukul bagian dalam tubuhnya, ditambah
dengan desakan dari orang yang dipukulnya itu. Karena itu Mahesa
Jenar juga terlempar, tidak hanya seperti sebuah balok yang melayang,
tetapi seperti kayu yang oleh kekuatan raksasa dihantamkan ke
punggung padas yang ada di belakangnya.
Demikian dahsyatnya Mahesa Jenar terbanting sehingga pada
saat itu juga, pada saat ia terhempas, ia sudah tak dapat lagi
merasakan apa-apa kecuali kepekatan yang dahsyat menerkam dirinya.
Dan ia pun pingsan.
Demikianlah keadaan segera menjadi senyap. Hanya desir angin
di rerumputan serta semak-semak yang kedengaran gemeresik lembut.
Di kejauhan terdengar suara binatang malam, serta gonggong anjing
yang berebutan mangsa. Di mulut goa Sima Rodra itu menggeletak
sebelah-menyebelah dua sosok tubuh yang sama sekali tak sadarkan
diri.
Baru beberapa saat kemudian, oleh kesegaran angin yang mengusap wajahnya, orang itu, yang telah bertempur mati-matian melawan Mahesa Jenar, yang ternyata mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga dialah yang pertama-tama dapat menarik nafas dan perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya. Tetapi demikian ia berusaha bergerak terdengarlah ia mengeluh perlahan. Ternyata tubuhnya terasa nyeri dan sakit seluruhnya.
CERBUNG = 8 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
114
UNTUK beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur
jalan pernafasannya serta berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.
Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.
Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih
saja mengalir membasahi seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya
terasa bertambah segar ia perlahan-lahan bangkit berdiri.
Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya
tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa
langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu
benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada
taranya dahsyatnya.
Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.
Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi
tampak kokoh kuat bagai seekor banteng.
Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa
Jenar, terasa bahwa tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu
ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa langkah dari tubuh
Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.
Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai
tubuhnya sendiri agak terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa
Jenar terbaring tak bergerak beberapa langkah di hadapannya.
Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang
kesakitan itu, tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak.
Dan sesaat kemudian ia sudah dapat membuka matanya, meskipun
masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan
di langit, dan sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi
tegap berdada lebar, duduk di atas padas di hadapannya, yang
dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu hitam
yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak
dapat berbuat sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri.
Sambungan-sambungan tulangnya terasa seperti lepas dan tak dapat
dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama sekali
tak akan dapat membela diri.
Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan
ingatannya. Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin
segar karena angin malam yang lembut, ingatannya pun sedikit
demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya masih saja
pening dan seperti berputar-putar.
Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya.
Bagaimana ia mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan
bagaimana orang yang dihantamnya itu merentangkan tangannya dan
selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.
Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih
saja hidup dan duduk di dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar
tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan kegembiraannya itu telah
sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat duduk,
meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk
lemah seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa
jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.
Demikian pula orang yang duduk di atas padas itu. Ketika ia
menyaksikan Mahesa Jenar telah dapat duduk, ia pun menjadi gembira.
Senyum yang tulus telah menggerakkan bibirnya. Perlahan-lahan
dengan suara parau ia menyapa, Tidakkah tuan mengalami sesuatu?
Mahea Jenar tersenyum pula, meskipun agak kecut. Bagaimana
aku mengatakan bahwa aku tidak mengalami sesuatu kalau bangun
saja rasanya seperti tidak mungkin, jawab Mahesa Jenar.
Orang itu menundukkan kepalanya seperti menyesali dirinya.
Maafkan aku, katanya kemudian.
Mendengar kata-kata itu segera Mahesa Jenar menyahut, Jangan Tuan menyalahkan diri sendiri. Akulah yang seharusnya minta maaf kepada Tuan, sebab akulah yang pertama-tama mulai. Berbahagialah aku bahwa Tuan ternyata sehat walafiat karena kesaktian Tuan.
Tuan salah duga. Aku pun mengalami keadaan seperti Tuan. Sampai
sekarang aku masih belum berhasil untuk mencapai jarak ke dekat
Tuan terbaring, karena seluruh sendi tulang-tulangku sakit bukan
kepalang, karena di dalam tangan Tuan tersimpan aji Sasra Birawa,
sahut orang itu sambil tertawa lirih.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi, maafkan
aku, katanya.
Tak apalah... malahan aku merasakan suatu keuntungan, mendapat
kehormatan mencicipi ilmu Tuan yang maha dahsyat itu. Dan dengan
demikian aku mengenal Tuan, yang pasti salah seorang murid dari
Paman Pengging Sepuh, jawab orang itu.
Mahesa Jenar mengangguk perlahan. Benar Tuan, aku tinggal
satu-satunya murid yang masih harus menjunjung tinggi nama kebesaran
Ki Ageng Pengging Sepuh Almarhum. Untung jugalah bahwa aku tidak
binasa kali ini. Kalau hal itu terjadi, berakhirlah nama perguruan
Pengging. Bukankah Tuan telah mempergunakan aji Lebur Sekethi?
Terpaksa. Hanya sekadar supaya aku tidak lumat, gumam orang
itu seperti kepada diri sendiri.
Benar Tuan..., Tuan sama sekali benar. Akulah yang terlalu
lancang. Tetapi siapakah sebenarnya Tuan? Bukankah Lebur Sakethi
itu menurut guruku Almarhum dan yang kukenal adalah milik Ki
Ageng Dipayana? potong Mahesa Jenar.
Tuan menebak dengan tepat. Karena itu ketika Tuan mengatakan
bahwa Tuan adalah orang Pangrantunan, segera aku menjadi curiga.
Sebab Pangrantunan adalah daerah masa kanak-kanakku. Aku adalah
anak Ki Ageng Sora Dipayana, jawab orang itu.
Apakah Tuan yang disebut Ki Ageng Gajah Sora? tanya
Mahesa Jenar.
Benar Tuan. Akulah yang bernama Gajah Sora, jawab orang
itu.
CERBUNG = 9 Juni 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
115
MENDENGAR jawaban itu, Mahesa Jenar jadi merenung. Untunglah bahwa tak terjadi sesuatu dalam pertempuran tadi. Kalau saja ada salah langkah, maka akibatnya akan mengerikan. Salah satu diantaranya pasti binasa. Sebab ajian seperti Sasra Birawa dan Lebur Sakethi mempunyai daya yang dahsyatnya luar biasa. Tidak hanya sebagai ajian yang tidak saja dipergunakan menyerang, tetapi juga bertahan.
Sejenak kemudian terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora bertanya kepadanya,
Tetapi sampai sekarang Tuan belum menyebut nama Tuan.
Mahesa Jenar seperti tersadar dari renungannya, maka jawabnya,
Namaku adalah Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar? ulang Gajah Sora. Aku belum pernah mendengar nama ini dari ayahku yang sering menyebut-nyebut nama sahabat-sahabatnya serta murid-muridnya. Bukankah seorang murid Ki Ageng Pengging itu terbunuh...?
Ya, jawab Mahesa Jenar, Bahkan tidak saja ia muridnya,
tetapi juga putranya.
Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Kebo Kenanga....
Bukankah begitu? katanya.
Ya, jawab Mahesa Jenar pendek.
Kakaknya, Ki Kebo Kanigara, kabarnya lenyap tak meninggalkan
bekas, sambung Gajah Sora . Dan Tuan? Adakah Tuan mempunyai
sebutan yang lain?
Semua yang Tuan katakan adalah benar. Akulah yang sedikit sekali
mengenal sahabat-sahabat guruku. Mungkin ini disebabkan Guru
sudah lama melenyapkan diri, dan akhirnya diketahui bahwa beliau
telah wafat, sehingga tidak banyak yang dapat diceritakan kepadaku.
Adapun mengenai aku sendiri, memang benarlah kata Tuan, sebab
sejak aku menjadi prajurit, aku selalu dipanggil dengan nama
Tohjaya.
Tohjaya..., ya Tohjaya, ulang Gajah Sora, Kalau
nama ini memang pernah aku dengar. Tidak saja dari ayahku, tetapi
hampir setiap orang menyebutnya sebagai pengawal raja. Tetapi
kenapa Tuan sampai di sini?
Akhirnya dengan singkat Mahesa Jenar bercerita tentang segala-galanya yang pernah dialami. Juga tentang pertemuannya dengan Ki Ageng Sora Dipayana di Pangrantunan dan pertemuannya dengan Ki Ageng Lembu Sora.
Memang, anak itu agak bengal, sahut Gajah Sora kemudian.
Biarlah lain kali aku mengurusnya. Juga tentang sepasang Uling,
yang sampai sekarang masih aku biarkan saja sambil menunggu orang-orang
golongan hitam itu berkumpul. Tetapi yang penting sekarang, apakah
yang kita lakukan?
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepala sambil memandangi mulut
goa yang masih saja ternganga seperti mulut seekor naga raksasa
yang siap menelannya.
Beberapa saat ia agak kebingungan. Tetapi akhirnya ia berkata,
Kalau saja tadi aku tahu bahwa Tuan adalah Ki Ageng Gajah
Sora, maka aku kira aku tidak akan mengganggu Tuan. Nah Tuan,
sekarang terserah kepada Tuan akan kedua keris itu.
Tidak, jawab Gajah Sora, Tuan lebih berhak untuk mengambilnya
serta menyerahkan kembali ke Istana Demak.
Aku adalah seorang perantau, sahut Mahesa Jenar, Aku kira lebih aman kalau Tuan yang menyimpannya sampai datang waktunya untuk diserahkan kepada yang berhak nanti.
Tampaklah sejenak Gajah Sora merenung menimbang-nimbang. Akhirnya
ia berkata, Baiklah, sekarang kedua pusaka itu kita ambil
dan kita bawa pulang. Bukankah Tuan sudi singgah ke Banyu Biru
sehari dua hari...? Atau sampai pada saat pertemuan kalangan
hitam. Di sana dengan aman segala sesuatu dapat kita bicarakan.
Tentu saja Mahesa Jenar tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu ia pun segera mengiakan. Maka setelah itu, setelah mereka merasa bahwa tubuh mereka telah dapat dibawa berjalan, masuklah mereka dengan sangat hati-hati ke dalam goa itu dan langsung menuju ke ruang dimana kedua pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten disimpan.
Setelah menyembah beberapa kali, maka diambillah kedua pusaka
itu dan dibawa keluar seorang satu, dengan tujuan untuk membawanya
ke Banyu Biru, ke rumah Ki Ageng Gajah Sora yang untuk selanjutnya
akan dibicarakan penyerahannya kepada yang berhak di Istana Demak.
Tetapi belum lagi mereka sempat meninggalkan daerah bukit
Tidar, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kuda yang cukup
banyak mendaki Gunung Tidar dari arah utara. Kedatangan mereka
ini sudah pasti sangat mengejutkan Mahesa Jenar maupun Ki Ageng
Gajah Sora.
Siapakah mereka? tanya Mahesa Jenar.
Entahlah, jawab Ki Ageng Gajah Sora sambil menggelengkan kepalanya. Derap kuda itu semakin lama semakin dekat, dan tampaknya mereka langsung menuju ke arah goa.
Mereka menuju kemari, desis Gajah Sora.
Ya, mereka menuju kemari, ulang Mahesa Jenar.
Lalu bagaimanakah sebaiknya sikap kita? Gajah Sora ingin mendapat pertimbangan.
Dalam kondisi tubuh mereka yang hampir remuk itu, sudah pasti
bahwa mereka tak akan cepat berbuat apa-apa seandainya yang datang
itu akan membahayakan. Karena itu yang sebaik-baiknya bagi mereka
adalah menghindari orang-orang berkuda itu.
Dengan keadaan kita seperti ini, sebaiknyalah kalau kita menghindari mereka, kata Mahesa Jenar.
Baiklah. Marilah kita bersembunyi, jawab Gajah Sora.
Sementara itu, kuda-kuda itu semakin dekat. Segera Gajah Sora
dan Mahesa Jenar mencari tempat untuk berlindung, di bawah semak
yang rimbun.
Belum lagi mereka selesai menempatkan diri, muncullah dari
balik-balik padas beberapa orang berkuda. Meskipun gelap malam
masih menyeluruh, tetapi remang-remang mereka dapat juga menyaksikan
tubuh-tubuh orang-orang berkuda itu.
Mailing address:
Toko
GajahSora
Divisi Bahan Bangunan
(cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718
My
e-FishBox