Nagasasra dan Sabukinten

 

Yuyu Rumpung diledek Mahesa Jenar

Pondok GajahSora.Net

CERITA BERSAMBUNG = 31 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
106

SETELAH berpikir sejenak, Mahesa Jenar segera menjawab, Namaku Yuyu Rumpung, dan berasal dari Rawa Pening. Aku adalah salah seorang kepercayaan kakak-beradik Uling untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi sayang bahwa aku dan Gemak Paron hanya berhasil mengambil tombak pendek yang bernama Kala Tadah. Itu saja Gemak Paron terpaksa menebus dengan nyawanya, sedang tombak itu kembali kepada pemiliknya.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, segera wajah orang itu, yang sebenarnya adalah Yuyu Rumpung, menjadi merah menyala. Ia menjadi marah sekali karena jawaban itu seolah-olah merupakan suatu sindiran akan ketidakmampuannya melakukan tugas yang dibebankan kepadanya bersama Gemak Paron. Karena itu dengan gigi yang gemeretak ia berteriak.


Orang gila, jangan kau mau main-main dengan Yuyu Rumpung. Meskipun aku tidak berhasil mencuri kedua pusaka itu, tetapi aku pasti akan bisa mematahkan lehermu. Tetapi sebelum itu, supaya aku tahu, siapakah yang telah aku bunuh, hendaknya kau mengatakan namamu yang sebenarnya.

Mendengar teriakan Yuyu Rumpung, Mahesa Jenar hanya tertawa dingin.
Kau memang lekas marah. Untuk melaksanakan tugas yang sulit itu seharusnya Uling Rawa Pening memilih orang yang tenang dan dapat menguasai perasaannya. Mungkin Gemak Paron tidak selekas engkau ini menjadi marah, jawab Mahesa Jenar.


Rupanya Yuyu Rumpung sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi. Segera ia meloncat dari kudanya dan dengan suatu gerakan yang dahsyat ia langsung menyerang Mahesa Jenar dengan suatu pukulan ke arah pelipis.

Ternyata Yuyu Rumpung adalah orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pukulannya mengandung tenaga yang hebat, serta cepat.

Mendapat serangan yang demikian cepatnya, Mahesa Jenar segera merendahkan diri dan dengan sebagian tenaganya ia mempergunakan ujung sikunya untuk menyerang lambung lawannya. Tetapi Yuyu Rumpung pun ternyata lincah sekali, sehingga ia tidak terlambat meloncat mundur menghindar. Tetapi dalam hati ia pun tidak habis heran.

Siapakah orang yang berjalan di dalam hutan seorang diri, tetapi mempunyai keuletan yang sedemikian tinggi. Apalagi ia sudah tahu nama, asal serta tugas yang sedang dilaksanakan.

Mahesa Jenar tidak sempat merenung-renung, sebab ketika sadar bahwa serangannya gagal, segera ia memutar tubuhnya, dan dengan kaki kirinya ia menghantam perut Yuyu Rumpung. Sekali lagi Yuyu Rumpung terpaksa meloncat ke samping, tetapi kali ini ia tidak mau terus-menerus diserang. Karena itu demikian kakinya melekat diatas tanah, segera ia maju menyodok perut Mahesa Jenar.

Kali ini sengaja Mahesa Jenar tidak menghindarkan diri, tetapi dengan tangannya ia memukul tangan Yuyu Rumpung ke samping. Yuyu Rumpung yang percaya pada kekuatannya, ketika melihat Mahesa Jenar menangkis pukulannya sama sekali ia tidak berusaha menarik tangannya, malahan seluruh tenaganya dikerahkan. Maka segera terjadilah suatu benturan yang keras sekali. Dengan tak diduga sama sekali oleh Yuyu Rumpung, bahwa lawannya memiliki tenaga yang dahsyat, sehingga ia jatuh terguling.

Sebaliknya Mahesa Jenar pun merasakan kekuatan Yuyu Rumpung sehingga tangannya terasa agak sakit.

Sampai sekian Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa orang ini kira-kira tidak lebih dari Carang Lampit, orang kedua sesudah Wadas Gunung dalam gerombolan Lawa Ijo. Maka ketika dengan sedikit kesulitan Yuyu Rumpung berdiri, segera Mahesa Jenar meloncatinya, dan dengan tangannya yang kokoh kuat, segera ia menangkap kedua lengan Yuyu Rumpung, dan dengan lututnya ia menekan punggungnya. Yuyu Rumpung terkejut melihat kegarangan lawannya. Tetapi tak ada lagi kesempatan baginya untuk melepaskan diri.

Selanjutnya terdengar Mahesa Jenar bertanya, Yuyu Rumpung, selain kau dan Gemak Paron, siapakah yang termasuk orang-orang penting dalam gerombolanmu?

Pertanyaan ini telah memusingkan kepala Yuyu Rumpung. Ia pun segera mengetahui bahwa orang ini pasti bukan dari golongan hitam, sebab dari golongan itu, pada umumnya sudah mengenal siapa-siapa yang menjadi orang-orang terpenting dalam gerombolan masing-masing.

Ketika sampai beberapa lama ia tidak menjawab, terasa tekanan lutut di punggungnya semakin keras semakin keras. Sehingga terpaksa ia berkata, Apakah kepentinganmu dengan mengetahui orang-orang kami?

Itu adalah soalku, yang kuminta hanyalah kau sebutkan nama-nama itu, dan jangan bohong, jawab Mahesa Jenar,


Sementara itu punggung Yuyu Rumpung semakin terasa sakit, sehingga akhirnya ia tak dapat mengelak lagi. Gemak Paron adalah orang kedua dalam gerombolan kami, sedang aku adalah orang ketiga, jawabnya.


Siapakah orang pertama? tanya Mahesa Jenar lagi.


Orang pertama adalah kakang Seri Gunting.

Kenapa bukan Seri Gunting itu yang pergi untuk mencuri pusaka-pusaka itu?

Kakang Seri Gunting sedang tidak ada di rumah.
Kemana dia?
Ke Nusa Kambangan.
Ke tempat Jaka Soka?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Yuyu Rumpung menjadi bertambah heran. Rupanya orang ini sudah agak banyak mengenal tokoh-tokoh hitam. Karena itu ia harus lebih berhati-hati, sebab mungkin malahan seluruhnya sudah diketahui, sehingga pertanyaan-pertanyaannya hanya merupakan sebuah pancingan saja.

Maka jawabnya, Ya, kakang Seri Gunting pergi ke tempat Jaka Soka.


Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa kekuatan gerombolan hitam itu benar-benar seimbang, sehingga pertemuan akhir tahun di Rawa Pening benar-benar akan menarik.

Ketika Mahesa Jenar tidak memerlukan hal-hal lain lagi, segera Yuyu Rumpung dilepaskan, tetapi ia tidak membiarkannya pergi berkuda.

Yuyu Rumpung, kau boleh pergi, tetapi aku ingin meminjam kudamu. Sedang kau dapat mencari kuda Gemak Paron untuk kau pakai. Aku temukan tadi mayatnya di luar hutan. Kalau kau akan mencarinya, pergilah membelok ke selatan, di mulut lorong ini, kata Mahesa Jenar.

 

CERITA BERSAMBUNG = 1 Juni 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
107

Mahesa Jenar sengaja membiarkan Yuyu Rumpung berjalan kaki dan menunjukkan arah yang salah atas mayat Gemak Paron, supaya orang ini tidak segera sampai di Rawa Pening. Ia mengharap untuk dapat mendahului kakak beradik Uling itu.

Yuyu Rumpung yang tidak tahu maksud Mahesa Jenar, menjadi keheranan. Tetapi bagaimanapun juga ia merasakan keperkasaan orang itu. Maka ketika ia mendapat kesempatan untuk pergi, segera iapun meloncat dan melangkah cepat sekali menjauhi Mahesa Jenar, meskipun ia menggerutu tak habisnya karena kudanya dirampas.

Sedangkan Mahesa Jenar merasa mendapat keuntungan dengan pertemuannya dengan Yuyu Rumpung. Ia sudah mendapat gambaran sedikit tentang kekuatan gerombolan Uling Rawa Pening, sedangkan keuntungannya yang lain ia telah dapat menghambat dijalan orang itu, sehingga, kemungkinan untuk dapat mendahului sampai ke Gunung Tidar semakin besar. Sedangkan kuda yang dirampasnya, sama sekali tak diperlukannya, sebab dengan kuda itu, ia tidak lagi bebas untuk dapat menyusup kegerumbulan apabila ia berjumpa dengan orang yang perlu dihindari. Juga jarak yang ditempuhnya sudah tidak begitu jauh lagi. Kalau misalnya ia dapat mencapai Gunung itu sebelum sore, ia masih juga harus menunggu sampai matahari terbenam. Maka akhirnya dilepaskannya kuda Yuyu Rumpung itu, dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Sementara itu cahaya merah telah membayang di langit mewarnai mega yang betebaran. Sedang didalam hutan, sinar matahari yang sudah sangat lemah itu tidak kuasa lagi untuk melawan kegelapan yang perlahan tapi pasti akan turun menyeluruh sampai kesegenap lekuknya.

Malam itu seperti biasa dalam perjalanannya di hutan, Mahesa Jenar memilih tempat tidurnya diatas cabang pohon untuk menghindari serangan binatang buas. Meskipun hutan itu tidak segarang hutan Mentaok, tetapi didalamnya hidup pula jenis harimau yang cukup berbahaya, yaitu harimau loreng. Malam itu tak ada sesuatu hal yang terjadi. Kecuali tubuh Mahesa Jenar menjadi gatal digigit nyamuk yang banyaknya bukan main.

Ketika langit disebelah Timur mulai meremang, Mahesa Jenar segera turun dari tempat istirahatnya. Dan setelah sekali dua kali ia menggeliat, maka ia segera memulai kembali perjalanannya ke Gunung Tidar sambil mencari sumber air untuk mencuci mukanya. Jalan yang ditunjukkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata jauh lebih dekat daripada apabila ia menempuh jalan yang direncanakannya semula. Jalan ini langsung memotong arah ketujuannya. karena itu maka ia tidak perlu untuk tergesa sebab ia masih harus menunggu gelap untuk bertindak.

Pada saat ia melewati longkangan hutan itu, ia dapat jelas melihat Gunung Tidar berdiri tegak seperti jamur raksasa, yang konon merupakan pusar Pulau Jawa, sudah tidak begitu jauh lagi dihadapannya. Sehingga perjalanan Mahesa Jenar kali ini merupakan sebuah perjalanan yang justru diperlambat. Meskipun demikian ia masih juga agak kesiangan sampai didataran yang mengitari bukit itu, sehingga ia mempunyai waktu sekedar untuk beristirahat.

Maka ketika sampai saaatnya matahari turun serta burung mulai berkitaran mencari tempat untuk tidurnya, berdirinya Mahesa Jenar dengan wajah yang tegang memandangi Gunug Tidar dimana berdiam suami isteri Sima Rodra, yang telah berhasil menyimpan sepasang keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Dalam keadaan yang demikian seolah-olah ia mulai menilai dirinya kembali. Sudahkah ia siap untuk melakukan tugas yang penting itu. Ia seorang diri harus terjun langsung kedalam sarang sepasang harimau yang cukup ganas. Berkali-kali ia meremaskan tangannya dimana disimpan senjata kepercayaannya Sasra Birawa.

Sementara kemudian, ketika benar-benar matahari telah melenyapkan diri dibalik Gunung Tidar itu, mulailah Mahesa Jenar melaksanakan tugas untuk membebaskan kedua pusaka itu berdasarkan petunjuk dari Kiai Ageng Sora Dipayana.
Untuk naik ke bukit itu, ia tidak langsung mendaki dari arah Timur, tetapi ia melingkar ke Selatan dan dari sanalah dengan hati-hati sekali ai selangkah demi selangkah mendekati lereng bukit itu. Sebentar ia berhenti untuk mendengarkan kalau ada langkah seseorang ataupun tarikan napas. Untunglah bahwa telinga dan matanya cukup terlatih.

Ketika sampai pada tanjakan pertama dari Bukit Tidar tampaklah bahwa Sima Rodra benar-benar memasang perbentengan untuk melindungi sarangnya. Batu besar yang tampaknya berserak itu ternyata merupakan pasangan yang apabila sedikit saja tersentuh, pasti akan tergelincir dan menggelundung ke bawah. Untunglah bahwa tiap gerak Mahesa Jenar selalu dilandasi oleh ketelitian serta kehati-hatian. Setelah merayap bebrapa saat Mahesa Jenar berhasil melintasi pagar yang pertama untuk kemudian menjumpai benteng. Batu padas yang besar disusun meninggi sampai hampir dua kali tinggi orang. Dengan hati-hati

Mahesa Jenar mendekati benteng itu. Kemudian dengan tangannya ia meraba-raba, seolah ingin mengetahui sampai dimana kira-kira kekuatan padas itu. Mungkin dengan kekuatan tangannya ia bisa, meskipun tidak sekaligus tetapi setidaknya sedikit demi sedikit menghancurkan padas yang tidak sekeras batu.

KALAU Mahesa Jenar menghancurkan padas itu, maka besar kemungkinannya bahwa kedatangannya akan segera diketahui oleh pengawal-pengawal yang pasti berkeliaran di dalam benteng itu. Maka dicarinya cara lain untuk dapat melampauinya. Sekali lagi Mahesa Jenar meraba-raba serta menaksir kekuatannya. Kemudian dipilihnya cara dengan memanjat saja, dan kemudian meloncat masuk.

 

CERITA BERSAMBUNG = 2 Juni 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
108

KALAU Mahesa Jenar menghancurkan padas itu, maka besar kemungkinannya bahwa kedatangannya akan segera diketahui oleh pengawal-pengawal yang pasti berkeliaran di dalam benteng itu. Maka dicarinya cara lain untuk dapat melampauinya. Sekali lagi Mahesa Jenar meraba-raba serta menaksir kekuatannya. Kemudian dipilihnya cara dengan memanjat saja, dan kemudian meloncat masuk.

Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati memanjat dinding batu padas itu. Sampai di atasnya ia tidak langsung meloncat, tetapi dengan perlahan-lahan sekali ia melekatkan dirinya merapat dinding dan untuk beberapa lama ia menelungkup di situ sambil mengamat-amati keadaan di dalam daerah sarang Sima Rodra itu.

Malam itu rasanya sepi sekali. Lebih sepi daripada malam-malam yang pernah dilewatinya. Sekali duakali terdengar anjing liar menyalak di kejauhan, disaut dengan pekikan burung hantu yang sedang mencari mangsa.

Mahesa Jenar masih saja berbaring menelungkup diatas dinding batu. Matanya berputar menjelajahi seluruh lingkaran yang membentang di hadapannya. Adapun daerah di dalam benteng Sima Rodra itu pun merupakan suatu lapangan yang bersemak-semak dan rumput-rumput liar bertebaran tumbuh di sana sini. Sebenarnya tempat itu merupakan tempat yang baik sekali untuk dapat menyusup mendekati goa Sima Rodra di lambung sebelah utara bukit itu. Sebab dengan adanya semak-semak dan rumput-rumput liar itu, justru memberi kemungkinan yang lain, bahwa di dalam semak-semak itulah orang-orang Sima Rodra berjaga-jaga untuk mengawasi keamanan sarangnya.

Sampai beberapa lama Mahesa Jenar masih saja melekatkan dirinya pada dinding padas itu. Tiba-tiba terasalah angin yang bertiup perlahan-lahan menghembuskan bau yang wangi. Bau yang dibawa angin dari utara ini mempunyai pengaruh yang aneh sekali. Terasa betapa tubuh Mahesa Jenar menjadi nyaman, serta matanya menjadi berat sekali.

Angin yang aneh ini datang mengalir terus-menerus seperti mengalirnya air sungai. Sehingga pengaruhnya semakin lama semakin mencengkeram diri Mahesa Jenar.
Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang terlatih lahir-batin. Untunglah bahwa ia segera menyadari keadaannya, bahwa pasti ia telah kena pengaruh bau wangi itu, yang sengaja disebarkan orang untuk melemahkan syaraf, sehingga orang menjadi kantuk.

Inilah kekuatan sirep yang seperti pernah dialami beberapa tahun lalu, yang disebarkan oleh Lawa Ijo. Tetapi menilik kekuatannya, rasanya sirep kali ini agak lebih kuat dari yang dahulu, serta sifatnyapun berlainan pula.

Karena itu Mahesa Jenar segera memusatkan kekuatan batin, dan seperti orang yang sedang mengheningkan cipta, Mahesa Jenar diam tanpa bergerak di tempatnya berusaha melawan pengaruh sirep itu.

Meskipun agak lambat, tapi sedikit demi sedikit ia berhasil menguasai dirinya kembali, sehingga akhirnya ia merasa bahwa ia telah lepas dari daya sirep itu.

Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Apakah sirep ini datang dari Sima Rodra? Tetapi kalau benar demikian, maka anak buahnya sendiri yang tidak mempunyai daya tahan yang cukup akan tertidur pula. Dengan demikian maka kekuatan mereka akan jauh berkurang. Jadi adalah suatu kemungkinan bahwa sirep ini datangnya dari luar. Dari orang lain. Tetapi siapa? Kakak-beradik Uling tak mungkin akan secepat ini mencapai Bukit Tidar, kecuali kalau ia berada pada jarak yang dekat sejak Gemak Paron menyusup masuk ke goa Sima Rodra ini.

Akh..., tak akan selesai pekerjaan ini dengan menimbang-nimbang saja. Lebih baik aku masuk dan melihat keadaan, gerutu Mahesa Jenar.

Segera setelah itu, dengan tidak meninggalkan ke hati-hatian, Mahesa Jenar meloncat masuk ke dalam lingkungan sarang sepasang harimau yang cukup ganas itu. Dengan mengendap-endap ia berjalan, lewat lambung sebelah timur ia memutar ke arah utara.
Tetapi mendadak ia dikejutkan oleh teriakan yang mirip dengan aum seekor harimau, disusul oleh jerit yang mengerikan. Pastilah suara ini berasal dari suami-istri Sima Rodra yang sedang marah. Cepat Mahesa Jenar meloncat semakin dekat ke arah suara itu. Beberapa kali ia melihat beberapa penjaga tidak dapat meloloskan diri dari pengaruh sirep yang tajam itu.


Ketika ia sudah semakin dekat, ia bertambah terkejut lagi ketika ia mendengar derap orang berkelahi. Darah Mahesa Jenar segera bergejolak hebat. Siapakah yang telah mendahuluinya masuk sarang Sima Rodra...?

Perlahan-lahan ia maju setapak demi setapak, sehingga akhirnya ia mendapat perlindungan sebuah padas yang cukup besar di sebelah timur goa Sima Rodra.

Kembali darah Mahesa Jenar tersirap ketika ia menyaksikan suami-istri Sima Rodra itu sedang bertempur dengan seorang yang bertubuh tinggi, berwajah bulat, serta berdada lebar. Tetapi karena gelap, ia tidak dapat segera mengenal wajahnya. Pertempuran itu ternyata berlangsung dengan hebatnya.

Suami-istri Sima Rodra ternyata memang bukan namanya saja yang garang. Tetapi tandangnya pun tidak kalah hebat dengan namanya. Kakinya yang meskipun besar-besar, sebesar bumbung petung, tetapi seperti seekor harimau, dengan lincahnya ia meloncat, menyerang dan menghantam. Sedang istrinya bertempur dengan tangan yang dikembangkan.

Segera Mahesa Jenar mengenal bahwa cara yang demikian selalu dipergunakan oleh seorang yang sangat percaya akan kekuatan jari-jarinya, atau yang lebih mengerikan, ia bersenjatakan kuku-kukunya yang beracun.

Melihat cara suami-istri Sima Rodra bertempur, segera ia mengingat akan ceritera Demang Pananggalan. Maka Mahesa Jenar hampir dapat memastikan bahwa yang pernah datang ke Prambanan serta pernah menculik gadis dan dibawa ke Gunung Baka adalah gerombolan Sima Rodra ini. Maka ketika ia telah menyaksikan sendiri kegarangannya, ia pun menjadi yakin bahwa Demang Pananggalan memang bukan lawan dari orang ini.

 

CERITA BERSAMBUNG = 3 Juni 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
109

DALAM menghadapi segala hal, tampaknya suami-istri Sima Rodra selalu bertempur bersama, sehingga untuk melawan orang yang baru setingkat Pananggalan pun mereka bertempur bersama.

Kalau demikian halnya, maka bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi dalam pertemuan golongan hitam di Rawa Pening? Bolehkah mereka bertempur berpasang-pasang, ataukah hanya seorang-seorang?

Menilik gerak serta keperkasaannya, maka pastilah Sima Rodra sendiri memiliki kehebatan yang sama dengan Lawa Ijo, sedang istrinya ternyata sedikit di bawahnya.

Tetapi karena perempuan itu bersenjatakan kuku-kukunya sendiri maka ia pun nampak sangat berbahaya. Apalagi ketika sekali tampak di ujung kuku itu berkilat suatu cahaya, maka sudah pasti bahwa di ujung kuku-kuku itu ditaruh logam yang mungkin sekali beracun.

Tetapi lawan Sima Rodra itu pun ternyata orang luar biasa. Mahesa Jenar sendiri pernah bertempur berpuluh kali menghadapi orang-orang perkasa. Yang terakhir adalah Jaka Soka serta Lawa Ijo. Tetapi untuk menghadapi dua orang sekaligus baginya adalah pekerjaan yang berat sekali. Kalau ia terpaksa bertempur melawan keduanya, maka pastilah pagi-pagi ia sudah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa.
Sedang orang itu, yang bertempur dengan Sima Rodra, nampaknya tanpa mempergunakan lambaran ilmu apapun, kecuali ketangkasan serta kekuatan jasmaniah yang cukup terlatih.

Maka, Mahesa Jenar tak berhenti menebak. Siapakah gerangan dia. Kalau yang datang kakak-beradik Uling, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan bertempur berpasangan pula. Ataukah dia yang bernama Sri Gunting? Kalau orang ini Sri Gunting, maka Uling Rawa Pening itu seharusnya mempunyai kesaktian yang luar biasa.

Sambil berpikir berputar balik, Mahesa Jenar menyaksikan pertempuran yang berjalan seru itu. Berkali-kali suami-istri Sima Rodra itu mengaum dan memekik hebat dibarengi dengan serangan-serangan sangat berbahaya. Tetapi orang yang melawannya itu meskipun agak kerepotan selalu juga berhasil menghindar, bahkan beberapa kali ia dapat mengadakan pembalasan-pembalasan.

Gerak suami-istri Sima Rodra itu tampaknya memang serasi sekali dalam keganasannya. Mereka selalu berhasil saling mengisi dengan gerak-gerak membingungkan. Kadang-kadang mereka tidak menyerang, tetapi hanya berlari berputar mengelilingi lawannya, dan kadang-kadang mereka bersama-sama menerkam dari arah yang berlawanan.

Sebaliknya, lawannya pun memiliki ketangkasan yang luar biasa pula. Sekali-kali ia melesat jauh, tetapi sesaat kemudian ia sudah berdiri di satu sisi dari kedua-duanya dan menyerang dengan pukulan yang dahsyat. Beberapa kali ia melingkar, meloncat dan berputar selagi masih di udara. Tangannya bergerak menyambar-nyambar, seolah-olah berubah menjadi seorang raksasa jelmaan Harjuna Sasra Bahu yang mempunyai seribu tangan memegang seribu macam senjata, dalam ceritera pewayangan.

Demikianlah maka pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Tetapi karena Sima Rodra seolah-olah dapat mensenyawakan diri, serta kekuatannya, maka semakin lama tampaklah bahwa lawannya menjadi semakin terdesak.

Melihat keadaan itu, otak Mahesa Jenar bekerja keras. Bagaimanakah kalau ia mengambil keuntungan dari pertempuran itu? Ia masih belum tahu sama sekali, siapakah gerangan yang bertempur itu.

Tetapi menurut perhitungan Mahesa Jenar, ia lebih baik melawan yang seorang itu apabila terpaksa, daripada melawan Sima Rodra suami-istri. Karena itu ia memutuskan untuk menerjunkan diri dalam kancah pertarungan itu untuk membantu lawan Sima Rodra. Dan sesudah itu ia akan mengadakan perhitungan dengan lawannya. Mudah-mudahan lawan Sima Rodra itu tidak bersamaan maksud dengan kedatangannya, sehingga ia tidak perlu berhadap-hadapan sebagai lawan.

Setelah Mahesa Jenar mendapatkan ketetapan hati, maka segera ia mempersiapkan diri. Dibetulkannya ikat pinggangnya, kancing-kancing bajunya, dan ikat kepalanya, supaya nanti tidak mengganggunya.

Demikianlah dengan menggeram keras untuk menandai kehadiran, Mahesa Jenar langsung menyerang istri Sima Rodra, dengan suatu kepercayaan bahwa ia telah dibebaskan dari akibat racun karena jasa kawan sepermainannya, Anis dari Sela. Racun Lawa Ijo yang didapatkannya dari Pasingsingan pun tak berhasil membunuhnya, apalagi jenis racun yang lain, yang tidak berasal dari orang seperti Pasingsingan.

Kedatangan Mahesa Jenar sangat mengejutkan mereka yang sedang bertempur, sehingga suami-istri Sima Rodra berloncatan mundur. Lawannya pun sejenak berdiri termangu, sehingga untuk sesaat suasana jadi hening, sepi seperti daerah kematian yang mengerikan. Tetapi hal yang sedemikian itu tidak berlangsung lama, sebab terdengar suara parau Sima Rodra membentak Mahesa Jenar. Hei, siapakah kau yang ikut serta mengantarkan nyawa?

Mahesa Jenar tidak menyahut pertanyaan itu, tetapi ia berkata kepada lawan Mahesa Jenar, Aku belum mengenal Tuan, tetapi aku berdiri di pihak Tuan.

Sebelum orang itu menjawab, terdengar teriak istri Sima Rodra, Kita bunuh kalian berdua.


Istri Sima Rodra tidak menantikan lagi jawaban, tetapi dengan loncatan yang garang ia menyerang dengan kuku-kukunya yang diarahkan kepada Mahesa Jenar.

Segera pertempuran itu dimulai kembali. Tetapi sekarang Sima Rodra tidak dapat lagi mengurung lawannya, sebab sekarang mereka harus berhadapan satu lawan satu. Meskipun demikian, tidak segera dapat dilihat siapakah yang akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Suami-istri Sima Rodra yang menjadi semakin marah itu bertempur semakin garang pula. Mereka segera mengerahkan tenaga serta kesaktian mereka untuk segera dapat membinasakan lawan-lawannya yang berani memasuki daerahnya, apalagi berani menantangnya.

Dalam keadaan demikian, lawan Sima Rodra itu sempat juga menyaksikan Mahesa Jenar bertempur. Menyaksikan kelincahannya, keperkasaannya, serta kepercayaannya kepada diri seperti lazimnya seorang perwira, ia pun menjadi berpikir tentang Mahesa Jenar. Sebab orang yang memiliki kehebatan yang sampai ke tingkat itu, pastilah bukan orang sembarangan.

 

CERITA BERSAMBUNG = 4 Juni 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
110

PERTEMPURAN itu berlangsung terus. Tetapi dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa Mahesa Jenar berhasil menguasai lawannya, sebaliknya orang yang telah bertempur itupun, setelah lawannya berkurang seorang, dapat pula sedikit demi sedikit mendesak musuhnya. Dengan demikian pertempuran itu ternyata sudah tidak seimbang lagi.

Dalam kemarahannya, suami-istri Sima Rodra itu bertempur semakin buas, liar dan kasar. Sedang lawannya, tampaknya tetap tenang dan yakin.
Sesaat kemudian terdengar suara yang aneh keluar dari mulut Sima Rodra. Suara jeritan yang mirip dengan aba-aba. Apalagi setelah itu, tampak pula gerak-gerak mereka yang mencurigakan.

Meskipun mereka bertempur terus, tampak bahwa mereka sedang berusaha untuk mendekati lobang goa. Mahesa Jenar maupun lawan yang seorang lagi, dapat segera menangkap maksud itu, karena itu mereka menjadi lebih waspada.

Dan apa yang dicurigakan itu memang ternyata benar. Untunglah bahwa kawan bertempur Mahesa Jenar memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Sehingga ketika pada suatu saat, dengan sekali gerakan suami-istri Sima Rodra itu meloncat akan memasuki goanya, secepat itu pula kawan bertempur Mahesa Jenar itu telah meloncat menghalang-halangi.

Kembali Sima Rodra mengaum hebat karena marahnya. Bersamaan dengan itu geraknya menjadi semakin liar. Tetapi keadaan itu tetap tidak menolong dirinya, sehingga mereka tetap terdesak terus. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi terdengar suara aneh dari harimau liar itu. Tetapi kali ini ternyata mereka lebih berhati-hati.

Demikian teriakan itu berhenti demikian mereka meloncat cepat seperti didera halilintar ke balik sebuah batu besar di samping goanya. Segera Mahesa Jenar dan kawan bertempurnya itu memburu. Tetapi terlambat.

Sesaat kemudian terdengar deru yang hebat dibalik batu itu, dan berguguranlah tanah di sekitarnya menyeret batu besar itu seolah-olah terhisap kedalam sebuah lobang besar di bawah tanah. Agar tidak turut terseret ke dalamnya, maka Mahesa Jenar bersama dengan lawan Sima Rodra itu serentak meloncat mundur. Selanjutnya untuk beberapa lama mereka hanya merenungi onggokan tanah bekas guguran itu.

Sebuah pintu rahasia, desis orang itu.

Memang sejak semula Mahesa Jenar juga menduganya demikian, apabila yang berkepentingan sudah ada di dalamnya, dengan sedikit sentuhan pada alat yang diperlukan, gugurlah tanah di atas pintu itu, dan menutup lubangnya sehingga mereka tidak akan dapat dikejar, untuk selanjutnya keluar dari pintu rahasia yang lain.

Sebentar kemudian kembali orang itu berkata, Terimakasih atas pertolongan Tuan.


Aku hanya membantu mempercepat penyelesaian saja, sebab tanpa aku pun tampaknya Ki Sanak pasti dapat menyelesaikan seorang diri,
jawab Mahesa jenar.


Orang itu tertawa lirih. Tuan terlalu menyanjung aku. Tetapi sebenarnya bahwa kedatangan tuan menyelamatkan nyawaku. Hanya sayanglah bahwa aku terpaksa tidak dapat terlalu lama menemui Tuan, sebab ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan, katanya kemudian.

Jantung Mahesa Jenar berdesir lembut. Apakah gerangan yang akan dilakukannya? Karena itu ia mencoba bertanya, Apakah yang memaksa Ki Sanak begitu tergesa-gesa?


Suatu pekerjaan yang tak berarti. Aku hanya ingin memeriksa keadaan di dalam goa, jawabnya.


Mahesa Jenar mulai melihat adanya sesuatu rahasia pada orang itu. Karenanya ia tidak bertanya tentang siapakah dia dan dari manakah datangnya, sebab pertanyaan yang demikian tentu tidak akan mendapat jawaban. Maka kemudian ia hanya berkata, Bolehkah aku turut serta masuk kedalam goa?

Orang itu tampak ragu-ragu sejenak, baru ia menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan, Tuan, apakah sebenarnya yang akan Tuan lakukan di atas bukit kecil ini?


Mendengar pertanyaan orang itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Tetapi pasti bahwa ia tidak akan menyebutkan keperluan yang sebenarnya. Maka dijawabnya dengan sekenanya saja, Aku datang untuk menuntut balas atas kematian kakakku di Pangrantunan.

Pangrantunan? sahut orang itu.
Ya, jawab Mahesa Jenar.
Tampaklah orang itu berpikir sejenak. Lalu katanya kemudian, Tuan... orang Pangrantunan?
Ya,
jawab Mahesa Jenar pendek.
Sayanglah bahwa Mahesa Jenar tak dapat melihat sorot mata orang itu di dalam gelap. Kalau saja ia mengetahui, dapatlah ia mengerti bahwa orang itu curiga kepadanya.

[Home][Previous][Next]

Mailing address:
Toko GajahSora
Divisi Bahan Bangunan (cat, pasir, semen, kunci)
Divisi Ikan Air Tawar (konsumsi)
Divisi Ikan Hias
Jalan. dr. Muwardi Raya No 23, Grogol, 11450
Tel. (021) 56717718