Nagasasra dan Sabukinten

Persekongkolan antara Kiai Lembu Sora dengan Sima Lodra

CERITA BERSAMBUNG = 26 Mei 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
101

SAMBIL menundukkan kepala serta langkah yang lemah, penduduk Pangrantunan mulai satu demi satu bergerak meninggalkan halaman rumah petani tua yang sama sekali tak diketahuinya, bahwa beliaulah Ki Ageng Sora Dipayana.

Dalam kepala mereka berkecamuklah seribu macam masalah. Tetapi satu hal yang telah menyusup di dalam hati mereka tanpa mereka sadari. Sejak saat itu mereka bertekad untuk mempertahankan tanah tercinta ini dari segala macam penindasan dan pemerasan. Kalau perlu akan mereka pertaruhkan darah dan nyawa.

Ketika tidak ada lagi seorang pun di halaman petani miskin itu, segera Mahesa Jenar menundukkan kepalanya kepada Ki Ageng Sora Dipayana sambil berkata, "Tuan..., maafkanlah aku yang sama sekali tidak tahu bahwa Tuanlah yang terkenal dengan sebutan Ki Ageng Sora Dipayana."

Orang tua itu tersenyum.


"Tak apalah. Kalau sampai engkau tidak mengenal, maka berbanggalah aku. Sebab dengan demikian aku merasa bahwa permainanku dapat berhasil," jawab orang tua itu.


Kembali Mahesa Jenar menghormat.

"Dengan ini atas nama perguruanku aku menyampaikan hormat," kata Mahesa Jenar.

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk lemah.


"Rupanya kau adalah satu-satunya waris dari gurumu," kata Ki Ageng Sora Dipayana.


"Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya waris yang harus menjunjung nama perguruanku. Tetapi kemampuanku sangatlah terbatas, sehingga aku sangat cemas bahwa tugas itu tak akan berhasil,"
jawab Mahesa Jenar.

Ki Ageng Sora Dipayana tertawa lirih.

"Aku tadi ternyata salah tebak. Ketika aku melihat orang tua dari Gunung Kidul yang malahan terkenal dari Wanasaba tadi, aku mengira bahwa kau adalah muridnya. Tetapi ketika aku melihat kau melangkah, barulah aku tahu bahwa kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh," sahut Sora Dipayana.

Benar Ki Ageng, aku adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh, jawab Mahesa Jenar lagi.


Siapakah namamu? tanya
Ki Ageng kemudian.

Mahesa Jenar Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar.


Lalu adakah kau mendapat tugas dari perguruanmu sehingga kau sampai ke daerah Pangrantunan ini?

Mendengar pertanyaan Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar jadi bimbang. Haruskah ia menyatakan tujuan sebenarnya, ataukah tidak? Dalam kebimbangan hati, Mahesa Jenar tidak segera dapat menjawab sehingga dalam beberapa saat ia berdiri kebingungan. Ki Ageng Sora Dipayana ternyata memang orang yang bijaksana. Karena itu segera ia menyambung, Mungkin kau mendapat tugas rahasia dari seseorang. Nah, kalau begitu baiklah aku bertanya soal lain saja.

Tidak, Ki Ageng... tidak..., potong Mahesa Jenar tergagap.

Ki Ageng Sora Dipayana tertawa perlahan. Kemudian ia bertanya, Kaukah satu-satunya Ki Ageng Pengging, yang masih ada? Gurumu almarhum adalah sahabat dekatku. Jadi jangan kau menaruh prasangka apapun kepadaku. Nah, tinggallah untuk sementara bersama aku di Pangrantunan.


Terima kasih Ki Ageng, terpaksa aku dengan menyesal tak dapat memenuhi, sebab aku masih harus meneruskan perjalanan, jawab Mahesa Jenar.
Begitu tergesa-gesa?
potong Ki Ageng.
Benar Ki Ageng.


Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Keningnya tampak berkerut, dan tiba-tiba terloncat kata dari mulutnya, Ke Gunung Tidar?

Pertanyaan ini rupanya mengejutkan Mahesa Jenar, sehingga ia kebingungan, sampai Ki Ageng Sora Dipayana meneruskan, Bagus, pergilah ke sana. Barangkali ada perlunya. Aku menduga bahwa kau tidak akan menderita sesuatu kalau kau cukup hati-hati. Bukankah Ki Ageng Pengging Sepuh terkenal dengan Sasra Birawa-nya? Aku kira kau telah memiliki itu pula.


Mahesa Jenar tak dapat berbuat lain kecuali mengiakan semua kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana, meskipun ia sendiri tak habis heran, kenapa orang tua itu dapat menebak maksudnya dengan tepat.


Meskipun demikian..., sambung orang tua itu, kau harus tetap waspada. Sebab penghuni Gunung Tidar bukan pula orang yang patut direndahkan. Dan jagalah bahwa kau dapat langsung mendekati tempat tinggal Sima Rodra.
Usahakan untuk tidak diketahui oleh para penjaga-penjaganya. Sebab bagaimanapun, jumlah yang banyak akan turut serta menentukan keseimbangan pertempuran. Apalagi disamping Sima Rodra sendiri masih ada beberapa orang yang termasuk orang-orang yang berilmu.

Kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu bagi Mahesa Jenar merupakan petunjuk yang sangat berharga. Maka dengan perasaan yang gembira ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.


Kau pernah ke Gunung itu? tanya Ki Ageng Sora Dipayana kemudian.
Belum Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar. Tetapi aku pernah lewat desa Gelangan di dekat Gunung itu.
Desa yang berbentuk gelang serta di tengah-tengahnya ada danaunya?
tanya Ki Ageng Sora Dipayana.


Benar Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar.

 


CERITA BERSAMBUNG = 27 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
102

KI AGENG Sora Dipayana kemudian menyarankan Mahesa Jenar agar mengambil jalan ke arah desa itu. Sebab kau akan terlalu banyak membuang waktu. Sebaiknya kau mengambil jalan yang biasa dilalui oleh gerombolan itu, melewati hutan bagian selatan. Kau tidak perlu lagi mencari-cari jalan, sebab daerah itu sering dilewati oleh anak buah Sima Rodra sehingga seakan-akan telah menjadi sebuah jalan raya. Sedang kalau kau bertemu dengan satu-dua orang dari mereka maka hal itu bukanlah hal yang perlu diributkan. Kau dapat dengan mudah menyembunyikan diri, atau dengan semudah itu pula membinasakan mereka, kata Ki Ageng.

Mahesa Jenar mendengarkan semua nasihat itu dengan saksama. Memang pekerjaan yang akan dilakukan bukanlah pekerjaan yang gampang. Dengan petunjuk-petunjuk yang diterima dari Ki Ageng Sora Dipayana, semakin teranglah jalan yang akan ditempuhnya.

Nah Mahesa Jenar, kata Ki Ageng Sora Dipayana akhirnya, memang sebaiknya kau tidak banyak membuang waktu. Kau dapat segera berangkat sekarang juga. Kalau tidak ada halangan, besok malam kau sudah akan sampai ke pusar pulau Jawa itu. Ingatlah, hindari pertemuan dengan para pengawal gunung. Pergilah langsung ke lambung utara. Di sana terletak sebuah goa tempat tinggal suami-istri Sima Rodra itu. Sedang untuk mendekati bukit itu ambillah jalan sebelah selatan, ambillah waktu ketika matahari telah terbenam.

Sekali lagi Mahesa Jenar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Dan sesudah itu ia mohon diri untuk segera melanjutkan perjalanannya ke Gunung Tidar. Ia sudah memutuskan untuk mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana.


Tetapi satu hal yang sama sekali tak diduganya, adalah bahwa dengan memberikan segala petunjuk itu, Ki Ageng Sora Dipayana telah membuat suatu rencana. Rencana yang hanya diketahui oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu sendiri. Karena itu ketika ia melihat Mahesa Jenar dengan langkah yang tetap berjalan menurut petunjuknya, tampaklah orang tua itu tersenyum sambil bergumam, Mudah-mudahan rencanaku berhasil. Bukankah dengan demikian aku telah membuat suatu jasa pada mereka...

Sementara itu Mahesa Jenar berjalan dengan langkah yang cepat. Ia mengharap bahwa besok malam ia sudah dapat sampai ke tempat tinggal Sima Rodra. Menilik rencana pertemuan dari golongan hitam, dimana Sima Rodra akan ikut serta, maka dapatlah dibayangkan bahwa setidak-tidaknya Sima Rodra sendiri atau berdua dengan istrinya, pasti mempunyai tingkat kepandaian sama dengan Lawa Ijo.

Ditambah lagi mereka ternyata memiliki pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Karena itu, ia harus berhati-hati dalam tiap tindakannya untuk mendapatkan kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Ketika itu, ketika ia telah agak jauh meninggalkan desa Pangrantunan, matahari telah condong ke barat. Angin yang bertiup agak kencang dari hutan terasa betapa silirnya. Meskipun demikian panas yang dipantulkan oleh debu-debu di jalan terasa seperti menyengat-nyengat kaki. Karena itu Mahesa Jenar semakin mempercepat langkahnya. Sekali-kali ia meloncat-loncat di atas rumput yang tumbuh di tepi-tepi jalan.

Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah meninggalkan daerah-daerah persawahan Pangrantunan. Ia mulai memasuki daerah-daerah padang ilalang dan hutan-hutan kecil untuk segera sampai ke induk hutan yang memagari tanah perdikan Pangrantunan.

Tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berjalan cepat-cepat itu mendengar suara ringkik kuda. Segera ia menghentikan langkahnya serta bersiap-siap, kalau-kalau suara ringkik kuda itu berasal dari gerombolan Sima Rodra. Tetapi sampai beberapa saat ia sama sekali tidak mendengar langkahnya. Karena itu Mahesa Jenar menduga bahwa kuda itu pastilah berhenti.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar menyusup batang-batang ilalang, mendekati arah suara ringkikan kuda itu. Setelah beberapa langkah, benar-benar Mahesa Jenar melihat kuda lengkap dengan pelananya, tetapi tidak ada penunggangnya. Maka timbullah kecurigaannya. Tiba-tiba ia menjadi sangat terkejut ketika dilihatnya di samping kuda itu, menggeletak sesosok tubuh yang rupa-rupanya sudah tidak bernyawa lagi.

Perlahan-lahan dan hati-hati ia merunduk mendekati mayat itu. Ternyata bahwa mayat itu adalah mayat seorang laki-laki yang gagah. Di tangannya masih tergenggam sebatang tombak pendek. Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati daerah di sekitar mayat itu, sama sekali tidak terdapat bekas-bekas telapak, baik telapak kuda maupun telapak kaki manusia yang lain kecuali telapak kuda yang seekor itu.

Ketika Mahesa Jenar sudah yakin bahwa di sekitar tempat itu sama sekali tidak ada bahaya, maka mulailah ia mengamat-amati mayat orang gagah itu dengan saksama.

Wajah mayat itu tampak biru kemerah-merahan, hampir di seluruh permukaan kulitnya tampak noda-noda biru kemerah-merahan. Melihat tanda-tanda itu segera Mahesa Jenar dapat menerka bahwa orang itu pasti meninggal karena racun.

Sampai beberapa lama Mahesa Jenar mencari, masih belum dapat ditemukan luka yang menyebabkan kematian orang itu. Baru ketika mayat itu ditelungkupkan, tampaklah sebuah jarum sumpit yang masih menancap di punggungnya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa orang itu telah diserang dari belakang. Atau kemungkinan lain orang itu dikenai sumpit pada waktu ia sedang melarikan diri.

Lebih heran lagi Mahesa Jenar ketika melihat pada ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak tangan, dan dibuat dari kulit kerbau, tampaklah sebuah pahatan yang mirip dengan dua ekor ular yang saling membelit. Mula-mula Mahesa Jenar agak bingung menafsirkan gambar itu, tetapi akhirnya berdesirlah jantungnya. Ini pastilah gambar dua ekor uling. Kalau demikian maka orang ini pasti termasuk salah seorang anggota gerombolan yang dikenal dengan nama pimpinannya, sepasang uling dari Rawa Pening.

Tetapi kenapa ia sampai kemari, juga siapa yang membunuhnya, merupakan suatu teka-teki bagi Mahesa Jenar. Yang terang baginya adalah, bahwa orang itu belum terlalu lama meninggal. Mungkin pagi tadi, atau malahan sesudah hampir tengah hari.

 

 

CERITA BERSAMBUNG = 28 Mei 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
103

BELUM lagi Mahesa Jenar selesai meneliti tubuh mayat itu, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda. Cepat-cepat Mahesa Jenar memperhatikan arahnya, lalu dengan cepat sekali ia meloncat ke gerumbul yang terdekat. Ia harus berusaha untuk bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah yang datang. Beberapa saat kemudian derap kuda itu sudah dekat benar, dan segera muncullah dari dalam hutan beberapa orang berkuda. Rupanya mereka sedang mencari sesuatu atau mencari jejak, sebab hampir semua dari mereka mengawasi jalan yang akan dilewatinya.

Melihat rombongan itu, sekali lagi Mahesa Jenar tersirap. Diantara orang-orang berkuda itu, Mahesa Jenar melihat, bahwa meskipun orang itu berpakaian laki-laki, tetapi jelas bahwa ia adalah seorang perempuan. Maka tanggapan Mahesa Jenar segera mengarah kepada istri Sima Rodra. Sedangkan apakah Sima Rodra sendiri ada diantara mereka, Mahesa Jenar masih belum tahu.

Rombongan itu ternyata benar-benar sedang mencari jejak kaki. Malahan jejak kaki orang yang meninggal itu. Karena itu, pada mayat orang gagah itulah rombongan berkuda itu mengarah. Dengan demikian Mahesa Jenar harus semakin rapat bersembunyi.

Ternyata setelah mereka dekat serta semakin jelas, jumlah mereka seluruhnya ada tujuh orang, satu diantaranya seorang perempuan yang sudah hampir setengah umur, tetapi menilik tubuh serta wajahnya ia masih tampak lincah dan cantik.

Ketika salah seorang dari mereka melihat mayat itu, ia segera berteriak, Itulah dia... Ki Lurah.

Mendengar teriakan itu, seorang yang bertubuh tegap, gagah, bahkan lebih agak gagah dari mayat itu, segera meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati mayat itu, yang segera disusul oleh satu-satunya perempuan dalam rombongan itu.

Melihat mereka berdua, segera Mahesa Jenar menebak bahwa mereka berdualah yang terkenal dengan suami-istri Sima Rodra.

Setelah mereka sampai pada mayat itu, segera suami-istri itu berjongkok mengamat-amati. Kemudian segera tangannya meraih tombak pendek itu.Hem.., sayang adi Gemak Paron. Terpaksa aku membunuhnya. Kalau tidak, pastilah Kiai Kala Tadah ini jatuh ke tangan sepasang Uling Rawa Pening, gumamnya.


Mungkin tujuannya lebih dari itu, sahut istrinya, Mungkin Adi Gemak Paron mendapat tugas untuk mengambil kedua keris itu.

Mungkin juga, jawab si suami, sebab kalau tidak, tugas yang penting itu pastilah bukan Adi Gemak Paron yang harus melaksanakan.
Tetapi kejadian ini pasti ada akibatnya,
sela istrinya, Apakah kakak-beradik dari Rawa Pening itu akan tinggal diam?
Pasti tidak,
jawab si suami, Tetapi ia tidak pula akan bertindak gegabah. Sebab kalau tindakannya terdengar oleh golongan lain, pasti akan menimbulkan keributan pula. Pastilah Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya tidak pula akan tinggal diam.


Si istri tampak berpikir sejenak, lalu katanya, itu berarti akan mempercepat saat pertemuan akhir tahun ini di Rawa Pening. Mungkin mereka akan bersama-sama datang ke Gunung Tidar untuk memperebutkan pusaka-pusaka itu.


Mungkin,
jawab suaminya. Itu berarti pekerjaan kita bertambah berat.
Lalu bagaimana dengan Adi Gemak Paron itu?
potong istrinya. Sebab Adi Yuyu Rumpung yang lolos dari kejaran kami pasti segera akan melaporkan kejadian ini.

Belum lagi mereka menentukan sikap, tiba-tiba terdengarlah derap kuda dari arah lain. Tampaklah bahwa semua orang dalam gerombolan itu terkejut. Tidak terkecuali suami-istri Sima Rodra.
Rupa-rupanya Adi Gemak Paron tidak hanya berdua, desis si istri.
Kau benar, jawab suaminya. Bersiaplah kalian,
perintahnya kepada anak buahnya.


Maka segera mereka pun bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Suara derap kuda itu semakin lama semakin jelas. Dan Mahesa Jenar pun tidak kalah cemasnya, sebab arah derap kuda itu menuju kepadanya. Karena itu, ia pun melipat dirinya lebih kecil lagi di bawah sebuah gerumbul yang berdaun rapat.


Sejenak kemudian kuda yang larinya seperti terbang meluncur hanya beberapa langkah di samping Mahesa Jenar. Melihat penunggang-penunggangnya, Mahesa Jenar agak keheran-heranan pula. Mungkinkah mereka dari gerombolan Uling Rawa Pening? Sebab tampaklah wajah mereka berbeda dengan wajah-wajah gerombolan Sima Rodra. Sedangkan pakaian mereka pun sama sekali tidak seperti pakaian orang yang mati itu.

Rombongan yang kedua ini terdiri dari orang yang jumlahnya lebih banyak. Semua kira-kira ada 15 orang. Ketika rombongan yang kedua ini melihat rombongan Sima Rodra, mereka pun tampak terkejut. Maka dengan segera mereka menarik tali kekang kuda mereka, sehingga kuda-kuda mereka berdiri dan berhenti seketika.
Melihat rombongan yang baru saja datang itu, ternyata Sima Rodra beserta anak buahnya bertambah terkejut lagi, sehingga ketika rombongan yang kedua itu telah berhenti. Sima Rodra segera berkata, Aku menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada rombongan Ki Ageng Lembu Sora.

Mendengar sapa Sima Rodra itu, giliran Mahesa Jenar yang terkejut bukan kepalang. Inilah orangnya yang bernama Ki Ageng Lembu Sora, putra kedua dari Ki Ageng Sora Dipayana.

Ki Ageng Lembu Sora adalah seorang yang bertubuh sedang, berwajah keras. Matanya memancarkan sinar ketamakan dan pemujaan kepada nafsu-nafsu jasmaniah.

Sambil masih duduk di atas kudanya ia menjawab, Salamku kepada kalian.
Terima kasih Ki Ageng,
jawab Sima Rodra.


Kenapa kalian berada di tempat ini? tanya Ki Ageng Lembu Sora.
Kami sedang mengejar orang ini, Ki Ageng, jawab Sima Rodra sambil menunjuk kepada mayat Gemak Paron.
Siapakah dia? tanya Lembu Sora kembali.
Ia berusaha untuk mencuri pusaka kami, Kiai Kala Tadah. Untunglah bahwa aku dapat mengenainya dengan sumpit, sehingga ia tidak dapat melarikan diri lebih jauh lagi, jawab Sima Rodra.

 


CERITA BERSAMBUNG = 29 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
104

LEMBU SORA tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, "Dari manakah dia?"

"Dari daerah Rawa Pening," jawab Sima Rodra.

"Gerombolan yang dipimpin oleh Uling Rawa Pening...?" Lembu Sora menegaskan.

"Ya," jawab Sima Rodra.
Sekali lagi Lembu Sora mengangguk-angguk.

Untunglah gerombolan Uling itu sampai sekarang masih diberi kesempatan berdiri. Kalau saja Kakang Gajah Sora sudah mau bertindak maka umur gerombolan itu tidak akan lebih dari satu senja, kata Lembu Sora kemudian.

Rupanya hal itu pun disadari oleh sepasang Uling itu, sehingga mereka tidak berani berbuat apa-apa di dalam wilayah kekuasaan Ki Ageng Gajah Sora. Meskipun secara perseorangan belumlah pasti bahwa kakak-beradik Uling itu dapat dikalahkan oleh Gajah Sora, sahut Sima Rodra.

"Kau yakin akan hal itu?" potong Lembu Sora.

"Hal yang mungkin sekali," jawab Sima Rodra.

Lembu Sora tampak mengernyitkan alisnya. Ia tampak tidak begitu senang mendengar keterangan Sima Rodra itu. Seperti kau yakin bahwa kau tidak dapat aku kalahkan, katanya kemudian.

Sima Rodra menarik nafas panjang. Tampaklah betapa tajam pandangan matanya.

Perlahan-lahan ia menegakkan kepalanya, memandang ke arah puncak-puncak pohon raksasa yang bertebaran di hutan. Jelas, betapa ia mencoba menguasai dirinya untuk tidak bertindak tergesa-gesa.

Sebentar kemudian, baru Sima Rodra menjawab, "Ki Ageng, aku tidak ingin berkata demikian. Selama kita masih saling menghormati persetujuan kita. Biarlah, apa saja yang akan terjadi di daerah Banyu Biru dan Rawa Pening. Sedang diantara kita hendaknya tetap berlaku persetujuan yang sudah sama-sama kita terima, supaya kita tidak usah menilai, siapakah diantara kita yang lebih kuat. Sedangkan apa yang berlaku sekarang aku rasa sudah saling menguntungkan."


Wajah Lembu Sora menjadi tegang pula. Rupanya ia pun sedang berusaha untuk menguasai perasaannya."

Sejenak kemudian dengan mata yang berapi-api ia berkata, "Bagus, kalau kau masih tetap dalam pendirianmu itu. Tetapi aku dengar kau mulai membuat perkara. Karena itu aku sekarang memerlukan berkeliling pagar perdikanku untuk mengetahui kebenaran berita bahwa kau mulai merambah ke daerah lalu lintas dengan Pamingit."

"Itu tidak benar, " potong Sima Rodra, "Aku tidak biasa berbuat kecurangan-kecurangan yang naif semacam itu. Mungkin dalam kehidupanku telah ribuan kali aku berbuat curang, tetapi untuk keperluan yang cukup bernilai dan seimbang dengan kecurangan yang terpaksa aku lakukan."

Sima Rodra diam sejenak. Suasana segera meningkat semakin tegang. Tampaklah bahwa masing-masing telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemungkinan.

"Yang benar... dua orangku pagi ini telah mati di Pangrantunan, " lanjut Sima Rodra.
Lembu Sora tampaknya agak terkejut mendengar berita itu, sehingga ia bertanya, "Kenapa? "

"Sebabnya masih belum begitu jelas, sebab aku masih belum sempat mengusutnya, karena ada peristiwa pencurian pusaka ini. Tetapi dua-tiga hari yang akan datang, pastilah aku sendiri akan datang ke Pangrantunan untuk melihat siapakah yang telah berbuat kejahatan itu, " jawab Sima Rodra.

Sima Rodra..., yang termasuk dalam persetujuan kita hanyalah sumbangan hasil bumi dari penduduk Pangrantunan, bukan orang-orangnya, sahut Sima Rodra.

"Tetapi aku tidak membiarkan pembunuhan itu menjadi kebiasaan. Karena itu, yang bersalah harus mendapat hukuman, " jawab Sima Rodra.

"Aku beri wewenang kau melakukan hukuman hanya kepada yang bersalah. Tetapi awas, jangan berbuat sekehendakmu saja atas orang-orangku. Sebab ganti yang kau berikan kepadaku akhir-akhir ini ternyata mulai merosot nilainya, " kata Lembu Sora.

Mendengar kata-kata Lembu Sora yang terakhir, tiba-tiba Sima Rodra tertawa menggelegar.

Katanya kemudian, "Jangan takut Ki Ageng, lain kali pasti akan lebih memberi kepuasan kepada Ki Ageng..."
.
"Aku berkata sebenarnya, karena itu segala sesuatunya terserah kepadamu. Aku akan melanjutkan perjalanan sekarang,"
potong Ki Lembu Sora.


Sehabis mengucapkan kata-kata itu, segera ia menarik tali kekang kudanya, serta mencambuknya keras-keras, sehingga kudanya terloncat dan berlari kencang. Para pengikutnya segera mengikutinya pula. Suami-istri Sima Rodra bersama anak buahnya mengawasinya sampai hilang di balik semak-semak.

Setelah itu kembali terdengar Sima Rodra tertawa tergelak-gelak.

"Orang gila. Rupa-rupanya masih juga ada sisa-sisa minatnya untuk meninjau daerah perdikannya yang sebentar lagi pasti akan dapat aku telan seluruhnya," kata Sima Rodra kemudian.

 

CERITA BERSAMBUNG = 30 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
105

JANGAN terlalu tergesa-gesa. Apa kau kira Ki Ageng Gajah Sora akan tinggal diam? potong istrinya.

Dengan kedua pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tangan kita, pastilah bahwa kita akan menguasai segenap aliran hitam di pulau Jawa, seperti apa yang pernah kita janjikan bersama. Sesudah itu apakah arti kekuasaan Gajah Sora. Sedangkan Demak sendiri lambat laun pasti akan dapat aku lenyapkan pula, kata Sima Rodra.


Istri Sima Rodra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, Mudah-mudahan semua itu tidak hanya merupakan sebuah impian yang akan lenyap bersama terbitnya matahari.

Si suami tertawa perlahan-lahan. Seperti kepada dirinya sendiri ia berkata, Aku harus bekerja lebih keras. Mungkin akan banyak hal yang harus aku hadapi dalam perjalanan ke istana Demak.


Lalu apa yang akan kita perbuat sekarang? Tiba-tiba istrinya bertanya.

Sima Rodra itu menjadi seperti orang yang tersadar dari lamunannya. Kembali ia mengamat-amati mayat Gemak Paron.

Sebentar kemudian ia berkata, Marilah Nyai, sebaiknya kita kembali. Mungkin sehari dua hari kakak-beradik Uling dari Rawa Pening akan berkunjung ke rumah kita. Baru sesudah itu kita pergi ke Pangrantunan untuk mencari pembunuh-pembunuh itu.
Tidakkah kita selesaikan sama sekali masalah Pangrantunan yang tinggal tidak seberapa jauh lagi?

Sima Rodra tampak agak berpikir, tetapi segera ia menjawab, Masalah Pangrantunan sama sekali bukan masalah yang perlu mendapat perhatian banyak. Tetapi sepasang Uling itu benar-benar memerlukan persiapan yang cukup untuk menyambutnya.


Setelah itu maka segera ia pun berdiri meninggalkan mayat Gemak Paron, langsung menuju ke kudanya. Dan sejenak kemudian rombongan itu pun pergi meninggalkan mayat itu tetap terkapar, sambil membawa kembali pusaka yang disebutnya Kiai Kala Tadah.


Setelah derap kuda mereka tak terdengar lagi, Mahesa Jenar perlahan-lahan keluar dari persembunyiannya. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya. Meskipun ia tidak tahu bunyi perjanjian antara Ki Ageng Lembu Sora dan Sima Rodra, tetapi bahwa Ki Ageng Lembu Sora bersedia menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk sumber perbekalan dari golongan hitam, adalah suatu tindakan yang tercela.

Apapun yang diterima Lembu Sora dari Sima Rodra sebagai gantinya, hal itu adalah suatu penghinaan atas kekuasaan yang dipegangnya, dengan membiarkan adanya kekuasaan asing turut serta mencampuri masalah di dalam rangkah. Apalagi ketika Mahesa Jenar teringat akan rencana Sima Rodra, tidak saja menguasai Perdikan ini, tetapi ia sudah mulai merintis jalan ke Demak.

Tetapi ketika ia teringat bahwa Ki Ageng Sora Dipayana dengan ujudnya yang baru telah kembali ke Pangrantunan, hatinya menjadi agak tenteram. Pasti orang tua itu tidak akan membiarkan pengkhianatan itu tetap berlangsung. Sebab kekuasaan yang selalu dibayangi oleh kekuasaan lain tidaklah lebih dari kekuasaan boneka.

Sebentar kemudian segera Mahesa Jenar sadar akan tugasnya. Ia harus cepat-cepat pergi ke Gunung Tidar. Kalau benar apa yang diperhitungkan oleh Sima Rodra, yaitu kemungkinan akan datangnya Uling dari Rawa Pening, maka ia harus berusaha untuk mendahuluinya. Sebab kalau tidak, dan sepasang Uling itu sampai berhasil merebut kedua keris pusaka itu, maka tugasnya akan bertambah sulit.

Karena itu Mahesa Jenar pun segera melanjutkan perjalanannya. Sejenak kemudian ia telah memasuki daerah hutan yang cukup lebat pula. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa di dalam hutan itu seolah-olah telah dibuat sebuah jalan, yang walaupun sempit tetapi cukup baik untuk lalu lintas kuda maupun orang berjalan. Maka tidaklah ada kesulitan apa-apa bagi Mahesa Jenar untuk langsung menuju ke Gunung Tidar.

Tetapi belum lama ia menyusur jalan rimba, tiba-tiba didengarnya telapak kuda yang lari sangat kencang dari arah depan.

Mula-mula Mahesa Jenar mengira orang-orang Sima Rodra. Tetapi ketika diketahuinya bahwa suara derap kuda itu tidak lebih dari seekor, maka maksudnya untuk menghindar itu diurungkan. Ia tetap saja berdiri menepi dengan maksud untuk mendapatkan suatu pengertian baru tentang Sima Rodra dari orang itu.

Sebentar kemudian tampaklah seekor kuda yang lari seperti terbang menuju ke arahnya. Penunggangnya adalah orang yang pendek kokoh dan berjambang tebal.

Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, ia pun tampak terkejut. Segera ia menarik kekang kudanya sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar. Mula-mula wajah orang itu tampak tegang.

Tetapi ketika ia melihat ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak tangan serta dibuat dari kulit kerbau, menjadi terkejut. Segera ia ingat kepada Gemak Paron yang mati kena sumpit punggungnya, juga memakai ikat pinggang yang serupa.

Maka kesimpulan bagi Mahesa Jenar, orang ini pasti juga salah seorang dari gerombolan Uling Rawa Pening. Mungkin orang inilah yang tadi disebut-sebut dengan nama Yuyu Rumpung, yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Sima Rodra.

Kalau demikian, kiranya Yuyu Rumpung tadi telah berhasil menyelinap ke dalam hutan, sementara gemak Paron berlari terus. Kemudian setelah diketahuinya bahwa Sima Rodra telah kembali ke sarangnya, ia segera berusaha untuk melarikan diri.

Orang berkuda itu, setelah memandangi Mahesa Jenar sejenak segera bertanya, Siapakah kau yang berani lewat di jalan yang khusus bagi gerombolan Sima Rodra?

Tiba-tiba timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menjajagi kekuatan gerombolan Uling ini, dengan mencoba kekuatan salah seorang anggotanya yang terkemuka. Dengan demikian ia akan dapat mengetahui kira-kira sampai dimana kekuatan anggota-anggota yang lain. Sedang pimpinan rombongannya sendiri pastilah tidak akan banyak terpaut dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan mungkin juga Sima Rodra.

[Previous][Next]

Bersambung ke episode selanjutnya

http://gajahsora.com