NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
086
MELIHAT lawan-lawannya berlari, Mahesa Jenar sama sekali tidak
berusaha mengejarnya. Orang berkapak itu juga tidak.
Pada saat itu, warna langit di sebelah timur sudah semakin terang.
Bayangan pepohonan serta bentuk-bentuk batang-batang ilalang
menjadi semakin jelas. Juga wajah orang berkapak itu menjadi
jelas.
Kalau sebelumnya, kecuali karena gelapnya malam, juga karena Mahesa Jenar tidak sempat mengamati orang berkapak itu, kini ia dapat dengan jelas melihat wajahnya.
Dan ketika Mahesa Jenar melihat wajah orang itu, darahnya tersirap, seakan-akan ada sesuatu masalah yang memukul rongga dadanya. Karena itu sampai beberapa saat ia berdiri diam seperti patung.
Sedang orang berkapak itu, setelah melihat bahwa lawan-lawan Mahesa Jenar berlari, berdiri seperti acuh tak acuh saja. Juga ketika ia melihat Mahesa Jenar memandangnya dengan wajah yang membayangkan keruwetan hatinya, orang berkapak itu sama sekali tidak mempedulikannya.
Akhirnya, setelah agak tenang hatinya, Mahesa Jenar segera mendekati orang itu sambil berkata, Terimakasih atas segala pertolongan yang telah aku terima, sehingga aku terbebaskan dari tangan mereka.
Orang itu masih saja berdiri acuh tak acuh. Meskipun demikian ia menjawab pula, Tak usah kau menyatakan terimakasih kepadaku. Ketahuilah bahwa kedatanganku membawa suatu masalah yang harus kita selesaikan. Kalau aku menolongmu, itu adalah karena aku takut bahwa masalah kita akan tetap merupakan masalah yang tidak selesai.
Mendengar jawaban orang itu, sebenarnya Mahesa Jenar merasa sedikit tersinggung oleh ketinggian hatinya. Tetapi meskipun demikian ia berusaha juga menyabarkannya. Katanya pula, Bagaimanapun kali ini engkau telah melepaskan aku dari kekuasaan mereka.
Mungkin.... Tetapi belumlah pasti bahwa kau dapat melepaskan diri dari persoalan yang kau hadapi sekarang, jawab orang itu, masih dengan nada dingin.
Kembali Mahesa Jenar terpaksa menyabarkan dirinya. Meskipun hatinya bergetar hebat. Sampai orang tadi melanjutkan, Kedatanganku kemari adalah pertama-tama karena seseorang merasa mempunyai pinjaman sesuatu barang kepadamu. Dan tak seorangpun dapat disuruhnya menyerahkan kembali. Akulah yang menyanggupkan diri untuk mengembalikan barang itu kepadamu. Kedua, adalah karena masalahku sendiri. Masalah yang pada saat itu kau putar-balikkan kenyataannya dengan mengumpankan seorang yang sama sekali tak berarti. Kau kira bahwa dengan perbuatan yang demikian itu kau akan dapat menyembunyikan kenyataan untuk seterusnya. Dengan kesombonganmu, menyediakan diri dalam sayembara tanding itu, aku kira kau adalah seorang yang benar-benar jantan. Tetapi menghadapi suatu masalah terakhir, kau melarikan diri.
Darah Mahesa Jenar benar-benar bergolak hebat. Tuduhan-tuduhan yang datang bertubi-tubi seperti mengalirnya sungai yang sedang banjir melanda dirinya tanpa diduga-duganya. Sebenarnya Mahesa Jenar bukanlah termasuk seorang pemarah. Karena itu untuk menahan diri, Mahesa Jenar menekankan giginya sampai gemeretak.
Apalagi ketika orang itu menyambung bicaranya, Nah, aku beri waktu kau sehari ini untuk beristirahat. Aku kira kau masih lelah setelah mengalami pertempuran pagi ini. Sesudah hari ini dan malam nanti, baiklah besok kita selesaikan masalah kita. Sayang aku tak dapat menyaksikan sebaik-baiknya cara kau membela diri terhadap orang yang mengeroyokmu. Sebab aku terlalu cemas menyaksikan pertarungan tadi. Kalau-kalau kau dapat dibinasakan, maka aku akan tetap menyesali hidupku selama-lamanya. Tetapi mengingat apa yang telah kau lakukan, serta apa yang baru saja terjadi, meskipun aku tidak menyaksikan dengan jelas, kau adalah termasuk orang yang berkepandaian tinggi. Mungkin pula aku tak akan dapat menyamai kepandaianmu. Tetapi bagaimanapun juga aku akan puas dengan penyelesaian terakhir yang akan kita tentukan bersama.
Hampir saja kemarahan Mahesa Jenar meledak. Tetapi untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri. Apalagi ketika tiba-tiba dilihatnya orang itu memutar tubuhnya, lalu berjalan perlahan-lahan menjauhinya.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak dengan gemetar menahan diri. Dipandangnya punggung orang itu dengan seksama. Alangkah tinggi hatinya. Tetapi sejenak kemudian Mahesa Jenar telah dapat menenangkan hatinya. Ia dapat memahami kenapa orang itu harus bersikap sedemikian, bahkan sudah hampir merupakan sebuah kesombongan yang besar.
Tetapi menurut keterangan yang pernah didengarnya, sebenarnya ia bukanlah seorang yang jahat. Ia hanyalah seorang yang mempunyai dua alam yang terpisah. Alam angan-angan dan alam kenyataan. Juga ceritera tentang masa mudanya, yang selalu dipenuhi dengan perantauan-perantauan yang penuh dengan kejadian-kejadian yang hebat-hebat, tetapi kemudian tak ada lagi kesempatan baginya untuk mengalami kembali, membuatnya seperti orang yang tak tahu melihat kenyataan.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
087
PERLAHAN-LAHAN Mahesa Jenar dapat menguasai dirinya kembali. Apa yang baru saja terjadi dianggapnya sebagai suatu kesalahpahaman saja. Hanya ia masih belum menemukan jalan penyelesaian yang sebaik-baiknya.
Sementara itu matahari telah semakin tinggi menanjak kaki langit. Terasalah betapa segar sinarnya menyentuh tubuh Mahesa Jenar yang kelelahan. Tiba-tiba saja terasa betapa penatnya setelah semalam suntuk harus melayani 19 orang gerombolan Lawa Ijo. Juga terasa betapa kantuknya. Alangkah nikmatnya kalau tubuhnya segera beristirahat, meskipun hanya sejenak. Tapi baru saja Mahesa Jenar melangkah akan memasuki guanya, berdesirlah hatinya mendengar seruling yang seperti membelai hatinya.
Segera ia menghentikan langkahnya dan melemparkan pandang ke arah suara seruling yang berderai sesegar wajah pagi. Dilihatnya diatas sebuah batu hitam yang besar, orang berkapak itu duduk meniup serulingnya. Kapaknya disandarkan pada batu tempat ia duduk.
Mahesa Jenar adalah juga seorang penggemar lagu. Ia sendiri sebenarnya pandai juga meniup seruling. Karena itu, ia sangat tertarik mendengar lagu yang demikian indahnya. Maka ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Malahan ia berdiri bersandar bibir goa dan dengan nyamannya mendengarkan lagu yang memancar begitu segar.
Dan diluar sadarnya ia bergumam, Pantaslah kalau orang menyebutnya Seruling Gading. Kepandaiannya meniup seruling hampir sampai pada tingkat sempurna. Ternyata apa yang diceriterakan Ki Asem Gede sama sekali tidak berlebih-lebihan.
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba saja ia teringat kepada masalah
yang harus diselesaikannya dengan Seruling Gading. Masalah yang
ingin ia kuburkan sedalam-dalamnya. Yang kini tiba-tiba saja
telah muncul kembali dalam bentuk yang justru lebih tegas. Karena
itu ia menjadi gelisah. Bukan karena ia harus berhadapan dengan
Seruling Gading yang apabila ia tetap dalam pendiriannya, akan
merupakan suatu pertempuran yang tak dapat dianggap ringan, tetapi
seperti masalah yang pernah dihadapinya beberapa waktu yang lalu,
ialah menang atau kalah, ia akan tetap menyesali dirinya.
Berpikir tentang masalah itu, perhatiannya terhadap lagu itu jadi berkurang. Malahan kembali terasa betapa penatnya setelah ia bekerja keras semalam suntuk. Karena itu timbullah kembali keinginannya untuk beristirahat.
Maka segera ia pun melangkah masuk ke dalam goa, dan merebahkan diri diatas sebuah tikar batang ilalang yang dibentangkan diatas sebuah batu panjang. Tetapi bagaimanapun ia berusaha untuk melupakan, meskipun hanya sejenak, namun pikirannya tetap masih saja melingkar-lingkar kepada Seruling Gading.
Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat sesuatu, sampai ia terloncat berdiri. Bukankah Seruling Gading itu pada saat ia tinggalkan berada dalam keadaan lumpuh...? Dan bukankah Ki Asem Gede telah meminjam biji bisa ularnya untuk mencoba menyembuhkan kelumpuhan itu...?
Ia jadi teringat pula kata-kata Seruling Gading bahwa ia mendapat suatu titipan untuknya. Karena pada saat pikirannya sedang digelisahkan oleh sikap tinggi hati orang itu, sampai ia tidak begitu memperhatikan kata-katanya. Titipan itu pastilah dari Ki Asem Gede untuk mengembalikan biji bisa yang telah menyembuhkan kaki Seruling Gading.
Mengingat hal-hal itu semua, Mahesa Jenar menjadi bimbang. Apakah Ki Asem Gede tidak mengatakan kepadanya bahwa barang yang dibawa untuknya itulah yang telah menyembuhkan kakinya? Ataukah Ki Asem Gede takut bahwa dengan demikian si Tinggi Hati itu akan semakin tersinggung?
Mula-mula Mahesa Jenar berhasrat untuk mengatakan hal itu, tetapi niat itu diurungkan. Sebab kalau Ki Asem Gede saja tidak mau mengatakannya, pastilah ada sebabnya.
Tetapi sejenak kemudian, mendadak wajah Mahesa Jenar menjadi terang. Ia telah menemukan suatu cara untuk menyelesaikan masalah itu, meskipun ia terpaksa sedikit menyombongkan diri, serta mempunyai kemungkinan yang berlawanan dengan tujuannya.
Maka setelah mendapat pikiran yang demikian, agak legalah hatinya, sehingga pikirannya tidak lagi digelisahkan oleh kehadiran Seruling Gading. Bahkan tiba-tiba kembali ia bisa menikmati suara seruling yang lincah membentur dinding-dinding goa.
Dalam tangkapan Mahesa Jenar, Seruling Gading itu ingin berceritera
tentang derai air laut yang membelai pantai.
Suaranya gemericik berloncat-loncatan. Alangkah riangnya. Seriang anak domba yang dilepaskan di padang hijau, di bawah lindungan gembala yang pengasih.
Namun tiba-tiba hampir mengejutkan, nada itu melonjak berputaran
melukiskan datangnya topan yang dahsyat serta kemudian mengguruh
menimbulkan badai. Ombak yang dahsyat datang bergulung-gulung
menghantam keriangan wajah pantai.
Tetapi yang mengagumkan Mahesa Jenar adalah, Seruling Gading
dalam lagunya yang gemuruh dahsyat itu, berhasil menyelipkan
sebuah nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu kecil sedang
berusaha mencapai pantai sambil melawan tantangan alam yang ganas
itu. Tetapi mendadak lagu itu berhenti sampai sekian, sehingga
Mahesa Jenar agak terkejut pula karenanya.
Rupanya Seruling Gading dengan demikian ingin mengatakan kepadanya bahwa ia sendiri, dalam perjalanan hidupnya, bagaikan sebuah perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang keadaan yang maha dahsyat. Namun demikian ia tetap berjuang untuk masa depannya.
Untuk ketenteraman hidupnya. Sehingga mau tidak mau Mahesa Jenar memuji di dalam hatinya. Hanya saja, perwujudan dari ketabahan Wirasaba dalam menghadapi tantangan hari depannya, kadang-kadang dilahirkan dalam bentuk yang kurang tepat, sehingga sifatnya yang memang sudah tinggi hati itu, mencapai bentuk yang agak berlebih-lebihan. Sampai sekian, Mahesa Jenar tidak sempat lagi terlalu banyak menilai Seruling Gading. Kelelahan dan kantuknya tak dapat lagi ditahannya, sehingga sesaat kemudian ia jatuh tertidur.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
088
SERULING GADING yang baru saja menempuh perjalanan yang cukup
jauh, ditambah pula dengan pertempuran yang baru saja dilakukan,
tidak pula kalah lelahnya. Maka, ketika matahari sudah melewati
puncak langit, segera ia pun terserang kantuk pula.
Apalagi ketika angin silir mengusap tubuhnya. Terasa betapa
nyamannya. Karena itu segera Seruling Gading mencari tempat yang
teduh, di bawah bayangan pohon yang rindang, untuk merebahkan
diri. Dan sejenak kemudian ia pun tertidur.
Baru ketika matahari hampir tenggelam, Seruling Gading terbangun
oleh suara seruling. Alangkah terkejutnya, ketika ia mendengar
lagu yang berkumandang demikian merdunya. Ia sendiri demikian
mahirnya meniup seruling sampai orang menyebutnya Seruling Gading.
Tetapi di sini, di padang rumput, di sela-sela hutan rimba, ia
mendengar dengan telinganya sendiri suara seruling yang demikian
indahnya, sampai ia sendiri tak dapat menilainya. Siapakah yang
lebih pandai, selain ia sendiri, yang mendapat julukan Seruling
Gading? Siapakah peniup seruling di tengah-tengah padang ilalang
ini...?
Lebih kagum lagi ketika ia mendengar, bagaimana orang yang
meniup seruling itu berusaha untuk mengulang kembali ceriteranya
yang telah diungkapkan lewat nada siang tadi. Ceritera tentang
derai air laut yang membelai pantai, gemericik berloncat-loncatan.
Bahkan ceritera itu kini dilengkapi dengan desir angin yang bermain
bersama burung-burung camar yang beterbangan dengan lincahnya.
Tetapi dengan tiba-tiba pula, nada itu melonjak melingkar-lingkar
bagaikan topan yang dengan dahsyatnya menimbulkan putaran-putaran
air serta gelombang yang bergolak mengerikan. Sedangkan di sela-sela
riuhnya gelombang yang membentur pantai itu, terselip pula sebuah
nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu yang kecil sedang
menyusup diantara gelegak ombak, berusaha mencapai pantai.
Sampai sekian perasaan Seruling Gading menjadi tegang. Ia
tidak tahu, siapakah yang telah meniup seruling sedemikian pandainya
sehingga hampir mencapai tingkat sempurna. Juga ia sama sekali
tidak tahu maksud peniup seruling itu, kenapa ia berusaha melukiskan
kembali ceriteranya, meskipun dalam ungkapan yang berbeda, tetapi
mempunyai bentuk yang sama.
Tetapi tiba-tiba Seruling Gading terlonjak bangkit. Perahu
kecil yang sedang berjuang mati-matian untuk mencapai pantai
itu, tiba-tiba terseret oleh deru gelombang dahsyat, serta kemudian
diputar oleh topan yang ganas. Sehingga nada lagu itu menjadi
menjerit seperti tangis anak-anak yang kehilangan ibunya.
Mendengar akhir lagu itu, hati Seruling Gading tersinggung
bukan main. Tahulah ia sekarang maksudnya, bahwa peniup seruling
ingin menghinanya sebagai seorang yang minta belas kasihan, serta
sedang berteriak-teriak minta pertolongan. Sebagai seorang yang
tinggi hati, Seruling Gading marah bukan buatan. Darahnya tiba-tiba
menjadi bergelora. Timbullah keinginannya untuk menjawab hinaan
itu, serta menghantam lewat nada pula.
Tetapi ketika ia ingin mengambil serulingnya dari dalam bajunya,
kembali Seruling Gading terperanjat, sampai menjerit nyaring
karena marahnya. Serulingnya yang dibuat dari pring gadhing,
serta tak pernah terpisah dari tubuhnya itu, ternyata sudah tidak
ada lagi. Ketika sekali lagi ia memperhatikan warna suara yang
masih saja melingkar-lingkar di telinganya, ternyata bahwa seruling
itu adalah miliknya.
Kembali Seruling Gading menggeram. Dua kali ia dihinakan oleh
orang yang meniup seruling itu. Pertama-tama orang itu menuduhnya
sebagai anak-anak yang berteriak-teriak minta belas kasihan,
sedang yang kedua, orang itu berhasil mencuri serulingnya tanpa
diketahui.
Maka cepat-cepat ia berdiri. Diangkatnya kepalanya untuk mengetahui
dari mana arah suara seruling itu. Tetapi kembali darahnya meluap-luap.
Suara seruling itu ternyata melingkar-lingkar tak tentu arahnya.
Meskipun sudah beberapa lama ia mencoba untuk mengetahui, tetapi
ia tidak berhasil. Semakin keras suara seruling itu, semakin
ribut pulalah gemanya bersahut-sahutan susul-menyusul dari segala
arah. Sehingga semakin bingung pulalah Seruling Gading.
Ia sendiri adalah seorang peniup seruling yang hampir sempurna
pula. Tetapi ia tidak memiliki tenaga lontar yang sedemikian
membingungkan. Getaran yang dapat diisinya dengan tenaga, hanyalah
dapat untuk menghantam perasaan seseorang, sebagai suatu tenaga
kekerasan. Tetapi tenaga yang sedemikian lunak, namun memusingkan
tidaklah dipunyainya.
Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang
yang meniup dan sekaligus mencuri serulingnya itu, pastilah bukan
orang sembarangan. Meskipun demikian Seruling Gading bukanlah
orang yang lekas menjadi cemas dan takut. Tetapi ia adalah orang
yang tinggi hati dan terlalu percaya kepada kekuatan sendiri.
Apalagi ketika diingatnya bahwa satu-satunya orang yang berada
di daerah itu hanya Mahesa Jenar. Marahnya semakin menjadi-jadi.
Sehingga ia tidak lagi bisa menguasai gelora perasaannya, Seruling
Gading itu berteriak keras, Hai pengecut yang hanya
berani menghina dari tempat yang jauh dan tersembunyi, coba tampakkanlah
dirimu...!
Tetapi suaranya sendiri juga hanya menghantam bukit kecil di padang ilalang itu, serta berpantulan susul-menyusul. Sedangkan suara seruling itu masih saja merintih-rintih hampir putus asa.
Ketika suara teriakannya tidak mendapat sahutan, Seruling Gading
semakin marah. Sekali lagi ia berteriak bertambah keras. Tetapi
juga suaranya tak mendapat sahutan.
Maka sedemikian marahnya Seruling Gading, serta ketidaktahuannya, kepada siapa kemarahannya itu harus diarahkan. Tiba-tiba kapaknya diayunkannya deras sekali menghantam sebatang pohon sebesar tubuh orang, yang berdiri di hadapannya.
Sedemikian besar tenaganya, sehingga pohon itu sekaligus berderak-derak
patah dan roboh seketika.
Bersamaan dengan robohnya pohon itu, terdengarlah suara memujinya
dari kejauhan. Bagus..., bagus Wirasaba. Tenagamu memang
tenaga raksasa.
Seruling Gading terkejut mendengar suara itu. Segera ia membalikkan diri untuk mencari siapakah yang telah memujinya. Tetapi juga ia tak dapat menemukan seseorang. Apalagi pada saat itu matahari telah tenggelam. Yang tampak hanyalah bentuk-bentuk bukit-bukit kapur dan puntuk-puntuk kecil yang dibalut oleh hitamnya malam.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
089
RASANYA darah Seruling Gading sudah benar-benar mendidih.
Ia merasa sebagai seorang kanak-kanak yang sedang dipermainkan.
Demikian bingung serta marahnya, akhirnya ia berlari ke mulut
goa di bukit kapur, dimana dilihatnya Mahesa Jenar siang tadi
masuk. Kembali di sana ia berteriak ke dalam goa. Hai...
pengecut yang tak tahu malu. Keluarlah. Tak perlu kita menunggu
esok. Marilah kita selesaikan masalah kita sekarang juga.
Seruling Gading berteriak asal berteriak saja, tanpa mengharapkan
jawaban. Sebab telah sekian kali ia melakukannya, namun tidak
ada jawaban.
Tetapi tiba-tiba saat itu terdengarlah orang menjawab, sehingga
malahan Seruling Gading terkejut sampai tersentak. Arah jawaban
itu ternyata sama sekali tidak dari dalam goa, tetapi malahan
dari arah belakangnya, sehingga secepat kilat ia pun membalikkan
diri.
Wirasaba... kata suara itu, janganlah
kau terlalu cepat berpanas hati. Sebab dengan demikian itu, akan
mudah menghilangkan ketenangan berpikir. Kalau kita tidak lekas-lekas
menjadi marah, mungkin kau tidak akan terlalu sulit mencari aku.
Nah di sinilah aku.
Mendengar kata-kata itu, serta ketika ia melihat bahwa orang
yang dicarinya itu duduk di atas batu hitam, tempat ia meniup
seruling siang tadi, tubuhnya menjadi gemetar karena kemarahan
yang memuncak. Benar-benar ia dipermainkan.
Karena itu, tanpa berpikir panjang segera ia berlari ke arah
bayangan di atas batu hitam itu. Apalagi ketika ia melihat bahwa
orang yang dicarinya itu benar-benar Mahesa Jenar, maka menggeramlah
Seruling Gading. Setan, kau jangan mencoba menolong
dirimu, menakuti aku dengan permainan hantu-hantuan itu. Bagaimanapun
juga aku tetap dalam pendirianku. Menyelesaikan masalah kita
dengan laku seorang jantan, sekarang juga.
Sementara itu bulan yang sudah tidak bulat lagi mulai menampakkan
dirinya, seperti mengapung di langit, diantara mega-mega yang
mengalir dihembus angin. Sinarnya yang kuning berpencaran diantara
batang-batang ilalang, serta bukit-bukit kapur.
Diantara cahaya bulan berkedipan, wajah-wajah bintang yang iri hati atas kurnia alam kepada bulan itu, yang memiliki kecantikan yang sempurna.
Dalam taburan sinar bulan, tampaklah wajah Wirasaba yang merah
menyala, membayangkan kemarahan yang meluap-luap. Tangan kanannya
menggenggam kapaknya erat sekali, siap diayunkan untuk membelah
kepala Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar melihat gelagat itu. Karena itu ia pun segera
mempersiapkan diri, meskipun tampaknya ia tidak mengubah sikap
duduknya. Bahkan masih dengan tersenyum ia berkata tidak menjawab
tantangan Seruling Gading. Wirasaba..., maafkan kalau
aku meminjam serulingmu tanpa izinmu. Sebab aku tidak mau mengganggu
membangunkan kau, nampaknya kau terlalu nyenyak tidur. Mungkin
kaupun sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh
serta permainan pagi tadi yang sama sekali tak menyenangkan.
Cukup! bentak Wirasaba. Jangan
kau coba lagi merendahkan aku. Sebaiknya kau jangan terlalu yakin
akan kehebatanmu dengan mengalahkan Samparan dan Watu Gunung,
serta dengan pertunjukanmu pagi tadi. Sebelum kau mampu melenyapkan
diri dalam satu kedipan mata, jangan kau merasa dirimu tak terkalahkan.
Sekarang bersiaplah kau. Ambillah senjatamu, tombak berkait yang
kau pergunakan pagi tadi. Biarlah kita lihat bersama bagaimanakah
akhir persoalan kita.
Mahesa Jenar melihat bahwa kemarahan Seruling Gading telah
mencapai puncaknya. Meskipun demikian ia masih ingin berusaha
untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Baru kalau usahanya
gagal ia akan melaksanakan rencananya.
Wirasaba... baiklah tawaranmu aku terima, tetapi
tidakkah kau ingin mendengarkan dari mulutku keterangan-keterangan
yang barangkali belum pernah kau dengar sebelumnya?
kata Mahesa Jenar.
Ha...? teriak Wirasaba, alangkah pengecutnya kau. Dengan pembelaan-pembelaan itu kau ingin menghindari penyelesaian secara jantan. Kau barangkali ingin menjelaskan bahwa kau sama sekali tak mempunyai pamrih apa-apa dengan memasuki sayembara tanding itu. Kau tentu akan berkata, bahwa karena kau adalah sahabat mertuaku Ki Asem Gede. Tetapi pasti kau tidak mengatakan bahwa kau takut menghadapi cara penyelesaian seperti yang aku maui. Juga kau pasti tidak akan mengatakan bahwa kau telah mengumpankan Samparan untuk membersihkan namamu, setelah kau tak berani menerima tawaranku.
Wirasaba... potong Mahesa Jenar. Bagaimana
aku sempat mengumpankan Samparan, sedang saat itu aku selalu
berada di hadapanmu?
Ooo.... tidakkah ada pencuri yang berhasil mengambil milik
orang lain di hadapan orang itu sendiri...? jawab Seruling
Gading.
Sampai sekian Mahesa Jenar yakin bahwa Seruling Gading tidak
lagi dapat diajak berunding. Karena itu kemungkinan yang lain
adalah, menyelesaikan menurut rencananya.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
090
MAHESA JENAR kemudian berkata, Wirasaba yang digelari
orang Seruling Gading... kau adalah orang yang perkasa dengan
memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan orang
biasa. Seseorang yang belum pernah melihat kau mengayunkan kapakmu
pun tentu dapat menduga yang demikian itu, dengan menilik senjatamu
yang mempunyai ukuran terlalu besar bagi senjata umumnya itu
telah menunjukkan betapa tinggi hatimu. Kau adalah orang yang
tidak dapat mendengarkan keterangan orang lain selain mendengarkan
angan-anganmu sendiri. Tetapi, Wirasaba, ketahuilah bahwa bagaimanapun
perkasanya kau, jangan kau menepuk dada serta menyangka bahwa
aku tidak berani menerima tantanganmu pada saat itu. Dengarlah,
apa yang dapat dilakukan oleh seorang yang lumpuh seperti kau
pada waktu itu? Apa pula arti keperkasaanmu dengan hanya mampu
duduk di pinggir ranjang....?
Belum lagi Mahesa Jenar selesai dengan kata-katanya, Wirasaba
sudah tidak dapat menahan diri lagi. Darahnya sudah bergelora
membakar kepalanya. Karena itu dengan tidak mengucapkan sepatah
katapun, serta dengan menekan giginya, dihimpunnya segala kekuatannya.
Dan dengan dahsyatnya ia berteriak. Bersamaan dengan itu, kapak
besar itu terangkat dan dengan derasnya terayun mengarah kepala
Mahesa Jenar yang masih saja duduk di atas batu hitam itu.
Memang Wirasaba benar-benar memiliki tenaga raksasa. Ayunan
kapak yang dilambari kemarahan itu, menimbulkan suara berdesing
yang hebat sekali, sehingga seolah-olah bunyi sangkakala yang
memberi pertanda bahwa dewa maut akan melakukan kewajibannya.
Tetapi sementara itu Mahesa Jenar telah siap pula. Memang
ia menunggu-nunggu saat yang demikian itu. Saat kemarahan Wirasaba
mencapai ke puncaknya.
Maka ketika kapak itu dengan cepatnya mengarah kepalanya,
iapun segera meloncat selangkah ke samping, sehingga kapak itu
tidak mengenai sasarannya. Demikian kerasnya Wirasaba menghantamkan
senjatanya, maka ketika kapak itu tak mengenai Mahesa Jenar,
terhantamlah batu hitam yang semula dipakai sebagai tempat duduknya.
Dan ternyatalah betapa besar kekuatan Wirasaba. Dalam benturan
itu, berderailah bunga-bunga api. Serta bertebaranlah pecahan-pecahan
yang dilemparkan dari luka batu hitam itu, yang ditimbulkan karena
hantaman kapak Wirasaba, meskipun batu itu sangat keras.
Melihat luka di atas batu hitam itu, Mahesa Jenar memuji di
dalam hatinya. Tetapi sementara itu sampailah ia kepuncak permainannya.
Ia ingin menaklukkan ketinggian hati Seruling Gading dengan sebuah
pertunjukan yang tidak kalah seramnya. Dalam waktu yang sekejap
itu, segera ia mengatur jalan pernafasannya, memusatkan perhatian
serta kekuatannya di sisi telapak tangan kanannya. Segera disilangkannya
tangan kirinya di muka dada. Satu kakinya diangkat ke depan serta
tangan kanannya diangkatnya tinggi-tinggi.
Sejenak kemudian dengan garangnya ia meloncat ke depan batu
itu, dan sebelum Wirasaba menarik kapaknya, segera Mahesa Jenar
menyusul menghantam batu hitam itu dengan tangannya yang dilambari
dengan ilmu Sasra Birawa. Alangkah dahsyat akibatnya. Batu hitam
yang sedemikian kerasnya, yang terluka tak sampai sejengkal oleh
pukulan kapak Wirasaba dengan tenaga raksasanya, pada saat itu,
dengan bunyi yang mengejutkan pecah berserakan karena sisi telapak
tangan Mahesa Jenar.
Wirasaba terkejut bukan alang kepalang, sampai tanpa disengaja
ia terloncat surut serta kapaknya terlepas dari tangannya. Tubuhnya
menggigil serta jantungnya berdegupan tanpa dapat dikuasainya.
Sampai beberapa saat ia berdiri termangu seperti kehilangan kesadaran,
dan tak mengerti apa yang harus dilakukannya, karena ia telah
melihat suatu kejadian yang sama sekali tak dapat dibayangkan
sebelumnya.
Demikianlah sampai beberapa saat Wirasaba berdiri kaku, sampai
tiba-tiba terasa pundaknya ditepuk orang. Dengan geragapan ia
memandang kepada orang itu, yang tidak lain adalah Mahesa Jenar
yang membangunkannya sambil berkata, Tenanglah hatimu
Wirasaba. Itu tadi hanyalah suatu permainan yang jelek.
Wirasaba masih belum memiliki seluruh kesadarannya, sehingga
ia tidak dapat menjawab kata-kata Mahesa Jenar, kecuali memandangnya
saja dengan pandangan yang berputar-putar kebingungan.
Sampai kembali Mahesa Jenar berkata sambil menuntunnya duduk
di atas sebuah gundukan tanah. Wirasaba..., lupakan
semua yang telah terjadi. Marilah kita bercakap-cakap sebagai
sahabat yang telah beberapa hari tidak bertemu.
Bukankah kau dapat banyak berceritera tentang Ki Asem Gede, Kakang
Dalang Mantingan, Kakang Demang Penanggalan serta sahabat-sahabat
lain di Pucangan dan Prambanan...? Sesudah itu aku juga banyak
sekali mempunyai ceritera yang barangkali menarik.
Seperti kanak-kanak yang dibimbing ibunya, Wirasaba sama sekali tak menolak. Ia menurut saja kemana Mahesa Jenar menuntunnya, serta seperti orang bermimpi pula ia duduk disamping Mahesa Jenar.
Ketika sampai beberapa saat Wirasaba masih berdiam diri, kembali
Mahesa Jenar bertanya, Wirasaba... siapakah yang memberitahukan
kepadamu serta Ki Asem Gede bahwa aku berada di sini?
Kini lamat-lamat Wirasaba telah dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar serta telah dapat mengerti. Tetapi meskipun demikian ia masih belum juga dapat menjawab, sebab ia baru mengumpulkan kembali ingatan-ingatan atas kejadian-kejadian yang baru saja berlalu.
Wirasaba adalah seorang tinggi hati yang dalam perbendaharaan
pengalamannya selalu dipenuhi dengan kejadian-kejadian dahsyat
di masa mudanya, serta keunggulan kekuatan atas hampir terhadap
semua lawan-lawannya. Sampai ia dipisahkan dari cara hidupnya
itu oleh racun-racun yang melumpuhkan simpul-simpul saraf kakinya.
Tetapi meskipun dalam keadaan lumpuh, masih saja ia merasa keperkasaannya tidak berkurang. Sehingga suatu ketika sampailah saatnya kakinya dapat sembuh kembali. Dengan demikian ia semakin merasa dirinya akan dapat mengulangi peristiwa kemenangan demi kemenangan yang pernah dicapainya.
Apalagi pada saat itu ia menghadapi suatu peristiwa yang menurut pendapatnya adalah suatu hinaan bagi sifat kejantanannya. Kehadiran Mahesa Jenar yang telah membebaskan istrinya dari tangan Samparan, diterimanya dengan pengertian yang salah.
Friday July 16, 2004