NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
071
Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra. Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya. Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar biasa pula.
Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat, bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Kiai Sigar Penjalin.
Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula. Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara Wilis.
Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.
Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut dan berderai berserakan.
Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu, geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.
Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan pasti arah suara itu.
Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat
ke atas dengan memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran
Dandanggula yang lamat-lamat sampai ke telinganya. Pada saat
itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat, karena hilangnya
Rara Wilis.
Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu.
Maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu, cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat.
Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.
Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.
Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara Dandanggula itupun telah berhenti.
Sementara itu, bulan pun telah rendah sekali, hampir sampai ke garis cakrawala, sehingga malam menjadi semakin kelam. Mahesa Jenar menjadi semakin mengeluh dalam hati. Dirasanya betapa picik pengetahuan serta rendah ilmu yang dimilikinya, sehingga dalam keadaan seperti ini sama sekali ia tidak berdaya.
Pada mulanya ia merasa, bahwa cukuplah kiranya bekal yang dimiliki untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang dalam perantauannya. Tetapi ternyata menghadapi tokoh-tokoh macam Pasingsingan, Ki Ageng Pandan Alas, ia tidak lebih dari seorang anak kecil yang baru pandai berdiri.
Tiba-tiba saja ia menangkap bayangan yang membayang tepat di hadapan wajah bulan yang hampir lenyap itu. Heranlah Mahesa Jenar, kenapa baru saat itu ia menangkap bayangan yang berada di tempat terbuka.
Dalam keremangan bulan yang masih memancarkan sinarnya yang terakhir itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas bayangan dari dua orang, laki-laki dan perempuan. Ia hampir pasti bahwa perempuan itu adalah Rara Wilis, sedang laki-laki yang membimbingnya itu tampak bertubuh kurus tinggi.
Melihat hal itu berdebarlah jantungnya cepat sekali. Tetapi ketika ia hampir saja melompat mengejar bayangan itu, tiba-tiba ia menjadi tertegun heran. Kedua orang itu melambaikan tangannya kepadanya, seakan-akan menyampaikan ucapan selamat tinggal.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
072
TERASA ada suatu kesan yang aneh meraba-raba hati Mahesa Jenar. Mula-mula timbul suatu perasaan yang sakit, ketika ia melihat Rara Wilis bersama-sama dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Tetapi ketika Mahesa Jenar teringat akan lagu Dandanggula yang baru saja didengarnya, segera teringat pulalah ia akan Ki Ageng Pandan Alas. Lebih-lebih ketika ternyata laki-laki itu dengan tangannya yang lain melambaikan sebilah keris yang tampak seperti membara di keremangan malam.
Tahulah Mahesa Jenar, bahwa itulah Sigar Penjalin yang sudah berada di tangan pemiliknya. Juga mau tidak mau pastilah ia menghubungkan nama Ki Santanu dengan Ki Ageng Pandan Alas. Maka dengan sedih serta hati yang kosong, diluar sadarnya Mahesa Jenar mengangkat tangannya pula untuk melambaikan salam perpisahan.
Sesaat kemudian lenyaplah bayangan itu bersama dengan lenyapnya butiran-butiran yang pernah berkilau di hatinya.
Sekali lagi Mahesa Jenar lemas seperti kehilangan segala tulang-belulangnya. Sebagaimana manusia biasa, ia merasa betapa sedihnya perpisahan yang terjadi secara tiba-tiba itu.
Terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi, sejak pertama kalinya ia tertarik kepada wajah Rara Wilis yang terselip diantara beberapa orang yang akan menyeberang hutan Tambakbaya. Terbayang pula bagaimana pada malam pertama gadis cantik itu ketakutan mendengar teriakan-teriakan binatang hutan, serta bagaimana Jaka Soka berusaha untuk menculiknya, sehingga terpaksalah ia ikut serta dalam perkelahian antara para pengawal dengan Jaka Soka. Dengan terpaksa pula ia harus berhadapan untuk kedua kalinya dengan Lawa Ijo. Juga terbayang dengan jelas, bagaimana selanjutnya ia harus mengantar Rara Wilis seorang diri ke daerah Tambakbaya yang rasanya bagaikan tamasya yang tak akan terlupakan. Juga pada saat terakhir dimana ia menunggui gadis itu, yang tidur dengan nyenyaknya karena lelah. Kakinya, tangannya, dadanya yang penuh berisi serta rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin.
Mahesa Jenar terduduk di rerumputan liar sambil menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Ingin ia segera melenyapkan segala kenang-kenangan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha, semakin jelas gambaran-gambaran itu menerawang di hatinya.
Sagotra juga masih saja berada di belakang Mahesa Jenar, dapat merasakan kesedihan Mahesa Jenar sepenuhnya. Meskipun selama ini perasaannya dikuasai oleh nafsu untuk membunuh, merampas dan sebagainya, tetapi sebagai manusia ia pun pernah merasakan tali batin yang pernah menjeratnya.
Tetapi sampai sekian, yang tak dimengertinya, kenapa Mahesa Jenar sama sekali tak berbuat apa-apa ketika ia menyaksikan bayangan yang tiba-tiba muncul di depan wajah bulan yang hampir tenggelam itu. Meskipun ia tahu betapa hebatnya orang yang membawa Rara Wilis itu, tetapi ia mengagumi Mahesa Jenar sebagai manusia luar biasa. Sehingga meskipun dengan agak ragu-ragu ia beranikan diri untuk bertanya, "Tuan, kenapa Tuan tidak bertindak ketika mereka menampakkan diri di hadapan Tuan?"
Mahesa Jenar baru merasa bahwa ia berkawan, ketika ia mendengar sapa itu. Perlahan-lahan ia menoleh, serta menjawabnya, "Sagotra, tidakkah kau tahu siapa dia? Sehingga tak akan bergunalah kalau aku mengejarnya."
"Siapakah orang itu, Tuan?" tanya Sagotra ingin tahu.
"Ki Ageng Pandan Alas," jawab Mahesa Jenar.
"Ki Ageng Pandan Alas...?" ulang Sagotra terkejut. "Jadi dialah orangnya yang mempunyai kesaktian sejajar dengan Ki Pasingsingan? "
Mahesa Jenar mengangguk perlahan, sedang Sagotra dengan penuh ketakjuban menggeleng-gelengkan kepalanya. Itulah sebabnya maka orang itu berhasil mengambil Rara Wilis tanpa diketahui oleh orang seperti Mahesa Jenar.
"Kenapa Rara Wilis ia ambil?" tanyanya lebih lanjut. "Adakah hubungan antara mereka? "
"Aku tidak tahu, Sagotra," jawab Mahesa Jenar. "Tetapi yang aku ketahui adalah Rara Wilis membawa keris Sigar Penjalin."
"Itulah pusaka Ki Ageng Pandan Alas," potong Sagotra.
"Ya," sambung Mahesa Jenar. "Tetapi Rara Wilis mengatakan, bahwa keris itu berasal dari kakeknya yang bernama Ki Santanu."
Tiba-tiba saja karena kata-katanya sendiri Mahesa Jenar teringat pada nama yang disebutkan Sagotra, yaitu Ki Ardi. Apalagi ketika ia memandang ke arah selatan, masih tampaklah di sana bayangan warna merah di udara. Maka timbullah kembali keinginannya untuk bertemu dengan orang itu. Sebab darinya ia ingin mendapat beberapa keterangan tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah itu. Karena itu katanya kepada Sagotra, "Sagotra, marilah antarkan aku kepada Ki Ardi."
"Masih adakah gunanya?" sahut Sagotra.
"Aku tidak tahu, Sagotra. Tetapi antarkan aku ke sana," jawab Mahesa Jenar.
Maka dengan tidak menjawab lagi Sagotra langsung berdiri serta bersama-sama Mahesa Jenar menempuh jalan ke arah selatan menuju rumah Ki Ardi.
Demikianlah malam menjadi gulita, karena kedipan bintang-bintang di langit tidak mampu menyibakkan gelapnya malam.
Mereka berjalan tanpa lagi banyak berbicara. Sagotra yang tampaknya sudah agak biasa berjalan di daerah ini, berjalan di depan. Sedang Mahesa Jenar, meskipun belum banyak mengerti tentang daerah yang dilalui, tetapi ia mempunyai pandangan yang tajam sekali, sehingga tidaklah banyak menemui kesulitan.
Demikianlah maka setapak demi setapak mereka mendekati arah
api yang masih menyala-nyala.
Maka setelah mereka berjalan beberapa lama, melewati padang ilalang,
serta menyusup gerumbul-gerumbul kecil yang berserakan disana-sini,
sampailah mereka di sebuah bukit kapur yang kecil. Mahesa Jenar
serta Sagotra tidak langsung menampakkan diri, tetapi dari jarak
beberapa depa mereka masih berdiri di semak-semak. Dari situlah
mereka menyaksikan tempat kediaman Ki Ardi
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
073
KI ARDI sendiri yang pada saat itu sedang berada disamping api yang menyala nyala, sedang memahat sebuah batu besar. Ternyata rumah Ki Ardi tidaklah lebih dari sebuah goa di bukit kecil itu, yang langsung menghadap ke batu besar yang sedang dipahatnya.
Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati pahatan Ki Ardi itu, ia menjadi kagum. Di atas batu yang besar itu dipahatkan gambar seekor ular naga besar, yang tampaknya sedang marah.
Kepalanya menengadah ke atas, serta mulutnya menganga lebar. Disela-sela giginya yang runcing mengerikan itu tampaklah lidahnya menjulur keluar. Sedang ekor naga itu terurai ke belakang, berlekuk-lekuk. Di belakang serta di depan ular yang sedang marah itu, tampaklah dua ekor yang tak kalah garangnya, siap menerkam. Kuku-kuku serta taring-taring harimau itu tampak tajam menakutkan.
Sebelum itu Mahesa Jenar telah sering melihat pahatan-pahatan batu serta patung-patung yang bagus buatannya di kota-kota. Bahkan candi-candi yang termasyur pun telah sering pula dikunjungi. Namun pahatan Ki Ardi itu tidak pula kalah indahnya. Garis-garisnya tegas dan mantap, sehingga pahatan itu dapat mengungkapkan watak serta keadaan binatang-binatang itu sejelas-jelasnya.
Mereka yang menangkap pahatan itu segera akan dapat merasakan, bahwa seolah-olah sebentar lagi akan terjadi pergulatan dahsyat antara naga raksasa itu melawan dua ekor harimau yang ganas.
Sagotra yang hampir sepanjang hidupnya tak pernah mengenal arti bentuk semacam itu, tak begitu dapat mengenal betapa tinggi nilai pahatan Ki Ardi. Yang tampak olehnya pada saat itu tidaklah lebih gambar seekor naga yang hendak bertempur melawan dua ekor harimau. Tidak nampak olehnya mata naga itu sedemikian menyala karena marahnya, sedang kedua harimau itu telah begitu bernafsu untuk menguasai lawannya.
Mahesa Jenar yang mengagumi keindahan pahatan itu, tidak jemu-jemu selalu memandanginya dengan saksama. Baris demi baris dinilainya dari berbagai sudut. Tetapi lebih dari itu, mendadak ia terperanjat. Hatinya bergoncang hebat, sampai diluar sadarnya ia meloncat maju. Melihat hal itu, Sagotra menjadi terkejut pula. Apalagi yang menyebabkan Mahesa Jenar berbuat demikian? Tidak pula kalah kagetnya Ki Ardi sendiri, sampai-sampai ia terlonjak.
Apa yang nampak pada Mahesa Jenar, lukisan naga itu tidak lain daripada lukisan Keris Nagasasra. Ketika tanpa disengaja ia menghitung lekuk tubuh naga itu yang berjumlah 11, maka Nagasasra itu sekaligus mewujudkan dapur Sabuk Inten pula.
"Nagasasra Sabuk Inten...?" desis Mahesa Jenar.
Ki Ardi yang masih belum dapat menguasai dirinya, menjadi ketakutan, sampai tubuhnya gemetar. Tanpa menduga-duga, tiba-tiba saja seseorang telah muncul di sampingnya tanpa suara.
Dengan mata yang menyorotkan berbagai dugaan Mahesa Jenar bergantian
memandang kepada Ki Ardi dan hasil pahatannya yang berwujud Nagasasra
Sabuk Inten. Melihat bentuk Naga yang hampir tepat seperti bentuk
keris Kiai Nagasasra, yang hanya berbeda ukurannya saja, pastilah
Ki Ardi pernah setidak-tidaknya melihat keris itu, sedang dapur
Sabuk Inten yang menyamai lekuk keris Kiai Sabuk Inten pun menimbulkan
dugaan pada Mahesa Jenar bahwa Ki Ardi pernah melihat kedua duanya,
yang kebetulan pada saat ia meninggalkan Demak, kedua keris itu
sedang lenyap dari gedung perbendaharaan.
Apalagi telah didengarnya pula dari Samparan bahwa ada kepercayaan golongan hitam, bahwa kedua keris itu telah mempunyai keturunan atau rangkapannya masing-masing yang justru sedang diperebutkan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan pasti adalah yang diperebutkan itu benar-benar rangkapannya atau malahan aslinya yang lenyap dari perbendaharaan Kerajaan Demak.
Berbagai pikiran hinggap pergi di kepala Mahesa Jenar. Tetapi
tidaklah mungkin kalau hal ini hanyalah suatu kebetulan. Atau
malah Ki Ardi termasuk salah seorang dari golongan hitam yang
juga sedang memperebutkan keris itu? Sedemikian besar keinginannya
untuk memilikinya, sehingga terwujud dalam pahatannya sebagai
ungkapan perasaannya. Malahan tiba-tiba Mahesa Jenar teringat
pada kata-kata Samparan beberapa hari yang lalu sebelum menghembuskan
nafas terakhirnya, bahwa di kalangan hitam terdapat nama sepasang
suami-istri Sima Rodra.
Tetapi menurut Samparan, Sima Rodra itu berdiam di Gunung
Tidar. Namun tidak mustahil kalau si suami pergi merantau dalam
usahanya menemukan Nagasasra dan Sabuk Inten. Kalau demikian
halnya, anehlah kalau Lawa Ijo sampai tidak tahu, bahwa di daerahnya
bermukim salah seorang saingannya. Kalau saja Sagotra yang tidak
mengerti, itu adalah hal yang wajar.
Tetapi apa yang dilukiskan dalam pahatan itu, hampir jelas sekali. Dua ekor harimau yang dikatakan itu adalah suami Sima Rodra yang sedang siap menerkam seekor naga yang melukiskan Keris Kyai Nagasasra sekaligus Kyai Sabuk Inten.
Karena itu Mahesa Jenar ingin mendapatkan kepastian dari dugaannya. Kalau saja orang itu benar-benar Sima Rodra, pastilah ia mempunyai ketahanan yang setingkat dengan Lawa Ijo. Karena itu ia tidak ingin terlibat dalam pertempuran, sebab dalam keadaannya yang sekarang ini, dimana jiwanya sedang bergolak, maka tidaklah mustahil baginya, segera mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa apabila sedikit saja ia terdesak. Karena itu ia ingin dengan singkat serta tanpa diduga-duga, menguasai orang itu, sehingga tidak usah terjadi pertempuran. Sedang ia akan dapat memaksa lawannya untuk memberi keterangan tentang kedua keris itu.
Maka setelah Mahesa Jenar mendapat kepastian pikiran, segera dengan gerakan kilat ia meloncat menangkap dengan tangkapan mati pergelangan tangan Ki Ardi. Tetapi apa yang dialami adalah diluar dugaan. Ketika tangannya menyentuh kulit Ki Ardi terasalah bahwa tangan itu sedemikian kendornya, serta tak bertenaga. Sehingga Mahesa Jenar malah terkejut.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
074
Dengan tak disengaja maka mulailah Mahesa Jenar memandangi tubuh Ki Ardi. Ternyata baru saat itulah ia dapat mengenal tubuh itu dengan seksama, sebab sejak kehadirannya, perhatiannya telah terikat oleh pahatan orang itu.
Ki Ardi meskipun tidak tergolong tinggi, namun ia tidaklah pendek. Umurnya telah agak lanjut, dan ini ditandai oleh kerut-kerut mukanya serta rambutnya yang sudah putih. Ketika Mahesa Jenar memandang mata orang tua, yang menatapnya dengan keheran-heranan atas kelakuannya, Mahesa Jenar menjadi terkejut. Meskipun orang itu matanya yang tampaknya sedemikian bening, seolah-olah air di dalam sumur, yang dalam sekali. Juga nampaklah dasarnya yang berputar-putar semakin lama semakin dalam, seakan-akan sumur itu akan mengisap hanyut. Mahesa Jenar menjadi semakin heran, bahkan kemudian menjadi cemas, sebab dirinya menjadi seakan-akan ikut serta berputar semakin cepat.
Sadarlah Mahesa Jenar kemudian, bahwa ia sama sekali tidak berhadapan dengan seorang yang mengutamakan kekuatan jasmaniah. Tetapi orang tua itu ternyata mempunyai kekuatan batin yang luar biasa, sehingga dengan kekuatan itu ia dapat mempengaruhi orang lain. Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi melihat perputaran yang melilitnya itu, sehingga segera tangan Ki Ardi dilepaskan dan ia meloncat tiga langkah surut.
Sagotra sama sekali tidak tahu maksud serta akibat perbuatan Mahesa Jenar itu, sehingga ia masih saja berdiri diam seperti patung. Tetapi ia menjadi heran, ketika dilihatnya tiba-tiba Mahesa Jenar membungkuk hormat kepada orang itu, sambil berkata, Maafkan aku Ki Ardi, aku telah salah duga terhadap Bapak.
Ki Ardi masih saja memandanginya dengan sorot mata keheranan. Bahkan kesan-kesan ketakutannya pun masih ada. Dan inilah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin pening. Orang yang mempunyai pengaruh sedemikian besarnya, hanya dengan sorot matanya saja, tetapi yang seakan-akan tidak sadar akan kekuatannya sendiri, sehingga masih saja berkesan ketakutan.
Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Bagaimanapun, ia adalah seorang bekas prajurit pengawal raja yang sudah sering mengalami hal-hal yang tampaknya diluar kewajaran. Maka dalam hal itu pun segera Mahesa Jenar sadar, bahwa pastilah ada suatu rahasia yang menyelubungi orang tua itu. Pastilah ada hal-hal yang sengaja disembunyikan. Mungkin ia sengaja berbuat demikian supaya orang tidak mengenal atau menduga, bahwa sebenarnya ia mempunyai kelebihan dari orang lain.
Maka dengan hormatnya, sekali lagi Mahesa Jenar berkata, Maafkan, aku yang salah duga terhadap Bapak.
Sejenak kemudian tampaklah bibir orang itu bergerak-gerak dan terdengarlah suaranya kecil bergetar, "Tuan, apakah salahku sehingga Tuan menyakiti aku?"
Mahesa Jenar menundukkan mukanya dengan penuh penyesalan atas kelancangannya. Maka jawabnya, "Bapak, sama sekali Bapak tidak bersalah. Tetapi akulah yang berbuat kesalahan terhadap Bapak."
Orang tua itu tidak menjawab lagi. Hanya matanya yang sudah
cekung itu merenung jauh sekali menembus gelap malam. Kembali
Mahesa Jenar kagum atas mata itu, yang seakan-akan dapat menelan
segala isi padang ilalang luas itu, bahkan isi dari hutan Tambakbaya.
Ingin ia menghubungkan orang tua ini dengan Ki Ageng Pandan Alas yang diduganya juga Ki Santanu. Tetapi Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang mempunyai kekuatan jasmaniah luar biasa, sehingga hanya dengan kapak batu kuno ia dapat melukai sebatang pohon yang besarnya lebih dari empat pemeluk, hampir separonya. Sedangkan orang tua ini mempunyai tubuh yang kendor dan sama sekali tak bertenaga. Apalagi baru beberapa saat berselang Ki Ageng Pandan Alas pergi bersama-sama Rara Wilis. Meskipun demikian, setiap kemungkinan bisa terjadi. Mengingat hal itu semua, Mahesa Jenar semakin sibuk berpikir.
Akhirnya ia mengambil ketetapan bahwa sebaiknya ia dengan baik-baik bertanya, mengenai pahatan itu.
"Bapak..., yang kau lakukan mendorong keinginanku untuk mengetahui pahatan yang sedang Bapak buat itu," kata Mahesa Jenar.
Orang itu menjadi heran mendengar kata-kata Mahesa Jenar. "Adakah dengan membuat pahatan ini aku telah berbuat kesalahan terhadap tuan? " jawab orangtua itu.
"Tidak Bapak," sahut Mahesa Jenar cepat-cepat, " Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah yang sedang Bapak pahat itu? "
Kembali orang itu heran. Kemudian dengan langkah yang lambat serta agak kebongkok bongkokan orang itu berjalan menjauhi pahatannya beberapa depa, lalu mengamat-amati dengan seksama.
Tiba-tiba saja ia tersenyum, serta matanya menjadi cerah. "Pahatanku sudah hampir selesai. Apa yang tadi tuan tanyakan?"
"Pahatan itu.... Apakah yang sedang Bapak pahat?" tanya Mahesa Jenar.
"Tidakkah Tuan tahu.... " kata orang tua itu sambil mendekati pahatannya. Dan kemudian diraba-rabanya hasil kerjanya itu dengan mesra. "Bukankah ini seekor naga? Katakanlah Tuan, apakah aku tidak berhasil melukis seekor naga?"
"Tentu, tentu," jawab Mahesa Jenar dengan
cepat
.
"Lalu apa yang Tuan tanyakan?" tanya orang tua
itu.
"Maksudku, apakah yang Bapak lukiskan itu seekor naga, atau suatu bentuk dari benda-benda yang pernah Bapak lihat sebelumnya?"
Orang tua itu semakin heran. "Adakah Tuan pernah melihat sesuatu benda yang mirip dengan pahatanku ini?"
Mahesa Jenar jadi ragu. Mula-mula ia ingin mengatakan tentang keris Nagasasra yang mempunyai bentuk yang sama dengan pahatan naga itu. Mustahil kalau kesamaan itu hanyalah kebetulan saja. Kesamaan cita dalam cipta yang sampai sedemikian dekatnya dengan aslinya. Kesamaan yang sedemikian itu pastilah yang satu diilhami oleh yang lain atau malahan salinan sepenuhnya. Tetapi akhirnya diurungkannya keinginan itu. Karena tidak akan banyak gunanya. Sebab pastilah orang tua itu sengaja merahasiakan.
Akhirnya Mahesa Jenar hanya berkata, "Tidak... Bapak, tetapi apa yang Bapak pahatkan adalah suatu bentuk yang dahsyat sekali. Ataukah Bapak pernah melihat seekor naga yang sedemikian?"
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
075
Ki Ardi mengerutkan keningnya. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum. "Belum, Tuan. Aku belum pernah melihat seekor naga pun. Yang pernah aku lihat hanyalah ular-ular kecil yang sering berkeliaran di sekitar tempat ini. Tetapi aku pernah mendengar dongeng dongeng tentang seekor naga. Nah, menurut gambaran angan anganku sedemikianlah kira-kira bentuknya."
Kembali orang tua itu meraba-raba pahatannya. Ia nampaknya bangga serta bahagia sekali atas hasil kerjanya.
"Tuan...," katanya kemudian, "Silakan Tuan berdua duduk. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang juga. Sebab tidaklah mungkin untuk ditunda. Sementara itu silakan Tuan mendengarkan dongeng tentang naga yang sedang aku pahatkan ini."
Tanpa menunggu jawaban, Ki Ardi segera mulai dengan kerjanya kembali. Mahesa Jenar dan Sagotra segera mengambil tempat duduk di dekat api yang masih menyala-nyala. Suaranya gemeretak, karena ledakan-ledakan kecil yang ditimbulkan oleh dahan-dahan yang sedang dimakan api.
Sambil memahat, Ki Ardi mulai berceritera.
"Naga ini menurut ceritera dilahirkan dalam dua alam yang berbeda tempatnya. Tetapi dalam pahatanku ini, tidaklah kedua-duanya aku lukiskan, tetapi aku ingin mendapat satu bentuk kesatuan dari dua ekor naga itu. Seekor naga dilahirkan di samodra, sedangkan satu lagi dilahirkan di angkasa. Tetapi diatas bumi ini mereka bertemu dan bersahabat. Keanehan dari kedua ekor naga itu adalah, yang seekor bersisikkan emas, sedangkan yang seekor, di leher, perut serta ekornya berbalutkan intan permata. Pada suatu hari, raja yang sedang berkuasa diatas bumi ini, merasa disusahkan oleh seorang putrinya," kata Ki Ardi mengawali ceritanya.
"Putri itu," lanjut Ki Ardi, "jatuh
cinta kepada seorang yang sama sekali tak dikehendaki oleh ayahandanya.
Sebab laki-laki itu bukanlah laki-laki biasa. Menurut ceritera,
laki-laki itu berasal dari bintang kemukus yang sering membawa
bencana. Hanya karena laki-laki itu terlalu sakti, maka tidak
ada yang berani mengganggunya. Maka pada suatu ketika bertemulah
raja itu dengan kedua ekor naga yang sedang merantau mengelilingi
bumi ini.
Raja itu kemudian minta kedua ekor naga itu untuk mengusir laki-laki
yang mengganggu puterinya. Kedua ekor naga itu menyanggupinya.
Didatanginya laki-laki yang berasal dari bintang kemukus itu.
Maksudnya, apabila tidak perlu, masalahnya akan diselesaikan
dengan damai. Tetapi rupanya laki-laki itu merasa yakin akan
kesaktiannya, sehingga akhirnya terjadilah pertempuran yang maha
dahsyat. Kedua ekor naga itu pun ternyata mempunyai kesaktian
yang luar biasa. Laki-laki itu dengan bersenjatakan petir di
kedua belah tangannya menyerang dengan ganasnya, sedangkan naga
yang bersisik emas itu, dari mulutnya menyembur api yang menyala-nyala.
Sementara itu naga yang bersisik intan permata itu, dari kedua
matanya memancar sinar yang beracun."
"Tetapi karena kesaktian mereka masing-masing, senjata-senjata
itu hampir tidak banyak berguna. Laki-laki bintang itu ternyata
tidak saja mampu bertempur di atas daratan. Sekali-sekali ia
terjun pula ke dasar lautan. Tetapi naga yang lahir di dalam
samodra itu tidak membiarkannya.
Disusullah ia ke dasar lautan dan bertempurlah mereka di sana.
Air laut pun menjadi bergolak seakan-akan mendidih. Kalau laki-laki
itu jemu bertempur di lautan, terbanglah ia ke angkasa. Dan bertempurlah
mereka di udara."
"Demikian dahsyat pertempuran itu sampai langit menjadi gelap, hanya kadang-kadang saja memancar kilat dan petir disela oleh semburan api yang tak terkira panasnya, keluar dari mulut naga bersisik emas itu."
"Demikianlah pertempuran itu berlangsung sampai 40 hari, 40 malam. Tetapi masih saja belum ada yang nampak akan kalah. Bahkan pertempuran itu semakin lama semakin sengit. Sekali waktu terjadi di dalam samodra, dan sekali waktu di angkasa," cerita Ki Ardi.
Tiba-tiba orang tua itu berhenti, sambil perlahan-lahan ia berjalan mundur menjauhi pahatannya. Sebentar ia tersenyum dan sebentar kemudian keningnya berkerut.
"Tuan, pahatanku telah selesai. Apakah kata tuan tentang ini?" kata orangtua itu kepada Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar yang sejak semula telah merasakan keindahan pahatan itu menjawab, "Bagus, Ki Ardi."
Ki Ardi tertawa perlahan. Lalu sambungnya, "Baru sekarang aku mendapat pujian atas hasil kerjaku. Selama ini tidak pernah seorang pun, jangankan pujian-pujian, sedang perhatian saja tidak pernah aku dapatkan. Sagotra dengan kawan-kawannya yang sering berkeliaran di daerah ini, sama sekali tidak dapat menikmati hasil pekerjaanku. Nah, Sagotra, apa katamu sekarang?"
Sagotra yang sejak tadi berdiam diri, menjadi agak bingung untuk menjawab pertanyaan Ki Ardi itu. Maka ia menjawab sekenanya saja, "Bagus, Ki Ardi."
Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Sagotra. "Apa yang bagus?"
Sagotra menjadi agak tersipu mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak mau kalah. "Nagamu itu Ki Ardi, kalau saja bersisikkan emas benar-benar, serta berbalutkan intan permata, mungkin umurmu tidak lebih dari malam ini."
Kembali Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh. "Pastilah itu terjadi kalau nagaku benar-benar seperti dongeng yang pernah aku dengar itu. Tetapi sesudah kau bunuh aku, kau juga akan mati ditelan nagaku ini."
Rupanya Sagotra bukan ahli berdebat. "Orang tua gila. Kalau kau tanyakan pendapat orang lain mengenai pahatanmu itu, pastilah kau mengharap orang itu memujinya. Tetapi pahatanmu itu sebenarnya sangatlah jelek," gerutu Sagotra.