Nagasasra dan Sabukinten

Gajahsora.Net  

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No.761

 

Namun lawannya benar-benar selincah sikatan, selicin belut. Betapapun ia berusaha untuk menyentuhnya, namun sentuhan sentuhan serangannya seolah-olah tidak dapat menyakiti tubuh lawannya, karena serangan itu seakan-akan tergelincir. Tubuh lawannya itu benar-benar licin. Meskipun sekali-kali Karebet berhasil menangkap tangan atau kaki lawannya, namun ia tidak dapat menggenggamnya. Tubuh lawannya itu dengan mudah, meluncur diantara jarinya, betapapun kuatnya ia menggenggam.

Akhirnya Karebet yang memiliki Aji Lembu Sekilan itu menyadari bahwa lawannya itu tidak bertempur dengan tenaganya melulu. Namun iapun semakin benyak berkeringat mengalir dari tubuhnya, tubuhnya itupun menjadi semakin licin. Karena itu dengan geramnya ia mendesis, "Aji Welut Putih."

Lawannya itu tertawa pendek. Tetapi ia tidak berkata apa-apapun. Namun pertempuran itu semakin dahsyat. Keduanya seakan tidak dapat disentuh oelh serangan lawannya. Dengan demikian maka pertempuran itu tidak dapat dibayangkan kapan berakhir.

Itulah yang sangat mencemaskan Karebet. Betapa ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Kelincahan, kekuatan dan segenap tenaganya. Namun orang itupun selalu mengimbanginya.

Orang itu, yang tidak lain adalah Sultan Trenggana sendiri sebenarnya menjadi heran pula. Karebet, anak yang dipungutnya dari tepi jalan itu ternyata memiliki kemampuan yang dahsyat. Baginda itu menjadis angat terkejut ketika menyadari Karebet memiliki ilmu Lembu Sekilan meskipun belum sempurna. Ilmu yang sudah jarang diketemukan. Namun kini Baginda itu melihat, bahwa ilmu itu tersembunyi didalam tubuh anak itu. Karena itu Baginda menjadi sangat menyesal atas peristiwa itu. Seandainya, Karebet itu tidak mendahuluinya, masuk keputren sebelum diijinkannya, maka kesempatan anak itu didalam jabatan keprajuritan sangat besar. Dengan mengalami sendiri perkelahian dengan Karebet, Baginda segera menilai kemampuannya. Ternyata anak itu, dalam olah kanuragan telah melampau Tumenggung Prabasemi. Sehingga kemungkinan yang akan datang sangatlah luas bagi Karebet. Namun sayang bahwa anak muda itu kini ditemukan di keputren.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Masing-masing mampun melakukan perlawanan dan tekanan yang mengagumkan. Masing-masing telah menunjukkan kelebihan dari orang kebanyakan. Dan karena itulah Mas Karebetpun menjadi semakin cemas. Sehingga akhirnya terasa bahwa ia tidak mampu mengalahkannya, meskipun ia menyangka, bahwa dalam keadaan demikian, lawannyapun tidak dapat mengalahkannya pula.

Tetapi akhirnya terasa oleh mas Karebet, bahwa tekanan lawannya menjadi semakin berat. Gerak lawannya semakin lincah, dan keringatnya semakin banyak, sehingga tubuhnya menjadi semakin licin pula.

Sebenarnyalah Baginda[un sedang berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Baginda adalah seorang prajurit yang mumpuni. Beberapa macam ilmu tersimpan dalam dirinya, sebagaimanapun ia harus memiliki berbagai macam bekal dalam perjalanannya sebagai seorang raja dan sekaligus Senapati Perang.

Demikianlah akhirnya, maka Karebet merasakan tekanan lawannya semakin tajam. Sejalan dengan itu kecemasan didadanyapun semakin melonjak. Ia menajdi heran, bahwa tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang sakti yang mampu menghadapi ilmunya, Lembu Sekilan. Karena itupun Karebet mencoba mengingat nama semua yang pernah dikenalnya. Para Perwira Nara Manggala, para Perwira dari Wira Tamtama dan beberapa orang yang lain. Gajah Alit, Prabasemi, Paningron, Danapati, Palindih dan yang lain-lain.

Namun seandainya mereka, apakah dengan mudahnya melawanLembu Sekilan, tanpa melepaskan ilmu-ilmu mereka yang lain? Ternyata orang ini mampu.

Bukan saja dengan ilmu Welut Putih, namun serangan tanpa dilambari ilmupun berhasil mendesaknya pula. Dan Bahkan kemudian terasa bahwa serangan serangannya mampu mengetuk dinding Lembu Sekilannya. Meskipun tidak begitu tajam, namun Karebet merasa, ada kekuatan yang mapu menerobos pertahanan ilmunya.

Karena itupun Karebet menjadi bingung. Orang ini pasti orang luar biasa. Dan tiba-tiba saja Karebet mencoba mencari nama orang sakti diluar istana. Orang-orang golongan hitam hampir semua dikenali cirinya, sehingga orang ini pastilah bukan salah seorang dari mereka. Namun adakah orang sakti dari daerah lain?, atau mungkin justru pamannya yang sedang mencoba mengujinya? Paman Kebo Kanigara? Namun akhirnya Karebetpun pasti bahwa orang itu bukan Kebo Kanigara.

Akhirnya Karebet yang menjadi sedemikian bingungnya. Ia tidak mau tertangkap oleh siapapun. karena itu ia tidak punya pilihan lain daripada melumpuhkan orang itu. Kemudian menyembunyikan puteri di keputren dan membuat cerita yang masuk akal, tentang seseorang memasuki istana berkerudung ikat kepala. Meskipun seandainya orang itu adalah perwira Nara Manggala sekalipun namun ia tidak dalam kelengkapan pakaian Nara Manggala.

Karena itu Karebet yang sudah kehabisan akal itu dengan serta merta meloncat surut. Dengan cepatnya ia mempersiapkan diri dari puncak ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang dipelajari dalam suasanya aneh. Ilmu yang disusunya tanpa seorang gurupun. Dan dinamainya sendiri ilmu itu Aji Rog-Rog Asem. Nama yang ditemukan dalam daerah penggembalaan, apabila para gembala sedang berebut asem. Namun Karebet itu tidak pernah berebut dahulu mendahului, namun dengan ilmunya, Karebet mampu menggetarkan pohon asam yang betapapun besarnya, sehingga hampir segenap buahnya rontok karenanya. Meskipun demikian belum pernah seorang temanpun melihat perbuatannya. Mereka hanya menyangka bahwa angin pusaran telah merontokkan pohon asam itu.

Ilmu itupun pada dasarnya berpangkal pada pengungkapan kekuatan. Namun ilmu Karebet tidak saja mendasarkan pada kekuatan yang mampu meremukkan iga, namun juga mampu meremas tulang-tulang lawannya, memutar tubuh lawannya sehingga tulamg belakangnya patah. Itulah keajaiban ilmu Rog-Rog Asem. Ilmu dari seorang anak gembala yang aneh bernama Mas Karebet.

Kali ini, Karebet tidak melihat kemungkinan lain. betapapun licinnya Aji Welut Putih, namun ia yakin bahwa Rog-Rog Asem akan dapat menembusnya. Betapapun kuatnya orang itu apabila tersentuh Aji Rog-Rog Asem, maka sudah pasti bahwa ia akan lumpuh.

Sultan yang telah merasakan tekanan tekanannya berhasil, menjadi heran melihat Karebet meloncat mundur. Ia melihat anak itu menggosokkan kedua telapak tangannya, kemudian dengan garangnya anak muda itu meloncat dengan kaki renggang, menekuk kedua lututnya, siap melontarkan sebuah serangan.

Baginda yang telah kenyang makan garam perkelahian dan pertempuran itupun segera mengenal, bahwa anak muda itu telah siap dalam puncak ilmunya. Karena itu sultanpun menjadi cemas. Ia belum dapat menilai sampai berapa jauh ilmu yang dimiliki Karebet itu. Kalau kemudian baginda melawan ilmu itu dengan ilmunya yang didasari dengan kekuatan dan tenaga, apakah kira-kira yang akan terjadi ? seandainya ilmu itu tidak seimbang, dan ilmu Baginda itu jauh lebih dahsyat dari ilmu lawannya, maka terjadi suatu pembunuhan. Dan Baginda tidak ingin membunuhnya. Meski membunuh anak itu sangat menarik perhatiannya.

Karena itu Baginda tidak segera mengetrapkan ilmunya yang dahsyat yang dinamainya Bajra Geni. tetapi Baginda segera mateg ilmu yang lain. Ilmu Tameng Waja. Menurut perhitungan Baginda, betapapun dahsyatnya ilmu lawannya, namun menilik usianya, maka ilmu itupun belum pasti akan berhasil meruntuhkan oertahanan ilmu Tameng Waja.

Maka dengan demikian, ketika Baginda melihat Karebet meloncat sambil mengayunkan ilmunya, Rog-Rog-Asem, justru baginda berdiri tegak bertolak ilmunya Aji Tameng Waja dalam puncak kekuatannya.

Sesaat kemudian terjadilah benturan dahsyat. Benturan dari Rog-Rog-Asem menghantam benteng pertahanan Baginda dalam ilmu Aji Tameng Waja.

Baginda telah dipenuhi pelbagai pengalaman dan pengetahuan dari pelbagai macam ilmu itupun terkejut mengalami hantaman Aji Rog-Rog-Asem. Aji yang dilontarkan oleh seorang anak muda yang pantas menjadi anaknya. Terasa didada Baginda sebuah benturan yang seakan-akan merontokkan seluruh iganya. Karena itu dengan mata yang berkunang-kunang Baginda terdorong beberapa langkah surut. 

Terasa nafasnya menjadi sesak, dan hampir tidak dapat menguasai keseimbangan. Dengan terhuyung-huyung akhirnya Baginda berhasil tegak dalam keadaan keseimbangan yang mantap.

Maka kini Baginda itu berdiri dengan kokohnya di atas kedua kakinya yang merenggang. Meskipun debar di dadanya masih menggetarkan jantungnya, namun Baginda kini sudah mulai tenang kembali setelah mengalami goncangan-goncangan yang tajam. Tetapi goncangan-goncangan tubuh Baginda itu, masih belum menyamai goncangan perasaan Baginda. Hampir Baginda tak percaya, seandainya Baginda sendiri tidak merasakan bahwa isi dadanya seakan-akan menjadi rontok karenanya. Anak muda itu ternyata memiliki kedahsyatan ilmu yang mengagumkan. 

No. 763

SEJAK semula Baginda memang telah mengira, bahwa anak yang mampu meloncat mundur melampaui blumbang sambil berjongkok, pasti bukan anak kebanyakan, namun Baginda sama sekali tidak menyangka bahwa anak itu menyimpan ilmu yang sedemikian dahsyatnya. Tetapi alangkah menyesalnya Baginda, bahwa anak itu berada di keputren di malam hari tanpa setahu Baginda.

Pada saat benturan itu terjadi, Karebet pun terkejut bukan kepalang. Aji Rog-rog Asem, yang mampu merontokkan buah-buah asem pada batangnya yang sebesar apapun itu, ternyata hanya mampu mendorong surut lawannya beberapa langkah. Bahkan tangannya itu seakan-akan telah membentur selapis dinding baja yang sama sekali tak tergoyahkan, sehingga kekuatan yang tersalur lewat tangannya itu sebagian telah melontar kembali melemparkan Karebet beberapa langkah mundur. Bahkan kemudian terasa, tangannya itu nyeri dan nafasnya menjadi sesak. Sesaat Karebet itu berdiri kaku. Kepalanya menjadi pening, dan seakan-akan bintang-bintang di langit itu beterbangan turun mengerumuni kepalanya.

Ketika perlahan-lahan kesadarannya telah pulih kembali, dilihatnya lawannya itu masih tegak beberapa langkah dihadapannya. Betapa Karebet menjadi semakin marah, sehingga matanya itu seakan-akan menjadi menyala. Baginda, seorang yang memiliki berbagai pengetahuan, kini sekali lagi terkejut ketika ditatapnya mata Karebet. Mata itu benar-benar seperti mata kucing di malam yang gelap. Seakan-akan cahaya yang biru hijau memancar dari dalamnya. Dan karena itulah maka Baginda menjadi semakin menyesali keadaan.

Anak itu benar-benar anak luar biasa. Dengan demikian Baginda menjadi semakin tertarik kepadanya. Tetapi bagi seorang raja dan sebagai seorang ayah, Baginda tidak dapat membiarkan peristiwa ini terjadi tanpa persoalan. Sebab dengan demikian, maka baik Baginda sebagai raja maupun sebagai ayah, akan kehilangan nilai-nilainya yang wajar, apabila persoalan yang tak pada tempatnya itu dibiarkannya. Seandainya, ya, seandainya pada saat itu Baginda menjumpai orang lain, bukan Karebet dan tidak memiliki ilmu sedahsyat Aji Rog-rog Asem serta Lembu Sekilan, serta dari matanya tidak membayang cahaya yang biru kehijauan, maka Baginda pasti sudah akan bersikap lain. Mungkin Baginda akan memaksa putrinya untuk masuk ke bilik bundanya, dan menangkap anak itu sebagai seorang pencuri atau apapun yang masuk ke dalam istana.

Dengan demikian, maka orang itu akan dapat dihukum berat.

Tetapi kini yang dihadapi adalah seorang anak muda yang jarang-jarang ditemuinya. Alangkah baiknya anak itu dalam kedudukannya dalam pasukan Wira Tamtama. Namun, betapapun ia harus mendapat hukuman dari perbuatannya itu. Baginda tidak sempat berangan-angan. Tiba-tiba ia melihat Karebet meloncat seperti serigala lapar menerkam mangsanya. Namun Baginda bukan sekadar anak kambing yang hanya mampu mengembik. Ketika Baginda menyadari betapa berbahayanya serangan yang masih dilambari dengan Aji Rog-rog Asem itu, maka Baginda segera mengelak. Namun Baginda kini berhasrat untuk segera menyelesaikan perkelahian itu sebelum orang lain melihatnya. Sebab apabila orang lain melihat perkelahian itu, melihat putri dan Karebet, maka Baginda tidak akan menyelamatkan nama putrinya dari aib yang mencoreng kening, dan wajah Baginda pun akan tercoreng karenanya.

Karena itu, segera Baginda mateg aji kebanggaannya, Bajra Geni. Aji yang ampuh bukan buatan. Namun Baginda benar-benar tidak mau membunuh atau melukai Karebet. Karena itu, Baginda mengambil cara yang tidak berbahaya bagi lawannya. Dengan kecepatan yang tak disangka-sangka oleh Karebet, Baginda melontar menyusul arah lawannya yang terbang beberapa jengkal di sampingnya, karena terkamannya dihindari.

Dengan Aji yang dahsyat itu, Baginda memukul Karebet, namun tidak pada tubuhnya. Baginda sengaja mengayunkan tangannya di wajah Karebet, tanpa menyentuhnya.

Tetapi alangkah terkejutnya Karebet. Baginda tidak melepaskan Aji Bajra Geni sepenuhnya, namun getarannya telah cukup kuat untuk menggetarkan tubuh Karebet. Karebet pun terkejut bukan kepalang. Terasa wajahnya seakan-akan disiram api. Karena itu, maka dengan serta merta ia meloncat beberapa langkah surut. Dengan tubuh gemetar ia memandang orang yang sebagian wajahnya terselubung oleh kain ikat kepala itu. Dan didengarnya orang itu tertawa.

"Alangkah dahsyatnya," geram Karebet di dalam hatinya. "Tangannya sama sekali tidak menyentuh tubuhku. Namun getaran serta panas ilmunya telah mampu menembus Aji Lembu Sekilan.

No. 764

ORANG itu masih tertawa berkepanjangan meskipun tidak terlalu keras. Kemudian terdengar ia berkata, "Bagaimana Aji Lembu Sekilan. Apakah kau masih akan membanggakan Aji Lembu Sekilan yang setengah matang itu. Aku belum menyentuh kulitmu, tetapi agaknya kau telah merasakan akibatnya. Bahwa kekuatan Ajiku mampu menembus pertahanan Lembu Sekilanmu."

Karebet tidak menjawab. Dengan marahnya ia menggeram. Tetapi ia benar-benar telah dapat mengambil suatu kepastian, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan orang itu. Karena itu Karebet menjadi semakin cemas. Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya, bahkan sampai mati sekalipun. Namun bagaimana kemudian dengan putri itu? Belum lagi ia menemukan cara untuk menyelamatkan Putri itu, maka terdengar orang yang berdiri di hadapannya itu berkata, "Nah, apakah kau masih akan melawan.?"

"Jangan menyombongkan diri. Kau lihat aku masih tegak dihadapanmu," sahut Karebet.

"Hem," desah orang itu, "Kau memang keras kepala. Meskipun demikian aku beri kau kesempatan hidup. Tetapi serahkan putri itu kepadaku."

"Apa?" Kata-kata Karebet tersangkut di kerongkongan karena kemarahannya yang meluap-luap.

Sedang Putri Sultan itu menjadi bertambah mengigil ketakutan. Perlahan-lahan wajahnya beredar di antara batang-batang perdu di petamanan. Namun hatinya menjadi bingung. Ia akan dapat berteriak memanggil beberapa peronda. Tetapi apa katanya tentang Karebet dan orang yang berselubung kain itu?

Dalam kebingungan Putri itu mendengar orang berselubung itu berkata, "Apakah Putri akan memanggil Nara Manggala?"

"Ya," sahut putri itu tiba-tiba.

Kembali orang itu tertawa. Jawabnya, "Mereka akan menangkap Karebet dan orang yang berselubung kain itu?"

Telinga Karebet menjadi merah karenanya. Kemarahannya telah benar-benar sampai kepuncak kepalanya. Apalagi ketika ia mendengar orang itu mengulangi, ?Anak muda. Tak ada gunanya kau melawan. Ajimu kedua-duanya adalah ilmu yang sama sekali tak berarti bagiku. Dengan duduk bertopang dagu aku pasti akan dapat memunahkannya. Tetapi apakah kau mampu bertahan terhadap ilmuku meskipun kau membentengi dirimu dengan Lembu Sekilan?"

Sekali lagi Karebet mencoba melihat siapakah yang berdiri di hadapannya. Pamannya? Mahesa Jenar? Pasti bukan. Mungkin orang-orang sakti yang lain? Di istana tidak banyak dijumpai orang-orang yang pernah menggetarkan hatinya. Beberapa orang sakti dari para prajurit berbagai kesatuan telah dikenalnya. Dan orang ini bukanlah salah seorang dari mereka.

Sebelum Karebet mampu memecahkan teka-teki itu. Karebet mendengar orang yang berdiri dihadapannya itu berkata pula, "Jangan menunggu aku marah. Biarlah putri itu aku bawa."

Sekali lagi Karebet menggeram. Sahutnya, "Lampaui dahulu mayatku. Baru kau bawa Tuan Putri."

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, "Kau benar-benar keras kepala."

"Adalah akibat dari perbuatanku. Tebusannya maut," sahut Karebet, dan diteruskan, "Apakah kau sangka, sesudah aku, kau akan dapat melepaskan diri dari halaman ini? Kau mati dipenggal oleh Nara Manggala."

"Tak seorang pun mampu menangkap aku," jawab orang itu. "Karebet tidak. Gajah Alit tidak dan Panji Danapati pun tidak."

Karebet menarik alisnya. Orang itu dapat menyebut beberapa nama perwira dari Nara Manggala. Karena itu tiba-tiba menjadi bercuriga. Apakah orang itu orang dalam? Gajah Alit pasti bukan. Panji Danapatipun bukan. Siapa? Dalam kebingungan itu kembali Karebet mendengar orang itu berkata, "Ayo Karebet. Katakan kepadaku, siapakah dari seluruh Demak mampu mengalahkan aku?"

Karebet benar-benar mengigil mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia menyebut beberapa nama yang pernah dikenalnya di Karang Tumaritis. Namun niatnya diurungkannya. Yang terdengar kemudian hanyalah gemeretak giginya beradu.

Tetapi seperti mendengar seribu guntur meledak bersama di atas kepalanya, kemudian Karebet mendengar orang itu berkata, "Karebet, katakan, siapa yang mampu melawan Aji Bajra Geni?"

"Bajra Geni. Bajra Geni." Tanpa sadar Karebet mengulangi kata-kata itu.
"Ya," sahut orang itu pendek.

765

Tubuh Karebetpun kemudian menjadi gemetar. Dengan ragu-ragu ia memandang orang yang berdiri dihadapannya. Bajra Geni adalah nama ilmu yang dahsyat, sedahsyat ilmu pamannya dan Mahesa Jenar. Setingkat pula dengan ilmu-ilmu luar biasa lainnya, Lebur Seketi,Cunda Manik dan lain lainnya. Tetapi lebih daripada itu. 

Aji Bajra Geni dikenal sebagai ilmu yang dimiliki oleh Sultan Trenggana. Karena itu betapa debar jantung Karebet seakan-akan terhenti. Bahkan darahnyapun seakan tidak mengalir lagi.

Sebelum Karebet menyadari apa yang terjadi, maka tangan orang yang berdiri dihadapannya itupun kemudian meraih kain yang menutupi wajahnya. Dengan sekali gerak, maka kain itupun telah direnggutkan.

Demikianlah orang yang tegak berdiri dengan gagahnya itu menarik tutup wajahnya, terdengar puteri Sultan itu menjerit kecil. Sesaat ia memandangi wajah itu dengan tajamnya, namun sesaat berikutnya dengan serta merta puteri menjatuhkan dirinya dikaki Baginda sambil menangis sejadi-jadinya. Sedang Karebetpun kemudian berlutut pula pada kedua lututnya sambil menyembah hampir mencium tanah.

"Jangan menangis!," bentak baginda. "Diam atau kututup mulutmu!"

Dengan sekuat tenaga dan penuh ketakutan, Puteri mencoba meredakan tangisnya. Tetapi karena itu maka tangis itu seakan-akan malahan meledak-ledak.

Baginda masih juga berdiri diatas kakinya yang renggang. Dipandangnya wajah Karebet dengan tajam, setajam ujung pedang. Dan Karebetpun menundukkan wajahnya dalam-dalam.

"Ayahanda," terdengar puteri berkata diantara sendunya.

"Apakah kau masih berhak menyebut aku sebagai ayahandamu ?," sahut baginda.

"Ayahanda," kembali terdengar kata-kata itu meloncat dari bibir Puteri yang sedang menangis itu.

Namun Sultan Trenggana itu tidak menjawab. Bahkan kemudian ia berkata kepada Karebet, "Karebet, apakah aku harus melampaui mayatmu?."

"Ampun, Baginda," sahut Karebet gemetar, "aku tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda."

"He, jadi kalau tidak ada aku kau dapat berbuat sekehendakmu? Jadi kalau berhadapan dengan orang lain, kau mengagung-agungkan kekuatanmu ? Lembu Sekilan atau Aji apa lagi yang kau miliki itu?"

"Ampun Baginda," Karebet semakin tertunduk.

Kini harapannya untuk keluar dari kaputren menjadi lenyap. Ia tinggal menunggu besok atau lusa, seorang algojo akan memenggal lehernya, atau menaikkan ke tiang gantungan.

Apalagi ketika didengarnya Baginda berkata, "Karebet itukah tanda terimakasihmu kepadaku. Bukankah kau telah aku pungut dari pinggir jalan, kemudian aku coba untuk menjadikan kau seorang anak muda yang memiliki kebanggaan dengan menyerahkanmu kepada Prabasemi dan kesatuannya. Kini ternyata kau telah menyentuh kehormatanku. Sebagai seorang ayah dan seorang raja."

Mendengar kata-kata baginda itu tiba-tiba Karebet teringat kepada Tumenggung Prabasemi. Hampir saja ia mengatakan persoalan Tumenggung kepada untuk mengurangi kemarahan baginda kepadanya, tetapi kemudian niat itupun diurungkannya.

"Tak ada gunanya," katanya dalam hati. Dan kini ia tinggal pasrah kepada nasib yang membawanya kearah maut. Tak ada hukuman lain yang pantas diberikan kepadanya selain hukuman mati. Apalagi telah berani bertempur melawan Baginda.

"Mungkin baginda sendiri yang akan membunuhku." pikirnya.

Sebenarnya baginda marah sekali kepada Karebet dan Puterinya. Tetapi terasa sesuatu yang aneh menyelip dihati baginda. Justru setelah bertempur melawan Karebet, kesaktian anak itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga bagindapun berkata didalam hatinya, "Sayang, anak ini memiliki kemungkinan dihari depannya. Kemungkinan yang tidak terbatas. Kalau ia mampu mematangkan aji Lembu Sekilan dengan ilmu rangkapannya itu,maka ia menjadi seorang sakti yang pilih tanding."

Baginda sendiri mempunyai dua orang putera disamping puterinya. Yang sulung, adalah seorang yang sakti pula. Namun sayang, karena sesuatu hal, maka Pangeran itu mempunyai penyakit berat didalam rongga dadanya. Sedang puteranya yang seorang lagi, masih terlalu muda, dan agaknya tidak akan menyamai kakak sulung.

Tetapi Baginda tidak mau terpengaruh oleh perasaannya itu. Tetapi kemudian Baginda berkata lantang kepada puterinya, "Cepat masuk kekeputren. Jangan keluar dari pintu kalau bukan ibunda yang menjemputmu."

Puteri itupun menyembah sambil menangis. Tetapi ketika akan menjawab, Baginda membentaknya, "Masuk ke keputren!."

Puteri Baginda itu tidak berani mengangkat wajahnya. Sekali lagi ia menyembah, dan dengan wajah tunduk serta airmata berhamburan, Puteri tertatih-tatih masuk kebiliknya. Langsung direbahkannya dirinya dipembaringan menelungkup. Dan kepada pembaringan serta dinding-dinding biliknya ia mengadukan nasibnya yang malang. Betapa kecewanya dan menyesal hati puteri itu. Tetapi semuanya telah terlanjur dilakukan. Dan ayahanda Baginda sendiri telah melihat langsung apa yang terjadi.

Diluar Keputren Karebet duduk bersila dengan wajah tepekur. Anak muda ini menyesal pula atas semuanya yang telah terjadi. Namun, semuanya telah berlalu. Dan yang dapat dilakukan kini tinggallah menunggu hukuman yang harus disandangnya.

Sesaat kemudian Bagindapun menjadi bimbanmg. Bagaimanapun anak muda itu mempunyai tempat tersendiri didalam hatinya sehingga dengan demikian, mau tidak mau segala keputusan yang akan diambil oleh baginda sangat terpengaruh oleh perasaannya itu.

"Karebet, ikut aku ke Ksatriaan," berkata Baginda kemudian.

"Hamba tuanku," sahut Karebet sambil menyembah.

Dan Baginda tidak menunggu apapun lagi ditempat itu. Segera Baginda berjalan diantara rimbunnya daun-daun perdu dihalaman, supaya tidak seorangpun melihatnya. Kepada Karebet, Baginda itu berkata, "ikuti aku. Jangana ada seorangpun yang melihatmu. Apabila demikian, maka nasibmu akan aku serahkan kepada penjaga itu."

Karebet menyembah sambil menyahut, "Hamba, Baginda."

Maka keduanyapun berjalan mengendap endap menghindari peronda dari pengawal baginda. Sehingga tak seorangpun yang mengetahuinya, maka berdua telah memasuki Ksatrian dari pintu samping.

"Karebet," berkata Baginda setelah mereka didalam bilik ksatrian. "Tinggal disini. Jangan coba melarikan diri. Tak ada gunanya. Aku segera dapat menangkapmu kemana saja kau bersembunyi. Sebab setelah ini, akan aku perintahkan segenap peronda Nara Manggala untuk lebih berhati-hati. Tak seorangpun boleh meninggalakan halaman istana. Apapun alasannya."

"Hamba tuanku," jawab Karebet. "Hamba tidak akan berani melanggar perintah Baginda."


Mimbar Seputro
updated 16 April 2001