NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
066
TAMPAKNYA Mahesa Jenar betul-betul akan melaksanakan ucapannya itu, karenanya maka kembali orang itu berteriak, "Jangan, jangan, bunuhlah aku dengan cara lain."
Kembali Mahesa Jenar tertawa dingin. "Seorang yang telah berani menyatakan dirinya sebagai pengemban tugas, seharusnya tidak takut menghadapi segala macam bahaya."
"Aku sama sekali tidak takut mati. Tetapi cara kematian yang demikian adalah mengerikan sekali. Lepaskan aku dan biarlah aku bunuh diri," teriak orang itu.
Kembali Mahesa Jenar mengagumi orang itu, tetapi keterangan yang diperlukan harus didapatnya. Maka katanya, Kalau kau mau berkata, aku beri kau kebebasan untuk memilih jalan kematian.
Lagi orang itu diam menimbang-nimbang. Rupanya terjadi pergolakan hebat di dalam dirinya. Baru ketika Mahesa Jenar menekan pergelangan kakinya ia berteriak, Baiklah aku berkata asal aku dibebaskan dari siksaan ngangrang Salaka.
Baiklah..., berkatalah, jawab Mahesa Jenar.
Lalu dilepaskannya pergelangan kaki orang itu, dan ia melangkah satu langkah surut.
Mengalami perlakuan yang demikian, orang itu ternyata sangat terkejut. Ia tidak tahu maksud lawannya yang dengan begitu saja telah melepaskan tangkapannya. Sehingga untuk beberapa saat ia tetap tertelungkup tanpa bergerak, sampai Mahesa Jenar menegurnya, Duduklah dan berkatalah.
Kembali ia tersentak mendengar tegur Mahesa Jenar. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di hadapan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar telah pula duduk menghadapi orang yang menamakan dirinya Sagotra.
Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak berkedip. Rupanya ia sedang mencoba memahami sikapnya. Mula-mula Sagotra menganggap bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang bengis dan kejam, seperti yang tiap-tiap hari dilihat di dalam tata pergaulannya. Tetapi kemudian seperti orang yang sama sekali tidak menaruh prasangka apa-apa, ia dilepaskan.
Kalau hal itu disebabkan karena keyakinan akan kemenangannya, pastilah ia tidak bersikap sedemikian lunak. Mungkin ia sudah diangkatnya tinggi-tinggi, diputar di udara, lalu dibantingnya ke tanah. Barulah setelah setengah mati, disuruhnya ia berkata. Atau mungkinkah segala-galanya akan dilakukan nanti setelah ia selesai berkata? Sebab menurut pertimbangannya, tidaklah mungkin orang yang melakukan pengintaian seperti apa yang dilakukannya itu akan dilepaskan, karena akibatnya akan membahayakan. Mengingat hal itu, Sagotra menjadi ngeri.
Mahesa Jenar menangkap kebimbangan hati Sagotra.
"Sagotra," berkatalah. "Aku hanya ingin keteranganmu, lebih daripada itu tidak."
Sagotra sama sekali tidak mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi meskipun demikian ketakutannya menjadi jauh berkurang. Menilik sikap, kata-kata serta maksudnya, pastilah Mahesa Jenar bukan orang yang bengis dan kejam. Karena itu Sagotra menjadi malu kepada diri sendiri. Bahwa orang yang dipercaya untuk melakukan tugas ini dapat luluh hatinya hanya oleh gertakan saja.
Tetapi disamping itu ia menjadi kagum pada Mahesa Jenar yang mempunyai sifat-sifat yang tak pernah dijumpainya dalam tata pergaulan di sarangnya. Tiba-tiba saja ia merasa kengerian dan kejemuan untuk dapat bertemu dengan gerombolannya kembali, yang tidak pernah merasakan betapa indahnya hidup manusia yang dapat menikmati terbitnya fajar, serta bulatnya bulan. Serta betapa tenteramnya hidup ini apabila ia berkesempatan mengagungkan alam. Lebih-lebih penciptanya, Tuhan Yang Maha Agung. Hal yang demikian tidaklah pernah dialami selama Sagotra hidup di dalam sarang gerombolannya, dimana setiap saat hanyalah berlaku hukum kekerasan dan pembunuhan bagi mereka yang tidak mentaati peraturan.
"Tuan," katanya kemudian, "Benarkah Tuan yang bernama Rangga Tohjaya?"
Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.
"Aku telah mendapat tugas untuk mencari Tuan," lanjutnya.
Kembali Mahesa Jenar mengangguk perlahan.
"Sekarang aku sudah kau ketemukan," kata Mahesa Jenar.
"Ya, aku sudah menemukan Tuan. Tetapi keperkasaan Tuan jauh diatas dugaanku. Sehingga Tuan tanpa menoleh dapat melihat kedatanganku."
"Tetapi kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kau temukan aku? Bahkan kau hanya mengintip lalu pergi?"
Sagotra membetulkan duduknya, lalu jawabnya, "Memang, aku hanya mendapat perintah untuk menemukan tempat Tuan. Sesudah itu aku harus melaporkan. Sebab kami yakin, bahwa untuk menangkap Tuan diperlukan 10 sampai 20 orang yang tergolong tingkat atasan dalam gerombolan kami."
"Kau ini sebenarnya termasuk gerombolan apa?" tanya Mahesa Jenar kemudian.
Kembali orang itu ragu-ragu. Dengan menyebutkan nama gerombolannya, mungkin sangat tidak menguntungkan baginya. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang sama sekali tidak memancarkan rasa permusuhan, hatinya agak tenang sedikit.
Meski dengan jantung berdegup, berkatalah Sagotra, "Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak berani menyebut nama gerombolanku, sebab aku tahu bahwa Tuan mempunyai persoalan yang mendalam dengan pemimpinku. Meskipun demikian, karena sikap Tuan yang tak pernah aku temui dalam gerombolan kami, menimbulkan kepercayaan pada diriku, bahwa Tuan mempunyai kepribadian lain daripada orang-orang kami."
Orang itu berhenti sejenak untuk meyakinkan kata-katanya sendiri. Lalu sambungnya,
"Tuan... kami adalah gerombolan Lawa Ijo."
Pengakuan itu sama sekali tidak mengejutkan hati Mahesa Jenar. Memang ia sudah mempunyai dugaan bahwa kemungkinan terbesar orang itu datang dari gerombolan Lawa Ijo atas perintah Pasingsingan. Hanya kecepatan mereka bertindak itulah yang mengagumkan.
"Sagotra, kata Mahesa Jenar kemudian, Aku dengar gerombolan kini sedang dibekukan. Benarkah itu?"
"Benar, Tuan. Tetapi meskipun demikian, kami, beberapa orang tetap dalam tugas kami. Sedang orang lain yang tidak diperlukan diperkenankan untuk sementara meninggalkan sarang kami. Tetapi kami 25 orang yang merupakan anggota inti di bawah pimpinan Wadas Gunung, saudara muda seperguruan Lawa Ijo, harus selalu bersiap untuk setiap saat bertindak," kata Sagotra.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH MIntarja
067
Mendengar nama Wadas Gunung, Mahesa Jenar jadi teringat kepada Watu Gunung, yang menurut Samparan juga merupakan saudara muda seperguruan dengan Lawa Ijo. Karena itu ia bertanya," Sagotra, kenalkah kau dengan Watu Gunung?"
"Ya, pastilah aku kenal. Ia adalah saudara kembar Wadas Gunung. Dan kedua-duanya saudara seperguruan Lawa Ijo. Aku juga sudah mendengar kabar yang dibawa oleh Ki Pasingsingan, bahwa Watu Gunung telah Tuan binasakan ketika ia sedang mengunjungi kampung kelahirannya. Serta karena itu pulalah sekarang kami 20 orang di bawah pimpinan Wadas Gunung sendiri sedang mencari Tuan," jawab Sagotra.
Mendengar keterangan terakhir dari Sagotra ini hati Mahesa Jenar tergoncang pula, 20 orang sedang mencarinya. Sementara itu Sagotra melanjutkan, "Tetapi anehlah Tuan, bahwa kali ini Ki Pasingsingan salah hitung. Hal seperti ini belum pernah terjadi. Kami telah mendapat petunjuk untuk mencegat Tuan di suatu tempat. Menurut perhitungan Ki Pasingsingan, pada hari ini menjelang malam Tuan pasti sampai ke tempat itu. Tetapi ternyata perhitungan itu meleset. Dan tuan telah mengambil jalan lain menghindari tempat yang telah kami persiapkan untuk menjebak Tuan. Karena itu, kami lima orang telah disebarkan untuk mencari Tuan."
Mahesa Jenar mendengarkan keterangan Sagotra dengan penuh
perhatian. Akhirnya ia bertanya,
"Kapan kah Pasingsingan sampai ke sarang gerombolanmu?
"
"Kemarin lusa, " jawab Sagotra.
"Kemarin lusa? " ulang Mahesa Jenar dengan herannya. Sulit baginya untuk membayangkan kecepatan berjalan Pasingsingan. Ditambah lagi ketika ia teringat telapak kaki yang masih tampak baru, yang ditemuinya sore tadi. Mahesa Jenar menjadi bertambah heran lagi.
Kemudian Mahesa Jenar bertanya, "Adakah orang lain yang kau temui lewat jalan yang seharusnya aku lalui?"
"Tidak Tuan, tidak ada. Kalau ada, pastilah orang itu kami tangkap. Sebab pasti orang itu kami sangka Tuan, karena diantara kami tidak ada yang pernah mengenal wajah Tuan, kecuali hanya ciri-ciri Tuan yang digambarkan oleh Ki Pasingsingan."
Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. "Adakah pihak ketiga yang sengaja memberi tanda kepadanya supaya mengambil jalan lain? Ia jadi bingung menimbang-nimbang. Tetapi sampai sekian lama tak dapat ia memecahkan teka-teki itu. Satu-satunya kemungkinan yang membayang di kepala Mahesa Jenar hanyalah Ki Ageng Pandan Alas. "
Belum lagi masalah telapak kaki bisa dipecahkan, mereka melihat di arah sebelah selatan warna merah membayang di udara. Pasti di sana ada orang yang menyalakan api. Segera Mahesa Jenar ingat, bahwa Wadas Gunung beserta 20 orangnya sedang bersiap menghadangnya. Tetapi menilik arahnya, pasti bukan mereka.
"Sagotra...," kata Mahesa Jenar kemudian. "Kawan-kawanmukah yang menyalakan api itu? "
Sagotra memandang pula ke arah warna merah yang mewarnai keremangan malam. Ia menggeleng perlahan. Lalu jawabnya, "Bukan Tuan. Itu pasti bukan kawan-kawan. Mereka menghadang Tuan tidak di arah itu."
"Lalu siapakah menurut pendapatmu yang menyalakan api itu?"
Sagotra tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia menjawab, "Tuan, mungkin itu adalah orang tua yang agak kurang waras, yang merupakan satu-satunya penghuni daerah ini."
"Satu-satunya?" sahut Mahesa Jenar agak terkejut. "Jadi didaerah ini tidak lagi ditinggali manusia kecuali orang tua itu?"
Sagotra menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Tuan. Memang daerah ini sekarang sama sekali kosong, kecuali seorang itu, " jawab Sagotra kemudian.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
068
"KENAPA orang itu tidak pergi?" tanya Mahesa Jenar. "Tidakkah dia takut menghadapi keganasan gerombolan-gerombolan itu? Ataukah dia sedemikian hebatnya sehingga tak seorang pun berani mengganggunya...?"
" Tidak, Tuan.... Ia sama sekali tidak memiliki kepandaian apa-apa. Aku sendiri pernah datang mengunjunginya. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, orang itu agak kurang waras. Ia merasa bahwa ia sama sekali tidak mempunyai milik, sehingga menurut perhitungannya tidak akan ada orang yang datang mengganggunya, " sahut Sagotra.
Mahesa Jenar mendengar keterangan Sagotra dengan saksama. Ia mulai menghubung hubungkan keterangan itu dengan kakek Rara Wilis. Mungkinkah orang tua itu adalah Ki Santanu...?
"Siapakah nama orang tua itu?" tanya Mahesa Jenar tiba-tiba.
Sagotra menggelengkan kepalanya. Tak ada orang yang mengetahui nama sebenarnya. Aku juga pernah menanyakan kepadanya, tetapi ia hanya menyebutkan panggilan yang biasa diperuntukkannya saja.
"Ya, siapa panggilan itu?" desak Mahesa Jenar
"Orang memanggilnya dengan sebutan Ki Ardi."
"Ardi? "ulang Mahesa Jenar. Sagotra mengangguk.
Tiba-tiba terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa Ardi dapat berarti Gunung. Sedang kakek Rara Wilis pun berasal dari daerah pegunungan. Ah, apakah salahnya kalau ia berkenalan dengan orang tua itu?
"Sagotra...," katanya kemudian, "Dapatkah kau menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi itu?"
Sagotra diam-diam menimbang-nimbang. Ia menjadi agak kebingungan. Tentang dirinya sendiri, ia belum mendapat penyelesaian. Sekarang ia mendapat pekerjaan baru, mengantarkan Mahesa Jenar ke rumah orang tua itu. Tetapi sesudah itu lalu bagaimana? Mestikah ia harus bunuh diri, atau Mahesa Jenar akan membunuhnya...? Serta bagaimanakah kalau ia bertemu dengan kawan-kawannya yang juga sedang mencari Mahesa Jenar?
Mahesa Jenar melihat kebingungan hati Sagotra serta sedikit banyak menangkap perasaannya.
Tetapi disamping itu mendadak timbul pula kebimbangan di hatinya sendiri. Lalu bagaimana dengan Sagotra itu kemudian? Kalau orang itu dilepaskan, maka soalnya akan berkepanjangan. Pastilah ia akan melaporkan semuanya kepada Wadas Gunung dengan keduapuluh kawannya. Dan ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat. Sedangkan untuk membunuhnya, tidaklah terlintas dalam angan-anannya. Sebab orang seperti Sagotra bukanlah seorang yang pantas untuk menerima hukuman yang demikian berat. Sebab ia tidaklah lebih dari seorang pesuruh.
Karena itu kemungkinan satu-satunya adalah membawa Sagotra itu seterusnya, sampai keadaan terasa aman. Mendapat pikiran yang demikian itu, maka Mahesa Jenar segera mengambil keputusan.
"Sagotra, barangkali kau segan untuk melakukan permintaanku, menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi, sebab kau merasa bahwa tak ada gunanya kau berbaik hati kepadaku. Tetapi ketahuilah Sagotra, aku terpaksa memutuskan untuk membawamu kemana aku pergi, demi keamananku. Kalau aku seorang diri, barangkali aku segera melepaskanmu. Lalu sesudah itu aku dapat menyelamatkan diriku secepat-cepatnya. Tetapi sekarang aku sedang melindungi seorang gadis. Karena itu, janganlah membantah perintahku. Janganlah kau takut, bahwa sesudah semuanya selesai aku akan membunuhmu. Sebab bagiku kau tidak lebih dari sebuah alat yang tak perlu dirusak. "
Kalau yang berkata demikian itu Wadas Gunung, atau salah seorang dari rombongannya, hati Sagotra pasti tidak akan banyak terpengaruh. Sebab ia tahu pasti, bahwa kata-kata yang demikian itu sama sekali tak berarti. Bagi Wadas Gunung serta kawan-kawan segerombolannya, tidak ada batas antara sahabat yang setia pada hari ini, serta lawan yang harus dibinasakan hari esok.
Tetapi yang berkata demikian adalah orang lain. Orang yang baru saja dikenalnya, bahkan yang telah diserangnya dengan sekuat tenaga untuk dibunuh. Namun demikian orang itu masih berkata kepadanya, bahwa ia masih boleh mengharap untuk dapat menyaksikan matahari terbit esok pagi. Dan kata-kata ini mempunyai kesan yang jauh berlainan dengan segala pujian, janji dan segala macam yang pernah keluar dari pemimpin-pemimpin rombongannya. Karena itu hati Sagotra bergoncang hebat. Tanpa sadar, Sagotra meloncat, lalu bersujud di muka Mahesa Jenar sampai mencium tanah. Dan anehnya, sejak ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, serta kemudian terperosok dalam dunia yang hitam kelam, baru sekaranglah orang yang bernama Sagotra itu sampai meneteskan air mata. Bukan saja karena ia terlepas dari terkaman maut. Sebab hal yang demikian itu telah seringkali dialami.
Dalam segala kegiatannya sebagai anggota gerombolan penjahat, banyak tangkapan-tangkapan maut yang dapat dihindari Sagotra. Tetapi ia tidak pernah merasa terharu sama sekali mengalami peristiwa-peristiwa itu, bahkan yang ada di dalam benaknya adalah dendam yang membara, serta kebanggaan dan kesombongan.
Mahesa Jenar menyaksikan sikap Sagotra itu dengan penuh keheranan. Ia tidak dapat menangkap seluruh perasaan yang bergelut dalam dada orang itu, sehingga tampak sangat menggelikan. Bahwa orang itu tinggi tegap, berkumis tebal serta berkulit hitam mengkilap, tetapi menangis tersedu-sedu.
"Sagotra, agak aneh kelakuanmu itu bagiku. Seorang laki-laki macam kau yang dengan sikap jantan berani menentang maut, kini tiba-tiba menangis macam anak-anak, " kata Mahesa Jenar.
"Tuan...," jawab Sagotra sambil mengangkat kepalanya, "Tak pernah selama hidupku merasakan sesuatu yang demikian mengharukan seperti kali ini."
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
069
SAGOTRA merasakan bahwa ternyata bukanlah kekerasan melulu yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. "Meskipun Tuan bermodalkan kekuatan yang tiada taranya, tetapi sikap Tuan adalah suatu penguasaan mutlak atas diriku. Seandainya Tuan tidak berbuat demikian, mungkin dalam kesempatan-kesempatan yang ada aku pasti akan menyerang Tuan, atau setidak-tidaknya aku ingin mati sebagai seorang laki-laki sejati. Tetapi sekarang, hidup matiku bulat-bulat di tangan Tuan. Juga seandainya Tuan ingin menyaksikan aku mati di sarang semut Salaka, tidaklah menjadi masalah lagi bagiku," kata Sagotra.
Mahesa Jenar terharu juga mendengar kata-kata Sagotra. Tetapi meskipun demikian, ia tetap berhati-hati. Sebab kata-kata itu keluar dari mulut seorang penjahat yang cukup mempunyai ikatan yang sempurna.
Tidak mustahil bahwa cara-cara yang demikian sering dilakukan untuk mengurangi kewaspadaan lawan. Hanya karena kejadian itu tampaknya meyakinkan, maka Mahesa Jenar pun tidak perlu lagi terlalu mencurigainya. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri, hanyut oleh arus perasaan masing-masing.
Sementara itu nyala api di sebelah selatan itu pun tampak semakin terang. Angin malam pun terasa demikian dingin menggigit tulang.
"Sagotra, marilah kita pergi," kata Mahesa Jenar kemudian, memecahkan kediaman mereka.
"Mari Tuan," jawab Sagotra.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri tegak serta memandang ke arah Rara Wilis berbaring.
"Tetapi mestikah gadis itu aku bangunkan? " desis Mahesa Jenar.
"Atau kita menunggu sampai besok, " sahut Sagotra.
"Tidakkah ada bahayanya? Apakah tidak mungkin salah seorang kawanmu datang pula ke tempat ini? Dengan demikian kaupun pasti akan mendapat kesulitan, " jawab Mahesa Jenar.
Sagotra diam menimbang-nimbang. Memang mungkin sekali salah seorang dari kawannya datang pula ke tempat ini meskipun mula-mula mereka berpencaran.
"Jadi bagaimana pendapat Tuan?" tanya Sagotra lagi.
Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia pun sedang berpikir, bagaimana sebaiknya. Kalau pada saat itu ia langsung bersama-sama Rara Wilis, pergi ke arah api itu, tidakkah ada kemungkinan orang-orang yang sedang mencarinya pergi ke arah api itu juga?
"Sagotra, tidakkah kawan-kawanmu juga akan pergi ke arah api itu?"
"Aku kira tidak, Tuan. Pasti mereka tahu bahwa arah
itu adalah arah rumah Ki Ardi," jawabnya.
Tetapi mungkin pula mereka berpikir bahwa di sana akan dapat
mereka temukan kami, yang dapat diperhitungkan, bahwa kami akan
pergi ke arah api itu.
Sagotra mengangguk kecil. Memang masuk akal pula bahwa kawan-kawannya mempunyai perhitungan yang demikian. Jadi bagaimanakah sebaiknya...?
Kembali mereka diam menimbang-nimbang. Memang tidaklah mudah menghindari gerombolan Lawa Ijo yang berjumlah 20 orang, justru di wilayah mereka sendiri. Sagotra yang merupakan salah seorang dari gerombolan itu pun masih belum dapat menemukan, bagaimanakah jalan yang sebaik-baiknya untuk menghindari kawan-kawannya.
"Tuan..." akhirnya Sagotra bertanya, "Adakah sesuatu kepentingan Tuan dengan orang itu?"
Mendapat pertanyaan yang demikian, Mahesa Jenar agak menjadi repot untuk menjawabnya. Pastilah ia tidak akan dapat mengatakan bahwa ia sedang mencari seseorang ada hubungannya dengan keris Sigar Penjalin. Sebab pastilah ia mendapat jawaban bahwa orang itu bernama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak, Wanasaba.
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat bahwa kakek Rara Wilis itu menyebut dirinya Ki Santanu.
Karena itu segera ia menjawab, "Sagotra, sebenarnya kedatanganku ke daerah Pliridan ini adalah untuk mencari seseorang yang bernama Ki Santanu. Kalau aku dapat bertemu dengan Ki Ardi, mungkin aku akan dapat menanyakan kepadanya tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Mungkin ia mengenal orang yang bernama Ki Santanu itu."
Sagotra tampak mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Sebab ia dalam melakukan tugasnya banyak berhubungan pula dengan penduduk, sehingga hampir semua dikenalnya. Tetapi nama Santanu belum pernah dikenalnya.
"Tuan, barangkali aku dapat mengenal semua orang di sini sedemikian baiknya, seperti juga Ki Ardi. Tetapi nama itu belum aku dengar. Mungkin disamping namanya ia mempunyai sebutan lain, atau barangkali Tuan dapat mengatakan kepadaku bagaimanakah ciri-ciri orang itu? " jawab Sagotra.
Mahesa Jenar menggeleng perlahan-lahan. Katanya, "Aku sendiri belum pernah mengenal wajahnya. Ia adalah kakek gadis itu. Nah, mungkin kau dapat bertanya kepadanya. Marilah kita tengok ia, barangkali sudah bangun."
Sagotra tidak menjawab. Segera ia berdiri dan berjalan di belakang Mahesa Jenar. Tetapi mendadak terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Cepat seperti kilat, Mahesa Jenar meloncat ke arah tikar yang masih terbentang. Tetapi Rara Wilis sudah tidak ada lagi terbaring diatasnya. Jantung Mahesa Jenar bergelora hebat sekali.
Sadarlah ia bahwa ia telah berbuat suatu kelengahan. Di daerah yang berbahaya serta mengandung banyak rahasia ini, ia telah terlalu lama meninggalkan Rara Wilis seorang diri. Segera ia berdiri tegak serta mengangkat kepalanya. Memusatkan pikiran serta segenap pancainderanya untuk menangkap tiap-tiap gerakan maupun suara di sekitarnya. Tetapi tidak ada yang tampak selain daun dan ranting yang digoyangkan angin, serta tak ada yang didengar selain gemersik dedaunan itu, serta tarikan nafas Sagotra.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
070
MAHESA JENAR adalah seorang yang cukup matang. Ia memiliki ketenangan pikiran serta kecepatan bertindak. Tetapi meskipun demikian, kali ini hampir kehilangan semua sifat-sifatnya itu. Pada saat ia menghadapi Pasingsingan, ia masih tetap sadar dan dapat menguasai pikiran sepenuhnya. Tetapi sekarang ia menghadapi suatu peristiwa yang belum pernah dirasakan.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai suatu peristiwa yang langsung menusuk perasaannya yang paling dalam. Dalam ketidaksadarannya tiba-tiba Mahesa Jenar berlari kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Rara Wilis.
Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas, sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada itu. Dan memang demikianlah kiranya.
Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian eratnya.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian
dari jiwanya sendiri.
Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil
Rara Wilis. Tetapi tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga
ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa Rara Wilis telah lenyap,
menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya gemeretak.
Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya
untuk menyalurkan amarahnya.
Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali, dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.
Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.
Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula lebih dari batu itu.
Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat sekali.
Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi, tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi, pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya fajar.
Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya, mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil menggeram, "Setan, rupanya kau telah memancing aku untuk menjauhi Wilis."
Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar bertindak diluar kesadarannya.
Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama semakin menekan.
Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba, justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.
"Tuan, aku tidak akan menghindarkan diri dari hukuman yang akan Tuan jatuhkan atas diriku. Sebab hal yang demikian adalah wajar sekali. Tetapi yang aku sangat sedih adalah justru kematianku disebabkan oleh suatu hal yang sama sekali tak kumengerti. Sebab aku sama sekali tak sengaja menjauhkan Tuan dari gadis itu. Maka, kalau Tuan benar-benar akan membunuhku, bunuhlah aku sebagai salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo yang ingin mencelakakan Tuan, " kata Sagotra suara susah payah.
Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang belum pernah dijamah dosa.
Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifat-sifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.
"Maafkanlah aku," Sagotra, bisik Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali.
Hampir saja air matanya tidak lagi dapat ditahannya.
"Sagotra...," kata Mahesa Jenar selanjutnya, yang bagaimanapun masih ingin mendapat lebih banyak penjelasan, "Benarkah kau tidak berbuat itu?"
"Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula," jawab Sagotra.