Ada seorang teman yang sempat berkunjung ke
jobsite "Madurejo Swalayan" di Jl. Prambanan - Piyungan,
Yogyakarta, bertanya kepada saya : "Kenapa memlih membuka usaha
mini-market? Kok bukan toko yang lain?".
Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Gampang,
karena tinggal mengatakan : "Karena
ini memang keinginan kami". Susah, karena jawaban itu pasti tidak
akan memuaskan si penanya. Maka,
perkenankan saya menuturkan kilas balik latar belakangnya, sampai
akhirnya kami memutuskan untuk
membuka usaha mini-market atau toko ritel swalayan yang kemudian
bernama "Madurejo Swalayan" ini dan
bukan toko yang lain
Cerita ini terkait dengan kebingungan seorang mantan pejuang kumpeni
(company) yang 16 tahun menjadi orang
gajian, lalu banting setir menjadi penganggur terselubung,
mondar-mandir beberapa bulan di Yogya dan
"diteror" anak-anaknya dengan sindiran-sindiran katanya enggak kerja
malah nganggur aja. Terus mau
ngapain? Nantinya terbukti bahwa keterpojokan seperti ini bisa
membangkitkan energi bawah sadar seperti
sedang dikejar kirik edan.
Harap menjadikan maklum adanya, buka usaha toko di desa Madurejo ini
memang ide pertamanya datang dari
istri tercinta (maka wajar saja kalau sebagai penghormatan jasa
beliau lalu kemudian diangkat
menjadi Chief Financial Officer alias ibu bendahara "Madurejo
Swalayan").
Sejak awal, tepatnya sejak saya berhasil menjadi penganggur
terselubung di akhir tahun
2004 (saya anggap ini sebuah keberhasilan), angan-angan istri saya
ini memang hanya : pokoknya
buka usaha toko. Titik! Alasannya sederhana tapi masuk akal dan
sangat mulia : Eeee..., mbok menawanya sang
suami telanjur malas untuk kembali jadi orang gajian lagi di kumpeni
mana-mana, maka sudah ada cantholan
untuk menghidupi keluarga dan anak-anak, bapaknya biar embuh ben sak
karepe....., terserah apa maunya.
***
Tiga bulan pertama sejak jadi penganggur terselubung, saya masih
ketawa-ketiwi saja, tanpa beban melakoni
hidup sehari-hari. Meskipun anak-anak mulai menyindir-nyindir,
bapaknya ini ngapain sudah
enak-enak kerja terima gaji besar setiap bulan kok pakai keluar
segala, malah sekarang nganggur. "Jadi
enggak bisa minta apa-apa lagi seperti dulu, ya mbak.....", kata
sang adik kepada kakak perempuannya.
Apa enggak nelangsa hati ini mendengarnya.
Memasuki bulan keempat mulailah muncul kegelisahan. Gelisah untuk
memutuskan antara kembali menjadi orang
gajian di kumpeni lain atau terjun secara total ke dunia persilatan
wirausaha. Hasil konsultasi ke kiri
dan ke kanan belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan.
Jangan heran, teman-teman yang tahu saya
keluar dari pekerjaan sebagai orang gajian, kebanyakan memuji
keberanian saya dan mendukung untuk memasuki
dunia wirausaha. Dalam hati saya tersenyum kecut : "Berani bagaimana?
Lha wong saya ini terpaksa je.....".
Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, khawatir kalau saya jadi
terjebak untuk menyalahkan pihak lain yang
telah mem-fait accompli saya. Apapun alasannya, kalau pun ada
kesalahan maka itu pasti kesalahan saya, bukan
kesalahan siapapun. (Lha iya to, apa kalau saya menyalahkan orang
lain, njuk orang lain itu mau
membantu saya memberikan jalan keluar?. Toh akhirnya saya juga yang
harus berusaha mencari jalan keluarnya
sendiri).
Untungnya, saya sangat percaya bahwa konsultan terbaik itu bukan
menoleh ke kiri atau ke kanan, melainkan
ndangak ke atas. Maka kepada satu-satunya "Atasan" saya itulah saya
minta petunjuk yang akhirnya sedikit
demi sedikit menemukan titik terang. Setidak-tidaknya agak meredam
kegelisahan di bulan keempat setelah jadi
penganggur terselubung.
Petunjuk itu datang melalui ibunya anak-anak. Katanya : "Mbok tanah
yang di Jalan Prambanan - Piyungan itu
dibangun untuk toko saja" (kebetulan tanah yang dimaksud itu belum
lama lunas cicilannya). "Nanti bisa
digunakan untuk mbukak usaha, embuh kapan yang penting punya
tempatnya dulu", lanjutnya kemudian. Ya!.
Pemikiran ibunya anak-anak ini sebenarnya mletik (ide cemerlang)
juga.
Namun hati kecil saya yang belum bisa langsung menerima. Uedan!,
pikir saya. Bertahun-tahun jadi
tukang insinyur dengan gaji jut-jutan, sekolahnya luuuama lagi, kok
ujug-ujug dodol mracangan ning ndeso
sing bathine sak uprit.....!. (tiba-tiba buka warung di desa yang
keuntungannya cuma sedikit). Jujur saja,
kesombongan semacam ini tentu tidak mudah untuk ditutup-tutupi
begitu saja, setelah belasan tahun
malang-melintang di dunia industri pertambangan modern, lengkap
dengan privilege dan kartu nama
prestise.
Lama-lama (tentu atas petunjuk "Atasan" juga), saya mulai mencoba
untuk realistis. Sepertinya kok tidak
ada salahnya juga untuk memenuhi usulan ibunya anak-anak ini.
Sebanyak apapun uang saku yang saya
gembol dari Papua, kalau tidak segera dicantholke (dibelanjakan
untuk memiliki aset), pasti tahu-tahu
buablasss sak angin-angine.....
Akhirnya kami mulai membangun toko, setelah sepakat menggunakan uang
saku dari kumpeni terakhir yang telah
berbaik hati membekali saya menjadi penganggur terselubung di Jogja.
Pokoknya harus jadi bangunan
toko, embuh jadi toko apa atau mau jualan apa.
Gagasannya, kalau pun akhirnya kefefet tidak ada mata pencaharian
pengganti, maka bisa langsung kulakan dan
jualan. Itu saja.
Memasuki bulan kelima, keenam dan ketujuh, eee... lha kok saya malah
jadi lupa dengan kegelisahan sebelumnya
antara mau kerja lagi atau wirausaha. Hari-hari berlalu dengan makin
asyik aja....., berkonsentrasi
pada pekerjaan pembangunan toko yang belum jelas ini.
Kepalang basah, kalau memang mau buka usaha toko ya mesti direncana
sebaik-baiknya, jangan asal pokoknya
punya toko, lalu pokoknya jualan, pokoknya tidak rugi, pokoknya ada
usaha, pokoknya ketimbang nganggur.....
Lama-lama bisa jadi pokoknya tidak kembali (tidak kembali pokok
alias tidak breakeven).
Mulailah kami melakukan survei kecil-kecilan. Midar-mider (kesana-kemari)
menyusuri jalan raya
Prambanan - Piyungan untuk mencari ilham kira-kira usaha apa yang
cocok dikerjakan. Mulai rajin
jalan-jalan (tapi pakai mobil) di sana. Mengamati kesibukan
masyarakat, perkampungan dan perumahan
ditolah-toleh, toko-toko yang ada diintip-intip, teman-teman dan
saudara dimintai pertimbangan. Masih
juga belum ketemu titik terangnya. (Lha ya maklum, setelah 16 tahun
bekerja mendesain-merencana-mengawasi-mengevaluasi proyek
penambangan, lha kok tiba-tiba njuk nyurvei warung.....).
Beberapa alternatif dikumpulkan, hingga akhirnya menemukan beberapa
pilihan peluang bisnis atau usaha
yang kiranya punya potensi bagus untuk dikembangkan. Antara lain,
toko material dan bangunan, toko obat
atau apotek, toko spare-part dan bengkel, toko elektronik, dan
tentunya toko ritel atau kelontong.
Tidak perlu dilakukan analisa bisnis yang rumit-rumit untuk
memilihnya. Pasti akan merepotkan, disamping
hasilnya juga semuanya akan punya prospek bagus.
Dilakukanlah evaluasi secara umum saja, ditimbang-timbang plus-minusnya,
tingkat kesulitannya,
potensi pasarnya, dan hal-hal lain yang lebih ke soal-soal
praktisnya saja.
Entah istri saya dapat wangsit dari mana, hingga akhirnya dia
memantapkan hati untuk buka toko ritel
dengan prioritas pada kebutuhan sehari-hari. Pertimbangannya
sederhana sekali, malah tidak pernah
terpikir oleh saya sebelumnya. Katanya, kalau toko bangunan, apotek,
elektronik, apalagi bengkel, dia
merasa sebagai seorang wanita akan sangat bergantung dengan
keberadaan saya atau setidak-tidaknya orang
lain. Sedangkan kalau toko ritel, istri saya merasa mampu untuk
menanganinya sendiri kalau pun misalnya
tiba-tiba saya tinggal pergi karena saya berubah pikiran ingin
kembali jadi orang gajian, entah di
hutan atau gunung mana lagi. Saya hargai ini sebagai kebulatan tekad
seorang istri dengan tingkat
kepercayaan diri yang luar biasa. Hingga akhirnya saya mengangguk
mengamini.
Tidak takut?. Bukankah toko ritel sudah bertebaran di mana-mana?
Apakah kira-kira akan bisa jalan? Saya
ingat ketika seorang teman pernah membisiki saya. Begini kira-kira
katanya : "Di pasar itu bakul
brambang (bawang merah) jentrek-jentrek, bakul sayur berderet-deret,
bakul ikan dempet-dempetan, tapi semua
laku. Tidak pernah ada ceritanya bakul brambang, bakul sayur dan
bakul ikan yang bangkrut. Kalaupun tidak
jualan, itu karena orangnya capek atau sibuk usaha lain, tapi bukan
karena bangkrut". Inilah rahasia
"ilmu gaib" lainnya, bahwa setiap orang memang sudah memiliki
takaran rejekinya masing-masing. Ingat lho,
takaran bukan bantuan langsung tunai (kok nyimut.....?). Jadi, siapa
cepat (mengusahakannya) dia
dapat, yang ogah-ogahan ya enggak dapat-dapat.
Lalu difokuskanlah semua langkah untuk menggarap peluang bisnis toko
ritel. Lha, tapi pembangunan toko
sudah telanjur dimulai, tidak dirancang untuk toko ritel. Maka jalan
keluarnya gampang saja....., ya
sudah, yang sudah telanjur biarkan saja, nanti bisa dipikir sambil
tidur. Selebihnya yang belum telanjur,
mulai saat itu semuanya diarahkan untuk menuju ke usaha toko ritel,
prioritasnya kebutuhan sehari-hari,
sistem jualannya swalayan, konsepnya sistem bisnis modern, visinya
jauh ke sepuluh-lima belas tahun ke
depan, dengan memanfaatkan semua peluang yang ada dan yang harus
dicari untuk diadakan.
Pertengahan bulan ketujuh sejak menjadi penganggur terselubung,
adalah titik awal semua rencana usaha
mengarah ke bentuk usaha toko ritel yang kemudian bernama "Madurejo
Swalayan" ini. "Just Plan It"
dimulai, business plan disusun, visi-misi dicanangkan, mental dan
fisik dipersiapkan, dsb. dsb. dsb.....
Sedangkan, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan (dan tanggung
jawab operasional toko nantinya) dan
lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya.
Niat kebulatan tekad kami hanya satu : Menjadikan usaha ini sebagai
bagian dari ibadah. Dengan demikian
pembagian tugasnya jelas. Sebagai bawahan kami berkewajiban bekerja
keras mengubah setiap tetes
keringat menjadi tetes-tetes kesuksesan, selebihnya biar "Atasan"
yang ngurus..... Mudah saja, tidak perlu
job profile atau job description yang neko-neko. Kami percaya, "Atasan"
Yang (Maha) Satu ini tidak akan
pernah mem-fait accompli bawahannya (inilah bedanya dengan atasan
yang telah berbaik hati nyangoni saya
untuk kembali ke Yogyakarta).
Kalaupun ada masalah, dijanjikan ada jalan keluarnya dan itu pasti
yang terbaik. Sungguh luar biasa
"Atasan" saya Yang (Maha) Satu ini. Bahkan tidak hanya kepada kami,
melainkan juga kepada siapa saja, yang
meminta maupun yang tidak meminta. (Dalam buku tebal bertulisan Arab
yang sering terpajang di ruang tamu,
selalu tampak rapi, bersih dan telihat baru, karena jarang disentuh
apalagi dibuka, saya temukan penggalan
kalimat begini : "Opo sampeyan ora dong?".....,
Tidakkah kalian mengerti?. Tulisan Arabnya berbunyi :
Afalaa ta’qiluun.....).
***
Kini, kalau ada yang tanya kepada saya : "Kenapa memilih membuka
usaha mini-market? Kok bukan toko yang
lain?". Kalau menginginkan jawaban lengkap, ya seperti dongeng di
atas itulah jawabannya. Kalau cukup jawaban
singkat : Itulah pilihan terbaik menurut petunjuk dari "Atasan" kami.....
Madurejo, Sleman - 21 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar