Memulainya Itu....i

Gajahsora.Net

 

 “Memulainya Ituuu……..”.
 

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh teman-teman yang sesungguhnya juga berniat membuka
usaha ritel atau toko swalayan modern adalah : “Bagaimana memulainya?”.

Sungguh ini pertanyaan yang susah dijawab. Maksudnya, kalau saya ditanya seperti
itu maka saya akan perlu memikirkan kalimat panjang untuk menggamblangkan jawabannya sehingga meyakinkan.
Sebab saya sendiri juga herman, kok sepertinya ketika saya bangun tidur tahu-tahu “Madurejo Swalayan” sudah
berdiri……

Kalau pertanyaan itu diajukan kepada mereka yang sudah banyak nggado asam dan garam, pasti inilah jawabannya
: “Just Do It!”, Pokoknya, lakukan saja….! Rak yo uedan to kuwi…… (kan gila namanya)…….. Investasi
jutaan rupiah jeee…, main pokoknya-pokoknya. Tidak! Tidak! Saya tidak setuju main “just-just-an!”. Saya
merasa sudah cukup banyak belajar dari kebodohan saya sebelumnya, gara-gara main “just-just-an” dalam
menempatkan portofolio.

Tapi baiklah, saya mencoba menetralisir (biar tidak dikatakan keminter, sok pinter), jawaban “Just Do It!”
dari para pakar atau mereka yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan bisnis ritel itu muncul karena
mereka juga susah untuk mendeskripsikan jawaban yang jelas. Makanya jawaban singkat itu adalah jawaban
pengayem-ayem (penghibur) dan panyebar semangat agar yang tanya tidak kecewa…….., termasuk kalau Anda yang
bertanya……

Kalau ada kata-kata yang diawali dengan kata “pokoknya”, selalu memiliki konotasi : nekat,
mengandung resiko yang tidak diperhitungkan, salah tidak apa-apa, tabrak dulu urusan belakangan, kerjakan
dulu selebihnya dipikir sambil jalan kalau perlu sambil tidur.…… Karena itu perlu kehati-hatian tinggi,
jika kata “pokoknya” disangkutkan dengan investasi.
Punteun pisan, ini bukan menggurui, melainkan karena saya pernah kejeblos karena main “pokoknya” sehingga
mengesampingkan kalau ada mahluk lain yang bernama Risk Analysis.

Meskipun demikian, karena kita adalah professional di bidang masing-masing, maka alangkah baiknya kalau
sebelum “Do”, kita lakukan dulu “Plan”. Anggaplah rencana buka toko ini sebagai sebuah proyek besar.
Tapi cilakaknya, untuk membuat perencanaan pun muncul lagi pertanyaan yang sama : “Bagaimana memulainya?”.
Jawabannya, ya “Just Plan It!”. Gitu aja kok repot……

***

Sekitar tiga bulan sebelum “Madurejo Swalayan” buka dasar, waktu itu pembangunan toko sudah telanjur
dimulai dan sudah setengah jadi, kami baru memutuskan untuk membuka toko swalayan modern. Jelas ini
pengalaman keliru yang tidak boleh dicontoh. Maka segera saja segala sesuatunya yang berkenaan dengan
bangunan toko dikonversi untuk keperluan toko swalayan modern. Maka disusunlah “Planning” sederhana. Mulai
dengan membuat Time Schedule, penjadwalan kerja, dengan target hari “H” tanggal buka toko sebagai
“Mile Stone”.

Tiga bulan adalah waktu yang sebenarnya suangat-suangat ketat, nanti akan terbukti ketatnya
waktu persiapan ini membawa beban stress yang cukup tinggi. Resiko ini diambil demi mengejar buka toko
sebelum bulan puasa tiba. Saya pikir idealnya perlu waktu paling tidak empat sampai enam bulan efektif
untuk ancang-ancang. Jangan lupa, hal ini karena visi dasarnya adalah membangun toko swalayan dengan konsep
modern dengan menyadari sepenuhnya akan kelemahan yang dimiliki.

Ada tiga bekal yang kami miliki pada saat itu : Bekal pertama adalah nol-puthul pengalaman di dunia
persilatan bisnis ritel (kata ahli filsafat, nol-puthul adalah sebuah eksistensi, ada dalam
ketiadaan). Bekal kedua adalah pengalaman enam belas tahun menjadi orang gajian di perusahaan asing
berteknologi tinggi. Bekal ketiga adalah pengalaman keluyuran dan blusukan di negeri orang. Tiga bekal
pengalaman yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan bisnis peritelan. Tapi, ndak nyambung ya ndak
apa-apa…... Kami harus pede bahwa kami punya pengalaman, apapun itu, dan oleh karena itu kami bisa
menjalankan bisnis ini. Kalaupun mau dibilang nekat, maka nekat yang terukur prosesnya.

Untuk melengkapi kekurangan yang kami miliki, maka segera kami bergerilya menggali pengalaman orang lain.
Teman, saudara, kenalan, orang lewat, yang kebetulan punya pengalaman dalam bisnis peritelan, tidak
segan-segan kami cecar dengan berbagai macam model pertanyaan yang sekiranya akan membantu menuntun kami.
Tidak cukup sekali atau dua kali bertanya, jika perlu kami datang lagi atau menilpunnya untuk kembali
bertanya dan bertanya kepada siapa saja. Sampai kami yakin bahwa kami dapat mengontrol eksekusi dari Time
Schedule yang telah kami susun.

Hari “H” minus tiga bulan : Beberapa hal yang kami lakukan antara lain adalah berunding dengan pelaksana
pembangun toko agar toko sudah siap ditempati dua bulan lagi dengan melakukan beberapa penyesuaian
prasarana toko. Berikutnya membuat layout tata ruang dan mencari pemasok perlengkapan toko termasuk untuk
komputerisasi system-nya. Mulai mereka-reka dan mencari inspirasi tentang nama toko dan logonya. Mulai
melakukan survey kecil-kecilan tentang harga barang dan mengidentifikasi jenis barang kebutuhan yang
banyak dibeli orang, dengan cara berbelanja ke toko-toko yang berlokasi di radius tiga kilometer dari
lokasi yang direncanakan, kalau bisa sampai radius lima kilometer akan lebih baik.

Hari “H” minus dua bulan : Mulai memesan perlengkapan toko, termasuk rak-rak barang, perlengkapan kasir dan
kantor, lemari etalase, hardware dan software serta penjadwalan instalasi dan pelatihannya. Pemasangan
tilpun, tata lampu, kipas angin dan asesori toko lainnya. Mempersiapkan urusan administrasi dan
paperworks yang berkaitan dengan organisasi dan manajemen toko. Pada periode ini seharusnya sudah
mulai melakukan pembelian barang dagangan agar penyusunan database dapat dicicil, namun sayang sekali
bangunan toko belum siap diisi, sehingga jadwal pembelian barang terpaksa dimundurkan.

Hari “H” minus satu bulan : Hal paling mendesak pada periode ini adalah memastikan agar bangunan toko
segera siap ditempati karena jadwalnya sudah agak molor. Pemasangan rak atau gondola, meja kasir dan
instalasi komputer ternyata juga agak meleset dari jadwal yang direncanakan. Agar tidak membuang waktu,
software POS (Point of Sales) saya minta dipasang di komputer rumah sehingga dapat dipelajari lebih dahulu.
Beberapa barang dagangan juga terpaksa ditimbun di rumah, agar pekerjaan pembuatan database dapat
dicicil. Ketika toko siap digunakan, kemudian semuanya diboyong ke toko.

Pemesanan dan pemasangan papan nama toko (billboard), pemesanan kartu nama dan stempel adalah prioritas lain
pada periode ini. Kartu nama kemudian saya titipkan kepada teman atau saudara yang mempunyai toko swalayan
di lokasi lain dengan tujuan agar diperkenalkan kepada pemasok mereka untuk berkunjung ke “Madurejo Swalayan”
guna memberikan penawaran. Saya harus percaya kepada teman atau saudara yang sudah punya toko swalayan itu
sebagai referensi. Adanya papan nama yang sudah terpasang di depan toko akan memudahkan para pemasok
untuk mencari lokasi “Madurejo Swalayan”. Juga mulai ancang-ancang untuk membuka lowongan kerja
(recruiting) dengan prioritas warga masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya.

Hari “H” minus satu minggu : Hal yang paling membuat stress pada periode mengejar tenggat hari “H” tanggal
buka toko ini adalah menyelesaikan input ribuan barang dagangan ke dalam database. Hal berikutnya adalah
menentukan harga jual dan ini yang paling crusial dalam mengawali usaha toko. Sebagian item memang sudah
di-survey dan diancar-ancar, namun masih ada ribuan item lain yang terpaksa dilakukan “trial and error”,
sambil jalan nanti dikoreksi jika terlalu rendah atau terlalu tinggi. Sebagai pedoman umum, untuk toko
swalayan sejenis ini biasanya menempatkan margin keuntungan rata-rata berkisar 7% – 10%.

Selesai di-input, para pegawai yang masih baru dan berbekal hanya sedikit pengarahan karena waktunya
semakin mendesak, mulai menyusun barang di rak sekaligus menulis dan memasang label harga secara
manual. Resikonya, tampilan tulisan label harga menjadi bervariasi, mangsudnya ada yang tulisannya
bagus dan ada juga yang enggak seberapa jelek, yang penting jelas terbaca. Pada saat yang sama para
pemasok terus berdatangan menawarkan produk-produknya.
Adanya beberapa keterlambatan yang sambung-menyambung menjadi satu, jadilah akumulasi pekerjaan pada periode
yang mepet, akhirnya kami memutuskan hari “H” tanggal buka toko ditunda seminggu.

***

Penjadwalan kerja di atas memang bukan yang terbaik, dan saya yakin tidak ada yang terbaik bagi setiap toko
di setiap kondisi. Lakukanlah penyesuaian menurut tingkat kemampuan mengendalikan stress yang bisa
ditolerir, dan itu hanya Anda sendiri yang dapat mengukurnya. Yang pasti penjadwalan kerja di atas
terbukti bekerja untuk “Madurejo Swalayan”. Ini karena pemilik dan pengelola “Madurejo Swalayan” ini adalah
jenis mahluk yang bisa menikmati stress……. Enjoy aja…..! (meskipun stress).

Lega rasanya ketika toko “Madurejo Swalayan” akhirnya buka pertama kali, hari Minggu, 2 Oktober 2005, jam
14:00 siang. Ya, jam buka toko yang tidak umum. Ada yang menyebut hari itu sebagai soft-opening, ada juga
yang menyebut grand-opening. Bagi saya tidak ada bedanya, sama-sama berarti mulai jualan.

Hari-hari selanjutnya akan mengalir begitu saja, tinggal mengikuti irama jual-beli yang berlangsung
setiap hari. Sambil terus mencermati dimana ada hal-hal yang perlu dikoreksi, dan biasanya banyak
sekali. Melihat “Madurejo Swalayan” sudah jalan tiga  bulan, lalu muncul komentar : “Ngurus tokonya tak
seberapa, memulainya ittuuu……” (diucapkan dengan logat Sumatera Utara).


Madurejo, Sleman – 17 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

 

Mimbar Bambang Seputro

Updated 08/07/2000