Melihat Kecerdasan Kris Dayanti
"Inul di KD Show malam ini..."
Demikian SMS singkat yang saya peroleh pada senin malam 24/3/03 oleh seseorang mengaku FBI. Untuk catatan FBI ini bukan kumpulan bule yang potret sana sini di Kuta tempohari. FBI singkatan bahasa gaul dari Fans Berat Inul, serupalah dengan FPI (Front Pembela Inul).
Dengan cerdas Kris mengemas acaranya yang dibuka bersama Siti Nurzaliha "Cindai". Dan nama Inul tidak disebut sama sekali. Saya mulai putus asa, mengapa Siti Nurzaliha yang gayanya biasa-biasa saja yang dimunculkan berulang kali. Apalagi ketika acara peringatan ulang tahun Kris, semua keluarga naik ke panggung memberikan selamat dan bunga, saya pikir acara sudah selesai. Saya betul-betul merasa di kerjain.Tapi nanti dulu, presenter Farhan bilang, panggung mau di bor... dan inilah momentum yang ditunggu-tunggu. Inul muncul perlahan-lahan dari bawah panggung, suara tepukan membahana. Ini disadari benar oleh Kris Dayanti.
Pada sebuah media ia mengaku "gatek" komputer, prestasi sekolahnya biasa-biasa saja sehingga publik cenderung mengatakan Kris tidak pandai. Bayangkan dengan Peter Sahanggamu yang memenangkan olimpiade Fisika Internasional, ia diberi stigma sebagai cerdas sebab memang nilai matematika disekolahnya tinggi.Kita sebagai orang tua masih merasa nyaman kalau anak mendapatkan nilai olah raga 5, atau mata pelajaran hapalan lainnya asalkan matematikanya dapan "ponten" sembilan, maka sianak dianggap bukan anak bermasalah. Beda kalau matematika 5, olahraga 9, bisa seperti kebakaran jenggot barangkali reaksinya.Pendapat seperti ini kelihatannya harus dibenahi...
Bermula dari pendapat orang Harvard yaitu Howard Gardner pada 1983 menyimpulkan bahwa kecerdasan itu macem-macem. Ada langit dengan 7 lapisan, ada juga kecerdasan dengan 7 karakter yangberbeda. Ada cerdas linguistik, matematis, spasial, musikal, kinestetikal, interpersonal dan intrapersonal. Seseorang cerdas intra-personal dianggap cakap menjadi filosof.Syukur kalau punya ke 7-nya.
Kris Dayanti yang gatek komputer, adalah contoh cerdas musikal. Bukan itu saja, ia juga cerdas inter-personal sehingga bisa berhubungan dengan pengusaha (mencari sponsor), wartawan (publikasi), dan publik. Yang disaksikan tadi malam adalah kecerdasan Kris Dayanti ketika Inul muncul bersamanya. Dengan cerdas ia berjongkok didepan Inul sambil menggerakkan kepalanya mengikuti pusingan sang ratu bokong. Apalagi ia memuji Inul sebagai satu-satunya penyanyi yang dimasukkan laporan dalam majalah TIME.Cerdas penggemar telur dadar yang lain adalah cerdas kinestetikal sehingga ia selalu tampil menarik dipanggung dan dikamera. Lihat banyak "diva" lain ngeplek meniru gayanya.Sayangnya, pendidikan formal kita belum tergerak untuk melihat 7 cerdas tadi. "Kualitas sekolah yang memperhatikan 7 cerdas tadi masih sangat sedikit, ini paling menyedihkan," ujar Winarini dari psikologi pengembangan UI. Singkatnya anak-anak disekolah hanya diberikan materi yang sifatnya pengulangan dan jarang yang mengasah bakatnya.Psikolog Seto Mulyadi berpendapat, sekolah seharusnya menerapkan kurikulum berbasis kompetensi minat dan bakat anak. Jadi, sekolah bukan merupakan beban.Lantas bagaimana ini, banyak orangtuanya marah ketika anaknya main gitar, dan bukan belajar matematika. "Mau jadi pengamen apa... jadi Sarjana saja banyak yang nganggur."Lha justru sarjana banyak yang menganggur, bukannya dikurangi malahan di tambahi calon pengangguran. Bangkitkan motivasi anak, baru diberi bimbingan misalnya ikut les gitar, piano, tari dsb...Kan tidak selalu harus matematika...TB Simatupang Kav 51AMimbar Bambang S.Dari pelbagai Sumber