From Rumah Makan Padang With Tips.
Jamu Keladi Tikus -pengerat kanker, hubungi iboe Erni di HP 0812 802 5102 atau (021) 5601215

Pada hari-hari awal beroperasinya "Madurejo Swalayan", datanglah pemilik perusahaan tempat saya membeli perlengkapan toko dan perangkat sistem komputernya, menyambangi sambil melihat barangkali saya ada kesulitan yang perlu dibantu. Dia berceritera banyak tentang bisnis ritel karena memang di bidang itulah perusahaannya banyak terlibat. Salah satu yang disampaikannya adalah tentang inspirasi yang diperoleh dari rumah makan Padang. Katanya ada salah satu toko swalayan yang memasang tulisan di dalam tokonya yang bunyinya seperti yang banyak dijumpai di rumah makan-rumah makan Padang. Anda pasti hafal bagaimana bunyinya. Intinya kira-kira begini : "Kalau Anda puas, beritahukan kepada teman Anda. Tapi kalau Anda kurang puas, sampaikan kepada kami".

Seorang teman di Jakarta yang kebetulan berdarah Padang dan sempat berkunjung ke jobsite "Madurejo Swalayan" menulis email kepada saya. Katanya, "Madurejo Swalayan" kelihatannya concern sekali dengan masalah pelayanan, lalu dia pun mengusulkan tidak ada salahnya meniru semboyan tentang pelayanan yang biasa ditulis di rumah makan-rumah makan Padang. Ya, semboyan atau pesan seperti yang saya sebutkan di atas itu.

Saya sepenuhnya setuju dengan inti pesan yang disampaikan oleh kebanyakan pemilik rumah makan Padang itu. Saya kira itu memang ide kreatif yang sudah mentradisi. Hanya saya berpikir, bagaimana saya bisa meniru ide itu tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Kalau saya meniru begitu saja lalu memasang pesan itu di dalam toko, maka mudah ditebak oleh setiap pengunjung : "Kok seperti rumah makan Padang.....?". Ya enggak apa-apa juga seh..... Cuma, kok gimana gitu loh.....

Salah satu ide promosi yang sudah saya pikirkan sejak awal adalah membuat selebaran. Selebaran yang berisi informasi yang sekiranya akan berguna bagi orang lain. Tentang apa saja. Semacam terbitan berkala. Kemudian saya mulai berhitung berapa biaya yang harus dikeluarkan. Tetapi saya masih gojag-gajeg (ragu-ragu) untuk segera merealisasikannya. Apakah memang hal itu  perlu. Apakah tidak akan muspro (terbuang percuma).
Apakah akan ada manfaatnya bagi masyarakat tetangga saya yang adalah juga pelanggan saya.

Hingga memasuki bulan keempat beroperasinya "Madurejo Swalayan", akhirnya saya berkeputusan bahwa ide itu perlu dicobakan. Kalaupun akhirnya nanti ditimbang-timbang kok tidak banyak manfaatnya, ya hentikan saja. Sebaliknya, kalau ternyata disukai pengunjung dan pelanggan, maka perlu ditingkatkan kualitasnya karena akan menjadi media promosi yang ampuh. Tinggal menyiasati format tampilannya supaya menarik dan pilihan informasinya agar bermanfaat.

Kalau pembaca kemudian menyukainya, mereka pasti akan mencari lagi informasi yang lainnya. Untuk mencarinya, ya tentu tidak ada tempat lain selain di "Madurejo Swalayan". Artinya, kalaupun si pembaca datang ke toko hanya untuk mengambil selebaran itu dan bukan untuk membeli apapun, maka itu sudah menjadi ukuran keberhasilan. 

Nah, di dalam selebaran itulah akhirnya saya terinspirasi untuk menyelipkan pesan-pesan sponsor yang sekiranya ingin disampaikan oleh manajemen "Madurejo Swalayan". Salah satunya, ya pesan sponsor tentang pelayanan seperti yang diterapkan oleh rumah makan-rumah makan Padang itu. Seperti tumbu ketemu tutup. Meniru tapi dengan cara penampilan berbeda.

***

Edisi perdana disiapkan agar bisa terbit pertama kali tanggal 31 Januari 2006 bertepatan dengan Tahun Baru 1427 Hijriyah atau tanggal 1 bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Ini hari spesial yang nuansa sakralnya masih sangat kental terutama di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Sayangnya pada hari libur itu cuaca agak muram dan hujan sehingga saya malas berkeliling mencari kios fotokopi yang rada murah (masih juga cari yang murah, padahal biaya fotokopi ya segitu-segitu juga). Terpaksa edisi perdana ditunda dua hari.

Selebaran itu (sementara ini) saya namakan TIPS, dan saya format hanya satu halaman pada selembar kertas.
Sesuai namanya dan sesuai formatnya, maka saya berniat untuk menyampaikan berbagai macam tips-tips singkat yang sekiranya mudah dipahami dan bermanfaat bagi keseharian masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya.
Untuk tahap uji coba ini saya ambil cara mudah-murah-meriah, yaitu dengan memfotokopi hitam-putih sebanyak 500 lembar di atas kertas buram.


Apa topik pertamanya? Topiknya harus yang umum tapi spesifik. Jangan dipikir lama-lama tentang kriteria ini, memang kedengarannya nggrambyang (tidak jelas), tapi maksudnya adalah masalah yang umum dihadapi tetapi caranya menghadapinya spesifik. Ketemulah tips kesehatan tentang terapi air. Untuk mencari tips-tips lainnya pun tidak terlalu susah, tinggal klik ke mesin pencari di internet, tips apa saja bisa ditemukan.

Topik tentang terapi air ini pernah mewabah di internet dan permilisan beberapa tahun yang lalu.  Makanya bagi mereka yang sudah biasa nginternet dan ngemail, tentu tidak asing lagi. Tapi tidak, bagi kebanyakan masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Boro-boro nginternet dan ngemail, baca koran saja tidak setiap orang melakukannya setiap hari. (Tapi jangan heran, kalau mereka fasih bercerita tentang Roy Marten nyabu, Inul memelas, atau bintang infotainment baru Jackson Parangin-angin.....).

Maka bolehlah kalau pengelola "Madurejo Swalayan" berharap semoga media selebaran yang di bagian sudut kiri atasnya bertuliskan "Untuk Kalangan Sendiri" ini menjadi media komunikasi infomezzo (bentukan latah untuk informasi intermezzo) dan sekaligus sarana komunikasi dan sarana silaturahmi alternatif, serta sarana berbagi pengetahuan kepada masyarakat sekitar.
Dari rumah makan Padang membawa ide yang lalu menjelma menjadi tips-tips yang bermanfaat bagi pelanggan atau masyarakat pada umumnya. Istilah keminggris-nya : From rumah makan Padang with tips. 

***

Tidak terlalu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk fotokopi satu rim kertas buram diperlukan biaya sekitar Rp 30.000,- di Yogya (itupun sudah nawar Rp 5,- per lembarnya. Dasar bakul.....!). Dengan uang itu, saya pikir saya bisa menyapa 500 orang pembeli, pelanggan atau pengunjung toko. Bukan hanya menyapa para pembacanya, tapi juga ngiras-ngirus (sekaligus sambil) berpromosi kepada para pembaca selebaran. Di musim hujan ini, info dalam selebaran bisa menjadi bacaan pengisi waktu bagi orang lewat atau sales sepeda motoran yang numpang berteduh karena hujan.

Ini bagian dari upaya menggarap "opportunity". Ibarat pepatah mengatakan : sekali mengayun gayung, dua tiga tanaman tersirami. Sekali menyebar selebaran TIPS, masyarakat menerima manfaat dari isi informasi tips-tipsnya, masyarakat mengetahui kalau ada "Madurejo Swalayan" yang siap melayani kebutuhan mereka, dan masyarakat menerima sapaan mesra perihal pelayanan, silaturahmi dan paseduluran.


Apakah selebaran itu akan terbit seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali, let's see....., biarlah masyarakat yang memutuskan. Investasi Rp 30.000,- per edisi kiranya akan cucuk (sepadan) dengan hasil yang diharapkan pada tahap uji coba ini. Kalau masyarakat (baca : pembeli, pelanggan dan pengunjung) puas, pasti mereka akan dengan suka rela gethok tular menyampaikan kepuasannya kepada orang lain. Dan kalau mereka ada ganjalan, mereka pun feel free untuk menyampaikannya. "Lho, kok seperti rumah makan Padang.....?". Iya juga sih. Tapi kan olahannya lebih unusual, gitu loh..... Ada tips bermanfaat yang bisa dibaca di rumah, tidak sekedar menghafal teks pesan sponsor. Inspirasi boleh dari mana saja termasuk rumah makan Padang, tapi olahan tampilannya bisa berbeda.


Dan yang lebih penting, tips-nya TIPS ini hanya sebuah awal. Masih terbuka ladang garapan bernama "opportunity" yang lebih luas yang dapat dikembangkan dari sebuah awal yang sederhana ini. Bentuk garapannya masih off the record (nanti ndak diduluin orang....., yang inspirasinya saya peroleh ketika blusukan di pedesaan Amerika dan Australia). Berangan-angan toh boleh saja.....

Madurejo, Sleman - 13 Pebruari 2006.
Yusuf Iskandar
 

http://gajahsora.com