Pada hari-hari awal beroperasinya "Madurejo
Swalayan", datanglah pemilik perusahaan tempat saya membeli
perlengkapan toko dan perangkat sistem komputernya, menyambangi
sambil melihat barangkali saya ada kesulitan yang perlu dibantu. Dia
berceritera banyak tentang bisnis ritel karena memang di bidang
itulah perusahaannya banyak terlibat. Salah satu yang disampaikannya
adalah tentang inspirasi yang diperoleh dari rumah makan Padang.
Katanya ada salah satu toko swalayan yang memasang tulisan di dalam
tokonya yang bunyinya seperti yang banyak dijumpai di rumah
makan-rumah makan Padang. Anda pasti hafal bagaimana bunyinya.
Intinya kira-kira begini : "Kalau Anda puas, beritahukan kepada
teman Anda. Tapi kalau Anda kurang puas, sampaikan kepada kami".
Seorang teman di Jakarta yang kebetulan berdarah Padang dan sempat
berkunjung ke jobsite "Madurejo Swalayan" menulis email kepada saya.
Katanya, "Madurejo Swalayan" kelihatannya concern sekali dengan
masalah pelayanan, lalu dia pun mengusulkan tidak ada salahnya
meniru semboyan tentang pelayanan yang biasa ditulis di rumah
makan-rumah makan Padang. Ya, semboyan atau pesan seperti yang saya
sebutkan di atas itu.
Saya sepenuhnya setuju dengan inti pesan yang disampaikan oleh
kebanyakan pemilik rumah makan Padang itu. Saya kira itu memang ide
kreatif yang sudah mentradisi. Hanya saya berpikir, bagaimana saya
bisa meniru ide itu tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Kalau
saya meniru begitu saja lalu memasang pesan itu di dalam toko, maka
mudah ditebak oleh setiap pengunjung : "Kok seperti rumah makan
Padang.....?". Ya enggak apa-apa juga seh..... Cuma, kok gimana gitu
loh.....
Salah satu ide promosi yang sudah saya pikirkan sejak awal adalah
membuat selebaran. Selebaran yang berisi informasi yang sekiranya
akan berguna bagi orang lain. Tentang apa saja. Semacam terbitan
berkala. Kemudian saya mulai berhitung berapa biaya yang harus
dikeluarkan. Tetapi saya masih gojag-gajeg (ragu-ragu) untuk segera
merealisasikannya. Apakah memang hal itu perlu. Apakah tidak
akan muspro (terbuang percuma).
Apakah akan ada manfaatnya bagi masyarakat tetangga saya yang adalah
juga pelanggan saya.
Hingga memasuki bulan keempat beroperasinya "Madurejo Swalayan",
akhirnya saya berkeputusan bahwa ide itu perlu dicobakan. Kalaupun
akhirnya nanti ditimbang-timbang kok tidak banyak manfaatnya, ya
hentikan saja. Sebaliknya, kalau ternyata disukai pengunjung dan
pelanggan, maka perlu ditingkatkan kualitasnya karena akan menjadi
media promosi yang ampuh. Tinggal menyiasati format tampilannya
supaya menarik dan pilihan informasinya agar bermanfaat.
Kalau pembaca kemudian menyukainya, mereka pasti akan mencari
lagi informasi yang lainnya. Untuk mencarinya, ya tentu tidak ada
tempat lain selain di "Madurejo Swalayan". Artinya, kalaupun si
pembaca datang ke toko hanya untuk mengambil selebaran itu dan bukan
untuk membeli apapun, maka itu sudah menjadi ukuran keberhasilan.
Nah, di dalam selebaran itulah akhirnya saya terinspirasi untuk
menyelipkan pesan-pesan sponsor yang sekiranya ingin disampaikan
oleh manajemen "Madurejo Swalayan". Salah satunya, ya pesan sponsor
tentang pelayanan seperti yang diterapkan oleh rumah makan-rumah
makan Padang itu. Seperti tumbu ketemu tutup. Meniru tapi dengan
cara penampilan berbeda.
***
Edisi perdana disiapkan agar bisa terbit pertama kali tanggal 31
Januari 2006 bertepatan dengan Tahun Baru 1427 Hijriyah atau tanggal
1 bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Ini hari spesial yang nuansa
sakralnya masih sangat kental terutama di kawasan Yogyakarta dan
sekitarnya. Sayangnya pada hari libur itu cuaca agak muram dan hujan
sehingga saya malas berkeliling mencari kios fotokopi yang rada
murah (masih juga cari yang murah, padahal biaya fotokopi ya
segitu-segitu juga). Terpaksa edisi perdana ditunda dua hari.
Selebaran itu (sementara ini) saya namakan TIPS, dan saya format
hanya satu halaman pada selembar kertas.
Sesuai namanya dan sesuai formatnya, maka saya berniat untuk
menyampaikan berbagai macam tips-tips singkat yang sekiranya mudah
dipahami dan bermanfaat bagi keseharian masyarakat desa Madurejo dan
sekitarnya.
Untuk tahap uji coba ini saya ambil cara mudah-murah-meriah, yaitu
dengan memfotokopi hitam-putih sebanyak 500 lembar di atas kertas
buram.
Apa topik pertamanya? Topiknya harus yang umum tapi spesifik. Jangan
dipikir lama-lama tentang kriteria ini, memang kedengarannya
nggrambyang (tidak jelas), tapi maksudnya adalah masalah yang umum
dihadapi tetapi caranya menghadapinya spesifik. Ketemulah tips
kesehatan tentang terapi air. Untuk mencari tips-tips lainnya pun
tidak terlalu susah, tinggal klik ke mesin pencari di internet, tips
apa saja bisa ditemukan.
Topik tentang terapi air ini pernah mewabah di internet dan
permilisan beberapa tahun yang lalu. Makanya bagi mereka yang
sudah biasa nginternet dan ngemail, tentu tidak asing lagi. Tapi
tidak, bagi kebanyakan masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya.
Boro-boro nginternet dan ngemail, baca koran saja tidak setiap orang
melakukannya setiap hari. (Tapi jangan heran, kalau mereka fasih
bercerita tentang Roy Marten nyabu, Inul memelas, atau bintang
infotainment baru Jackson Parangin-angin.....).
Maka bolehlah kalau pengelola "Madurejo Swalayan" berharap semoga
media selebaran yang di bagian sudut kiri atasnya bertuliskan "Untuk
Kalangan Sendiri" ini menjadi media komunikasi infomezzo (bentukan
latah untuk informasi intermezzo) dan sekaligus sarana komunikasi
dan sarana silaturahmi alternatif, serta sarana berbagi pengetahuan
kepada masyarakat sekitar.
Dari rumah makan Padang membawa ide yang lalu menjelma menjadi
tips-tips yang bermanfaat bagi pelanggan atau masyarakat pada
umumnya. Istilah keminggris-nya : From rumah makan Padang with tips.
***
Tidak terlalu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk fotokopi satu rim
kertas buram diperlukan biaya sekitar Rp 30.000,- di Yogya (itupun
sudah nawar Rp 5,- per lembarnya. Dasar bakul.....!). Dengan uang
itu, saya pikir saya bisa menyapa 500 orang pembeli, pelanggan atau
pengunjung toko. Bukan hanya menyapa para pembacanya, tapi juga
ngiras-ngirus (sekaligus sambil) berpromosi kepada para pembaca
selebaran. Di musim hujan ini, info dalam selebaran bisa menjadi
bacaan pengisi waktu bagi orang lewat atau sales sepeda motoran yang
numpang berteduh karena hujan.
Ini bagian dari upaya menggarap "opportunity". Ibarat pepatah
mengatakan : sekali mengayun gayung, dua tiga tanaman tersirami.
Sekali menyebar selebaran TIPS, masyarakat menerima manfaat dari isi
informasi tips-tipsnya, masyarakat mengetahui kalau ada "Madurejo
Swalayan" yang siap melayani kebutuhan mereka, dan masyarakat
menerima sapaan mesra perihal pelayanan, silaturahmi dan paseduluran.
Apakah selebaran itu akan terbit seminggu sekali, dua minggu sekali
atau sebulan sekali, let's see....., biarlah masyarakat yang
memutuskan. Investasi Rp 30.000,- per edisi kiranya akan cucuk (sepadan)
dengan hasil yang diharapkan pada tahap uji coba ini. Kalau
masyarakat (baca : pembeli, pelanggan dan pengunjung) puas, pasti
mereka akan dengan suka rela gethok tular menyampaikan kepuasannya
kepada orang lain. Dan kalau mereka ada ganjalan, mereka pun feel
free untuk menyampaikannya. "Lho, kok seperti rumah makan Padang.....?".
Iya juga sih. Tapi kan olahannya lebih unusual, gitu loh..... Ada
tips bermanfaat yang bisa dibaca di rumah, tidak sekedar menghafal
teks pesan sponsor. Inspirasi boleh dari mana saja termasuk rumah
makan Padang, tapi olahan tampilannya bisa berbeda.
Dan yang lebih penting, tips-nya TIPS ini hanya sebuah awal. Masih
terbuka ladang garapan bernama "opportunity" yang lebih luas yang
dapat dikembangkan dari sebuah awal yang sederhana ini. Bentuk
garapannya masih off the record (nanti ndak diduluin orang.....,
yang inspirasinya saya peroleh ketika blusukan di pedesaan Amerika
dan Australia). Berangan-angan toh boleh saja.....
Madurejo, Sleman - 13 Pebruari 2006.
Yusuf Iskandar