AYAM KATE BERBULU PELUNG
Saya membaca sebuah artikel di Kompas 30 Oktober 2000 yang
judulnya "Suara Ayam Pelung Bikin "Muringkak Bulu Punduk"
Kutipannya: " KOKOK ayam pelung jantan masih dianggap
misteri oleh sebagian pengagumnya. Pesan apa yang disampaikan
lewat kokok itu belum bisa dimengerti. Ada yang menafsirkan
ayam pelung yang terus-menerus berkokok, pertanda sedang
berbunga-bunga melihat nasib baik pemiliknya. Namun,
ada pula yang menafsirkan, kokok pelung sebagai ajakan mengenang
sejenak tentang diri, alam dan sang Penciptanya."
Tertarik oleh tulisan Nasir tersebut, dalam suatu kesempatan
meliwati Cianjur, seperti yang kata koran adalah Pusat Pelatihan
dan Pembibitan Ayam Pelung Terbesar di Asia Tenggara, maka saya
sempatkan mencari lokasi peternakan tersebut. Di sebuah halaman
saya lihat ayam pelung induk sedang mencari makan beserta anak-anaknya
yang juga berwarna hitam. Bukan main besarnya ayam tersebut sehingga
membesarkan hati untuk ikut beternak Ayam Pelung. Sekalian ingin
membuat situs "Pelihara Ayam Pelung Cara Gaul." Saya
masuk ke halam rumah sambil mengucapkan "SPADA, SPADA"
tetapi tidak ada jawaban dari pemilik rumah. Lalu saya ganti
dengan salam "SalamLekum", dan hasilnya sama saja.
Karena tidak ada jawaban dari pemilik rumah, akhirnya saya
keluar dan sempat bertanya kepada pedagang ikan Nila hidup dipinggir
jalan. Lalu saya ditunjukkan sebuah perkampungan Ayam Pelung.
Tidak susah untuk mencarinya (setelah dikandani=dikasih petunjuk),
sebuah Reklame besar dengan gambar Ayam Pelung tampak disisi
jalan. Saya masuk halaman tersebut sambil melihat-lihat ayam
pelung yang hitam dan guede sedang dikurung di "ajengan",
yaitu di tower kayu yang diberi lubang kecil untuk kepala sang
ayam, hanya kepalanya bisa keluar untuk mematuk makanan sementara
pintu kandang di gembok.
Lalu saya ditemui oleh pemiliknya yang mengaku seorang pensiunan
militer, tampak masih gagah. Di halaman rumahnya yang kecil saya
lihat trophy-trophy juara lomba Ayam Pelung. Lalu penghargaan
dari pemda Cianjur atas keikut sertaan anaknya di Paskibra (Ka-nya
ada apa nggak ya kalau daerah).
Sekali-sekali saya mendengar kokoknya pelung yang di ajengan
tersebut. Ini kokok apa nangis sih.
Buat sambilan, saya tanya harganya. Yang "dedaran",
maksudnya seperti anak dara, body sudah poco-poco. Rp. 300000.
Karena keuangan rada cekak maka saya tertarik dengan anak ayam
yang kalau bahasa jawanya adalah "kuthuk". Waktu saya
lihat anak ayam berbulu hitam tersebut menciap-ciap, padahal
kalau syair lagu anak-anak, anak ayam berkotek.
Dan terjadi transaksi bahwa seekor anak pelung "kuthuk"
dihargai Rp. 50.000 lha wong anak Juara se Indonesia. Lalu saya
jadi beli 3 pasang, karena di kurungan "show room"
hanya ada 3 ekor, ia menghilang sebentar ke belakang rumahnya
sambil membawa 3 ekor kuthuk tadi, dan kembali beserta bungkusan
bekas kardus Indomie. Didalamnya ada 6 ekor kuthuk pelung alias
3 pasang.
Di jalan dari Ciancur
ke rumah di Jakarta, sang kuthuk kecil sudah mulai berbunyi.
Gila bener, masih kuthuk sudah belajar berbunyi. Saya setir kijang
tua sambil senyum-senyum, ehm indahnya mendengarkan Pelung diajengan,
sambil mengarang website "Cara Beternak Gaul Ayam Pelung".
Sampai Grogol 2 jam kemudian, kuthuk yang berbunyi tadi sudah
diam seribu bahasa, rupanya dia mati, dan kepalanya penuh koreng
seperti patek atau frambusia. Hal yang tidak saya lihat sewaktu
di tempat "showroom"-nya. Jadi bunyi tadi sebetulnya
sekarat. Jadi saya terkecoh membeli pelung sekarat.
"Anyone can make mistake".
Dirumah ketika melihat anak ayam kecil, anjing saya mendekati
dan kelihatan mengajak bersahabat. Lalu saya biarkan dia mendorong-dorong
"kuthuk" sebagai temannya bermain. Dua hari kemudian,
kuthuk yang diajak bermain tadi disimpan didalam perut sang anjing.
Saya anggap anjing saya adalah anjing pemburu dengan naluri membunuh
yang kuat. Sehingga bagusnya dijadikan anjing penjaga.
"Next time better"
Ketika kuthuk dan anjing saya evakuasi ke peternakan Gurami
(lagi-lagi gurami), anak-anak "Tayem Dalem", maksudnya
Citayam Dalam, langsung memberikan komentar "roman-romannya
ini mah ayam kate. Coba bapak eja dari buntut, itu buntut kate."
Anak Citayam mengatakan "naga-naganya" atau kelihatannya
dengan bahasa mereka "roman-romannye." Kata mencermati
diubah dengan ungkapan "eja", maksudnya mengeja adalah
membaca dengan perlahan, dan hati-hati tentunya.
Setahun tahun kemudian ketika terbukti bahwa pertumbuhan ayam
"pelung" saya segitu-gitu saja dan sudah mulai bertelur,
dengan berat hati saya mengiyakan bahwa "pelung" tadi
adalah re-inkarnasi ayam kate. Sirna sudah niat saya memelihara
Ayam Pelung, bersamaan lenyapnya keinginan menulis situs mengenai
Ayam Pelung.
Mudah-mudahan pengurus HAPPI - Himpunan Peternak Pelung Indonesia
sempat membaca artikel ini.
Mimbar Seputro
Nener Gurami aman akibat
Gelinggang Gajah
Kolam ikan Gorami
Meraup Untung dari Gurami (koran Tempo)
Gurihnya bisnis gurami (Trubus)
Melihat tulisan seputar gurame lainnya
Yang mana jantan yang mana betina
Membesarkan Gurami dengan Akuarium
Enam Tahap Besarkan Gurami
Kalau ada gurami bau lumpur
Jenis-jenis Gurami ada 6 varietas
Hama Gurami
Kepercayaan
Petani di desa Ragajaya
Buku-Buku mengenai Gurame
Pengaruh
Tepung Bulu Ayam dan Tepung Ikan dalam pakan terhadap Pertumbuhan
Gurame
Budidaya Moina seperti yang
dilakukan sodare kite di Singapur
Memelihara Gurami di Aquarium (Suara Pembaruan)
Mengisi TalkShow Gurame di Kantor Berita
Radio 68H
Makan Ikan Sehat Mata di
hari tua
LINK KE SITUS YANG ADA GURAMINYA
situs
Balai Benih Ikan Tawar
Gurame
sang Ningrat
One
page of Gouramy in English