JASA PENGANGKUTAN DI BATAVIA SERATUS TAHUN LALU
4 jalur kereta sekaligus melayani Batavia.

Selain kondang sebagai kota berjuluk Ratu Timur yang cantik, maka Batavia juga dikenal sebagai kota dengan fasilitas pengangkutan yang memadai, dalam hal ini publik transport. Memasuki abad ke 20, Gubernemen memutuskan untuk menarik investor di bidang angkutan di atas rel. Keputusan ini tepat sebab kendaraan bermotor waktu itu masih dalam tahap uji coba. Karena situasi yang kondusif, maka para investor berlomba-lomba menggempur Batavia dengan penanaman modalnya di bidang angkutan di atas rel. Disini termasuk Kereta Api,Trem Listrik, Trem Uap.

JALUR BEOS
Di jalan Pintu Besar berdekatan dengan Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) terdapat perusahaan Kereta Api Uap dari perusahaan Bataviasche Ooster Spoor disingkat BOS. Jalur yang dilayani oleh BOS adalah Kota-Tanjung Priok, Kemayoran dan Meester Cornelis. Tetapi lidah Betawi selalu keplintir dan lama kelamaan mereka menyebutnya BEOS.


JALUR NIS
Perusahaan Kereta Api yang lain adalah Ned Indische Spoorwegen disingkat NIS, melayani Jalur Kot ke Bogor dengan melewati Pegangsaan, Meester Cornelis, Pasar Minggu, Tanggerang via Kampung Duri.  Di stasiun KampungDuri, rel kereta api NIS bercabang dua, satu menuju Tangerang dan satunya ke Serang.

TREM UAP
Pelayanan publik yang lain adalah trem-uap yang berjalan pada rel bekas tramway (trem kuda). Trem uap dikenal di Batavia pada 1890-an. Semula pengangkutan di Batavia adalah Gerbong di atas rel yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Trem uap ini berangkat dari Pintu Besar, Molenvliet West, Harmoni, Tanah Lapang Singa berlanjut ke Kramat dan berakhir di Meester Cornelis.

TREM LISTRIK

Sementara itu trem listrik yang datang belakangan diberi lin mulai dari Belakang Javasche Bank, Gunung Sahari, Senen, Tanah Abang melalui Kebon Sirih. Belakangan Trem listrik mengoper alih trayek Tanah Abang lantaran trem uap sering tidak kuat nanjak di kawasan Tanah Abang.

Dahulu Tanah Abang adalah kawasan tetirah (istirahat) karena topografinya yang tinggi sehingga orang berlibur ke Tanah Abang dengan menyebut "NaarBoven". Dengan 4 jalur kereta api dan trem yang melintasi Batavia maka tidak heran Konsul Inggris Donald Campbell sangat terkesan sampai berucap "Layanan KA dan Trem di Batavia sangat ramai dan lancar, orang sampai ditempat hanya dalam beberapa menit dan mengikuti jadwal"

Sisi buruknya, ketika teknologi berkembang pesat, budaya penduduk Betawi masih ber-"evolusi" secara lambat mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya adalah Lie Joen Tien penduduk Tongkangan yang berusaha menyeberang rel di jembatan Dua. Dia hanya memperhatikan Kereta dari arah selatan yaitu Tangerang, padahal ada kereta api dari arah timur dari Stasiun Beos yang berada di belakangnya. Tak ayal lagi ia dilanggar kereta. Usaha menyelamatkan jiwanya hanya sampai di Stadsverband (RSU). Masih banyak korban jiwa yang diakibatkan lintasan kereta yang cukup banyak dan kekurang tahuan warga akan bahaya kereta. 

Nama Tongkangan yang berada di kawasan Penjaringan berasal dari kanal Sirih-gracht yang tempat mangkal tongkang-tongkang. Sekarang kawasan ini bernama Petongkangan sementara kanal Sirih-gracht sudah di uruk.


Monday, October 27, 2003
Mimbar Bambang Seputro