“Jahe Telur”
Pada suatu hari, siang menjelang sore, sekitar seminggu sebelum hari Lebaran yang lalu, datang seorang muda berpenampilan rapi masuk toko. Sekilas nampaknya sedang mencari-cari produk tertentu, lalu akhirnya bertanya tentang produk bubuk minuman “Jahe Telur” bungkus sachet. Dari penampilannya mengesankan sebagai seorang yang ramah, sopan, grapyak, suka guyon dan bersahabat. Seorang temannya yang tampak lebih pendiam datang menyusul di belakangnya.
Orang yang kemudian memperkenalkan diri bernama Imam ini baru datang dari Merauke, Papua. Mengaku berasal dari desa tetangga tidak jauh dari Madurejo tapi sudah beberapa tahun merantau ke Papua buka usaha warung, berjualan minuman bubuk kesehatan. Ya “Jahe Telur” itu. Dia pulang kampung untuk kulakan “Jahe Telur”, tapi belum menemukan barangnya. Karena melihat ada toko baru di dekat kampungnya, maka dia minta tolong untuk dicarikan produk itu. Rencananya dalam dua-tiga hari sebelum Lebaran akan kembali ke Merauke. Sampai disini, bagian pendahuluan kisah perantauannya sangat meyakinkan, sampai kemudian tiba di bagian isi kisahnya. Maka terjadilah dialog, tanya-jawab dari seorang pengelola toko yang terkagum-kagum dengan seorang perantau yang sukses di rantau.
Saya tanya Merauke-nya di sebelah mana, diapun menjawab dengan
mantap. Saya katakan saya punya saudara seorang Kyai di sana, diapun
dengan kalemnya mengatakan sering juga main-main ke pesantrennya.
Saya tanya mengapa Lebaran bukannya berada di kampung tapi malah mau
balik ke Merauke, diapun menjawab mau mremo, di saat orang-orang
muslim pada pulang kampung, orang-orang asing justru banyak
mengunjungi warungnya. Saya tanya siapa konsumen utama minuman “Jahe
Telur”, diapun menjawab dengan meyakinkan bahwa banyak orang-orang
bule menyukai produk itu.
Saya semakin menyukai cara menjawabnya yang sangat pede. Lalu saya
tanya apakah memang di sana banyak bule, diapun menjawab dengan
berapi-api bahwa di sana banyak sekali bule-bule yang bekerja di
perusahaan minyak, kebanyakan bule-bulenya dari Australia yang
bekerja di perusahaan Prifot (yang dimaksud pasti Freeport). Weee……,
lhadalah…….! Ini inlander belum tahu kalau sedang bicara dengan
seorang pangsiunan pajuang kumpeni (company) yang disebut itu……..
Mencermati jawaban-jawabannya, akhirnya kesimpulan saya hanya satu,
yaitu bahwa orang ini sedang beraksi hendak berniat tidak baik. Tapi
apa? Saya sengaja tidak meng-counter ceritanya, kecuali hanya
manggut-manggut serius. Sebab kalau itu saya lakukan, maka kisah ini
akan berhenti. Sedangkan saya ingin tahu kelanjutannya, karena bagi
saya ini bahan cerita yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Oleh
karena itu harus saya biarkan dulu cerita mengalir sampai ke bagian
ending-nya.
Sampai akhirnya dia minta tolong sungguh-sungguh agar dicarikan
produk “Jahe Telur” yang katanya buatan Kediri, agar dia tidak perlu
mencari jauh-jauh sebab dia akan melanjutkan perjalanan kulakan
lainnya ke Solo. Lain waktu kalau memerlukannya lagi dia akan
langsung menghubungi saya. Tidak lupa saya ditinggali contoh bungkus
sachet-nya. Dia minta diusahakan “Jahe Telur” sebanyak 30 pak. Harga
satu paknya Rp 105.000,- isi 30 sachet. Bahkan dia mengatakan, apa
perlu titip uangnya dulu?. Saya jawab tidak perlu, daripada nanti
benar-benar dititipi malah nambah urusan di belakang. Kemudian dua
orang muda inipun pergi sambil meninggalkan nomor HP dan pesan agar
dihubungi kalau barangnya sudah ada.
Luar biasa skenarionya.
Segera setelah itu, saya ceritakan peristiwa ini ke beberapa pegawai
“Madurejo Swalayan” dengan pesan agar berhati-hati. Saya beritahukan
kepada mereka bahwa kelanjutan skenario kisah di atas kemungkinan
akan begini : Entah hari ini, entah besok, akan datang seorang yang
mengaku sales dari produk “Jahe Telur” dan menawarkan produk
dagangannya. Jika skenario saya benar, maka jelas ini upaya penipuan.
Eee…. kok ya ndilalah……. Tidak sampai satu jam, datang mobil Panther
warna biru tua berplat nomor Jakarta.
Seseorang memperkenalkan diri sebagai sales lepas, menawarkan produk
minuman bubuk. Katanya dia membawa segala macam produk minuman
kesehatan. Jawaban saya singkat saja sambil acuh tak acuh, bahwa
saya belum berniat jualan produk minuman bubuk kesehatan. Dia pun
menjadi semakin spesifik, katanya ada produk minuman bubuk kopi-kopian,
jahe-jahean, telur-teluran, dst. dalam bentuk sachet-an. Saya tetap
menunjukkan sikap tidak tertarik. Sampai akhirnya dia mengatakan
bahwa dia juga membawa produk “Jahe Telur” buatan Kediri.
“Jreeeeeeng………!!!” (begitulah bunyi musik pengiringnya). Dia pun
langsung menawarkan apakah saya akan melihat dulu bentuknya. Karena
tujuan saya sudah tercapai, maka saya jawab tidak perlu. Rupanya dia
penasaran. Lalu bertanya : “Apakah belum ada orang yang menanyakan
produk itu?”. Saya jawab : “Belum ada yang tanya, tuh”. Akhirnya
sales itupun berpamitan.
Dengan senyum kemenangan saya temani sales itu sampai ke depan
toko, sambil saya ingat-ingat plat nomor mobilnya yang rupanya
sengaja diparkir agak jauh dari halaman toko. (Dalam hati saya
berkata : “Berantem sudah, kalian!”).
Beberapa belas menit kemudian, rupanya Mas Imam, sang “perantau
sukses“ tadi tilpun saya. Katanya dia lupa, apakah tadi contoh
bungkus “Jahe Telur” sudah ditinggalkan ke saya atau belum. Saya
jawab : “Sudah mas, Insya Allah besok akan saya coba carikan produk
itu di Pasar Sentul, Yogya” (disertai doa pendek semoga berbohong
pada saat sedang dikibulin bukanlah perbuatan dosa….). Dia berkata
bahwa dia sedang belanja di pasar di Solo. He..he..he.. , cepat amat
naik sepeda motornya mas, kok sudah blusukan di Solo……..
Apa yang akan terjadi jika sekiranya saya larut dalam permainan
sandiwara mereka? Lalu mereka berhasil memperdaya pengelola
“Madurejo Swalayan”? Kira-kira akan begini : Kami akan kulakan
produk “Jahe Telur” sebanyak minimal 30 pak, senilai Rp 3,15 juta,
malah mungkin lebih. Setelah itu kami akan menghubungi nomor HP Mas
Imam dan ternyata nada sibuk, diulang lagi tidak ada yang ngangkat,
dicoba lagi masih tidak nyambung, dan terus tidak nyambung. Mas Imam
pun ditunggu dua hari, dua minggu sampai dua tahun tidak akan pernah
kembali lagi. Kecian deh gue…..!
Barangkali produk “Jahe Telur” itu bukan palsu.
Memerlukan kerja serius untuk mempersiapkan dan mendesain kemasan
sachet. Tapi pasti produk itu dibuat asal-asalan. Kalau saya
perhatikan lebih jeli contoh bungkus sachet “Jahe Telur” yang
ditingkalkan, di bagian pinggir bawah bungkus warna kuning itu ada
lipatan kecil (nampaknya sengaja dilipat agar tidak terlihat
tulisannya). Ketika saya baca ternyata di balik lipatan itu ada
tulisan kecil : Dep. Ker. No. sekian-sekian. Lho…?, kalau Dep. Kes.
saya tahu. Lha, kalau Dep. Ker., apa barangkali Departemen Kerehatan
(departemen yang ngurusi orang-orang yang banyak rehatnya…)?.
Itulah sepenggal kisah sukses saya menghalau petualang bisnis.
Seperti pernah saya singgung sebelumnya :
Dimana ada toko baru buka, di situ ada petualang bisnis. Tinggal
bagaimana pengelola toko mengasah dan mempertajam gerak refleknya
untuk mengantisipasi gerak tipu yang dimainkan oleh para petualang
semacam ini.
Jangan mudah tergiur, kalau tidak ada hujan tidak ada angin, kok
ujug-ujug ada orang berbaik hati memberi order jutaan rupiah.
***
Sebaliknya, ada juga kisah tidak sukses. Beberapa ulah oknum
sales-sales nakal yang hanya ingin barang dagangannya dikulak
banyak-banyak. Sebenarnya tidak juga kalau dibilang penipuan. Wong
terjadi proses jual beli, artinya ada penyerahan barang dan ada
pembayaran. Hanya saja sang oknum sales ini mau untung sendiri.
Tidak perduli barangnya tidak laku, harganya kemahalan, alih-alih
membina kerjasama saling menguntungkan. Yang penting barangnya
banyak terbeli saat itu, setelah itu pergi dan tidak pernah kembali
lagi menampakkan batang hidungnya. Produk yang dibeli memang ada,
tapi nggaaaaak …..laku-laku. Lha wong memang jenis produk yang tidak
laku di pasaran.
Kalau sudah curiga dan tidak yakin produknya tidak bakal laku kenapa
dikulak juga? Itulah masalahnya.
Sedemikian dahsyatnya rayuan dan bujukan sang sales dalam menawarkan
barang dagangannya, bagai terkena gendam dan lalu produk itu pun
dibeli dalam jumlah cukup banyak. Entah jenis phobia apa namanya,
sebagai toko yang baru buka sepertinya ada ketakutan jangan-jangan
calon pelanggan akan kecewa kalau mereka mencari produk itu dan
ternyata tidak lengkap tersedia. Toh kalau tidak laku bisa ditukar
nantinya, begitu jalan pikiran praktisnya saat itu.
Sebagai toko yang baru buka dan yang sedang berjuang mengumpulkan
keuntungan cepek-nopek setiap harinya, memang rentan terhadap tipuan
menggairahkan semacam ini. Produk yang ditawarkannya bisa
bermacam-macam.
Modus operandi dan alur cerita sandiwaranya juga bisa
beraneka-versi. Namun ending yang diharapkan oleh sang petualang
bisnis itu tetap sama……. meraup untung setinggi-tingginya dengan
menjual barang yang sebenarnya berharga murah sebanyak-banyaknya,
tidak perduli itu jenis produk yang akan laku dijual lagi di pasaran
atau tidak. Puji Tuhan, saya masih bisa turut menghidupi para
petualang bisnis .….! (meskipun kesal juga sebenarnya).
Madurejo, Sleman – 24 Januari 2006.
Yusuf Iskandar