BAHASA INGGRIS


Jam di hotel menunjukkan sekitar 10 pagi di “New Park Hotel ” Singapore. Kami berusaha bepergian dengan cara ekonomis yaitu membeli tiket pesawat sekaligus voucher Hotel. Iming-iming pemilihan NewPark Hotel karena ada tempat belanja kondang disana yaiitu Moustaffa Firm. Sebuah one stop shopping yang harganya miring.

Saya dan istri sudah bersiap-siap menuju kampus National University berhubung hari itu 13 September 2002 adalah hari bersejarah bagi keluarga saya. Anak saya di Wisuda sebagai Bachelor of Art di sebuah Universitas terkenal di Asia Tenggara. Saya tidak bisa menutupi rasa bangga saya tetapi anak saya LIA selalu bilang , “pa(k) orang wisuda kan biasa, jangan terlalu dipamerkan ke teman-teman papa dong, saya malu..”

Dasar anak jaman sekarang, di wisuda kok malah malu,” gerutu saya.

Tiba-tiba pintu kamar di ketuk cukup keras, kami melongok kepala ke luar, nampak seorang petugas hotel didepan pintu sambil membawa gerobak berisi air, lap, pembersih kaca. Lihat rambutnya keriting pendek segera saya kenali dia pasti dari daratan Tiongkok, apalagi ketika ia berbicara dengan bahasa Inggris yang tidak jelas “lining,lining. ” Tapi saya bisa menangkap maksudnya ingin membersihkan dan merapikan kamar (cleaning).

Lalu saya bilang “one more hour, you come, we go” - maksudnya tentu sejam lagi kamu datang, kami akan pergi. Wisuda di NUS, demikian orang setempat menyebut kampus ini berlangsung jam 15, tetapi mengingat pengunjung yang pasti membludak, sebaiknya datang dua jam sebelum acara di mulai. Lagian saya ingin melihat bagaimana wisuda berlangsung dinegara tetangga bila dibanding dengan negara sendiri.

Sial, belum 30 menit berlalu dia sudah ketuk pintu dan memaksa untuk membersihkan kamar.

Sekali lagi kami bilang, belum siap berpakaian, saya sendiri sudah “in action” dalam beberapa menit, tetapi isteri saya selalu merasa ada yang kurang sehingga ia harus bolak-balik ke kamar mandi, melongok isi koper. Lalu saya katakan kepada si tukang ketuk pintu untuk datang setengah jam lagi. Kali ini muka yang sejak semula selalu serius berubah menjadi masam. Dia menggerundel dalam bahasa Hokian yang jelas saya tidak tahu maksudnya. Mudah-mudahan dia memaki-maki saya dan saya tidak mengerti.

Akhirnya pekerjaan paling ruwet kaum hawa yaitu berdandan selesai juga. Di gang hotel saya lihat si tukang ketuk pintu masih setia menunggu, lalu saya gantian mengganggunya “hei miss lining-lining, my room ya,” ini jelas bahasa Inggris kacau yang saya pakai, tetapi herannya mis cleaning service paham saja, dan langsung mencabut master key dan menyerbu kedalam kamar.

Saya tidak habis pikir bagaimana bisa orang yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa bekerja di Hotel bertaraf Internasional Singapore. Apakah sudah mulai ada toleransi. Atau mungkin “insiden” tadi pagi hanya kebetulan.

MINIBA...MINIBA CEK

Ketika Wisuda sudah selesai, walaupun dengan perasaan berat, kami harus meninggalkan puteri kami di Singapore. Tugas membawanya menjadi sarjana sudah kami selesaikan. Bagaimana rasanya jungkir balik membiayai anak sekolah saat rupiah selalu terbanting-banting. Perlu akrobat-akrobat yang kami lakukan. Semua demi anak agar selesai studynya. [Semua orang tua bukankah demikian..]

Saya tilpun pihak hotel untuk menyiapkan daftar tagihan, dan saya mengatakan bahwa kami tidak mengambil barang-barang di kulkas (mini bar). Tapi ini Singapore, dimana penduduknya selalu menganggap orang negeri lain berusaha menipu mereka. Baru saja gagang tilpun diletakkan, pintu sudah diketuk, dan petugas dari daratan Tiongkok berusaha masuk menerobos sambil mengatakan “Cek-Cek-Miniba”

Sia-sia saya mengatakan tunggu dulu separuh dari kami masih telanjang, sayapun cuma berbalut handuk. Dia tetap memaksa masuk. Saya bilang nanti dulu saya ganti pakaian, lalu pintu saya tutup. Eh dia ngotot mengetuk pintu sekali lagi. Apalagi yang bisa dilakukan kecuali saya buka pintu dan melemparkan pandangan jengkel kepadanya. Dan setelah mendapati bahwa tidak sepotongpun barang dalam minibar yang saya konsumsi, mereka meninggalkan kami saya tanpa mengucapkan thank you atau kalimat basa basi lainnya.

Dan waktunya bagi saya untuk sedikit komplin kepada duty manager hotel. Gantian mereka tanya namanya petugas nekad tadi? wah saya tidak ingat, dan tak perlu ngat. Gaya bahasa saya mungkin seramah Ari Wibowo "Saya tidak pernah capek dan tidak boleh capek"

Cuma saya minta agar pegawai tadi sedikit bersabar. Apalagi dua kali terjadi misscomunication.

Usut punya usut, pegawai-pegawai ini ternyata datang dari daratan Tiongkok, jadi hanya dengan bermodalkan Mandarin, mereka cari kerja dan dibayar biaya murah. Untungnya penduduk Sin, rata-rata paham Mandarin atau apalah itu. Giliran ketemu orang Grogol, ya bengong jadinya.

Lalu saya pikir kenapa orang Indonesia yang tidak bisa Inggris mengalami kesukaran cari kerja di Singapore? Jawab sendiri, bedanya pekerja kita tidak menguasai Mandarin, karena memang sukar dipelajari.

Kalau buruh kasar, seperti kuli angkut. Bagaimana kansnya? Orang Singapore lebih suka pakai golongan kulit gelap dari Ceylon, misalnya.

Bahasa Inggris boleh acak-acakan, tapi badannya kedot, tahan panas...

Ah kalah lagi kita...


mimbar seputro
13 September 2002