Gajahsora.Net

Gurami suka sangit tanah

Soal bertani atau beternak, masyarakat di kampung saya bisa jadi lebih pintar. Terutama dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Menurut penjaga kolam ikan kami, "Dalam memelihara ikan gurami, kalau dolar manjatnya tinggi bener, kita beri saja pakan daun senthe, sebab kalau pakai pakan pabrik (pelet), bisa bangkrut."

Salah seorang yang sering membantu merawat kolam adalah Rojali, yang juga penggembala kerbau milik orang tuanya. Namun jangan bayangkan ia duduk di punggung kerbau sambil meniup seruling. Serulingnya sudah digantikan gamewatch.

Rojali banyak menularkan ilmunya kepada saya. Mulai tehnik memberi makan gurami, menetaskan telurnya, mengamati perilaku gurami yang berahi, sekaligus acara kawin ikan. Katanya "Gurami akan berperilaku romantis kala bulan purnama."

Ia pun ahli menyiapkan wewangian perangsang libido gurami. Caranya, kolam dijemur sampai retak dasarnya, sehingga kalau terkena air akan menimbulkan bau sangit seperti hujan rintik kala kemarau. "Gurami suka bau sangit tanah kering," ujarnya.

Ia pun tak kerepotan saat akan menangkap gurami. Cukup dengan meng-obok-obok air kolam plus memasukkan daun pisang kering (klaras), gurami seperti terhipnotis dan patuh saja dibopong, ditelentangkan, atau dipindah ke kolam lain. Ditangannya, gurami berbobot 4-5 kg per ekor berubah jinak seperti kucing peliharaan.

Selain gurami, Rojali pun tak keder menggembala kerbau gemuknya, meskipun sering ditanduk. "Kerbau saya selalu mau berjalan di depan. Kalau saya yang didepan, ia ngambek."

Cuma satu yang ditakuti Rojali, yakni butiran kapur barus di kamar mandi. "Benda itu bagian perlengkapan jenazah. Saya takut jenazah," akunya jujur.

Tulisan saya ini dimuat di majalah Intisari November 2000 halaman 203

 

Mimbar
e-mail : Gajahsora

 
 

[Home]
Mimbar Bambang Seputro

TOKO GAJAHSORA, Jalan dr. Muwardi Raya 23
Grogol- Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
Upadated 8 Oktober 2001