Akhirnya....., setelah mendongeng
gedebas-gedebus ngalor-ngidul tentang dunia persilatan bisnis ritel
“Madurejo Swalayan” sebagai lajur jalan baru yang ditempuh setelah
sang sopir banting setir, kini tibalah pada bagian akhir kumpulan
“Catatan dari Madurejo”. (Huh! Capek juga .....)
Saya tidak mempunyai tujuan lain dari semua catatan-catatan saya
selama ini, apalagi untuk menggurui, selain hanya ingin berbagi
cerita tentang apa yang saya alami, saya lakukan dan saya pikirkan
untuk sebaiknya saya lakukan. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa
semua yang telah saya dongengkan ini hanyalah sebuah pilihan. Dan
itulah pilihannya “Madurejo Swalayan”. Sama sekali tidak ada
hubungan sangkutnya dan pautnya dengan urusan benar atau salah, baik
atau buruk, seharusnya atau tidak seharusnya. The rest is yours.....
Siapa tahu (dan mudah-mudahan) dapat menjadi sumber inspirasi dan
provokasi bagi siapa saja, baik yang sedang bingung mencari-cari
peluang bisnis, yang sedang mikir-mikir untuk memperoleh penghasilan
sampingan, yang sedang ancang-ancang untuk banting setir, atau yang
tetap menikmati pilihan hidupnya sebagai orang gajian. Kalau pun
tidak semuanya, Anda merasa terhibur pun sudah merupakan bisnis yang
menguntungkan bagi saya. It doesn’t matter at all.
Anggaplah semacam infomezzo, informasi intermezzo di tengah
hari-hari suntuk Anda.
Jika merujuk ke rumusannya Pak Robert Kiyosaki tentang Cashflow
Quadrant, siapa tahu kumpulan catatan ini dapat mengilhami Anda yang
sedang berputar-putar di kuadran E (Employee) dan S (Self-employed,
Small Business Owner atau Specialist) untuk menuju atau tidak menuju
ke kuadran B (Business Owner) dan I (Investor).
Benar bahwa pengelola “Madurejo Swalayan” saat ini sedang berkutat
di kuadran S, belum lama meninggalkan kuadran E. Meskipun di hati
kecilnya masih ada keinginan untuk merangkap jabatan menjadi S dan E
sekaligus (Habis E itu enak, sih.....! Salah satu yang membedakan
antara E dan S adalah : Kalau menjadi E, seperti apapun performance
kerja saya hari ini, enggak ngaruh, besok saya akan tetap terima
gaji. Sedangkan menjadi S, kalau kerja saya hari ini asal-asalan,
begita-begitu saja, besok juga akan menuai hasil seadanya.....).
Berikutnya hendak melangkah perlahan-lahan menuju ke kuadran B,
sembari belajar dan ancang-ancang untuk menuju kuadran I.
Mangsud hati ingin meninggalkan E menuju S. Apa daya sampai
sekarangpun anak kedua saya masih suka mendorong-dorong agar
bapaknya kembali menjadi E alias orang gajian. Bahkan sesekali
dorongan pun ternyata datang juga dari ibunya. Semuanya harus dapat
dipahami dan dimaklumi..... Malah anak kedua saya dengan lugunya
mengusulkan agar bapaknya bekerja di perusahaan minyak saja. Bukan
karena tahu harga komoditas itu sedang melejit, tapi karena beberapa
orang tua teman sekolahnya bekerja di perusahaan minyak (atau
jangan-jangan ada yang membisiki anak saya kalau teman email-emailan
bapaknya banyak yang bekerja di dunia perminyakan?).
Hal yang kemudian paling membuat sesak napas mendadak (bukan karena
kebanyakan udut) adalah ketika kemudian terucap dari mulut anak saya
: “Agar kita bisa kemana-mana dan beli apa-apa lagi seperti dulu.....”
(ini kata lain untuk : sekarang tidak bisa kemana-mana dan tidak
bisa beli apa-apa.....!). Meskipun tidak bosan-bosannya saya
meyakinkan anak saya dengan komentar normatif tapi penuh percaya
diri, bahwa Insya Allah akan tiba saatnya kita akan kemana-mana dan
beli apa-apa lagi, lebih dari yang dulu pernah kita lakukan.
Biasanya lalu dibalas dengan cibiran..... : “Wheeeekkkk.....!”. Tapi
inilah satu bukti lagi kegagalan saya melakukan lobi intensif
terhadap penumpang kecil saya, sebelum melakukan banting setir satu
setengah tahun yang lalu.
Saya sangat berharap kalau ada rekan lain yang sudah lebih dahulu
menekuni bisnis toko ritel atau apa saja, kiranya tidak keberatan
untuk berbagi pengalaman. Pengalaman baik atau pengalaman kurang
baik, tidak menjadi soal. Saya tunggu cerita sukses atau kurang
sukses Anda, agar kita bisa saling berbagi pengalaman.
Eee....., jangan-jangan pengelola “Madurejo Swalayan” yang masih ijo
royo-royo ini kelewat pede.
Jangan-jangan obsesi pengelola “Madurejo Swalayan” dengan bisnis
membangun visi melalui toko ritel ini ngoyoworo. Jangan-jangan malah
dongengan ini menyurutkan niat orang lain untuk memulai bisnis ritel.
Ijinkan saya menyarankan, selalu melakukan cross-check dengan sumber
referensi lain atau belajar dari pengalaman orang lain kiranya akan
sangat membantu.
***
Jadi, bagaimana? Anda siap buka toko ritel? Atau ada peluang lain
yang sedang Anda incar? Atau lebih dahsyat lagi (menurut istilah
populer sekarang) mulai melangkah menuju kebebasan finansial?
Jika demikian, “Good Luck!”. Selamat bekerja, dan semoga “Atasan”
Anda masing-masing senantiasa menyertai setiap rencana bisnis yang
sedang Anda persiapkan. Teriring doa semoga Anda sukses, lebih dari
yang Anda mau….. Sementara saya mau pamit dulu, mau konsentrasi
untuk menggarap peluang lain......
Sekedar melakukan langkah kecil (sebagai bagian dari langkah besar)
untuk menuju kuadran B.
Ooops, tunggu dulu.....! Jangan lupa berdoa sebelum tidur, siapa
tahu saat Anda bangun esok pagi ternyata toko Anda sudah berdiri!
Nuwun dan salam.
Madurejo, Sleman - 1 Maret 2006
(Mari kita lakukan Serangan Oemoem untuk menangkap dan menggarap
peluang demi peluang)
Yusuf Iskandar
Konsultan, CEO, Pramuniaga, Sopir, Janitor --
“Madurejo Swalayan”
Jl. Prambanan - Piyungan Km. 5, Sleman, Yogyakarta
55572.
Tlp. 0274-4398430 (kantor), 0274-7165347 (Flexi),
0812-2787618 (mobile). Fax belum dipasang.
Email : yiskandar_2000@yahoo.com. Homepage sedang
digagas-gagas, sak legane.....
http://gajahsora.com