Gethok Tular
Idealnya sebelum toko buka, atau menjelang “soft or grand
opening”, terlebih dahulu perlu dilakukan woro-woro (pemberitahuan)
kepada khalayak. Paling tidak agar masyarakat desa sekitar, yang
adalah bakal calon pelanggan, tahu bahwa akan dibuka toko baru yang
siap melayani kebutuhan mereka. Semula memang sudah digagas akan
membuat semacam selebaran untuk dibagikan kepada masyarakat. Namun
karena dikejar jam tayang harus buka sebelum bulan puasa, maka
segenap energi terkonsentrasi penuh pada masalah tokonya sendiri.
Sedangkan soal thethek bengek promosi, iklan, dsb, agak terabaikan.
Maklum, karena memang tidak ada bagian khusus yang menangani hal itu.
Hal pertama yang terpikir menjelang beroperasinya toko adalah
mengadakan selamatan syukuran. Selamatan atau syukuran adalah
tradisi yang saya pikir sangat baik untuk dilestarikan. Esensinya
adalah berbagi nikmat rejeki. Bentuknya adalah membagi-bagikan
sekotak nasi komplit cukup untuk makan malam satu keluarga dan doa
bersama.
Sebagai warga baru, saya perlu melakukan kulo nuwun akan numpang
mencari nafkah di desa itu. Sebagai warga beragama, saya perlu
berbagi kenikmatan kepada tetangga-tetangga baru saya dengan
mengajak mereka untuk berdoa bersama sebagai ungkapan rasa syukur
kepada Tuhan. Namun yang tidak kalah penting, dalam forum itu saya
punya kesempatan untuk melakukan perkenalan tentang “Madurejo
Swalayan”.
Maka terkumpullah warga dan tetangga baru se-RW yang jumlahnya lebih
seratus orang. Termasuk dalam list undangan ada para punggawa desa,
Pak Lurah, Pak Dukuh dan Pak RW. Acara ini terselenggara atas
kerjasama yang baik dengan seorang sesepuh yang kebetulan masih ada
“pernah-pernahan” hubungan saudara.
Tidak semata-mata saya berpromosi agar : “Mari berbelanja di
Madurejo Swalayan”, cukup kalau masyarakat sekitar lego-lilo-legowo
menerima kami sebagai bagian dari warganya yang sedang membuka usaha
baru toko swalayan. Jika hal itu terjadi, maka terbangunlah sistem
komunikasi gethok tular, cerita dari mulut ke mulut, yang cepat atau
lambat berfungsi sebagai media promosi secara tidak langsung. Kali
ini saya tempuh metode gethok tular terselubung.
Hasilnya, setelah itu kami jadi punya kenalan-kenalan dan
tetangga-tetangga baru yang bisa diajak bertegur sapa. Ada acara
buka bersama di kampung, alhamdulillah, kami juga diundang. Ada
kegiatan keagamaan di masjid, kami juga diundang. Maka, menguasai
sedikit saja “bahasa” agama, sangat membantu dalam memperlancar
komunikasi dan silaturrahmi di tengah komunitas yang mayoritas warga
muslim tradisional.
Di forum selamatan itulah, sambil duduk lesehan dan bersila, saya
mesti menyampaikan kata sambutan dalam bahasa Jawa halus.
Sekali-sekalinya seumur hidup saya. Ternyata kok ya tidak gampang….
Padahal seingat saya, sejak lahir cenger saya ditimang-timang dan
diajari berbahasa Jawa. Nenek moyangku juga wong Jowo. Di sekolah
pernah diajari bahasa Jawa gagrag anyar. Setiap hari juga banyak
ngomong coro Jowo. Kalaupun berkomunikasi bahasa Indonesia dan
Inggris pun tetap dengan logat Jawa. Kelakuan juga nJawani. Eee…
giliran harus menyampaikan sepatah-dua patah kata, dan menurut
kebiasaan disampaikan dalam bahasa Jawa kromo hinggil, tiba-tiba
rada gelagapan. Butiran keringat sak jagung-jagung menetes karena
energi terkuras seketika untuk mencari pilihan kata-kata yang pas.
Hanya sedikit rasa pede saja yang akhirnya membuat everything is
under control……
Lega sudah, satu momen penting terselesaikan malam itu, dua hari
menjelang toko buka.
***
Cara lain yang saya lakukan untuk berpromosi adalah masih dengan
menggunakan metode “word of mouth”, gethok-tular tapi secara terbuka,
langsung kepada sasaran. Karyawan-karyawan toko yang semuanya warga
masyarakat sekitar, saya bebani misi untuk bercerita kepada segenap
saudara-saudaranya, tetangga-tetangganya dan teman-temannya bahwa
akan dibuka toko baru yang namanya “Madurejo Swalayan”. Para tukang
yang masih bekerja menyelesaikan bagian belakang toko juga saya
minta melakukan hal yang sama.
Rupanya cara ini cukup efektif. Terbukti pada hari “H”, tanggal 2 Oktober 2005, hari pertama yang direncanakan untuk mulai beroperasinya toko, banyak orang-orang desa yang mampir. Seorang ibu yang biasa buka warung di Pasar Gendeng (diucapkan seperti membaca kata “klenteng”), warung dimana saya biasa beli nasi bungkus untuk makan siang selama sebulan mempersiapkan “grand-opening” toko, juga sempat berkunjung dan memperkenalkan diri. Bagi saya ini bukan komunikasi perkenalan biasa, melainkan perkenalan ekonomis.
Tidak ada pengguntingan pita, tidak ada pelepasan balon, tidak
ada halo-halo. Pokoknya : “Bismillah… niat ingsun mencari rejeki
yang halal…..”, lalu …..regedeeeek…….. dibukalah pintu toko. Saya
sebagai CEO “Madurejo Swalayan” (seprono-seprene nyambut gawe ketemu
orang stress karena pangkat ndak naik-naik, sekarang saya bisa
mendapukkan diri jadi CEO), siap menyambut dan melayani pengunjung
toko.
Tidak banyak yang saya harapkan di hari-hari awal beroperasinya toko.
Harga BBM baru naik kemarinnya, jadi wajar saja kalau saat itu
adalah saatnya orang banyak berhitung (kadang-kadang berhutang)
sebelum membelanjakan uangnya. Teriring doa, meskipun jumlah uangnya
tidak banyak, mudah-mudahan lumintu lan mberkahi (langgeng dan
menjadi berkah)…
Madurejo, Sleman – 4 Desember 2005.
Yusuf Iskandar