Memulai itu Gampang
Jamu Keladi Tikus -pengerat kanker, hubungi iboe Erni di HP 0812 802 5102 atau (021) 5601215

 

Kata para pemikir (orang yang kerjanya mikir), peluang atau kesempatan itu ibarat angin spoi-spoi nyemek  (tidak basah tidak kering). Ketika dia datang, kita seringkali terlena, lenggut-lenggut kayak sapi  kekenyangan. Tapi begitu dia pergi, kita baru mak  plenggong (melongo) : “Lho, itu tadi peluang, to?”. 
Kendati demikian, tentunya tidak lalu berarti mesti  nabrak-nabrak mengumpulkan peluang. Kebanyakan ngopeni peluang bisa-bisa kandangnya yang tidak cukup,  akhirnya malah pada meloloskan diri, dan kita pun lalu kebingungan sendiri. Ya, biasa-biasa sajalah, asal  lenggut-lenggut-nya jangan sampai kebablasan…...

***

Tidak saya ingkari bahwa menangkap peluang bisnis yang pertama ini termasuk ngelmu bisnis bab pendahuluan  yang puuualing sulit! Padahal tanda-tandanya sangat jelas dan kasat mata. Lha iya to, setiap peluang  bisnis itu pasti berhubungan dengan jual-beli, dan setiap jual-beli itu pasti berurusan dengan  untung-rugi. Tidak diperlukan ilmu atau pengalaman  apapun untuk bisa mengatakan hal ini.

Jual-beli atau dagang, atau istilah kininya adalah  bisnis, merupakan profesi tertua yang dikenal manusia, setua peradaban manusia itu. Profesi apapun, pada  dasarnya adalah urusan jual-beli dan untung-rugi.
Mulai dari yang halal sampai yang terlarang, dari yang purna-aksi sampai porno-aksi, dari yang paling  primitif sampai paling canggih, dari skala rumahan  sampai skala global, entah menyangkut barang atau  jasa. Oleh karena itu, aktifitas bisnis atau jual-beli  adalah bagian dari naluri manusia. Yang akhirnya akan membedakan seorang manusia dengan manusia lainnya hanyalah faktor kebiasaan atau terlatih tidaknya seseorang menjalankan bisnis atau jual-beli ini. 
Semakin terbiasa dan terlatih, maka feeling dan  kecerdasan bisnisnya semakin tajam dan terasah.

Dari cerita pengantar di atas, kini saya meyakini  bahwa tidak ada seorang pun yang dilahirkan ke dunia  ini, cenger dengan ada yang membawa bakat bisnis dan  ada yang tidak. Tidak ada jiwa bisnis kok gawan bayi  (bawaan sejak lahir), melainkan bayi yang gawan bisnis  (bawaan hasil bisnis). Siapapun kalau mau beraktifitas bisnis jual-beli pasti bisa. Ada orang yang sejak  kecil karena kondisi dan lingkungannnya memang sudah  terlibat dalam aktifitas ini, ada yang sejak tua baru  tergerak untuk menerjuninya. Pilihannya hanya mau atau tidak….

Sebagian dari para orang gajian, umumnya baru  kepikiran untuk terjun ke dunia bisnis setelah sumber gajian tetapnya mulai dirasakan “terganggu”.
Seandainya gajian tetap itu bisa diterima sampai seseorang meninggal di usia 97 tahun misalnya,  sumprit…… orang itu tidak akan pernah melirik profesi  tertua ini. Pemilik “Madurejo Swalayan” adalah satu  dari sekian milyar orang yang kemudian terpaksa lebih awal melirik profesi non-gajianisme ini.

Jelasnya, tidak ada orang yang tidak bisa jualan. Mangkanya tidak perlu herman bin gumun kalau ada orang yang mengaku mula-mula tidak punya pengalaman atau ngelmu jual-beli kok kemudian sukses menjalankan  bisnisnya. Itu karena orang itu bekerja keras dan  bekerja cerdas, berusaha bagaimana agar jualannya  untung dan keuntungannya meningkat terus. Sama sekali  tidak ada hubungannya dengan bakat atau jiwa bisnis,  apalagi dalih yang mengada-ada yang seringkali menjadi pembenaran atas keengganan kita. Tapi pasti ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan (kecerdasan  tidak sama artinya dengan nilai matematika 9 waktu di sekolah), dan kecerdasan itu bisa dibangkitkan,  dilatih dan diasah.

Salah satu model orang jualan adalah buka usaha toko atau warung. Kalau saya sebut toko atau warung,  sesungguhnya itu hanyalah simbol atau perlambang.  Dalam prakteknya, apalagi di jaman modern sekarang  ini, banyak juga mereka yang tidak punya toko atau  warung an sich, tapi punya bisnis luar biasa. Jadi,  jangan terpaku dengan lokasi atau tempat.

***

Intinya, jangan pernah berusaha mencari pembenaran  bahwa “saya tidak bisa jualan”, “saya tidak berbakat  dagang”, “saya tidak punya jiwa bisnis”. Nyuwun sewu, kuwi mesti ngapusi kanggo ngayem-ayemi…., itu pasti  sedang berbohong untuk menyenangkan diri sendiri!.
Yang benar adalah bahwa “saya belum terbiasa jualan”, “saya belum pernah melakukan usaha dagang”, “saya  belum pernah mencoba bisnis”. Karena hidup ini sendiri adalah bisnis, hidup ini adalah sebuah perniagaan.  Jadi sebenarnya sepanjang hidup kita ini, disadari  atau tidak, kita telah berpengalaman melakukan bisnis, melakukan perhitungan untung-rugi.

Coba kita ingat-ingat sejenak. Keputusan apapun yang kita buat, langkah apapun yang kita ambil, tindakan apapun yang kita kerjakan, pasti atas dasar  pertimbangan untung-rugi. Maka kalau suatu ketika  ternyata tindakan kita salah, itu artinya kita telah keliru dalam membuat perhitungan bisnis dalam  aktifitas keseharian kita. Hanya seringkali proses itu  berjalan dengan refleks, sepertinya nyeklek dhewe  (terjemahan dari otomatis, kata teman kost saya dulu).
Kalau jelas tahu akan rugi, lha ngapain kita  repot-repot melakukan sesuatu?. Dalam bentuknya yang  paling sederhana, diam-diam setiap waktu, setiap hari, kita telah melakukan usaha bisnis dan sering-sering menguntungkan.

Untuk sekedar memperjelas : Mengantar dan menjemput  anak ke sekolah setiap hari kita lakukan, itu karena feeling bisnis kita sudah sangat terasah bahwa  pekerjaan itu menguntungkan dibanding anak disangoni disuruh berangkat atau pulang sendiri. Tidak  memerlukan analisa ekonomi yang njlimet. Mandi pakai sabun, gosok gigi pakai odol atau makan nasi, kita  kerjakan secara otomatis. Kalau persediaan sabun, odol atau beras di rumah sedang habis maka dibela-belain  pergi ke toko atau warung untuk membelinya sekalipun  hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Itu karena naluri bisnis kita sudah terkondisikan bahwa itu  pekerjaan yang menguntungkan, tanpa perlu hitungan  yang rumit-rumit. Dan seterusnya bisnis seperti ini kita lakukan hampir setiap detik.

Dan saya tidak lupa, menulis dongeng tentang “Madurejo Swalayan” lalu mengirimkannya via email, mbayar lagi,  adalah juga bisnis yang saya pikir menguntungkan. Menguntungkan bagi saya agar tidak berhenti berpikir  dan membagi pemikiran, dan (mudah-mudahan juga) bagi orang lain agar menjadi inspirasi, syukur-syukur  terprovokasi, paling tidak ya menjadi bacaan selingan yang menghibur atau infomezzo, gitu-lah…..

Jadi, sekian kali lagi mohon maaf, saya hanya ingin  memprovokasi dan mengajak Anda agar tidak ragu untuk menangkap peluang bisnis pertama yang ada di depan  mata. Saya pun belum pernah melakukan usaha yang “real  business”. Tapi toh saya tangkap juga peluang pertama usaha bisnis ritel.

***

Bagi mereka yang sudah berpengalaman dalam bisnis  (tepatnya, sudah lebih dahulu start menekuni bisnis  jual-beli), maka biasanya tidak perlu pusing-pusing  memikirkan atau menghitung-hitung menguntungkan apa  tidak ketika hendak berbisnis. Pokoknya pasti untung, wong pengalaman sebelumnya sudah membuktikannya  demikian. Maka dari itu, mereka cenderung refleks  “just do it”, lakukan saja sudah. Ya seperti ilustrasi bisnis aktifitas keseharian kita itu tadi.

Tapi bagi mereka yang seumur-umur menjadi orang  gajian, wajar saja kalau awang-awangen (ragu untuk  melangkah), karena itu perlu mulai dengan “just plan  it”, rencanakan dululah dengan cermat dan hati-hati. 
Sehingga kalau pun harus mengambil resiko, maka itu adalah resiko yang minimal, yang terukur dan yang  terkelola dengan baik.

Jadi kalau saya amat-amati (wong bisanya ya baru  mengamati), memulai bisnis itu (seharusnya) gampang,  asal tidak dengan cara menggampangkan, melainkan tetap perlu terencana dan terarah, cermat dan tidak  grusa-grusu…... Logika saya mengatakan, lha kalau  sebenarnya kita ini telah berbisnis sepanjang hayat  dikandung badan, lalu pengalaman bisnis seperti apa  lagi yang dibutuhkan? Barangkali yang dimaksud adalah feeling dan kecerdasan bisnis yang semakin terasah.
Sayangnya hal yang terakhir itu hanya mungkin  diperoleh kalau kita sudah melangkah untuk memulainya  sendiri.

Seorang pekerja keras seperti Thomas Alva Edison yang “never give-up to try and never try to give-up”,  mengatakan bahwa sukses itu 99% kerja keras dan 1%  bakat. Maka untuk mencapai sukses hanya perlu kerja keras (barangkali bahasa sekarangnya adalah kerja  cerdas, smart working), sisanya dan sesial-sialnya  kalaupun tidak punya bakat, toh hanya 1% porsinya dan baiknya dilupakan sajalah soal bakat ini. Daripada nanti malah jadi alasan saja…..

Akhirnya, kalau memang sudah ada krenteging ati  (tergeraknya hati) untuk memulai bisnis apa saja,  jangan cari-cari alasan deh! Tangkap peluang pertama dan kerjakan. That’s it. Peluang bisnis ada di  mana-mana. Jadi, bisnis yuk…….! Biar saya ada  temannya, teman belajar bersama-sama, teman mikir  bersama-sama, teman kerja keras bersama-sama, semoga juga teman sukses bersama-sama (tapi kalau bingung  bersama-sama saya tidak mau, monggo…… Anda duluan).


Madurejo, Sleman - 25 Pebruari 2006.
Yusuf Iskandar

 

http://gajahsora.com