|
21.06.2003
|
TEPEKONG Sebuah tepekong yang
dibangun pada abad ke 19, di kawasan Ancol sempat
menarik perhatian wartawan Bintang Betawi terbitan 30 April 1903
lantaran selain orang Kong Hu Cu yang datang beribadah kesana, ada
juga orang "selam" - demikian orang dulu menyebut orang muslim, yang
datang. Tentu saja aneh, dua kepercayaan yang satu sama lain selalu
bertolak belakang kok bisa bersatu dibawah atap sebuah kelenteng.
Ada yang aneh deri tepekong ini, tulis wartawan tersebut.
Ketika para penganut Kong Hu cu membakar hio atau dupa, maka orang
Selam yang berkunjung kesana juga ikut berdoa sambil membakar
kemenyan, biasanya karena suatu kaul yang terkabul.
Ke anehan lain, sesajen atau persembahan khusus di kelenteng ini harus bebas
dari "ham" termasuk minyaknya. Padahal kebudayaan Cina sangat erat
hubungannya dengan daging babi. Pernah sekali tempo ada pengunjung yang
"mbaung" nekad menyelipkan daging babi dalam sesembahannya dan akibatnya
meja seperti bergetar seperti ada "lindoe" sehingga membuat panik itoe
peziarah yang laen.
Ini sangat mengherankan dan tentunya ada legenda atawa mitos yang dipercayai
oleh penduduk sekitar.
Konon beberapa abad, sebuah kapal "jung" asal dari Cina Daratan yang besar
mengalami kerusakan sehingga menunda pelayaran untuk mengadakan perbaikan
kapal layar tersebut. Ada yang percaya bahwa mereka adalah armada ke X dari
kekaisaran Ku Bhi Lai Khan. Kapiten armada ini adalah Laksamana Chin Ho.
Cuma tidak jelas apakah sebagai jurumudi dia juga berfungsi juru runding
yang pada akhirnya menjadi juru teror seperti yang terjadi ratusan tahun
kemudian.
Ternyata kerusakan Jung ini mremen (merembet) kemana-mana sehingga
membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Apalagi perbaikan
kapal hanya bisa pada siang hari, sementara pada malemnya mereka orang
banyak plezier, bersenang di rumah bola atawa warung remang yang banyak
ronggengnya.
Setelah kapalnya selesai diperbaiki, hati jurumudi kadung kepincut seorang
penari ronggeng yang goyangnya mirip-mirip "ngebor" beberapa ratus tahun
kemudian. Rupanya jurumudi melakukan studi banding, enak mana goyang di laut
dengan goyang di darat. Kalau sama-sama goyang, maka dipikir-pikir enakan
goyang di darat, mabuknya bukan mabuk laut melainkan mabuk cinta seeh.
Kocap carito, Nyi Ronggeng dari Dukuh Ancol di lamar, dan emas kawin dibayar
TUNAIIIII (gaya Ongky dalam kecil-kecil jadi penganten). Sang ronggeng juga
"ho oh ho oh" saja asal syaratnya, calon suaminya menjauhi dageng babi.
Rupa-rupanya sejak dulukala kalau soal larangan satu ini patuhnya 1000%
tetapi kalau soal larangan yang lain, misih banyak diterabas tanpa reserve,
dengan pelbagai dalih.
Permintaan Nyi Ronggeng diikuti sepanjang masih dalam koridor NKRI
permakanan. Lalu mereka-pun menikah. Sebelumnya suami juga mengajukan satu
sayarat kepada sang ronggeng, agar menjauhi daging petai kesukaan sang
isteri karena dia tidak tahan dengan baunya menyengat.
"wajah rupawan, goyang menawan bikin mulut komat kamit, tapi bau pipis
amit-amit.."
Ketika kios dagangnya maju sebagai rasa terimakasih kepada sang maha Kaya
mereka membuat sebuah Kelenteng yang sekarang masuk dalam kawasan Taman
Impian Jaya Ancol Jalan Pantai Sanur V, Ancol. Kelenteng ini dinamakan "Anxu
Da-Bo-Gong-Miao" alias kuil Dabo-gong. Cuma sebelum kelenteng ini selesai
dibangun kedua pasutri keburu meninggal dan dikuburkan di dalam kuil. Lama
kelamaan, entah kabar beredar dari
mulut kemulut, kelenteng ini dianggap mempunyai tuah, baik bagi penganut
Kong Hu Cu maupun Selam (sebutan Islam dalam koran tempo doeloe).
Dulu Ancol dipilih oleh pembesar Kompeni untuk dijadikan "rumah peranginan."
Tetapi lantaran daerah rawa, maka malariapun menggelar operasi militer
secara represif sehingga kompeni berhasil diusir dan pindah ke kawasan
(afdeeling) Weltevreden.
Kelenteng Ancol dikisahkan oleh seorang penulis masalah betawi A. Teisseire
yang menduga bahwa "kelenteng Cina paling tua" ini dibangun pada tahun 1650.
Baru pada tahun 1790 Dewan Cina secara resmi memakai bangunan ini sebagai
rumah ibadat. Sekaligus kramat (tempat yang dikramatkan) bagi orang muslim.
Di akhir tulisannya, wartawan Bintang Betawi menulis:
"Siapa yang menyaksikan hal ini tentu merasa heran melihat orang Selam
datang memberi sedekah di rumah tepekong dan rukun sekali dengan orang
beragama lain..."
Tapi itu seabad lalu, belum ada peristiwa 12 Mei 1998.
Mimbar Seputro
0811806549
|