PINTU BESAR Seabad lalu gubernemen
Olanda mengundang para pahlawan tanpa tanda jasa yaitu goeroe dari Solo dan
Yogya untuk berkunjung ke Betawi. Mereka dibawa ke Stadhuis (Gedung Bicara),
pabrik gas, percetakan uang kertas, dan astaga, pabrik Candu. Soal candu
ternyata orang Olanda pikirannya cerdik, daripada jenis psikotropi ini
keuntungannya jatuh ke pengedar, mending mereka organisasikan melalui para
pacht (dealer), legal dan menguntungkan. Toh penyeuret itu bakalan susah
disembuhkan. Mending dicepetin saja umurnya.
Ketika rombongan wisman (wisatawan budiman) melalui jalan Pintu Besar,
seorang guru bertanya ada Pintu Besar tetapi mana kuncinya, boro-boro kunci,
daun pintunya sendiri tidak ada. Sang pengantar cuma garuk-garuk ia punya
kepala tapi tiada gatal, lantaran trada ia punya moeslihat untuk memberiken
jawaban. Paling bisa memberikan jawaban" tauk tuh semenjak encing aye
tinggal disini emang sudah begitu namenye.."
Untuk mengetahui sejarah Pintu Besar, kita moesti melihat kilas balik ke
tahun 1632.
[Eng ..ing .. eng... ]
[suara tambur bergemuruh......]
Setelah pengepungan oleh balatentara Mataram yang berhasil menewaskan
Gubernur Jendral Jan Pieter Zon Koen, bukan lantaran peluru maupun santet
melainkan wabah Kolera itu, maka oleh Gubernur Jendral penggantinya segera
diperintahkan agar sekeliling Kastil dibangun kanal-kanal atau parit air
yang lebar sehingga diharapkan bisa mencegah musuh yang mau menghancurkan
pertahanan negeri.
Untuk keperluan keluar masuk kastil lalu dibuatkan pintu yang besar disebut
NIEUWPOORT, dan jalan menuju pintu inilah yang disebut sebagai jalan pintu
besar alias NieuwPoort Straat. Tidak dijelaskan apakah ada upacara tutup dan
buka pintu seperti jamannya kraton Yogyakarta.
Dulu pintu gerbang memasuki kraton Yogya sudah ditutup pada jam 9 malam, dan
dibuka keesokan harinya. Buka tutup pintu ini ini diiringi oleh rombongan
"korsik" alias korp musik yang terdiri dari genderang dan terompet. Ada
cerita miring dari sana, lantaran pintu sudah tertutup, maka beberapa
penghuni yang "laat" bisa saja masuk kedalam benteng asal dilakukan dengan
ganti rugi sejumlah "gulden" diselipkan ke tangan penjaga pintu. Koran
setempat bilang sebagai "jalan smeer."
Pintu Besar ini ini bercabang jalan ke kota satelit sebelah selatan yang
disebut Zuidervoorstad yang sekarang menjadi jalan Pinangsia, tempat mertua
saya kulakan bahan bangunan seperti kunci, kaca jendela, washtafel dsb. Juga
(kalau mau) VCD porno. Kawasan Zuidervoorstad tadinya dibangun untuk
perkampungan Cina, tetapi penggawe Kumpeni ikutan nanam saham membuat rumah
menginap yang sekarang sering disebuat apartemen, dengan alasan pintu Kastil
sudah tertutup, mending nginep diluaran saja sambil ngelencer. Mungkin ada
cerita pembesar Kumpeni "kegep" jam 3 dinihari dirumah seorang amoy
Pontianak, dan bilang alasannya mencari dokumen tertinggal. Tapi itu cerita
ratusan tahun kemudian.
Dari pintu besar tadi dibuat jalan tembus Buitenniewpoortstraat alias Jalan
di luar pintu gerbang baru.
Namun Daendels penguasa Inggris ketika memerintah Betawi mempunyai gagasan
baru, kastil-kastil tadi dibongkar demikian juga pintu gerbangnya. Alasannya
nanti ada lagu "wahai burung dalam sangkar, mata terlepas badan terkurung."
Pikir Daendels (barangkali) Ganti Menteri di Betawi kelak, diikuti dengan
Undang-undang baru, apalagi ganti Gubernur Jendral. Cucunya
Daendels ratusan tahun kemudian juga memiliki nafsu membongkar. Tiada
Kastil, Pohon Beringin-pun jadilah.
Tapi ada alasan Daendels yang rada masuk akal, kanal-kalan tersebut kalau
musim kemarau kering dan celakanya rumah sakit membuang kotoran dan potongan
daging manusia ke kanal, sehingga mengundang lalat dan tempat yang strategis
bagi gerombolan nyamuk malaria membuat Posko disana.
Parit-parit itu lalu dioeroeg dan dibuat jalan kereta api plus stasiunnya
untuk jurusan Tanjung Priok - Tangerang.
Jalan Pintu Besar merupakan jalan ramai di Betawi, di jalan yang terletak
kota lama terdapat toko-toko dan kantor dagang. Kadang ada trem uap melintas
dari Kota Inten ke Harmoni, tak heran sering terjadi kecelakaan antara trem
dengan dos-a-dos (sado). Bahkan tabrakan heibat dan dahsyat antara sebuah
pedati dengan dos-a-dos diberitakan harian
Bintang Betawi 21 Mei 1903, yang menceritakan bahwa penumpang dos-a-dos
terlempar sampai tiada inget sekeliling (semapoet), dan dievakuasi ke rumah
tukang besi sekitar TKP untuk dipulihkan ia poenya kesadaran. TKP di depan
toko Ang Sioe Tjiang & Co
Demikianlah asal Pintu Besar Utara dan Pintu Besar Selatan.
Mimbar Bambang Seputro
Kepingin jadi ahli sejarah, ambil Teknik Perminyakan. Nanggung semua.
|