PERBUDAKAN DI BATAVIA
Menurut Bintang
Betawi 15 Juni 1903, beberapa puluh tahun lalu di kediaman Dokter Papelard,
Noordwijk, sebelah timur Toko van Arcken dulunya adalah pasar budak.
Syarat-syarat orang yang bisa dijadikan budak adalah orang yang tidak bisa
bayar hutang dan bangsa yang kalah perang.
Kenapa Perbudakan
bisa terjadi kita moesti balik kanan melihat ke belakang...
Ketika Jan Pieterzoon Coen yang baru datang dari Maluku langsung mangkal di
Pulau Onrust di kawasan Kepulauan Seribu, mula-mula sih tujuannya sekedar
berdagang, maklum cuma pengusaha. Tetapi ia juga melihat lemahnya pertahanan
pangeran Jayawikarta maka sekalipun "Senjata Biologis" tidak ditemukan di
Jayakarta, ia tetap merangsek dengan persenjataannya yang mengerikan untuk
menggempur Jayakarta.
Pada 30 Mei 1619, dalam semalam Jayakarta jatuh. Sementara Jayawikarta
ditawan dan para pendukung pangeran kocar kacir dan tidak mau bekerja dengan
Kompeni. Beberapa diantaranya bergabung dengan pasukan Mataram yang kelak
berniat menggempur balik VOC. Sebagian ada yang menetap di luar Betawi yang
waktu itu hanya kampung kecil di muara sungai Ciliwung. Tapi banyak juga
yang menetap abadi akibat tenggelam atau sakit.
Karena banyak penghuni Jayakarta yang kabur lantaran takut di pansus, atau
tidak mau KTP baru, maka banyak tanah garapan (Percee) yang terbengkalai
tidak terurus dan akhirnya menjadi semak tempat bersembunyi ular dan buaya,
belum lagi wabah penyakit menular. Untuk
itulah Kompeni mendatangkan para tenaga kerja dari luar Jawa seperti Banda,
Sulawesi dan Bali (baca budak).
Heirannya orang Jawa (Mataram) dan Sunda (Pajajaran) tidak termasuk dalam
daftar "tenaga kerja favorit" sebab dikuatirkan masim menyimpan dendam tak
sudah lalu bersekongkol dan lalu memberontak. Ini cilaka, ini musuh dalam
selimut. Cari makan di Jayakarta, tapi hatinya ditempat laen. Ibarat pedang
bermata dua. Mula-mula koeli ini dimanfaatkan untuk membuat kastil (termasuk
pembuatan Pintu Besar) dan dibebaskan menjadi orang merdeka setelah proyek
pembangunan kastil selesai.
Tetapi dengan membanjirnya banyak penggawe Kompeni, kebutuhan budak semakin
meningkat. Kalau pasokan dari Nusantara terlambat datang, mereka
mendatangkan dari Afrika. Cuma tidak dijelaskan apakah mereka juga membawa
Lele Zumbo (Dumbo) dan Tilapia Mozambica (Mujaer).
Tahun 1673-1681 separuh penduduk Betawi adalah budak. Penguasa tidak Darurat
Inggris yaitu Rafles mengenakan cukai budak yang cukup besar. Sehingga
menurunkan minat orang memelihara budak. Setelah Inggris hengkang, Belanda
meneruskan aturan bahwa setiap budak dikenai pajak 2,30 gulden per bulan.
Dan perdagangan budak marak kembali.
---ooo---
Pasar Budak di kawasan Weltevreden tak ubahnya pasar Sapi. Orang membeli
budak seperti halnya membeli seekor binatang, termasuk dengan acara
dicambuki. Budak yang ditaksir disuruh berjalan maju,mundur, berputar persis
seorang pragawan dengan kekecualian muka mereka adalah muka kelaparan dan
ketakutan. Kalau yang ingin dibeli adalah budak perempuan seluruh tubuhnya
diperiksa. Anda pernah melihat belantik sapi dan calon pembeli melakukan
transaksi dagang. Demikian kiranya yang dilakukan terhadap para budak. Jika
wajahnya cantik, pasti harganya mahal sebab bisa dijadikan nyai.
Para budak ini diasongkan dimana ada pasar malam. Acara penjualan budakpun
digelar dan umumnya menarik perhatian khalayak. Apalagi dipasar malam yang
disediakan cuma budak perempuan yang cantik-cantik yang nantinya banyak
dijadikan "nyai" atau gundik. Anak-anak yang dilahirkan dari hubungan bawah
tangan ini kelak menjadi penggede Betawi. Sehingga koran Bintang Betawi
menulis "kita biasa menyebut pembesar dengan nama Eropa padahal sebetulnya
masih keturunan (budak)." Terjemahannya, namanya doang para pembesar itu
ke-Eropah-eropahan, tetapi sebetulnya cara gaulnya sih budak.
Setelah Betawi mempunyai koran, maka iklan di koran Betawi cukup gencar
menawarkan budak. Adpertensi di harian Bataviasche Koloniale Courant,
misalnya menuturkan : "Dijual seorang boedak, pintar mengurus anak dan
pintar menjahit. Sekarang mengasuh Julia 8tahun, Rooko
3tahun, Pandang 3 bulan. Siapa boleh minat, bole minta keterangan pada
kantor lelang."
Pembeli budak (fiskal) umumnya datang bersama para bujangnya. Bujang ini
nantinya akan mencambuk para budak seperti orang mencambuk kuda. Tidak heran
para budak umumnya tidak berani macam-macam, kecuali Untung S dari Bali
milik Pieter Cnoll yang malahan menjalin cinta dengan anak majikannya
sehingga dijebloskan di penjara bawah tanah di Stadhuis (Museum Jakarta
Kota). Tapi Untung S bisa membebaskan diri bahkan memimpin pemberontakan.
Penggawe Kompeni memang hidup "ngadi-adi" alias mewah dan manja, bayangkan,
di rumah de Klerk di Molenvliet memiliki 100 budak , 16 diantaranya jadi
pemain musik rumah tangga.
Lalu van Riemsdijk anak Pejabat Kompeni memiliki 200 budak yang bernilai
3300 rijksdaalded (i rds=2,5 gulden). Di kediaman van Der Palm memiliki 105
budak terdiri dari 65 lelaki dan 40 perempuan. Bauer memelihara 57 budak
lelaki, Heijnes 43 budak, Goldman 25 budak, van
Bensechemk 34 budak, Baron van Lutzon 25.
Tidak ketinggalah babah seperti Tan Poeng Ko, Lim Goan Ek dan majoor Khouw
Kim An. Padahal dalam sejarah mereka adalah budak-budak juga. Hanya karena
keuletan dan keahliannya menghalalkan segala cara mereka bisa mendongkrak
kehidupannya menjadi Tuan Tanah atau Pedagang kaya sementara pribumi
rekannya tetap menjadi budak.
Para babah ini memanggil para budak perempuannya dengan nama indah seperti
Mawar, Anyelir, Sina, Netti, Sroeni, Kenanga, Melati.
Tidak jelas apakah ini panggilan sayang, atau karena nama aseli budak
perempuan itu terdengar ditelinga agak "kampungan" sehingga perlu di
modifikasi. Ada yang mencurigai ini adalah rayuan gombal karena dikemudian
hari banyak yang dijadikan "nyai" atau gundik.
Sehubungan dengan implementasi Staatsblad Januari 1860, barulah perbudakan
dilarang dan semua hamba sahaya harus dimerdekakan.
Jadi kalau kita sekarang kekeh mau jadi TKI atawa TKW, dan rela di cambuki
dinegeri orang maka pertanyaannya.
Jangan jangan ..... Nenek moyangnya dulu bukan seorang kapiten atau
pelaut ...
Mimbar Seputro
0811806549