bannerWelcome to Informasi lanjut Rodent Tuber atau Silahkan hubungi ibu Erni Mimbar di 0812-802-5102 - Jakarta 
Situs Campur Bawur
Tahun Indul Daratista 

ARAB dan MOOR

 

TERTIDUR

Sech Abdullah adalah pedagang kain yang biasa keluar masuk kampung untuk menjajakan kain Bombay dan sutra Cina. Sebagai penghormatan biasanya penduduk Betawi memanggilnya sebagai Wan Abdul.

Hari itu ia masuk ke Kampung Bali untuk menjajakan dagangannya. Matahari bulan Juni '03 (maksudnya 1903) mulai terasa menyengat. Akibatnya Wan Abdul kepanasan. Disebuah pohon yang rindang ia melepaskan lelah sambil sambil menikmati berhembusnya angin semilir pelan. Tau-tau Wan sudah "ngegeros" sambil bersender di batang pohon.

Beberapa saat kemudian ia terjaga dan mendapati bahwa dagangannya lenyap. Jelas diambil maling sehingga ia segera melapor kepada polisi.

Polisi agak kesukaran mencari malingnya sebab si korban tidak bisa menyebutkan ciri maling, maklum ketiduran. Seorang petugas polisi yang menulis "Proces Verbaal" hanya berkomentar singkat:" Orang kampoeng sekarang tiada sekali menaruh hormat pada muridnya Nabi..."

Di komunitas Betawi orang banyak yang menganggap bahwa semua orang Arab atau mirip Arab tapi India, adalah Murid Nabi dan juga keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Dan ini berarti bahwa kedudukan mereka amat dihormati.

Dalam peraturan Belanda mereka tergolong orang asing, apalagi kedatangannya lebih dahulu daripada Belanda. Mereka digolongkan sebagai Asing Timur (Fremde Osterling) segroup dengan Cina, Jepang dan peranakan. Kompeni memasukkan orang Arab sebagai orang Moor, yang dalam bahasa Portugis dari Mouro artinya Pengikut Nabi Muhammad SAW.

Cilakanya orang Moor sebetulnya orang Keling asal Coromandel-Bengali, sementara orang Arab berasal dari Handramaut-Yemen. Tapi bagi warga Betawi dianggap sama saja mengingat keduanya sama-sama hobby memakai pakaian semacam jubah. Apalagi Kompeni menempatkan orang Arab tadi ke lokasi "Moorish quarter" yang dikenal sebagai Pekojan. Lokasinya antara dua kanal yaitu Ammanusgracht (Bandengan Selatan)dan Bacherachtgrachtn (Jalan Pekojan). Kerancuan antara Keling dengan Arab bisa dilihat seperti Martabak Telur. Mana yang martabak India dan mana
yang Arab/Mesir.

PAKOJAN=KOJA= Orang MOOR

Kata Pakojan berasal dari Koja, yaitu sebutan untuk pedagang dari Gujarat. Tahun 1859, perbandingan jumlah Moor dan Arab sudah tidak seimbang, misalnya dari Arab 312 naik tajam menjadi 3 kali lipat pada 1870 dan pada 1885 mencapai 1448 orang. Alasannya orang Arab memang suka memiliki banyak anak. Mungkin akibat menu makan kambing Qibas yang menyebabkan mereka amat kuat dalam "bertahan" maupun "menyerang".

Akhir abad ke-19, orang Arab kaya mulai membeli rumah-rumah di luar Pekojan dan memilih tinggal diluar sana. Orang-orang Arab ini terkenal kaya dan hemat bahkan terkesan pelit. Mereka suka berdagang dan juga memberikan bantuan keuangan kepada penduduk Betawi yang kesusahan, lalu memberikan bunga yang tinggi. Sehingga dijuluki lintah darat. Para rentenir ini sering dijuluki Triple T atau TTT "Tien Terug Twaalf" maksudnya pinjam sepuluh gulden kembali duabelas gulden.

Berangkat dari kondisi rakyat yang terjepit lintah darat tadi, gubernemen mendirikan pegadaian untuk membantu orang-orang yang meminjam uang.

Mimbar Seputro
0811806549


MESJID PAKOJAN

Masjid ini tampak seperti bangunan Belanda, dibangun setelah tahun
1740 oleh para kontraktor Cina yang dipersembahkan untuk orang-orang
Moor kaya. Bangunan mesjid ini diapit oleh bangunan-bangunan tua
lainnya yang kini berfungsi sebagai toko. Lokasi mesjid ini terletak
di Jalan Pakojan, Jakarta Barat
 


Mesjid Pekojan

Mimbar Bambang Seputro
Juni 2003
 

Comment to Mimbar Bambang Seputro

  Site search Web search

powered by FreeFind

updated 21 Juni 2003
"Mimbar"  Bambang Seputro
mimbarse@gajahsora.net


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Site Meter