TERTIDUR
Sech Abdullah adalah pedagang kain yang biasa keluar masuk kampung untuk
menjajakan kain Bombay dan sutra Cina. Sebagai penghormatan biasanya
penduduk Betawi memanggilnya sebagai Wan Abdul.
Hari itu ia masuk ke
Kampung Bali untuk menjajakan dagangannya. Matahari bulan Juni '03
(maksudnya 1903) mulai terasa menyengat. Akibatnya Wan Abdul kepanasan.
Disebuah pohon yang rindang ia melepaskan lelah sambil sambil menikmati
berhembusnya angin semilir pelan. Tau-tau Wan sudah "ngegeros" sambil
bersender di batang pohon.
Beberapa saat kemudian ia terjaga dan
mendapati bahwa dagangannya lenyap. Jelas diambil maling sehingga ia
segera melapor kepada polisi.
Polisi agak kesukaran mencari malingnya
sebab si korban tidak bisa menyebutkan ciri maling, maklum ketiduran.
Seorang petugas polisi yang menulis "Proces Verbaal" hanya
berkomentar singkat:" Orang kampoeng sekarang tiada sekali menaruh
hormat pada muridnya Nabi..."
Di komunitas Betawi orang banyak yang menganggap bahwa semua orang Arab
atau mirip Arab tapi India, adalah Murid Nabi dan juga keturunan langsung
Nabi Muhammad SAW. Dan ini berarti bahwa kedudukan mereka amat dihormati.
Dalam peraturan Belanda mereka tergolong orang asing, apalagi
kedatangannya lebih dahulu daripada Belanda. Mereka digolongkan sebagai
Asing Timur (Fremde Osterling) segroup dengan Cina, Jepang dan peranakan.
Kompeni memasukkan orang Arab sebagai orang Moor, yang dalam bahasa
Portugis dari Mouro artinya Pengikut Nabi Muhammad SAW.
Cilakanya orang
Moor sebetulnya orang Keling asal Coromandel-Bengali, sementara orang Arab
berasal dari Handramaut-Yemen. Tapi bagi warga Betawi dianggap sama saja
mengingat keduanya sama-sama hobby memakai pakaian semacam jubah. Apalagi
Kompeni menempatkan orang Arab tadi ke lokasi "Moorish quarter" yang
dikenal sebagai Pekojan. Lokasinya antara dua kanal yaitu Ammanusgracht
(Bandengan Selatan)dan Bacherachtgrachtn (Jalan Pekojan). Kerancuan antara
Keling dengan Arab bisa dilihat seperti Martabak Telur. Mana yang martabak
India dan mana
yang Arab/Mesir.
PAKOJAN=KOJA= Orang MOOR
Kata Pakojan berasal dari Koja, yaitu sebutan untuk pedagang dari Gujarat.
Tahun 1859, perbandingan jumlah Moor dan Arab sudah tidak seimbang,
misalnya dari Arab 312 naik tajam menjadi 3 kali lipat pada 1870 dan pada
1885 mencapai 1448 orang. Alasannya orang Arab memang suka memiliki banyak
anak. Mungkin akibat menu makan kambing Qibas yang menyebabkan mereka amat
kuat dalam "bertahan" maupun "menyerang".
Akhir abad ke-19, orang Arab kaya mulai membeli rumah-rumah di luar
Pekojan dan memilih tinggal diluar sana. Orang-orang Arab ini terkenal
kaya dan hemat bahkan terkesan pelit. Mereka suka berdagang dan juga
memberikan bantuan keuangan kepada penduduk Betawi yang kesusahan, lalu
memberikan bunga yang tinggi. Sehingga dijuluki lintah darat. Para
rentenir ini sering dijuluki Triple T atau TTT "Tien Terug Twaalf"
maksudnya pinjam sepuluh gulden kembali duabelas gulden.
Berangkat dari kondisi rakyat yang terjepit lintah darat tadi, gubernemen
mendirikan pegadaian untuk membantu orang-orang yang meminjam uang.
Mimbar Seputro
0811806549
MESJID PAKOJAN
Masjid ini tampak seperti bangunan Belanda, dibangun setelah tahun
1740 oleh para kontraktor Cina yang dipersembahkan untuk orang-orang
Moor kaya. Bangunan mesjid ini diapit oleh bangunan-bangunan tua
lainnya yang kini berfungsi sebagai toko. Lokasi mesjid ini terletak
di Jalan Pakojan, Jakarta Barat

Mesjid Pekojan